Editorial: Terorisme dalam Berbagai Perspektif Editorial Terorisme dalam Berbagai Perspektif erorisme merupakan sebuah masalah besar bagi berbagai negara, termasuk Indonesia. Aksi teror pertama di Indonesia pada tahun 2017 terjadi tanggal 27 Februari, ketika sebuah bom meledak di Taman Pandawa kawasan Cicendo. Bandung. Pada tanggal 24 Mei 2017 pukul 21. 00 WIB, terjadi serangan bom bunuh diri di halte bus TransJakarta Kampung Melayu. Jakarta Timur. Aksi ini terjadi hampir bersamaan dengam Bom Manchester. Inggris dan serangan ISIS di kota Marawi. Filipina. Kemudian pada bulan Juni 2017, terjadi dua aksi teror di Sumatera Utara dan Blok M. Jakarta. Bermunculannya aksi-aksi teror ini beriringan pula dengan data bahwa sepanjang tahun 2016, sebanyak 600 WNI berangkat ke Suriah untuk bergabung ISIS dan Jabhat Al Nusra . filiasi Al Qaid. Terorisme, tak pelak lagi, merupakan isu penting yang menimbulkan keresahan banyak pihak. Kata teror berasal dari bahasa Latin AoterrereAo yang bermakna menakut-nakuti. Penggunaan kata AoterorAo pertama kalinya merujuk pada era Revolusi Perancis. Pada tahun-tahun pertama kemenangan Revolusi Perancis . , pemerintah yang baru terbentuk berusaha mengontrol populasi dengan cara-cara kekerasan. Siapa saja yang dicurigai berkonspirasi melawan revolusi menghadapi hukuman mati. Sejarawan menyebut era ini sebagai Aoreign of terrorAo (Lutz and Lutz, 2004:. Dalam Deklarasi Aksi Menghapus Terorisme Internasional (Declaration on Measures to Eliminate International Terrorism Act. yang dirilis Majelis Umum PBB pada 1994, disebutkan bahwa Aosegala tindakan kriminal dimaksudkan atau diperhitungkan untuk memprovokasi ketakutan . tate of terro. di tengah masyarakat, atau di tengah sekelompok orang tertentu, atau orang-orang tertentu, yang bertujuan politik, dalam keadaan apa pun tidak dapat dibenarkan. baik itu demi pertimbangan politik, filosofis, ideologi, rasial, etnis, agama atau apapun lainnya. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Dina Y. Sulaeman Lutz and Lutz . mendefinisikan terorisme sebagai sebuah aktivitas yang memenuhi sejumlah indikator, yaitu . melibatkan tujuan dan motif politik, . melakukan kekerasan atau mengancam akan melakukan kekerasan, . didesain untuk menciptakan ketakutan di tengah audiens yang menjadi target yang lebih luas daripada korban langsung, . dilakukan oleh organisasi yang terindentifikasi, . melibatkan aktor non-negara atau aktor-aktor baik pelaku, korban, atau keduanya, . dilakukan untuk meningkatkan power organisasi. Sejarah umat manusia diwarnai dengan berbagai aksi teror yang dilakukan oleh berbagai pihak, namun perhatian publik modern terhadap terorisme semakin intens pasca teror 9 September 2001, yang menurut pemerintah AS dilakukan oleh non-state actor. Al Qaida. Aksi terorisme 911 mendapatkan perhatian sangat luas disebabkan oleh semakin canggihnya teknologi komunikasi sehingga informasi dengan cepat tersebar luas ke seluruh dunia. Teknologi komunikasi juga dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi teror untuk menyebarluaskan ketakutan ke tengah publik Khususnya sejak tahun 2012, yaitu sejak dimulainya konflik bersenjata di Suriah, berbagai organisasi teror . filiasi Al Qaida dan ISIS) secara aktif merekam aksiaksi teror mereka dan mengunggahnya di media sosial. Di era ketika teknologi komunikasi telah meningkat pesat, publisitas menjadi kekuatan utama dari terorisme. Aksi teror 9 September 2001 . mendapatkan liputan secara luas dari media massa yang sudah dibangun berjejaring global, sehingga publik di berbagai penjuru dunia dapat menyaksikan pemberitaannya secara real time. Atas alasan ini. Weinberg dan Eubank menyatakan bahwa terrorism is a kind of politically motivated violence in which publicityAisending a messageAiplays a crucial role . Dengan kata lain, terorisme adalah taktik komunikasi politik yang menggunakan kekerasan, yang sangat bergantung kepada alat komunikasi modern seperti televisi dan internet untuk mengirimkan pesan mereka kepada masyarakat dengan harapan bahwa pesan itu akan mempengaruhi emosi publik dan mengubah