UJI EFEKTIVITAS PERBANDINGAN DAUN PEPAYA (Carica Papaya L. ) DAN LIDAH BUAYA (Aloe Ver. DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Candida Albicans . n vitr. Intan Kemala Dewi1. Raziv Ganesha2. Rasya Zafroni Al-Ghifari3 Correspondence : Email : Zafroni39@gmail. Departemen Ilmu Penyakit Mulut. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRACT Introduction:Oral disease can be a serious problem, especially fungal. The manifestations of candida in the oral cavity are quite diverse, one of which is Candida We know that there are various medicines circulating on the market that are made from chemical or natural ingredients. Purpose: The aim of this research is to compare these natural ingredients, namely papaya leaves . arica papaya l. ) and aloe vera . loe ver. with their anti-fungal activity in inhibiting the growth of Candida albicans fungi with concentrations of both 50% and 100%. Methods: The research method used was the diffusion method with a post test only control group. Results: The results of the research showed that papaya leaves were more effective in inhibiting Candida albicans with the diameter inhibition results reaching 17. 35 mm at a concentration of 100%, while the diameter inhibition results for papaya leaves were 13. mm at a concentration of 100%. Conclusion: It can be concluded that the papaya leaf extract solution is more effective in inhibiting the growth of Candida albicans fungus compared to the aloe vera solution extract, with a concentration of 100% because it is closest to the inhibitory power of the positive control ketoconazole. Keyword: Keywords: antifungal, papaya leaves, aloe vera PENDAHULUAN Kandidiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh spesies jamur. Organisme penyebab adalah biasanya Candida albicans. Kandidiasis ini dapat berkembang di setiap rongga mulut, tetapi lokasi yang paling sering adalah mukosa bukal, lipatan mukosa bukal, orofaring dan lidah. Kandidiasis kronis yang tidak segera dirawat dapat berkembang menjadi kandidiasis leukoplakia yang bersifat pra ganas, dan kemudian mengakibatkan karsinoma sel skuamosa. Selain itu, kandidiasis dapat berkembang menjadi infeksi sistemik melalui aliran getah bening yang menyerang organ vital seperti ginjal, paru-paru, otak dan dinding pembuluh darah yang bersifat fatal. Candida albicans merupakan flora normal rongga mulut, saluran pencernaan dan vagina, jamur ini dapat berubah menjadi patogen jika terjadi perubahaan dalam diri pejamu. Perubahan yang terjadi pada pejamu tersebut dapat bersifat lokal maupun sistemik (Hakim & Ramadhian Adapun manifestasi kelainan penyakit pada rongga mulut yang disebabkan oleh Candida albicans cukup beragam. Diantara yaitu Median rhomboid glossitis. Median rhomboid glossitis didefinisikan sebagai atrofi papiler sentral lidah dan mempengaruhi 0,25-5,42% dari populasi (Alanis 2. Terdiri dari dari area halus, kemerahan, atau merah muda yang terdefinisi dengan baik di bagian dorsum lidah terletak di garis tengah anterior papila sirkumvalata. Paling dari lesi ini tidak menunjukkan gejala, meskipun beberapa pasien mungkin mengeluh nyeri persisten, iritasi. Adapun manifestasi lainnya dari Candida albicans ialah Angular cheilitis. 2 Angular cheilitis adalah diagnosis deskriptif untuk proses inflamasi kulit dengan berbagai etiologi yang terjadi pada komisura labial Ae sudut mulut. "Angular," atau commissural, mengacu pada peradangan bibir lokal. Sudut mulut merupakan titik pertemuan untuk epitel skuamosa wajah dan mukosa mulut. Bagian ini juga merupakan engsel yang dinamis secara mekanis untuk bukaan mulut yang menahan lebih banyak gerakan dan gaya tarik daripada bagian bibir Dengan demikian, komisura sangat rentan terhadap tekanan tertentu. Wujud terjadinya penyakit ini mungkin merupakan manifestasi dari paparan lingkungan, kimia, atau infeksi, dan juga mencerminkan kondisi internal, kekurangan, atau menurunnya immunitas tubuh (Federico dkk. Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah terjadinya penyakit infeksi tersebut, diantaranya adalah dengan penggunaan obat herbal. Selama beberapa dekade akhir ini. Perkembangan obat tradisional dan pengobatan tradisional saat ini berkembang pesat sekali khususnya obat tradisional yang berasal dari tumbuh - tumbuhan. Hal ini bisa kita lihat semakin banyaknya bentuk-bentuk sediaan obat tradisional dalam bentuk kemasan yang sangat menarik konsumen. Perkembangan ini membuat Pemerintah atau instansi terkait merasa perlu membuat aturan perundang-undangan yang mengatur dan mengawasi produksi dan peredaran 5 produk-produk obat tradisional agar masyarakat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan khususnya masalah kesehatan. banyak penelitian baik in vivo maupun in vitro yang telah menunjukkan efektivitas kandungan antimikroba dari tanaman obat. Selain mudah didapat, obat herbal juga memiliki khasiat yang tinggi dan memiliki resiko yang cenderung lebih rendah. Dalam dekade terakhir, ekstrak atau minyak obat herbal dengan efek antimikroba dan anti-inflamasi telah digunakan untuk pengobatan banyak penyakit menular pada manusia salah satunya daun papaya dan lidah buaya sebagai sarana alternatif dan obat tradisional. Penggunaan obat herbal sebagai sarana alternatif dalam pengobatan untuk masyarakat cenderung semakin meningkat, sehingga diperlukan uji efektivitasnya untuk membuktikan khasiat dan kadungan tanaman tersebut (Parwata Berdasarkan penelitian (Putri dkk. tentang Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Kulit Buah Mahoni (Swietenia mahagoni (L. ) Jac. Dengan Perbandingan Metode Ekstraksi Maserasi Dan Perkolasi Terhadap Bakteri Escherichia coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit bua mahoni mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin pada masing-masing metode ekstraksi maserasi dan perkolasi. Konsentrasi 5%, 25%, 50%, 75% dan 100% pada masingmasing ekstrak kulit buah mahoni berpengaruh sebagai antibakteri dengan kategori kekuatan daya hambat sedang sebesar 8,26 mm pada ekstraksi maserasi dan 7,38 mm pada ekstraksi perkolasi. Hal ini yang mendasari penulis untuk tertarik dengan penelitian ini dalam pemanfaatan lidah buaya dan daun papaya pada keefektivannya sebagai antifungi yang ingin diujikan terhadap jamur Candida albicans. TUJUAN Untuk menguji efektivitas antara ekstrak daun pepaya (Carica papaya L. ) dan lidah buaya (Aloe Ver. dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans. METODE Rancangan Penelitian ini dilakukan secara penelitian experimental atau posttest HASIL Tabel 1 Hasil uji fitokimia ekstrak daun papaya . apaya carica l. No. Jenis Kandungan Kimia Pereaksi Kesimpulan HCl FeCl3 Liebermann-Burchard Vanilin asam sulfat Mayer & Dragendorf asam oksalat dan asam borat, fluoresensi UV 366 nm Pb asetat 10% Tabel 2 Hasil uji fitokimia ekstrak lidah buaya . loe ver. No. Jenis Kandungan Kimia Pereaksi Kesimpulan HCl FeCl3 Liebermann-Burchard Vanilin asam sulfat Mayer Dragendorf asam oksalat dan asam borat, fluoresensi UV 366 nm Pb asetat 10% Tabel 1 Hasil perhitungan diameter zona hambat ekstrak daun pepaya . arica papaya l. Kontrol Kontrol 22,20 0,00 17,05 14,20 22,80 0,00 15,40 14,35 24,20 0,00 18,80 16,60 23,80 0,00 17,40 15,20 23,40 0,00 17,05 14,40 23,75 0,00 18,40 14,05 Gambar 1 Hasil zona hambat larutan ekstrak daun pepaya . apaya carica l. ) pada media sabouraud dextrose agar Tabel 4 Hasil perhitungan diameter zona hambat ekstrak lidah buaya . loe ver. Kontrol positif Kontrol negatif 100% 20,80 0,00 14,20 10,40 22,60 0,00 13,20 10,20 23,20 0,00 14,05 10,80 22,20 0,00 13,80 10,20 22,60 0,00 