GENTA MULIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan eissn: 25806416 pISSN: 23016671 GAYA PENGASUHAN ORANG TUA MILITER TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK Winka Tirsa Aulia1. Heri Yusuf Muslihin2. Elan3 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya Email: wnktrsa@upi. edu, heriyusuf@upi. edu, elanmpd@upi. Abstrak Setiap orang tua memiliki cara masing-masing dalam menerapkan berbagai gaya pengasuhan untuk menumbuhkan karakter mandiri pada anak. Berfokus pada orang tua militer dengan asumsi awal, dengan menggunakan alat bantu wawancara sederhana, ditemukan bahwa gaya pengasuhan otoriter selalu diterapkan oleh sebagian besar keluarga dengan latar belakang militer. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang tua militer menggunakan pola asuh ini. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua militer dalam upaya menumbuhkan kemandirian anak. Pendekatan penelitian ini menggunakan studi deskriptif Penelitian kualitatif menghasilkan data yang bersifat naratif dan deskriptif melalui alat bantu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian dilakukan di TK Kartika yang berlokasi di Kelurahan Kahuripan. Kecamatan Tawang. Kota Tasikmalaya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada keluarga berlatar belakang militer, pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang diterapkan orang tua dengan tujuan untuk membentuk karakter pribadi anak, terutama dalam hal pembentukan sikap mandiri. Kata-kata kunci: pola asuh, orang tua militer, kemandirian anak. Pendahuluan Anak-anak yang berusia antara 0 dan 6 tahun disebut anak usia dini. Undang-undang No. 23 tahun 2023 tentang Sistem Pendidikan Nasional eissn: 25806416 pISSN: 23016671 GENTA MULIA- JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Gaya Pengasuhan Orang Tua Militer Terhadap Kemandirian Anak Winka Tirsa Aulia tahun 2003 mengatur tentang jalur pendidikan anak usia dini formal yang mendidik anak usia 0 sampai 6 tahun. Tujuan pendidikan anak usia dini adalah untuk menstimulasi/mendorong anak agar proses pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan baik sesuai dengan tingkat Masa usia dini merupakan masa yang paling baik untuk menumbuhkembangkan seluruh tahapan pertumbuhan dan perkembangan, dan anak usia dini mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Fase ini merupakan masa yang paling baik untuk menumbuhkembangkan seluruh tahap pertumbuhan dan perkembangan, termasuk perkembangan kemandirian pada anak. Hasanah, . kemandirian merupakan ciri khas dari mereka yang mampu melakukan segala aktivitasnya. (Nikmah, 2. menyatakan bahwa kemandirian anak memiliki sifat kumulatif dimana anak selalu berusaha mengatasi segala sesuatu dalam lingkungan yang berbeda dan karenanya berpikir dan bertindak secara mandiri. Menurut penelitian Fono (Meka, 2. , orang tua, dengan meningkatkan kemandirian dan disiplin, serta harga diri, menanamkan sikap mandiri pada anak yang memungkinkan mereka untuk melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, misalnya makan, mandi, memakai pakaian, merapikan tempat tidur, memakai sepatu, dan pergi ke sekolah sendiri. Oleh karena itu, kemandirian anak tidak muncul dengan sendirinya atau tanpa dorongan dari orang tua. Anak yang mandiri mampu beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungannya. Sebaliknya, anak yang kurang mandiri akan selalu bergantung pada orang tua dan berdampak negatif pada perkembangannya, sehingga rentan mengalami kesulitan di kemudian hari karena tidak mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik (Safitri & Aini, 2. Upaya untuk menerapkan nilai-nilai positif dalam mewujudkan kemandirian anak antara lain dengan membiasakan memberikan kepercayaan, berkomunikasi dengan baik kepada anak. Hal ini akan selalu diingat dan berguna baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang saat anak tumbuh dewasa. