Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Kala Tatwa Dan Realisasinya Terhadap Keberagamaan Masyarakat Hindu Di Bali Gede Rai Parsua Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia raikinbangli123@gmail. Abstract Bhatara Kala is commonly perceived by the general public as a terrifying, evil, and monstrous figure. However, according to the Kala Tatwa palm-leaf manuscript. Bhatara Kala is the son of Bhatara Siwa and Bhatari Giri Putri, symbolizing the manifestation of the Panca Maha Bhuta (Akasa. Apah. Teja. Bayu. Pertiw. , representing both time and cosmic energy. This study aims to deepen faith . and devotion . to the Supreme God, and to understand the concept of kala . and its realization within the religious practices of the Balinese Hindu community. The research adopts a semi-literature and field-based approach, utilizing data collection methods such as observation, hermeneutics, literature review, document study, and data analysis through reduction, textual criticism, and data presentation techniques. The findings reveal that Bhatara Kala is interpreted as a symbol of time and energy that governs all existence and cannot be stopped. In Balinese Hindu belief, time is sacred and serves as the foundation for determining auspicious days . ewasa ay. for performing religious rituals, such as Dewa Yadnya. Manusa Yadnya. Rsi Yadnya. Pitra Yadnya, and Bhuta Yadnya. The belief in Bhatara Kala reflects the communityAos profound understanding of time, space, and transformation (Desa. Kala. Patr. , ensuring that every spiritual activity aligns harmoniously with cosmic rhythms and the natural world. Keywords: Bhatara Kala. Religion. Hindu Society Abstrak Bhatara Kala dalam pandangan masyarakat umum sering dianggap sebagai sosok menakutkan, jahat, dan berwujud raksasa. Namun, menurut naskah Lontar Kala Tatwa. Bhatara Kala merupakan putra Bhatara Siwa dan Bhatari Giri Putri, simbol dari manifestasi Panca Maha Bhuta (Akasa. Apah. Teja. Bayu. Pertiw. yang mewujud sebagai waktu dan energi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memahami konsep AukalaAy dan realisasinya dalam keberagamaan masyarakat Hindu di Bali. Pendekatan yang digunakan adalah semi pustaka dan lapangan, dengan metode pengumpulan data berupa observasi, hermeneutika, studi pustaka, studi dokumen, serta analisis melalui reduksi data, kritik teks, dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bhatara Kala dimaknai sebagai simbol waktu dan energi kosmis yang tidak dapat dihentikan dan memengaruhi seluruh aspek kehidupan. Dalam ajaran Hindu di Bali, waktu . sangat sakral dan menjadi dasar dalam menentukan hari baik . ewasa ay. untuk melaksanakan ritus-ritus yadnya, seperti Dewa Yadnya. Manusa Yadnya. Rsi Yadnya. Pitra Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Kepercayaan terhadap Bhatara Kala mencerminkan pemahaman mendalam masyarakat Hindu Bali terhadap konsep waktu, ruang, dan perubahan (Desa. Kala. Patr. , sehingga setiap kegiatan spiritual dilakukan dengan kesadaran kosmis dan harmoni dengan alam Kata Kunci : Bhatara Kala. Keberagamaan. Masyarakat Hindu https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Waktu merupakan elemen yang sangat penting dalam pelaksanaan ritus keberagamaan di Bali. Dalam teks Kala Tatwa, waktu tidak hanya dilihat sebagai dimensi fisik, tetapi juga sebagai aspek spiritual yang mempengaruhi tindakan dan keputusan umat Hindu di Bali. Kesadaran akan waktu membantu masyarakat Bali untuk memahami hubungan antara tindakan masa lalu atau Sancita Karmapala. Prarabda Karma Pala . aat