ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS CERITA PENDEK PADA SISWA KELAS FASE C Rizky Junior Efendi1 . Heny Kusuma Widyaningrum*2 . Cerianing Putri Pratiwi3 1,2,3 Pascasarjana Pendidikan Dasar. Universitas PGRI Madiun rizkyje48@gmail. com1, heny@unipma. id*2, cerianing@unipma. ABSTRACT Writing is a process of expressing ideas through written media, one of which is a short story, which is a story that has a light conflict and is easy to resolve. This study aims to analyze the ability to write short stories in phase C grade students at Dimong 03 Elementary School. This study uses a qualitative descriptive approach. There are four assessment aspects that must be understood by students, namely the completeness of the formal aspects of the short story, the completeness of the intrinsic elements of the short story, the integration of the short story structure, and the appropriateness of the use of short story language. The results of the study showed differences in writing abilities between students. Based on the analysis of the four assessment aspects, all students calculated the average value . %), the short story writing ability of grade V students at SDN Dimong 03 as a whole was categorized as "good". This study highlights the diversity of short story writing abilities among students and provides an overview of the level of mastery of short story writing skills in these students. Research on the analysis of short story writing skills has many benefits in learning Indonesian. This is because writing short stories can develop students' language skills, especially in terms of constructing sentences, choosing the right words, and organizing ideas. This activity also encourages creativity in imagining and conveying ideas in the form of stories. In addition, writing short stories helps students learn to use words appropriately and effectively. Keywords : writing, short stories, writing short stories, phase class C An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS ABSTRAK Menulis merupakan proses mengekspresikan gagasan melalui media tulis, salah satunya cerita pendek, yaitu kisah yang memiliki konflik ringan dan mudah diselesaikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan menulis cerpen pada siswa kelas fase C di sekolah dasar Dimong 03. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Aspek penilaian yang harus dipahami oleh siswa ada empat, yaitu kelengkapan aspek formal cerpen, kelengkapan unsur intrinsik cerpen, keterpaduan struktur cerpen, dan kesesuaian penggunaan bahasa cerpen. Hasil dari penelitian menunjukkan perbedaan kemampuan menulis antarsiswa. Berdasarkan analisis terhadap empat aspek penilaian, seluruh siswa perhitungan rata-rata nilai . %), kemampuan menulis cerpen siswa kelas V SDN Dimong 03 secara keseluruhan dikategorikan sebagai "baik". Penelitian ini menyoroti keragaman kemampuan menulis cerpen di antara siswa dan memberikan gambaran mengenai tingkat penguasaan keterampilan menulis cerpen pada siswa tersebut. Penelitian mengenai analisis keterampilan menulis cerpen memiliki banyak manfaat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan karena menulis cerpen dapat mengembangkan kemampuan berbahasa siswa, terutama dalam hal menyusun kalimat, memilih kata yang tepat, dan mengorganisasi ide. Kegiatan ini juga mendorong kreativitas berimajinasi dan menyampaikan ideide dalam bentuk cerita. Selain itu, menulis cerpen membantu siswa belajar menggunakan kata-kata yang tepat dan efektif. Kata Kunci: Keterampilan menulis. Cerita Pendek. Siswa Kelas Fase C PENDAHULUAN Kemampuan menulis merupakan keterampilan esensial yang harus dikuasai siswa sekolah dasar. Menulis adalah proses menyusun simbol grafis yang mencerminkan pemahaman bahasa sehingga dapat dimengerti oleh pembaca. Menulis juga aktivitas menyampaikan gagasan, ide, atau pendapat melalui tulisan agar pembaca dapat memahaminya secara tepat, meskipun tidak ada interaksi langsung. Bagi siswa, menulis tidak hanya berperan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai alat untuk berpikir dan belajar. Keberhasilan dalam pembelajaran menulis dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti peran guru, siswa, metode pengajaran, materi, media pembelajaran, evaluasi, serta lingkungan Menulis membutuhkan keterampilan berbahasa yang baik. