Ni Kadek Mariana1. I Putu Gede Asnawa Dikta2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 PENERAPAN METODE ROLE-PAYING PADA MATA PELAJARAN PKN DI SD NEGERI 1 NONGAN Ni Kadek Mariana1. I Putu Gede Asnawa Dikta2 1,2Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Institut Teknologi dan Pendidikan Markandeya Bali Bangli. Indonesia marianakadek39@gmail. com1, pg. asnawa@gamil. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan Model Pembelajaran Role-Playing dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggali pemahaman mendalam tentang implementasi model pembelajaran bermain peran dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas 4 SD Negeri 1 Nongan. Subjek penelitian adalah siswa dengan jumlah 11 orang di sekolah tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ditemukan bahwa . terdapat peningkatan yang signifikan pada pemahaman siswa terhadap materi pelajaran PKN, . Pemberian peran aktif kepada siswa dalam pembelajaran mampu meningkatkan motivasi, partisipasi, dan pemahaman konsep pembelajaran, . Model Pembelajaran RolePlaying memberikan dampak positif pada aspek nilai-nilai, sikap, dan perasaan siswa. Penerapan model ini berhasil membina sikap toleransi, menghargai satu sama lain, serta melatih siswa untuk mengendalikan ego Melalui proses bermain peran, siswa dapat merasakan dan memahami perspektif orang lain, sehingga dapat mengembangkan empati. Kata Kunci: Pendidikan. Pembelajaran Berbasis Permainan. Sekolah Dasar Abstract This study aims to evaluate the effectiveness of the application of Role-Playing learning Model in improving the quality of Citizenship Education learning. This study uses a qualitative descriptive approach to explore a deep understanding of the implementation of role-playing learning models in Pancasila and Citizenship Education subjects in the 4 grade of SD Negeri 1 Nongan. The subjects of the study were students of Class 11 at the school. Data collection was carried out through three main methods, namely observation, interview, and documentation. The results found that . there is a significant increase in students ' understanding of Citizenship Education subject matter, . giving active roles to students in learning can increase motivation, participation, and understanding of learning concepts, . Role-Playing learning models have a positive impact on aspects of values, attitudes, and feelings of students. The application of this model successfully fosters attitudes of tolerance, respect for each other, and trains students to control their egos. Through the process of role-playing, students can feel and understand the perspective of others, which can develop empathy Keywords: Education. Game-Based Learning. Elementary School PENDAHULUAN Pendidikan merupakan sebuah proses yang terencana dan usaha yang secara sadar untuk menciptakan lingkungan belajar dan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik aktif Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Mariana1. I Putu Gede Asnawa Dikta2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 mengembangkan potensi mereka (Ningsih, 2. Tujuan dari pendidikan ini adalah agar peserta didik dapat mengembangkan dimensi spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, etika yang baik, dan keterampilan yang berguna untuk diri mereka sendiri, masyarakat, negara, dan Guru memiliki peran sentral dalam membimbing peserta didik dalam perjalanan mereka menuju pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam (Fauziah, 2. Pendidikan di sekolah juga mencakup pembentukan karakter, pengembangan kecerdasan emosional, dan pemberian dasar moral (Wahid, 2. Selain itu, proses pembelajaran harus mempertimbangkan beragam gaya belajar dan kebutuhan individu peserta didik, sehingga setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang (Saputri, 2. Guru memiliki kewajiban dalam mendidik dan memberikan pembelajaran yang terbaik bagi siswa/siswinya di dalam kelas maupun di luar kelas. Aktivitas belajar dapat terwujud apabila peserta didik terlibat secara aktif dalam proses Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik harus diberikan kesempatan untuk aktif belajar, bukan hanya sebatas duduk diam, mendengarkan, dan kemudian mengerjakan soal. Konsep ini sejalan dengan pandangan Hamalik . yang menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga mereka dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan berkesan. Keberhasilan proses pembelajaran terletak pada kemampuan guru untuk menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan dan kepribadian peserta didik, sehingga peserta didik dapat terlibat secara maksimal dalam proses belajar (Ilyas & Syahid, 2. Selain itu, peran esensial seorang pendidik melibatkan kemampuan evaluasi terhadap karakteristik siswanya, yang nantinya akan membantu merancang model pembelajaran yang tepat. Guru harus memiliki keahlian dalam memahami aspek-aspek tertentu dari peserta didik, seperti kemampuan, potensi, minat, hobi, sikap, dan kepribadian (Nurgiansiah & Sukmawati, 2. Keahlian tersebut dapat diperoleh melalui pengembangan kompetensi kepribadian dan kompetensi Selain itu, seorang pendidik diharapkan memiliki fleksibilitas dalam menghadapi dinamika situasi terkini (Nurgiansiah, 2. Dalam peran sebagai pengelola pembelajaran, guru perlu dapat memilih serta menentukan model, metode, dan media pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam konteks kelasnya (Fitasari et al. , 2. Oleh karena itu, seorang guru diharapkan mampu berbicara secara efektif di depan kelas dan menjadi seorang public speaking yang ahli (Nurgiansiah & Sukmawati, 2. Tidak hanya memfokuskan perhatian pada isu-isu yang melibatkan peran guru, tak kalah pentingnya adalah mendalami perilaku siswa dalam konteks pembelajaran. Dalam ruang kelas, siswa kerap menghadapi sejumlah masalah, seperti kehilangan motivasi belajar yang berakar pada kurangnya minat terhadap mata pelajaran tertentu, rendahnya tingkat partisipasi di kelas karena kesulitan memahami materi yang dipersembahkan oleh guru, bahkan hingga penurunan prestasi akademik yang disebabkan oleh kurangnya semangat belajar dan keengganan untuk membaca. Motivasi belajar, baik yang bersumber dari faktor internal maupun eksternal, menjadi elemen yang memainkan peran sentral dalam membentuk perilaku siswa yang tengah mengikuti proses pembelajaran (Jaya Wibawa & Suarjana, 2. Berdasarkan observasi diperoleh penulis selama ini, terlihat bahwa partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran kurang optimal. Siswa nampaknya kekurangan minat terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan karena persepsi bahwa pelajaran ini lebih menekankan hafalan daripada pengembangan keterampilan penalaran. Hal ini menyebabkan rendahnya pencapaian belajar siswa di bidang Pendidikan Kewarganegaraan di lingkungan sekolah. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Mariana1. I Putu Gede Asnawa Dikta2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 Sementara itu, hasil observasi terhadap proses pembelajaran menunjukkan kekurangan penggunaan pendekatan, media, dan metode yang sesuai. Guru cenderung lebih aktif daripada siswa, dan dari wawancara dengan siswa, ditemukan bahwa banyak dari mereka merasa bosan dengan pembelajaran karena terlalu banyak materi yang harus dihafal. Fokus utama seorang pendidik seharusnya tertuju pada permasalahan yang dihadapi siswa di kelas, dengan tujuan mencari solusi yang tepat, cepat, dan efisien. Salah satu alternatif solusi yang dapat digunakan adalah penerapan model pembelajaran Role-Playing atau bermain peran. Metode role-playing, yang juga dikenal sebagai bermain peran, merupakan suatu bentuk kegiatan dramatik di mana siswa diminta untuk secara spontan memainkan peran-peran tertentu dalam suatu Peran yang dijalankan berkaitan dengan masalah, tantangan, dan relevansinya dengan aspek-aspek manusiawi. Dengan menggunakan metode bermain peran, subjek pembelajaran diminta untuk berpura-pura menjadi individu dengan profesi tertentu, sehingga mereka dapat memahami dan mempelajari bagaimana menjadi orang dengan profesi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk . memahami pendekatan guru dalam mengajar Pendidikan Kewarganegaraan, . memberikan rekomendasi kepada guru terkait implementasi model pembelajaran bermain peran dalam mengajar Pendidikan Kewarganegaraan, . mendukung peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dan . memberikan panduan kepada guru dalam memanfaatkan model pengajaran nilai-moral dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif untuk peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di tingkat Sekolah Dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggali pemahaman mendalam tentang implementasi model pembelajaran bermain peran (Role-Playin. dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas 4 SD Negeri 1 Nongan. Pemilihan pendekatan kualitatif dikarenakan metode penelitian ini menghasilkan data berupa deskripsi dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan, serta