in. , dan Kryamana Karmapala . asa depa. , ketiga hal ini berhubungan erat dengan konsep Karma Pala (Pandeyana & Dharma, 2. Bhatara Kala selama ini lebih sering dianggap yang menyeramkan, menakutkan, jahat, raksasa oleh masyarakat awam pada umumnya menurut lontar Kala Tatwa diceritakan beliau adalah anak dari Bhatara Siwa dengan Bhatari Giri Putri. Bhatara Kala merupakan perujudan dari semua yang bernyawa maupun tidak bernyawa, berujudan dari Panca Maha Bhuta (Akasa. Apah. Teja. Bayu. Pertiw. Bhatara Kala adalah waktu, waktu yang berjalan setiap hari, semua mahluk di dunia ini takluk oleh sang waktu (Sang Bhatara Kal. , maka dari itu Sanghyang Kala atau Bhatara Kala paling sakti diantara Para Dewa maupun mahluk yang ada di dunia, semua yang ada di dunia ini ditaklukan oleh Bhatara Kala. Masyarakat beragama Hindu di Bali tidak bisa lepas dari melakukan ruwatan atau panglukatan untuk pembersihan secara niskala dari pengaruh Sang Kala (Rema, 2. Kepercayaan di Bali banyak sekali ada jenis-jenis ruwatan atau panglukatan diantaranya : kelahiran Wuku Wayang dengan Panglukatan Sapuleger. Pangelukatan Melik. Panglukatan Saraswai. Panglukatan Pasupati. Panglukatan Sudamala. Panglukatan Pawitra. Panglukatan Catur Segara. Panglukatan Bheda, beserta mantramantranya dan lain-lain. Begitu juga Bhatara Kala selalu di hormati/dipuja dalam berbagai bentuk misalnya acara Bhuta Yadnya. Manusa Yadnya. Dewa Yadnya. Di Bali Bhatara Kala sering dihormati melalui mecaru agar tempat tersebut bersih secara niskala. Lontar Kala Tatwa lebih menceritakan ajaran kebaikan kepada manusia. Salah satu ajaran yang perlu dicermati kepada manusia diceritakan Bhatyra Siwa sebagai simbul bersama permaisuri-Nya yaitu Bhatyry Giryputri pergi melihat-lihat laut, samudra. Tak berapa lama sampai beliau di atas samudra. Tiba-tiba bangkit birahi Bhatyra Siwa, ingin bersenggama dengan permaisurinya. Sang Hyang Giryputri. Tidak mau beliau Bhatyry Giryputri karena sadar sebagai perwujudan Dewata. Kemudian marah Bhatyra Siwa. Berkata Bhatyry Giryputri : Duhai junjungan, janganlah demikian, . erilaku seperti it. bukan perilaku Dewata. Akhirnya kedua sama-sama marah, namun belum terpenuhi keiginan Bhatyra Siwa, sperma beliau sudah keluar dan jatuh ke laut yang menyebabkan Bhatara Kala itu ada turun ke dunia. Beliau Bhatara Kala meresapi dunia termasuk sorga. Sapta Loka . ujuh dunia di ata. Sapta Patala . ujuh dunia di bawa. , semuanya dipenuhi oleh bermacam-macam Kala. Bhyta. Durga dan segala jenisnya dengan wujud . yang berbeda-beda yang semuanya amat berani dan sakti. Kesemuanya itu mencari makanan pada manusia yaitu pada semua manusia, binatang, pada mereka yang tingkah lakunya tidak sesuai dengan penjelmaannya. Akan tetapi kalau ada orang yang tahu akan hal itu, yang sesuai dengan kebenaran, bila berbuat kebaikan maka hasilnya adalah kebaikan begitu juga sebaliknya. Cerita diatas salah satu sebagai media pembelajaran kepada umat manusia bahwasannya tidak boleh melakukan asmara disembarang tempat (Mulyono, 2. Beliau adalah satu, manusia menyebut banyak nama sesuai dengan tempat dimana Beliau dipuja. Beliau bernama Bhatyry Durga dan Bhatara Siwa di Puja di Pura Dalem. Beliau di Puja di Pura Desa atau Pura Bale Agung disebut dengan Bhatara Brahma. Beliau di Puja di Pura Puseh disebut dengan Bhatara Wisnu. Di Bali setiap ada upacara yadnya selalu ada persembahan kepada Bhatara Kala baik itu upacara manusia yadnya, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH upacara Dewa yadnya, upacara Rsi yadnya, upacara Pitra Yadnya. Besar-kecil yajya yang dilaksanakan