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemandirian terbentuk melalui proses panjang yang bergantung pada tahapan usia dan jenis pola asuh yang diterima anak dari keluarganya. Anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri, kemandirian, dan jiwa sosial yang baik ketika ia menerima pengasuhan yang penuh kasih, penerimaan, dukungan, dan penghargaan dari orang tuanya (Utami. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, kemandirian anak dapat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua yang dapat dikatakan kurang tepat GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan . Gaya Pengasuhan Orang Tua Militer Terhadap Kemandirian Anak Winka Tirsa Aulia untuk diterapkan, sehingga anak hanya memiliki sedikit pengalaman yang ia terima baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Pola asuh diartikan sebagai komitmen orang tua terhadap anaknya, yang berupa merawat, mengarahkan, mendidik, menasehati, melatih, yang diwujudkan dalam bentuk kedisiplinan, memberi contoh yang baik, menyayangi, mengambil keputusan yang bijak dan membimbing orang tua baik secara fisik maupun verbal. Oleh karena itu, orang tua berperan penting dalam mendorong tumbuh kembang anak agar karakternya dapat terbentuk dengan baik di kemudian hari. Bentukbentuk pola asuh orang tua terbagi menjadi tiga: pertama, pola asuh otoriter, yang cenderung ketat dalam penerapannya, seperti gaya komunikasi satu arah dan pemberian hukuman. kedua, pola asuh demokratis, dimana orang tua menggunakan gaya komunikasi dua arah dan mengapresiasi serta menghukum sesuai dengan apa yang dilakukan oleh anak. dan ketiga, pola asuh permisif, yang memiliki kecenderungan untuk mendidik dengan membebaskan anak (Asri, 2. Setiap orang tua memiliki cara masing-masing dalam menerapkan berbagai gaya pengasuhan untuk menumbuhkan karakter mandiri pada anak. Berfokus pada orang tua militer dengan asumsi awal, dengan menggunakan alat bantu wawancara sederhana, ditemukan bahwa gaya pengasuhan otoriter selalu diterapkan oleh sebagian besar keluarga dengan latar belakang Namun pada kenyataannya, tidak semua orang tua militer menggunakan pola asuh ini Hal ini terjadi dengan adanya kerjasama yang baik antara ayah dan ibu dalam memberikan pengasuhan. Aturan-aturan dalam keluarga militer dibuat berdasarkan konsensus dan menunjukkan adanya kerjasama antara gaya pengasuhan otoriter dari ayah dan gaya pengasuhan demokratis dari ibu yang dipadukan dalam mengasuh anak. Bertumpu pada gagasan dan uraian yang telah dipaparkan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua militer dalam upaya menumbuhkan kemandirian anak. Metode Pendekatan penelitian ini menggunakan studi deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif menghasilkan data yang bersifat naratif dan deskriptif melalui alat bantu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian dilakukan di TK Kartika yang berlokasi di Kelurahan Kahuripan. Kecamatan Tawang. Kota Tasikmalaya. Mengenai subjek penelitian ini adalah salah satu orang tua dan anak kelas B di TK Kartika. Adapun instrumen yang kami gunakan adalah pedoman wawancara GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Gaya Pengasuhan Orang Tua Militer Terhadap Kemandirian Anak Winka Tirsa Aulia dimana ada 7 indikator yang kami teliti diantaranya: kemampuan fisik, percaya diri, rasa tanggung