(JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. GAMBARAN RHEUMATOID FACTOR (RF) PADA WANITA PRA LANSIA DI RSUD ABDOEL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA Overview of Rheumatoid Factor (RF) in pre-elderly women at RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Diva Arashelly Yusena1*. Dwi Setiyo Prihandono2. Nurul Anggrieni 3 1,2,3 Poltekkes Kemenkes. Samarinda. Indonesia ( email korespondensi: divaara21@gmail. ABSTRAK Latar Belakang Rematoid faktor (RF) pada wanita pra-lansia adalah penanda autoantibodi yang penting dalam diagnosis Rheumatoid Arthritis (RA). Wanita pada usia ini cenderung memiliki respon imun yang meningkat terhadap self antigen, dipengaruhi oleh perubahan hormonal seperti menopause, yang dapat memicu autoimunitas. Tujuan : Pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada lansia bertujuan untuk deteksi dini penyakit kronis seperti Rheumatoid Arthritis (RA). Adapun tujuan penelitian Mengetahui gambaran Rheumatoid Factor (RF) pada wanita pra lansia di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Metode : Tehnik pengambilan sampel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah tehnik total sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 wanita pra lansia yang melakukan pengambilan darah di laboratorium RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan semi kuantitatif dengan menggunakaan analisa univariate. Hasil : penelitian menunjukkan bahwa 10% dari responden menunjukkan hasil positif untuk Rheumatoid Factor (RF), sementara 90% lainnya negatif. Faktor penyebab hasil positif meliputi pekerjaan, riwayat keluarga dengan penyakit sendi, lingkungan tempat tinggal, penggunaan obat-obatan, dan nyeri sendi persisten. Pentingnya faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup dalam patogenesis Rheumatoid Factor (RF). Kata kunci : Rheumatoid Factor (RF). Rheumatoid Arthritis (RA). Wanita pra-lansia ABSTRACT Background Rheumatoid factor (RF) in pre-elderly women is an important autoantibody marker in the diagnosis of Rheumatoid Arthritis (RA). Women at this age tend to have an increased immune response to self antigens, influenced by hormonal changes such as menopause, which can trigger autoimmunity. Objective: Rheumatoid Factor (RF) examination in the elderly aims for early detection of chronic diseases such as Rheumatoid Arthritis (RA). The purpose of the study was to know the description of Rheumatoid Factor (RF) in pre-elderly women at Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Hospital. Methods: The sampling technique used in this study was total sampling technique. The samples used in this study were 20 preelderly women who took blood in the laboratory of RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. This study was conducted qualitatively and semi-quantitatively using univariate analysis. Results: The study showed that 10% of the respondents showed positive results for Rheumatoid Factor (RF), while 90% were negative. Factors causing positive results include occupation, family history of joint disease, living environment, medication use, and persistent joint pain. The importance of genetic, environmental, and lifestyle factors in the pathogenesis of Rheumatoid Factor (RF). Keywords: Rheumatoid Factor (RF). Rheumatoid Arthritis (RA). Pre-elderly women | 73 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. PENDAHULUAN Rematik tinggi memberikan indikasi prognosis buruk dengan potensi kelainan sendi yang parah dan inflamasi sistemik kronis yang mampu kemungkinan komplikasi sistemik. Pada memengaruhi berbagai jaringan dan organ, orang dewasa. Rheumatoid Arthritis (RA) adalah suatu poliartritis inflamatoris simetris . Menurut World Health yang dicirikan oleh proliferasi sinovial. Organization (WHO) tahun 2016, sekitar 335 juta penduduk dunia mengalami rematik. Manifestasi paling umum dari penyakit ini dengan prevalensi di Indonesia berkisar adalah serangan pada sendi yang cenderung antara 0,1% hingga 0,3%, sementara di menetap dan progresif. Awalnya, sendi kecil Amerika mencapai 3%. Pada tahap awal, di tangan dan kaki terkena, seringkali deteksi penyakit rematik dilakukan melalui menyebabkan deformitas sendi dan gangguan penggunaan tes Rheumatoid Factor (RF). fungsi yang disertai rasa nyeri, penyakit Pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada rematik biasa sering terjadi pada usia pra individu yang dicurigai mengalami rematik lansia hingga usia lansia (Harti, 2. berperan penting dalam membantu proses Menurut WHO Pra lansia merupakan diagnosis Rheumatoid Arthritis (RA) (Chabib usia rentang 45-59 tahun et al. , 2. kemungkinan untuk mengalami autoimun Prinsip Rheumatoid Factor (RF) adalah usia, semakin tinggi potensi mengalami molekul IgG, dan penerapannya pada uji autoimun dibandingkan dengan usia yang lebih muda. Pada tahap ini, toleransi antigen menunjukkan bahwa semakin bertambahnya yang memiliki Rheumatoid Arthritis (RA). Penyakit Rheumatoid Arthritis peningkatan reaksi terhadap self antigen. (RA), yang bersifat kronis dan menyebabkan Dalam hal ini, penting untuk memahami peradangan pada jaringan penyambung (Ola faktor-faktor Wuan, 2. perkembangan autoimunitas, salah satunya Sekitar 80-85% adalah peran jenis kelamin, terutama pada wanita (Agrawal et al. , 2. Rheumatoid Factor (RF) dalam serum dengan Rheumatoid Factor Salah satu faktor kontributor pada (RF) perkembangan autoimunitas adalah jenis berperan sebagai Faktor anti-gammaglobulin, kelamin, terutama karena penyakit autoimun dan tingkat Rheumatoid Factor (RF) yang cenderung lebih sering tejadi pada wanita | 74 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. dibanding pria, dipengaruhi oleh peran lansia di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Wanita dengan hormon estrogen Samarinda (Harti, 2. memiliki kemampuan merangsang respon Di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie imun, meningkatkan aktivasi sel B, dan Samarinda, pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada tahun 2019-2023 berdasarkan uji pendahuluan menunjukkan adanya 32 pasien respons inflamasi terhadap berbagai antigen wanita pra lansia. Langkah awal ini bertujuan juga dapat menyebabkan respons inflamasi untuk mendeteksi Rheumatoid Arthritis (RA), yang berlebihan terhadap antigen tubuh yang dapat diidentifikasi melalui hasil positif Penurunan kadar hormon estrogen, pada pemeriksaan tersebut. Fokus penelitian khususnya selama fluktuasi hormonal seperti ini adalah pada wanita pra lansia sebagai menstruasi dan kehamilan, dapat memicu Gabungan dari faktor-faktor ini mereka mengalami penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia, dan memiliki risiko penyakit kronis yang potensi risiko autoimun dan mengambil Faktor-faktor seperti perubahan langkah-langkah pencegahan yang sesuai hormonal dan aspek kesehatan reproduksi (Siregar, 2. juga menjadi pertimbangan penting dalam Kecenderungan pra-lansia Berdasarkan hasil penelitian Harti dan Penelitian Yuliana tahun 2020, ditemukan 3 sampel yang positif Rheumatoid Factor (RF) dari 15 memanfaatkan fasilitas lengkap RS untuk sampel tersangka Rheumatoid Arthritis (RA) memperkuat validitas hasil penelitian. Selain yang diperiksa Dari 4 sampel yang positif 3 itu, akan dievaluasi keluhan nyeri yang diantaranya merupakan usia lanjut yaitu 63 dirasakan setiap pagi sebagai bagian dari tahun, 74 tahun, dan 79 tahun. Hal