Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN ASI: STUDI TAFSIR SHAFWAH AT-TAFASR Yosella Cindy Aprilia Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung yosellacindyaprilia@gmail. Bukhori Abdul Shomad Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung bukhoriabdulshomad@radenintan. Fitri Windari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung fitriwindari@radenintan. Abstrak Menyusui merupakan tahap awal yang esensial dalam mewujudkan kehidupan yang sehat dan sejahtera bagi anak. Namun, sebagian ibu, khususnya dari kalangan sosialita dan ibu muda generasi Z, enggan menyusui karena kekhawatiran terhadap perubahan bentuk tubuh, terutama peningkatan berat badan, sehingga memilih untuk memberhentikan penyusuan dan menjadikan susu pabrikan sebagai Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam perilaku ibu yang enggan menyusui dengan alasan tersebut, melalui pendekatan kitab Shafwah At-TafAsr terhadap ayat-ayat Al-QurAoan yang berkaitan dengan pemberian ASI. Artikel ini menggunakan metode tafsir maudhAo . dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. Pengumpulan data dengan berbagai sumber literatur seperti Al-QurAoan, kitab tafsir, buku ilmiah, jurnal, dan skripsi yang relevan. Sumber-sumber yang telah dirujuk kemudian dianalisis melalui proses membaca dan mengutip untuk merumuskan kesimpulan penelitian. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa menyusui selama dua tahun merupakan wujud tanggung jawab dan kasih sayang ibu yang sebaiknya tidak dihentikan secara sepihak tanpa persetujuan suami serta mempertimbangkan kemaslahatan anak, terutama bukan semata-mata karena alasan estetika tubuh. Menyusui justru memberikan manfaat kesehatan bagi ibu, seperti menurunkan risiko kanker dan mempercepat proses pemulihan setelah melahirkan. Kata Kunci: ASI. Perilaku Ibu. Tafsir Shafwah At-TafAsr Abstract Breastfeeding is an essential early stage in achieving a healthy and prosperous life for children. However, some mothers particularly from the socialite circle and Generation Z young mothers are reluctant to breastfeed due to concerns about changes in body shape, especially weight gain. As a result, they choose to stop breastfeeding and opt for formula milk as an alternative. This study aims to examine in depth the behavior of mothers who are unwilling to breastfeed for such reasons, through the lens of Shafwah At-TafAsr and the interpretation of QurAoanic verses related to breastfeeding. This article uses the maudhAo . method of QurAoanic interpretation with a library research approach. Data were collected from various literature sources such as the QurAoan, tafsir books, academic texts, journals, and relevant theses. These sources were then analyzed through reading and quoting processes to formulate the research conclusions. The results of this study conclude that breastfeeding for two full years is a form of maternal responsibility and affection that should not be discontinued unilaterally without the husband's consent and without considering the child's best interest especially not solely for aesthetic reasons. In fact, breastfeeding provides health benefits for mothers, including lowering cancer risks and accelerating postpartum recovery. Keywords: Breastfeeding. Maternal Behavior. Tafsir Shafwah At-TafAsr PENDAHULUAN Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Air Susu Ibu (ASI) merupakan cairan emulsi yang dihasilkan oleh kelenjar payudara dan mengandung berbagai zat penting seperti protein, laktosa, dan garam ASI sangat penting karena ASI merupakan sumber nutrisi terbaik dan paling lengkap bagi bayi. ASI mengandung antibodi yang berperan dalam memberikan perlindungan bagi bayi terhadap berbagai infeksi, mendukung perkembangan otak, serta memperkuat sistem imun. Pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama, yang kemudian diteruskan hingga anak berusia dua tahun, membawa dampak positif yang signifikan, baik untuk pertumbuhan dan kesehatan bayi maupun bagi ibu, seperti mempercepat pemulihan pascamelahirkan dan mengurangi risiko terkena kanker payudara serta ovarium. Pentingnya ASI didukung oleh lembaga internasional seperti UNICEF. WHO, serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pemerintah Indonesia menganjurkan agar bayi menerima ASI eksklusif selama enam bulan pertama sejak kelahirannya, tanpa disertai asupan makanan atau minuman lain, kecuali jika berupa obat, vitamin, atau mineral yang diperlukan. