Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. September 2025 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share terhadap Hasil Belajar Peserta Didik dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Studi Eksperimen pada Siswa SMP Arina Qurrota AoAin1. Ahmad Syaifulloh2. Siti Nurkayati3 IAI Khozinatul Ulum Blora. Jawa Tengah. Indonesia, 40383 Telp: 6283189889558 E-mail: qurrotaain2007@gmail. IAI Khozinatul Ulum Blora. Jawa Tengah. Indonesia, 40383 Telp: 6281325771192 E-mail: ahmadsyaifulloh1988@gmail. IAI Khozinatul Ulum Blora. Jawa Tengah. Indonesia, 40383 Telp: 6281315469996 E-mail: Nurhayatimilitary92@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-09-18 Revised : 2025-09-26 Accepted : 2025-09-29 KEYWORDS Cooperative Learning Model Think Pair Share Islamic Religious Education SMP Negeri 2 Jepon KATA KUNCI Model Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 2 Jepon ABSTRACT Islamic Religious Education plays an important role in shaping students' attitudes and understanding. However, students' lack of attention during the learning process in class often results in suboptimal learning outcomes. This study was designed to analyze the impact of implementing the Think Pair Share (TPS) cooperative learning model on the learning achievement of seventh-grade students in subjects at SMP Negeri 2 Jepon. The approach used was quantitative, with a quasi-experimental design in the form of a pretest-posttest control group The research sample included two classes, namely the experimental class that received the TPS model intervention and the control class that used conventional learning methods. The data collection tool was an achievement test, while data analysis was performed using an independent t-test. The results showed that the Sig. wo tail. 000 was less than 0. 05, indicating a significant difference between the two groups. The average learning score in the experimental class reached 78. 42, while in the control class it was 71. 42, with an increase of 7 points. These results prove that the TPS model is effective in improving student understanding and engagement. Therefore. Islamic Education teachers can adopt TPS as an interactive learning strategy that facilitates collaboration among students and supports continuous improvement in learning ABSTRAK Pendidikan Agama Islam berperan penting dalam membentuk sikap dan pemahaman siswa. Namun, kurangnya perhatian siswa selama proses pembelajaran di kelas sering kali mengakibatkan hasil akhir belajar yang kurang Penelitian ini dirancang untuk menganalisis dampak penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) terhadap prestasi belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Jepon. Pendekatan atau metode yang digunakan adalah kuantitatif, dengan desain quasi eksperimen berupa pretest-posttest control group design. Sampel penelitian meliputi dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang mendapat intervensi model TPS dan kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Alat pengumpul data adalah 184 | JPI. Vol. No. September 2025 tes hasil belajar, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan uji-t Hasil penelitian menunjukkan nilai Sig. -taile. sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Rata-rata nilai belajar pada kelas eksperimen mencapai 78,42, sedangkan pada kelas kontrol sebesar 71,42, dengan peningkatan sebesar 7 poin. Hasil ini membuktikan bahwa model TPS efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. Oleh karena itu, guru Pendidikan Islam dapat mengadopsi TPS sebagai strategi pembelajaran interaktif yang memfasilitasi kolaborasi antar siswa dan mendukung peningkatan prestasi belajar secara Pendahuluan Belajar adalah proses yang bertujuan untuk membimbing siswa agar dapat belajar secara optimal. Kegiatan ini melibatkan partisipasi peseta didik dalam pemahaman materi melalui pendekatan yang efektif dan efisien. Menurut Gagne, belajar pada dasarnya dirancang untuk memfasilitasi proses belajar, di mana kondisi eksternal perlu diatur dengan baik untuk menggerakkan, memperkuat, dan pembelajaran (Hidayat et al. , 2. Dalam bertanggung jawab untuk membagikan pengetahuan, pengalaman, dan perspektif mereka yang melekat langsung pada esensi pengetahuan yang akan Namun, waktu yang tersedia untuk menyampaikan materi tersebut sangat terbatas (Mulyono et al. , 2. Karena itu, guru wajib mengembangkan desain pembelajaran yang memanfaatkan berbagai media demi memastikan proses pembelajaran berlangsung dengan daya guna dan hasil guna yang maksimal. Metode pembelajaran jelas tidak mampu mencapai hasil Pendekatan ini hanya menghasilkan transfer pengetahuan secara pasif, tanpa membuka peluang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk menyelami, menghayati, dan memahami materi yang disajikan. Hal yang sama berlaku untuk kesempatan mengembangkan pengalaman belajar mereka. Pendekatan pembelajaran ini termasuk dalam kategori konvensional, karena siswa hanya diajarkan melalui buku teks dan diharuskan mengulang isi teks tersebut selama ujian. (Zulihi & Umkabu, 2. Pendidikan Agama Islam menjadi poros utama dalam menegakkan karakter luhur, menajamkan moralitas, dan menyalakan kekuatan spiritual yang menuntun seluruh perilaku peserta didik. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran PAI masih didominasi oleh metode ceramah yang berorientasi sepenuhnya pada otoritas guru sehingga menyingkirkan keterlibatan aktif mereka dalam proses pembelajaran. Kondisi hal ini berakibat pada merosotnya capaian belajar siswa, serta kurang berkembangnya keterampilan berpikir kritis siswa (Mulyono et al. , 2. Oleh sebab itu, guru harus berani merevolusi pendekatan pembelajarannya dengan mengadopsi model yang benar-benar inovatif dan partisipatif, yang mampu menggugah keterlibatan penuh siswa salah satunya melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Model pembelajaran TPS memiliki keunggulan utama dalam memberikan ruang kepada siswa untuk menyalakan daya pikirnya secara mandiri, menguji dan mempertajam gagasan melalui dialog intens dengan pasangan, lalu menyalurkan dan mempertanggungjawabkan pemikiran mereka secara lantang di hadapan seluruh kelompok (Fatmawati et , 2. Pendekatan ini pada akhirnya dapat memotivasi siswa untuk menjadi lebih proaktif, berpikir kritis, dan berani mengemukakan ide-ide mereka dengan percaya diri. Berbagai studi jurnal menunjukkan bahwa penerapan TPS berpotensi mendorong lonjakan signifikan dalam prestasi belajar siswa, meskipun penerapannya pada ranah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terutama pada topik Asmaul Husna masih belum banyak Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan tipe Think Pair Share dalam mata pelajaran PAI di SMPN 2 Jepon, dengan fokus pada peserta didik kelas VII yang menghadapi tantangan dalam memahami materi Asmaul Husna al-Aoalim, as-samiAo, al-basir, al-khabir dan juga memahami contoh perilaku sehari-hari yang mencerminkan sifat Allah Berbeda dengan kajian-kajian terdahulu yang cenderung terpusat pada mata Pelajaran umum, penelitian ini menguji efektivitas TPS dalam ranah pendidikan agama yang menekankan aspek kognitif sekaligus afektif. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 185 Lebih dari itu, penelitian ini turut menghadirkan keunggulan pada integrasi nilai-nilai religius dalam kerangka pembelajaran kooperatif. Penerapan TPS tidak hanya menggugah dan mengakselerasi kemampuan kognitif siswa, tetapi juga mendorong terbangunnya sikap saling menghargai, kerja sama, dan komunikasi efektif antar peserta didik (Fazli. Oleh karena itu, aspek tersebut sesuai dengan tujuan utama dari pembelajaran Pendidikan agama islam dalam materi Asmaul husna, yaitu untuk menumbuhkan karakter Islami yang tercermin dalam sikap sehari-hari. Dengan demikian, penelitian ini menghubungkan model pembelajaran dengan nilainilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Adapun isu krusial yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini adalah merosotnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya dalam pendalaman materi Asmaul Husna di kelas VII. Oleh sebab itu, penelitian ini secara intensif menggali dan menguji sejauh mana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat memicu lonjakan drastis dan perubahan mendasar dalam peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan dengan metode konvensional, serta sejauh mana pendekatan ini dapat memotivasi siswa untuk secara aktif menerapkan nilai-nilai Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari mereka. Lebih dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dan membedah secara mendalam dampak pengaruh revolusioner penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap transformasi prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VIIA SMP Negeri 2 Jepon. Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk membandingkan kontras tajam dalam capaian belajar antara kelas yang mengimplementasikan model Think Pair Share (TPS) dan kelas yang masih terkungkung dalam pola pembelajaran tradisional, serta menganalisis efektivitas TPS dalam meningkatkan partisipasi aktif, kemampuan berpikir kritis, dan memahami nilainilai Islami dalam sehari-hari melalui materi Asmaul Husna. Secara keseluruhan, dalam penelitian ini berharap dapat memberikan solusi untuk guru PAI untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di ruang kelas. Lebih jauh lagi, temuan penelitian ini dapat dijadikan pijakan strategis dalam merancang dan mengembangkan metode pembelajaran yang benar-benar inovatif, yang tidak terbatas pada mata pelajaran PAI, tetapi juga relevan untuk mata pelajaran lain yang memerlukan partisipasi aktif Dengan demikian, temuan ini semoga juga dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, baik dalam hal prestasi akademik maupun peningkatan nilai-nilai karakter anak dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tinjauan Literatur Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Model pembelajaran kooperatif adalah strategi revolusioner yang menempatkan kerja sama intens antarpeserta didik