Jayapangus Press Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin Volume 4 Nomor 4 . ISSN : 2798-7329 (Media Onlin. Sinergitas Guru Kristen Dan Orang Tua Siswa Dalam Penguatan Moderasi Beragama Di SMTK SoE Yakobus Adi Saingo*. Jonathan Leobisa. Dunosel Ir. Koebanu Institut Agama Kristen Negeri Kupang. Indonesia *y. visi2050@gmail. Abstract Religious pluralism in Indonesia is a characteristic inherent in its society, but behind it all there are still individuals and radical groups who try to divide the integrity of the nation by using religious issues incorrectly, therefore synergy between teachers and parents is needed students in instilling the values of religious moderation. The aim of this research is to discuss the synergy of Christian teachers and parents in strengthening religious moderation at SMTK SoE. This research applies a qualitative method, where data is collected through interview activities using an FGD (Focus Group Discussio. approach with 10 Christian teachers and 10 parents of students. The information collected is reduced to an act of data analysis which explains the results that Christian teachers and parents can work together to strengthen religious moderation for the students/children they train so that the good values for creating harmony can be embedded optimally. This awareness has also been implemented appropriately by Christian teachers and parents of students at SMTK SoE who have worked together to implement strengthening religious moderation based on indicators, namely: National commitment, non-violence, religious tolerance, and behavior that respects local Based on the explanations given by Christian teachers and students' parents, concrete forms of synergy in efforts to strengthen the values of religious moderation can be identified, including: Teachers schedule meetings with students' parents on a regular quarterly basis to educate each other about the importance of developing the character of a tolerant life. Teachers have a WA group with parents so they use social media to motivate and supervise each other so that children can have ethical and moral behavior that respects others, without discriminating against their religious background. Parents play an active role by immediately reporting to teachers if any of their children begin to display religious extremism behavior. Parents and teachers participate directly in children's character education through school extracurricular activities, such as watching family films together, family gatherings, those based on religious tolerance, and so on. Furthermore, teachers and parents also work together in monitoring social media, online games and the shows consumed by students at home so that they do not fall into acts of violence seen on various existing digital media. Keywords: Christian Teachers. Parents of Students. Religious Moderation Abstrak Kemajemukan beragama di Indonesia menjadi sebuah kekhasan yang melekat pada masyarakatnya, namun di balik semuanya itu masih saja terdapat oknum individu maupun kelompok radikal yang berusaha memecah-belah keutuhan bangsa dengan menggunakan isu-isu agama secara salah, karena itu dibutuhkan sinergitas antara guru dengan orang tua siswa dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Tujuan penelitian ini untuk membahas tentang sinergitas guru Kristen dan orang tua siswa dalam penguatan moderasi beragama di SMTK SoE. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif, yang pengumpulan datanya melalui aktifitas wawancara dengan pendekatan https://jayapanguspress. org/index. php/metta pola FGD (Focus Group Discussio. bersama 10 guru Kristen dan 10 orang tua siswa. Informasi yang terkumpul direduksi sebagai tindakan analisis data yang memaparkan hasil bahwa guru Kristen dan orang tua dapat bersinergi untuk melakukan penguatan moderasi beragama bagi siswa/anak-anak yang dibinanya sehingga nilai-nilai kebaikan tersebut untuk terciptanya kerukunan dapat tertanam secara optimal. Kesadaran tersebut ternyata juga diimplementasikan secara tepat oleh guru Kristen dan orang tua siswa di SMTK SoE yang telah bersinergi mengimplementasikan penguatan moderasi beragama berbasis indikatornya, yaitu Komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi beragama, dan perilaku menghargai tradisi lokal. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan guru Kristen dan orang tua siswa dapat diidentifikasi bentuk konkret sinergitas dalam upaya penguatan nilai-nilai moderasi beragama, antara lain Guru mengagendakan pertemuan dengan orang tua siswa secara rutin per-triwulan untuk saling mengedukasi tentang pentingnya penumbuhan karakter hidup bertoleransi. Guru memiliki grup WA dengan orang tua sehingga memanfaatkan media sosial tersebut untuk saling memotivasi serta mengawasi agar anak-anak dpat memiliki perilaku etika-moral yang mengharga sesama, tanpa membeda-bedakan latar belakang agama yang ada. Orang tua berperan aktif dengan segera membuat laporan pada guru jikalau ada di antara anak-anaknya yang mulai memperlihatkan perilaku ekstremisme beragama. Orang tua dan guru berpartisipasi langsung dalam pendidikan karakter anak melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah, seperti nonton bareng film keluarga, family gathering, yang berbasis toleransi beragama, dan sebagainya. Selanjutnya guru dan orang tua juga bekerja sama dalam mengawasi sosial media, game online, dan tontonan yang dikonsumsi siswa di rumah sehingga tidak terjerumus dalam tindakan kekerasan yang dilihat dari berbagai media digital yang ada. Kata Kunci: Guru Kristen. Orang Tua Siswa. Moderasi Beragama Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan kemajemukan suku, adat, ras, bahasa, budaya, serta agama. Keberagaman yang ada di tengah masyarakat tersebut menjadi karakteristik yang sudah terpelihara sejak zaman dahulu. Terdapat banyak bangsa lain di dunia ini yang sudah memiliki kemajemukan masyarakat seperti halnya bangsa Indonesia. Keadaan dalam konteks kemajemukan tersebut sangat membanggakan meskipun berbagai oknum ada yang berusaha merusak keindahan tatanan keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat yang sudah terpelihara hingga saat ini, namun persatuan masyarakat Indonesia tetap kokoh (Napitupulu & Sirait, 2. Tanpa kesadaran untuk mempertahankan semangat persatuan maka sangat mudah diprovokasi atau dihasut untuk saling membenci dan menyakiti satu dengan yang lainnya. Negara Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, menurut data World Population Review bahwa pada tahun 2024 keseluruhan masyarakat Indonesia yang tercatat berjumlah 279. 446 jiwa (Stephanus et al. , 2. Indonesia adalah negara besar yang terdiri dari 38 Provinsi. Luas wilayah Indonesia secara keseluruhan 250 kmA yang terdiri dari luas daratan 1. 