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS namun kemampuan ini saja tidak selalu menjamin hasil tulisan yang Proses menulis seringkali menghadirkan berbagai tantangan, khususnya pada tahap awal, yaitu ketika mencari dan mengubah ide menjadi tulisan. Masalah ini menjadi kendala umum yang sering dialami banyak penulis, termasuk siswa Sekolah Dasar. Salah satu kendala utama yang dihadapi siswa dalam menulis adalah kesulitan mentransformasikan ide menjadi bentuk tulisan. Walaupun ide dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti pengalaman pribadi, cerita orang lain, atau kejadian di alam, proses mengolah gagasan tersebut menjadi tulisan tetap menjadi tantangan tersendiri. Hambatan dalam menyusun gagasan ini turut mempengaruhi rendahnya kemampuan menulis di berbagai kalangan. Kemampuan menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa . enulis, membaca, berbicara, dan mendengarka. yang sangat penting bagi siswa untuk mendukung pengembangan komunikasi secara menyeluruh. Pembelajaran menulis cerita pendek di Sekolah Dasar telah lama menghadapi berbagai hambatan, bahkan sejak sebelum munculnya teoriteori pendidikan modern. Metode pengajaran yang diterapkan umumnya masih tradisional, dengan guru yang memegang peran dominan dalam proses pembelajaran. Rendahnya kemampuan menulis siswa disebabkan oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan, seperti keterbatasan dalam mengembangkan ide, kurangnya kosakata, rendahnya motivasi belajar, minat baca yang minim, serta kesulitan dalam menuliskan gagasan. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan menarik, sebagaimana yang pernah disarankan oleh Keberhasilan strategi pembelajaran Bahasa Indonesia sangat bergantung pada kemampuan menyederhanakan materi ajar sehingga dapat menarik minat siswa untuk aktif berpartisipasi dan lebih mudah 5 Suasana belajar yang menyenangkan juga memegang peranan penting dalam meningkatkan konsentrasi dan motivasi siswa. Oleh sebab itu, pendekatan pembelajaran yang pasif, di mana siswa hanya menjadi Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang et al. AuModel Project Based Learning (PjBL) Dalam Menulis Teks Eksplanasi,Ay Jurnal Basicedu 7, no. : 62Ae70, https://doi. org/10. 31004/basicedu. 2 Nova Siti Fatonah and Aditya Permana. AuMEGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA SISWA KELAS IXAy 6 . : 285Ae94. 3 Amelia Simanungkalit et al. AuPENGGUNAAN MEDIA AUDIOVISUAL UNTUK MENINGKATKAN SKYLANDSEA PROFESIONAL Jurnal Ekonomi . Bisnis Dan Teknologi SKYLANDSEA PROFESIONAL Jurnal Ekonomi . Bisnis Dan TeknologiAy 2, no. : 145Ae48. 4 Hamelia Agustina. AuPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Roundtable Berbantuan Media Gambar Seri Dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Pada Siswa Sekolah Dasar,Ay Jurnal Gentala Pendidikan Dasar 5, no. : 78Ae90, https://doi. org/10. 22437/gentala. 5 Siti Fani Muliawanti et al. AuAnalisis Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas i Sekolah Dasar,Ay Jurnal Cakrawala Pendas 8, no. : 860Ae69, https://doi. org/10. 31949/jcp. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS penerima informasi dari guru, perlu dihindari. Pendekatan yang menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan dan mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif sangat penting untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini bersifat eksploratif dengan tujuan mengumpulkan data awal sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut. Fokus penelitian terletak pada pemetaan kemampuan menulis cerita pendek siswa Sekolah Dasar dengan memperhatikan minat siswa terhadap cerita yang memiliki unsur Data yang diperoleh diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan menulis cerpen siswa serta hubungannya dengan minat terhadap cerita imajinatif, yang nantinya menjadi pijakan untuk penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif. Menurut Saraswati mengungkapkan bahwa pembelajaran menulis cerita pendek merupakan bagian penting dari kurikulum di Sekolah Dasar (SD). Kompetensi ini menuntut siswa untuk mampu menghasilkan cerita pendek yang mencerminkan kehidupan nyata, imajinasi, atau pengalaman pribadi, dengan menekankan pengembangan karakter dan konflik. Cerita pendek dianggap sebagai media yang efektif untuk mengevaluasi kemampuan menulis siswa. Penilaian kemampuan ini dilakukan dengan melihat sejauh mana siswa dapat mengolah ide dan gagasan, menyusunnya secara terstruktur menjadi tulisan yang koheren, serta menggunakan diksi yang tepat, jelas, dan menarik bagi pembaca. Kemampuan untuk merangkai kata dengan baik, menciptakan alur cerita yang runtut, dan menarik perhatian pembaca menjadi aspek utama dalam menentukan kualitas cerita pendek yang dihasilkan siswa. Ada perbedaan yang cukup signifikan dalam kemampuan menulis di antara siswa sekolah dasar. Oleh karena itu, diperlukan analisis mendalam untuk memahami tingkat kemampuan menulis siswa, baik untuk mengidentifikasi siswa yang sudah memiliki keterampilan menulis yang baik maupun siswa yang membutuhkan bimbingan lebih lanjut. Mengingat pentingnya menulis dalam berbagai aspek kehidupan, pengembangan keterampilan ini sejak dini menjadi sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian yang serius. Kemampuan menulis yang baik akan menjadi bekal berharga bagi siswa dalam menghadapi tantangan di bidang akademik maupun kehidupan di masa depan. 