umat Hindu di Bali sudah diberikan pilihan sesuai dengan Upacara tersebut tidak akan berhasil jika tidak sesuai dengan kemampuan maupun ketidak tulus iklasan (Yasa. Sumadi & Sukabawa, 2. Bhatara Kala bagi umat Hindu di Bali merupakan Dewanya Bhuta Kala. Bhuta Kala adalah kekuatan alam semesta atau kekuatan dari Panca Mahabhuta . kasa, bayu, apah, teja, pertiw. termasuk tubuh manusia terbuat dari Panca Mahabhuta. Di dalam tubuh manusia terdapat pikiran yang merupakan panglimanya manusia karena segala tindak tanduk yang dilakukan oleh manusia berawal dari pikiran dan karena pikiran, pikiran sangat penting bagi kehidupan manusia di dunia ini untuk kebahagian dan kesejahteraan di dunia ini maupun diakhirat, begitu juga karena pikiran hidup ini menjadi Kebahagian, penderitaan bagaikan siang dan malam. Kebahagian, penderitaan semuanya karena pikiran (Paramita, 2021. Gaduh & Harsananda, 2021. Sudarsana, 2. Akan sirna semuanya seiring dengan berjalannya Sang Kala . tunduk kepada Sang Hanya bagi orang-orang yang mampu untuk bersahabat dengan pikiran, selalu bisa mengendalikan pikirannya maka dia tidak kalah atau tunduk oleh Sang waktu justru dia beriringan bersamaan saling kerja sama dengan Sang waktu seperti Bhatara Siwa dengan Bhatara Kala. Keberhasilan Bhatara Kala untuk memotong taringnya sebagai simbul bahwa manusia mampu untuk mengendalikan pikiran hawa napsu, mengendalikan pikiran, egonya mampu dikendalikan, marah dikendalikan, selalu sabar. Orang yang selalu sabar selalu mengendalikan napsunya maka dia diberkati oleh Tuhan seperti Bhatara Kala diberkati atau dianugrahi oleh Bhatara Siwa atau Tuhan. Bhatara Kala disimbulkan sebagai waktu itu artinya dari bayi baru lahir sampai meningal tidak lepas dari jeratan waktu, serta dunia ini pun tidak luput dari Sang Kala . akan tetapi masyarakat menganggap cerita-cerita yang ada di lontar-lontar dianggap tradisional, katrok, kuno. Padahal cerita-cerita yang ada di lontar-lontar mengandung nilai-nilai moral yang tinggi, sikap etika yang baik, sopan-santun dan berkarakter sesuai dengan kearifan lokal Bali (Sumertini & Sutresna, 2. Ajaran-ajaran Agama Hindu yang tertuang dalam lontar-lontar di Bali sangat relevan dalam kegiatan keagamaan masyarakat Hindu di Bali (Dewi. Suwedawati & Sepriani, 2. Ajaran adiluhung sangat baik digunakan, dilaksanakan, apalagi termuat dalam teks-teks Agama Hindu di Bali, dari zaman dahulu hingga zaman sekarang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan bertahan atau lestari (Saputra. Ajaran-ajaran tersebut telah teruji dari berabad-abad dan tidak ada yang membantahnya, karena semua itu ajaran kebaikan dan ada dalam ajaran Agama Hindu. Agama Hindu begitu banyak ajarannya sehingga bisa menyiapkan sesuai dengan kebutuhan umat manusia baik zaman Treta Yuga. Kreta Yuga. Kali Yuga. Ajaran Agama Hindu tidak lekang oleh waktu selalu eksis, relepan dalam perkembangan zaman. Ajaran Agama Hindu berkembang sesuai dengan Desa . Kala . Patra . astra/kitab di sebuah tempa. Ajaran Agama Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-hari memposisikan Bhatara Kala sebagai elemen waktu dan waktu mempengaruhi ritus sesuai dengan perkembangan Dalam perkembangan zaman tersebut sehingga ritus upakara tersebut terbagi menjadi nistaning utama . ecil tapi utam. , nistaning madya . ecil tapi sedan. , utamaning utama . ingkat yang paling besa. Bhatara Kala ini disampaikan dalam bentuk cerita-cerita yang banyak tertuang dalam lontar-lontar. Ajaran dalam lontar Kala Tatwa ini menceritakan Bhatara Siwa tidak bisa mengendalikan diri kepada istrinya Bhatari