GG I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN SELF CARE PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAWAH LEBAR KOTA BENGKULU THE RELATIONSHIP BETWEEN SELF-EFFICACY AND SELFCARE IN TYPE II DIABETES MELLITUS PATIENTS IN THE WORKING AREA OF SAWAH LEBAR HEALTH CENTER, BENGKULU CITY Neni Triana 1. Loren Juksen2. Dian Dwiana MAydinar3 Anggun Cahya Utami 4 1Program Studi S1 Keperawatan STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu (Email: nenitrianabengkulu@gmail. ABSTRAK Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit yang berbahaya dan bisa membawa masalah serius bagi kesehatan self efficacy adalah keyakinan dalam diri sesorang terhadap kemampuan untuk melakukan perilaku untuk mendapatkan suatu tujuan tertentu sedangan self care adalah tindakan membantu mengendalikan gula darah yang dapat menghasilkan kondisi kesehatan yang lebih baik Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self efficacy dan self care Pada Pasien Diabetes Mellitus Rawat Jalan Di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 juli Ae 22 agustus menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional , sampel penelitian ini adalah pasien Diabetes Melitus Yang Rawat Jalan Diwilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu sebanyak 45 responden hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p= 0,006 karena nilai p<0,05 yang menunjukan maka ada hubungan yang signifikan antara SelfEfficacy Dengan Self Care Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu Tahun 2024. Kata kunci : Diabetes Mellitus. Self Efficacy,Self Care ABSTRACT Diabetes mellitus is a dangerous disease and can bring serious problems to health. Self-efficacy is a person's belief in their ability to carry out behavior to achieve a certain goal, while selfcare is an action that helps control blood sugar which can produce better health conditions. This research aims to to determine the relationship between self-efficacy and self-care in outpatient diabetes mellitus patients in the Sawah Lebar Health Center working area. Bengkulu City. This research was conducted on 22 July Ae 22 August 2024. Using a quantitative research design with a cross sectional approach, the sample of this research was Diabetes Mellitus patients who were outpatients in the work area of the Sawah Lebar Health Center. Bengkulu City, totaling 45 respondents. The results of the Chi-Square test obtained a value of p= 0. because the p value <0. 05 shows that there is a significant relationship between Self-Efficacy and Self Care in Type II Diabetes Mellitus Patients in the Sawah Lebar Health Center Working Area. Bengkulu City in 2024. Keywords : Diabetes Mellitus. Self Efficacy. Self Care JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. PENDAHULUAN Diabetes mellitus merupakan menahun . berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah yang melebihi batas normal dan salah satunya adalah diabetes mellitus tipe 2 (Kemenkes RI. Diabetes mellitus itu sendiri memiliki faktor resiko yang berkontribusi terhadap kejadian penyakit yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi . sia, jenis kelamin, dan riwayat diabetes mellitus pada keluarg. dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi . erat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, gangguan profil lipid dalam darah dan atau trigliserida > 250 mg/dL, dan diet tidak sehat tinggi gula dan rendah sera. (Kemenkes RI. Upaya pengendalian faktor risiko dapat mencegah terjadinya diabetes mellitus dan menurunkan tingkat fatalitas. Penatalaksanaan diabetes mellitus terbagi menjadi dua yaitu farmakologi dan penatalaksanaan secara non farmakologi. Salah satu metode pengendalian kadar gula dalam darah adalah dengan mematuhi empat pilar penatalaksanaan diabetes mellitus yang terdiri dari edukasi, terapi nutrisi medis, latihan fisik, dan terapi farmakologis. Kepatuhan pasien diabetes mellitus tipe 2 dalam menjalankan empat pilar penatalaksanaan diabetes mellitus tipe 2 ini akan membantu pasien diabetes mellitus dalam mengendalikan kadar gula dalam darah ( Sutomo et. , al. ,2. Fenomena ini ada dibeberapa pelayanan kesehatan, para petugas mengakuibelum memberikan informasi secara maksimal, hal tersebut membuat para pasien mengalami kurang kepemahaman terkait kompikasi pada DM. Kurangnya pemahaman ini dapat mengakibatkan minimnya self care diabetes yang mengakibatkan penderita DM memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi (Rahmasari et al. , 2. Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan namun dapat di JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Penderita Diabetes Mellitus untuk meningkatkan yang lebih baik. kualitas hidup atau meningkatkan kesehatan pada penderita Diabetes Mellitus dipengaruhi oleh enam bidang utama yakni efficacy, self care management Diabetes Mellitus, peningkatan pengetahuan dan dukungan sosial. Keenam strategi tersebut akan berpengaruh pada kualitas hidup apabila individu mempunyai kemauan untuk Individu dengan penyakit Diabetes Mellitus mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengatur dirinya sendiri dalam melakukan perubahan terutama perawatan pada penyakitnya ( Putu Wira Kusuma Putra, , al. , 2. Diabetes Mellitus tipe II dikenal dengan self efficacy merupakan hubungan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang Self efficacy adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang Self efficacy tidak sama dengan aspirasi . ita-cit. karena aspirasi menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya dapat dicapai sedangkan self efficacy menggambarkan penilaian tentang kemampuan diri ( Putu Wira Kusuma Putra, , al. , 2. Sesuai dengan temuan penelitian berjudul AuFaktor yang mempengaruhi self care pada penderita Diabetes Mellitus di Puskesmas Pancur Batu Medan Tahun 2019Ay. Self care mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dan memiliki risiko terjadinya komplikasi apabila tidak segera diberikan pengontrolan yang tepat. Hal tersebut dapat diatasi apabila pasien memiliki kepatuhan, pengetahuan, dan kemampuan melakukan perawatan diri. ( Gaol. I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. Self Care diabetes adalah tindakan yang dilakukan perorangan untuk mengontrol diabetes yang meliputi tindakan pengobatan dan pencegahan komplikasi, sehingga Self Care yang dilakukan dengan baik dapat meminimalkan komplikasi akut atau kronis terutama dengan mengikuti praktek perawatan diri yang meliputi diet yang dianjurkan, asupan diri yang meliputi olahraga, obat- obatan dan monitoring glukosa dapat disimpulkan bahwa Self Care diabetes adalah tindakan mandiri yang dilakukan oleh klien diabetes dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan untuk mengontrol gula darah yang meliputi aktifitas pengaturan pola makan . , latihan fisik . , pemantauan kadar gula darah, minum obat, melakukan suntikan insulin dan perawatan kaki pengobatan . (Hartono et al. Self care diabetes merupakan tindakan membantu mengendalikan gula darah yang dapat menghasilkan kondisi kesehatan yang lebih baik (Karimi et al. , 2. Caring merupakan sifat dasar manusia untuk membantu, memperhatikan, mengurus, dan menyediakan bantuan, serta memberi dukungan kepada individu (Hutahaean. Penderita DM melakukan self care dengan memperhatikan dan membantu dirinya dalam menjaga kesehatannya. Peningkatan kadar gulah darah dapat dicegah dengan melakukan self care dengan terdiri dari pengaturan diet, olah raga, terapi obat, perawatan kaki, dan pemantauan gula Kemampuan dalam menjalankan kebiasaan self care yang tepat dan sukses berhubungan erat dengan angka morbiditas dan mortalitas dan secara segnifikan mempengaruhi produktivitas dan kualitas hidup. Namun kontrol diabetes yang buruk dapat mengakibatkan hiperglikemia dalam jangka panjang, yang menjadi pemicu beberapa komplikasi yang serius ( Nur Wahyuni Munir, 2. Self-efficacy . fikasi dir. merupakan gagasan kunci dari teori sosial kognitif . ocial cognitive theor. yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Bandura . 