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) memiliki peran esensial dalam mendukung proses tumbuh kembang bayi. Namun, dalam konteks masyarakat modern, sebagian ibu, terutama ibu sosialita dan ibu muda generasi Z memiliki persepsi keliru bahwa susu pabrikan lebih unggul dibandingkan ASI alami yang diproduksi oleh tubuh mereka. Salah satu pertimbangan yang mendorong keputusan tersebut adalah keinginan mempertahankan postur tubuh agar tetap langsing dan menghindari kenaikan berat badan yang dianggap merusak penampilan. Dalam beberapa kasus, ibu sosialita dan ibu muda generasi Z beranggapan bahwa pemberian susu pabrikan memungkinkan mereka untuk lebih mudah mengontrol asupan kalori dengan baik serta mempercepat pemulihan tubuh setelah melahirkan. Padahal, kekhawatiran tersebut sering kali didasari oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang manfaat dan dampak positif menyusui terhadap kesehatan ibu dan bayi. Kajian mengenai perilaku pemberian ASI dalam perspektif Tafsir Shafwah AtTafAsr hingga saat ini telah banyak dibahas oleh para cendekiawan dan beberapa diantaranya ada tiga aspek untuk dilakukan penelitian lebih mendalam. Pertama. Ela Amalia et al. AuEdukasi Kandungan Asi Dan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi,Ay LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat 5, no. , h. Asnawati Asnawati. Ibrahim Bafadhol, and Ade Wahidin. AuPemberian Asi Pada Anak Dalam Perspektif Al-Qur`an,Ay Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 4, no. , h. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 pemberian ASI pada anak dalam perspektif Al-QurAoan, menjelaskan konsep pemberian ASI menurut Ibn Katsir. 3 Kedua. Kemudian mengenai ASI bagi bayi dalam perspektif Al-QurAoan . nalisis kesehatan dan Tafsir Al-Misba. membahas mengenai ASI dalam bidang ilmu kesehatan dan menganalisa ayat-ayat ASI dalam Al-QurAoan menurut Tafsir Al-Misbah. 4 Ketiga, terkait pengetahuan dan sikap ibu menyusui terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif, ditemukan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan praktik pemberian ASI eksklusif, sedangkan sikap tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku tersebut di Puskesmas Bahu. Kecamatan Malalayang. Kota Manado. 5 Penelitian terdahulu terkait perilaku pemberian ASI lebih menyoroti pentingnya pemberian ASI bagi bayi. Karena ASI memiliki nilai penting secara spiritual, medis, dan sosial, serta dipengaruhi oleh pemahaman, sikap, dan pengetahuan ibu. Penelitian ini difokuskan pada analisis perilaku ibu sosialita dan ibu muda generasi Z yang enggan dalam memberikan ASI disebabkan ingin menjaga postur tubuhnya melalui pendekatan ilmiah dan dikaitkan dengan penafsiran ayat-ayat ASI dalam kitab Shafwah At-TafAsr. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjadi landasan bagi penelitian selanjutnya sekaligus memberikan kontribusi sebagai sumber pengetahuan bagi para ibu mengenai pentingnya pemberian ASI. Penelitian ini diharapkan dapat mengurangi pandangan negatif terhadap praktik menyusui, khususnya anggapan keliru bahwa menyusui menyebabkan kegemukan. Kekhawatiran terkait perubahan postur tubuh akibat menyusui seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghindari pemberian ASI, melainkan mendorong kesadaran akan pentingnya menyusui secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Tafsir Shafwah At-TafAsr karya Syaikh Muhammad Ali As-Shabuni dipilih dalam penelitian ini karena tergolong tafsir kontemporer yang cukup dikenal luas. Kitab ini merangkum pokok-pokok penting dari sejumlah tafsir klasik seperti Tafsir Thabari. Al-Kasyaf. Tafsir Qurthubi. Al-Alusi. Ibn Katsir, dan Al-Bahr Al-Muhith. Selain itu. Asnawati. Bafadhol, and Wahidin. Nur Ajijah Harahap. AuASI Bagi Bayi Dalam Perspektif Al-QurAoan (Analisis Kesehatan dan Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraisy Shiha. Skripsi UIN Sumatera Utara, 2. Theafillia GB Haurissa. Iyam Manueke, and Kusmiyati Kusmiyati. AuPengetahuan Dan Sikap Ibu Menyusui Dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif,Ay JIDAN (Jurnal Ilmiah Bida. 6, no. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 kitab Shafwah At-TafAsr dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer karena gaya penulisannya yang ringkas, sistematis dan mudah dipahami. Kebutuhan masyarakat saat ini cenderung mengarah pada literatur yang praktis, efisien dan tidak bertele-tele, mengingat keterbatasan waktu serta meningkatnya akses terhadap informasi yang cepat. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam tafsir ini adalah metode maudhAo. Dengan menggunakan tafsir ini maka permasalahan yang diangkat ialah Pertama, bagaimana penafsiran Tafsir Shafwah At-TafAsr terhadap ayat-ayat tentang ASI dalam Al-QurAoan? Kedua, bagaimana gambaran perilaku normatif ibu menyusui menurut Tafsir Shafwah At-TafAsr? dua rumusan masalah ini, menjadi acuan penelitian dalam menganalisis hubungan antara perilaku ibu dalam pemberian ASI dengan ajaran Islam sebagaimana ditafsirkan dalam kitab Shafwah At-TafAsr, penafsiran ayat-ayat AlQur'an tentang pemberian ASI menurut Tafsir Shafwah At-TafAsr. Pendekatan ini belum banyak dibahas secara komprehensif dalam penelitian sebelumnya, yang cenderung memisahkan antara aspek kesehatan dan keagamaan dalam konteks pemberian ASI. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam memahami bagaimana faktor-faktor ibu sosialita dan ibu muda generasi Z dalam pemberian ASI. Penelitian ini penting dilakukan agar dapat mendorong praktisi pemberian ASI yang optimal dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk melahirkan generasi sehat, kuat dan cerdas sesuai dengan tuntunan prinsip-prinsip kesehatan dan ajaran islam. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode tafsir maudhAo . , yang dimulai dengan mengidentifikasi dan mengumpulkan ayat-ayat Al-QurAoan yang berkaitan dengan menyusui, seperti Q. Al-Baqarah . : 233. Luqman . : 14, dan Q. Al-Ahqaf . : 15. Ayat-ayat tersebut diklasifikasikan berdasarkan tema inti, seperti durasi menyusui, kewajiban ibu, dan prinsip musyawarah dalam keluarga. Selanjutnya, ayat-ayat yang telah diklasifikasi dianalisis dengan pendekatan tafsir tematik menggunakan kitab Shafwah At-TafAsr karya Muhammad Ali As-Shabuni, untuk menggali pemahaman normatif dan nilai moral yang terkandung dalam ayat. Jenis penelitian menggunakan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. Data diperoleh melalui telaah terhadap berbagai sumber literatur seperti Al-QurAoan, kitab Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 tafsir . hususnya Shafwah At-TafAs. , buku-buku ilmiah, jurnal, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan dan berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam kajian ini. PEMBAHASAN Pengertian dan Urgensi ASI Air Susu Ibu (ASI) merupakan cairan hasil kelenjar payudara ibu yang secara alami mengandung nutrisi optimal untuk memenuhi kebutuhan bayi. 6 Kandungannya mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi serta memiliki komposisi gizi yang seimbang, sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI juga tersedia secara langsung dan dapat diberikan kapan pun bayi membutuhkannya. ASI Eksklusif menurut WHO (World Health Organizatio. adalah praktik menyusui bayi secara eksklusif dengan hanya memberikan ASI selama enam bulan pertama kehidupannya, tanpa tambahan makanan maupun minuman lain, termasuk air Setelah itu. ASI tetap dianjurkan hingga anak berusia dua tahun, disertai dengan pemberian makanan pendamping. 7 Setelah bayi berusia enam bulan, bayi mulai dikenalkan pada makanan tambahan selain ASI, sementara pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga usia dua tahun. ASI mengandung berbagai mikronutrien yang berperan dalam memperkuat sistem imun bayi. Selain itu, pemberian ASI selama minimal enam bulan juga berkontribusi dalam mencegah risiko obesitas, karena kandungan nutrisinya membantu mengatur pertumbuhan lemak secara seimbang. Definisi ini sejalan dengan makna ASI eksklusif sebagaimana dijelaskan dalam Riskesdas, yaitu praktik pemberian ASI tanpa memberikan makanan atau minuman tambahan apa pun kepada bayi, termasuk air putih, selain ASI itu sendiri. Air Susu Ibu memiliki urgensi yang tinggi sebagai asupan utama bagi bayi karena kandungannya yang lengkap, kaya akan zat gizi, mudah dicerna, dan Fitria Hayu Palupi. Dkk. "Mengenal ASI Eksklusif. Teknik Dan Pijat Oksitosin Untuk Meningkatkan Produksi ASI" (Purbalingga: Eureka Medika Aksara, 2. , h. Wilda. Sarlis, and Mahera, "Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Penurunan Berat Badan Ibu Menyusui. " Jurnal Endurance 3, no. , h. Kristiyanasari. AuNeonatus dan Asuhan Keperawatan AnakAy, (Yogyakarta: Nuha Medika, 2. , h. Kementrian Kesehatan. AuRiset Kesehatan Dasar Tahun 2010Ay, (Jakarta: Kementrian Kesehatan, 2. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 mengandung berbagai komponen penting yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara maksimal. 10 Selain itu. ASI mengandung DHA . ecosahexaenoic aci. dan ARA . rachinoid aci. yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan serta perkembangan sistem saraf. ASI juga diperkaya dengan immunoglobulin, yaitu protein yang berfungsi melawan infeksi dan bertindak sebagai antibiotik alami bagi tubuh bayi. 11 Ini menunjukan bahwa ASI eksklusif merupakan bentuk optimal pemberian nutrisi pada bayi baru lahir, seperti yang direkomendasikan oleh WHO dan didukung oleh data nasional seperti Riskesdas. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya, ditunjukan untuk memberikan perlindungan optimal terhadap infeksi serta mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan bayi secara alami. Menurut penelitian Ernauli. ASI mengandung seluruh zat gizi esensial termasuk protein, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk menunjang perkembangan otak, sistem imun, serta pertumbuhan fisik bayi. Selain itu. ASI juga mengandung senyawa bioaktif seperti hormon dan enzim yang berperan dalam pembentukan jaringan tubuh dan berkontribusi terhadap pencegahan infeksi. Berdasarkan beberapa analisa data di atas dapat disimpulkan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga usia dua tahun dengan makanan pendamping merupakan metode paling ideal dalam memenuhi kebutuhan gizi dan perlindungan kesehatan bayi. Fakta tersebut diungkapkan juga oleh WHO yang mengungkapkan bahwa pemberian ASI pada bayi hingga usia enam bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain. ASI sendiri dapat diberikan hingga bayi berusia dua tahun. Di samping itu. ASI memiliki kandungan gizi yang lengkap dan alami sehingga ASI tidak tergantikan oleh makanan atau minuman lain. Dengan demikian. Ernauli mengungkapkan bahwa ASI mengandung banyak zat gizi penting, seperti protein, lemak, vitamin, dan kandungan bioaktif. hormon dan enzim. Manfaat ASI bagi Bayi. Ibu. Keluarga dan Negara Wiji. AuTumbuh Kembang BalitaAy, (Jakarta: Mitra Medik. J T Flynn, "HYPNOBREASTFEEDING. STARTING EXCLUSIVE BREASTFEEDING TO BE SUCCESS Ni Wayan Armini. Gusti Ayu Marhaeni", . , h. Ernauli Meliyana. " ASI Ekslusif. MPASI dan Stunting", . , h. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Di dalam dunia kesehatan, pemberian ASI untuk bayi sangat dianjurkan karena telah terbukti memberikan berbagai manfaat signifikan, tidak hanya bagi bayi dan ibu, tetapi juga bagi keluarga serta negara secara luas. Bagi bayi. ASI berperan sebagai sumber nutrisi yang lengkap, meningkatkan sistem kekebalan tubuh melalui kandungan antibodi yang mencegah berbagai penyakit, serta berkontribusi pada peningkatan Selain itu, menyusui mampu membangun kedekatan emosional yang lebih kuat antara ibu dan bayi. ASI juga berperan sebagai sumber nutrisi utama yang memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembang bayi hingga mencapai usia enam bulan, sekaligus memberikan perlindungan terhadap alergi, mengandung asam lemak esensial untuk perkembangan otak, mendukung ketajaman penglihatan serta kemampuan berbicara, dan turut membentuk kepribadian serta kecerdasan emosional Manfaat menyusui bagi ibu antara lain: . Membantu mempercepat proses pemulihan setelah persalinan, . Merangsang kontraksi rahim sehingga mengurangi pendarahan pascapersalinan, . Menurunkan potensi kehamilan kembali dalam enam bulan pertama karena tingginya kadar prolaktin yang menghambat hormon FSH dan ovulasi, serta . Mempererat hubungan emosional antara ibu dan bayi karena aktivitas menyusui memberikan rasa tenang dan aman bagi si kecil. Di samping manfaat yang telah disebutkan, menyusui juga berkontribusi pada penurunan berat badan ibu pasca melahirkan. Selama kehamilan, tubuh mengalami peningkatan berat badan tidak hanya karena keberadaan janin, tetapi juga akibat penimbunan lemak yang berfungsi sebagai cadangan energi untuk produksi ASI. Proses menyusui merangsang penggunaan cadangan lemak tersebut sebagai sumber energi dalam pembentukan ASI, sehingga membantu mengurangi timbunan lemak secara Dengan demikian, ibu yang memberikan ASI secara eksklusif cenderung lebih cepat dan lebih mudah kembali ke berat badan sebelum hamil. Manfaat pemberian ASI bagi keluarga meliputi kemudahan dalam pemberian, penghematan biaya karena tidak perlu membeli susu pabrikan, serta menurunkan pengeluaran kesehatan karena bayi yang diberi ASI cenderung lebih jarang sakit. Puswati. AuPemberian Asi Eksklusif Dan Penurunan Berat Badan Ibu Di Wilayah Kerja Puskesmas Tenayan Raya Pekanbaru", h. Yetti, op. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Sementara itu, bagi negara, pemberian ASI memberikan keuntungan seperti: . mengurangi beban subsidi kesehatan dan penggunaan obat-obatan, . menghemat devisa negara dari impor susu formula dan perlengkapan menyusui, . berkontribusi terhadap pengurangan limbah dan polusi, serta . mendukung terciptanya sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas. Tinjauan Tafsir atas Ayat-Ayat ASI Upaya memahami nilai dan peran penting pemberian ASI dalam kehidupan umat Islam. Tafsir Shafwah At-TafAsr memberikan penjelasan mendalam terhadap ayatayat Al-QurAoan yang membahas masa menyusui. Ayat-ayat seperti Q. Al-Baqarah . Luqman . : 14, dan Al-Ahqaf . : 15 menjadi rujukan utama dalam mengkaji bagaimana islam menekankan kewajiban dan anjuran menyusui selama dua tahun Berikut ini merupakan beberapa penafsiran kitab Shafwah At-TafAsr terhadap ayat-ayat Al-QurAoan yang membahas pemberian ASI dalam kehidupan umat Islam: Al-Baqarah . : 233 a caA aO a aNIA a AEa aOA e AEaO eE aI eOEa