13,40 11,05 23,75 0,00 13,80 10,40 Gambar 2 Hasil zona hambat larutan ekstrak lidah buaya . loe ver. pada media sabouraud dextrose agar Tabel 5 Hasil tabel uji - man whitney K( ) DP K(-) DP 100% DP 50% DP K( ) LB K(-) LB 100% LB K( ) K(-) K( ) K(-) Gambar 3 Hasil zona hambat larutan ekstrak daun pepaya dan larutan ekstrak lidah buaya pada media sabouraud dextrose agar Pada table 1 dan 2 Skrining fitokimia dilakukan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam daun pepaya dan lidah buaya yang ingin diteliti, pada penelitian kali ini zat anti jamur yang dilakukan uji skrining fitokimia antara lain adalah saponin, fenol, steroid, terpenioid, alkaloid, flavonoid dan tannin, lalu pada table 3 dan 4 terdapat zona hambat jamur pada kedua ekstrak daun pepaya maupun lidah buaya terhadap jamur candida albicans. Pada hasil penelitian yang sudah dilakukan di Laboratorium Research Center Universtas Airlangga, dapat di ketahui bahwa kedua ekstrak yaitu daun pepaya . arica papaya l. dan lidah buaya . loe ver. terdapat zona hambat jamur terhadap jamur candida albicans. Berdasarkan diameter zona hambat di dapat hasil rata Ae rata 17,35 mm pada larutan ekstrak daun pepaya konsentrasi 100%. Kemudian di dapat hasil rata Ae rata 14,8 mm pada larutan ekstrak daun pepaya konsentrasi 50%, sedangkan untuk lidah buaya di dapat rata Ae rata diameter zona hambatnya pada 13,74 mm pada larutan ekstrak lidah buaya berkonsentrasi 100% dan hasil rata Ae rata 10,50 mm pada larutan ekstrak lidah buaya berkonsentrasi 50%. Untuk kontrol positif ketoconazole 2% didapat rata Ae rata 22,3 mm dari hasil tabel zona hambat larutan ekstrak daun pepaya kemudian di dapat rata Ae rata 22,5 mm dari hasil tabel zona hambat larutan ekstrak lidah buaya. Dari hasil penelitian ini bisa di simpulkan bahwa kedua sampel dengan konsentrasi keduanya yaitu 50% dan 100% mempunyai bahan aktif sebagai anti jamur yang dapat menghambat pertumbuhan jamur candida albicans, dan dapat simpulkan bahwa ekstrak larutan daun pepaya lebih efektif menghambat pertumbuhan jamur candida albicans di banding dengan ekstrak larutan lidah buaya yang dapat dilihat pada gambar 1,2 dan 3 PEMBAHASAN Pada penelitian ini yang bertujuan untuk menguji daya hambat antara ekstrak daun pepaya . apaya carica l. ) dan ekstrak lidah buaya . loe ver. terhadap pertumbuhan jamur candida albicans. Uji fitokimia dan pembuatan ekstrak di lakukan di Laboratorium Farmasi Universitas Udayana, dengan larutan ekstrak masing Ae masing 50% dan 100% daun pepaya dan lidah buaya. Uji daya hambat di lakukan di Laboratorium Research Center Universitas Airlangga. Hasil uji fitokimia pada ekstrak daun pepaya terkandung senyawa aktif antara lain: saponin, fenol, terpenoid, alkaloid, flavonoid dan tanin, sedangkan lidah buaya memiliki senyawa aktif antara lain: saponin, fenol, steroid, terpenioid, alkaloid, flavonoid dan tanin. yang memiliki mekanisme yang berbeda beda dalam menghambat pertumbuhan jamur. Dapat dikatakan bahwa ekstrak lidah buaya memiliki senyawa aktif yang lebih lengkap dibanding ekstrak daun pepaya. Mekanisme kerja saponin sebagai antijamur mengakibatkan sel mikroba lisis yaitu dengan mengganggu stabilitasmembrane selnya. Quinon memiliki efek sebagai antimikroba karenakuinon menghasilkan radikal bebas yang stabil dan membentuk kompleks irreversible dengan asam amino nukleofilik pada protein sehingga protein Kehilangan fungsi. Senyawa saponin mampu berperan sebagai pengawet alami karena dapat bekerja sebagai antimikroba yang akan merusak membran sitoplasma dan membunuh sel (Pusung dkk. Mekanisme kerja senyawa fenol adalah senyawa tersebut akan berikatan dengan ergosterol yang merupakan penyusun membran sel jamur sehingga menyebabkan terbentuknya suatu pori pada membran sel. Terbentuknya pori tersebut