Mitos Tenun Gedogan Indramayu sebagai Sistem Kebudayaan Masyarakat Juntikebon Dewi Mustika1. Retno Dwimarwati2. Yanti Heriyawati3 Yayasa Taruna BaktiA. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung2,3 LLRE Martadinata St No. Citarum. Bandung1. Jl. Buah batu No. Cijagra. Lengkong Kota Bandung2,3 mustikasaridewi87@gmail. com, 2rdwimarwati@gmail. com, 3heriyawati@yahoo. ABSTRACT Tenun . eaving fabri. of Gedogan Indramayu is no longer merely a daily clothing in its development. It has been mythized by the user community as a woven fabric that is intended for noble goals in more noble social strata. The four mythical motifs include Babaran. Kluwungan. Polyng Mentisa, and Udan Mas Prambutan motifs. The myth of the weaving of Gedogan Indramayu is used as a guide not only for religious values, but also for the ethics of the people have become part of the culture. Myths in the form of beliefs are actualized in the traditions of the people and in a sacred ceremony, such as: ritual after giving birth. Ruwatan Anak Sukerta. Kirab Kuwu tradition, and Nurubi-Mayat ritual. These traditional ceremonies and rituals are presented as transcendent events. More specifically, the spirit which cannot be sensed is presented into the material which is tangible. The myth of Gedogan Indramayu weaving has become part of the Junti Kebon cultural system. The values are applied as the pattern of the society daily behavior, individually and in society. Keywords: Myth. Babaran. Kluwungan. Polyng Mentisa. Udan Mas Prambutan. PENDAHULUAN Latar Belakang Tenun Gedogan Indramayu sebagai sebuah tanda . dan produk budaya tak lepas dari mitos-mitos. Kerajinan tekstil yang diproduksi oleh pengrajin di desa Juntikebon kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu ini memiliki puluhan ragam motif. Di antara banyaknya motif yang dimilikinya, ada empat motif yang dimitoskan oleh masyarakat penggunanya sebagai kain tenun digunakan untuk tujuantujuan luhur dalam strata kemasyarakatan yang lebih adiluhung. Empat motif itu di antaranya adalah motif Babaran. Kluwungan. Polyng Myntisa, dan Udan Mas Prambatan. Keempat motif tenun Gedogan Indramayu dimaknai sebagai sebuah kain yang sakral. Ruang dan waktu yang khusus . eriyawati, 2. dalam penggunaan menjadi salah satu ciri kesakralannya, dan dimitoskan oleh masyarakat penggunanya. Kemudian Dalam pandangan Roland Barthes, mitos merupakan sistem komunikasi atau pesan . yang berfungsi mengungkapkan dan memberi pembenaran pada nilai-nilai dominan dalam periode tertentu, (Budiman, 2001: . Mitos merupakan pengkodean makna dan nilainilai sosial . ang sebetulnya arbitre. sebagai sesuatu yang di anggap alamiah . Mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya, atau dengan kata lain, mitos adalah juga sistem pemaknaan tingkat kedua . atau sistem sekunder, (Sobur, 2017: . Artinya, mitos terbentuk oleh persepsi masyarakatnya sendiri yang diyakini kebenarannya sebagai pedoman bagi sistem kebudayaannya, . ihat diagram . Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 mitos empat motif ini difungsikan sebagai bagian dari sistem kebudayaan masyarakatnya. Mitos empat motif Gedogan Indramayu ini tercermin melalui beberapa upacara tradisi dan ritual, seperti: . ritual pasca persalinan yang melibatkan motif Babaran. upacara ruwatan anak sukerta yang melibatkan motif Kluwungan. tradisi kirab kuwu yang melibatkan Diagram 1. motif Polyng Myntisa. ritual Proses mitologisasi suatu tanda . nurubi mayat yang melibatkan berdasarkan kerangka pikir Roland Barthes. motif Udan Mas Prambutan. Ritual (Sumber: Dewi Mustiksari, 2. dan tradisi ini sempat marak diHASIL DAN PEMBAHASAN lakukan oleh lapisan masyarakat Dalam perspektif semiologi: mitos Juntikebon dalam kurun waktu sekitar empat motif tenun Gedogan Indramayu 1950-an hingga 1990-an. Meskipun ada dipandang sebagai persepsi masyarakatjuga mitos-mitos yang masih bertahan nya yang menyatakan nilai-nilai tertentu hingga saat ini, sebagai bagian dari sistem untuk membela dan memajukan kepenkebudayaan masyarakatnya. tingan-kepentingan mereka melalui forB. Metode mulasi bahasa yang menjanjikan. Secara Kajian dilakukan pada data kualitatif antropologi: mitos empat motif tenun kemudian dianalisis mitos-mitos dari Gedogan Indramayu dinilai penting sebaempat motif tenun Gedogan Indramayu gai perwujudan pandangan berpikir mamelalui teori semiologi Roland Barthes syarakatnya melalui ekspresi bahasa dan serta pandangan dari beberapa pakar perilaku hidup sehari-hari, dan menjadi budaya dan sosiologi. Metode ini juga bagian dari sistem budaya itu sendiri. berupaya menghubungkan antara mitosMitos-mitos ini dirasa efektif sebagai mitos tersebut dengan sistem kebudayaan pedoman bagi proses berpikir dan bermasyarakat Desa Juntikebon, yang menperilaku masyarakat penggunanya. Model dayagunakan mitos sebagai pedoman analisis terhadap motif tenun Gedogan hidup masyarakatnya. Indramayu yang dimitoskan oleh masyaMaka jika dalam kerangka pikir Roland rakat penggunanya, sebagai berikut. Barthes, mitos tenun Gedogan Indramayu . Motif Babaran merupakan pemaknaan tingkat kedua yang Secara denotasi motif Babaran adalah bermula dari persepsi konotatif masyaselendang tenun berukuran 20 x 300 cm rakat penggunanya. Makna konotasi itu dengan warna polos merah muda. Motif kemudian mendapat kesepakatan bersama, ini difungsikan untuk mengikat perut menjadi konvensi, bertahan dari waktu ke perempuan sehabis melahirkan, dengan waktu, menjadi mitos. Selanjutnya mitos cara melilitkannya pada bagian perut itu pun diuji oleh waktu, membaur menjadi sampai ke pinggang. Masyarakat desa bagian dari sistem kebudayaan masyarakat Juntikebon, khususnya kaum perempuan desa Juntikebon. Mustika. Dwimarwati. Heriyawati: Mitos Tenun Gedogan Indramayu sebagai sistem Kebudayaan Masyarakat Juntikebon Gambar 1. Makna Visual Motif Babaran (Sumber: Dewi Mustikasari, 2. kerap mendayagunakan motif Babaran ini di dalam ritual pasca persalinan. Sedangkan pada aspek nilai, kegunaan, serta aspek visual melalui garis, warna, dan tekstur dikonotasikan sebagai ungkapan Aorasa syukurAo. Aotali keselamatanAo, serta Aokemuliaan perempuanAo. Konotasi-konotasi ini mengacu pada konsep berpikir untuk memaknai suatu kelahiran anak manusia. Maka, motif Babaran sebagai sebuah tanda . mengoperasikan sistem semiologinya sebagai mitos yang dianut oleh masyarakat penggunanya dan menjadi bagian dari sistem kebudayaan masyarakatnya. Nilainilainya kemudian dicerminkan lewat ritual pasca persalinan oleh kaum perempuan di desa Juntikebon. Motif Kluwungan Makna denotasi motif Kluwungan adalah selendang tenun berukuran 30 x 150 cm dengan dominasi warna coklat, kuning, dan hitam. Motif ini difungsikan untuk mengais . anak sukerta . nak yang dianggap sia. Secara konotatif, motif ini dimaknai sebagai kain AosuciAo untuk Aotolak balaAo di dalam upacara ruwatan sebagai AodoaAo mengharap AokeberkahanAo dan Aokeselamatan hidupAo. AuKarena