Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 598-603 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Upaya Guru dalam Meningkatkan Kreativitas Anak Untuk Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus di TK Tunas Sukamaju Enok Dini Nuraini1. Sumiyati2. Ainun Najib3. Filla Septi Wulandari4. Tiara Suherman5. Riana Khoerunisa6 Info Artikel Abstract Keywords: Creativity. Fine Motor Skills. Teacher Strategies. Early Childhood Education. This study aims to describe teachersAo strategies in stimulating childrenAos creativity and fine motor skills through learning activities at TK Tunas Sukamaju. Fine motor development is a crucial aspect of early childhood education as it supports handAeeye coordination, finger control, and readiness for subsequent learning stages. Previous studies have discussed fine motor development and creativity in early childhood. however, limited research has specifically examined practical teacher strategies that integrate both aspects in daily classroom activities. This research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through classroom observations, interviews, and documentation. The findings indicate that teachers stimulate childrenAos creativity and fine motor skills through various activities such as bead-stringing, collage making, free drawing, simple cutting tasks, and sensory play using natural or self-made materials. Teachers provide initial demonstrations and minimal guidance, followed by opportunities for children to explore and create independently. These strategies encourage children to experiment with their own ideas, creatively combine colors, and complete tasks with increasing This study contributes to early childhood education by providing practical insights into effective teacher strategies that simultaneously foster creativity and fine motor development in young Kata Kunci: Kreativitas. Motorik Halus. Strategi Guru. Anak Usia Dini. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam menstimulasi kreativitas dan motorik halus anak usia dini melalui kegiatan pembelajaran di TK Tunas Sukamaju. Perkembangan motorik halus merupakan aspek penting dalam pendidikan anak usia dini karena Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: enokdininuraini@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: sumiyati24@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: ainunnajib01@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: fillasepti@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: tiarasuherman3@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: rianakh13@upi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 berkaitan dengan koordinasi mata dan tangan, pengendalian gerakan jari, serta kesiapan anak untuk mengikuti proses pembelajaran pada tahap Meskipun sejumlah penelitian telah membahas kreativitas dan motorik halus anak usia dini, kajian yang secara khusus mengungkap strategi guru dalam mengintegrasikan kedua aspek tersebut dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan berbagai strategi melalui aktivitas seperti meronce, membuat kolase, menggambar bebas, menggunting bentuk sederhana, serta permainan sensori menggunakan bahan alam atau media buatan sendiri. Guru memberikan contoh awal dan bimbingan ringan, kemudian memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dan menentukan hasil karyanya secara mandiri. Strategi tersebut mampu mendorong munculnya kreativitas anak, meningkatkan variasi ide dan warna, serta mengembangkan kemandirian dan keterampilan motorik halus. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa gambaran empiris mengenai strategi guru yang efektif dalam menstimulasi kreativitas dan motorik halus anak usia dini secara terpadu. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 02 Desember 2025 25 Desember 2025 25 Desember 2025 27 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Nuraini. Sumiyati. Najib. Wulandari. Suherman. , & Khoerunisa. Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kreativitas Anak Untuk Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Di TK Tunas Sukamaju. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 598-603, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Enok Dini Nuraini, enokdininuraini@upi. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Perkembangan motorik halus merupakan aspek penting dalam mempersiapkan anak usia dini untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kemampuan ini berkaitan dengan koordinasi otot-otot kecil, kekuatan jari, penguasaan alat tulis, serta ketelitian anak dalam melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi. Susanto . menjelaskan bahwa motorik halus berkembang melalui stimulasi yang diberikan secara berulang melalui kegiatan manipulatif, sehingga anak belajar mengontrol gerakan tangan dan jarinya secara bertahap. Hal ini sejalan dengan pandangan Santrock . dan Papalia dan Martorell . yang menegaskan bahwa perkembangan motorik anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman belajar dan lingkungan yang mendukung. Selain sebagai keterampilan fisik, perkembangan motorik halus juga berkaitan erat dengan tumbuhnya kreativitas anak. Kreativitas pada anak usia dini tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menghasilkan karya yang bernilai estetis, tetapi juga sebagai kemampuan mengekspresikan gagasan, membuat pilihan, serta mencoba berbagai cara baru dalam menyelesaikan tugas. Bredekamp . dan Wortham . menekankan bahwa kreativitas berkembang ketika anak terlibat dalam aktivitas yang bersifat eksploratif dan memberi ruang kebebasan untuk berimajinasi. Aktivitas seperti menggambar bebas, membuat kolase, meronce, dan bermain bahan lentur memungkinkan anak menghubungkan ide dengan gerakan motorik halus secara alami. Dalam konteks pembelajaran PAUD, guru memiliki peran strategis dalam menstimulasi perkembangan motorik halus dan kreativitas anak. Fitriani dan Suryana . menyatakan bahwa guru berperan dalam merancang kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, memberikan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 contoh awal, mendampingi proses belajar, serta menciptakan suasana pembelajaran yang positif. Arends . menegaskan bahwa strategi pembelajaran yang efektif menuntut guru untuk tidak hanya menyampaikan instruksi, tetapi juga memfasilitasi pengalaman belajar yang bermakna. Hal ini sejalan dengan pendapat Mulyasa . yang menekankan bahwa pembelajaran PAUD harus berpusat pada anak, bersifat menyenangkan, dan mendorong keaktifan anak dalam belajar. Implementasi Kurikulum Merdeka pada jenjang PAUD memberikan keleluasaan bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman langsung. Kemendikbudristek . menegaskan bahwa stimulasi fisik dan kreativitas anak perlu dilakukan melalui aktivitas bermain yang bermakna dan kontekstual. Prinsip pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak juga ditekankan dalam konsep developmentally appropriate practice (DAP), yang mengarahkan agar kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan anak (Copple & Bredekamp, 2020. Kostelnik et al. , 2. Dengan demikian, pengembangan kreativitas dan motorik halus menjadi bagian integral dari tuntutan kurikulum dan praktik pembelajaran PAUD. Namun demikian, pelaksanaan stimulasi kreativitas dan motorik halus di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Perbedaan kemampuan anak, keterbatasan media pembelajaran, serta keterbatasan waktu untuk pendampingan individual menjadi kendala yang sering dihadapi guru. Sari dan Wahyuni . mengemukakan bahwa pemanfaatan media sederhana dapat menjadi alternatif untuk mengatasi keterbatasan sarana pembelajaran. Selain itu, penerapan pembelajaran diferensiasi dinilai penting agar kegiatan dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing anak (Wulandari & Yuliani, 2. Meskipun berbagai penelitian telah membahas perkembangan motorik halus dan kreativitas anak usia dini secara terpisah, kajian yang secara khusus mengkaji strategi guru dalam mengintegrasikan stimulasi kreativitas dan motorik halus secara terpadu dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari masih relatif terbatas. Padahal, pemahaman mengenai strategi guru secara kontekstual sangat penting untuk mendukung implementasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini. Di TK Tunas Sukamaju, kegiatan pembelajaran motorik halus dilaksanakan melalui aktivitas meronce, menggunting, menempel, menggambar bebas, serta kegiatan eksploratif menggunakan bahan alam. Aktivitas tersebut tidak hanya bertujuan melatih keterampilan motorik halus, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan kreativitas dan imajinasinya. Oleh karena itu, peran guru menjadi kunci dalam memastikan bahwa setiap anak memperoleh stimulasi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam menstimulasi kreativitas dan motorik halus anak usia dini melalui kegiatan pembelajaran di TK Tunas Sukamaju. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan secara langsung proses pembelajaran serta strategi guru dalam menstimulasi kreativitas anak untuk mengembangkan kemampuan motorik halus di TK Tunas Sukamaju. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memahami fenomena pembelajaran secara alami dan kontekstual melalui pengamatan terhadap interaksi guru dan anak selama kegiatan berlangsung. Penelitian dilaksanakan di TK Tunas Sukamaju pada bulan Oktober 2025. Subjek penelitian terdiri atas 1 orang guru kelas yang berperan sebagai pelaksana pembelajaran dan 15 anak usia 5Ae6 tahun yang mengikuti kegiatan pengembangan motorik halus. Anak-anak tersebut berada pada tahap perkembangan yang beragam, baik dari segi kemampuan motorik halus maupun kreativitas, sehingga memberikan gambaran yang representatif terhadap kondisi kelas. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan kegiatan motorik halus seperti meronce, menggunting, menempel, dan menggambar bebas. Wawancara dilakukan dengan guru kelas untuk memperoleh informasi mengenai perencanaan pembelajaran, strategi yang digunakan dalam menstimulasi kreativitas dan motorik halus anak, serta kendala yang dihadapi selama proses Dokumentasi berupa foto kegiatan, catatan lapangan, dan hasil karya anak digunakan untuk memperkuat dan melengkapi data hasil observasi dan wawancara. Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui teknik triangulasi, yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari guru dan hasil pengamatan terhadap anak, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memastikan konsistensi dan keakuratan data. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui reduksi data, yaitu memilih dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian. penyajian data, yaitu menyusun data dalam bentuk uraian serta penarikan kesimpulan, yaitu merumuskan temuan utama dan makna dari strategi guru dalam menstimulasi kreativitas dan kemampuan motorik halus anak usia dini. Penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan etika penelitian, antara lain dengan memperoleh izin dari pihak sekolah, menjaga kerahasiaan identitas subjek penelitian, serta memastikan bahwa seluruh kegiatan penelitian tidak mengganggu proses pembelajaran dan tetap memperhatikan kenyamanan serta keselamatan anak. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil observasi di TK Tunas Sukamaju menunjukkan bahwa guru secara sadar merancang kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan stimulasi kreativitas dan pengembangan motorik halus anak usia dini. Kegiatan seperti meronce manik-manik, menggunting pola sederhana, menempel kertas warna, menggambar bebas, mewarnai, serta membentuk plastisin dilaksanakan secara rutin dan terintegrasi dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Pemilihan kegiatan tersebut disesuaikan dengan tema pembelajaran dan tingkat perkembangan anak, serta didukung oleh kesiapan alat dan bahan yang telah dipersiapkan guru sebelum kegiatan dimulai. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru memberikan contoh awal dan penjelasan singkat mengenai cara penggunaan alat dan bahan. Setelah itu, anak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi kegiatan secara mandiri sesuai dengan ide dan minat masing-masing. Guru tidak menuntut keseragaman hasil akhir, melainkan menekankan proses, keberanian mencoba, dan kreativitas anak dalam menentukan warna, bentuk, maupun cara menyelesaikan tugas. Anak tampak aktif bereksperimen dan menunjukkan inisiatif dalam mengembangkan hasil karyanya. Pendampingan dilakukan secara individual dan fleksibel. Guru memberikan bantuan berupa arahan verbal atau demonstrasi ulang ketika anak mengalami kesulitan, serta mengurangi intensitas bantuan saat anak mulai mampu bekerja mandiri. Variasi kemampuan motorik halus anak terlihat jelas, namun guru merespons perbedaan tersebut dengan memberikan dukungan sesuai kebutuhan masingmasing anak. Pujian dan penguatan positif diberikan secara konsisten untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi langsung, catatan anekdot, dan portofolio hasil karya anak. Guru juga melakukan refleksi pembelajaran dan berdiskusi dengan rekan sejawat untuk memperbaiki strategi pembelajaran. Kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan alat, jumlah anak yang cukup banyak, serta perbedaan kemampuan motorik halus. Untuk mengatasinya, guru membagi anak ke dalam kelompok kecil, memanfaatkan media sederhana dan bahan alam, serta berkomunikasi dengan orang tua untuk memberikan stimulasi lanjutan di rumah. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pembahasan Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa praktik pembelajaran motorik halus di TK Tunas Sukamaju telah selaras dengan prinsip developmentally appropriate practice (DAP), yaitu pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan, kebutuhan, dan karakteristik anak usia dini (Copple & Bredekamp, 2020. Bredekamp, 2. Aktivitas manipulatif seperti meronce, menggunting, dan membentuk plastisin mendukung koordinasi mata-tangan, kekuatan jari, dan kontrol gerakan halus yang menjadi dasar keterampilan akademik awal (Susanto, 2021. Santrock, 2. Jika dibandingkan dengan temuan Diamond . , yang menyatakan bahwa perkembangan motorik berkontribusi langsung terhadap fungsi eksekutif anak seperti perencanaan dan pengendalian diri, kegiatan di TK Tunas Sukamaju tidak hanya melatih aspek fisik, tetapi juga melibatkan proses berpikir, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah sederhana. Hal ini tampak ketika anak menentukan warna, bentuk, dan strategi menyelesaikan tugas secara mandiri. Pendekatan guru yang memberikan contoh di awal dan pendampingan bertahap mencerminkan strategi pembelajaran konstruktivis yang menempatkan guru sebagai fasilitator. Arends . menegaskan bahwa pemberian scaffolding yang tepat membantu peserta didik membangun pemahaman dan keterampilan baru secara mandiri. Praktik ini juga sejalan dengan pandangan Kostelnik et al. bahwa pembelajaran PAUD seharusnya memberi ruang eksplorasi dengan dukungan yang proporsional. Dari sisi kreativitas, hasil penelitian ini menguatkan temuan Bredekamp . dan Wortham . yang menyatakan bahwa kreativitas anak berkembang optimal ketika anak diberi kebebasan berekspresi tanpa tekanan hasil. Guru di TK Tunas Sukamaju tidak membatasi bentuk akhir karya anak, sehingga anak berani menuangkan ide dan imajinasinya. Dibandingkan dengan pembelajaran yang berorientasi produk, pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menumbuhkan kreativitas dan rasa percaya diri anak. Penggunaan media sederhana dan bahan alam dalam kegiatan pembelajaran menunjukkan respons adaptif guru terhadap keterbatasan sarana. Temuan ini