jawab, disiplin, pandai bergaul, mau berbagi, dan mengontrol emosi. Hasil dan Pembahasan Temuan ini diperoleh data melalui observasi, wawancara dan studi Berdasarkan penemuan peneliti, terdapat beberapa pertanyaan yang mengarah dengan kemiripan dan keterkaitan dalam hasil observasi dan wawancara. Subjek penelitian ini adalah anak laki-laki dengan usia 6 tahun, bertempat tinggal di Asrama Brigif bersama Ibu dan Ayahnya. Keseharian subjek hanya belajar di sekolah dan bermain kadang juga sesekali jalan-jalan ke tempat wisata seperti ke danau, kolam renang, museum dan lain-lain. Apabila kakek/nenek subjek berkunjung, subjek selalu ingin melakukan semua kegiatannya bersama mereka seperti antar jemput ke sekolah, bermain atau bahkan dengan hanya pergi makan diluar. Subjek dapat berperilaku baik dan sopan. Saat berada di rumahnya subjek sudah dapat melakukan kegiatan secara mandiri seperti makan sendiri, bangun tidur tidak menangis, akan tetapi ketika hendak mandi, mengganti baju dan memakai sepatu subjek selalu meminta bantuan Ibunya apabila sudah mencoba namun masih merasa kesulitan. Sedangkan ketika subjek berada di sekolah dan berinteraksi dengan guru dan teman-temannya, subjek juga berperilaku baik, dan dapat berucap tolong auntuk meminta bantuan, meminta maaf jika salah, dan mengucapkan terimakasih ketika diberi sesuatu serta memiliki kebiasaan berperilaku jujur pada saat dia mengambil dan meminta sesuatu yang bukan miliknya, beliau juga memiliki pribadi yang bertanggung jawab atas semua perilaku. Hasil Berdasarkan hasil dari penelitian, peneliti menemukan bahwa gaya pengasuhan yang terapkan orang tua dalam mengasuh anak adalah gaya pengasuhan dengan cara membiasakan serta melibatkan secara langsung agar anak senantiasa menaati berbagai aturan yang telah ditetapkan didalam rumah, dari mulai bangun pagi anak dilibatkan secara langsung untuk mengurus dirinya seperti makan, mandi, mengenakan pakaian serta hingga memakai sepatu sendiri, sedangkan pada jam istirahat di malam hari orang tua subjek juga membiasakan untuk mengajak anak bersih-bersih seperti mencuci muka dan menggosok gigi serta membaca doAoa sebelum tidur. Fadillah . alam Zetira & Kamtini, 2019, hlm. menyatakan bahwa penggunaan metode pembiasaan ini adalah cara GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan . Gaya Pengasuhan Orang Tua Militer Terhadap Kemandirian Anak Winka Tirsa Aulia pembelajaran pada setiap aktivitas anak yang dilakukan secara terbiasa untuk membantu membentuk konsep diri kepada anak bahwa orang tua memiliki peran penting dalam menerapkan berbagai upaya untuk membentuk kemandirian anak. Gaya pengasuhan dengan cara tersebut, hal ini mirip dengan penerapan pola asuh demokratis. Menurut Tridhonanto dan Agency . 4, hlm. pola asuh demokratis adalah pembentukan kepribadian anak yang lebih menekankan pada kepentingan berperilaku logis dan berfikir. Gaya pengasuhan ini juga disebut sebagai gaya pengasuhan yang meningkatkan kualitas komunikasi orang tua dan anak karena menumbuhkan rasa aman dan nyaman dengan memberi kebebasan. Hal ini didukung oleh deskripsi yang didapat dari wawancara orang tua baik Ibu maupun Ayah dari subjek seperti, anak juga ikut mempertimbangkan dalam merencanakan sebuah keputusan yang direncanakan oleh keluarga, memberi penjelasan dan konsekuensi kepada anak mengapa aturan yang telah disetujui harus dipatuhi, memberi apresiasi secara verbal ketika anak telah berbuat ataupun melakukan hal yang baik, memiliki sikap hangat dengan menunjukkan kasih sayang seperti memeluk dan mencium, sharing mengenai apa yang anak lakukan, hadapi ketika menjalani kegiatan serta