menurut kepercayaan, anak sukerta akan jadi makanannya Bethara Kala. Orang tuanya harus menyediakan selendang tenun Kluwungan untuk mengendongnya sebagai syarat ritualAy (Wawancara: Sulistjo, 2. Gambar 2. Makna Visual Motif Kluwungan (Sumber: Dewi Mustikasari, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Persepsi masyarakat pengguna motif Kluwungan mengoperasikan makna-makna konotasinya, yang bersumber kepada makna kehidupan sebagai Kemudian makna kehidupan ini seolah mendapat kesepakatan bersama, menjadi konvensi, menjadi mitos, yang membaur di dalam sistem kebudayaan masyarakatnya. Bahwa motif Kluwungan erat kaitannya dengan tradisi upacara ruwatan anak sukerta yang digelar sebagai upaya Aomembuang sialAo anak sukerta dan memohon keselamatan hidupnya. Gambar 3. Makna Visual Motif Polyng Myntisa (Sumber: Dewi Mustikasari 2. na-makna konotasi ini merujuk kepada mitologi yang terkandung di dalamnya, yaitu tentang menjunjung tinggi amanat leluhur. Amanat itu disimbolkan melalui benda pusaka . mage bagi kuw. yang dibungkus oleh kain tenun motif Polyng Myntisa . mage bagi warga des. Motif Polyng Myntisa Polyng Myntisa merupakan motif khusus yang secara denotatif dimaknai oleh masyarakat Juntikebon sebagai kain pembungkus benda pusaka milik Ki Gedy . eluhur desa yang mereka hormat. Berukuran 85 x 85 cm dengan dominasi warna merah, dipadukan dengan warna hijau serta garis-garis kecil berwarna putih dan emas. Motif Polyng Myntisa didayagunakan saat pelaksanaan tradisi Kirab Kuwu di desa Juntikebon, yaitu suatu tradisi yang dilaksanakan saat terpilih kuwu atau kepala desa baru. Biasanya benda pusaka itu sudah dililit kain tebal kemudian dibungkus dengan kain tenun motif Polyng Myntisa. AuDari lebu . alai des. benda pusaka itu diemban oleh kuwu baru dan diarak keliling ke seluruh pelosok desa, dan kembali ke lebu. Terpilihnya seorang kuwu merupakan pelanjut dari Ki Gedy dalam memimpin desa tersebutAy, (Kasim, 2013: . Secara konotatif motif Polyng Myntisa dimakna sebagai kain yang AosakralAo. Aowibawa kuwuAo. Aocita-cita luhurAo, dan Aolambang persatuanAo bagi masyarakat desa. Mak- . Motif Udan Mas Prambutan Makna denotasi dari motif Udan Mas Prambutan yaitu sebagai selembar kain berukuran 98 x 260 cm dengan garis-garis kecil pada seluruh permukaan kainnya, dan dengan perpaduan warna merah muda terang dan merah muda memudar. Motif ini digunakan secara khusus sebagai kain penutup jenazah. AuUdan Mas Prambutan dalam bahasa Jawa Indramayu memiliki arti ngrejekeni atau pembawa keberkahan bagi arwah orang yang meninggalAy (Wawancara: Sulistjo, 2. Di desa Juntikebon, apabila ada anggota keluarga yang meninggal dunia, saat jenazah masih dalam pembaringan, pada saat itulah motif Udan Mas Prambutan menutupinya bersama doadoa yang dilantunkan sebelum jenazah akhirnya dimandikan dan dikebumikan. Ritual ini disebut dengan ritual Nurubi Mayat. Mustika. Dwimarwati. Heriyawati: Mitos Tenun Gedogan Indramayu sebagai sistem Kebudayaan Masyarakat Juntikebon adalah suci. Ada pula persepsi bahwa kelahiran manusia sejatinya adalah dimulainya proses mengingat apa yang AodilupakanAo itu. Secara khusus mitologikelahiran terhimpun di dalam narasi motif Babaran, sebagai selendang tenun yang secara content dikhususkan bagi kaum perempuan dalam konteks ritual pasca persalinan. Dikatakan bahwa: perempuan Gambar 4. Makna Visual Motif Udan Mas Prambutan Juntikebon sehabis melahir(Sumber: Dewi Mustiksari, 2. kan harus