440 kmA dan luas lautan berkisar 810 kmA. Jumlah masyarakat Indonesia yang sangat besar tersebar dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote. Banyaknya jumlah penduduk Indonesia jikalau tidak dikelola secara benar dengan nilai-nilai karakter yang mengandung unsur persatuan maka memiliki potensi mudah terprovokasi oleh oknum orang untuk merusak keharmonisan yang telah terbina (Budiman, 2. Perlu diakui bahwa keharmonisan di tengah masyarakat Indonesia yang telah terjalin selama ini menimbulkan ketidaksukaan oleh oknum masyarakat di belahan dunia luar (Parinduri & Pujiati, 2. Ketidaksukaan tersebut ditunjukkan dengan menjadi https://jayapanguspress. org/index. php/metta pihak penyandang dana terhadap oknum warga yang mudah terprovokasi untuk menggunakan isu-isu politik, isu-isu suku, maupun isu-isu agama untuk memecah belah persatuan bangsa. Tujuannya supaya keadaan dan suasana kehidupan masyarakat di negara Indonesia tidak kondusif dan jauh dari rasa nyaman sehingga mudah untuk dihasut untuk melakukan berbagai bentuk pemberontakan yang bertujuan tidak lagi bergabung dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesi. Kondisi tersebut juga sering dimanfaatkan oleh kaum radikalis untuk berupaya merusak kerukunan antara umat beragama di berbagai daeran di Indonesia, termasuk di Kota SoE. Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kementerian Agama Kabupaten TTS menjelaskan, beberapa oknum masyarakat di kabupaten Timor Tengah Selatan terindikasi telah terpapar radikalisme agama dikarenakan beberapa Faktor, di antaranya: Pertama, pemahaman warga atau umat terhadap pengajaran keagamaan yang dianut masih rendah sehingga mudah digiring oleh pengajaran yang bertentangan dengan pirinsip toleransi beragama. Kedua kemampuan ekonomi masyarakat yang masih lemah secara umum, sehingga ketika ada oknum kaum radikal yang memberi hasutan dengan menjanjikan sebuah keuntungan maka warga tersebut akan membiarkan dirinya terlibat kegiatan yang dapat mengganggu keharmonisan umat beragama di Kota SoE. TTS (Ali et al. , 2. Bangsa Indonesia memiliki pengalaman pahit seperti yang terjadi pada tahun 1998 di mana masyarakat Indonesia sengaja diprovokasi untuk saling menyerang satu dengan yang lain. Pada masa itu terjadi kekacauan yang merata hampir di seluruh wilayah Indonesia yang dapat terlihat dari pergolakan politik untuk menurunkan kepemimpinan presiden yang mengatasnamakan keinginan rakyat. Selain itu juga ada pergolakan antar umat beragama yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia yang saling menyerang satu dengan yang lain dalam bentuk pembakaran rumah ibadah, penyerangan warga masyarakat yang berbeda keyakinan iman, ungkapan yang merendahkan simbol-simbol agama, dan lain sebagainya. Puncak dari berbagai kekacauan tersebut terjadi pada tahun 1999 dimana negara Indonesia kehilangan salah satu bagian daerah pentingnya yaitu terpisahnya wilayah Timor Timur untuk menjadi negara sendiri yang sekarang dikenal dengan negara Timor Leste. Pengalaman pahit tersebut di atas menjadi pembelajaran berharga pada seluruh masyarakat Indonesia bahwa sangat penting menanamkan nilai-nilai persatuan sejak dini bagi setiap elemen warga. Penguatan karakter persatuan dapat ditanamkan bagi setiap masyarakat yang majemuk, termasuk penguatan toleransi antar umat beragama untuk hidup dalam kebersamaan yang harmonis. Salah satu pembelajaran penting untuk penguatan karakter persatuan di tengah kemajemukan masyarakat beragama adalah dengan penanaman nilai-nilai moderasi beragama yang bertujuan untuk mempersatukan bangsa Indonesia tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai alasan untuk saling Menurut Akhmadi . , moderasi beragama adalah cara menjalankan aktivitas beragama jalan tengah yaitu dengan tidak bersikap ekstrem, namun terbuka menerima keberadaan pemeluk agama lain di sekitarnya. Keberagaman agama (Katolik. Konghucu. Islami. Buddha. Hindu, dan Kriste. memiliki potensi besar diprovokasi oleh oknumoknum warga tidak bertanggung jawab untuk tidak bersatu. Keadaan tersebut mengharuskan masyarakat Indonesia memiliki formula khusus yang mampu tetap mempererat persatuan bangsa (Al-Farisi, 2. Formula untuk mempererat persatuan di tengah kemajemukan masyarakat beragama adalah dengan menanam nilai-nilai moderasi Penguatan nilai-nilai moderasi beragama harus dilakukan secara merata bagi seluruh elemen masyarakat, karena itu sangat dibutuhkan sinergitas dari berbagai pihak seperti keluarga, lembaga swasta maupun lembaga pemerintahan. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Melalui peran berbagai lembaga yang ada di tengah masyarakat yang bersifat formal . embaga pendidika. , maupun yang bersifat informal . , diharapkan mampu mendorong setiap warga tetap dengan teguh dapat menularkan semangat moderasi beragama sehingga tetap terjalin keharmonisan di tengah kemajemukan Upaya penguatan moderasi beragama tidak dapat dikerjakan sendiri oleh pemerintah, namun sangat membutuhkan kolaborasi lembaga yang ada di tengah masyarakat (Mufid, 2. Salah satu kolaborasi penting adalah dengan sinergitas antara lembaga keluarga dengan lembaga pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama bagi setiap warga masyarakat yang dibinanya. Kolaborasi antara keluarga dengan lembaga pendidikan seharusnya semakin memudahkan penguatan pemahaman nilai-nilai moderasi beragama bagi setiap warga yang ada dalamnya jangkauannya. Penanaman nilai moderasi beragama dalam keluarga dapat dipimpin langsung oleh orang tua sebagai pihak yang sangat berperan untuk mengajarkan sebuah kebaikan bagi setiap anggotanya (Marbun, 2. Orang tua yang tidak menghiraukan pentingnya mengajarkan nilai-nilai moderasi beragama bagi anakanaknya akan berdampak pada terbentuknya karakter intoleransi dan munculnya sikap dengki kepada pihak yang berbeda keyakinan iman dengannya. Tanpa adanya penguatan nilai-nilai moderasi beragama di tengah keluarga menyebabkan anak-anak akan tumbuh sebagai individu yang tidak dapat menerima keberagaman agama yang ada di masyarakat Indonesia. Orang tua dalam keluarga memiliki peran sentral untuk mengajarkan toleransi sejak dini bagi anak-anaknya (Anto, 2. Salah satu bentuk perhatian orang tua adalah dengan mengajarkan kasih sayang bagi anak-anaknya yang juga harus dipraktikkan kepada orang lain meskipun memiliki perbedaan dalam hal beragama. Hal tersebut perlu menjadi perhatian khusus bagi keluarga, karena masih ditemukan terdapat orang tua yang bersikap acuh tak acuh terhadap pentingnya memberi pembelajaran tentang menjaga persatuan di tengah kemajemukan masyarakat. Selain itu salah satu perpanjangan tangan pemerintah untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan sebagai bagian dari elemen masyarakat yang bertanggung jawab untuk menjaga tetap terciptanya kerukunan antar umat beragama. Pihak yang sangat berperan untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama adalah guru yang berhadapan langsung dengan siswa-siswi di sekolah. Dalam setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, guru dapat memanfaatkannya untuk memberikan edukasi mengenai nilai-nilai moderasi beragama pada siswa. Guru dan orang tua siswa perlu bersinergi dalam upaya