6 Neneng Eliana. AuPemanfaatan Cerita Pendek Sebagai Media Pembelajaran Pada Materi Gagasan Pokok Dan Gagasan Pendukung Paragraf,Ay Jurnal Pendidikan Dasar 12, no. : 39Ae55, https://doi. org/10. 21009/jpd. 7 Risky Tri Juniar. Ruli Setiyadi, and Evi Susanti. AuPengembangan Bahan Ajar Materi Teks Cerita Rakyat Dengan Menggunakan Pendekatan Saintifik Berbasis Aplikasi Canva Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Pada Teks Cerita Siswa Kelas IV SD,Ay Jurnal Profesi Pendidikan 2, no. : 22Ae29, https://doi. org/10. 22460/jpp. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS Ada beberapa faktor yang menjadi hambatan dalam kemampuan menulis siswa, seperti kesulitan mengembangkan ide, menyusun alur cerita, dan mengeksplorasi imajinasi. Kurangnya kesempatan bagi siswa untuk mengasah imajinasi selama proses pembelajaran juga berdampak pada rendahnya tingkat kreativitas siswa. 8 Selain itu, rendahnya minat baca, kesulitan memahami teks, ketidakmampuan menuangkan ide ke dalam tulisan, serta kurangnya pemahaman tentang struktur alur cerita juga menjadi penyebab utama rendahnya kemampuan menulis. 9 Oleh karena itu, diperlukan analisis yang mendalam terhadap kemampuan menulis siswa agar dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. Penilaian keterampilan menulis cerita pendek mencakup beberapa aspek penting, seperti kelengkapan unsur formal . udul, nama penulis, dialog, dan naras. serta unsur intrinsik . ema, plot, tokoh, dan lata. Selain itu, koherensi alur cerita yang terbentuk dari keterpaduan antarunsur, efektivitas penggunaan bahasa, termasuk tata bahasa, gaya bahasa, dan pilihan diksi, juga menjadi bagian dari aspek penilaian. Semua aspek ini dinilai secara keseluruhan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai kemampuan menulis cerpen siswa. Namun, partisipasi siswa dalam kegiatan menulis masih belum maksimal. (Citra Ayu Puspita, 2. rendahnya rasa percaya diri menjadi salah satu penyebab utama lemahnya kemampuan menulis siswa. Selain itu, siswa SD cenderung lebih tertarik pada kegiatan membaca, berbicara, dan mendengarkan, yang porsinya lebih dominan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang lebih inovatif untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dan menjadikan kegiatan menulis lebih menarik dan menyenangkan. Rendahnya minat siswa dalam menulis cerita pendek disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah penggunaan metode pembelajaran tradisional yang lebih menekankan teori tanpa disertai model pembelajaran yang kreatif dan menarik, sehingga kurang efektif dalam mendorong minat dan kreativitas siswa. 10 Selain itu, kurangnya model pembelajaran yang mendukung pengembangan kreativitas dan imajinasi siswa juga menjadi penyebab utama rendahnya minat menulis Pendekatan yang terlalu teoritis tidak mampu memotivasi siswa 8 Desi Yanuar. AuPengaruh Minat Baca Dan Pemahaman Unsur Intrinsik Terhadap Kemampuan Menulis Cerpen Siswa,Ay Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia 1, no. : 119, https://doi. org/10. 30998/diskursus. 9 Arif Widodo et al. AuNalisis Kemampuan Menulis Makalah Mahasiswa Baru Pgsd Universitas Mataram,Ay Jurnal Didika: Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar 6, no. : 77Ae91, https://doi. org/10. 29408/didika. 10 Anak Agung Istri Hendriani. I Nengah Martha, and I Made Sutama. AuPengaruh Pemanfaatan Media Audio Visual Terhadap Kemampuan Menulis Cerpen Ditinjau Dari Motivasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VII SMP PGRI 9 Denpasar,Ay Pendidikan Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia 8, no. : 22Ae34, https://ejournal-pasca. id/index. php/jurnal_bahasa/article/view/2987/0. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS untuk menuangkan ide dan perasaan siswa ke dalam tulisan, yang pada akhirnya menghambat pengembangan kreativitas dan imajinasi siswa. Penggunaan model pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada praktik langsung dan pengalaman siswa. Pendekatan berbasis praktik dan eksplorasi diyakini dapat memberikan kesempatan yang lebih besar bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasi siswa, sehingga mampu meningkatkan motivasi dan kemampuan menulis cerita Kemampuan menulis cerita pendek merupakan keterampilan penting bagi siswa Sekolah Dasar, karena melibatkan pengembangan berbagai aspek kemampuan dasar. Melalui kegiatan ini, siswa dapat menggali imajinasi dan ide-ide siswa, sekaligus melatih keterampilan berbahasa, seperti penggunaan tata bahasa, penguasaan kosakata, dan penyusunan struktur kalimat. Selain itu, menulis cerita pendek juga membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir logis dalam merancang alur cerita dan menciptakan karakter. Proses ini juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan siswa, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri saat karya siswa 12 Selain itum, melalui kegiatan menulis cerita pendek, siswa dilatih untuk menyusun ide-ide siswa secara terstruktur, memahami alur cerita, dan mengembangkan karakter yang sesuai, sehingga kemampuan siswa dalam menyampaikan pesan secara efektif dapat meningkat. Dengan demikian, menulis cerita pendek menjadi salah satu aktivitas pembelajaran yang efektif untuk mendukung pengembangan literasi dan kemampuan berpikir siswa di Sekolah Dasar. Menulis cerita pendek memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa. Aktivitas ini juga dapat mendorong kreativitas dan pemikiran inovatif, serta membantu siswa mengatasi berbagai kesulitan dalam menulis. 14 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan menulis cerita pendek siswa secara mendalam melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Analisis dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan serta mengevaluasi karya tulis siswa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kemampuan menulis cerita pendek siswa, 11 Agustina. AuPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Roundtable Berbantuan Media Gambar Seri Dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Pada Siswa Sekolah Dasar. Ay 12 Eko Budi Saputro Eko and Lia Maelani. AuSinonimi Leksem Verba Dalam Cerpen Seorang Wanita Di Sebuah Loteng Karya Seno Gumira Ajidarma,Ay Referen . 127Ae36, https://doi. org/10. 22236/referen. 13 Rochmad Adim and Kholif Al Amin. AuKalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Eksplanasi Dengan Menggunakan Media Video Pada Siswa Kelas V Sekolah DasarAy 9 . 14 Yanuar. AuPengaruh Minat Baca Dan Pemahaman Unsur Intrinsik Terhadap Kemampuan Menulis Cerpen Siswa. Ay An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS termasuk faktor-faktor yang memengaruhinya. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar untuk pengembangan strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa sekolah METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menghasilkan data berupa deskripsi verbal tertulis untuk menggambarkan aktivitas dan perilaku siswa serta guru sebelum dan selama proses penulisan cerita pendek. Pendekatan ini dianggap sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu menganalisis hasil karya tulis siswa. Data penelitian diperoleh dari empat cerita pendek yang ditulis oleh siswa kelas V di SDN Dimong 03. Sekolah ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena masih minimnya penelitian serupa yang dilakukan di sana. Oleh karena itu, populasi dan sampel penelitian terdiri dari keempat cerpen tersebut. Pemilihan kelas V didasarkan pada anggapan bahwa siswa di kelas ini telah memiliki kemampuan menulis yang cukup baik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, yang bertujuan untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai kesulitan yang dihadapi oleh siswa dan guru selama proses penulisan, serta observasi untuk mengamati aktivitas siswa saat menulis cerpen. Penelitian ini menggunakan teknik analisis wacana untuk menganalisis data. Analisis wacana adalah studi mengenai fungsi pragmatik bahasa yang fokus pada cara penulis menyusun pesan dalam konteks sosial. 15 Melalui teknik ini, tidak hanya isi teks yang diungkap, tetapi juga cara penyampaian pesan tersebut. Hal ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam terkait cara penulis menyampaikan maksudnya dalam sebuah teks. Gambar 1 Proses analisis data penelitian kualitatif Gambar tersebut menggambarkan proses pengumpulan dan analisis data kualitatif yang dilakukan secara iteratif, di mana kedua proses ini berlangsung secara bersamaan dan saling memengaruhi. Reduksi data 15 Henry Guntur Tarigan. Menulis (Sebagai Suatu Keterampilan Berbahas. (Bandung: Angkasa, 2. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS merupakan tahap krusial dalam analisis data kualitatif. Tahap ini mengkategorikan data berdasarkan konsep, kategori, serta tema 16 Tujuannya menyederhanakan data mentah yang kompleks menjadi informasi yang lebih terstruktur, ringkas, dan mudah dipahami untuk tahap interpretasi berikutnya. Penilaian terhadap penilaian kemampuan menulis cerpen siswa mencakup beberapa aspek utama, yaitu alur, isi, dan kreativitas. 17 Kriteria penilaian dipaparkan pada Tabel 1 berikut. Tabel 1 Kriteria penilaian kemampuan menulis cerpen siswa ASPEK YANG KRITERIA DINILAI Aspek I: Tinggi: memuat judul, dialog, dan narasi. Kelengkapan aspek Sedang: memuat dua dari tiga unsur tersebut. formal cerpen Rendah: hanya memuat satu unsur, misalnya narasi saja. Aspek II: Tinggi: memuat fakta cerita, sarana cerita, dan Kelengkapan unsur perkembangan tema yang relevan dengan judul instrinsik cerpen secara lengkap. Sedang: memuat beberapa unsur, misalnya fakta cerita dan sarana cerita. Rendah: hanya memuat satu unsur, misalnya fakta cerita saja. Aspek i: Tinggi: memuat struktur cerpen, plot, dimensi Keterpaduan tokoh, dan dimensi latar secara lengkap. struktur cerpen Sedang: memuat beberapa unsur, misalnya struktur cerpen dan dimensi tokoh. Rendah: hanya memuat satu unsur, misalnya struktur cerpen saja. Aspek IV: Tinggi: memuat kaidah EYD, ketepatan Kesesuaian penulisan, dan penggunaan ragam bahasa yang penggunaan bahasa sesuai dengan tokoh dan latar. Sedang: memuat beberapa unsur, misalnya kaidah EYD dan ketepatan penulisan. Rendah: hanya memuat satu unsur, misalnya kaidah EYD saja. Ahmad Rijali. AuAnalisis Data Kualitatif,Ay Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 17, no. : 81, https://doi. org/10. 18592/alhadharah. 17 Rastia Mutiarani et al. Panduan Model Pembelajaran Menulis Cerpen Berbasis Prosenik (Bandung: Indonesia Emas Group, 2. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS Tabel 2. Kriteria presentase kemampuan menulis cerpen siswa PRENSENTAS NILAI SKALA KUALIFIKASI Baik Sekali 86-100 % Baik 75-85 % Cukup 56-75 % Kurang 10-55 % HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian, total nilai keseluruhan siswa disetiap aspek adalah sebagai berikut: aspek pertama, yaitu aspek keaslian penulisan, jumlah nilai yang didapatkan oleh 4 siswa adalah 83 poin dengan nilai rata-rata 18,6. Nilai tersebut bermakna bahwa rata-rata siswa pada aspek kelengkapan formal cerpen mendapatkan nilai 2 dan berada pada kategori kemampuan baik. Aspek kedua, yaitu aspek kelengkapan unsur instrinsik cerpen, jumlah nilai yang didapatkan oleh 4 siswa adalah 91 poin dengan skor rata-rata 20,4. Nilai tersebut bermakna bahwa ratarata siswa pada aspek Kelengkapan unsur instrinsik cerpen mendapatkan nilai 3 mengenai kelengkapan unsur-unsur kunci cerpen, sehingga mendapatkan kategori kemampuan baik sekali. Aspek ketiga, yaitu aspek Keterpaduan struktur cerpen, jumlah nilai yang didapatkan oleh 4 siswa adalah 83 dengan nilai rata-rata 18,6. Nilai tersebut bermakna bahwa ratarata siswa pada aspek Keterpaduan struktur cerpen mendapatkan nilai 2 dan berada pada kategori kemampuan baik. Aspek keempat, yaitu aspek kesesuaian penggunaan bahasa cerpen, jumlah nilai yang didapatkan oleh 4 siswa adalah 66 poin dengan nilai rata-rata skor 14,8. Nilai tersebut bermakna bahwa rata-rata siswa pada aspek Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen mendapatkan nilai 2 dan berada pada kategori kemampuan cukup. Oleh karena itu, rata-rata kemampuan siswa tergolong sedang ada seluruh aspek. Hasil ini dapat dijelaskan lebih jalas pada Tabel 3 dan 4. Tabel 3. Kemampuan siswa kelas V SDN Dimong 03 dalam kemampuan menulis cerpen INISIAL ASPEK ASPEK ASPEK ASPEK SISWA i RATARATA KATEGORI Baik sekali An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS Total Rata-rata Baik Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik Berdasarkan Tabel 3, hasil penilaian menulis cerpen siswa ada tiga kategori, yaitu nilai baik sekali (BS), nilai Baik (B), dan nilai cukup (C). Ketiga kategori tersebut muncul karena kemampuan masing-masing dari kedelapan siswa berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil penialain tersebut. Berikut dijelaskan satu per satu hasil analisis masingmasing kalsifikasi. Hasil Analisis Cerpen Kategori Baik Sekali Karya cerita pendek siswa yang dikategorikan sebagai "baik sekali" memenuhi semua kriteria penilaian menulis cerpen dengan skor antara 86 hingga 100. Penilaian didasarkan pada kelengkapan aspek formal, yang mencakup struktur penulisan yang lengkap seperti judul, isi, dan penutup, serta kelengkapan unsur intrinsik seperti tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang yang terbangun secara utuh dan Keterpaduan struktur juga menjadi salah satu pertimbangan, dengan melihat sejauh mana unsur-unsur intrinsik saling mendukung dan