sebagai inti dari proses pembelajaran, dengan satu sama yang lain dalam kelompok dengan tujuan tertentu. Metode ini juga digunakan untuk mengatasi masalah dalam menggali dan menaklukkan pemahaman atas suatu konsep secara mendalam, berpijak pada semangat tanggung jawab kolektif dan keyakinan mutlak bahwa setiap siswa adalah bagian dari kekuatan bersama yang berjuang menuju satu tujuan: keberhasilan belajar tanpa batas. Proses pembelajaran komunikatif dan interaktif umumnya berlangsung dalam kelompok Di sisi lain, pembelajaran tidak terjadi secara otomatis hanya dengan menyampaikan informasi Pembelajaran keterlibatan mental dan tindakan konkret dari siswa. Ketika aktivitas pembelajaran dilakukan secara aktif, siswa memikul sebagian besar tanggung jawab dalam proses pembelajaran. Mereka mengeksplorasi berbagai konsep, memecahkan berbagai masalah, dan menerapkan pengetahuan yang telah mereka peroleh (Ali, 2. Beragam model pembelajaran kooperatif telah lahir dan berkembang, namun salah satu yang paling revolusioner dan berdampak kuat adalah model Think Pair Share (TPS), yang digunakan oleh peneliti untuk membandingkan hasil Pendekatan pembelajaran kooperatif TPS pertama kali diusulkan oleh Lyman pada tahun 1981. Model ini mencakup tiga fase inti yang saling berkaitan erat, yakni berpikir, berpasangan, dan Pada tahap berpikir, siswa ditantang untuk secara mandiri menggali, mengolah, dan mempertajam daya nalar mereka terhadap permasalahan atau konsep yang dihadapi merenungkan jawaban atas masalah yang diajukan oleh peneliti. Melalui fase ini, siswa memperoleh pengetahuan melalui proses kognitif, yang melibatkan aktivitas mental seperti memahami, mengenali masalah, mencari solusi, mengumpulkan dan mengorganisir data, memahami dan menerapkan bahasa yang akurat, menganalisis informasi, dan menarik kesimpulan. Keterampilan berpikir ini Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 186 | JPI. Vol. No. September 2025 menjadi dasar untuk pengembangan keterampilan berpikir kritis. Kemudian, pada fase berpasangan, siswa mencari pasangan untuk mendiskusikan hasil pemikiran mereka sebelumnya. Saat berdiskusi, siswa memerlukan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan komunikasi yang baik. Fase terakhir adalah berbagi, di mana siswa membagikan hasil diskusi mereka dengan pasangan kepada seluruh untuk menyampaikan ini secara efektif, siswa harus memiliki kepercayaan diri yang kuat (Widyastuti, 2. Gambar 1. Think Pair Share Metode ini tidak hanya mempererat interaksi sosial antar siswa, tetapi juga menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan analitis mereka. Ketika siswa diajak untuk berpikir dan berdiskusi, mereka dilatih untuk mempertanyakan informasi yang mereka terima dan melihat berbagai sudut pandang yang mungkin berbeda. Proses ini mengasah kemampuan mereka dalam memecahkan masalah, merumuskan argumen, serta beradaptasi dengan pandangan yang berbeda (Nur Fauziah Ramadhani & Khoirul Umam. Adapun tantangan dalam implementasi TPS di kelas, terutama terkait dengan pengelolaan waktu. Sebagian pendidik mengalami kesulitan dalam mengatur waktu untuk setiap tahap TPS agar tetap efisien tanpa mengurangi kualitas diskusi. Selain itu, terdapat tantangan dalam memotivasi siswa yang kurang aktif agar mau berpartisipasi dalam kegiatan pair dan share. Untuk mengatasi tantangan ini, pendidik harus memperkenalkan aturan dan alokasi waktu yang jelas pada setiap tahap TPS. Pendidik juga dapat menggunakan pendekatan diferensiasi untuk mendorong keterlibatan siswa yang memiliki tingkat partisipasi rendah. Pendidik dapat menekankan pentingnya keterampilan manajemen kelas dalam Cooperative Learning, di mana guru harus mampu mengatur interaksi dan waktu agar proses kolaborasi berjalan efektif (Switri et al. Untuk kekurangan dan kelebihan tipe Think Pair Share adalah sebagai berikut: Kelebihan Think Pair Share . Memperbaiki presensi. Pekerjaan yang diberikan guru di setiap pertemuan membuat peserta didik berperan aktif dalam proses Peserta didik yang absen bahkan sekali saja akan secara otomatis kehilangan mempengaruhi kinerja akademik mereka secara keseluruhan. Karena itu, peserta didik berupaya untuk senantiasa mengikuti setiap kegiatan pembelajaran. Memberikan pelaksanaan proses pembelajaran sehingga peserta didik merasa nyaman dan memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Dengan menerapkan metode TPS, peserta didik terdorong untuk terlibat secara penuh dalam proses pembelajaran, mematahkan kebiasaan pasif dan rasa malas yang muncul akibat pola belajar monoton, di mana mereka hanya menjadi pendengar pasif terhadap penjelasan guru yang menumpulkan semangat dan menimbulkan kejenuhan. Meningkatkan rasa sosial peserta didik seperti kepedulian dan toleransi, karena dalam metode Think Pair Share (TPS) peserta didik dituntut untuk bekerja sama, menghormati pendapat orang lain, serta dengan jujur menerima apabila pendapatnya tidak diterima. Kekurangan Think Pair Share . Kegiatan pembelajaran lebih banyak dikuasai oleh beberapa peserta didik yang menampakkan keunggulan. Memerlukan durasi yang panjang untuk melaksanakan diskusi secara mendalam. Ketika diskusi menjadi antusias dan siswa dengan berani mengemukakan pendapat mereka, seringkali menjadi sulit untuk tetap fokus pada topik utama yang sedang dibahas. Banyaknya jumlah peserta didik juga berdampak pada peluang setiap peserta didik untuk menyampaikan pendapatnya Secara keseluruhan, model TPS memberikan manfaat bagi siswa secara individu, memungkinkan mereka mengembangkan pemikiran mereka sendiri berkat kesempatan untuk berpikir secara mandiri. Namun, kelemahan model ini, yang cenderung menguntungkan siswa berprestasi tinggi, dapat diatasi melalui peran guru dalam membimbing mereka (Rukmini, 2. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 187 Hasil Belajar Peserta Didik Hasil belajar mengacu pada penguasaan kemampuan atau keterampilan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang telah dicapai oleh siswa melalui partisipasinya dalam kegiatan belajar. Pada dasarnya, hasil belajar ini mencerminkan perubahan perilaku siswa yang timbul sebagai akibat dari proses belajar. Perubahan-perubahan ini secara sengaja difasilitasi dalam proses belajar untuk mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan. Perubahan perilaku individu yang dipicu oleh proses pembelajaran tidak terisolasi. sebaliknya, setiap kegiatan pembelajaran secara tidak terhindarkan mempengaruhi domain perilaku tertentu pada siswa, tergantung pada jenis perubahan yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan (Andryannisa. Berdasarkan Teori Taksonomi Bloom, hasil belajar dikategorikan ke dalam tiga domain utama, yaitu Domain Kognitif . ang melibatkan kemampuan berpikir dan intelektua. Domain Afektif . ang mencakup sikap, perasaan, dan emos. , dan Domain Psikomotorik . ang menekankan pada keterampilan fisik dan kinerj. (Rohmah, 2. Secara lebih spesifik. Bloom membagi klasifikasi hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga aspek utama, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik. Aspek kognitif adalah bagian tekanan intelektual, mencakup enam tingkat: pengetahuan atau pengingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Domain afektif, yang fokus pada sikap, melibatkan tahaptahap seperti penerimaan, respons atau reaksi, evaluasi, organisasi, dan internalisasi. Sementara itu, domain psikomotor mengacu pada hasil belajar berupa kemampuan dan tindakan motorik, yang dapat dikelompokkan menjadi enam jenis: gerakan refleks, keterampilan gerak dasar, keterampilan perseptual, koordinasi atau keterampilan manipulatif, keterampilan gerak kompleks, serta gerakan ekspresif dan interpretatif. (Wicaksono & Iswan. Untuk pembelajaran siswa, perlu dilakukan evaluasi terhadap proses belajar yang telah dilalui. Faktorfaktor yang memengaruhi keberhasilan belajar siswa terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni faktor internal dan faktor eksternal, sebagai berikut: Faktor Internal Menurut Slameto, faktor internal merujuk pada unsur-unsur yang berasal dari dalam diri siswa termasuk aspek fisik dan psikologis. Faktor-faktor ini berasal dari dalam individu dan berperan dalam mencapai tujuan belajar. Bakat, yakni kemampuan alami yang mencerminkan potensi dasar yang masih memerlukan pengembangan atau pelatihan lebih lanjut. Minat, yang didefinisikan sebagai preferensi alami dan daya tarik terhadap suatu topik atau aktivitas tanpa paksaan eksternal. Motivasi, yaitu serangkaian upaya untuk menciptakan kondisi yang mendorong seseorang untuk bersedia dan antusias melakukan sesuatu. Motivasi ini merupakan unsur krusial yang harus dimiliki setiap siswa untuk mempertahankan antusiasme yang konsisten dalam belajar. Gaya belajar, yaitu pola tingkah laku siswa yang cenderung lebih spesifik terkait upaya yang telah menjadi kebiasaan dalam memperoleh pengetahuan. Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah unsur-unsur yang bersumber dari faktor eksternal di luar diri siswa. Kategori ini mencakup pengaruh kuat dari lingkungan sekolah, dinamika keluarga, serta kondisi sosial masyarakat yang membentuk cara berpikir dan perilaku belajar siswa . Faktor lingkungan sekolah. Sekolah menjadi salah satu elemen krusial yang memengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya dalam aspek kecerdasan mereka. Oleh karena itu, lingkungan sekolah dapat dikatakan memberikan dampak yang besar terhadap capaian akademik siswa . Faktor lingkup keluarga, keluarga menjadi peran penting dalam pembentuk kehidupan, pertumbuhan, karakter dan perkembangan seseorang anak. Keluarga adalah salah satu perkembanan anak, berkontribusi pada kesuksesan mereka di sekolah dan kehidupan . Faktor lingkungan komunitas. Faktor lingkungan komunitas merujuk pada unsurunsur yang terkait dengan lingkungan sekitar siswa (Motoh, 2. Dari berbagai pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa faktor internal dan eksternal yang memengaruhi hasil belajar dapat membantu siswa memahami perbedaan antara proses pembelajaran yang terjadi di dalam maupun di luar