menyebabkan komponen sel jamur seperti asam amino, asam karboksilat, fosfat anorganik dan ester fosfat keluar dari sel hingga menyebabkan kematian sel jamur Mekanisme kerja steroid dapat berfungsi sebagai antijamur karena sifat lipofilik yang dimiliki oleh steroid dapat menghambat perkecambahan spora pada jamur. Adanya steroid akan menyebabkan integritas 20 membran menurun serta morfologi sel berubah yang berdampak pada kerapuhan sel dan luruhnya sel pada jamur (Subhisha & Subramoniam 2. Namun pada beberapa kondisi seperti Pada infeksi COVID-19 akan menimbulkan badai sitokin yang akan meningkatkan mortalitas pasien, hal tersebut dapat dihambat dengan antiminflamasi seperti kortikosteroid. Sayangnya pemberian terapi steroid berisiko mendorong timbulnya koinfeksi jamur, apalagi jika disertai komorbid Untuk itu perlu adanya kewaspadaan dini terhadap koinfeksi jamur pada pemberian steroid sebagai terapi COVID-19 apalagi jika disertai komorbid berupa diabetes mellitus (Permana dkk. Mekanisme kerja terpenoid yang bersifat lipofilik dapat menghambat pertumbuhan Jamur dengan mengganggu proses terbentuknya membran atau dinding sel jamur, dapat melarutkan lipid yang terdapat dalam membran sel dan mengganggu transport nutrisi yang dapat menyebabkan membran sel kekurangan nutrisi sehingga terjadi kerusakan sel pada jamur. Terpenoid yang bersifat lipofilik dapat menghambat pertumbuhan jamur (Panda 2. Mekanisme kerja senyawa alkaloid pada ekstrak tai anging (Usnea sp. ) yaitu dengan menghambat respirasi sel jamur candida albicans, menghambat sintesis asam nukleat, protein, dan membran fosfolipid sehingga mengganggu pembentukan dan fungsi zat-zat tersebut sehingga dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel. Hal ini sesuai dengan (Djunaedy 2. Mekanisme kerja Gugus flavonoid dapat bertindak sebagai anti jamur karena mempunyai fenol yang dapat mendenaturasi protein dan dapat merusak membran sel yang bersifat irreversible . idak dapat diperbaiki lag. Semakin lipofilik suatu flavonoid semakin merusak membran mikroba (Cowan 1. Mekanisme kerja senyawa tanin yang diduga memiliki efek anti jamur terhadap candida albicans. Tanin bekerja dengan cara mengendapkan protein dan dapat merusak membran sel sehingga pertumbuhan jamur candida albicans terhambat. Menurut (Watson dan Preedy 2. Pada hasil penelitian yang sudah dilakukan di Laboratorium Research Center Universtas Airlangga, dapat di ketahui bahwa kedua ekstrak yaitu daun pepaya . arica papaya l. ) dan lidah buaya . loe ver. terdapat zona hambat jamur terhadap jamur candida albicans. Berdasarkan diameter zona hambat di dapat hasil rata Ae rata 17,35 mm pada larutan ekstrak daun pepaya konsentrasi 100%. Kemudian di dapat hasil rata Ae rata 14,8 mm pada larutan ekstrak daun pepaya konsentrasi 50%, sedangkan untuk lidah buaya di dapat rata Ae rata diameter zona hambatnya pada 13,74 mm pada larutan ekstrak lidah buaya berkonsentrasi 100% dan hasil rata Ae rata 10,50 mm pada larutan ekstrak lidah buaya berkonsentrasi 50%. Untuk kontrol positif ketoconazole 2% didapat rata Ae rata 22,3 mm dari hasil tabel zona hambat larutan ekstrak daun pepaya kemudian di dapat rata Ae rata 22,5 mm dari hasil tabel zona hambat larutan ekstrak lidah buaya. KESIMPULAN Disimpulkan bahwa kedua sampel dengan konsentrasi keduanya yaitu 50% dan 100% sama- sama mempunyai bahan aktif sebagai anti jamur yang dapat menghambat pertumbuhan jamur candida albicans, dan dapat simpulkan bahwa ekstrak larutan daun pepaya lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur candida albicans di banding dengan ekstrak larutan lidah buaya. Adapun daya hambat paling baik terdapat di larutan ekstrak daun pepaya . apaya carica l. ) konsentrasi 100% karena paling mendekati daya hambat kontrol positif ketoconazole. DAFTAR PUSTAKA