melilitkan selendang Babaran ke perutnya. Konotasi-konotasi terhadap motif Udan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiMas Prambatan pun berkembang. Motif ran anaknya. Artinya makna AokelahiranAo ini kerap dimaknai sebagai kain Aosuci dan dalam narasi motif Babaran memposisikan keramatAo. AoperkabunganAo. Aodoa keselamatan kaum perempuan sebagai subjek mitosnya. ruhAo, dan AokeberkahanAo. Makna-makna ini Bahwa perempuan merupakan peran berorientasi kepada pengertian suatu kemapenting bagi Aokelahiran anak manusiaAo di tian sebagai mitologinya. Di desa Juntikedunia, mengemban alam rahim, melahirkan bon mitologi kematian ini juga terkait erat keturunan dari generasi ke generasi, hingga dengan nasihat orang-orang tua terdahulu, merawatnya menjadi manusia dewasa. yang mengatakan bahwa: Auorang Junti haDalam hal ini, narasi motif Babaran di rus bisa menenun kain sendiri, yang nandalam ritual pasca persalinan menjadi acuan tinya kain itu untuk menutupi jenazahnya dasar bagi ajaran mitosnya. sendiri saat meninggal duniaAy. Proses terciptanya mitologi-kelahiran Mitologi Kelahiran sama dengan proses naturalisasi konsep Mitologi-kelahiran bersinggungan erat sebuah tanda untuk mendukung tindadengan konsep tentang alam rahim atau kan/perbuatan kaum perempuan di dalam janin, yang diyakini sebagai ruang kepelaksanaan ritual pasca persalinan. Bahwa hidupan manusia sebelum lahir ke alam rasa syukur atas nikmat kelahiran seorang Di alam rahim, seperti juga tertuang bayi perlu dibuktikan lewat tindakan/perdalam konsep ajaran agama Islam, saat buatan simbolik dengan cara: melilitkan masih dalam wujud ruh si jabang bayi telah motif Babaran ke perutnya. Setiap peremmelewati proses interaksi dengan Robnya puan yang baru melahirkan dianjurkan di alam ruh, menghadap kepada-Nya, beruntuk melakukan ritual tersebut sebagai bicara, membuat ikatan dan perjanjian. wujud nyata . erilaku simboli. dalam meKemudian bersamaan dengan bayi itu lahir nerapkan nilai-nilai dari ajaran mitos itu. ke alam dunia, perjanjian itu dihapuskan Kebudayaan sebagai abstraksi pengaladari ingatannya oleh Tuhannya. Maka, man masyarakat Juntikebon bersifat dinakelahiran manusia ke dunia sejatinya mis dan cenderung untuk berkembang se28 Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 jalan dengan perkembangan masyarakat it. agar terlihat lebih ramping. AuJaman Mitologi-kelahiran dalam dulu wong wadon . nggak pernarasi tenun motif Babaran membentuk lu diet buat pinggangnya langsing, pakai sistem kebudayaannya. Mitos ini cenderung Babaran sajaAy, (Sunarih, 2. menyampaikan pesan-pesan yang bersifat Secara umum mitologi-kelahiran ditransformatif dan terpandu. Sehingga sekembangkan untuk menanamkan dan cara praksis mitologi-kelahiran dalam mengukuhkan nilai-nilai religius, spiritual, ritual pasca persalinan bertujuan: . untuk budaya, pemikiran, maupun pengetahuan mengembangkan simbol-simbol yang petertentu, yang berfungsi untuk merangnuh makna lewat perilaku/ tindakan yang sang perkembangan kreativitas dalam . menjelaskan fenomena berpikir dan berkeyakinan. Mitos ini hadir Aukelahiran anak manusiaAy dengan narasi dan menggejala di masyarakat dengan citra kemuliaan seorang perempuan/ibu. menunggangi narasi Auperan perempuanAy, dan . sebagai sarana pendidikan yang Auperan seorang ibuAy sebagai subjek peranefektif terutama untuk mengukuhkan dan tara bagi kelahiran anak manusia. Pada menanamkan keyakinan tentang makna intinya mitologi-kelahiran