konsisten dengan penelitian Sari dan Wahyuni . yang menegaskan bahwa media sederhana dapat memberikan pengalaman belajar yang kaya apabila dirancang secara kreatif. Selain itu, praktik ini mencerminkan fleksibilitas guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka PAUD (Kemendikbudristek, 2022. Mulyasa, 2. Sistem evaluasi melalui portofolio dan observasi autentik juga sejalan dengan rekomendasi Piek et al. , yang menyatakan bahwa asesmen motorik anak usia dini sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan kontekstual. Penilaian ini memungkinkan guru memahami perkembangan anak secara individual dan merancang tindak lanjut pembelajaran yang lebih tepat. Pendekatan diferensiasi yang diterapkan guru juga sesuai dengan pandangan Wulandari dan Yuliani . tentang pentingnya menyesuaikan pembelajaran dengan variasi kemampuan anak. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi guru di TK Tunas Sukamaju tidak hanya efektif dalam menstimulasi motorik halus, tetapi juga mampu mendorong kreativitas, kemandirian, dan keterlibatan aktif anak. Dibandingkan dengan temuan penelitian terdahulu, praktik guru di TK Tunas Sukamaju memperlihatkan integrasi yang baik antara teori perkembangan anak, pendekatan konstruktivis, dan tuntutan Kurikulum Merdeka, sehingga memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan strategi pembelajaran PAUD yang kontekstual dan aplikatif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa strategi guru dalam menstimulasi kreativitas dan motorik halus anak usia dini di TK Tunas Sukamaju telah dilaksanakan secara efektif dan sesuai dengan prinsip perkembangan anak. Guru merancang kegiatan pembelajaran Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 seperti meronce, menggunting, menempel, menggambar bebas, dan bermain plastisin yang tidak hanya melatih koordinasi mataAetangan dan keterampilan jari, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan ide, berkreasi, dan menyelesaikan tugas secara mandiri. Strategi pembelajaran yang diterapkan melalui pemberian contoh awal, pendampingan bertahap, serta penguatan positif terbukti mampu meningkatkan kepercayaan diri dan keterlibatan aktif anak dalam kegiatan motorik Evaluasi pembelajaran dilakukan secara autentik melalui observasi, catatan anekdot, dan portofolio, sehingga perkembangan setiap anak dapat dipantau secara berkelanjutan. Meskipun terdapat kendala seperti keterbatasan media dan perbedaan kemampuan anak, guru mampu mengatasinya melalui pemanfaatan media sederhana, pengelompokan anak, serta kerja sama dengan orang tua. Penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain dilakukan pada satu lembaga PAUD dengan jumlah subjek yang terbatas, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Selain itu, penelitian ini belum mengkaji secara mendalam dampak jangka panjang dari strategi guru terhadap perkembangan motorik halus dan kreativitas anak. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan lebih banyak lembaga PAUD dengan karakteristik yang beragam, menggunakan desain penelitian yang lebih komprehensif, serta mengkaji hubungan antara strategi guru, keterlibatan orang tua, dan perkembangan anak dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pengembangan praktik pembelajaran PAUD. DAFTAR KEPUSTAKAAN Arends. Learning to teach . th ed. McGraw-Hill. Bredekamp. Effective practices in early childhood education: Building a foundation . th ed. Pearson. Copple. , & Bredekamp. Developmentally appropriate practice in early childhood programs. Early Childhood Education Journal, 48. , 1Ae11. https://doi. org/10. 1007/s10643-020-01025-0 Diamond. Executive functions and motor development in early childhood. Developmental Cognitive Neuroscience, 42, 100765. https://doi. org/10. 1016/j. Fitriani. , & Suryana. Peran guru dalam mengembangkan kemampuan motorik anak usia Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6 . , 1450Ae1460. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Kemendikbudristek. Kurikulum Merdeka pada pendidikan anak usia dini . Direktorat Jenderal PAUD. Dikdas, dan Dikmen. Kostelnik. Soderman. Whiren. , & Rupiper. Developmentally appropriate curriculum: Best practices in early childhood education . th ed. Pearson. Mulyasa. Manajemen PAUD dalam implementasi Kurikulum Merdeka. PT Remaja Rosdakarya. Papalia. , & Martorell. Experience human development . th ed. McGraw-Hill. Piek. Hands. , & Licari. Assessment of motor skills in early childhood education. Early Childhood Research Quarterly, 55, 170Ae180. https://doi. org/10. 1016/j. Santrock. Life-span development . th ed. McGraw-Hill. Sari. , & Wahyuni. Pemanfaatan media sederhana dalam pembelajaran PAUD. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7 . , 320Ae330. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Susanto. Perkembangan anak usia dini: Teori dan praktik. Kencana. Suyanto. , & Jihad. Konsep dasar pendidikan anak usia dini. Kencana. Wulandari. , & Yuliani. Pembelajaran diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka PAUD. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7. , 201Ae210. https://doi. org/10. 21831/jpaud. Wortham. Early childhood curriculum: Developmental bases for learning and teaching . th Pearson.