meminta maaf ketika melakukan kesalahan dalam mengasuh anak, menunjukkan rasa hormat terhadap pendapat anak sehingga dapat membantu mendorong anak untuk mengungkapkannya, menyalurkan perilaku buruk anak . isal bermain gadge. ke dalam aktivitas yang lebih bermanfaat . eperti pergi keluar memberi makan hewa. , dan menghabiskan waktu dan menciptakan suasana hangat juga akrab dengan anak. Namun, dalam pengasuhannya peneliti melihat bahwa adanya penerapan pola asuh secara otoriter seperti peryataan serta pertanyaan yang seringkali diucapkan oleh orang tua subjek yaitu, menuntut anak melakukan kegiatan, menegur dan memberi kritik supaya dapat menjadikan anak pribadi yang lebih baik, mendisiplinkan anak apabila terjadi perkelahian saat sedang bermain dan mengajukan pertanyaan mengapa berkelahi, menegur anak apabila perilaku anak tidak sesuai yang diharapkan. Pembahasan Tridhonanto dan Agency . 4, hlm. , pola asuh otoriter didasari dengan aturan yang mutlak, seperti apa saja yang harus diikuti anak disertai ancaman jika tidak dipatuhi. Orang tua berperan cukup penting upaya membentuk kepribadian bagi tumbuh kembang anak, karena keluarga merupakan pengalaman . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Gaya Pengasuhan Orang Tua Militer Terhadap Kemandirian Anak Winka Tirsa Aulia pertama bagi anak menentukan bagaimana cara ia bersikap. Menurut Anisah . alam Rosyani, 2022, hlm. parenting atau pola asuh diartikan pola atau bentuk ekspresi orang tua dalam memberi pengaruh potensi genetik individu dalam usahanya membesarkan, mengasuh, membimbing, dan mendidik anak-anaknya, baik muda maupun belum dewasa, untuk menjadi orang dewasa yang mandiri di masa depan. Macam-Macam Pola Asuh Terdapat beberapa macam pola asuh seperti yang tercantum menurut Baumrind . alam Rosyani, 2022, . sebagai berikut: Authoritative Pola asuh demokratis yang merupakan gaya pengasuhan di mana orang tua menuntut . dan akomodatif. Karakteristik pola asuh ini membebaskan tapi tetap tegas, menetapkan kriteria dan meningkatkan ekspektasi dengan teguh pendirian tentang kemampuan dan kebutuhan anak serta memberikan kesempatan dalam mengembangkan otonomi dan penentuan diri sendiri, anak dimintai pertanggungjawaban atas perilakunya. Anak-anak mampu mendorong, dan menjelaskan disiplin dengan cara yang rasional dan berorientasi pada Permissive-forgiving Pola asuh permisif yaitu jenis pola asuh terhadap orang tua yang memiliki sedikit tuntutan, akan tetapi banyak akan tanggapan. Adapun ajaran lainnya terhadap gaya pengasuhan yang dikatakan cenderung lebih cocok untuk orang tua yang memanjakan anaknya dalam bentuk Untuk karakteristik dari pola asuh ini antara lain. Orang tua menerima putranya tanpa mengkhawatirkan disiplin atau tidaknya anak. memberikan tuntutan berlebihan pada anak. Anak-anak dapat melakukan apa saja tanpa batasan . Orang tua lebih fokus pada apa yang diperbuat sang anak. Authoritarian Pola asuh otoriter yaitu orang tua yang terkesan kaku dan bertindak menuntut dengan cara mengaharuskan anak dalam melakukan sesuatu tetapi sedikit memberi tanggapan. Gaya pengasuhan ini disebut aturan Karakteristik dari pola asuh ini adalah sangat mementingkan kepatuhan dalam pemenuhan keinginan anak. lebih suka memberi Anak dituntut harus selalu menerima segala sesuatu yang ditentukan orang tua untuknya. Aturan ditetapkan orang tua dan bersifat mutlak tidak bisa diganggu. Neglectful . urang terliba. GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan . Gaya Pengasuhan Orang Tua Militer Terhadap Kemandirian Anak Winka Tirsa Aulia Pola asuh di mana orang tua membiarkan . engabaikan anakny. bahkan biasanya