dalam ritual suatu AukelahiranAy. pasca persalinan berupaya mengangkat keMitologi-kelahiran membuka narasi muliaan dan derajat perempuan terkait perempuan sebagai subjek serta membenkesabaran mengemban alam rahim, metuk citra dan image sebagai suatu kondisi lahirkan generasi manusia, dan jasa-jasa yang sakral, yang suci, yang luar biasa, mulia lainnya. dan semacamnya. Mitologi-kelahiran dan Di desa Juntikebon, ritual pasca persakondisi perempuan usai melahirkan menlinan sudah menjadi bagian dari sistem jadi seperangkat narasi yang kuat, seolahperilaku dan pola hidup masyarakatnya. olah kondisi perempuan yang demikian Setidaknya hingga tahun 2000-an mitos itu adalah AorawanAo, dan jika menolak ini masih berdaya di masyarakatnya. Menperintah mitosnya . aitu sakralitas motif dorong masyarakatnya untuk berpikir Babaran sebagai simbol yang bernilai Sehingga mitos tersebut memtinggi/muli. maka mitos Aumenakutpertahankan hubungan sosialnya dengan nakutiAy dengan narasi AomusibahAo atau masyarakat Juntikebon, khususnya bagi AokerugianAo. Sebaliknya, mitos menjanjikan kaum perempuan. Hal ini seperti yang AoberkahAo dan AokeuntunganAo bagi siapa yang dikatakan oleh Grenz, bahwa: Pada mulanya tindakan/perilaku selendang babran keperut adalah perlakuan fungsional saja, yaitu untuk otot-otot perut perempuan usai melahirkan. Selain itu juga dapat difungsikan sebagai pelangsing pinggang Diagram 2. Kontruksi mitologi-kelahiran perempuan . ada masa (Sumber: Dewi Mustikasari, 2. Mustika. Dwimarwati. Heriyawati: Mitos Tenun Gedogan Indramayu sebagai sistem Kebudayaan Masyarakat Juntikebon wung menggunakan selendang tenun motif Kluwungan merupakan sesuatu yang dipercaya sebagai perilaku keilahian, sesuatu yang AomenyelamatkanAo, sesuatu yang memberkahi, yang apabila mitos itu diacuhkan akan mendapat bala, musibah, dan hal-hal buruk lainnya. Mitologi-kehidupan juga kerap dikaitkan dengan jejak pikiran mitis yang memandang bahwa manusia hidup berdampingan dengan hal-hal gaib (Heriyawati, 2. sebagai keseimbangan alam dunia . isik dan metafisik, nyata dan gaib, tampak dan tidak tampak, dan lain sebagainy. Bagi masyarakat penggunanya, mitologikehidupan menuntun kesadaran mereka tentang alam dunia yang berpenghuni tidak hanya yang tampak oleh mata. Lebih dari itu, masyarakatnya diarahkan untuk mengimani kehadiran AualamAy tersebut dengan cara melaksanakan upacara ruwatan sebagai media komunikasi/interaksi Audua alamAy. Dengan begitu keseimbangan alam dunia tetap terjaga sebagaimana mitos mengajarkan untuk itu. Pada aspek yang lain, narasi motif Kluwungan yang terangkum dalam mitologi-kehidupan ternyata memperlancar kepentingannya dalam meningkatkan produktivitas kerajinan tenun: supaya anggota masyarakat yang mempunyai bocah kluwung dapat memiliki tenun motif Kluwungan. Tentu saja membantu segi produksi dan penjualan kain tenunnya. Seperti simbiosis mutualistis, ada hubungan saling bergantung dan saling untung, antara pengrajin tenun dan masyarakat atau Bahkan bagi pihak lain pun ikut mendapat untung, seperti rombongan seni wayang kulit yang tampil sebagai salah satu unsur terlaksananya ruwatan. Rombongan seni pertunjukan wayang kulit ini sekaligus mendapatkan keuntungan berupa eksistensi karena diberi ruang AuA. Faktanya, mitos memuat inti pusat nilai-nilai dan kepercayaan dari suatu kebudayaan sehingga bersifat religius. Penelitian para ahli menghasilkan kesimpulan bahwa setiap masyarakat diikat oleh sebuah sistem