JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. December 2025 Page 765-776 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah PENGARUH SELF-ESTEEM TERHADAP PERILAKU ASERTIF PADA SISWA SMA N 1 KOTO Xl TARUSAN Anisa Aviva Dila1. Silvi Juwita2 1,2 Universitas Negeri Padang. Indonesia Email: anisaavivad@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Self-esteem Assertive Behavior Student of SMA N 1 Koto XI Tarusan ABSTRAK This study aims to examine the level of Assertive Behavior and Self-esteem among students of SMA N 1 Koto XI Tarusan and to investigate the influence between these two variables. This research uses a quantitative approach with a stratified random sampling technique. The research subjects consisted of 286 students from SMA N 1 Koto XI Tarusan. The instruments used were the Assertiveness Formative Questionnaire to measure assertive behavior, developed by Amy Gaumer Erickson and Patricia Noonan . , and The State Self-esteem Scale to measure self-esteem, developed by Todd F. Heatherton and Janet Polivy . Data analysis was conducted using simple linear regression with the assistance of IBM SPSS version 26. The results of the study indicate that there is a significant positive effect of self-esteem on assertive behavior with a value of B = 0. F = 60. 604, p = 0. < 0. R = 419, and RA = 0. This means that self-esteem contributes 17. 6% to the variation in assertive behavior among students of SMA N 1 Koto XI Tarusan. The higher the level of self-esteem, the higher the assertive behavior exhibited by students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran tingkat Perilaku Asertif dan Self-esteem pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan serta melihat pengaruh antara kedua variabel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik stratified random Subjek penelitian berjumlah 286 siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan. Instrumen yang digunakan adalah Assertiveness Formative Questionnaire untuk mengukur perilaku asertif yang dicetuskan oleh Amy Gaumer Erickson dan Patricia Noonan . dan The State Self-esteem Scale untuk mengukur self-esteem yang dicetuskan oleh Tood F. Heatherton dan Janet Polivy . Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan IBM SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara self-esteem terhadap perilaku asertif dengan nilai B = 0,241. F = 60,604, p = 0,000 . < 0,. R = 0,419, dan RA = 0,176, ini berarti selfesteem memberikan kontribusi sebesar 17,6% terhadap variasi perilaku asertif pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan. Semakin tinggi tingkat self-esteem, semakin tinggi perilaku asertif yang dimiliki siswa. Kata kunci: Self-esteem. Perilaku Asertif. Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan PENDAHULUAN Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan biologis, kognitif, dan sosio emosional, dimulai dari rentang usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada usia sekitar 18 hingga 22 tahun (Santrock 2. Sedangkan untuk batasan usia remaja menurut World Health Organization . menetapkan usia remaja adalah 10-19 tahun. Sementara menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentangan usia remaja adalah 10-24 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan masa yang menjembatani dari masa kanak-kanak menuju dewasa dengan rentangan usia 10-24 tahun. Fase remaja dapat ditemui pada siswa sekolah menengah atas (SMA) atau madrasah aliyah negeri (MAN). Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan salah satu lembaga pendidikan yang dituntut & mempunyai kewenangan untuk dapat membentuk dan menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, kompeten serta mampu beradaptasi seiring dengan perubahan zaman. Terselenggaranya proses pendidikan merupakan tanggung jawab penuh oleh lembaga pendidikan sekolah menengah atas yang mampu mengembangkan berbagai potensi termasuk potensi kognitif dan juga potensi non kognitif. Proses pendidikan yang ada saat ini tampaknya pada proses pembelajaran cenderung lebih mengutamakan aspek kognitif, khususnya yang berkaitan dengan prestasi akademis. Karena kurangnya perhatian terhadap pengembangan kemampuan non kognitif mengakibatkan timbulnya berbagai peristiwa yang memprihatinkan, seperti kurangnya sopan santun, terjadinya bullying, perkelahian antar siswa, penyalahgunaan narkoba, hubungan seksual diluar nikah/pranikah, dan berbagai kenakalan remaja yang menyerempet hukum (Widjaja dan Wulan, 1. Masa yang menjadi perhatian pendidik adalah masa remaja saat duduk di bangku SMA ataupun sederajatnya, karena