lingkungan belajar Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 188 | JPI. Vol. No. September 2025 Penelitian terdahulu Think Pair Share Dalam penelitian terdahulu model pembelajaran kooperatif tipe TPS masih berfokus pada materi Berikut adalah penelitian terdahulu: Tabel 1. Penelitian Terdahulu Penulis dan Fokus Penelitian . Fitria Hidayat. Zulhendri, dan Zulfah . Dan Fokus adalah Pengaruh TPS matematis siswa SMP. Lira Hayu Afdetis Mana . Dan efektifitas TPS terhadap Bahasa Indonesia SMP. Bella R. Haloho dkk. Dan penerapan TPS pada hasil belajar Bahasa Indonesia SD. Oky Wulandari . Fokus penerapan TPS pada Pelajaran Bahasa Indonesia siswa SD. Hasil Utama dan Keterbatasan Hasil utamanya. TPS berpengaruh signifikan kemampuan pemecahan VII. Dan Keterbatasannya, hanya terbatas pada materi matematika segi empat, tidak mengkaji aspek Hasil TPS kemampuan berbicara . etepatan ucapan, diksi, sasaran pembicaraa. rata-rata 66,65%. Sedangkan keterbatasannya adalah Sampel terbatas, fokus keterampilan berbicara. Hasil rata-rata 22 poin pada dibanding 11,3 poin pada kelas kontrol. Sedangkan keterbatasannya adalah Fokus pada SD, tidak mengukur aspek sikap atau nilai karakter. Hasil adalah Efektifitas tinggi, keterampilan berbicara 90,20%. Sedangkan keterbatasannya adalah Penelitian tanpa uji signifikan Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa penelitian mengenai TPS lebih dominan dilakukan pada mata pelajaran umum seperti matematika dan Bahasa Indonesia. Hanya sedikit studi yang menyoroti penerapan TPS dalam konteks Pendidikan Agama Islam, khususnya pada materi Asmaul Husna yang menuntut keterpaduan antara pengetahuan kognitif dan penguatan nilai afektif. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menguji efektivitas TPS pada mata pelajaran PAI di SMP Negeri 2 Jepon, guna melihat bagaimana model ini mampu meningkatkan pemahaman siswa sekaligus membentuk sikap Islami melalui pembelajaran Asmaul Husna. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan quasi experimental atau eksperimen semu. Desain yang dipilih adalah desain kelompok kontrol pre-tes dan post-tes, yang melibatkan dua kelompok pokok, yakni kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol merupakan kelas yang menggunakan metode pembelajaran tradisional, sedangkan kelompok eksperimen adalah kelas yang diberikan perlakuan melalui model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS). Desain ini dipilih untuk mengukur perubahan hasil belajar siswa setelah perlakuan diterapkan, sambil membandingkannya dengan kelompok yang tidak menerima perlakuan. Subjek penelitian meliputi siswa kelas VII A dan VII C di SMP Negeri 2 Jepon pada tahun ajaran 2025/2026, masing-masing berjumlah 26 siswa, sehingga total keseluruhan peserta penelitian mencapai 52 orang. Pemilihan sampel dilakukan secara sengaja melalui teknik purposive sampling untuk memastikan kesesuaian dengan tujuan penelitian yang didasarkan pada pertimbangan keseragaman kemampuan akademik harian siswa informasi yang diperoleh dari guru mata pelajaran Pendidikan Islam untuk memastikan validitas hasil penelitian dalam mengevaluasi sejauh mana efektivitas model Think Pair Share dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Kelas VII A ditunjuk sebagai kelompok eksperimen yang menerima perlakuan metode tersebut, sedangkan kelas VII C berfungsi sebagai kelompok kontrol yang tetap menggunakan pendekatan konvensional. Instrumen penelitiannya menggunakan tes hasil belajar yang mencakup ranah kognitif. Tesnya berbentuk pilihan ganda, uraian dan esai yang totalnya berjumlah 25 soal. Untuk prosedur penelitiannya meliputi tiga tahap. Pertama, tahap persiapan pembelajaran. Kedua, tahap pelaksanaan yaitu pemberian pretest pada kedua kelompok, yang kemudian dilakukan pemberian perlakuan terhadap dua kelompok, di mana kelompok eksperimen menerapkan metode Think Pair Share (TPS). Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 189 sedangkan kelompok kontrol tetap menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional berbasis Ketiga, tahap penutup yaitu pemberian posttest pada kedua kelompok. Untuk prosedur, digunakan untuk menguji pengaruh perlakuan terhadap peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Teknik analisis data terdapat tiga yaitu: Uji normalitas dilakukan untuk menilai apakah data penelitian berdistribusi secara normal atau menyimpang dari pola distribusi normal. Dalam penelitian ini, pengujian normalitas dilakukan dengan menggunakan metode Lilliefors, dengan tingkat signifikansi yang diacu melalui uji ShapiroAeWilk. Adapun hipotesis yang diajukan dalam pengujian ini adalah: H0: data berdistribusi normal H1: data berdistribusi tidak normal Dengan ketentuan bahwa apabila nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima, yang berarti data berdistribusi normal, dan sebaliknya jika nilai tersebut O 0,05 maka data tidak berdistribusi normal. Pada penelitian ini, peneliti memanfaatkan perangkat lunak SPSS versi 26 untuk memperoleh hasil analisis yang lebih presisi dan reliabel. Uji