pembentukan karakter positif, termasuk melakukan penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Berdasarkan hasil survei lapangan, telah teridentifikasi bahwa menjalin sinergitas antara guru dengan orang tua bukanlah hal yang mudah disebabkan beberapa aspek tantangan antara lain, . aspek waktu, yaitu kesibukan orang tua dalam dunia kerja sering kali menyebabkan jarangnya berkomunikasi tentang perkembangan maupun perubahan perilaku pada anak-anaknya, . aspek pemahaman, yaitu masih terdapat orang tua yang kurang menyadari tentang pentingnya bersinergi dengan guru. Bagi pembentukan karakter positif anak, sebab ada di antara orang tua yang cenderung menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pada guru di sekolah. Identifikasi terhadap hambatan-hambatan sinergitas antara guru dengan orang tua tersebut sebagai sebuah tantangan yang perlu mendapatkan perhatian khusus sehingga siswa/anak tetap memperoleh pelayanan yang optimal bagi pembentukan karakter dan penanaman nilainilai moderasi beragama dalam masa perkembangannya. Jikalau terdapat oknum guru yang tidak terlalu mempedulikan pentingnya pengajaran moderasi beragama bagi siswa, maka di kemudian hari negara Indonesia tidak lagi memiliki generasi pengurus bangsa https://jayapanguspress. org/index. php/metta yang semangat menjunjung tinggi perdamaian dan keharmonisan antar umat beragama. Pada konteks ini, guru Kristen perlu menjalankan perannya sebagai pioner utama untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama bagi siswa yang dijumpainya. Guru Kristen perlu memiliki kesadaran yang tinggi dengan memanfaatkan setiap momen perjumpaan dengan siswa untuk mengajarkan tentang indahnya hidup dalam persatuan dengan sesama manusia meskipun terdapat perbedaan keyakinan iman (Santoso & Arifianto, 2. Penguatan nilai-nilai moderasi beragama sangat penting diimplementasikan melalui lembaga pendidikan, seperti halnya di SMTK SoE. Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Komponen sekolah, seperti guru dan siswa SMTK SoE perlu menghidupi nilai-nilai moderasi beragama . oleransi beragama, komitmen kebangsaan, anti kekerasan, menghargai tradisi loka. sehingga masing-masing dapat turut berperan sebagai agen penyebarluasan semangat kerukunan antara umat beragama. Keberagaman agama memiliki tantangan tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia, termasuk di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Data Badan Pusat Statistik yang diambil dari tahun 2020 sampai 2023 mengemukakan bahwa masyarakat beragama hindu sebesar 0,05%. Kristen Katolik 11,79%. Kristen Protestan 86,04%. Islam 2,12% (Manuain, 2. Data yang dipaparkan Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa 85 % anak remaja rentan terpapar ideology radikalisme agama, jikalau tidak terawasi oleh orang tua maupun tenaga pendidik (Tokan, 2. Penyebaran nilai-nilai moderasi beragama diduga akan semakin kuat jikalau ada kerjasama antara pihak keluarga . rang tu. dengan guru Kristen yang bertugas di lembaga pendidikan. Sinergitas antara kedua lembaga . eluarga dan guru di lembaga pendidika. sangat penting untuk semakin memudahkan penyebaran nilai-nilai moderasi beragama sehingga keharmonisan dan persatuan antar masyarakat tetap terjalin. Berdasarkan uraian tantangan dan latar belakang di atas, maka penelitian ini akan membahas tentang sinergitas guru Kristen dan orang tua siswa dalam penguatan moderasi beragama di SMTK SoE. Kabupaten Timor Tengah Selatan. Metode Penelitian ini dilaksanakan berbasis paradigma metode kualitatif. Metode kualitatif adalah cara-cara penelitian yang diterapkan secara deskriptif dengan menekankan pada pemaknaan sebuah keadaan, perilaku sosial, dan fenomena yang terjadi berdasarkan fakta di sekitar masyarakat (Rohman et al. , 2. Aktivitas penelitian kualitatif ini dilakukan dengan pendekatan FGD (Focus Group Discussio. untuk memudahkan dalam berdiskusi, serta tanya-jawab secara mendalam yang memiliki relevansi dengan topik pembahasan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dilandasi pada tujuan dari penelitian yang ingin bereksplorasi untuk semakin memahami serta mampu menguraikan kajian terkait sinergitas guru Kristen dan orang tua siswa dalam penguatan moderasi beragama di SMTK SoE. Data dikumpulkan dengan mewawancarai serta berdiskusi dengan pola FGD bersama para informen primer yaitu 10 guru Kristen (Yendri Feo. Deby Taniu. Jemri Sanak. Orince Tapatab. Sandry Kikhau. Yusuf Nenometa. Imelda Boymau. Dorce Metkono. Thia Betty. Mathelda Kir. dan 10 orang tua siswa (Edward Selan. Robin Taniu. Yunita Tuan. Fendri Talan. Anjani Nabuasa. Benediktus Faot. Matheos Soares. Delfi Fallo. Johni Ottu. Giani Nomlen. di SMTK SoE. Instrumen pertanyaan sebagai alat pengumpul data akan dikembangkan berbasis indikator moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi beragama, dan sikap yang menghargai tradisi lokal. Analisis data ditempuh dengan mereduksi setiap informasi yang telah terkumpul yaitu melakukan perangkuman, menentukan hal-hal relevan dengan penelitian, https://jayapanguspress. org/index. php/metta menentukan pola yang sesuai dengan tema pembahasan, pengorganisasian data, serta berpikir kritis terhadap data untuk membuang data/informasi yang tidak diperlukan dalam pembahasan, melakukan penajaman materi sehingga dapat menjelaskan secara lugas tentang sinergitas guru kristen dan orang tua siswa dalam penguatan moderasi beragama di SMTK SoE. Hasil dan Pembahasan Lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai moral, karakter, spiritual, serta menjadi pribadi yang berperilaku menghargai kemajemukan masyarakat, termasuk dalam hal keberagaman beragama. Setiap warga sekolah, termasuk siswa dalam keberagaman agamanya perlu ditanamkan nilai-nilai moderasi beragama secara menyeluruh. Untuk mengoptimalisasikan penguatan nilai-nilai moderasi beragama pada siswa perlu adanya sinergitas antara guru dengan orang tua. Hal tersebut juga dipandang penting oleh guru Kristen dan orang tua siswa di SMTK SoE yang bersinergi untuk melakukan penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Kegiatan wawancara dilakukan berbasis indikator penguatan moderasi beragama, antara lain Komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi beragama, menghargai tradisi Aktifitas wawancara dilakukan terhadap narasumber yaitu, 10 guru Kristen (Yendri Feo. Deby Taniu. Jemri Sanak. Orince Tapatab. Sandry Kikhau. Yusuf Nenometa. Imelda Boymau. Dorce Metkono. Thia Betty. Mathelda Kir. dan 10 orang tua siswa (Edward Selan. Robin Taniu. Yunita Tuan. Fendri Talan. Anjani Nabuasa. Benediktus Faot. Matheos Soares. Delfi Fallo. Johni Ottu. Giani Nomlen. di SMTK SoE, untuk memperoleh informasi mendalam mengenai sinergitasnya dalam penguatan moderasi beragama, yang dipaparkan sebagai berikut. Pertama, komitmen kebangsaan. Yendri Feo dan Deby Taniu . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, keberadaan warga sekolah di SMTK SoE yang majemuk dalam hal beragama menjadi kesempatan besar untuk dapat menerapkan nilai-nilai komitmen Sebagai guru harus memahami makna dari komitmen kebangsaan yaitu sikap hati yang diwujudkan melalui perilaku menghormati konstitusi negara dan undangundang Dasar 1945 untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan. Semua warga sekolah menyadari bahwa komitmen kebangsaan yang dihidupi secara utuh dalam keseluruhan hidup siswa mampu dijadikan sarana untuk saling menghargai antar sesama warga sekolah meskipun memiliki keberagaman agama. Siswa di lingkungan sekolah juga diberikan pemahaman yang jelas tentang komitmen kebangsaan bahwa sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tidak boleh membiarkan ada ideologi ekstrimis di bawah masuk ke lingkungan sekolah supaya suasana dan pembelajaran tetap berjalan secara kondusif karena adanya perilaku saling Jemri Sanak dan Orince Tapatab . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, sebagai tenaga pendidik Kristen, senantiasa menggunakan model pendekatan formal serta informal dalam berkomunikasi dengan orang tua dalam upaya penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Pendekatan formal yaitu guru mengagendakan pertemuan dengan orang tua siswa secara rutin per-triwulan untuk saling mengedukasi tentang pentingnya penumbuhan karakter berdasarkan prinsip komitmen kebangsaan dengan menaati berbagai aturan serta konstitusi negara untuk saling menghargai antara umat beragama. Selain itu pendekatan informal terjadi tanpa adanya agenda tertentu, yaitu ketika setiap momen perjumpaan antara guru dengan orang tua secara kebetulan ataupun tidak senantiasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengomunikasikan tentang perkembangan anak-anak di sekolah maupun di rumah. Model kolaborasi tersebut dipandang cukup efektif dalam memantau perkembangan implementasi nila-nilai moderasi beragama pada anak, termasuk dalam konteks menghidupi komitmen https://jayapanguspress. org/index. php/metta kebangsaan. Sandry Kikhau dan Yusuf Nenometa . awancara, 30 Mei 2. menambahkan, senantiasa menggunakan setiap momen pembelajaran dalam kelas untuk mengingatkan peserta didik supaya tidak mudah diprovokasi oleh oknum masyarakat di luar sekolah yang mengajak untuk tidak menjalin hubungan pergaulan dengan orang lain yang berbeda agama/keyakinan. Selain itu senantiasa berkomunikasi dengan orang tua murid melalui grup WhatsApp untuk secara bersama-sama senantiasa mengingatkan anak-anaknya di rumah bersedia membangun hubungan baik dengan teman sejawatnya tanpa memandang perbedaan keyakinan iman. Sebagai guru senantiasa mengingatkan orang tua bahwa ketika mendorong atau memotivasi anak untuk mau berteman dengan siapapun tanpa membeda-bedakan latar belakang agama maka sedang memposisikan dirinya sebagai orang tua yang turut berjuang menanamkan nilai-nilai komitmen kebangsaan. Informasi senada juga disampaikan oleh Robin Taniu dan Fendri Talan . awancara, 30 Mei 2. bahwa, sebagai orang tua siswa ketika melakukan aktivitas cukup sering diundang oleh pihak sekolah untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru terkait berbagai program dari Kementerian Agama, termasuk dalam hal pengauatan moderasi beragama. Pertemuan dengan pihak sekola, khususnya bersama guru Kristen mendapatkan pengajaran bahwa sebagai bangsa Indonesia yang cinta tanah air perlu senantiasa menjunjung komitmen kebangsaan dan juga diajarkan kepada anggota keluarga di rumah sebagai wujud upaya menjalin persatuan dan kesatuan bangsa. Komitmen kebangsaan sangat penting mulai dibiasakan diterapkan di rumah/di tengah keluarga sebagai wujud menghormati konstitusi negara dan berbagai regulasi yang mengharuskan sebagai bagian dari bangsa Indonesia untuk menjaga persatuan dan keharmonisan tanpa memandang perbedaan latar belakang agama dengan tetangga sekitar. Sebagai orang tua menyadari bahwa memiliki pemahaman yang baik tentang komitmen kebangsaan maka akan memudahkan dalam mengajarkan anak-anak di rumah tentang menghargai keberagaman yang dijamin konstitusi di manapun berada. Edward Selan & Yunita Tuan . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan bahwa, wujud kerja sama yang dilakukan oleh pihak sekolah melalui guru Kristen bersama orang tua untuk mengajarkan anak memiliki semangat komitmen kebangsaan yaitu guru bersama orang tua siswa berkumpul di lingkungan sekolah untuk mendapatkan pelatihan dan edukasi mengenai pentingnya menghidupi komitmen kebangsaan demi terciptanya persatuan bangsa. Setelah guru dan orang tua telah diedukasi mengenai komitmen kebangsaan dan telah menguasai berbagai materi maka dapat secara bersama-sama turun ke masyarakat umum . atang ke rumah-rumah rekan sejawa. untuk mensosialisasikan supaya sebagai warga Indonesia harus menghormati berbagai peraturan perundangundangan yang berlaku serta bersedia membuka hati untuk memiliki kesadaran memelihara persatuan antar masyarakat meskipun terdapat keberagaman agama. Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas terkait sinergitas guru dan orang tua siswa dalam penerapan nilai moderasi beragama dalam konteks penguatan komitmen kebangsaan di SMTK SoE. Kabupaten TTS maka dapat dilakukan pembahasan bahwa. Indonesia sebagai negara besar dan berdaulat menjamin kemerdekaan seluruh masyarakatnya untuk hidup berdasarkan hak asasinya masing-masing, termasuk hak dalam memeluk agama yang diyakininya sebagai kebenaran (Puspa et al. , 2. Konstitusi negara Indonesia menjamin kebebasan memeluk agama seperti yang ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29:1 menyatakan Negara Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Selain itu pada Pasal 29:2 juga menegaskan bahwa, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Pasal-pasal pada Undang-Undang Dasar tersebut menjadi acuan komitmen kebangsaan bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai warga yang religius di dalam Implementasi nilai-nilai moderasi beragama didukung oleh kurikulum SMTK SoE yaitu adanya program ekstrakurikuler yang mewajibkan guru dan orang tua membimbing siswa dalam sebuah kolaborasi melakukan tindakan nyata di lingkungan sekolah serta di lingkungan masyarakat yaitu dengan menunjukkan kepedulian . enyumbangkan sembako, mengunjungi orang saki. pada sesama meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Perilaku tersebut sebagai bagian dari agenda mewujudkan prinsip moderasi beragama di tengah kemajemukan beragama yang ada di SMTK SoE. Komitmen kebangsaan sangat penting bagi seluruh rakyat Indonesia karena secara keseluruhan memiliki keberagaman dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal menganut Komitmen kebangsaan yang dihidupi oleh masyarakat Indonesia untuk menjaga keharmonisan dalam ikatan solidaritas di tengah keberagaman menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang Pancasilais dan nasionalis (Nomtanis & Saingo, 2. Tanpa adanya komitmen kebangsaan maka akan berkembangnya ego sektoral keagamaan yang mendapatkan ruang secara leluasa untuk merusak pikiran dan hubungan antar sesama