pada masa ini merupakan masa yang rentan terjadinya perilaku menyimpang (Mantiri, 2. Di setiap harinya remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah, jadi bukan hal yang mengherankan bilamana pengaruh lingkungan sekolah itu sangat besar kontribusinya terhadap kepribadian seorang remaja. Salah satu tugas perkembangan siswa sebagai seorang remaja adalah mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya dan berusaha untuk mencapai peran sosial dilingkungannya (Ali & Asrori 2. Dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya, salah satu perilaku yang perlu dimiliki siswa adalah perilaku asertif. Erickson dan Noonan . mendefinisikan perilaku asertif sebagai kemampuan untuk mengekspresikan keyakinan, keinginan, atau perasaan dengan cara yang percaya diri dan menghormati orang lain. Alberti & Emmons . , mengungkapkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang memungkinkan seseorang untuk bertindak sendiri terkait kepentingan atau kebutuhan untuk diri sendiri tanpa kecemasan yang tidak semestinya, sehingga dapat mengekspresikan perasaan jujur, tenang dan nyaman, selain itu individu dapat memanfaatkan hak sendiri tanpa menyangkal hak orang lain. Daulay, dkk . memperkuat argumen ini dengan menegasakan bahwa individu yang memiliki tipe asertif memiliki ciri mampu menyatakan pendapat, ide dan gagasan secara tegas, kritis tetapi perasaannya halus sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Erickson dan Noonan . membagi perilaku asertif menjadi 2 aspek yaitu, mengekspresikan diri dan menghargai hak-hak orang lain. Aspek mengekspresikan diri mengacu pada kemampuan individu untuk mengekspresikan diri berdasarkan keinginan, kebutuhan, serta pikiran terhadap suatu hal sedangkan aspek menghargai hak-hak orang lain mengacu pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu guna menghargai hak Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan orang lain, termasuk keinginan, kebutuhan serta pikiran orang lain. Pada prinsipnya, siswa SMA sudah memiliki kemampuan untuk berbicara seperti pikiran/berargumen, memiliki keberanian untuk bertanya, serta memberikan kritik dan Akan tetapi pada kenyataannya masih cukup banyak siswa SMA yang ketika memiliki opini justru memilih untuk diam dan pasif, dikarenakan berbagai alasan seperti takut salah, merasa tidak pantas, merasa malu, minder, takut ditertawakan dan sebagainya (Wahyuning, dkk, 2. Individu yang asertif akan lebih mudah dan berani untuk menyampaika pikiran ataupun perasaannya kepada orang lain, dan cenderung untuk lebih menyelesaikan masalah dengan baik, tidak dengan mudah menyalahkan orang lain, berani dalam menyampaikan apa yang menjadi haknya dengan tetap mempertahankan sikap adil terhadap orang lain, serta tidak membuat orang lain menentukan apa yang harus dilakukan, dan bisa lebih meningkatkan upaya dalam menyelesaikan sebuah konflik dengan baik (Devito, 1. Hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai perilaku asertif pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan dikuatkan oleh beberapa hasil penelitian deskriptif. Seperti rendahnya perilaku asertif di Palembang sebesar 46,15% dari 78 remaja (Yessi & Oktaviana, 2. , begitupun yang terjadi di Banda Aceh sebesar 13% dari 92 siswa SMA (Zulhamdi, dkk 2. , dan di Malang sebesar 23% dari 56 siswa bahkan terdapat 2% siswa SMP yang berada dalam kategori sangat rendah (Meilena & Suryanto, 2. Namun demikian, masih ada kesenjangan dalam penelitian yang sudah ada. Kebanyakan penelitian di Indonesia berfokus pada siswa atau sekolah di kota-kota besar seperti Makassar. Yogyakarta. Palembang, dan Semarang. Kota-kota tersebut memiliki kondisi sosial dan budaya yang sudah modern serta terpapar kuat oleh pengaruh global. Sementara itu, belum banyak penelitian yang menelusuri bagaimana self-esteem dan perilaku asertif muncul pada siswa di sekolah di daerah berukuran menengah yang sedang tumbuh dan berkembang, seperti Sekolah SMA N 1 Koto XI Tarusan. Sekolah ini menarik untuk diteliti karena potensi keragamaan peserta didik, pola interaksi sosial , dan pengaruh lingkungan sekolah terhadap perkembangan remaja. Sekolah SMA N 1 Koto XI Tarusan memiliki karakteristik unik yang membuatnya menjadi konteks yang penting dan menarik untuk diteliti. Sebagai salah satu SMA tertua dan unggul di Kabupaten Pesisir Selatan yang sedang berkembang pesat, khususnya pada pembangunan dan jumlah siswa. Data Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan . menunjukkan jumlah siswa lebih dari 1000 siswa selain itu SMA N 1 Koto XI Tarusan juga mendapatkan