perilaku yang diobservasi dari partisipan atau sumber informasi yang relevan (Rukin, 2. Subjek penelitian adalah siswa kelas 4 di sekolah tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu observasi, wawancara, dan Observasi dilakukan selama pelaksanaan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dengan tujuan untuk mengamati secara langsung interaksi siswa dalam menggunakan model pembelajaran bermain peran. Observasi dilakukan dengan teliti dan sistematis untuk memperoleh data yang akurat dan relevan. Wawancara dilakukan dengan guru kelas 4 di SD Negeri 1 Nongan. Tujuan wawancara adalah untuk mendapatkan perspektif guru terkait implementasi model pembelajaran bermain peran dalam mengajar mata pelajaran tersebut. Selain itu, sebagian siswa kelas 4 juga menjadi subjek wawancara untuk mengevaluasi pengalaman dan pandangan mereka terhadap pembelajaran dengan menggunakan model bermain peran. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tambahan, seperti rencana pembelajaran, materi ajar, dan hasil evaluasi pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan merinci temuan dari observasi, wawancara, dan dokumentasi, untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang implementasi model pembelajaran bermain peran dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di tingkat kelas 4 SD Negeri 1 Nongan. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Mariana1. I Putu Gede Asnawa Dikta2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 Analisis data dalam penelitian ini akan mengikuti pendekatan analisis data kualitatif yang terdiri dari tiga aktivitas yang dilakukan secara bersamaan. Pertama, reduksi data dilakukan melalui pemilihan, pemusatan perhatian pada hal-hal yang relevan, pengabstrakan, dan transkripsi data dari catatan-catatan lapangan. Kedua, pemaparan data dilakukan dalam bentuk teks naratif yang memberikan pemahaman menyeluruh tentang fenomena yang diteliti. Ketiga, pengambilan keputusan dan verifikasi dilakukan dengan memilih keputusan yang didukung oleh data dan melakukan verifikasi terhadap temuan yang telah diperoleh (Miles dan Hubermen, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam pelaksanaan pembelajaran sebelumnya, metode yang umum digunakan oleh guru melibatkan ceramah, sesi tanya jawab, dan pemberian tugas kepada siswa. Meskipun demikian, pemahaman siswa cenderung terbatas pada tahap penerimaan materi yang diberikan oleh guru, menyebabkan siswa kurang mampu memahami konsep yang seharusnya mereka pelajari. Oleh karena itu. Model Role-Playing diperkenalkan melalui dua pertemuan. Pertemuan pertama didedikasikan untuk penyampaian materi dan pengenalan langkah-langkah Model Pembelajaran Role-Playing. Sementara pertemuan kedua berfokus pada penerapan praktik dengan Model RolePlaying. Pada pembelajaran pertama, proses dimulai dengan kegiatan apersepsi, yang melibatkan guru dalam menyapa, menanyakan kabar, mengabsen siswa, serta menyampaikan indikator atau tujuan pembelajaran. Kegiatan ini berlangsung selama 10 menit dan dilanjutkan dengan kegiatan inti selama 60 menit, yang mencakup penyampaian materi. Setelah itu, ada kegiatan penutup selama 20 menit yang mencakup tes tulis untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan, serta penjelasan mengenai penggunaan Model Pembelajaran Role-Playing yang akan diterapkan pada pertemuan minggu depan. Proses pembelajaran ini dirancang dengan cermat untuk meningkatkan efektivitas dan interaktivitas siswa dalam memahami dan menerapkan konsep Pada pertemuan pertama pembelajaran, tidak terlihat partisipasi dan motivasi yang signifikan dari siswa. Guru masih mendominasi proses pembelajaran, sementara siswa cenderung hanya mendengarkan dan sesekali bertanya. Terkait dengan prestasi belajar, masih terdapat banyak jawaban yang salah di akhir sesi pembelajaran, menunjukkan bahwa tanpa menerapkan suatu model pembelajaran tertentu, masalah-masalah seperti kurangnya motivasi, ketidakaktifan, dan prestasi belajar yang kurang memuaskan sulit diatasi. Hal ini selaras dengan penelitian Nurgiansah . yang menyatakan bahwa penggunaan metode pembelajaran yang tepat akan berdampak positif pada peserta didik begitu juga sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut, pertemuan kedua dirancang dengan memberikan peran aktif kepada siswa. Pelaksanaan pembelajaran pada tahap kedua berbeda dengan tahap pertama. Kali ini, siswa mengambil peran sebagai pemimpin pembelajaran, sementara guru berperan