Giri Putri ingin melakukan senggama di lautan sampai tidak disadari menetes dengan sendirinya air mani Bhatara Siwa. Cerita ini mengisyaratkan kepada manusia agar https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tidak sembarangan bercinta apalagi ingin bersenggama di sembarangan tempat. Ceritacerita yang disampaikan hanya sebagai simbul saja dimana tujuannya agar mudah dipahami oleh umat manusia dan tujuannya agar lebih populer dimasyarakat, salah satu dari cerita ini muncul juga ritus atau upakara mecaru . enyeimbangkan keharmonisan Disamping itu juga cerita tersebut agar lebih menarik digemari oleh kalangan anakanak, remaja, maupun dewasa, apalagi di Bali Bhatara dikait-kaitkan sebagai bersuamiistri, beranak, bercucu. Untuk mengkaitkan hal tersebut perlu adanya cerita-cerita. Terkait dengan upacara ritus dan kaitannya dengan cerita diatas masyarakat Hindu Bali melaksanakan upacara pembersihan terhadap alam jika ada ketahuan masyarakat yang melakukan hubungan suami istri di alam Cerita-cerita tersebut sudah dipercayai secara turun-temurun disegala aspek keberagamaan masyarakat Hindu di Bali. Dengan adanya cerita tersebut sangat diperlukan oleh masyarakat terutama umat Hindu di Bali. Cerita-cerita ini masih kental ada di masyarakat Hindu di Bali dan masih tersimpan di masyarakat maupun di Pusat Dokumentasi Provinsi Bali, di Gedong Kertia Singaraja, di Grya-grya, di Pasramanpasraman maupun ditempat-tempat penting lainnya, dalam hal ini peneliti terus menelusuri lontar-lontar maupun referensi lainnya dalam hubungannya dengan kegiatan keagamaan masyarakat Hindu di Bali. Ajaran Agama Hindu seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi sangat diperlukan untuk menangkal halhal yang bersifat negatif. Metode Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan perpaduan antara pendekatan semi pustaka . ibrary researc. dan lapangan . ield researc. , guna memperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap objek kajian baik secara teoritis maupun empiris. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, yang dilakukan baik secara partisipatif maupun non-partisipatif untuk memahami fenomena di teknik hermeneutika untuk menafsirkan makna yang terkandung dalam teks atau simbol secara kontekstual. studi pustaka melalui penelaahan literatur relevan seperti buku, jurnal, dan karya ilmiah. serta studi dokumen yang mencakup penelusuran arsip dan dokumen resmi yang berkaitan dengan fokus penelitian. Adapun teknik analisis data yang digunakan mencakup reduksi data, yakni proses penyaringan informasi untuk memperoleh data yang paling relevan. teknik pencatatan dan pengumpulan naskah sebagai dasar dokumentasi awal. teknik kritik teks guna mengkaji validitas, struktur, dan makna dalam sumber tertulis. serta penyajian data dalam bentuk deskriptif-analitis agar hasil penelitian dapat disusun secara sistematis dan mudah dipahami. Hasil dan Pembahasan Konsep Kala Dan Realisasinya Terhadap Keberagamaan Masyarakat Hindudi Bali Penerapan ajaran Agama Hindu sangat pleksibel sehingga penerapannya sesuai dengan situasi kondisi masing-masing tempat . esa, kala, patr. Bhatara Kala dalam lontar Kala Tatwa disebut Bhatara Kala dan didalam Lontar Kumara Tatwa Bhatara Kala adalah sebagai asal dan tujuan semua makhluk. Bhatara Kala menguasai segalanya sumber dari segala kehidupan . ontar Kumara Tatw. Menurut lontar Kumara Tatwa jika manusia tidak sadar dengan dosa-dosa/kegelapan/kepapaan tidak tahu kepapaan, berkata sekehendak hati, hanya tahu harta saja, tidak tahu nilai kesemestaan dimakan oleh Bhatara Kala. Kamus