homogenitas dilakukan untuk menilai apakah varians antar kelompok sampel memiliki keseragaman atau justru menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dalam penelitian ini, pengujian homogenitas dilakukan dengan menggunakan metode Levene melalui aplikasi SPSS versi 26. Adapun kriteria penilaiannya adalah: apabila nilai signifikansi Levene > 0,05, maka data dinyatakan homogen. sebaliknya, jika nilai signifikansi O 0,05, maka data dikategorikan tidak homogen. Uji Hipotesis Setelah tahap uji normalitas dan homogenitas terselesaikan, langkah berikutnya adalah pelaksanaan uji hipotesis. Pengujian hipotesis dapat dilakukan melalui uji t atau uji U tergantung pada karakteristik distribusi data. Uji t digunakan apabila data memenuhi asumsi distribusi normal dan homogen, sedangkan uji U dipilih sebagai alternatif ketika data tidak memenuhi kedua syarat tersebut. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini HO: AA1=AA2 (Tidak ada efek signifikan dari model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar PAI di kelas VII di SMP Negeri Jepon . H1: AA1OAA2 (Ada pengaruh yang signifikan dari model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar PAI pada kelas VII di SMP Negeri Jepon . Dengan ketentuan bahwa apabila nilai signifikansi > 0,05, maka dinyatakan tidak ada perbedaan yang berarti. sedangkan jika nilai signifikansi < 0,05, maka menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (Tulljanah & Wahyuni, 2. Dengan demikian, data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan uji t independen pada tingkat signifikansi 0,05 guna mengungkap secara jelas perbedaan tingkat pencapaian belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Analisis dilakukan setelah data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas dan homogenitas (Rahmi Ramadhani dan Nuraini Sri Bina, 2. Analisis ini dipilih karena sesuai untuk membandingkan dua kelompok yang tidak berhubungan secara langsung. Hasil Penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu, 17 September 2025, dengan kelas VII A ditetapkan sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII C sebagai kelompok kontrol. Pelaksanaan kegiatan diselaraskan dengan jadwal mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di masing-masing kelas. Pada kelompok eksperimen diterapkan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS), sedangkan kelompok kontrol tetap menggunakan pendekatan konvensional yang berpusat pada metode ceramah. Sebelum memulai proses penelitian, peneliti melakukan persiapan dengan menentukan tema dan sub-tema yang relevan untuk mengukur hasil belajar siswa, serta menyusun jadwal pembelajaran untuk kelas kontrol dan eksperimen. Tema yang dipilih diambil dari Bab II buku teks, yang membahas materi tentang Asmaul Husna. Sub-tema yang difokuskan meliputi pemahaman Asmaul Husna AlAlim. As-Sami'. Al-Basir, dan Al-Khabir, termasuk penerapan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Data penelitian dikumpulkan melalui pelaksanaan pre-test dan post-test kepada peserta didik di kedua kelas, yang mencakup total 25 butir pertanyaan, terdiri atas 10 soal pilihan ganda, 10 soal uraian, serta 5 soal esai. Dalam pembelajaran Asmaul husna (As-SamiAo. Al-Basir. Al-Alim, dan Al-Khabi. Peneliti melakukan lima langkah dalam pembelajaran: Tahap pertama, peneliti melakukan pendahuluan, seperti membuka pelajaran dengan salam dan doa, dan menyampaikan tujuan pembelajaran Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 190 | JPI. Vol. No. September 2025 agar siswa mampu memahami arti dan makna Asmaul husna tersebut serta mengamalkannya sehari-hari. Juga menyampaikan inti-inti dari materi Asmaul husna (As-SamiAo. Al-Basir. Al-Alim. Dan AlKhabi. agar peseta didik tidak kaget tiba-tiba dikasih soal pretest. Setelah itu baru diberikan pretest untuk mengetahui tahap awal. Tahap kedua yaitu setelah selesai dikumpulkan, peneliti mengulas kembali materi Asmaul husna (As-SamiAo. Al-Basir. Al-Alim. Dan Al-Khabi. beserta contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya pada tahap ketiga baru menerapkan tipe Think Pair Share, pada tahap Think . erpikir mandir. peneliti memberi pertanyaan seperti: Apa arti dari Asmaul husna As-SamiAo. Al-Basir. Al-Alim, dan Al-Khabir? . Bagaimana contoh perilaku meneladani 4 Asmaul husna. As-SamiAo. Al-Basir. Al-Alim, dan Al-Khabir dalam kehidupan sehari-hari? Setelah siswa menulis jawaban di buku tulis masing-masing, selanjutnya melaksanakan tahap Pair . iskusi berpasanga. , ini dilakukan dengan teman sebangku untuk mendiskusikan jawaban Semisal siswa A mengatakan bahwa Albasir itu mengingatkan kita agar tidak berbuat curang walaupun tidak ada yang melihat. Lalu siswa B menambahkan bahwa menolong orang yang kesusahan juga termasuk meneladani sifat Albasir. Selanjutnya tahap Share . erbagi dengan teman sekela. , pada tahap ini peneliti menyuruh beberapa pasangan untuk menyampaikan hasil diskusinya dan ditulis di papan tulis serta peneliti meluruskan jika ada yang kurang tepat. Untuk tahap yang terakhir yaitu tahap