ini karena evaluasi klinis pasien. (Harti, 2. sebanyak 15-20% dari mereka yang berusia Pemeriksaan diatas 60 tahun mempunyai Rheumatoid kualitatif, hasil positif dapat memberikan Factor (RF) positif dengan kadar titer yang petunjuk kepada profesional medis untuk Pemeriksaan ini dilakukan untuk evaluasi lebih lanjut dan pertimbangan membantu dalam mendiagnosis Rheumatoid diagnosis Rheumatoid Arthritis (RA). Inisiatif Arthritis (RA). Pada penelitian ini dilakukan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada untuk menjalani pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada lansia sebagai skrining | 75 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. awal, sehingga dapat membantu dalam yang melakukan pengambilan darah di diagnosis dini serta manajemen penyakit laboratorium Patologi Klinik di RSUD Rheumatoid Arthritis (RA) (Soryatmodjo et Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Tehnik , 2. pengambilan sampel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah tehnik total sampling. METODE yaitu tehnik penentuan sampel di mana semua Jenis penelitian ini adalah penelitian elemen atau anggota populasi dipilih untuk deskriptif yang digunakan untuk memperoleh Gambaran Rheumatoid Factor (RF) pada wanita pra lansia di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Pengambilan sampel dilakukan di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Laboratorium Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 sampai 4 Juni 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah 20 HASIL Gambaran Rheumatoid Factor (RF) Pada wanita pra lansia di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dilakukan di Laboratorium Imunoserologi Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur sebanyak 20 sampel serum wanita pra lansia. sampel pasien wanita Pra lansia rawat jalan Tabel 1. Hasil pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada wanita pra lansia di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda No. Hasil Rheumatoid Factor (RF) Jumlah Prsentase (%) Positif Negatif Total Berdasarkan jumlah wanita pra lansia yang memiliki hasil diketahui bahwa jumlah wanita pra lansia Rheumatoid Factor (RF) negatif sebanyak 18 yang memiliki hasil Rheumatoid Factor (RF) responden . %). positif sebanyak 2 responden . %) dan | 76 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. Tabel 2. Hasil Rheumatoid Factor (RF) pada wanita pra lansia di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. No. Kode Sampel Kadar Titer RF. 128 IU/mL RF. 129 256 IU/mL Bedasarkan pada tabel 2 diketahui penelitian ini sejalan dengan penelitian yang bahwa jumlah wanita pra lansia yang hasil telah dilakukan oleh (Soryatmodjo et al. Rheumatoid Factor (RF) positif sebanyak 2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dan yang hasil Rheumatoid Factor dari 36 sampel, hanya 4 sampel . ,11%) (RF) yang menunjukkan hasil Rheumatoid Factor Responden RF. (RF) positif, sementara 32 sampel lainnya memiliki kadar titer 128 IU/mL, dengan . ,8%) menunjukkan hasil negatif. Faktor- faktor penyebab meliputi pekerjaan atau kegiatan fisik, riwayat keluarga dengan rendahnya prevalensi Rheumatoid Factor penyakit sendi, penggunaan obat-obatan, dan (RF) positif antara lain distribusi genetik yang tidak merata, variasi dalam sensitivitas dan Responden RF. memiliki kadar titer 256 IU/mL. di lakukan pada tanggal 03 Juni 2024 sampai 4 Juni 2024 tentang hasil pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada wanita pra lansia di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda didapatkan jumlah responden keseluruhan yaitu sebanyak 20 responden wanita pra lansia. Dapat dilihat pada tabel 1 Jumlah wanita