besar bahasa Indonesia arti Kala adalah waktu. Arti kata Kala adalah perbedaan bentuk verba untuk menyatakan perbedaan waktu dan arti lain dari Kala adalah jerat. Dari arti dari kamus bahasa Indonesia tersebut dapat disimpulkan Kala https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH adalah waktu yang dapat menjerat karena pada intinya semua yang ada di dunia ini di jerat oleh waktu, akan sirna sejalan dengan perkembangan sang waktu. Sejalan dengan arti dalam kamus bahasa Indonesia tesebut maka dalam bahasa Agama Hindu di Bali waktu tersebut disebut Bhatara Kala (Yendra, 2. Kata Tatwa menurut Surada . berasal dari kata penunjuk Tat. Tat bahasa sansekerta yang berarti itu. Dalam hal ini Tatwa dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kebenaran, kenyataan. Tatwa berarti kebenaran itu sendiri. Lontarlontar di Bali kata Tatwa ini yang dipakai untuk mengatakan kebanaran itu. Dalam bahasa sehari-hari kata Tatwa diartikan uraian tentang Ketuhaan dalam ilmu filsafat disebut dengan ajaran Teologi (Brahman, 2016. Bagus, 2. Pengertian Kala dan Tatwa diatas dapat disimpulkan menjadi Kala Tatwa. Kala Tatwa artinya kebenaran tentang Kala dalam hal ini kebenaran tentang Bhatara Kala, dalam penelitian ini berhubungan dengan Bhatara Kala serta realisasinya terhadap keberagamaan pada masyarakat Hindu di Bali. Kala Tatwa ini ada kaitannya dengan Teologi Hindu secara umum. Teologi artinya ilmu Ketuhanan. Ketuhanan dalam Hindu disebut dengan Brahman. Brahman diambil dari akar kata brh. Aoberkembang, timbul kemana-manaAo. Kata turunannya berarti muncrat keluar, berbuih keluar, perkembangan yang tiada habis-habisnya, brhttvam. Brahman juga berasal dari akar kata brhati, melampaui, atisayana, yang artinya keabadian, murni. Brahman adalah pribadi seluruh sifatnya ada dalam kesempurnaan, brhanto, hy asmin Yang nyata bukanlah suatu abstraksi yang pucat, sangat nyata dari kebijakan Suatu saat Vac dilukiskan sebagai Yang Tunggal. Visva-karman. Sang Pencipta dikatakan sebagai Penguasa Mantram. Brahman adalah mantra atau doa. Secara bertahap dia memperoleh arti kekuatan atau potensi doa, dan Dia mempunyai kekuatan gaib dan di dalamnya berisi inti dari benda yang ditunjukkan dihadapan Brhaspati. Brahmanaspati diartikan sebagai Penguasa dari doa (Novitasari, 2. Dalam penelitian ini Ketuhanan dalam Lontar Kala Tatwa serta realisasi keberamaannya pada masyarakat Hindu di Bali. Keberagamaan dalam penelitian ini sejalan dengan Keberagamaan menurut pendapat Glock dan Stark (Roberstson, 1. yang mengajukan lima dimensi keberagamaan yaitu dimensi idiologi . epercayaan, keyakina. , ritual . raktek agam. , eksperiensional . , intelektual . , dan dimensi konskuensional . Dimensi idiologi . epercayaan, keyakina. menunjukan tingkat kesetujuan seseorang terhadap kepercayaan yang dianutnya. Dimensi ritual . raktek agam. frekuensi partisipasi dan ketaatan terhadap agama yang dianutnya. Dimensi pengalaman keagamaan menunjuk kepada suatu perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensasi, yang dialami seseorang yang berhubungan dengan Tuhan. Realisasinya dalam masyarakat Bali juga terlihat hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan Tuhan sering disebut dengan Tri Hita Karana (Kananda. Sudarsana & Putri, 2. Makna Kala Dan Realisasinya Terhadap Keberagamaan Masyarakat Hindu di Bali Makna Sebagai Waktu Makna sebagai waktu dalam artikel ini bahwa Kala tersebut adalah waktu. Siapapun akan ditelan oleh waktu, waktu adalah Bhatara Kala. Bhatara Kala yang paling sakti di dunia ini karena Kala itu adalah waktu. Dalam