perilaku mereka (Weinberg dan Eubank, 2006:. Tujuan atau motif politik yang merupakan karakteristik utama aksi terorisme dapat dilihat dari berbagai aksi teror yang terjadi sepanjang sejarah. Bahkan mulai dari aksi teror pada era Revolusi Perancis juga dilakukan untuk tujuan politik, yaitu menghilangkan ancaman terhadap pemerintahan yang baru terbentuk. Khusus untuk aksi-aksi teror yang dilakukan kelompok-kelompok Muslim, seperti Al Qaida atau ISIS, meskipun menggunakan narasi agama, misalnya perlawanan kepada masyarakat Barat yang AokafirAo . erorisme Al Qaida di AS), atau pertempuran melawan Muslim yang AosesatAo atau AokafirAo . erorisme ISIS di Suria. , namun motif utamanya Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Editorial: Terorisme dalam Berbagai Perspektif lagi-lagi adalah politik. Demikian pula aksi teror yang dilakukan kelompok Yahudi ekstrim di Palestina tahun 1947, bertujuan untuk mendirikan negara khusus Yahudi. Dengan demikian, kelompok teror meski menggunakan narasi agama, tapi tujuan mereka adalah mengubah kebijakan politik di dalam negeri dimana mereka berada, menginginkan perubahan kepemimpinan negara agar sesuai dengan standar agama versi mereka, membentuk sebuah negara teokrasi dimana pemimpin agama memiliki hak prerogatif yang paling tinggi, atau bahkan membentuk pemerintahan global yang membubarkan batas-batas negara yang sudah ada (Lutz and Lutz, 2006:. Meskipun aksi-aksi teror itu dilakukan oleh aktor non-negara, peran aktor negara sangat signifikan. Hal ini bisa dilihat dalam kasus aksi teror di Suriah. ISIS dan afiliasi Al Qaida diketahui memiliki senjata buatan Eropa Timur. Pelacakan yang dilakukan oleh Balkan Investigating Reporting Network (BIRN), selama 2012-2016 telah terjadi penjualan senjata dari Eropa timur ke Arab Saudi. Yordania. UAE, dan Turki yang dikenal bukan pengguna senjata dari Eropa Timur. Senjata-senjata itu kemudian terdeteksi berada di tangan milisi bersenjata Suriah, antara lain ISIS dan afiliasi Al Qaida (Marzouk, et al. Selain itu, sebagaimana yang ditulis Gilpin . , keputusan AS untuk melancarkan perang ke Irak . ang diklaim sebagai bagian dari War on Terro. diambil atas dominasi kelompok ultra-nationalis AS yang bertujuan untuk mengontrol cadangan minyak di Timur Tengah dan mempertahankan dominasi global AS (Gilpin, 2005:. Dengan demikian, terorisme dapat dikaji dari berbagai perspektif, mulai dari agama, dinamika politik Timur Tengah baik lokal maupun regional, ekonomi-politik global, peran media massa, dan lain-lain. Dalam Jurnal ICMES Vol. 1 No. 2 ini, disajikan lima artikel yang membahas terorisme dari berbagai sudut pandang. Reza Bakhtiar Ramadhan dan Irham Shofwan dalam artikel berjudul AuTerorisme Di Mesir: Analisis Terhadap Narasi Terorisme Pasca Arab SpringAy menulis mengenai eskalasi aksi-aksi terorisme di Timur Tengah, khususnya di Mesir. Peningkatan aksi teror di Mesir semakin masif pasca lengsernya Muhammad Mursi dari kursi Tulisan ini menganalisis transformasi kelompok-kelompok teroris tersebut, misalnya Anshar Bayt Al Maqdis yang kemudian bergabung dengan ISIS dan berganti nama menjadi Wilayat Sinai. Dengan mengaplikasikan teori instrumental dan organisasional, tulisan ini mengemukakan temuan bahwa kelompok ABM merupakan transformasi dari kelompok teror yang sudah ada sebelumnya dan bisa berkembang berkat proses delivering benefits, afiliasi, kompetisi, rekrutmen anggota Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Dina Y. Sulaeman yang menggunakan doktrin agama dan memanfaatkan kondisi ekonomi dan politik di kawasan Sinai. Artikel kedua ditulis oleh Muhammad Ahalla Tsauro dengan tajuk AuMedia dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom ManchesterAy. Dalam tulisan ini kita dapat melihat adanya hubungan saling mempengaruhi dan saling memanfaatkan antara media massa dan terorisme. Studi kasus yang diambil adalah rangkaian teror di Paris . dan pengeboman di Manchester . karena kedua kasus ini menjadi isu global yang melibatkan jaringan pemberitaan global. Penulis menggunakan teori Efek CNN dan analisis terhadap pemberitaan