menghasilkan alur cerita yang koheren. Selain itu, kesesuaian penggunaan bahasa, termasuk pemilihan diksi, tata bahasa, dan gaya bahasa, juga menjadi aspek penting yang dinilai secara menyeluruh. Hasil analisis menunjukkan bahwa cerpen dalam kategori ini umumnya memiliki kekuatan pada kelengkapan dan kualitas unsur intrinsiknya. Fakta cerita disajikan dengan akurat, elemen-elemen cerita digunakan secara efektif, dan tema dikembangkan secara konsisten dengan judul. Dari empat cerpen yang dianalisis, hanya satu siswa yang mencapai kategori "baik " Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Hasil Analisis Cerpen Kategori Baik Karya cerita pendek siswa yang dikategorikan "baik" . kor 76-. menunjukkan penguasaan yang cukup baik pada beberapa aspek kemampuan menulis, seperti kelengkapan aspek formal, keterpaduan struktur, dan kesesuaian penggunaan bahasa. Namun, cerpen-cerpen tersebut masih memiliki kelemahan pada kelengkapan unsur intrinsik. Meskipun tema yang dikembangkan umumnya relevan dengan judul. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS unsur-unsur intrinsik lainnya seperti alur, penokohan, dan latar cerita masih memerlukan pengembangan yang lebih rinci dan efektif. Dari empat cerpen yang dianalisis, lima siswa termasuk dalam kategori "baik," yang menunjukkan adanya peluang besar untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa, khususnya dalam memperkuat elemenelemen intrinsik cerita. Penggunaan bahasa yang tepat dan efektif menjadi salah satu kelebihan yang perlu terus dijaga dan dikembangkan. Hasil Analisis Cerpen Kategori Cukup Karya cerita pendek siswa yang dikategorikan "cukup" . hanya memenuhi beberapa aspek kemampuan menulis, terutama pada kelengkapan aspek formal dan sebagian unsur intrinsik. Namun, aspek keterpaduan struktur dan kesesuaian penggunaan bahasa masih membutuhkan peningkatan yang signifikan. Kekurangan utama terlihat pada penggunaan bahasa yang kurang variatif dan kreatif, yang tercermin dari minimnya pemanfaatan dialog serta pilihan kata yang kurang tepat. Dari empat cerpen yang dianalisis, hanya dua siswa satu yang berada dalam kategori ini, menandakan bahwa masih diperlukan upaya lebih untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa, khususnya dalam penguasaan dan penerapan bahasa yang lebih efektif dan bervariasi. Berdasarkan analisis data secara keseluruhan menunjukkan bahwa siswa kelas V SDN Dimong 03 memiliki kekuatan dalam hal kelengkapan dan keterpaduan struktur cerpen, sebagaimana terlihat dari dua dari empat siswa yang menunjukkan pemahaman yang baik terhadap aspek Namun, kelemahan utama terletak pada kreativitas, satu siswa hanya mampu meniru atau menulis ulang cerpen tanpa mampu mengembangkan cerita dengan bahasa dan ide-ide sendiri. Gambar 2. Hasil persentase kemampuan menulis cerpen tiap aspek Kesesuaian penggunaan bahasa Keterpaduan struktur cerpen Kelengkapan unsur instrinsik cerpen Kelengkapan aspek formal cerpen Berdasarkan Gambar 2. , terlihat aspek aspek kelengkapan unsur intrinsik yang lebih dikuasi siswa dibanding aspek lain, yaitu 79. Unsur intrinsik seperti tokoh, penokohan, alur, latar, dan amanat mampu An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS dimunculkan pada cerpen siswa. Tokoh yang ditampilkan cukup beragam, ada yang dua bahkan lebih dari tiga tokoh. Penokohan yang muncul ada juga ada protagonis dan antagonis. Kemampuan menulis cerpen pada aspek kesesuaian penggunaan bahasa lebih rendah. Hal tersebut disebabkan karena tata bahasa yang disajikan masih kurang baik, seperti penggunaan tanda baca, penggunaan kalimat langsung dan tidak langsung, dan penulis baku dan tidak baku. Guru perlu melakukan bimbingan lebih dalam penulisan tata bahasa siswa agar lebih baik lagi. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan selama proses penulisan cerpen oleh siswa kelas V SDN Dimong 03, peneliti telah memberikan penjelasan mendalam terkait cerpen, yang meliputi definisi, unsur-unsur intrinsik, serta aturan penulisan yang benar. Penjelasan tersebut menitikberatkan pada empat kriteria utama yang harus dipahami siswa untuk menghasilkan cerpen berkualitas, yaitu kelengkapan aspek formal seperti struktur penulisan yang meliputi judul, pendahuluan, isi, dan kelengkapan unsur intrinsik. keterpaduan elemen atau struktur serta penggunaan bahasa yang efektif dan sesuai. Penjelasan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada siswa mengenai unsur-unsur dan struktur cerpen yang baik. Kriteria pertama dalam penilaian cerpen mencakup aspek formal, yang meliputi empat komponen utama, yaitu dialog, nama penulis, judul, dan narasi. Judul memiliki peran penting, terutama bagi penulis pemula, karena judul yang menarik dan relevan tidak hanya dapat memikat perhatian pembaca tetapi juga memberikan gambaran yang tepat mengenai isi cerita. 