makna waktu ini, di Bali waktu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, umat Hindu di Bali memaknai waktu sebagai kebutuhan mendasar seperti misalnya : menentukan hari/waktu baik untuk kegiatan Pitra Yadnya . Masyarakat Hindu di Bali mengintegrasikan Kala Tatwa dalam berbagai upacara dan ritual, seperti upacara Ngaben . embakaran jenaza. dan ngaben dengan menanam bukan membakar, di Bali upacara ngaben tidak hanya di bakar saja https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH melainkan di tanam terutama di desa pegunungan di Bali yaitu Bali Aga serta yang menganut Bali Mula. Konsep yang merupakan salah satu contoh nyata dari penerapan konsep ini. Upacara ini tidak hanya berfungsi sebagai penghormatan terhadap orang yang telah meninggal, tetapi juga sebagai cara untuk mengembalikan roh ke alam Sunya atau Dewa Yadnya . egiatan manusia terhadap Tuhan dan Dew. seperti misalnya menentukan hari baik membuat tempat suci, memuja Tuhan dan Para Dewa . dan lain-lainnya, menentukan hari/waktu baik terkait dengan Rsi Yadnya . egiatan manusia terhadap orang suc. seperti misalnya menjadi Pandita dan lain-lainnya, menentukan hari/waktu baik terkait dengan Manusa Yadnya . egiatan yang dilaksanakan terkait dengan manusi. seperti misalnya menentukan hari baik perkawinan, upacara tiga bulanan, upacara enam bulanan, upacara potong gigi dan lain-lainnya, upacara menentukan hari/waktu baik terkait Pitra Yadnya . egiatan yang dilakukan terhadap manusi. seperti misalnya upacara ngaben, upacara penguburan dan lain-lainnya. Selain itu juga terkait dengan Bhuta Yadnya seperti misalnya mecaru . enyeimbangkan alam Makna Sebagai Energi Keyakinan umat Hindu di Bali untuk menghormati energi alam sama dengan menghormati Bhuta Kala. Bhuta Kala sama dengan energi, energi tidak bisa diciptakan tidak bisa dimusnahkan tetapi bisa berubah-rubah wujud dan melingkupi ruang dan waktu, energi itu sendiri adalah kekal abadi, dalam hal ini menurut ajaran Agama Hindu di Bali identik dengan Bhuta Kala. Selain itu Bhuta Kala sebagai mahkluk gaib yang tidak bisa dilihat atau abstrak juga disebut dengan Bhatara Kala. Energi di dalam tubuh manusia terdapat dibagian inti reproduksi manusia diantaranya : Ong Sang. Bang. Tang. Ang. Ing. Nang. Mang. Sing. Wang. Yang. SANG pada jantung Bang pada hati. Tang pada ungsilan. Ang pada nyali. Ing pada patumpukannya Nang pada paru-paru. Mang pada usus besar. Sing pada limpa. Wang pada sekat rongga dada. Yang pada ujung jantung. Ong pada pangkalnya jantung. Masyarakat Hindu Bali yang menguasai energi atau mantra ini, setiap melakukan ritual maupun yoga meditasi tidak asing dengan bunyi mantra atau energi seperti ini. Agama Hindu di Bali memaknai Tuhan sebagai Nirguna Brahman yaitu Tuhan tidak bisa diwujudkan karena memang tidak berwujud, di Bali Tuhan tidak berujud sering juga disebut dengan Sanghyang Sunya. Sanghyang Sangkan Parama Dumadi. Sanghyang Licin. Sanghyang Acintya. Karena Tuhan itu sangat sulit dipahami maka masyarakat Hindu Bali membuatkan simbul. Simbul-simbul Tuhan terhadap Hindu di Bali dengan berbagai Energi diatas selalu dapat dirasakan saat acara religius dilakukan (Titib, 2. Sikap religius seorang umat kepada Tuhannya ini dapat dilihat dari sloka Bagavad-GtE Vi sloka 8. Tasmat Sarveou kEleou mEm anusmara yudhya ca mayy arpita-mano-buddhir mEm evaioyasy asaIuayah Terjemahannya: Karena itu kapanpun juga, ingatlah selalu pada-Ku dan berjuanglah untuk perpegang kepada-Ku pikiran untuk ingat pada-Ku hasilnya kau akan sampai pada-Ku Sloka tersebut menguraikan bagaiman hendaknya seseorang