beberapa media, penulis membuktikan bahwa terorisme telah dimanfaatkan sebagai sumber profit bagi korporasi media global dan sebaliknya, media justru membantu kelompok teror dalam memperluas pengaruh dan ancamannya terhadap masyarakat global. Kemajuan teknologi informasi membuat media, sadar atau tidak, justru menjadi Aoteman terbaikAo bagi kelompok teroris karena medialah yang menjadi penyampai pesan utama mereka. Faktor teks agama dalam aksi-aksi terorisme yang dilakukan oleh sebagian kelompok-kelompok teror, terutama yang mengatasnamakan Islam, tidak bisa Mereka memang memberikan teks-teks agama sebagai justifikasi bagi aksi-aksi teror yang mereka lakukan. Untuk itu, amat penting dipelajari kritik terhadap teks-teks agama itu. Dengan paradigma dasar bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, tentu sulit diterima adanya ajaran teror dalam agama. Dalam Jurnal ICMES Vol. 1 No. 2 ini disajikan dua artikel yang membahas agama dan terorisme. Pertama adalah karya Ahmad Muhdhor dengan judul AuTerorisme Dan Asumsi Takfirisme: Telaah Atas Pandangan Kritis HAtim Al-AoAwnAy. Artikel ini membahas paradigma yang selama ini digunakan oleh kelompok-kelompok teror yang mengatasnamakan Islam, yaitu takfirisme, yang memandang bahwa membunuh pihak lain yang dianggap kafir adalah sebuah tugas agama. Dalam artikel ini dibahas secara deskriptif kritikan seorang peneliti asal Arab Saudi. HAtim al-AoAwn terhadap berbagai asumsi takfirisme. Menurut pemaparan al-AoAwn, pemikiran takfirisme memang ada dalam rumusan para tokoh Wahabisme di Arab Saudi sejak era Muhammad bin Abdul WahhAb. Yang kedua adalah artikel karya Selvia Santi yang berjudul AuTerorisme Dan Agama Dalam Perspektif Charles KimballAy. Kimball adalah seorang pakar perbandingan agama yang pernah bertugas di wilayah-wilayah konflik di Timur Tengah. Artikel ini secara khusus membahas pemikiran Charles Kimball yang tertuang dalam bukunya AuWhen Religion Becomes EvilAy untuk menjawab pertanyaan penelitian, benarkah Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Editorial: Terorisme dalam Berbagai Perspektif agama telah mendorong kelompok-kelompok teroris untuk melancarkan aksiaksi teror mereka? Menurut Kimball, ada lima tanda dimana pemahaman agama dipastikan telah menyimpang, yaitu klaim kebenaran mutlak, kepatuhan buta, membangun zaman ideal, tujuan menghalalkan segala cara, dan menyerukan Aoperang suciAo. Dengan mempelajari kelima tanda ini, publik dapat mendeteksi bagaimana para pelaku teroris pada dasarnya memanfaatkan agama sebagai justifikasi bagi aksi kekerasan yang mereka lakukan. Artikel kelima dalam jurnal ini adalah AuPerang Global Melawan Terorisme dalam Perspektif SekuritisasiAy yang ditulis oleh Dina Yulianti. Global War on Terror (GWOT) telah dicanangkan AS sejak 17 tahun silam, yaitu pasca aksi teror 911. Namun demikian hingga kini dunia masih belum aman karena aksi-aksi teror terus terjadi di berbagai negara. Bahkan kelompok-kelompok teroris baru bermunculan, antara lain IS (Islamic Stat. Dalam berbagai pidato yang dikemukakan oleh pemerintah AS, terorisme selalu diposisikan sebagai sumber ancaman bagi AS khususnya, dan dunia pada umumnya. Dalam artikel ini, penulis akan membahas fenomena ini dengan menggunakan teori sekuritisasi untuk meneliti motif di balik narasi keamanan yang disampaikan oleh para elit AS dalam melancarkan GWOT. Temuan dalam artikel ini adalah pemerintah AS menggunakan narasi sekuritisasi demi menakuti-nakuti publik dunia . olitics of fea. sehingga negara-negara bersedia bergabung dalam berbagai operasi militer GWOT. Kondisi ini memberikan keuntungan finansial bagi industri militer AS serta mempertahankan dominasi AS di tengah percaturan politik Dengan membahas terorisme dari berbagai sudut pandang ini. ICMES berharap pemahaman publik menjadi lebih luas sehingga langkah-langkah pencegahan terorisme tidak terfokus pada hal-hal tertentu sambil mengabaikan hal-hal lainnya. Dina Y. Sulaeman Direktur Indonesia Center for Middle East Studies Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Dina Y. Sulaeman Daftar Pustaka