18 Selain itu, dialog berfungsi untuk menghidupkan cerita, memperkenalkan karakter, dan menggambarkan konflik yang Dialog yang disusun dengan baik dapat menyampaikan emosi dan interaksi antar tokoh secara alami. Sementara itu, narasi berperan dalam membentuk alur cerita, yaitu rangkaian peristiwa yang saling terkait untuk membangun plot secara keseluruhan. Kemampuan menyusun narasi yang menarik dan jelas menjadi elemen penting dalam keberhasilan sebuah cerpen. 19 Karakterisasi tokoh dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti melalui tindakan, ucapan, deskripsi fisik, pikiran, atau 18 Gary Barkhuizen. AuInvestigating Multilingual Identity in Study Abroad Contexts: A Short Story Analysis Approach,Ay System 71 . : 102Ae12, https://doi. org/10. 1016/j. Larkin Weyand and Mary M. Juzwik. AuSchooling Activist Evangelical Literacy: Speaking. Writing, and Storying Christian Faith in Dialogue with Public Secondary Literacy Curriculum,Ay Linguistics and Education 55 . : 100789, https://doi. org/10. 1016/j. Rusfi Rama Dini. Sri Sumarni, and Santi Oktarina. AuAnalisis Kebutuhan Pengembangan Video Interaktif Berpadukan Metode Blended Learning Materi Menulis Cerpen Sekolah Dasar,Ay JURNAL PENDIDIKAN DASAR PERKHASA: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar 9, no. : 585Ae93, https://doi. org/10. 31932/jpdp. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS penjelasan langsung dari narator. 20 Oleh sebab itu, dalam analisis aspek formal, penilaian tidak hanya berfokus pada keberadaan keempat komponen tersebut, tetapi juga pada bagaimana komponen-komponen tersebut digunakan untuk menghasilkan cerita yang efektif, menarik, dan mendukung pengembangan karakter dalam cerita. Kriteria kedua dalam penilaian cerpen adalah kelengkapan unsur intrinsik, ang meliputi fakta cerita, sarana cerita, dan pengembangan tema yang sesuai dengan judul. Fakta cerita mencakup tokoh, latar . empat, waktu, dan suasan. , serta alur yang mencakup urutan dan hubungan antarperistiwa dalam cerita. 21 Tokoh berperan sebagai pelaku utama yang menggerakkan cerita, sedangkan latar memberikan gambaran tentang lokasi, waktu, dan suasana yang mendasari jalannya cerita. Sarana cerita terdiri atas sudut pandang . eperti sudut pandang orang pertama atau ketig. , gaya penceritaan, penggunaan gaya bahasa, serta elemen seperti simbolisme dan ironi. Ketiga unsur iniAifakta cerita, sarana cerita, dan pengembangan temaAiberfungsi membangun struktur intrinsik yang kuat dalam sebuah cerpen. 22 Gaya penceritaan mencakup teknik dan pendekatan yang digunakan penulis untuk menyampaikan cerita, sementara gaya bahasa mencerminkan pilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan. Simbolisme dan ironi memberikan kedalaman makna dan memperkaya pesan cerita. Selain itu, tema yang dikembangkan harus tetap konsisten dan relevan dengan judul cerpen, sehingga menciptakan kesatuan cerita yang harmonis dan bermakna. Kriteria ketiga dalam penilaian cerpen adalah menilai keterpaduan antara struktur dan elemen-elemen dalam cerita. Keterkaitan antara empat elemen utamaAialur, perkembangan alur, dimensi tokoh, dan dimensi latarAisangat penting untuk membangun koherensi dalam cerita. Alur harus disusun dengan logis dan menarik, bahkan dapat memunculkan elemen kejutan, serta secara konsisten mendukung tema cerita dari awal hingga akhir. 23 Alur ini biasanya dibagi menjadi tiga tahap utama, yaitu perkenalan, konflik atau klimaks, dan penyelesaian. Dimensi tokoh adalah dimensi tokoh mencakup tiga aspek penting, yaitu fisiologis . enampilan fisik toko. , psikologis . arakter dan sifat kepribadia. , serta sosiologis . atar belakang sosial toko. Ketiga aspek ini berfungsi untuk membangun karakter yang utuh dan realistis. Sementara itu, 20 Veria Septianingsih. AuPola Kalimat Pada Kumpulan Dongeng Gadis Korek Api Karya H. Andersen (Suatu Kajian Sintaksi. ,Ay Pesona 1, no. : 42Ae49. 21 Hasmita Maulina. Siti Rohana Hariana Intiana, and Safruddin Safruddin. AuAnalisis Kemampuan Menulis Cerpen Siswa Sekolah Dasar,Ay Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 6, no. : 482Ae86, https://doi. org/10. 29303/jipp. Giati Anisah. AuValiditas Instrumen Asesmen Menulis Cerpen Terintegrasi Pendidikan Karakter,Ay Jurnal Pendidikan Islam 3, no. : 15Ae25. 23 Siregar Kajian and Homi K Bhaba. AuWacana Kolonial Dan Ambivalansi Cerpen Konsensus Karya Sori Siregar : Kajian Homi K. Bhaba,Ay Batra 7, no. : 12Ae22. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS dimensi latar yang mencakup tempat, waktu, dan kondisi sosial memberikan konteks yang memperkaya cerita dan mendukung alur. Kriteria ini bertujuan untuk menilai seberapa baik elemen-elemen tersebut saling berintegrasi dan mendukung keseluruhan alur cerita, sehingga menciptakan sebuah cerita yang koheren dan bermakna. Kriteria terakhir yang perlu dipahami dalam menulis cerpen adalah kesesuaian penggunaan bahasa, ang meliputi tiga aspek utama, yaitu penerapan kaidah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), gaya bahasa, dan ragam bahasa. PUEBI memiliki peranan penting dalam menjaga kualitas dan estetika karya tulis. Hal ini mencakup penggunaan huruf kapital, ejaan, serta tanda baca yang sesuai dengan aturan. Gaya bahasa dalam cerpen harus mampu menghadirkan kejelasan, ketepatan, keindahan, serta kesesuaian dengan tema dan karakter cerita. Bahasa yang digunakan sebaiknya sederhana, alami, tidak berlebihan, dan tidak terlalu kaku agar cerita terasa lebih hidup. 25 Selain itu, ragam bahasa yang dipilih harus mendukung karakter tokoh dan latar cerita sehingga menciptakan kesan yang autentik dan meyakinkan. Pemilihan ragam bahasa yang tepat mampu memperkuat karakterisasi tokoh, membangun suasana cerita, serta menambah kedalaman makna. Ketiga aspek ini dianalisis secara keseluruhan untuk menentukan sejauh mana bahasa dalam cerpen digunakan dengan efektif dan sesuai dengan tujuan cerita. Berdasarkan hasil analisis terhadap empat kriteria penilaian, secara keseluruhan, karya siswa menunjukkan kualitas yang cukup baik, seiring dengan proses pembelajaran yang telah dilakukan. Beberapa cerpen mencerminkan kekayaan ide yang menarik, meskipun masih ada karya yang memerlukan pengembangan ide lebih lanjut. Dalam hal pemilihan diksi, kemampuan siswa terlihat bervariasi. Ada siswa yang mampu menggunakan diksi secara tepat dan efektif untuk menyampaikan pesan, namun ada pula yang masih mengalami kesulitan dalam memilih katakata yang sesuai. Secara umum, siswa sudah mampu menggunakan bahasa secara komunikatif sehingga pesan dalam cerpen dapat dipahami dengan baik oleh pembaca. Temuan ini mengindikasikan adanya perbedaan kemampuan menulis cerpen di antara siswa kelas V. Beberapa siswa telah menunjukkan penguasaan yang baik dalam menulis cerpen, sedangkan siswa lainnya masih memerlukan bimbingan lebih lanjut untuk meningkatkan kemampuan siswa. 24 Dwiana Nur Rizki Hanifah. Eko Setyawan, and Nugraheni Eko Wardani. AuAmbivalensi Tokoh Subaltern Dalam Cerpen Pengasigan Ke Jawa Karya Ita Siregar: Kajian Poskolonialisme,Ay Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra 11, no. : 73, https://doi. org/10. 30595/mtf. 25 Rusty Saraswati and Wini Tarmini. AuKemampuan Menulis Cerpen Siswa Kelas V Sekolah Dasar Dengan Menggunakan Media Gambar Seri Di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Cakrawala Pendas 8, no. : 870Ae76, https://doi. org/10. 31949/jcp. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. ANALISIS KETERAMPILAN MENULIS KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis deskriptif kualitatif terhadap kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas V SDN Dimong 03, secara umum, kemampuan menulis siswa tergolong baik. Namun, terdapat perbedaan kemampuan yang cukup mencolok antar siswa. Dari empat karya yang dianalisis, satu siswatermasuk dalam kategori "baik sekali," lima siswa berada pada kategori "baik," dan dua masuk dalam kategori "cukup. " Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar siswa menunjukkan kemampuan yang baik dalam menulis cerpen, ada beberapa siswa yang masih membutuhkan bimbingan dan latihan tambahan, khususnya siswa yang berada dalam kategori "cukup. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi guru dan pihak sekolah untuk mengembangkan metode pembelajaran menulis cerita pendek yang lebih efektif. Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan siswa dalam berbagai aspek penulisan cerpen, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa sekaligus memperbaiki kualitas pembelajaran menulis cerita pendek di sekolah. Penelitian tentang analisis keterampilan menulis cerpen di sekolah dasar memiliki banyak manfaat untuk pembelajaran Bahasa Indonesia. Ini karena menulis cerpen memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa siswa, terutama dalam hal menyusun kalimat, memilih kata yang tepat, dan mengorganisasi ide. Kegiatan ini juga mendorong kreativitas karena memungkinkan siswa untuk berimajinasi dan menyampaikan ide-ide siswa dalam bentuk cerita. Selain itu, menulis cerpen membantu siswa belajar menggunakan kata-kata yang tepat dan DAFTAR PUSTAKA