empat. Posttest mengetahui hasil akhir peserta didik. Setelah selesai peneliti melakukan doa penutup dan berterimakasih telah berkenan untuk dilakuan Analisis data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menelusuri sejauh mana prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dapat meningkat melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share pada kelompok eksperimen menunjukkan hasil yang lebih superior dibandingkan dengan penerapan metode ceramah konvensional pada kelompok kontrol, khususnya di tingkat kelas VII sekolah menengah Proses pengujian hipotesis dimulai dengan pengolahan data prestasi belajar siswa yang dikumpulkan dari siswa. Jenis uji yang diterapkan adalah uji t sampel independen. Sebelum menerapkan uji t, data diuji untuk memastikan distribusi normal dan homogenitasnya menggunakan perangkat lunak SPSS. Berikut ini menyajikan hasil uji normalitas dan homogenitas, serta uji t sampel independen data: Hasil Data pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Tabel 2. Hasil Tes Kelas 7A (KELAS EKSPERIMEN) PRE POST TEST TEST Kelas 7C (KELAS KONTROL) PRE POST TEST TEST Tabel di atas menampilkan hasil tes dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang masing-masing terdiri atas 26 peserta didik dalam setiap kelas. Hal ini menunjukkan adanya kesetaraan jumlah sampel sehingga perbandingan hasil tes antar kedua kelompok dapat dilakukan secara lebih adil dan Perbandingan hasil tes keduanya mengarah pada identifikasi apakah terdapat perbedaan yang bermakna secara signifikan dalam capaian belajar PAI pada materi Asmaul Husna Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 191 . Uji Normalitas Tabel 3. Hasil Output SPSS . Independent sample t-test Tabel 5. Hasil Output SPSS Berdasarkan hasil output uji normalitas terhadap data hasil belajar yang tercantum pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi untuk kelas kontrol pada kolom ShapiroAeWilk Adalah 0,622 dan 0,125 sementara pada kelas eksperimen diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,418 dan 0,909. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar dari kedua kelas memiliki nilai > 0,05, yang berarti data hasil belajar keduanya berdistribusi secara normal. Penggunaan Shapiro-wilk dalam analisis ini karena jumlah sampel kecil atau sampel < 50. Dapat dilihat pada data tabel 1 bahwa jumlah dalam satu kelasnya ada 26 peserta didik. Sehingga hasilnya akan lebih akurat dibandingkan dengan kolmogorovsmirnof. Karena distribusi data yang normal menjadi syarat penting untuk melanjutkan pengujian parametrik, seperti uji t independent sampel, untuk mengetahui perbedaan hasil belajar yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kontrol. Berdasarkan dari data output uji independent sample t-test di atas nilai Sig. -taile. adalah 0,000 < 0,05 yang artinya adanya perbedaan yang signifikan nilai rata-rata dari hasil posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen. Temuan penting ini menunjukkan bahwa intervensi yang diterapkan di kelas eksperimen, yaitu model pembelajaran kooperatif Think-PairShare, memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, dibandingkan dengan metode konvensional di kelas kontrol. Dengan kata lain, perbedaan dalam prestasi belajar tersebut bukanlah kebetulan, melainkan hasil langsung dari pendekatan pengajaran yang berbeda yang dipilih. Bagan 1. Diagram Nilai Rata-rata . Uji Homogenitas Tabel 4. Hasil Output SPSS Berdasarkan dari data output uji homogenitas di atas nilai signifikannya dapat dilihat pada kolom based on mean adalah sebesar 0,965 > 0,05. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki varians yang sama atau bersifat homogen. Homogenitas data menunjukkan bahwa tingkat penyebaran nilai pada kedua kelas relatif serupa, sehingga tidak ada perbedaan varians yang Kondisi ini penting karena kedua kelompok yang dibandingkan harus diambil dari kelompok dengan penyebaran data yang sama untuk penggunaan uji t independen. Hal ini memastikan bahwa perbandingan rata-rata hasil terhadap kedua kelas dapat dilakukan secara benar dalam penerapan model TPS dan konvensional. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam diagram, penerapan model pembelajaran TPS di kelas eksperimen terbukti memiliki dampak yang jelas terhadap hasil belajar siswa. Skor rata-rata posttest di kelas eksperimen mencapai 78,42, sementara kelas kontrol yang menerapkan metode konvensional hanya mencapai rata-rata 71,42, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 4. Perbedaan ini mencapai 7 poin antara kedua kelompok. Perbedaan rata-rata hasil belajar menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran berbasis TPS menunjukkan penguasaan yang lebih mendalam terhadap materi Asmaul Husna dibandingkan dengan siswa di kelas kontrol. Fenomena ini sejalan dengan karakteristik TPS, yang memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 192 | JPI. Vol. No. September 2025 secara mandiri, berdiskusi berpasangan, dan berbagi ide dalam kelompok, sehingga proses belajar menjadi lebih