7 dikutip dalam Damayanti, 2. mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengatur dan melakukan tugas-tugas tertentu JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Efikasi diri membantu seseorang dalam menentukan pilihan, usaha untuk maju, serta kegigihan dan ketekunan dalam mempertahankan tugas-tugas yang mencakup kehidupan mereka. Self- efficacy berguna dalam merencanakan dan mengkaji intervensi edukasi serta baik untuk memprediksi modifikasi perilaku selfcare. Self-efficacy untuk keefektifan selfmanagement pada diabetes mellitus karena berfokus pada perubahan perilaku ( Nur Wahyuni Munir. Pembahasan berhubungan dengan self efficacy pada manajemen diri pasien DM, diet, aktifitas fisik, kontrol glikemik, pengobatan, dan perawatan kaki. Self- efficacy merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh pasien DM, khususnya dalam melakukan manajemen diri terkait Rekomendasi dan implikasi terhadap keperawatan meningkatkan selfefficacy sebagai salah satu intervensi mandiri keperawatan. Perawat dapat memulai proses keperawatan dengan mengkaji self-efficacy dilanjutkan dengan memberikan edukasi terkait manajemen diri DM sebagai sebuah intervensi yang dapat diintegrasikan ke dalam pelayanan keperawatan. Self-efficacy berguna Individu yang memiliki efikasi yang baik akan berusaha mencapai tujuan spesifik meski menghadapi hambatan. Beberapa penelitian menunjukkan Program edukasi diabete self-management berdasarkan teori self-efficacy dapat meningkatkan selfmanagement dan dapat menunda onset komplikasi dari kondisi pasien ( Nur Wahyuni Munir,2. Berdasarkan hasil survey awal data yang didapat di Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, bahwa insulin sangat penting karena mengontrol jumlah glukosa yang didapat sel tubuh dari darah. Orang-orang yang menderita diabetes memiliki kadar gula yang banyak GG I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. dalam darah, tetapi tidak cukup untuk sel tubuh. Jumlah penderita diabetes mellitus (DM) di kota Bengkulu tahun 2020 adalah 2. 192 kemudian pada tahun 2022 jumlah penderita diabetes meningkat 087 orang dari jumlah 100% sudah mendapatkan pelayanan kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu. Dan hasil survey awal yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas kota Bengkulu bahwa data yang manjalani perawatan diabetes mellitus rutin pada bulan Januari sampai bulan November 2023 sebanyak 109 pasien, dan data pada satu bulan terakhir yaitu sebanyak 45 pasien yang menjalani perawatan diabetes rutin. di (Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkul. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah AuApakah ada hubungan ( self efficac. effikasi diri dengan . elf car. perawatan diri pada Pasien Diabetes Mellitus Diwilayah Kerja Puskesmas Kota Bengkulu Tahun 2023?Ay Tujuan dalam penelitian ini Untuk mengetahui Hubungan ( self efficac. Efikasi Diri Dengan . elf car. Perawatan Diri Pada Pasien Diabetes Melitus Diwilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. BAHAN DAN METODE Jenis pendekatan cross- sectional. Penelitian telah dilakukan di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu data primer kuesioner, penelitian Tanggal 22 Juli Ae Tanggal22 Agustus Populasi dalam penelitian ini adalah Pasien Diabetes mellitus berobat Jalan Rutin yang berada di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu sebanyak 45 populasi. Penelitian dalam penelitian ini menggunakan teknik Total Sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode data primer dan data skunder. Teknik Analisa Data menggunakan Analisis Univariat dan Analisis Bivarat. Analisis bivariat Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan antara variabel indenpenden . elf efficac. dengan variabel dependen . elf car. dengan menggunakan uji chi square . A) Hasil uji Continuity Correction didapat sebesar 7,594 dengan nilai asymp. =0,006. HASIL Analisa Univariat Analisa univariate adalah analisa yang dilakukan dalam tiap variable dari hasil penelitian untuk menghasilkan diskripsi distribusi frekuensi tiap variable. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karateristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. Pernikahan. Pendidikan Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu Karakteristik Frekuensi Persen (%) Jenis kelamin Laki-Laki Perempuan Total Menikah Duda Total Pendidikan JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. SMP SMA SARJANA Total Pada table 2 hasil penelitian berdasarkan jenis kelamin sebanyak 30 . 7 %) responden berjenis kelamin perempuan, perempuan lebih banyak menderita diabetes dibandingkan dengan lakilaki yang berjumlah 15 . 3%). Tingkat Cukup Baik Berdasarkan penelitian 44 . 8 %) menikah dan 1 . 2%) responden duda. dengan tingkat pendidikan terbanyak SMA 34 . 6 %) responden. SMP sebanyak 9 . 0%) responden. SD . 2%) responden dan SARJANA 1 . 