SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI BILANGAN LONCAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT PADA SISWA KELAS 1 SD Emilia SD Negeri 017 Candirejo. Pasir Penyu Indragiri Hulu. Riau. Indonesia e-mail: emiliathahar@gmail. Abstrak Penelitian ini merupakan upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 1 SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu pada Matematika dengan model pembelajaran Card Sort. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1 yang berjumlah 24 anak. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus setiap siklusnya merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Penelitian ini menghasilkan peningkatan hasil belajar siswa. Nilai akhir hasil belajar siswa dari pra siklus hingga siklus II memberi bukti bahwa penggunaan model pembelajaran Card sord pada mata pelajaran matematika materi bilangan loncat 2, 3,dan 4 di kelas 1 SDN 017 Candirejo mengalami Kata kunci: Hasil Belajar. Card Sort Abstract This research is an effort to improve student learning outcomes in grade 1 SDN 017 Candirejo. Pasir Penyu Subdistrict. Indragiri Hulu Regency in Mathematics with a Card Sort learning The subjects of this study were 24 grade 1 students. This research was conducted in 2 cycles each cycle consisting of a series of activities consisting of: planning, implementing, observing, reflecting. This research resulted in an increase in student learning outcomes. The final grades of student learning outcomes from pre-cycle to cycle II provide evidence that the use of the Card sord learning model in mathematics subjects jumping numbers 2, 3, and 4 in grade 1 SDN 017 Candirejo has increased Keywords : Learning Outcomes. Card Sort PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses mengubah tingkah laku manusia menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar. Kemajuan ilmu pengetahuan akan mempengaruhi peningkatan kualiatas belajar, sehingga perlu adanya berfikir secara kritis, logis, terarah dan jelas. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan yang penting dalam pendidikan, karena matematika ilmu yang memdidik manusia untuk berfikir logos, teoritis, rasional dan percaya diri. Sehingga matematika menjadi dasar dari ilmu pengetahuan yang lain. Maka dari itu siswa harus menguasai matematika agar mereka dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. Kenyataan menunjukkan bahwa mutu dan relevansi pendidikan matematika khususnya pada pendidikan dasar di indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal tersebut dikarenakan matematika merupakan mata pelajaran yang sukar dipahami sehingga kurang di minati oleh sebagian siswa sekolah dasar. Berkurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran matematika menyebabkan rendahnya pemahaman belajar matematika, untuk meningkatkan pemahaman belajar matematika, guru perlu melakukan pembaharuan dalam proses belajar mengajar. Sebagian besar siswa kurang berminat terhadap mata pelajaran matematika Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 dikarenakan matematika adalah ilmu yang berhubungan dengan sesuatu yang abstrak, maka dari itu diperlukan sesuatu kegiatan yang konkret sehingga dapat membantu penyajian materi. Kegiatan ini bisa di namakan model pembelajaran. Model sangat bermanfaat bagi guru maupun siswa. Model pembelajaran ini mempunyai peranan yang sangat dalam memahami konsep matematika. Model pembelajaran matematika diperlukan guru dalam menyampaikan pelajaran matematika. Karena dengan adanya model pembelajaran ini guru sedikit lebih mudah dalam menerangkan materi pelajaran matematika. Selain itu model pembelajaran ini di gunakan untuk menarik perhatian siswa dalam mempelajari matematika. Dengan kata lain model pembelajaran merupakan media transfer pengetahuan dari pendidik kepada siswa. Di dalam KBM harus ada interaksi antara guru dengan siswa untuk menunjang pembelajaran matematika yang berkualitas. Hal yang menjadi hambatan disebabkan karena kurang dikemasnya pembelajaran matematika dengan model pembelajaran yang menarik, menantang dan menyenangkan. Para guru sering kali menyampaikan materi matematika pada bilangan loncat pada siswa kelas 1 sekolah dasar dengan cara lama, hanya dengan metode ceramah. Sehingga pembelajaran matematika cenderung monoton, membosankan dan kurangnya minat siswa, sehingga berdampak pada pemahaman siswa yang masih rendah. Akibatnya banyak kritikan yang di tujukan kepada guru-guru yang mengajarkan siswa untuk berhitung, antara lain rendahnya daya kreasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran dan kurangnya variasi pembelajaran matematika yang menyenangkan. Pelajaran yang baik adalah pembelajaran yang melibatkan peran