dinamis, kolaboratif, dan bermakna. Di sisi lain, perbedaan 7 poin ini semakin mengonfirmasi hasil uji statistik, yang menegaskan bahwa penerapan TPS tidak hanya menghasilkan dampak yang signifikan secara statistik tetapi juga membawa perbaikan konkret dan terukur dalam kualitas hasil belajar siswa. Oleh karena itu, model TPS dapat dianggap sebagai pendekatan pembelajaran yang lebih unggul dibandingkan metode konvensional dalam meningkatkan prestasi akademik siswa. Diskusi Berdasarkan analisis data yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share di kelas eksperimen memiliki dampak yang lebih positif dibandingkan dengan metode konvensional di kelas kontrol. Siswa di kelas eksperimen meraih skor yang lebih tinggi berkat pendekatan ini, yang memberikan mereka kesempatan yang cukup untuk berpartisipasi dalam pemikiran kritis, menjawab pertanyaan, dan saling mendukung sepanjang proses pembelajaran. Selain itu, model ini juga meningkatkan keterampilan sosial siswa dalam aktivitas pembelajaran, termasuk kemampuan untuk mengajukan pertanyaan, bekerja sama dalam tim, mengekspresikan ide atau pendapat, dan mendengarkan secara aktif. Pendekatan ini telah terbukti sebagai strategi yang andal untuk membawa keragaman dalam dinamika dan interaksi diskusi kelas (Tulljanah & Wahyuni, 2. Jadi dalam penggunaan TPS peserta didik mampu berpikir kritis dan menguasai materi asmaul husna As-Sami. AlAlim. Al-Basir dan Al-Khobir serta lebih memahami keteladanan asmaul husna tersebut dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Keunggulan TPS konvensional terletak pada pergeseran peran siswa dari penerima pasif menuju subjek aktif yang berpartisipasi dalam pembelajaran. Model ini memadukan pemikiran individu dengan diskusi kelompok, sehingga proses pemahaman materi berlangsung lebih mendalam dan bermakna. Hal ini yang membuat capaian belajar kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Namun, penelitian ini juga memiliki keterbatasan, antara lain jumlah sampel relatif kecil . siswa per kela. , serta waktu penelitian yang terbatas. Implikasi praktis dari temuan ini adalah bahwa guru Pendidikan Agama Islam dapat menjadikan TPS sebagai strategi pembelajaran alternatif untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa, memperkuat keterampilan sosial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan penerapan yang konsisten. TPS berpotensi meningkatkan mutu pembelajaran PAI baik dari aspek kognitif, afektif, maupun sosial. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jepon, hasilnya Penerapan model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share telah terbukti memiliki dampak yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya pada materi Asmaul Husna (Al-Alim. As-Sami'. Al-Basir, dan Al-Khabi. Rata-rata nilai di kelas eksperimen mencapai 78,42, yang lebih tinggi daripada kelas kontrol dengan nilai 71,42, sehingga terdapat selisih 7 Hal ini membuktikan bahwa pendekatan TPS efektif dalam meningkatkan pemahaman kognitif siswa dan pemahaman mereka tentang sifat teladan Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari. Tipe TPS ini mampu mendorong aktif dan berpikir kritis peserta didik melalui proses, berpikir, berdiskusi, dan berbagi pendapat. Sehingga bukan hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial seperti kerja sama dan saling menghargai. Guru Pendidikan Agama Islam juga dapat menjadikan TPS sebagai strategi pembelajaran alternatif untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa, menumbuhkan keterampilan sosial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian selanjutnya sebaiknya memperluas cakupannya dengan melibatkan lebih banyak sampel, memperpanjang durasi penelitian, atau mengeksplorasi bahan-bahan lain dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Persembahan Dengan penuh hormat dan syukur, peneliti menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Bapak dan Ibu Pembimbing dan juga seluruh civitas akademika dan para dosen Institut Agama Islam Khozinatul Ulum Blora yang telah menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian penelitian Kontribusinya tidak hanya berupa pengajaran dan bimbingan akademik, akan tetapi juga dalam bentuk motivasi, wawasan intelektual, dan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 193 Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Jepon atas persetujuannya dan penyediaan fasilitas selama penelitian, serta kepada para guru terutama guru Pendidikan Islam dan siswa yang berpartisipasi dengan antusias. Semoga segala bentuk kebaikan, ilmu, dan keikhlasan yang telah diberikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir keberkahannya. Terima kasih atas dedikasi, keikhlasan, dan pengabdian. Dan tidak lupa peneliti berterima kasih kepada kedua orangtua yang telah mendukung dan memberi semangat, peneliti juga bersyukur kepada Sang Maha Kuasa karena ketrampilan dan semua hal-hal baik dalam penelitian yang ditulis semata-mata tak terlepas dari kuasa Al-Wahhaab. Sang Penulis Terbaik di seluruh alam semesta. Referensi