2%). Tabel 3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Self Efficacy Frekuensi . Persen (%) Total Berdasarkan tabel 3 diatas dapat diketahui bahwa dari 45 orang pasien terdapat 18 orang . ,0%) dengan self. Tabel 4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Self Care Kurang Cukup Frekuensi . Total Persen (%) Berdasarkan tabel 4 diatas dapat diketahui bahwa dari 45 orang pasien terdapat 25 orang . ,6%) dengan self care kurang dan 20 orang . ,4%) dengan self care cukup. Analisa Bivariat Analisis ini untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara variable independent dengan variable dependen yang dilakukan dengan uji Chi-Square. Self Total Cukup Baik Self Care Kurang Cukup JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Total P-Value GG I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. Berdasarkan table 5 diatas dapat diketahui bahwa dari 18 orang Pasien Diabetes Mellitus Tipe II dengan self efficacy cukup terdapat 15 orang dengan self care kurang dan 3 orang dengan self care cukup dan dari 27 orang pasien Pasien Diabetes Mellitus Tipe II dengan self efficacy baik terdapat 10 orang dengan self care kurang dan 17 orang dengan self care cukup PEMBAHASAN Hasil tabulasi silang table 5 dapat diketahui bahwa dari 18 orang Pasien Diabetes Mellitus Tipe II dengan self efficacy cukup terdapat 15 orang debdan self care kurang hal ini di karenakan keyakinan dalam diri pasien diabetes belum maksimal mengontrol penyakitnya seperti mengonrtol pola makan, olahraga dan dan 3 orang dengan self care cukup ini di karenakan penerapan pola penderita kadang sesuai dengan dietnya, latihan fisik yang tidak dilakukan dengan konsisten. dan dari 27 orang pasien Pasien Diabetes Mellitus Tipe II dengan self efficacy baik terdapat 10 orang dengan self care kurang yang di sebabkan oleh pengaturan pola makan . tidak baik, pola aktivitas yang kurang, kepatuhan minum obat tidak rutin, monitoring gula darah tidak teratur, dan perawatan kaki jarang dilakukan. dan 17 orang dengan self care cukup hal ini di sebabkan pengaturan pola makan kadang-kadang dilakukan, latihan fisik kurang dilakukan, kepatuhan minum obat diabetes kurang teratur. Uji statistic Chi-Square Tests Untuk mengetahui hubungan Self- Efficacy Dengan Self Care Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu digunakan uji Chi-Square (Continuity Correctio. Hasil uji Continuity Correction didapat sebesar 7,594 dengan nilai asymp. =0,006. Karena nilai p<0,05 maka ada hubungan yang signifikan antara Self-Efficacy Dengan Self Care Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Pengaturan pola makan dengan kadar glukosa darah. Penelitian (Zuqni dan Bahri mengatakan komponen self care yang JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Dari uji korelasi kontigensi tabel 7 diatas di peroleh nilai p 0,002 yang menunjukan korelasi yang bermakna antara variabel self efficacy dengan self care nilai korelasi sebesar 0,587 menunjukan positif dengan kekuatan keeratan korelasi sedang. tidak dijalankan secara optimal. menerapkan pola makan yang sehat, mengkonsumsi makanan secara seimbang terutama mengkonsumsi lemak dan karbohidrat yang cukup, faktor pengetahuan sangat berkontribusi dalam pengontrolan diet, pasien yang memiliki motivasi mendapat informasi atau edukasi dari tim medis lebih cenderung memahami tentang pengaturan diet Pengaturan pola makan terbukti sangat penting berpengaruh dalam pengontrolan kadar glukosa darah, sebagian penderita sudah memahami makanan apa yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh dikonsumsi, namun mereka dengan sengaja masih tetap mengkonsumsi makanan Pendampingan orang terdekat dalam pengontrolan makan sehingga orang terdekat dapat menegur apabila penderita DM mengkonsumsi makanan yang kadar glukosa darah ( Ayunda et. , al 2023 ) Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Farah . di RSUD Madani Sulawesi Tengah mengenai pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah pasien diabetes melitus tipe II yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Penelitian lain yang serupa juga dilakukan oleh Susanti . di Akademi Keperawatan Adi Husada Surabaya yang mendapatkan hasil bahwa pada orang yang memiliki penyakit diabetes melitus tipe II perlu dilakukan penjadwalan pola makan memperhatikan kalori dan zat gizi yang pola makan berhubungan dengan kadar gula darah seseorang, hal ini