mitos, dan mitos ini mempertahankan hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat dan menjadi dasar untuk keabsahannyaAy, (Sobur, 2017: . Mitologi Kehidupan Di desa Juntikebon, mitologi-kehidupan secara khusus bersinggungan erat dengan mitos tentang Aukesialan anak sukertaAy yang menjadi landasan bagi terselenggaranya upacara ruwatan. AuJika anak itu tergolong bocah sukerta, maka orang tuanya harus menyediakan kain Kluwungan untuk mengendongnya sebagai syarat. Kemudian harus ditanggapkan wayang kulit dengan lakon AoMurwakalaAo, yaitu cerita tentang permintaan anak Bethara Guru dengan Dewi Durga yaitu Bethara Kala, yang diperbolehkan makan anak manusia asal anak tersebut adalah anak sukertaAy, (Sulistjo, 2. Mitologi-kehidupan telah menjadi dasar filosofi hidup masyarakatnya, dan tradisi ruwatan yang dilaksanakan oleh masyarakat Juntikebon dipercaya memiliki simbol-simbol Aokeselamatan hidupAo yang dijadikan dasar bagi perilaku masyarakatnya. AuDi desa Juntikebon anak sukerta disebut dengan istilah bocah kluwung yang artinya anak sialAy, (Sulistjo, 2. Bagi keluarga yang mempunyai bocah kluwung, narasi motif Kluwungan menjadi pegangan penting bagi rasionalitas . alam versi mitosny. sebagai upaya menyelamatkan anak tersebut dari kesialan hidup. Jakob Sumardjo . 0: . AuHidup ini ada tatanannya seperti mitos Oleh karena itu mitos adalah peristiwa primordial yang sakral. Dan peristiwa mitos adalah peristiwa keilahianAy. Tuturan mitos yang menyuruh masyarakatnya untuk mengais bocah klu- Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Kondisi simbiosis mutualistis seperti ini paling tidak sempat populer dan marak sebagai situasi kebudayaan masyarakat desa Juntikebon dalam dekade 1970-an hingga 1990-an. Seperti yang dijelaskan Kasim . 3: . bahwa: AuSelama berpuluhpuluh tahun eksistensi berbagai jenis seni pertunjukan di tatar Cerbon-Dermayu sulit dilepaskan dari acara hajatan, ruwatan, dan sejenisnya. Kesenian dihidupsuburkan karena banyaknya order acara hajatan, dan hajatan menjadi meriah, berkesan, dan bermakna karena kreasi kesenian. Ay Sebagai sebuah dampak positif, pada kenyataannya mitologi-kehidupan telah mampu menghidupi pihak-pihak yang Setidaknya hingga dekade 1990an, acara ruwatan masih marak dilaksanakan, dan meningkat pula produksi tenun motif Kluwungan sebagai kain tenun yang Begitu pun seni pertunjukan wayang, termasuk jenis kesenian yang laris-manis, karena kebutuhan khusus untuk acara hajatan desa atau keluarga seperti khitanan, puputan, ruwatan, ataupun syukuran lainnya senantiasa membutuhkan kesenian daerah. Oleh karena itu kehadiran mitos berperan penting sebagai jembatan untuk menyatukan serta membudidayakan beragam bidang, yang mendukung sistem kebudayaan di dalam hidup kemasyarakatan yang saling Mitologi Amanat Leluhur Mitologi-amanat-leluhur terkait erat dengan karisma figur Ki Gedy sebagai leluhur desa yang sangat dihormati oleh Ia dimuliakan oleh masyarakatnya sebagai seorang penjaga keamanan yang gagah-berani karena kesaktiannya. Kepribadiannya selalu mengayomi dan menjunjung tinggi hubungan yang harmonis antara pemimpin dan warganya. Menjaga persatuan dan kerukunan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat satu desa. Saat ini sosok Ki Gedy tercermin pada kepemimpinan seorang Kuwu . epala des. , seseorang yang diamanatkan melanjutkan tugas untuk memimpin desa. Di desa Jintikebon, setiap terpilih kepala desa atau Kuwu baru, maka diadakan tradisi Kirab Kuwu. Tradisi ini mengarak benda pusaka milik Ki Gedy yang dibungkus oleh kain tenun motif Polyng Myntisa. Disini lah mitos tentang Aomenjaga sebuah amanat leluhurAo hidup di dalam tradisi tersebut. Dalam Bukunya yang berjudul Budaya Dermayu . 