SILABUS: Jurnal Ilmu dan Inovasi Pendidikan Vol. 2 No. Agustus 2025, pages: 10-16 DOI: https://doi. org/10. 62667/silabus. e-ISSN: 3047-1044 https://berugakbaca. org/index. php/silabus MODEL EVALUASI PENDIDIKAN DALAM KURIKULUM MERDEKA : Studi Literatur dan Perspektif Kebijakan Kemendikbud Siti Nur Afifah . Aisyah durrotul hikmah. Rahmadita mutia. Triono Ali Mustofa o100200240029@student. id, o100240044@student. o100240042@student. id, tam763@ums. Abstract Article History Manuscript submitted: 5 July 2025 Manuscript revised: 13 Agustus 2025 Accepted 28 Agustus 2025 Keywords Kurikulum Merdeka. model evaluasi CIPP. kebijakan pendidikan Transformasi pendidikan di Indonesia melalui penerapan Kurikulum Merdeka menuntut adanya pergeseran paradigma dalam pembelajaran dan evaluasi. Namun demikian, praktik evaluasi yang terjadi di lapangan masih banyak didominasi oleh pendekatan konvensional yang belum sepenuhnya sejalan dengan prinsip-prinsip evaluasi formatif, autentik, dan berbasis proyek sebagaimana diamanatkan dalam kurikulum tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menganalisis model-model evaluasi pendidikan yang relevan dalam konteks Kurikulum Merdeka melalui studi kepustakaan dan analisis kebijakan resmi dari Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam kerangka penelitian pustaka, data diperoleh dari dokumen kebijakan resmi serta berbagai literatur akademik yang Hasil kajian menunjukkan bahwa model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. memiliki relevansi tinggi dengan prinsip evaluasi holistik yang berpusat pada peserta didik. Model ini tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga memperhatikan konteks, sumber daya, dan proses pembelajaran secara Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan model evaluasi dalam Kurikulum Merdeka perlu didukung melalui pelatihan guru yang berorientasi pada asesmen formatif dan reflektif, serta penyusunan standar instrumen evaluasi yang kontekstual dan adaptif. Studi ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan evaluasi berbasis konstruktivisme serta implikasi praktis bagi para pembuat kebijakan dalam mengoptimalkan pelaksanaan Kurikulum Merdeka di tingkat satuan pendidikan. SILABUS@ 2024 Introduction Perubahan sistem pendidikan di Indonesia saat ini ditandai dengan diberlakukannya Kurikulum Merdeka, sebuah program kebijakan yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. sebagai respons terhadap tantangan global serta tuntutan pembelajaran abad ke-21. Pada tataran implementasi lokal, penerapan kurikulum ini di jenjang pendidikan dasar dan menengah memerlukan transformasi besar dalam strategi pembelajaran maupun sistem evaluasi. Hasil Asesmen Nasional tahun 2022 menunjukkan bahwa masih banyak sekolah di wilayah tertinggal yang menghadapi kesulitan dalam mengevaluasi capaian belajar peserta didik secara komprehensif, terutama dalam aspek literasi dan numerasi (Pusmenjar, 2. Di sisi lain, banyak guru yang masih mengandalkan evaluasi tradisional berbasis tes tertulis, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan semangat Kurikulum Merdeka yang mengedepankan asesmen formatif, autentik, dan berbasis proyek (Kemendikbudristek, 2. Kondisi tersebut mencerminkan adanya ketimpangan antara kebijakan nasional dan praktik evaluasi di tingkat satuan pendidikan. Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa pemahaman guru terhadap asesmen berbasis proses masih terbatas. Sebagai contoh, studi yang dilakukan oleh Rahmawati menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih memaknai evaluasi hanya sebatas pemberian nilai akhir, tanpa disertai refleksi maupun pemberian umpan balik yang konstruktif (Rahmawati. Pratama, & Widodo, 2. Penelitian lain oleh Kurniawan mengemukakan bahwa banyak pendidik merasa kurang percaya diri dalam menyusun asesmen autentik karena keterbatasan pelatihan yang memadai dan berkelanjutan (Kurniawan. Ningsih, & Hidayat, 2. Di samping itu, temuan dari Anggraita memperlihatkan bahwa belum terdapat standar baku dalam penggunaan instrumen evaluasi dalam Kurikulum Merdeka, yang mengakibatkan adanya perbedaan pelaksanaan evaluasi antar sekolah (Anggraita. Wulandari, & Handayani, 2. Fakta-fakta ini menegaskan adanya celah penelitian . esearch ga. dalam pengembangan model asesmen yang relevan, praktis, dan sesuai konteks Kurikulum Merdeka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan menganalisis ragam model evaluasi yang digunakan dalam implementasi Kurikulum Merdeka dengan merujuk pada studi literatur dan dokumen kebijakan terkini yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek. Fokus kajian mencakup pemahaman terhadap rumusan ideal evaluasi secara normatif dan implementasinya dalam praktik pembelajaran di pendidikan dasar. Dengan pendekatan ini, penelitian tidak hanya membangun pemahaman teoretis, melainkan juga berfungsi sebagai jembatan antara perumusan kebijakan dan implementasi di tingkat kelas. Dari sisi teoritis, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya wacana mengenai evaluasi berbasis konstruktivisme dan asesmen formatif, sebagaimana digagas dalam teori assessment for learning oleh Black dan Wiliam . Evaluasi dimaknai bukan semata sebagai alat pengukur capaian, melainkan sebagai proses reflektif yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran melalui umpan balik Dalam konteks Kurikulum Merdeka, evaluasi menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran yang bertujuan untuk mendorong pencapaian profil pelajar Pancasila (Kemendikbudristek, 2. Adapun secara praktis, hasil studi ini diharapkan memberikan rekomendasi berbasis data bagi para pemangku kebijakan, kepala sekolah, dan guru dalam memilih serta mengimplementasikan model evaluasi yang kontekstual, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Temuan ini juga dapat digunakan sebagai rujukan dalam menyusun program pelatihan guru yang lebih berfokus pada peningkatan kapasitas dalam merancang dan melaksanakan asesmen yang sesuai dengan prinsipprinsip Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki nilai urgensi yang tinggi dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang berkesinambungan dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Materials and Methods Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan deskriptif Penelitian kepustakaan merupakan suatu metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data yang berasal dari berbagai sumber pustaka atau referensi tertulis, baik berupa buku, jurnal ilmiah, artikel, dokumen resmi, maupun hasil penelitian sebelumnya yang Tujuan dari metode ini adalah untuk menggali informasi secara mendalam dari literatur yang tersedia guna merumuskan konsep-konsep baru atau menyusun pemahaman yang lebih komprehensif terhadap topik yang diteliti (Widodo et al. , 2. Dalam konteks ini, penelitian berfokus pada penelaahan model evaluasi pendidikan yang selaras dengan implementasi Kurikulum Merdeka, sehingga memungkinkan diperolehnya temuan-temuan konseptual yang mendukung pengembangan model asesmen yang tepat dan aplikatif. Sumber utama yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. , sebagai landasan normatif dan kebijakan. Di samping itu, penelitian ini juga memanfaatkan berbagai referensi ilmiah tambahan untuk memperkuat analisis, seperti kitab suci Al-QurAoan, jurnal nasional dan internasional, artikel ilmiah, serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan tema evaluasi pembelajaran dalam konteks pendidikan dasar. Seluruh sumber tersebut dipilih secara selektif berdasarkan relevansi, kredibilitas, dan kontribusinya terhadap pembahasan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode studi literatur atau library research, yaitu proses membaca, memahami, dan menganalisis bahan-bahan bacaan yang tersedia, baik secara fisik di perpustakaan maupun secara digital melalui basis data daring. Metode ini tidak terbatas pada buku sebagai satu-satunya sumber, tetapi juga mencakup dokumen-dokumen kebijakan, artikel ilmiah, laporan penelitian, maupun konten yang terdapat dalam media daring resmi (Agisna et al. , 2. Pemilihan literatur dilakukan secara cermat untuk memastikan bahwa setiap data yang dikumpulkan benar-benar berkaitan langsung dengan fokus penelitian, khususnya mengenai model evaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keberlanjutan