disebabkan karena kadar gula darah akan menjadi tinggi jika teratur sehingga GG I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang, terutama pasien diabetes melitus tipe II. Maka dari sangat penting untuk mengatur pola makan yang dikonsumsi agar kadar gula darah dalam tubuh tidak naik (Dewa Ayu Eka Candra Astutisari et. , al 2. Aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah Aktivitas pengontrolan kadar glukosa darah pada pasien DM. Kegiatan seperti berkebun, berjalan, dan pekerjaan rumah dapat dilakukan oleh penderita DM aktivitas fisik merupakan kunci dalam pengelolaan DM terutama sebagai pengontrol gula darah dan memperbaiki faktor resiko kardiovaskuler, meningkatkan sensitifitas insulin, menurunkan lemak tubuh serta menurunkan tekanan darah Namun, pada usia lanjut aktivitas fisik lebih jarang dilakukan, pekerjaan juga dapat mempengaruhi seseorang melakukan aktivitas. Aktivitas fisik yang dapat dilakukan tidak harus melakukan olahraga berat. ( Ayunda et. , al Hasil penelitian ini sejalan dengan dilakukan oleh (Evi Kurniawaty 2. di Universitas Lampung mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan diabetes melitus tipe II yang menyatakan bahwa aktivitas fisik yang kurang, berhubungan dengan terjadinya peningkatan kasus diabetes melitus tipe II Penelitian lain dilakukan oleh Anggraeni . di Rumah Sakit Umum Daerah dr. H Abdul Moeloek yang mendapatkan hasil bahwa aktivitas fisik yang teratur dapat membantu menurunkan kadar gula darah yang tinggi pada pasien diabetes melitus tipe II. Selain itu, penelitian yang pernah dilakukan oleh (Nurayati 2. Puskesmas Mulyorejo Surabaya juga hasil bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu mengontrol kadar gula darah pada pasien diabetes melitus II. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dipastikan bahwa intensitas aktivitas fisik yang dilakukan berhubungan dengan kadar pada pasien JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 diabetes melitus tipe II (Dewa Ayu Eka Candra Astutisari et. , al 2. Kepatuhan minum obat dengan kadar glukosa darah pasien kadang kadang lupa minum obat disebabkan karena daya ingat pada pasien yang cenderung menurun akibat bertambahnya Alasan merasa terganggu karena adanya kewajiban untuk minum obat karena merasa bosan dengan kewajiban rutin tersebut, alasan lain kesengajaan tidak minum obat karena merasa sehat, pasien mengatakan tidak ingin bergantung pada obat-obatan dan merasa takut mengalami gangguan ginjal karena kebiasaan minum obat. Banyak pasien yang beralih ke jamu tradisional karena ada beberapa yang takut terkena gangguan ginjal dan ada beberapa yang mengalami ketidaknyamanan setelah minum obat Beberapa faktor tersebut dapat mempengaruhi pasien tidak patuh dalam minum obat, dalam hal mengingatkan pasien untuk meminum obat sesuai anjurkan. Keluarga juga dapat berperan dalam terapi obat pasien, sebagai pengingat pasien untuk minum obat secara rutin sehingga kadar glukosa darah dapat terkontrol. ( Ayunda , al 2023 ). Hasil sejalan dengan penelitian (Ansari saleh 2. di poli klinik penyakit dalam RSUD Dr. Moch yang menunjukan bahwa mayoritas pasien diabetes memiliki tingkat kepatuhan yang rendah . ,7%) sebagian besar pasien yang tidak patuh berada di kisaran usia lanjut . %) yang berkaitan dengan daya ingat, sehingga lupa minum obat atau mrnimbulkan efek samping yang membuat pasien tidak nyaman. Faktor lainnya seperti pendidikan berpengaruh terhadap intelektual individu dalam memutuskan suatu hal, termasuk keputusan untuk minum obat rasa bosan juga dapat berpengaruh terhadap kepatuhan, terutama untuk pasien yang mengidap penyakit diabetes dan melakukan pengobatan semakin rendah tingkat kepatuhan minum obat, maka kadar gula darah pasien semakin tidak Untuk kedepannya, para pasien diharapkan dapat menjaga pola hidup dan pola I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. mengonsumsi obat efektifitas dan pengobatan (Asmaul Husna et. , al 2. Monitoring kadar glukosa darah merupakan salah satu dari penatalaksanaan diabetes mellitus disamping diet, aktivitas, dan obat. Perawat memiliki peranan yang penting memberikan asuhan pada klien dengan diabetes. Dalam hal monitoring kadar glukosa darah peran perawat adalah membantu klien dalam melakukan monitoring tersebut, kolaborasi dalam penatalaksanaanya jika hasil monitoring tidak normal, dan memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya monitoring kadar glukosa darah. Monitoring kadar glukosa darah yang terus menerus pada klien diabetes tipe II penatalaksanaan diabetes yang penting dilakukan oleh klien dengan diabetes. Konsentrasi glukosa yang ada di interstitial dapat merefleksikan kadar glukosa dalam tubuh seseorang, sehingga untuk monitoring glukosa darah tidak selalu harus dilakukan melalui pemeriksaan invasive dari darah tetapi bisa mendeteksi dari cairan interstitial yang dikeluarkan oleh tubuh melalui keringat (Dwi Kurnia Rahmani 2. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh (Dwi Kurnia Rahmani 2. di RSUD Manembo Nembo Bitung bahwa pengendalian diabetes mellitus dapat kestabilan kadar gula darah seseorang, jika kemungkinan kadar gula darah pun akan tinggi atau tidak terkontrol begitupun jika pengendalian dilakukan dengan baik maka kadar gula akan terkontrol atau mendekati kadar gula yang pengendalian diabetes mellitus dapat mempengaruhi kestabilan kadar gula darah seseorang, jika pengendalian diabetes buruk maka kemungkinan kadar gula darah pun akan tinggi atau tidak terkontrol begitupun sebaliknya, jika pengendalian dilakukan dengan baik maka kadar gula akan terkontrol atau mendekati kadar gula yang normal (Dwi Kurnia Rahmani 2. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Perawatan kaki merupakan tindakan pencegahan primer yang mudah dan efektif oleh pasien diabetes melitus agar terhindar dari komplikasi kaki diabetik. Kegiatan perawatan kaki yang bisa dilakukan oleh pasien diabetes melitus seperti pemeriksaan sepatu sebelum digunakan, mengeringkan selasela jari kaki, memberikan pelembab pada kaki dan menggunakan alas kaki baik di dalam maupun di luar rumah (Tini et al. , 2. dalam (Gea 2. Penelitian dilakukan oleh (Hikayati 2. semakin tinggi kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus, semakin tinggi pula derajat ulkus kaki diabetes yang dialami. Jika penderita diabetes mellitus dengan derajat ulkus kaki diabetes yang tinggi, maka penderita diabetes mellitus tersebut akan memiliki kadar glukosa darah yang tinggi pula. Tetapi tidak hanya kadar glukosa darah berhubungan derajat ulkus kaki, terdapat banyak faktor seperti usia, lama menderita jenis kelamin, riwayat ulkus kaki, merokok, diet, olahraga yang kurang, kepatuhan mempengaruhi perkembangan derajat ulkus kaki diabetik dan kadar glukosa darah (Wahyuni et. ,al Keeratan hubungan Self-Efficacy Dengan Self Care Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu dilihat dari nilai Contingency Coefficient (C). Nilai C didapat sebesar 0,415 dengan nilai Cmax =0,707. Karena nilai berada antara 0,4-0,6 maka hubungan tersebut dikatakan kategori sedang. Dari analisis keeratan hubungan maka dapat disimpulkan bahwa pasien dengan mellitus yang memiliki tingkat self efficacy baik maka mampu melakukan self care dengan baik pula. jika Seseorang dengan self efficacy yang kurang baik maka mengakibatkan self care kurang baik Pasien yang memiliki tingkat self efficacy yang tinggi sangat termotivasi untuk mempraktikkan perawatan diri untuk mengurangi kemungkinan timbulnya masalah. Self care I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI:http://dx. org/10. 30633/jkms. adalah praktik manajemen yang dilakukan pasien diabetes setiap hari KESIMPUL AN DAN SARAN Berdasarkan hubungan self efficacy dengan self care pada pasien diabetes mellitus tipe ll di wilayah kerja puskesmas sawah lebar kota Bengkulu terhadap 45 responden maka di Tarik kesimpulan sebagai Efikasi diri . elf efficac. pada pasien diabetes mellitus tipe ll di wilayah kerja puskesmas sawah lebar kota Bengkulu tahun 2024 di temukan bahwah 27 orang . ,0%) responden dengan efikasi yang baik. Perawatan diri . elf car. pada pasien diabetes mellitus tipe II di wilayah kerja puskesmas sawah lebar kota Bengkulu tahun 2024 ditemukan bahwah sebanyak 25 . ,6%) dengan perawatan diri yang Ada hubungan efikasi diri dengan perawatan diri pasien diabetes mellitus tipe II di wilayah kerja puskesmas sawah lebar kota Bengkulu tahun 2024 dengan nilai . =0,006. Karena nilai p<0,05 maka ada hubungan yang signifikan antara Self-Efficacy Dengan Self Care sebagai hubungan sedang. Disaran kan untuk peneliti lain untuk mengembangkan penelitian tentang perawatan Diabetes Mellitus . DAFTAR PUSTAKA