aktif siswasiswanya karena dengan keaktifannya siswa akan lebih mudah memahami pelajaran yang disampaikan dan tujuan pembelajaran akan dicapai dengan baik. Guru harus mampu memberikan ruang bagi siswanya untuk mengembangjan kratifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki siswa sehingga hasil belajar yang akan dicapai dapat memuaskan. Keberhasilan dalam pembelajaran ditentukan oleh ketuntasan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Ketuntasan tersebut dapat dicapai salah satunya dengan memilih model pembelajaran yang sesuai. Guru di tuntut untuk dapat memilih model pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap siswa untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya (Rusman, 2. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan di SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu, masalah utama dalam pembelajaran adalah kurangnya motivasi siswa mengikuti pembelajaran. Siswa yang duduk di depanlah yang mendengarkan guru menjelaskan sedangkan siswa yang duduk di belakang ada yang mengerjakan soal yang lain, bercerita dengan temannya, bahkan ada yang mengganggu temannya yang sedang belajar. Selain itu metode yang digunakan oleh guru masih sangat sederhana seperti menjelaskan pelajaran hanya dengan berceramah di depan kelas. Tentu saja siswa akan cenderung bosan untuk mengikuti pembelajaran. Diskusi kelompok yang dilakukanpun masih sederhana, siswa yang mau mengungkapkan hasil kelompoknya hanyalah siswa yang pandai dan yang lainnya hanya ikut-ikutan. Media yang digunakan oleh guru masih sangat sederhana, hanya menggunakan gambar yang ada di dalam lembar kerja siswa dan buku paket. Jadi siswa hanya terpaku kedalam buku Bilangan loncat merupakan pokok bahasan yang diajarkan pada kelas I semester Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan wali kelas I hasil belajar siswa pada pokok bahasan tersebut kurang memuaskan. Siswa masih banyak yang kesulitan menghafalkan angka. Siswa yang aktif hanya siswa yang pandai saja. Selain itu nilai siswa yang mencapai KKM dari 24 siswa hanya 6 orang yang memenuhinya. KKM untuk mata pelajaran matematika di SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu Nilai rata-rata dalam kelas tersebut adalah 65 Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Salah satu alternatif rancangan pembelajaran yang harus diterapkan dalam materi bilangan loncat pada siswa kelas 1 sekolah dasar menurut peneliti dan guru kelas 1 SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Card Sort Model pembelajaran merupakan suatu Card Sort metode pemilahan kartu. Model pembelajaran Card Sort ini menciptakan suasana belajar matematika anak dengan menyenangkan dan anak tidak akan bosan untuk belajar berhitung matematika karena model pembelajaran ini anak tidak hanya berhitung biasa melainkan anak bisa belajar sambil bermain. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk membuktikan bahwa melalui penerapan model pembelajaran Card Sort dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang bilangan loncat kelas 1 SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tersebut ber judul AuPeningkatan Hasil Belajar Siswa Tentang Bilangan Loncat Melalui Model Pembelajaran Card Sort pada Siswa Kelas 1 SDN 017 Candirejo Kecamatan Kelayang Kabupaten Indragiri Hulu Tahun Pelajaran 2016 / 2017Ay Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah AuApakah dengan menggunakan model pembelajaran Card Sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang bilangan loncat pada siswa kelas 1 di SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu Tahun Pelajaran 2016/ 2017? Tujuan yang di harapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan model pembelajaran Card Sort dalam meningkatkan hasil belajar bilangan loncat pada kelas 1 SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu tahun pelajaran 2016/2017. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan Hipotesis Tindakan Hipotesis dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Card Sort dapat meningkatkan hasil belajar bilangan loncat siswa kelas 1 SDN 017 Candirejo Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu tahun pelajaran 2016 / 2017. Indikator Keberhasilan Penggunaan model pembelajaran Card Sort dikatakan berhasil apabila indikator yang diharapkan dapat tercapai. adapun indikator yang di rumuskan peneliti adalah: Secara individu Siswa di harapkan dapat mencapai skor Ou 70 pada materi bilangan loncat. Secara Klasikal Presentase 80% sebanyak dari total siswa dalam satu kelas mendapat Ou 70. METODE Rancangan Penelitian Penelitian yang dilakukan menggunakan penelitian tindakan kelas, istilah dalam bahasa inggrisnya adalah classroom action research yang berarti