dan penguatan kompetensi peserta didik. Setelah proses pengumpulan data, informasi yang diperoleh kemudian dikategorikan berdasarkan topik atau materi yang dikaji, dan disusun dalam bentuk tabel atau matriks. Penyusunan ini bertujuan untuk mempermudah peneliti dalam mengidentifikasi pola-pola, hubungan, atau keterkaitan antara berbagai informasi yang tersedia. Dalam tahap selanjutnya, data yang telah disusun tersebut dianalisis secara kualitatif untuk ditafsirkan secara mendalam, sehingga dapat ditarik kesimpulan yang mendukung tujuan Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif, yaitu pemaparan secara sistematis dan logis untuk menjelaskan temuan-temuan yang diperoleh dari kajian pustaka. Dengan cara ini, hasil penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran yang jelas, menyeluruh, dan kritis terhadap isu yang sedang dikaji. Results and Discussions Transformasi sistem pendidikan nasional melalui penerapan Kurikulum Merdeka membawa dampak signifikan terhadap pergeseran paradigma dalam praktik pembelajaran dan evaluasi di sekolah. Kurikulum ini menuntut pergeseran dari pendekatan konvensional menuju evaluasi yang lebih menyeluruh . , berorientasi pada kompetensi, berpusat pada siswa, dan kontekstual dengan kebutuhan lokal serta perkembangan zaman. Dalam konteks ini, salah satu model evaluasi yang memiliki tingkat relevansi tinggi dan sering dijadikan rujukan dalam analisis pendidikan adalah model CIPP (Context. Input. Process. Produc. Model ini tidak hanya menilai hasil akhir . , tetapi juga memperhatikan faktor-faktor awal dan proses yang berlangsung selama kegiatan Oleh karena itu, artikel ini mengkaji bagaimana penerapan model CIPP dalam kerangka Kurikulum Merdeka, mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses implementasinya, serta menyusun rekomendasi strategis untuk penguatan kebijakan evaluasi pendidikan yang sesuai dengan semangat kurikulum tersebut. Integrasi Kajian Literatur dan Kebijakan dalam Kurikulum Merdeka Hasil penelaahan terhadap berbagai literatur akademik dan dokumen kebijakan menunjukkan bahwa model evaluasi seperti CIPP, serta pendekatan asesmen yang memadukan evaluasi formatif dan sumatif, sangat selaras dengan nilai-nilai dasar Kurikulum Merdeka. Pendekatan evaluatif ini mendukung esensi pembelajaran holistik, di mana penilaian tidak hanya terbatas pada capaian akademik, melainkan juga mencakup proses dan kondisi yang mempengaruhi pembelajaran. Panduan kebijakan dari Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. pun dirancang untuk mendorong pelaksanaan evaluasi yang lebih menyeluruh, dengan memperhatikan aspek kontekstual dari setiap satuan pendidikan, efektivitas jalannya proses pembelajaran, dan kualitas hasil belajar siswa sesuai dengan indikator profil pelajar Pancasila (Mutaqin & Nurjanah, 2. Sinergi antara temuan literatur dan arahan kebijakan ini menjadi krusial dalam membangun sistem evaluasi yang tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga berfungsi sebagai alat reflektif dan diagnostik dalam proses pengembangan potensi peserta didik secara Dengan demikian, evaluasi tidak lagi diposisikan sebagai instrumen penilaian akhir semata, melainkan sebagai bagian integral dari proses pembelajaran itu sendiri. Kesenjangan dan Tantangan dalam Implementasi Meskipun regulasi dan panduan teknis dari pemerintah telah memberikan kerangka kerja yang cukup memadai bagi implementasi Kurikulum Merdeka, sejumlah tantangan tetap mengemuka dalam praktiknya di lapangan. Salah satu kendala utama adalah terbatasnya pelatihan yang diberikan kepada guru dalam memahami dan mengimplementasikan evaluasi berbasis kompetensi yang sesuai dengan karakteristik Kurikulum Merdeka (Gunawan. Apriyanti, & Rusdiana, 2. Banyak guru yang masih belum memiliki kemampuan yang memadai dalam merancang evaluasi otentik yang mencerminkan kompetensi esensial siswa, seperti berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Selain itu, terdapat jurang yang cukup signifikan antara kebijakan yang dirumuskan di tingkat pusat dengan kenyataan pelaksanaannya di sekolah. Hal ini mencakup kurangnya infrastruktur pendukung, seperti akses terhadap teknologi pendidikan, perangkat evaluasi digital, dan sumber daya manusia yang kompeten. Kondisi ini menghambat pelaksanaan evaluasi berbasis proyek atau penilaian berbasis portofolio yang seharusnya menjadi ciri khas Kurikulum Merdeka. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemangku kepentingan lintas sektorAitermasuk pengambil kebijakan, pendidik, lembaga pelatihan, dan komunitas pendidikanAiuntuk menutup kesenjangan antara desain kebijakan dan realitas praktik evaluasi di sekolah. Implikasi Temuan terhadap Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Temuan dari analisis ini mengindikasikan bahwa terdapat kebutuhan mendesak untuk meninjau dan menyesuaikan indikator penilaian yang digunakan dalam proses pembelajaran. Indikator evaluasi seharusnya tidak hanya mengukur aspek kognitif siswa secara sempit, tetapi juga mencerminkan kompetensi utama yang ingin dibentuk melalui Kurikulum Merdeka, seperti kemampuan berpikir reflektif, komunikasi efektif, serta inisiatif dan kreativitas dalam menyelesaikan masalah (Putri. Lapisa, & Ambiyar, 2. Selain itu, integrasi teknologi dalam proses evaluasi semakin menjadi suatu kebutuhan. Teknologi dapat meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan asesmen, memudahkan proses pelacakan kemajuan belajar siswa, serta memungkinkan guru untuk memberikan umpan balik secara real-time dan berkelanjutan. Penggunaan aplikasi evaluasi digital dan platform berbasis portofolio daring menjadi solusi yang potensial dalam mendukung prinsip asesmen formatif yang berorientasi pada proses. Implikasi dari temuan-temuan ini tidak hanya memperkaya ranah akademik dalam studi evaluasi pendidikan, tetapi juga memberikan landasan empiris bagi pengembangan kebijakan jangka panjang yang mendukung fleksibilitas, keberlanjutan, dan efektivitas sistem Dengan demikian, penguatan kapasitas guru, perbaikan instrumen asesmen, dan optimalisasi dukungan teknologi menjadi komponen kunci dalam menyukseskan evaluasi berbasis Kurikulum Merdeka secara menyeluruh dan berkeadilan di semua jenjang Conclusion Berdasarkan hasil kajian literatur dan telaah terhadap kebijakan pendidikan nasional, model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. dipandang sebagai pendekatan yang paling relevan dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Model ini dinilai mampu menangkap dinamika pembelajaran secara menyeluruh dan kontekstual, dengan tetap mengedepankan fleksibilitas serta orientasi pada penguatan karakter dan kompetensi peserta didik. Berbeda dari pendekatan evaluasi konvensional yang cenderung fokus pada hasil akhir, model CIPP memberikan perhatian terhadap keseluruhan proses pembelajaran melalui asesmen formatif dan autentik, yang menjadi inti dari evaluasi berbasis Kurikulum Merdeka. Meskipun Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi telah menyediakan pedoman implementasi yang progresif, tantangan nyata tetap dihadapi dalam praktik di lapangan. Di antaranya adalah masih terbatasnya pelatihan guru yang komprehensif, rendahnya pemahaman terhadap evaluasi berbasis proses, serta belum optimalnya infrastruktur penunjang, terutama di sekolahsekolah yang berada di daerah tertinggal. Untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan implementasi, dibutuhkan berbagai strategi Hal tersebut meliputi peningkatan kompetensi guru melalui program pelatihan yang berkelanjutan dan kontekstual, penyusunan instrumen evaluasi yang standar namun tetap adaptif, serta pemanfaatan teknologi digital guna mendukung efisiensi dan akurasi asesmen. Di samping itu, kolaborasi antara berbagai pemangku kepentinganAibaik dari unsur pemerintah, sekolah, komunitas pendidikan, maupun dunia usahasangat diperlukan dalam memperkuat ekosistem evaluasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. Lebih lanjut, diperlukan adanya studi empiris lanjutan yang mengkaji efektivitas penerapan model evaluasi ini dalam berbagai jenis dan konteks satuan Hasil penelitian semacam ini akan memperkaya referensi ilmiah sekaligus memberikan dasar yang lebih kuat bagi pengambilan kebijakan pendidikan berbasis bukti . vidence-based polic. ke depan. References