tidak pernah terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka . embebaskan apapun yang dilakukan ana. Pola asuh ini ditandai sikap orang tua terhadap anaknya yang sedikit tuntutan dan sedikit tanggapan. Karakteristik pola asuh ini yakni anak memiliki waktu yang minim dengan orang tua mereka dan orang tua memberikan sedikit energi dan dukungan kepada anak-anak mereka. Orang tua hanya moderat dalam hal melakukan sesuatu untuk anak-anak. Sedikit orang yang mengerti dan kebanyakan tidak mengerti tentang apa saja aktivitas dan dimana keberadaan anaknya. Orang tua tidak tertarik mempelajari kehidupan sekolah dan interaksi anak mereka dengan teman sebaya. Orang tua tidak mempertimbangkan pendapat anak saat mengambil Pemahaman dari definisi dan karakteristik terhadap keempat pola asuh di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pola asuh yang paling ideal adalah jenis pola asuh pertama yaitu pola asuh demokratis. Pada saat yang sama, gaya pengasuhan yang paling berbahaya adalah pola asuh neglectful, diikuti oleh pola asuh otoriter. Sedangkan pada pola asuh permisif memiliki pro dan kontra. Namun sebaiknya orang tua tidak menggunakan pola asuh permisif hal ini karena kurang memotivasi anak untuk bersikap mandiri. Pola asuh yang di terapkan oleh orang tua akan mempengaruhi tingkat kemandirian anak tersebut. Apabila orang tua memberi pola asuh dengan upaya menumbuhkan tingkat kemandirian anak dengan berbagai macam cara seperti latihan, pembiasaan, memberikan contoh secara langsung atau tidak langsung dan ditanamkan sejak dini, maka kemandirian anak akan berkembang sangat pesat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada keluarga berlatar belakang militer, pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang diterapkan orang tua dengan tujuan untuk membentuk karakter pribadi anak, terutama dalam hal pembentukan sikap mandiri. Kemandirian anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dari dalam dan luar (Komsi. Hambali & Ramli, 2. Faktor dari dalam dapat berupa keadaan fisiologis serta psikologis. Fisiologis berkaitan secara fisik . , dimana anak dengan keadaan tubuhnya fit biasanya cenderung lebih mandiri karena otomatis lebih mampu untuk menjalani aktivitas Piaget dalam Allen dan Marotz . alam Hapidin, 2. menyatakan bahwa, semakin luas lingkaran pertemanan yang dimiliki anak, mereka dapat lebih diandalkan dan tidak memiliki ketergantungan . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Gaya Pengasuhan Orang Tua Militer Terhadap Kemandirian Anak Winka Tirsa Aulia pada orang tua, akan tetapi masih membutuhkan pengasuhan dan pendekatan dari orang tua, namun memiliki keinginan untuk membebaskan diri dan Autumbuh menjadi dewasaAy. Artinya, pada usia ini anak tidak bergantung lagi kepada orang tuanya dalam melakukan apapun dan sudah terbiasa secara mandiri, meskipun anak masih butuh kasih sayang orang tua, hal ini bukan tidak berarti bahwa anak belum memiliki kemandirian. Lestari . , menyatakan kemandirian adalah cara bertindak yang memiliki keterkaitan dengan perkembangaterhadap tumbuh kembang secara fisik yang dialami dan bagaimana anak memberi keputusan untuk menindaklanjuti dengan rasa percaya diri dan tanggung Kemandirian dapat diukur dari tingkah laku anak menggunakan indikator berikut: kemampuan fisik, percaya diri, tanggung jawab, disiplin, pandai bergaul, mau berbagi, dan mengendalikan emosi. Hasil deskriptif perkembangan aspek mandiri pada subjek FR dapat diketahui sebagai berikut. pada kemampuan fisik. FR memang belum berkembang tetapi anak selalu ingin mencoba untuk melakukan makan, menggosok gigi dan memmakai