action research . enelitian dengan tindaka. yang dilakukan di kelas. Menurut Kemmis Dan Carr . mengemukakan bahwa: penelitian tindakan merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku dalam masyarakat sosial dan bertujuan untuk memperbaiki pekerjaanya, memahami pekerjaan ini serta situasi dimana pekerjaan ini dilakukan. Sedangkan pendapat lain mengemukakan PTK adalah Proses penetapan dan suatu tindakan- tindakan baru, baik terhadap anak didik didalam kelas maupun warga lain di lingkungan sekolah, sebagai alternatif pemecahan masalah (SamAos, 2. Arikunto dalam bukunya mengungkapkan Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya (Arikunto, 2. Jadi secara garis besarnya penelitian tindakan kelas adalah jenis penelitian yang dilakukan oleh guru kelas untuk Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus menerus. Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian tindakan kelas karena melalui penelitian ini seorang peneliti terjun langsung dan ikut berperan langsung dalam proses penelitian. Penelitian mengumpulkan data observasi kelas, wawancara dengan guru dan siswa. Adapun gambaran tahap penelitian (Arikunto, 2. adalah sebagai Gambar 1. Skema siklus Penelitian menurut Arikunto . Subyek penelitian Dalam penelitian ini yang dijadikan subjek penelitian adalah siswa kelas 1 SDN 017 Candirejo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Card Sort setelah itu dilakukan refleksi. Langkah-langkah penelitian Arikunto . , mengemukakan bahwa tahap-tahap dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari empat tahapan penting meliputi: Planning . Action . Observation . Refleksi . Lebih jelasnya sebagai . Tahap rencana . Merupakan bagian awal yang harus dilakukan peneliti sebelum seluruh rangkaian kegiatan dilakukan. Kegiatan yang dilakukan adalah: Guru membuat kartu angka untuk penerapan model pembelajaran Card Sort. Mempersiapkan sumber belajar yang relevan. Menyusun daftar pertanyaan untuk tanya jawab. Menyusun lembar pengamatan pembelajaran untuk mengetahui kondisi siswa dalam proses pembelajaran. Menyusun lembar pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran. Menyusun test formatif untuk siswa Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 . Tahap tindakan . Merupakan pelaksanaan yang telah dibuat yang berupa penerapan pembelajaran sesuai dengan skenario pembelajaran yang tertulis pada RPP dan tahap perencanaan. Kegiatan pembelajaran terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pendahuluan, inti (Elaborasi. Eksplorasi,dan Konfirmas. dan penutup. Tahap pengamatan . Pada tahap ini segala aktivitas siswa dalam proses pembelajaran diamati, dicatat dan dinilai, kemudian dianalisis untuk dijadikan umpan balik pengamatan tersebut meliputi keaktifan dan inisiatif siswa selama kegiatan pembelajaran. Tahap refleksi . , meliputi : Mencatat hasil observasi dan pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi hasil observasi. Analisis hasil pembelajaran. Memperbaiki kelemahan siklus I pada siklus II. Hasil refleksi berupa refleksi terhadap perencanaan yang telah dilaksanaan tersebut, yang akan dipergunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada tahap selanjutnya, yaitu siklus II dan seterusnya. Instrumen Penelitian Instrumen pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian tindakan ini Pedoman/lembar observasi Lembar pengamatan digunakan untuk mengamati secara langsung kegiatan yang dilakukan siswa dan guru dalam proses pembelajaran bilangan loncat melalui model pembelajaran Card Sort Tes Tes dilakukan dengan memberikan soal mengenai materi yang telah disampaikan . embar soa. untuk mendapatkan informasi atau data tentang pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan dengan model pembelajran Card Sort. Pengumpulan data Data merupakan informasi-informasi tentang obyek penelitian. Data digunakan untuk menjawab masalah-masalah yang telah dirumuskan dan menguji hipotesis. Dalam pengumpulan data penelitian ini cara mengumpulkan data dengan menggunakan metode: Pengamatan Pengamatan adalah suatu pengamatan langsung terhadap peserta didik dengan memperhatikan tingkah lakunya secara teliti (Farikhah, 2. Dalam setiap siklus guru melakukan pengamatan kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana perhatian aktivitas, dan prestasi belajar terhadap materi yang diajarkan. Tes Tes digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Matematika. Pada setiap siklus guru memberikan tes tertulis dalam bentuk uraian untuk mengukur pemahaman siswa . Dokumentasi Dokumentasi yang digunakan peneliti pada penelitian ini adalah silabus, rencana pelaksanaan tindakan (RPP) dan nilai siswa sebelum diterapkan model pembelajaran Card Sort. Silabus merupakan rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas yang digunakan oleh peneliti sebagai landasan penyusunan RPP. Sedangkan RPP sendiri merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman pembelajaran gurudan disusun dalam tiap-tiap putaran pembelajaran. Nilai siswa sebelum dan sesudah Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 menggunakan model pembelajaran Card Sort untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi pelajaran. Selain itu peneliti menggunakan foto jalannya pembelajaran untuk menjadi penguat dari penelitian. Analisis Data Sesuai dengan rancangan penelitian yang digunakan maka analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis dan refleksi dalam setiap siklusnya berdasarkan hasil penelitian yang terekam dalam tes dan format pengamatan lainnya. Analisis reflektif dilakukan peneliti bersama guru kelas I SDN 017 Candirejo, sebagai pijakan untuk menemukan program aksi pada siklus selanjutnya atau untuk mendeteksi bahwa kajian tindakan kelas ini sudah mencapai tujuannya. Peneliti ini menggunakan analisis deskriptif. Deskriptif yang digunakan berupa persentase sebagai berikut (Djamarah, 2. Keterangan: P = Persentase F = Frekuensi N = Jumlah siswa HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus I Setelah menerapkan model pembelajaran Card Sort aktifitas pembelajaran dapat berlangsung menarik, ini terlihat dari siswa yang sangat antusias dalam melakukan percobaan secara langsung. Selain itu nilai belajar siswa juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan nilai pada saat pra siklus, namun belum mencapai target. Selama pengamatan berlangsung masih ditemukan masalah- masalah, yaitu : Pengelolaan waktu yang kurang optimal saat belajar menggunakan model pembelajaran Card Sort berlangsung. Beberapa siswa belum paham dan kebingungan tentang bagaimana melakukan Card Sort. Dalam hal ini siswa sangat tergantung dengan guru jika menemukan masalah yang sulit. Guru harus mempelajari dan menguasai materi lebih mendalam, dan menyampaikan materi harus urut. Guru belum bersikap tegas dalam mengkondisikan siswa agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih kondusif. Suara guru belum begitu keras sehingga siswa kurang mendengar apa yang guru jelaskan. Dengan adanya masalah-masalah tersebut, maka peneliti akan melakukan tindakan pada siklus II untuk memperbaiki hasil belajar pada siklus I. Siklus II Pada pelaksanaan siklus II, peneliti telah berhasil meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran Matematika materi bilangan loncat 2, 3,dan 4 pada siswa kelas I SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Inhu yaitu sebesar 88% telah mencapai KKM. Oleh karena itu pelaksanaan siklus berhenti pada siklus II. Meskipun demikian, masih ada PR yang harus dilakukan oleh guru. Salah satunya yaitu memberikan tambahan perhatian dan tambahan jam pelajaran khusus untuk siswa yang belum lancar membaca dan menulis. Hal ini perlu dilakukan agar siswa tersebut tertinggal oleh teman-temannya. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Selain itu guru harus tetap selalu melakukan inovasi baru dalam melaksanakan Agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa. Pembahasan Tabel 2. Data Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Matematika Pelaksanaan / Ketuntasan Pra siklus Siklus I Siklus II Tuntas Tidak tuntas Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan peneliti pada saat pra siklus dikelas I SDN 017 Candirejo khususnya mata pelajaran Matematika, dari data dokumen guru nilai matematika materi Bilangan loncat 2, 3,dan 4 sebanyak 10 siswa masih di bawah KKM yang telah ditentukan yaitu Ou 70. Selanjutnya dari hasil pengamatan pra siklus tersebut, peneliti berusaha untuk melakukan inovasi dengan cara menerapkan model pembelajaran Card Sort pada mata pelajaran Matematika materi bilangan loncat 2, 3,dan 4. Dengan menggunakan model pembelajaran Card Sort tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Peneliti mulai melakukan tindakan siklus I dengan menggunakan model pembelajaran Role playing yang dilaksanakan pada tanggal 27 September 2016. Pada siklus ini siswa terlihat sangat antusias dalam bermain peran. Dalam memerankan sebuah peran angka tersebut siswa mengalami kebingungan karena dalam menjelaskan langkah-langkah bermain peran suara guru kurang keras dan tidak urut seperti yang ada dilembar kerja siswa (LKS). Setelah selasai memperankan ,guru membimbing siswa untuk menyimpulkan peran yang di perankan kelompok. Dalam kesempatan tanya jawab di siklus ini siswa kurang aktif, hanya ada beberapa siswa yang berani menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Sebelum pelajaran selesai, guru membagikan soal tes. Ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam memahami materi yang telah disampaikan sekaligus sebagai indikator keberhasilan pembelajaran. Dari sebelumnya pada pra siklus yang tuntas hanya 6 siswa . %), pada siklus I ini yang tuntas meningkat sebanyak 17 siswa ( 75%). Dalam pelaksanaan siklus I ini masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Selain itu, meskipun ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan, namun belum mencapai target yaitu sebanyak 80% ketuntasan siswa. Oleh karena itu akan dilanjutkan pada siklus II. Penelitian siklus II dilaksanakan pada tanggal 04 Oktober 2016. Dalam siklus II ini peneliti masih menggunakan model pembelajaran yang sama dengan memperbaiki kekurangan Ae kekurangan dari siklus I. Berbeda dengan siklus I sebelumnya, pembelajaran siklus II ini bisa berjalan lebih kondusif dan siswa juga lebih aktif dan bersemangat untuk menjawab pertanyaan dari guru. Karena sebelumnya guru telah menjanjikan kepada siswa, bahwa siswa yang serius dalam pembelajaran, aktif bertanya ataupun menjawab pertanyaan yang diberikan guru akan mendapat nilai tambahan serta yang bermain sendiri atau ramai sendiri nilainya akan dikurangi. Seperti sebelumnya, sebelum pembelajaran selesai guru membagikan soal tes untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam memahami materi yang telah disampaikan sekaligus indikator keberhasilan Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Dari hasil tes siklus II, menunjukkan peningkatan prestasi belajar siswa sebanyak 21 siswa ( 88% ) telah mencapai KKM. Oleh karena itu, pembelajaran Matematika materi bilangan loncat 2, 3,dan 4 dengan model pembelajaran Cart Sort dianggap berhasil dan pelaksanaan berhenti pada siklus II. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahawa model pembelajaran Cart Sort dapat meningkatkan hasil belajar Matematika materi bilangan loncat 2, 3,dan 4 pada siswa kelas I SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu Tahun Pelajaran 2016/2017. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dari peneliti tindakan kelas dengan judul AuPeningkatan Hasil Belajar Siswa Tentang Bilangan Loncat Melalui Model Pembelajaran Card Sort Pada Siswa Kelas 1 SDN 017 Candirejo Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu Tahun Pelajaran 2016/2017Ay dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Card Sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika tentang bilangan loncat 2, 3 ,dan 4 di kelas 1 SDN 017 Candirejo. Hal ini dapat dilihat dari hasil rekapitulasi nilai rata Ae rata siswa pra siklus yang mengalami peningkatan, dari nilai rata- rata kelas 64 menjadi 78 pada siklus I dan menjadi 91 pada siklus II. Jumlah siswa yang nilainya memenuhi KKM mengalami peningkatan dari 6 siswa . %) meningkat menjadi 17 siswa . %) pada siklus I dan bertambah menjadi 21 siswa . %) pada siklus II. Saran Telah terbuktinya model pembelajaran Card Sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa Matematika pada materi bilangan loncat 2, 3,dan 4 pada siswa kelas I SDN 017 Candirejo, maka penelitian sarankan hal Ae hal sebagai berikut: Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, guru harus manyiapkan materi, metode, media, dan sebagainya dengan matang agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif dan siswa pun akan memperoleh prestasi belajar yang optimal . Sebagai guru harus selalu berinovasi menerapkan model pembelajaran aktif yang bervariasi sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung menyenangkan dan siswa tidak cepat bosan. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran role playing yang menekankan kegiatan belajar melalui bermain peran langsung, sehingga pembelajaran bisa lebih bermakna dan menyenangkan. Guru hendaknya selalu berusaha untuk melibatkan siswa secara aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dikelas . tudent centere. bukan hanya guru yang aktif, peran guru sebagai fasilitator dan motivator siswa . Guru harus rela meluangkan waktu untuk memberi jam pelajaran tambahan untuk siswa yang masih dalam kategori rendah. Hal ini perlu dilakukan agar siswa tersebut tidak ketinggalan dengan temanAe temannya. Jika dibiarkan hal tersebut akan dapat mengganggu dan menghambat proses pembelajaran. UCAPAN TERIMAKASIH Rasa syukur alhamdulilah penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas terselesainya penelitian ini. Dengan menyadari akan kekurangan dan kekhilafan yang ada pada diri penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran pembaca demi lebih sempurnanya penelitian ini. Akhirnya penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 310-318 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 DAFTAR PUSTAKA