rakyat Indonesia dalam keberagaman agama. Ego sektoral menyebabkan masing-masing kelompok beragama merasa dan menganggap agamanyalah yang paling benar dan paling suci sehingga penganut agama yang berbeda dipandang lebih rendah. Keadaan tersebut juga memberikan ruang kepada para provokator untuk melakukan penghasutan yang dapat memecah belah bangsa Indonesia, dengan alasan membela agama. Guru, orang tua dan siswa SMTK SoE. Kabupaten TTS sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sudah seharusnya memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjunjung komitmen kebangsaan dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu perlu adanya partisipasi dari berbagai lembaga dan pihak, di antaranya lembaga pendidikan dan keluarga untuk menjembatani masyarakat Indonesia dapat diedukasi mengenai pentingnya menghidupi komitmen kebangsaan di tengah keberagaman beragama untuk menciptakan suasana yang penuh keharmonisan. Lembaga pendidikan melalui para guru di sekolah harus memanfaatkan berbagai kesempatan KBM . egiatan belajar mengaja. dalam kelas untuk penguatan nilai-nilai moderasi beragama, khususnya menanamkan kesadaran untuk menjunjung komitmen kebangsaan dalam beragama. Selain itu di lembaga keluarga, orang tua sangat berperan mendidik anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang menghidupi komitmen kebangsaan ketika berada di tengah masyarakat tanpa memandang Perbedaan latar belakang agama pada setiap orang yang dijumpainya. Sinergitas yang dibangun antara guru di sekolah bersama orang tua siswa menjadi sarana terciptanya penguatan nilai-nilai moderasi beragama, khususnya dalam hal memegang teguh komitmen kebangsaan di tengah kemajemukan beragama. Kedua, anti kekerasan. Imelda Boymau dan Dorce Metkono . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, sebagai tenaga pendidik wajib senantiasa mengajarkan siswa untuk menunjukkan perilaku anti kekerasan di manapun dirinya berada, termasuk ketika berada di lingkungan sekolah/dalam kelas. Sikap anti kekerasan merupakan perbuatan yang penting dan wajib diimplementasikan mulai dari lingkungan sekolah karena itu sebagai tenaga pendidik Kristen mengajarkan kepada siswa dalam setiap momen pembelajaran dalam kelas supaya menjunjung sikap anti kekerasan tanpa membedabedakan latar belakang agama teman di sekolah serta dalam pergaulannya sebagai bagian dari semangat moderasi beragama. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Guru Kristen Sudah Selayaknya Pioneer utama senantiasa menanamkan pada siswa bahwa di tengah kemajemukan masyarakat keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama hanya dapat tercipta jikalau setiap individu memiliki kesadaran untuk menghidupi sikap anti kekerasan secara utuh dalam kehidupannya. Thia Betty dan Mathelda Kiri . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, sebagai tenaga pendidik Kristen, senantiasa menggunakan model pendekatan formal serta informal dalam berkomunikasi dengan orang tua dalam upaya penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Pendekatan formal yaitu guru mengagendakan pertemuan dengan orang tua siswa secara rutin per-triwulan untuk saling mengedukasi tentang pentingnya penumbuhan karakter anti kekerasan. Selain itu pendekatan informal terjadi tanpa adanya agenda tertentu, yaitu ketika setiap momen perjumpaan antara guru dengan orang tua secara kebetulan ataupun tidak senantiasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengomunikasikan tentang perkembangan anak-anak di sekolah maupun di rumah. Model kolaborasi tersebut dipandang cukup efektif dalam memantau perkembangan implementasi nila-nilai moderasi beragama pada anak, termasuk dalam konteks menghidupi semangat anti kekerasan dalam keseharian. Yendri Feo dan Jemri Sanak . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, bentuk sinergitas lainnya dengan orang tua siswa yaitu diadakannya workshop setiap triwulan . bulan sekal. untuk berdialog dan memberikan berbagai masukan dan pengarahan, khususnya menegskan motivasi untuk lebih giat lagi mengawasi siswa/anak supaya tidak terlibat dalam bentuk kekerasan apapun. Salah satu pengarahan dari guru Kristen yang disampaikan kepada orang tua adalah masing-masing pihak bertanggung jawab memastikan siswa menjauhi berbagai bentuk tindakan kekerasan dengan menunjukkan kebaikan hati bagi sesamanya tanpa memandang perbedaan latar belakang agama tertentu. Guru Kristen bersama orang tua setelah saling memahami tentang pentingnya menjunjung sikap anti kekerasan, maka setiap pihak akan mulai menjalankan upaya penguatan moderasi beragama berbasis semangat anti kekerasan kepada siswa yang dipimpin oleh guru Kristen dalam setiap proses pembelajaran, serta kepada anak-anak di rumah yang dipimpin oleh orang tua melalui diskusi-diskusi ringan. Informasi senada juga disampaikan oleh Anjani Nabuasa dan Matheos Soares . awancara, 30 Mei 2. bahwa, sebagai orang tua mewajibkan anak-anak di rumah untuk memiliki pemahaman yang benar tentang pentingnya menjunjung sikap anti kekerasan demi menjaga persatuan dan keharmonisan di manapun dirinya berada. Berkaitan dengan penguatan moderasi beragama dalam konteks anti kekerasan maka dalam setiap diskusi di rumah, anak diarahkan serta dibimbing supaya menyadari bahwa kehidupan akan semakin sulit kalau setiap orang mempertahankan egonya masingmasing dengan berpandangan bahwa keyakinan agamanya lah yang paling benar. Keadaan tersebut dapat menciptakan hubungan sosial yang tidak kondusif antar masingmasing pemeluk agama yang berbeda keyakinan. Dengan memahami pentingnya menghidupi sikap anti kekerasan yang dibiasakan oleh anak sejak berada di rumah akan berdampak pada kebiasaannya dalam berperilaku ketika pergi beraktivitas di lingkungan masyarakat umum. Kebiasaan menghidupi sikap anti kekerasan berdampak pada banyak teman sejawat yang senang bergaul dengan anakanak yang dilandasi perasaan saling menghargai meskipun berbeda agama. Benediktus Faot dan Delfi Fallo . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, sebagai orang tua sangat bersyukur karena guru Kristen seringkali memanfaatkan lembaga pendidikan/sekolah sebagai sarana untuk memberikan pembimbingan yang menyadarkan tentang pentingnya menjunjung sikap anti kekerasan yang dimulai dari rumah dan sekolah. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Orang tua bersama guru melalui berbagai pertemuan di sekolah mengalami kesatuan perspektif/cara pandang untuk bersedia saling bergandeng tangan melalui profesi masing-masing mendidik anak untuk bertumbuh Sebagai pribadi yang anti terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk kepada kelompok yang berbeda Guru dan orang tua dalam kerja samanya telah menyepakati bahwa jikalau ada di antara anak/siswa yang bersekolah di SMTK SoE terlibat dalam tindakan kekerasan terhadap umat beragama lain maka akan dipanggil secara khusus ke sekolah untuk mendapatkan pembinaan sampai mengalami pertobatan untuk tidak mengulangi perilakunya yang salah tersebut. Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas terkait sinergitas guru dan orang tua siswa dalam penerapan nilai moderasi beragama dalam konteks penguatan sikap anti kekerasan di SMTK SoE. Kabupaten TTS maka dapat dilakukan pembahasan bahwa, setiap masyarakat Indonesia sudah selayaknya memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya menjauhi berbagai bentuk kekerasan dalam berperilaku kepada siapapun dan dalam segala aktivitas, termasuk ketika menjalani kehidupan sebagai bagian dari kelompok umat beragama (Burhanuddin & Ashoumi, 2. Sikap menjauhi kekerasan dalam konsep moderasi beragama dikenal dengan istilah anti kekerasan dan tidak memiliki niat sedikitpun untuk melakukan kejahatan kepada orang lain karena alasan perbedaan agama. Jikalau masyarakat Indonesia telah menganggap Anti Kekerasan sebagai bagian yang sangat penting di tengah kemajemukan masyarakat dan mampu mempertahankannya maka keadaan kondusif dan terciptanya kerukunan antar umat beragama pasti terealisasi. Guru dan orang tua SMTK SoE. Kabupaten TTS sebagai bagian dari masyarakat Indonesia perlu saling mengingatkan bahwa sikap anti kekerasan harus ditanamkan kepada setiap orang sehingga dapat tercipta persatuan dan kesatuan di antara sesama anak bangsa. Keadaan tersebut hanya dapat terwujud ketika setiap stakeholder, seperti Lembaga Pendidikan dan lembaga keluarga mampu bersinergi untuk melakukan penguatan nilai-nilai moderasi beragama, khususnya semangat untuk berperilaku anti kekerasan. Guru bersama orang tua perlu bekerja sama untuk mengedukasi siswa dan anakanaknya dalam setiap momen perjumpaan untuk menyadarkan menjauhi berbagai bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama demi terciptanya suasana yang kondusif diantara sesama pemeluk agama yang berbeda-beda. Guru dan orang tua berkomitmen menyadarkan siswa dan anak-anaknya supaya menyadari bahwa masyarakat Indonesia adalah warga yang religius dan telah meyakini salah satu agama sebagai kebenaran yang dianut, oleh karena itu harus dihargai serta menunjukkan cinta kasih meskipun terdapat perbedaan latar belakang agama. Ketiga, toleransi beragama. Deby Taniu dan Orince Tapatab . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, sebagai pendidik Kristen menyadari bahwa toleransi beragama sangat penting dan wajib diterapkan di lingkungan sekolah dikarenakan setiap warga sekolah seperti teman guru sejawat serta siswa berasal dari komunitas masyarakat yang memiliki keberagaman agama. Menjalankan tugas sebagai guru Kristen perlu memahami bahwa tanpa kesadaran menghidupi toleransi beragama maka hanya akan terjadi permusuhan dan pertikaian diantara sesama warga. Semangat bertoleransi juga diajarkan kepada siswa dalam kelas supaya semua pihak di lingkungan sekolah menyadari pentingnya memiliki serta terus memelihara toleransi beragama di tengah kehidupan masyarakat. Sandry Kikhau dan Imelda Boymau . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, sebagai tenaga pendidik Kristen, senantiasa menggunakan model pendekatan formal serta informal dalam berkomunikasi dengan orang tua dalam upaya penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Pendekatan formal yaitu guru mengagendakan pertemuan dengan https://jayapanguspress. org/index. php/metta orang tua siswa secara rutin per-triwulan untuk saling mengedukasi tentang pentingnya penumbuhan karakter hidup bertoleransi. Selain itu pendekatan informal terjadi tanpa adanya agenda tertentu, yaitu ketika setiap momen perjumpaan antara guru dengan orang tua secara kebetulan ataupun tidak senantiasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengomunikasikan tentang perkembangan anak-anak di sekolah maupun di rumah. Model kolaborasi tersebut dipandang cukup efektif dalam memantau perkembangan implementasi nila-nilai moderasi beragama pada anak, termasuk dalam konteks menunjukkan perilaku yang menjunjung toleransi beragama. Yusuf Nenometa dan Dorce Metkono . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, tidak mudah dapat memperjuangkan terciptanya toleransi antar umat beragama jikalau dilakukan seorang Oleh karena itu sangat membutuhkan bantuan/kerjasama dengan berbagai pihak termasuk bersama orang tua untuk menyadarkan setiap warga sekolah, termasuk siswa untuk mulai membiasakan hidup bertoleransi ketika berada di dekat orang lain yang berbeda keyakinan iman. Bentuk kerjasama yang dilakukan sebagai guru Kristen dengan orang tua untuk mendidik anak dapat menjadi manusia yang menjunjung toleransi beragama, antara lain: Guru Kristen membuat selebaran-selebaran yang berisi dorongan untuk saling menghargai antar umat beragama dan meminta bantuan orang tua untuk turut membagikan selebaran tersebut pada anak di rumah serta membagikannya juga kepada setiap warga yang dijumpainya, guru bersama orang tua saling berkomunikasi untuk mengingatkan supaya senantiasa bersedia terlibat membantu ketertiban lingkungan ketia ada umat beragama lainnya yang sedang melaksanakan perayaan hari besar keagamaan, selain itu guru Kristen juga mengundang orang tua mengikuti kegiatan sosialisasi di lingkungan sekolah yang biasanya diselenggarakan oleh Kementerian Agama terkait tema untuk hidup bertoleransi. Kerja sama yang dibangun antara guru Kristen bersama orang tua mewujudkan berbagai bentuk perilaku toleransi beragama berdampak pada terus terpeliharanya kerukunan antar umat beragama di lingkungan tempatnya berada. Informasi senada juga disampaikan oleh Fendri Talan dan Johni Ottu . awancara, 30 Mei 2. bahwa, sebagai orang tua menyadari bahwa memiliki kehidupan toleransi beragama sangat penting untuk dihidupi dan diajarkan kepada setiap anggota keluarga, termasuk kepada anak supaya menghargai setiap orang tanpa memandang latar belakang perbedaan agama. Anak-anak dari rumah yang telah dipersiapkan dengan baik untuk hidup bertoleransi maka dirinya akan terbentuk sebagai pribadi yang memiliki karakter untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti seseorang karena alasan apapun, termasuk alasan perbedaan agama. Pentingnya kehidupan toleransi untuk saling menghargai antar umat bergama mulai diajarkan dari dalam rumah sehingga menciptakan kerukunan antar sesama dan tidak lagi ada permusuhan yang dapat menciptakan suasana hubungan masyarakat yang kurang kondusif. Delfi Fallo dan Giani Nomleni . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, wujud kerja sama antara orang tua dengan guru Kristen yaitu dengan berdialog untuk merancang pengembangan sebuah kebiasaan hidup bertoleransi antar umat beragama, antara lain Kelompok orang tua secara bergotong-royong menyiapkan bingkisanbingkisan . , lalu membawanya ke sekolah kemudian dibantu oleh guru Kristen mengundang tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang agama untuk menyalurkan bantuan/ bingkisan tersebut. Kegiatan tersebut dilakukan pada saat hari raya besar keagamaan dan juga pernah dilakukan ketika ada anggota masyarakat beragama berbeda yang mengalami musibah Kegiatan yang dilakukan orang tua bersama guru Kristen tersebut sebagai bagian dari tindakan bekerja sama dalam mewujudkan toleransi antar umat beragama di lingkungan masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas terkait sinergitas https://jayapanguspress. org/index. php/metta guru dan orang tua siswa dalam penerapan nilai moderasi beragama dalam konteks penguatan sikap toleransi beragama di SMTK SoE. Kabupaten TTS maka dapat dilakukan pembahasan bahwa, masyarakat Indonesia yang memiliki kemajemukan dalam hal beragama harus menganggap penting dan menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama berbasis toleransi. Toleransi beragama mengajarkan setiap orang untuk belajar menghargai dan menghormati berbagai individu yang berbasis dialog, tanpa memandang perbedaan latar belakang agama. Semangat toleransi beragama sangat penting dan urgen untuk diterapkan secara utuh dan menyeluruh di wilayah Indonesia sehingga dapat menjadi tameng yang kokoh dalam menangkis upaya oknum-oknum tertentu yang ingin menyebarkan virus ideologi yang tidak sesuai dengan semangat persatuan (Abor, 2. Guru, orang tua dan siswa SMTK SoE. Kabupaten TTS sebagai bagian dari masyarakat Indonesia perlu melakukan berbagai upaya untuk menekan adanya sikap, pemikiran, cara pandang, maupun perilaku intoleransi di tengah masyarakat majemuk. Setiap pihak, termasuk lembaga pendidikan dan keluarga harus saling bekerja sama untuk mewujudkan semangat toleransi beragama di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah. Guru sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap siswa di sekolah perlu mengedukasi dalam setiap proses pembelajaran supaya setiap individu sungguh-sungguh menjunjung tinggi semangat toleransi beragama. Guru dapat bersinergi bersama orang tua yaitu dengan memotivasi supaya orang tua dapat memberikan pengajaran serta mengawasi perilaku anak-anaknya sehingga tidak terjerumus dalam perbuatan yang mengandung unsur intoleransi. Keempat, menghargai tradisi lokal. Imelda Boymau dan Thia Betty . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, sebagai tenaga pendidik menyadari bahwa menghidupi sikap menghargai tradisi lokal sangat penting, karena harus diakui bahwa masih terdapat beberapa anggota masyarakat yang menjalankan tradisi lokal secara spiritual, berkaitan dengan aliran kepercayaan. Menghargai tradisi lokal, termasuk kepercayaan lokal yang disebut dengan istilah Halaik/Halaika sebagai sikap yang penting karena tradisi spiritual lokal tersebut telah dilakukan sejak zaman dahulu serta dianut oleh beberapa masyarakat Sikap menghargai tersebut merupakan bagian dari menjunjung nilai-nilai moderasi beragama yang tidak memandang rendah tradisi lokas, dari penganut aliran kepercayaan tersebut. Sikap saling menghormati tersebut sangat penting karena pada umumnya masyarakat penganut aliran kepercayaan melakukan beberapa ritual dengan menyimpan sesajen . alam bentuk hewan atau makana. di beberapa benda yang dipandang keramat, seperti, pohon besar atau batu besar. Tanpa edukasi yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan bagi rekan sejawat di lingkungan sekolah maupun siswa di dalam kelas, maka bisa saja orang tidak menyadari dan melecehkan tradisi lokal terkait aliran kepercayaan sebab dipandang sesat. Perilaku yang merendahkan tradisi lokal, terkait kepercayaan lokal dapat menyebabkan pertikaian antar masyarakat karena merasa keyakinan spiritual yang dianutnya, sesuai tradisi turun-temurun mengalami pelecehan. Dorce Metkono dan Mathelda Kiri . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, sebagai tenaga pendidik Kristen, senantiasa menggunakan model pendekatan formal serta informal dalam berkomunikasi dengan orang tua dalam upaya penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Pendekatan formal yaitu guru mengagendakan pertemuan dengan orang tua siswa secara rutin per-triwulan untuk saling mengedukasi tentang pentingnya penumbuhan karakter hidup menghargai tradisi lokal. Selain itu pendekatan informal terjadi tanpa adanya agenda tertentu, yaitu ketika setiap momen perjumpaan antara guru dengan orang tua secara kebetulan ataupun tidak senantiasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengomunikasikan tentang perkembangan anak-anak di sekolah maupun https://jayapanguspress. org/index. php/metta di rumah. Model kolaborasi tersebut dipandang cukup efektif dalam memantau perkembangan implementasi nila-nilai moderasi beragama pada anak, termasuk dalam konteks menunjukkan perilaku menghargai tradisi lokal masyarakat sekitar yang terkait aktivitas ritual aliran kepercayaan setempat. Sandry Kikhau & Yendri Feo . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, upaya mengedukasi masyarakat untuk menghargai tradisi lokal biasanya dilakukan oleh guru Kristen yaitu mengadakan kegiatan dengan melibatkan orang tua dan tokoh adat, yang berbasis dialog bertujuan untuk mensosialisasikan tentang nilai-nilai modernisasi beragama, termasuk menjunjung perilaku menghargai tradisi lokal seperti aliran kepercayaan yang dianut beberapa masyarakat. Kegiatan sosialisasi tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Agama untuk dilakukan sekolah-sekolah keagamaan. Kegiatan sosialisasi tentang moderasi beragama di lingkungan sekolah membuka wawasan baru sehingga guru Kristen dan orang tua memiliki konsep/cara pandang yang sama untuk menjadi pihak terdepan dalam menciptakan kerukunan di tengah masyarakat dengan menghargai tradisi lokal. Informasi senada juga disampaikan oleh Edward Selan dan Matheos Soares . awancara, 30 Mei 2. bahwa, sebagai orang tua senantiasa mengajarkan anak-anak di rumah bahwa sangat penting menghargai tradisi lokal, termasuk kepercayaan lokal yang dijalankan beberapa anggota masyarakat. Selain itu terdapat beberapa anggota keluarga/kerabat dekat juga sebagai penganut kepercayaan lokal, yang patut dihargai dan dihormati pilihan keyakinan imannya. Orang tua bertanggung jawab untuk mendidik anak dan setiap anggota keluarga untuk menyadari bahwa terdapat keberagaman agama dan aliran kepercayaan di tengah masyarakat sehingga harus mampu merangkul setiap orang tanpa membedakan keyakinan spiritual yang dianutnya. Robin Taniu & Johni Ottu . awancara, 30 Mei 2. menjelaskan, aktivitas kerjasama oleh orang tua dengan guru Kristen terkait upaya menanamkan nilai-nilai menghargai tradisi lokal biasanya dilakukan dengan orang tua . ebagai tokoh masyarakat dan tokoh ada. mengundang berbagai stakeholder, termasuk guru Kristen untuk berkumpul bersama di rumah adat saling berdiskusi supaya dapat melakukan kegiatan kemasyarakatan supaya mempublikasikan keunikan tradisi lokal sebagai bagian dari kearifan lokal yang dapat dibanggakan secara nasional. Orang tua bersama guru Kristen yang telah memiliki konsep dan cara pandang yang sama saling bahu-membahu mengedukasi anak di rumah dan siswa di sekolah untuk memiliki semangat yang sama menciptakan kerukunan berbasis menjunjung sikap menghormati tradisi lokal. Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas terkait sinergitas guru dan orang tua siswa dalam penerapan nilai moderasi beragama dalam konteks penguatan sikap menghargai tradisi lokal di SMTK SoE. Kabupaten TTS maka dapat dilakukan pembahasan bahwa, setiap masyarakat Indonesia perlu menyadari bahwa sangat penting menghargai budaya dan tradisi lokal di seluruh wilayah NKRI sebagai sebuah keunikan dan kekhasan yang hanya dimiliki oleh daerah-daerah tertentu (Junaedi, 2. Tradisi lokal bukan hanya berkaitan dengan adat istiadat masyarakat lokal, namun juga memiliki keterkaitan dengan berbagai aliran kepercayaan lokas yang dianut oleh masyarakat di Indonesia. Menghargai tradisi lokal, khususnya berkaitan dengan aliran kepercayaan kelompok masyarakat lainnya menunjukkan kedewasaan berpikir dan berperilaku dari seseorang karena mengajarkan dirinya untuk memahami bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar serta kaya dengan beragam tradisi yang telah terpelihara secara turun-temurun. Upaya melestarikan budaya dan tradisi lokal harus menjadi semangat setiap warga Indonesia supaya dapat menunjukkan pada sebagian besar masyarakat dunia bahwa Indonesia adalah negara yang sangat menghargai keberagaman tradisi serta tidak pernah https://jayapanguspress. org/index. php/metta saling merendahkan. Sikap yang tidak menghargai dan menghormati tradisi lokal, khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan lokal hanya akan menimbulkan perpecahan karena masing-masing pihak beranggapan bahwa dirinya hanya menjalankan rutinitas ritual serta peribadatannya. Jikalau perpecahan karena adanya sikap merendahkan tradisi lokal sampai terjadi di wilayah Indonesia, berarti keadaan tersebut tidak sesuai dengan semangat moderasi beragama (Akhmadi, 2. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan guru Kristen dan orang tua siswa dapat diidentifikasi bentuk konkret sinergitas dalam upaya penguatan nilai-nilai moderasi beragama, antara lain. Guru mengagendakan pertemuan dengan orang tua siswa untuk berdialog secara rutin per-triwulan sehingga dapat saling mengedukasi tentang pentingnya penumbuhan karakter hidup bertoleransi. Guru memiliki grup WA dengan orang tua sehingga memanfaatkan media sosial tersebut untuk saling memotivasi serta mengawasi agar anak-anak dpat memiliki perilaku etika-moral yang mengharga sesama, tanpa membeda-bedakan latar belakang agama yang ada. Orang tua berperan aktif dengan segera membuat laporan pada guru jikalau ada di antara anak-anaknya yang mulai memperlihatkan perilaku ekstremisme beragama. Orang tua dan guru berpartisipasi langsung dalam pendidikan karakter anak melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah, seperti nonton bareng film keluarga, family gathering, yang berbasis toleransi beragama, dan sebagainya. Selanjutnya guru dan orang tua juga bekerja sama dalam mengawasi sosial media, game online, dan tontonan yang dikonsumsi siswa/anak di rumah sehingga tidak terjerumus dalam tindakan kekerasan yang dilihat dari berbagai media digital yang ada. Guru dan orang tua siswa SMTK SoE. Kabupaten TTS sebagai bagian dari masyarakat Indonesia perlu secara konsisten bekerja sama untuk mendorong terwujudnya penguatan nilai-nilai moderasi beragama, terkait penghargaan terhadap tradisi dan aliran kepercayaan lokal perlu diajarkan oleh berbagai stakeholder, seperti lembaga pendidikan dan lembaga keluarga. Lembaga pendidikan melalui para guru perlu berperan aktif mendidik siswa-siswi supaya memiliki pemahaman bahwa setiap warga Indonesia memiliki hak yang setara dalam menganut dan menjalankan kepercayaan spiritual yang Guru dan orang tua harus mengedukasi siswa dan anak-anaknya supaya menjadi pribadi yang bangga tentang kekayaan alam Indonesia serta keberagaman tradisi lokal di berbagai daerah yang masih terjaga dengan penuh kerukunan di antara sesama anak bangsa hingga saat ini (Sunaryanti et al. , 2. Upaya mengimplementasikan prinsip moderasi beragama di tengah kemajemukan siswa SMTK SoE telah dicanangkan melalui kurikulum ekstrakurikuler dan pembelajaran di kelas sehingga membuahkan keberhasilan dalam meningkatkan toleransi yang ditunjukkan perilaku siswa yaitu menguatnya perilaku saling tolong-menolong tanpa membeda-bedakan agama, memiliki kemampuan menyaring informasi elektronik supaya tidak terpapar ideologi radikalisme agama . iswa sadar berkonsultasi terlebih dahulu pada guru dan orang tu. , siswa ikut menjaga keamanan saat perayaan hari besar keagamaan lainnya, dan lain sebagainya. Kesimpulan Menjunjung nilai-nilai moderasi beragama menjadi salah satu kunci strategis terjalinnya persatuan dan kesatuan di antara masyarakat Indonesia yang memiliki keberagaman agama. Upaya penguatan nilai-nilai moderasi beragama bukanlah hal yang mudah untuk disebarluaskan bagi seluruh rakyat Indonesia, karena itu sangat membutuhkan peran dan keterlibatan dari berbagai elemen serta lembaga masyarakat. Pada konteks ini lembaga yang dapat terlibat dalam penguatan nilai-nilai moderasi beragama adalah lembaga pendidikan melalui pengajaran guru di sekolah kepada siswa https://jayapanguspress. org/index. php/metta serta keluarga melalui orang tua yang mendidik anak-anaknya untuk menghargai kemajemukan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model atau pola sinergitas yang diterapkan guru Kristen dan orang tua siswa dilakukan menggunakan model pendekatan formal serta informal dalam berkomunikasi dalam upaya penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Pendekatan formal yaitu guru mengagendakan pertemuan berbasis dialog dengan orang tua siswa secara rutin per-triwulan sehingga dapat saling mengedukasi tentang pentingnya penumbuhan karakter hidup sesuai prinsip moderasi beragama. Selain itu pendekatan informal terkadang dapat terjadi tanpa adanya agenda tertentu, yaitu ketika setiap momen perjumpaan antara guru dengan orang tua secara kebetulan ataupun tidak senantiasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengomunikasikan tentang perkembangan anak-anak di sekolah maupun di rumah. Model kolaborasi tersebut dipandang cukup efektif dalam memantau perkembangan implementasi nila-nilai moderasi beragama pada siswa/anak secara holistik. Guru Kristen dan orang tua siswa dapat bersinergi untuk melakukan penguatan moderasi beragama bagi siswa/anak-anak yang dibinanya sehingga nilai-nilai kebaikan tersebut untuk terciptanya kerukunan dapat tertanam secara optimal. Kesadaran tersebut ternyata juga diimplementasikan secara tepat oleh guru Kristen dan orang tua siswa di SMTK SoE yang telah bersinergi mengimplementasikan penguatan moderasi beragama berbasis indikatornya yaitu. Komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi beragama, dan perilaku menghargai tradisi lokal. Penguatan moderasi beragama yang dilakukan oleh guru Kristen dan orang tua telah membuka wawasan siswa untuk senantiasa menjaga kerukunan antara umat beragama sehingga bersedia membuka diri turut berperan menjalin kedamaian dan kenyamanan di tengah kemajemukan beragama. Daftar Pustaka