sebagai pemantau yang sesekali memberikan arahan atau klarifikasi materi. Antusiasme siswa sangat terlihat, dengan peningkatan yang pesat dalam keaktifan dan motivasi belajar. Selaras dengan penelitian Maani . , menyatakan bahwa penerapan metode pembelajaran model Role-Playing dapat meningkatkan minat belajar siswa Hasil evaluasi melalui tes tanya jawab di akhir simulasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu menjawab pertanyaan, berbeda dengan pertemuan pertama saat materi disampaikan secara ceramah oleh guru. Meskipun demikian, model pembelajaran ini memiliki beberapa kelemahan, di antaranya: mensimulasikan materi memerlukan waktu yang cukup lama, bahkan mungkin lebih dari satu Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Mariana1. I Putu Gede Asnawa Dikta2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 . model ini sangat menekankan pada kreativitas dan daya nalar siswa yang tinggi, sehingga menyebabkan sebagian siswa merasa tertekan dan enggan terlibat dalam pembelajaran. tidak semua materi atau mata pelajaran dapat mengadopsi model pembelajaran ini. Berbagai kendala muncul dalam implementasi model pembelajaran Role-Playing pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, termasuk: . beberapa siswa tampak bingung pada awal simulasi, terutama kelompok pertama, karena ini merupakan pengalaman pertama mereka menggunakan model pembelajaran Role-Playing. Untuk menghindari situasi serupa, guru perlu mengintegrasikan berbagai model pembelajaran dan mempertimbangkan penggunaan media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Hasan et al. , 2. suasana kelas menjadi gaduh namun tetap kondusif, disebabkan oleh antusiasme siswa yang sangat tinggi. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat efektif mengelola kelas untuk menjaga kondusivitas . terdapat keterbatasan waktu pada kelompok kedua karena kelompok pertama melebihi batas waktu yang telah ditetapkan. Hal ini wajar terjadi karena pada pelaksanaan pertama kali akan menghabiskan banyak waktu untuk beradaptasi. Pemanfaatan model bermain peran dalam pembelajaran PKN memberikan dampak instruksional yang signifikan, memperlihatkan peningkatan kualitas pembelajaran di lingkungan Kemajuan ini tidak hanya mencakup pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, melainkan juga melibatkan aspek nilai-nilai, sikap, dan perasaan siswa yang tercermin dalam aktivitas Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), seperti diskusi, permainan peran, dan berbagi Pada awal pelaksanaan pembelajaran PKN dengan bermain peran, siswa terlihat enggan menyampaikan pendapat, gagasan, atau menentukan sikap. Namun, dalam pelaksanaan berikutnya, terlihat perkembangan signifikan di mana siswa telah berani menentukan sikap saat memilih topik yang akan dimainkan, termasuk dalam pemilihan peran. Mereka mampu mengungkapkan sikap dan perasaan mereka dengan lebih percaya diri selama proses permainan Tidak hanya itu, melalui diskusi dan pertukaran pengalaman belajar, siswa dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah pribadi dan interpersonal. Hal ini terjadi melalui proses pemeranan dan diskusi, di mana siswa dapat secara lebih terbuka membahas masalah perilaku dan sikap yang dianggap baik dan benar tanpa merasa canggung, malu, atau Dari implementasi model pembelajaran Role-Playing, dapat diidentifikasi kelebihan dan kekurangannya, serta kendala yang muncul dan solusinya agar pembelajaran ke depan dapat lebih Kelebihan model pembelajaran ini melibatkan siswa secara dominan, memudahkan penerimaan materi karena keterlibatan langsung siswa, meningkatkan minat, partisipasi, motivasi, dan pemahaman terhadap isi materi. Melalui metode bermain peran (Role-Playin. , siswa mampu menginternalisasi konsep sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan oleh guru. Hasil wawancara menunjukkan bahwa guru dan praktisi merasa puas dengan penerapan model bermain peran, siswa lebih bersemangat dalam belajar, keterlibatan siswa meningkat, pembelajaran menjadi lebih bermakna, dan siswa yang cenderung pemalu mulai berani menyuarakan pendapat dan mengekspresikan diri selama proses pembelajaran. Dengan demikian, penerapan model bermain peran dalam pembelajaran PKN memungkinkan pengembangan komprehensif pada siswa, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik mereka. Selain itu penerapan bermain peran dapat mengembangkan sikap empati terhadap apa yang dialami oleh orang lain melalui pengamatan pemeranan dan diskusi dalam Hal ini menunjukan