pra lansia dengan hasil Rheumatoid Factor (RF) positif sebanyak 2 %), sedangkan yang memiliki spesifisitas tes Rheumatoid Factor (RF), serta Berdasarkan hasil penelitian yang telah Rheumatoid perbedaan respons imun terhadap faktor PEMBAHASAN Factor (RF) %). Hasil Selain lingkungan dan gaya hidup juga dapat memengaruhi hasil Rheumatoid Factor (RF) positif pada penelitian ini. Berdasarkan hasil tabel 2 diketahui, bahwa terdapat dua responden wanita pra lansia dengan hasil Rheumatoid Factor (RF) RF. menunjukkan kadar titer Rheumatoid Factor (RF) sebesar 128 IU/mL dan RF. 2 sebesar 256 IU/mL. Kedua responden ini memiliki berkontribusi terhadap hasil Rheumatoid Factor (RF) positif, termasuk pekerjaan atau | 77 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. kegiatan fisik yang berpotensi menyebabkan modifikasi intensitas, durasi, dan jenis nyeri sendi, riwayat keluarga dengan penyakit aktivitas fisik untuk memastikan keamanan sendi, penggunaan obat-obatan tertentu, serta dan efektivitas dalam mendukung kesehatan riwayat nyeri sendi persisten atau berulang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rheumatoid Factor (RF) positif. yang telah dilakukan oleh (Kodariah, 2. Faktor Hasil Penelitian dilakukan pada 30 wanita penting dalam perkembangan Rheumatoid dengan usia antara 40-55 tahun yang telah Factor (RF), dengan penelitian menunjukkan memberikan persetujuan dengan informed bahwa individu yang memiliki riwayat Hasil menunjukkan bahwa 2 dari 30 keluarga dengan Rheumatoid Factor (RF) memiliki risiko lebih tinggi terkena faktor ini. Rheumatoid Factor (RF), dengan kadar titer Hal ini menandakan bahwa kecenderungan 128 IU/mL pada usia 46-50 tahun dan kadar genetik dapat menjadi faktor utama dalam titer 256 IU/mL pada usia 51-55 tahun. menyebabkan Rheumatoid Factor (RF). Teori Berdasarkan kedua responden yang pra-lansia, ini didukung oleh (Svendsen, 2. menekankan bahwa faktor keluarga atau keturunan merupakan faktor yang penting berkontribusi terhadap hasil Rheumatoid Factor (RF) positif. Pada proses penuaan. Rheumatoid Factor (RF). Perawatan dan pencegahan Rheumatoid Factor (RF) perlu memerlukan penyesuaian dalam aktivitas fisik sehari-hari. Aktivitas fisik, termasuk perencanaan perawatan yang efektif sesuai kesehatan fisik dan mental serta menjaga dengan standar medis terkini. kualitas hidup. Namun, dengan adanya Faktor keterbatasan fisik akibat penuaan, pra-lansia perlu melakukan penyesuaian agar tetap aman pengembangan Rheumatoid Factor (RF). dan efektif dalam beraktivitas. Teori ini Lingkungan kerja yang melibatkan paparan (Salsadila, 2. , yang bahan kimia beracun atau stres kronis dapat meningkatkan risiko kondisi autoimun seperti aktivitas fisik untuk mengurangi risiko nyeri Rheumatoid Factor (RF). Posisi kerja yang sendi dan meningkatkan kesehatan secara tidak ergonomis atau aktivitas fisik yang Penyesuaian ini mencakup | 78 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. peradangan pada sendi. Polusi udara dan gaya kesehatan sendi. Teori ini didukung oleh hidup yang memerlukan aktivitas fisik yang berat juga dapat menjadi penyebab risiko. menunjukkan hubungan signifikan antara Dengan memahami hal-hal ini, langkah- langkah pencegahan yang tepat dapat diambil peningkatan risiko Rheumatoid Factor (RF). (Noviyanti, obat-obatan Yang Nyeri sendi yang berlangsung lama atau kesehatan sendi. Teori ini didukung oleh (Nana, 2. Menyatakan bahwa paparan polutan dan bahan kimia industri, serta stres Rheumatoid Arthritis (RA). Rheumatoid kerja kronis, dapat berkontribusi signifikan Factor (RF) adalah antibodi yang sering terhadap perkembangan penyakit autoimun. terkait dengan kondisi ini, meskipun tidak Individu yang