salalu bertindak dan berbuat dalam kesadaran Tuhan. Senantiasa bertindak di bawah perintah Tuhan Ynag Maha Esa. Sehingga ajaran-ajaran Ketuhana hendaknya senatiasa dijadikan pedoman untuk bertindak dan berbuat dalam kehidupan sehari-haris sebagai cerminan insan yang relegius (Santosa. Sudarsana & Dewi, 2. Sikap religus tidak hanya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mengajarkan seseorang untuk bersifat kaku atau panatik terhadap tata cara pelaksanaan agama (Fatchan, 2004. Jalaludin, 2. Tidak menjadikan agama orang lain sebagai agama yang kurang baik (Poespoprodjo, 2. Namun, sikap religus akan memberikan pandangan bahwa agama hanya sebuah jalan untuk menuju Tuhan dan pada esensinya memiliki tujuan yang sama. Sehingga ada suatu sikap toleransi terhadap jalan yang ditempuh oleh seseorang. Kesimpulan Kala Tatwa tidak hanya berfungsi sebagai konsep filosofis, tetapi juga sebagai panduan praktis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu di Bali. Panduan praktis dalam menentukan berbagai macam kegiatan hari baik . Dengan memahami dan menerapkan konsep ini, masyarakat dapat lebih baik dalam menjalani kehidupan spiritual mereka, serta menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Di Bali kepercayaan terhadap Bhatara Kala atau Sang Waktu dijadikan pedoman dalam melakukan aktifitas ritus keagamaan yang dikenal dengan hari baik atau menentukan Dewasa . enentukan hari bai. Mengingat pelaksanaan Agama Hindu di tiap-tiap daerah berbeda-beda sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan atau di Bali sering disebut dengan Desa. Kala. Patra, karena adanya perbedaan antara tempat yang satu dengan yang lainnya, antara desa yang satu dengan yang lainnya maka dicarilah waktu yang tepat dalam melakukan ritus keagamaan baik itu . Dewa Yadnya hubungannya kepada Tuhan. Dewa. Manusa Yadnya yang berhubungan dengan ritus manusia . Rsi Yadnya yaitu berhubungan dengan orang suci, . Pitra Yadnya yang berhubungan dengan leluhur yang telah meninggal . Bhuta Yadnya berhubungan dengan energi alam atau alam semesta hal ini dilakukan agar acara berjalan lancar tidak ada halangan dan sesuai dengan harapan. Bhatara Kala merupakan perujudan dari Sang Hyang Panca Maha Bhyta. Sang Hyang artinya, yang Panca artinya lima. Bhyta artinya segala yang beracun dan memakan daging, diantaranya: Kala. Bhyta. Durga. Pisaca. Kingkara. Itu semua berperwujudan penyakit, hama dan wabah, ilmu, dan ilmu sihir yang bisa diperintahkan untuk berbuat baik dan buruk. Semuanya itu memenuhi dunia termasuk sorga, sapta loka . ujuh dunia di ata. , sapta patala . ujuh dunia di bawa. , semuanya dipenuhi oleh bermacam-macam kala. Bhyta. Durga dan segala jenisnya dengan wujud . yang berbeda-beda semuanya amat berani dan sakti. Kesemuanya itu mencari makanan pada manusia yaitu pada semua manusia, binatang, pada mereka yang tingkah lakunya tidak sesuai dengan Akan tetapi kalau ada orang yang tahu akan hal itu, yang sesuai dengan ucapan, bila berbuat kebaikan Sang Hyang Dharma menjelma pada mereka yang tidak ternoda bagaikan air kehidupan bagaikan lidah api. Beragam nama Tuhan menurut Hindu di Bali. Bhayyry Durga, sebagai anugerah Bhayyry (Um. yang distanakan di Pura Dalem. Sang Hyang Panca Maha Bhyta sebutan beliau yang lain (Sang Hyang Kal. , oleh karena beliau menjadi dewanya segala yang dasyat, beliau dimuliakan di Pura Desa yaitu di Bale Agung. Bhatara Kala mengusai desa adat, menentukan jiwanya manusia, menghukum orang yang berdosa, jahat, bersenggama tidak sesuai dengan tempat silakrama, dharma sesana, dan agamanya. Daftar Pustaka