bantuan Gedung. Labor Komputer. Ruang UKS dan OSIS dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat. Sebagai langkah awal penelitian, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa orang siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan untuk mengetahui kondisi mereka. Dari wawancara tersebut didapatkan hasil bahwa mereka sulit untuk mengekspresikan pendapat dan keinginannya kepada orang lain, tidak yakin dengan kemampuan sendiri, tidak dapat berkomunikasi dengan baik, mereka juga merasa takut untuk memulai berkomunikasi dengan guru dan mereka tidak berani melakukan penolakan terhadap ajakan temannya bahkan ketika hal tersebut tidak sesuai dengan keinginannya karena mereka merasa takut temannya tersebut akan tersinggung. Pada saat peneliti menanyakan hal-hal apa yang membuat mereka tidak mampu untuk mengungkapkan apa yang diinginkan, mereka menjawab bahwa mereka merasa dirinya rendah, merasa tidak pantas, merasa malu, minder dan takut ditolak oleh lingkungan sehingga bersikap pasif. Perasaan seperti ini adalah salah satu ciri-ciri individu yang Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan memiliki self-esteem rendah. Maka dari itu peneliti berasumsi bahwa tingkat asertif setiap individu dapat dipengaruhi oleh self-esteem. Asumsi peneliti ini di dukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Rathus dan Navid . bahwa terdapat 6 faktor yang mempengaruhi perilaku asertif salah satunya yaitu self-esteem. Heatherton dan Polivy . mendefinisikan bahwa self-esteem merupakan penilaian pribadi yang diekspresikan dalam tingkah laku yang ditunjukkan pada dirinya sendiri tentang keberhargaan. Rosenberg . mendefinisikan self-esteem sebagai evaluasi positif atau negatif individu terhadap dirinya sendiri, yang mencakup perasaan berharga, penerimaan diri, dan rasa kompeten. Coopersmith . memperkuat argumen ini dengan menegaskan bahwa self-esteem yang sehat pada remaja menjadi fondasi bagi pembentukan identitas yang positif, kemampuan bersosialisasi yang adaptif, dan pencapaian prestasi akademik yang optimal. Heatherton dan Polivy . , membagi self-esteem menjadi 3 aspek yaitu, performance, social dan appearance. Aspek Performance mengacu pada performance secara umum yaitu performance akademik, evaluasi yang dilakukan individu pada kemampuan kinerja, kecakapan intelektual, keberhasilan, prestasi, kapasitas pengaturan diri, kepercayaan diri, kemampuan dan kemauan untuk belajar. Aspek social merupakan pandangan individu mengenai diri sendiri berdasarkan persepsi orang lain, dan aspek appearance mengenai fisik merupakan cara pandang individu terkait dengan dirinya berdasarkan bentuk tubuh. Bukti empiris mengenai hubungan destruktif antara self-esteem dan perilaku asertif telah terakumulasi dari berbagai konteks geografis dan budaya. Setyandari dan Alfani . dalam penelitiannya menemukan adanya pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel perilaku asertif. Nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,000 yang berarti kurang dari 0,05, dan berkontribusi sebanyak 47,3%. Nurrahmah . menemukan bahwa self-esteem dapat menjadi prediktor terhadap perilaku asertif pada mahasiswa di Kota Makassar dengan kontribusi sebesar 11,2% dengan arah pengaruh yang positif. Perilaku asertif pada siswa muncul karena adanya self-esteem yang positif terhadap dirinya yang dapat menumbuhkan keyakinan bahwa apa yang dilakukan itu sangat berharga dan apa yang diharapkan oleh siswa dapat dipenuhi dengan cara mengoptimalkan ability yang dimilikinya (Rosita, 2. Self-esteem mempunyai peran bagi siswa SMA supaya dapat berkembang sesuai dengan harapan sosial sekaligus terhindar dari berbagai perilaku yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat. Dalam perkembangan manusia pada fase remaja, self-esteem berperan dalam memunculkan sebuah perilaku asertif/perilaku Meskipun berbagai penelitian telah meneliti self-esteem dan perilaku asertif, topik khusus pengaruh self-esteem terhadap perilaku asertif level SMA belum banyak dibahas secara spesifik. Kebanyakan penelitian terdahulu berfokus pada mahasiswa di kota-kota Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk bertujuan untuk melihat gambaran tingkat Perilaku Asertif dan Self-esteem pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan serta melihat pengaruh antara kedua variabel. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-esteem terhadap perilaku asertif pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan. Pendekatan kuantitatif digunakan karena penelitian ini berfokus pada analisis angka numerikal yang diolah menggunakan metode statistik (Azwar, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan sebanyak 1004 siswa dengan jumlah sampel sebanyak 286 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling yang diterapkan ketika populasi memiliki anggota yang Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan beragam dan tersusun dalam strata secara proporsional (Sugiyono, 2. Tabel 1. Sampel berdasarkan strata Strata Jumlah x 286 = 95,7 x 286 = 102,2 XII x 286 = 88,0 Berdasarkan perhitungan dari tabel diatas, maka dapat disimpulkan jumlah sampel dari masing-masing strata yaitu, kelas X sebanyak 96 . siswa, kelas XI sebanyak 102 siswa dan kelas XII sebanyak 88 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara langsung kepada responden yang terpilih secara acak. Kuesioner merupakan metode pengumpulan data dengan memberikan sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawab oleh responden (Sugiyono, 2. Perilaku asertif diukur menggunakan Assertiveness Formative Questionnaire yang dicetuskan oleh Amy Gaumer Erickson dan Patricia Noonan . yang telah di adaptasi sebelumnya oleh Nurrahmah . , sedangkan self-esteem diukur menggunakan The State Self-esteem Scale yang dicetuskan oleh Tood F. Heatherton dan Janet Polivy . yang telah di adaptasi sebelumnya oleh Nurrahmah . Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan uji regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Proses analisis data menggunakan perangkat lunak IBM SPSS versi 26. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Deskriminasi Data Self-esteem dan Perilaku Asertif Pada penelitian ini, analisis diskriminasi data dilakukan dengan menggunakan ratarata skor empirik dan rata-rata skor hipotetik. Tujuan analisis ini adalah untuk membandingkan hasil skor dari masing-masing variabel penelitian. Karena fokus utama terletak pada perbandingan skor, maka diperlukan informasi mengenai skor minimum dan maksimum hipotetik, rata-rata hipotetik, serta standar deviasi hipotetik untuk setiap variabel, yaitu Self-esteem dan Perilaku Asertif. Tabel 1. Rerata Hipotetik dan Empirik Self-esteem dan Perilaku Asertif Variable Self-esteem Perilaku Asertif Skor Hipotetik Min Max Mean Min Skor Empirik Max Mean SD 54,54 8,61 32,28 4,94 Berdasarkan tabel di atas, rerata . empirik Self-esteem sebesar 54,54, dan rerata . skor hipotetik dari Self-esteem sebesar 54. Artinya. Self-esteem siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan lebih tinggi dari yang diperkirakan alat ukur. Sementara itu, rerata . empirik Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan Perilaku Asertif sebesar 32,28, dan rerata . hipotetik Perilaku Asertif sebesar 27. Hal ini menunjukkan bahwa Perilaku Asertif siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan lebih tinggi dari yang diperkirakan alat ukur. Kategorisasi Data Penelitian Kategorisasi data penelitian dilakukan dengan tujuan menempatkan data ke dalam kelompok atau kategori tertentu yang dibagi atas tingkatan suatu kontinium berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2. Pada penelitian ini digunakan 3 tingkatan kategorisasi data yaitu tinggi, sedang dan rendah yang disusun berdasarkan rumus yang dikembangkan oleh (Azwar, 2. Tabel 2. Norma Kategorisasi Rumus X < M Ae 1SD M Ae 1SD O X < M 1SD M 1SD O X Kategori Rendah Sedang Tinggi Self-esteem Tabel 3. Kategori skor subjek Self-esteem Skor X < 42 42 < X < 66 66 < X Jumlah Kategori Rendah Sedang Tinggi Total 10,8% 80,4% 8,7% Dari tabel diatas mayoritas responden berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 230 . ,4%) siswa, 31 . ,8%) siswa pada kategori rendah dan sebanyak 25 . ,7%) siswa berada pada kategori tinggi. Artinya, siswa memiliki self-esteem yang cukup baik. Tabel 4. Kategori Aspek Self-esteem Aspek Skor Kategori Performance Social Appearance X < 14 14 < X < 22 22 < X X < 14 14 < X < 22 22 < X X < 14 14 < X < 22 22 < X Jumlah Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi 6,3% 81,5% 12,2% 27,6% 67,1% 5,2% 2,8% 57,7% 39,5% Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa aspek self-esteem yaitu performance sebanyak 18 . responden berada pada kategori rendah, 233 . ,5%) responden berada pada kategori sedang dan sebanyak 35 . responden berada pada kategori Aspek social sebanyak 79 . ,6%) responden berada pada kategori rendah, 192 . responden berada pada kategori sedang dan sebanyak 15 . ,2%) responden Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan berada pada kategori tinggi. Aspek appearance sebanyak 8 . ,8%) responden berada pada kategori rendah, 165 . ,7%) responden berada pada kategori sedang dan sebanyak 113 . responden berada pada kategori tinggi. Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan memiliki self-esteem pada tingkat sedang. Perilaku Asertif Tabel 5. Kategori skor subjek Perilaku Asertif Skor Kategori X < 21 Rendah 2,4% 21 < X < 33 Sedang 44,8% Tinggi 52,8% 33 < X Jumlah Total Dari tabel diatas mayoritas responden berada pada kategori tinggi. Pada variabel perilaku asertif dalam tiga kategori rendah, sedang dan tinggi, jumlah frekuensi tertinggi pada kategori tinggi. Sebanyak 230 siswa dengan persentase 80,4% berarti siswa memiliki perilaku asertif yang baik. Tabel 6. Kategori Aspek Perilaku Asertif Aspek Skor Kategori Mengekspresikan Diri X < 11,67 Rendah 9,4% Sedang 47,9% 11,67 < X < 18,33 Tinggi 42,7% 18,33 < X Menghargai Hak Orang X < 9,34 Rendah 0,7% 9,34 < X < 14,66 Sedang 40,6% Tinggi 58,7% 14,66 < X Jumlah Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa aspek Perilaku Asertif yaitu Mengekspresikan Diri sebanyak 27 . responden berada pada kategori rendah, 137 . responden berada pada kategori sedang dan sebanyak 122 . responden berada pada kategori tinggi, dan aspek Menghargai Hak Orang lain sebanyak 2 . ,7%) responden berada pada kategori rendah, 116 . ,6%) responden berada pada kategori sedang dan sebanyak 168 . ,7%) responden berada pada kategori tinggi. Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan memiliki perilaku asertif cukup tinggi. Analisis Data Uji Normalitas Uji normalitas yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah sebaran data pada variabel perilaku asertif dan self-esteem berdistribusi normal atau tidak. Pendekatan yang digunakan untuk menguji normalitas data penelitian menggunakan uji normalitas One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan IBM SPSS versi 26. Berikut uji normalitas yang disajikan pada tabel di bawah ini: Kolmogorov Nhttps://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Asymp. Sig. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: Smirnov Keterangan Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan Normal Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Pada tabel diatas dapat dilihat dari hasil uji normalitas menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov. Hasil menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig . -Taile. dimana nilai p > 0,05, artinya data terdistribusi secara normal. Uji Linearitas Uji linearitas yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan yang linear antara variabel independent dan variabel dependent pada penelitian ini. Kriteria yang dipergunakan dalam penentuan linearitas adalah Deviation from Linearity, hasil dianggap linear jika nilai signifikansinya kecil dari 0,05. Tabel 8. Hasil Uji Linearitas Sig Keterangan Deviation from Linearity Berdasarkan tabel di atas terdapat bahwa deviation from linearity pada studi ini ialah F = 1. 792 p = 0. 004 di mana nilai p < 0. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara variabel perilaku asertif dengan variabel self-esteem. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel Self esteem terhadap Perilaku Asertif pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan aplikasi IBM SPSS Statistics 26. Hasil uji dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 9. Hasil Uji R square R Square ,419 ,176 Adjust R Square 1,73 Std. Error of the Estimate 4,498 Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0. 419 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sedang antara variabel self-esteem dan perilaku asertif. Nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0. 176 berarti bahwa variabel self-esteem mampu menjelaskan sebesar 17,6% variasi yang terjadi pada variabel perilaku asertif, sedangkan sisanya sebesar 82,4% dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian ini. Tabel 10. Hasil Uji F Model Regression 60,604 Sig. Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai F hitung = 60,604 dengan signifikansi . < 0. 000, yang berarti lebih kecil dari 0. Hal ini menunjukkan bahwa variabel selfesteem memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel perilaku asertif. Dengan demikian, model regresi yang digunakan dinyatakan layak untuk digunakan dalam memprediksi variabel perilaku asertif berdasarkan variabel self-esteem. Tabel 11. Hasil Uji T Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan Model (Consta. 