bahwa, guru berhasil membentuk sikap toleransi dan saling menghargai terhadap orang lain, serta melatih siswa untuk mengendalikan ego mereka. Sejalan Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Mariana1. I Putu Gede Asnawa Dikta2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 dengan penelitian Saputri . menyebutkan metode pembelajaran role-playing menjadi suatu pendekatan yang menggambarkan penguasaan materi pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan ini membantu siswa memahami materi atau konsep yang dipelajari dengan lebih baik. Penggunaan metode role-playing dalam mata pelajaran PKN dianggap tepat karena memberikan berbagai keuntungan, termasuk peningkatan ketertarikan siswa pada pelajaran, kemampuan mereka untuk memahami masalah sosial melalui permainan peran, dan kemampuan mereka untuk berempati dengan orang lain, yang akan membentuk sikap saling mengerti. Pelaksanaan pembelajaran dengan metode role-playing secara umum berjalan dengan baik, memberikan variasi pada proses pembelajaran. Siswa secara umum menunjukkan antusiasme yang tinggi, tercermin dalam suasana kelas yang riuh dengan Mereka menjadi lebih termotivasi dan aktif dalam mendengarkan pelajaran, sesuai dengan pendapat Ulfaira . bahwa motivasi adalah pendorong bagi seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Selain itu, siswa mampu menyampaikan pendapat dan berpartisipasi aktif dalam menyajikan materi. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Mustafa . dan Rahim . menunjukkan bahwa penerapan role-playing berhasil meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran tertentu di tingkat SD. Bagi siswa yang belum mencapai nilai tuntas, akan diberikan soal evaluasi sebagai tindakan perbaikan atau remedial. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa penerapan metode pembelajaran role-playing memiliki potensi untuk meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. SIMPULAN Pada dasarnya, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan Model Pembelajaran Role-Playing dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Pertama-tama, melalui pelaksanaan Model Pembelajaran Role-Playing, ditemukan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada pemahaman siswa terhadap materi pelajaran PKN. Pemberian peran aktif kepada siswa dalam pembelajaran mampu meningkatkan motivasi, partisipasi, dan pemahaman konsep pembelajaran. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa siswa lebih aktif dalam menjawab pertanyaan, berkomunikasi, dan memahami konteks materi dengan lebih baik. Kedua. Model Pembelajaran Role-Playing memberikan dampak positif pada aspek nilai-nilai, sikap, dan perasaan siswa. Penerapan model ini berhasil membina sikap toleransi, menghargai satu sama lain, serta melatih siswa untuk mengendalikan ego mereka. Melalui proses bermain peran, siswa dapat merasakan dan memahami perspektif orang lain, yang dapat mengembangkan empati. Saran yang dapat diambil dari hasil penelitian ini dapat diarahkan kepada beberapa pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Pertama-tama, para guu diharapkan lebih sering menggunakan Model Pembelajaran Role-Playing sebagai alternatif metode pembelajaran. Penggunaan metode ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa dan membentuk sikap positif terhadap materi PKN. Saran ini ditujukan agar para guru dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mendekati siswa melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif. Kedua, bagi pihak sekolah dan kepala sekolah, sebaiknya memberikan dukungan dan fasilitasi yang memadai untuk pelaksanaan Model Pembelajaran Role-Playing. Hal ini melibatkan penyediaan ruang yang kondusif, serta pengadaan bahan atau peralatan yang mendukung keberlangsungan metode pembelajaran ini. Saran ini diarahkan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pengembangan kreativitas dan interaksi siswa. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Mariana1. I Putu Gede Asnawa Dikta2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 Secara keseluruhan, penerapan Model Pembelajaran Role-Playing dalam pembelajaran PKN menunjukkan hasil yang positif. Saran-saran ini diharapkan dapat memberikan arahan praktis bagi para pelaku pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PKN di sekolah-sekolah. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran PKN dapat lebih bermakna dan efektif dalam membentuk karakter serta keterampilan kewarganegaraan siswa. UCAPAN TERIMAKASIH