terpapar stres kerja dan bahan selalu ada pada semua penderita dan bisa kimia beracun memiliki tingkat Rheumatoid ditemukan pada kondisi lain atau individu Factor (RF) yang lebih tinggi, menunjukkan Pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pentingnya intervensi untuk mengurangi membantu dalam diagnosis dan evaluasi paparan ini dalam pencegahan penyakit. tingkat aktivitas penyakit, tetapi diagnosis Penggunaan obat-obatan tertentu dapat Rheumatoid Arthritis (RA) juga memerlukan menjadi faktor penyebab meningkatnya risiko pemeriksaan klinis, tes lain, dan gambaran Rheumatoid Factor (RF). Beberapa obat. Jika nyeri sendi persisten disertai terutama yang digunakan dalam jangka kemerahan, pembengkakan, atau kekakuan didukung oleh penelitian (Bakar, 2. autoimun dalam tubuh. Obat-obatan seperti Penelitian ini menunjukkan hubungan antara statin, beta-blocker, dan inhibitor enzim Rheumatoid Factor (RF). Oleh karena itu, (ACE Teori memahami bahwa Rheumatoid Arthritis (RA) menyebabkan nyeri sendi, seperti Gout atau Rheumatoid Factor (RF). Oleh karena itu, asam urat menjadi penting untuk memastikan pemantauan yang ketat dan konsultasi medis diagnosis yang tepat dan perawatan yang yang teratur sangat penting bagi individu yang menggunakan obat-obatan tersebut Rheumatoid Arthritis (RA) dan Gout atau asam urat adalah dua kondisi yang sering | 79 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. menyebabkan nyeri dan peradangan pada usia pra lansia yaitu 18 responden . %) sendi, meskipun memiliki penyebab, gejala, menghasilkan hasil negatif dan 2 responden dan pengobatan yang berbeda. Keduanya . %) Berdasarkan titer pemeriksaan Rheumatoid signifikan, pembengkakan, dan peradangan Factor (RF) pada sampel RF. 1 dan RF. pada sendi yang terdampak, sehingga sering responden RF. 1 memiliki titer sebesar 128 kali sulit dibedakan tanpa diagnosis yang IU/mL dan responden RF. 2 sebesar 256 Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan IU/mL. penyakit autoimun di mana sistem kekebalan disarankan kepada masyarakat untuk menjaga tubuh secara keliru menyerang jaringan sendi, kesehatan dengan cara menjaga pola makan dan rajin berolahraga. Berjalan kaki dengan penumpukan kristal asam urat dalam sendi kecepatan sedang selama 30-45 menit dan akibat tingginya kadar asam urat dalam darah. bersepeda selama 45-60 menit merupakan Rheumatoid durasi yang baik bagi penderita Rheumatoid mempengaruhi sendi-sendi kecil seperti di Arthritis karena aktivitas ini membantu tangan dan kaki, sering kali disertai dengan meningkatkan sirkulasi darah, kekuatan otot, dan stabilitas sendi tanpa memberikan Sebaliknya. Gout biasanya menyerang jempol tekanan berlebih. Selain itu, masyarakat kaki dengan nyeri yang tiba-tiba dan dianjurkan segera memeriksakan diri ke Rheumatoid Arthritis (RA) lebih dokter apabila mengalami keluhan nyeri atau umum terjadi pada wanita, sedangkan Gout sakit pada sendi. Bagi peneliti selanjutnya, lebih sering dialami oleh pria, terutama mereka yang memiliki faktor risiko seperti penelitian selain RSUD Abdul Wahab obesitas dan konsumsi alkohol. Pengobatan Sjahranie Samarinda, misalnya di panti untuk Rheumatoid Arthritis (RA) penggunaan obat antiinflamasi dan terapi fisik, sementara Gout diatasi dengan obat penurun kadar asam Rheumatoid responden yang mengalami keluhan rasa Gout Arthritis (RA) (Soryatmodjo et al. , 2. Berdasarkan Arthritis nyeri atau bengkak dalam kurun waktu yang Disarankan juga untuk menambah KESIMPULAN DAN SARAN variabel dalam penelitian selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada | 80 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 2 . Oktober 2024 DOI: 10. 36086/medlabscience. DAFTAR PUSTAKA