19,145 ,241 11,212 7,785 Sig. ,000 ,000 Hasil uji t menunjukkan bahwa nilai t hitung = 7,785 dengan signifikansi . < 000, lebih kecil dari 0. Hal ini menunjukkan bahwa variabel self-esteem berpengaruh signifikan terhadap variabel perilaku asertif. Nilai koefisien regresi (B) sebesar 0,241 menandakan bahwa pengaruh tersebut berarah positif, yang berarti setiap peningkatan satu satuan pada variabel self-esteem akan menyebabkan penurunan sebesar 0,241 pada variabel perilaku asertif . engan asumsi variabel lain teta. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima, yaitu terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel self-esteem terhadap variabel perilaku asertif. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran tingkat Perilaku Asertif dan Selfesteem pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan serta melihat pengaruh antara kedua variabel. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh bahwa variabel Perilaku Asertif cenderung berada pada kategori tinggi yaitu sebanyak 151 . ,8%) siswa, kategori rendah sebanyak 7 . ,4%) siswa, dan kategori sedang sebanyak 128 . ,8%). Kategori per aspek menunjukkan. Aspek mengeskpresikan diri mayoritas berada pada kategori sedang, ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan cukup mampu dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan namun masih ragu-ragu dalam mengungkapkan pendapat dan menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan dirinya, dan . Aspek menghargai hak-hak orang lain mayoritas berada pada kategori tinggi, ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan dapat menghargai hak-hak orang lain dan dapat mempertahankan hak-hak pribadi dengan baik serta mempunyai pandangan positif terhadap diri sendiri dan dapat bertanggung jawab. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bening dan Hertinjung . tingkat perilaku asertif pada siswa berada kategori tinggi. Artinya ini disebabkan oleh siswa yang sudah memiliki kemampuan untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya dengan baik, sehingga ini perlu untuk tetap dipertahankan dan perlu juga ditingkatkan agar menjadi sangat baik. Sementara itu, pada variabel self-esteem, hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 230 . ,4%) siswa. Adapun siswa yang berada pada kategori rendah berjumlah 31 . ,8%) siswa, dan kategori tinggi sebanyak 25 . ,7%) siswa. Kategori per aspek menunjukkan rata-rata siswa berada pada kategori sedang yaitu. Aspek performance berada pada kategori sedang, ini mengindikasikan bahwa mayoritas siswa merasa bahwa dirinya cukup mampu secara akademik namun kurang mampu secara umum seperti kecakapan intelektual, kapasitas pengaturan diri, kepercayaan diri, kemampuan dan kemauan untuk belajar. Aspek social berada pada kategori sedang, ini mengindikasikan bahwa siswa memiliki pandangan positif yang cukup kepada dirinya sendiri berdasarkan penilaian orang lain namun masih terdapat beberapa yang membuat mereka terkadang ragu untuk berpikir positif kepada dirinya, dan . Aspek appearance juga berada pada kategori sedang, ini menunjukkan bahwa siswa merasa dirinya memiliki penampilan yang cukup menarik secara fisik namun masih terdapat rasa membanding-bandingkan penampilannya dengan orang lain. Hasil ini menggambarkan bahwa sebagian besar siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan memiliki persepsi positif terhadap Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan diri mereka sendiri, namun masih terdapat ruang untuk meningkatkan self-esteem mereka lebih lanjut. Selanjutnya, berdasarkan hasil uji analisis regresi sederhana, diperoleh nilai F = 60,604 dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai signifikansi yang kurang dari 0,05 menujukkan adanya pengaruh. Nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,000 yang berarti kurang dari 0,05, maka dapat dikatakan selfesteem berpengaruh terhadap perilaku asertif pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan. Penelitian ini menjawab hipotesis Ha yaitu terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara self-esteem terhadap perilaku asertif. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi . yang mana terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara self-esteem dengan perilaku asertif pada siswa SMA di Ponorogo. Begitupun dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad . bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara self-esteem terhadap perilaku asertif pada siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Salatiga. Koefisien korelasi (R) pada penelitian ini menunjukkan korelasi atau hubungan sebesar (R = 0,. Koefisien determinasi (RA = 0,. menunjukkan self-esteem berkontribusi 17,6% terhadap variabel perilaku asertif pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan, sementara 82,4% lainnya merupakan sumbangan variabel atau faktor lainnya yang tidak menjadi fokus dalam penelitian ini. Rathus dan Nevid . menyebutkan bahwa terdapat 6 faktor yang mempengaruhi perilaku asertif yaitu, self-esteem, lingkungan, tingkat pendidikan, jenis kelamin, kebudayan, dan situasi tertentu disekitar. Muhammad . dalam penelitiannya menemukan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara konsep diri terhadap perilaku asertif siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Salatiga dengan RA = 0,109. Hasanah dkk . dalam penelitiannya menemukan bahwa terdapat pengaruh teman sebaya terhadap perilaku asertif pada siswa SMK Putra Jaya Stabat dengan RA = 0,297. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku asertif sangat global dan apabila lingkungannya dapat mendorong dan mengembangkan siswa untuk berperilaku asertif maka siswa akan mampu mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara jujur tanpa adanya rasa cemas. Nilai koefisien regresi positif (B = 0,. menunjukkan bahwa (H. diterima dan (H. ditolak, yang mana semakin tinggi self-esteem, semakin tinggi pula perilaku asertif siswa. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Aryanto, dkk . menyimpulkan bahwa semakin tinggi self-esteem maka semakin tinggi perilaku asertif karena pengaruh self-esteem sangat kuat terhadap perilaku asertif siswa. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah self-esteem yang dimiliki oleh siswa maka akan semakin rendah juga perilaku asertif yang akan dimilikinya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setyandari & Alfani . yang menemukan adanya pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel perilaku Nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,000 yang berarti kurang dari 0,05, dan berkontribusi sebanyak 47,3%. Sihite . dalam penelitiannya menemukan terdapat pengaruh yang positif antara self-esteem dengan perilaku asertif dengan kategori tinggi yang mana dilihat berdasarkan koefisien korelasi sebesar 0,649 ( ycycuyc= 0,. dengan signifikansi 0,000 . < 0,. Lantas, koefisien determinan . sebesar 0,421, yang mana maknanya adalah self-esteem memberikan sumbangsih sebesar 42,1% terhadap perilaku asertif. Hasil penelitian ini juga mendukung pendapat dari Rosita . yang menyatakan bahwa perilaku asertif pada siswa muncul karena adanya self-esteem yang positif terhadap dirinya yang dapat menumbuhkan keyakinan bahwa apa yang dilakukan itu sangat berharga dan apa yang diharapkan oleh siswa dapat dipenuhi dengan cara mengoptimalkan ability yang dimilikinya. self-esteem mempunyai peran bagi siswa SMA supaya dapat berkembang sesuai dengan harapan sosial sekaligus terhindar dari berbagai perilaku yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat. Dalam perkembangan manusia pada fase Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Self-esteem Terhadap Perilaku Asertif Pada Siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan remaja, self-esteem berperan dalam memunculkan sebuah perilaku asertif/perilaku terbuka. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa SMA N 1 Koto XI Tarusan memiliki tingkat self-esteem dan perilaku asertif yang cenderung berada pada kategori sedang, serta menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa self-esteem yang adaptif dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong siswa untuk berperilaku asertif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat self-esteem siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan berada pada kategori sedang, tingkat perilaku asertif siswa SMA N 1 Koto XI tarusan berada pada kategori tinggi, dan hasil penelitian juga menunjukkan bahwa self-esteem berpengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku asertif pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan, yang artinya semakin tinggi self-esteem maka semakin tinggi pula perilaku asertif siswa. Koefisien determinan (RA = 0,. menunjukkan self-esteem berkontribusi sebanyak 17,6% terhadap variabel perilaku asertif pada siswa SMA N 1 Koto XI Tarusan, sementara sebagian besar lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor dan variabel lain. Selain itu, penelitian selanjutnya bilamana hendak melakukan penelitian terkait perilaku asertif agar kiranya tidak hanya meninjau dari sisi self-esteem saja, namun juga meninjau dari faktorfaktor atau variabel-variabel lain yang mempengaruhi perilaku asertif seperti jenis kelamin, kebudayaan, tingkat pendidikan, situasi-situasi tertentu disekitar, teman sebaya dan konsep REFERENSI