eO a Ea N a eCa aNIac aO aEA ca AaO eE OE aa Oa e a eIa a eOaE aNaIac eaOEaO aeI aEIa EaO aeI aE aI eI a a a a eI Oaca acIA A Ia e aE aE oaEa aA eaIA a A aN oaa aE a a ac aO aE aU a aOEa a aN aOaE aI eOEa eO U Eac N a aOEa a nN aOA a AEaO eE aO aA e A acaaE aOA a a Aa eE aI e a eOA a ca aE a aEEA U AA Ia eAA A a aa a A AEa eO aE eIA a AA a AA a A a e aa eO a eOaE a aE eI aE aIaA a AaO s aE aIaA e a AEa eO aN aI a aO eaI a a e ac eI a eI A s aE eaI a aA a A a caI eI aN aI aOaA UAcEEa a aI a e aIEa eOIa a aA eOA a a AEac eI a eI acI ee a eO a eI a eE aI e a eOA a a AcEEa aO eEa aI eO aIac NA AA aOacCaO NA AuPara ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani, kecuali sesuai dengan kemampuannya. Janganlah seorang ibu dibuat menderita karena anaknya dan jangan pula ayahnya dibuat menderita karena anaknya. Ahli waris pun seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih . ebelum dua tahu. berdasarkan persetujuan dan musyawarah antara keduanya, tidak ada dosa atas keduanya. Apabila kamu ingin menyusukan anakmu . epada orang lai. , tidak ada dosa bagimu jika kamu Siti Saleha. AuAsuhan kebidanan Pada Masa NifasAy, (Jakarta: Salemba Medika, 2. , h. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Ay Asbabun Nuzul Ayat Surah Al-Baqarah ayat 233 berkaitan dengan praktik yang terjadi pada masa jahiliah yang merendahkan posisi dan hak anak, khususnya dalam hal pemberian ASI. Oleh karena itu, ayat ini hadir sebagai bentuk penegasan akan pentingnya kasih sayang dan tanggung jawab orang tua, terutama ibu, dalam menyusui anak. Setiap ibu, termasuk yang berstatus janda, tetap memiliki kewajiban untuk menyusui anaknya hingga genap dua tahun. Namun, masa menyusui dapat dipersingkat apabila kedua orang tua sepakat bahwa penyapihan lebih awal mendatangkan kemaslahatan bagi Penafsiran Q. Al-Baqarah . : 233 A a Amenegaskan bahwa Menurut penafsiran kitab Shafwah At-TafAsr, kalimat a aEA apabila kedua orang tua sepakat, setelah bermusyawarah dan mempertimbangkan kemaslahatan anak, untuk menyapih sebelum dua tahun, maka hal tersebut dibolehkan dan tidak berdosa. Penafsiran Kitab Shafwah At-TafAsr terhadap ayat ini menegaskan bahwa pemberian ASI merupakan tanggung jawab utama seorang ibu selama dua tahun penuh, sebagai bentuk pemenuhan hak anak atas nutrisi dan kasih sayang. Namun demikian, islam memberikan fleksibilitas bagi orang tua untuk menyapih lebih awal apabila menimbulkan dosa. Maka, keputusan untuk menyapih anak sebelum berusia dua tahun harus didasarkan pada kerelaan dan musyawarah antara kedua orang tua, bukan keputusan sepihak. Artinya, tidak diperbolehkan seorang ibu menghentikan pemberian ASI hanya karena alasan ingin menjaga postur tubuh tanpa persetujuan suami. Keputusan ini harus mempertimbangkan kemaslahatan anak dan dilakukan dengan https://izhallfeish. com/2017/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar_45. Diakses tanggal 28/05/2025. Muhammad Ali al-Shabuni. AuShafwah At-TafasirAy. Jilid I (Beirut: Dar al-Kutub alIslamiyyah, 1. , h. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 kesepakatan bersama, sebagaimana prinsip dalam ayat tersebut: Au. dengan kerelaan dan musyawarah antara keduanya, maka tidak ada dosa atas mereka berdua. Ay Hal ini menunjukkan keseimbangan antara tuntunan syariat dan dinamika kondisi orang tua, dengan tetap mengedepankan prinsip musyawarah dan kemaslahatan Anjuran menyusui selama dua tahun bukan hanya aspek biologis, tetapi juga bagian dari nilai keagamaan. Penekanan terhadap ASI sebagai sumber gizi utama menegaskan bahwa islam mendukung praktik menyusui sebagai bentuk perlindungan dan pemenuhan hak dasar bayi. Dengan demikian, ajaran ini sejalan dengan prinsipprinsip kesehatan modern yang mengakui ASI sebagai asupan terbaik bagi tumbuh kembang bayi. Hasil penelitian Lailina, dkk dengan merujuk pada pernyataan Departemen Kesehatan mengatakan bahwa ASI dipandang sebagai satu-satunya sumber nutrisi yang esensial bagi bayi hingga usia enam bulan, serta memiliki peran dalam mendukung proses tumbuh kembangnya. Luqman . : 14 AIa a aO aE a eO oa aN a aIEaeNa a acI N aO eNI aEO aO eN sI acO aEa N A eaO a aIO aeIA ca AaO aOA a AaE eIA a e AA eOIaA AuDan Kami telah menetapkan perintah kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Sebab, ibunya telah mengandungnya dalam kondisi yang penuh kelemahan yang semakin berat seiring bertambahnya usia kehamilan, lalu melahirkannya dengan perjuangan, dan menyusuinya hingga mencapai masa dua Ay Asbabun Nuzul Ayat Adapun sebab turunnya surah Luqman ayat 14 berkaitan dengan kisah Sa'ad bin Abi Waqqash. Saat beliau masuk Islam, ibunya yang masih menyembah berhala menentang pilihannya dan bersumpah tidak akan makan, minum, atau mencari perlindungan tempat berteduh sampai Sa'ad meninggalkan Islam. Ibunya menjalani sumpah tersebut selama tiga hari, hingga Sa'ad mengkhawatirkan keselamatannya dan Lailina Mufida. Tri Dewanti Widyaningsih, and Jaya Mahar Maligan. AuPRINSIP DASAR MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU ( MP-ASI ) UNTUK BAYI 6 Ae 24 BULAN : KAJIAN PUSTAKA Basic Principles of Complementary Feeding for Infant 6 - 24 Months : A ReviewAy 3, no. , h. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 mengadukan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai respons. Allah menurunkan ayat ini, yang menekankan kewajiban berbakti kepada orang tua, namun tetap mengutamakan ketaatan kepada Allah. Penafsiran Q. Luqman . : 14 Menurut penafsiran kitab Shafwah At-TafAsr, kalimat A acO aEa NAmenunjukkan bahwa masa penyapihan anak berlangsung selama dua tahun secara sempurna. Penafsiran ini menunjukkan bahwa betapa besar peran dan pengorbanan seorang ibu dalam proses kehamilan dan menyusui. Ayat ini tidak hanya memuat perintah untuk berbakti kepada orang tua, tetapi juga menyiratkan penghormatan khusus kepada ibu atas beban fisik dan emosional yang ia tanggung. Ungkapan "lemah di atas lemah" menggambarkan kondisi ibu yang terus-menerus menurun secara fisik selama kehamilan, menunjukkan betapa beratnya perjuangan tersebut. Masa penyapihan selama dua tahun menjadi penanda bahwa peran ibu tidak berhenti pada saat melahirkan, melainkan terus berlanjut dalam proses pengasuhan dan pemberian nutrisi terbaik melalui ASI. Penekanan pada masa menyusui dua tahun mencerminkan pentingnya peran ibu dalam pembentukan awal kehidupan anak, baik dari sisi fisik, psikologis, maupun spiritual. Dalam penelitian yang dikemukakan oleh Ahmad Tang dijelaskan bahwa pemeliharaan hak-hak keagamaan anak dalam islam seharusnya dimulai oleh kedua orang tua, khususnya ibu yang memiliki peran penting karena mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak. Pembinaan nilai-nilai keagamaan pada anak idealnya dilakukan sejak awal kehidupan, yakni sejak anak masih berada dalam kandungan. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa Islam sangat peduli terhadap kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak sejak dini. Al-Ahqaf . : 15 Abdullah Ibn Ahmad Ibnu Hambal. AuHadis-Hadis Imam AhmadAy, cet. Pertama. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, h. 20 Muhammad Ali al-Shabuni. Shafwah At-Tafasir. Jilid II, h. Ahmad Tang. AuHak-Hak Anak Dalam Pasal 54 UU No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak,Ay Jurnal Al-Qayyimah 2, no. , h. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 A aeNa E eaN aaO eaIEa N aOAA a AI a a aIEaeNa a acI N E eaN acO aOA AN eA a aEa N a E a eOIA ca AaO aOA a AIa a aO aE a eO aN a eA a AaE eIA a e AA eOIaA AuDan Kami telah mewasiatkan, yakni telah perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan kebaikan yang sempurna. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Masa mengandung sampai menyapihnya yang sempurna adalah selama tiga puluh bulan,Ay Asbabun Nuzul Ayat Surah Al-Ahqaf ayat 15 berkaitan dengan kasus wanita yang melahirkan setelah masa kehamilan enam bulan. Suaminya mengadukan hal tersebut kepada Khalifah Utsman bin Affan dengan tuduhan zina. Namun. Ali bin Abi Thalib menolak tuduhan itu dengan menjelaskan bahwa masa kehamilan dan penyapihan menurut Al-QurAoan adalah 30 bulan (Q. Al-Ahqaf: . , sementara masa penyapihan 24 bulan (Q. Luqman: . , sehingga tersisa 6 bulan untuk masa kehamilan, yang berarti tidak menyalahi syariat. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Umar bin Khattab dalam kasus serupa, yang membuatnya membatalkan hukuman rajam terhadap wanita tersebut. Penafsiran Q. Al-Ahqaf . : 15 A aOAAmenegaskan bahwa Menurut penafsiran kitab Shafwah At-TafAsr, kalimat aEa NA total keseluruhan masa kehamilan dan penyusuan berlangsung selama dua tahun Selama waktu tersebut, sang ibu terus-menerus mengalami kelelahan dan Penafsiran dalam kitab Shafwah At-TafAsr terhadap ayat ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua, khususnya ibu, adalah perintah tegas dari Allah karena besarnya pengorbanan fisik dan emosional ibu selama 30 bulan masa kehamilan dan Dengan menetapkan masa kehamilan dan penyapihan sebagai satu kesatuan waktu yang signifikan, ayat ini secara tidak langsung juga menekankan pentingnya pemberian ASI hingga dua tahun sebagai bagian dari tanggung jawab keibuan yang Imam. Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakrin Assuyuti. AuAddurru Mansur Fii Tafsir AlMaAosurAy(Bairut:Darrul Kuttub Al-Ilmiah, 1. , h. 23 Muhammad Ali al-Shabuni. AuShafwah At-TafAsrAy. Jilid i, h. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 perlu dihormati dan dijaga. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Inge, dkk bahwasannya Seorang ibu menyadari bahwa aktivitas menyusui merupakan amanah yang luhur serta bentuk tanggung jawab tanpa mengharap imbalan. Meskipun dihadapkan pada berbagai peran dan kewajiban lainnya, menyusui tetap menjadi prioritas utama yang tidak dapat digantikan oleh peran atau tindakan lain. Analisis Ayat-Ayat Menyusui Berdasarkan analisis terhadap penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an, yaitu Q. AlBaqarah . : 233. Luqman . : 14, dan Al-Ahqaf . : 15, dapat disimpulkan bahwa islam memberikan panduan yang jelas mengenai masa penyusuan anak. Dalam Q. AlBaqarah . : 233. Allah menganjurkan para ibu untuk menyusui anak-anak mereka selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Islam memberikan fleksibilitas bagi orang tua untuk menyapih anak sebelum genap dua tahun, asalkan didasarkan pada musyawarah bersama dan pertimbangan kemaslahatan anak, tanpa menimbulkan dosa. Oleh karena itu, keputusan untuk menghentikan pemberian ASI tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh ibu hanya karena alasan bentuk tubuh, melainkan harus melibatkan kesepakatan dengan suami dan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak. Hal ini ditegaskan pula dalam Q. Luqman . : 14 yang menyebutkan bahwa masa menyapih adalah dalam dua tahun. Selanjutnya. Al-Ahqaf . : 15 menyatakan bahwa masa mengandung hingga menyapih adalah 30 Dengan demikian, jika masa kehamilan berlangsung selama sembilan bulan, maka masa menyusui yang dianjurkan adalah 21 bulan. 25 Penafsiran ini sejalan dengan pandangan Ibnu Katsir yang menekankan bahwa penyusuan selama dua tahun penuh merupakan petunjuk dari Allah kepada para ibu untuk menyusui anak-anak mereka dengan sempurna. 26 Demikian pula, dalam Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa Al-QurAoan telah menegaskan bahwa ASI, baik yang berasal dari ibu Inge Wattimena. Natalia L. Susanti, and Yusep Marsuyanto. AuKekuatan Psikologis Ibu Untuk Menyusui,Ay Kesmas: National Public Health Journal 7, no. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan, "Penciptaan Manusia Pertama", (Jakarta: Kementrian Agama RI, 2. , h. Ibnu Katsir. AuTafsir al-QurAoan al-AoAzhimAy. Jilid 1 (Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyyah,2. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 kandung maupun ibu persusuan, merupakan sumber nutrisi paling ideal bagi bayi hingga mencapai usia dua tahun. Norma Moral dan Religius Menyusui dalam Tafsir Shafwah At-TafAsr Dalam Tafsir Shafwah At-TafAsr, menyusui dipandang bukan sekadar aktivitas biologis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan ibadah seorang ibu. Tafsir terhadap Q. Al-Baqarah . : 233 menekankan pentingnya menyusui selama dua tahun penuh sebagai bentuk kasih sayang dan pengorbanan ibu dalam memenuhi hak anak. Kewajiban ini juga dibingkai dalam nilai musyawarah antara suami dan istri dalam proses penyapihan, menunjukkan pentingnya harmoni keluarga dalam pengambilan Secara religius, menyusui dipandang sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah dan penghormatan terhadap amanah yang diberikan. Ibu yang menyusui dihargai karena menjalankan peran mulia yang berdampak pada tumbuh kembang anak secara jasmani dan ruhani. Dengan demikian. Shafwah At-TafAsr menegaskan bahwa menyusui tidak boleh ditinggalkan hanya karena alasan estetika tubuh, sebab nilai moral dan spiritual dibaliknya jauh lebih besar. Norma ini mencerminkan ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang, tanggung jawab, dan keseimbangan peran dalam keluarga, yang semuanya berpadu dalam praktik menyusui yang ideal. Perilaku Ideal Seorang Ibu Menyusui Menurut Tafsir Shafwah At-TafAsr Tafsir Shafwah At-TafAsr memberikan gambaran bahwa perilaku ideal seorang ibu menyusui mencerminkan kepatuhan terhadap ajaran agama, tanggung jawab terhadap anak, serta komitmen dalam menjalankan peran sebagai pendidik dan perawat pertama dalam kehidupan anak. Dalam penafsiran Q. Al-Baqarah . : 233, ibu dianjurkan untuk menyusui selama dua tahun penuh sebagai bentuk penyempurnaan dalam memberi hak kepada anak. Nur Ajijah Harahap. AuASI Bagi Bayi Dalam Perspektif Al-QurAoan (Analisis Kesehatan dan Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraisy Shiha. Ay Skripsi: UIN Sumatera Utara, 2. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Perilaku ideal ini tidak hanya mencakup aspek fisik, seperti memberikan ASI secara konsisten, tetapi juga aspek batiniah, seperti keikhlasan, kesabaran, dan niat Menyusui dilihat sebagai amal salih yang bernilai pahala, bukan sekadar kewajiban biologis. Ibu juga diharapkan mampu menjalin komunikasi emosional yang baik dengan anak selama proses menyusui, yang berperan dalam membentuk karakter dan ikatan batin yang kuat. Dalam tafsir ini, ibu tidak dibenarkan menghentikan proses menyusui secara sepihak tanpa adanya musyawarah dengan ayah dan pertimbangan terhadap kemaslahatan anak. Oleh karena itu, perilaku ideal mencerminkan keseimbangan antara tanggung jawab keibuan, nilai religius, dan kesadaran bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Relevansi Kontekstual Ayat-Ayat Menyusui Masa menyusui memiliki batas waktu yang jelas, yaitu selama dua tahun penuh sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat Al-QurAoan dan dijelaskan dalam Tafsir Shafwah At-TafAsr. Ketika dikaitkan dengan perilaku sebagian ibu sosialita dan ibu muda generasi Z yang enggan, tidak konsisten, bahkan menghentikan pemberian ASI sebelum waktunya, terlihat bahwa kekhawatiran terhadap perubahan postur tubuh seperti menjadi gemuk atau tidak lagi terlihat menarik sering kali menjadi alasan utama. Padahal, alasan tersebut tidak seharusnya menjadi dasar untuk menolak menyusui. Masa menyusui yang terbatas ini justru memberikan banyak manfaat bagi ibu, antara lain dapat mencegah kanker payudara, kanker ovarium, serta membantu ibu memulihkan diri dari proses persalinan. Sebaliknya, justru dengan tidak memberikan ASI kepada anak dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Integrasi Tafsir dan Ilmu Kesehatan Al-QurAoan, khususnya dalam Q. Al-Baqarah . : 233 menekankan pentingnya masa penyusuan selama dua tahun penuh sebagai bentuk kasih sayang dan tanggung jawab orang tua, terutama ibu. Tafsir Shafwah At-TafAsr menegaskan bahwa menyusui merupakan hak anak yang harus dipenuhi, dan tidak boleh dihentikan hanya karena alasan duniawi atau estetika tubuh. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Dalam Volume 9. No. 1 Januari 2026 WHO Kementerian p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Kesehatan merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga dua tahun, karena ASI terbukti mampu meningkatkan daya tahan tubuh bayi, menurunkan risiko infeksi, serta memberikan manfaat kesehatan bagi ibu seperti menurunkan risiko kanker payudara dan ovarium. Dengan demikian, integrasi tafsir dan ilmu kesehatan menghasilkan pemahaman bahwa menyusui bukan hanya perintah agama, tetapi juga upaya ilmiah untuk menjaga kesehatan ibu dan anak. Nilai spiritual bertemu dengan bukti ilmiah, menjadikan ASI sebagai bentuk ibadah dan investasi kesehatan jangka panjang. Sebagai akhir dari pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penggabungan antara penafsiran ayat-ayat Al-QurAoan mengenai menyusui memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai dinamika perilaku ibu dalam pemberian ASI. Tafsir Shafwah At-TafAsr menegaskan bahwa menyusui selama dua tahun adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab keagamaan, yang tidak boleh diabaikan hanya karena alasan estetika tubuh. Dengan demikian, pendekatan religius dan ilmiah dapat saling melengkapi dalam mendorong perilaku menyusui yang ideal, serta membentuk kesadaran kolektif bahwa menyusui adalah kewajiban bersama yang didukung oleh ajaran agama dan prinsip kesehatan masyarakat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai tema Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI: Studi Tafsir Shafwah At-TafAsr maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Dalam pandangan Tafsir Shafwah At-TafAsr terhadap Q. Al-Baqarah . : 233. Luqman . : 14, dan Al-Ahqaf . : 15 menekankan bahwa masa menyusui dua tahun adalah wujud kasih sayang dan tanggung jawab ibu. Islam memberi kelonggaran menyapih sebelum dua tahun jika melalui musyawarah dan demi kemaslahatan anak. Karena itu, keputusan menghentikan ASI tidak boleh sepihak, apalagi hanya karena alasan bentuk tubuh, melainkan harus disepakati bersama 28 Wilda. Sarlis, and Mahera, "Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Penurunan Berat Badan Ibu Menyusui. " Jurnal Endurance 3, no. , h. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 9. No. 1 Januari 2026 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Gambaran perilaku normatif ibu menyusui menurut Tafsir Shafwah At-TafAsr menegaskan bahwa menyusui adalah bentuk tanggung jawab moral dan religius seorang ibu. Islam memerintahkan penyusuan selama dua tahun penuh sebagai wujud kasih sayang dan pemenuhan hak anak. Perilaku menyusui yang ideal tidak hanya dilandasi aspek biologis, tetapi juga niat ibadah, keikhlasan, dan kesadaran akan amanah yang diemban. Seorang ibu dituntut untuk tidak menghentikan proses menyusui secara sepihak tanpa musyawarah bersama suami dan mempertimbangkan kemaslahatan anak. Dengan demikian, menyusui menjadi cerminan dari ketaatan, tanggung jawab spiritual, serta kontribusi nyata dalam membentuk generasi sehat dan berakhlak. DAFTAR PUSTAKA