pakaian sendiri walaupun dibantu orang tuanya. Pada aspek percaya diri, subjek sudah berkembang, hal tersebut dibuktikan dengan anak selalu berani mencoba hal yang baru. Aspek bertanggung jawab sudah berkembang dengan baik, dibuktikan dengan perilaku membuang sampah pada tempatnya ataupun mengembalikan mainan pada tempatnya. Menurut Pangestu, dkk. , bertanggung jawab berarti memiliki keberanian dan keberanian untuk menghadapi konsekuensi dari tindakan kesulitan seseorang atau anak yang bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepadanya. Aspek disiplin pada subjek berkembang dengan baik, hal ini ditunjukkan oleh sikap mengikuti aturan rumah seperti mengingat berapa jumlah barang yang digunakan dan menyimpan barang pada tempatnya. Menurut Djamarah . alam Ika Ernawati, 2016, hlm. menyatakan disiplin adalah suatu perilaku tertib untuk mengatur tatanan kehidupan pribadi dan kelompok. Aspek pandai bergaul sudah berkembang dengan baik, hal ini dibuktikan dengan subjek sudah berinteraksi dengan temannya, guru dan sekitarnya. Penanaman pandai bergaul sejak dini bertujuan untuk anak merasa aman dan nyaman ketika berinteraksi sehingga keterampilan sosialnya berkembang dengan baik. Menurut Martinis . alam Daviq Chairilsyah, 2. kemandirian anak dalam kapasitasnya untuk berbagi terlihat ketika mereka berkolaboasi. Dimana pada aspek saling berbagi, subjek berkembang dengan sangat baik, dilihat ketika sedang bekerja sama dan ssaling tlong menolong dengan temannya ketika bermain, dan ketika ingin saling berganti permainan subjek saling berbagi satu sama lain. GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan . Gaya Pengasuhan Orang Tua Militer Terhadap Kemandirian Anak Winka Tirsa Aulia Meskipun subjek masih terlihat pilih-pilih dalam memnghormati orang lain, karena ketika subjek merasa belum kenal dia akan merasa ragu dan muncul kewaspadaan pada diri. Selanjutnya pada aspek mengendalikan emosi sudah mulai berkembang, sejalan dengan yang dikatakan Yamin . alam Utami dkk, 2. bahwa pengendalian emosi ialah anak yang memiliki kontrol yang baik dalam mengelola emosi serta memiliki rasa empati terhadap sekitarnya. Hal tersebut dilihat pada kebiasaan subjek meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Kesimpulan Berdasarkan hasil dari apa yang telah disampaikan, kesimpulan dari penelitian ini adalah gaya pengasuhan yang digunakan orang tua memiliki dampak besar pada perkembangan kemandirian anak. Orang tua dalam keluarga militer cenderung menggunakan kombinasi gaya pengasuhan atau pola asuh demokratis dan otoriter untuk mendorong kemandirian pada anak-anak mereka. Pentingnya peran orang tua ditekankan dalam membentuk karakter dan perilaku anak, serta perlunya konsistensi didalamnya. Gaya pengasuhan demokratis paling dominan diterapkan oleh orang tua subjek, dengan tambahan gaya pengasuhan secara otoriter didalamnya. Perkembangan kemandirian anak diukur melalui kemampuan fisik, kepercayaan diri, tanggung jawab, disiplin, pandai bergaul, mau berbagi dan kontrol sosial emosi yang baik. Perkembangan kemandirian anak dipengaruhi oleh gaya pengasuhan dan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada hubungan berkelanjutan antara gaya pengasuhan dan tingkat kemandirian subjek. Ucapan Terimakasih Terimakasih kepada Bapak Dr. Heri Yusuf Muslihin. Pd dan Bapak Elan. Pd yang telah senantiasa membimbing dengan penuh dedikasi serta memberi ilmu yang sangat berharga sehingga sehingga karya tulis ilmiah ini dapat selesai dengan baik. Besar harapan untuk karya tulis ini memberi dampak positif dan bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Daftar Pustaka