3: . Supali Kasim menuliskan: AuA. Polyng Myntisa hanya digunakan untuk menggemban benda pusaka milik Ki Gedy atau Buyut leluhur Biasanya benda pusaka itu sudah dililit kain tebal kemudian dibungkus dengan kain tenun motif Polyng Myntisa. Hal itu dilakukan seusai pemilihan kuwu . epala des. sudah dinyatakan ada Dari lebu . aDiagram 3. Konstruksi wacana mitologi kehidupan lai des. benda pusaka itu (Sumber: Dewi Mustikasari 2. diemban dan diarak keliling Mustika. Dwimarwati. Heriyawati: Mitos Tenun Gedogan Indramayu sebagai sistem Kebudayaan Masyarakat Juntikebon ke seluruh pelosok desa, dan kembali ke Terpilihnya seorang kuwu merupakan pelanjut dari Ki Gedy dalam memimpin desa tersebut. Ay Mitologi-amanat-leluhur menjelaskan makna benda pusaka mewakili image bagi pemimpin desa, dan Polyng Myntisa yang membungkus pusaka itu adalah image bagi Meniadakan salah satu dari keduanya itu dianggap menghilangkan unsur pembangun desa dalam mewujudkan kesejahteraan, kerukunan dan persatuan. Sebaliknya, menerapkan sistem ini justru dianggap sebagai wujud nyata dalam menjaga amanat leluhur untuk AodesaAo. Mitologi-amanat-leluhur bawahi arti tentang AokehormatanAo bagi seluruh lapisan masyarakat desa Juntikebon dalam upaya AomenghormatiAo amanat Maka dalam hal ini, keterlibatan seorang kuwu dalam tradisi tersebut adalah cerminan dari ajaran-ajaran tentang AokehormatanAo dan AomenghormatiAo amanat Peranan kuwu menjadi sangat penting sebagai suatu simbol pelaksanaan mengemban Aoamanat leluhurAo. Peran warga desa pun tak kalah penting, yakni sebagai bentuk dukungan kepada pemimpin baru yang terpilih. Antara kuwu . ebagai pemimpi. dan warga desa . ebagai yang dipimpi. merupakan bentuk kesatuan yang utuh untuk menunjang persatuan, kerukunan, dan kesejahteraan sebagaimana harapan leluhur desa (Ki Ged. Akan tetapi, nyatanya telah didapati aspek politik menunggangi mitos ini, sebagai cara untuk menjalankan kepentingan Bahkan bisa juga dikatakan: justru politiklah yang sengaja melahirkan mitosnya demi kelancaran jalannya roda Politisasi narasi dan wacana secara apik mitos mampu menggiring masyarakatnya masuk ke dalam sistem ciptaannya, atau ideologinya. Aspek politik dalam mitologi-amanatleluhur berinteraksi dengan kekuasaan budaya, atau sebaliknya. Kekuasaan budaya dijalankan ketika masyarakat menggunakan tampilan-tampilan simbolik, termasuk asosiasi-asosisasi ideologis yang sistemik, struktur otoritas, dan peraturan yang mendasarinya di dalam strategi aksi Namun pada akhirnya kuasa mitologi-amanat-leluhur dan budaya masyarakat Juntikebon mencerminkan bahwa dalam dunia kehidupan sehari-hari yang terkondisikan, masyarakat membangun serta menyatakan identitas dalam aktivitas budaya mereka, dan bagaimana ungkapan serta perilaku itu mempengaruhi yang lain. Pada sisi yang sama, kemasan kegiatan atau acara dalam tradisi Kirab Kuwu di desa Juntikebon penuh dengan tanda dan sistem pertandaannya, yang berkaitan erat dengan mitos tentang Aomenjaga sebuah amanat dari leluhur desa (Ki Ged. Ao. Citra tradisi Kirab Kuwu juga menggarisbawahi pandangan realitas masyarakat terhadap pemimpin desa atau kuwu yang telah terpilih . enang dalam ajang kompetisi nomor satu di tingkat des. Disana segalanya mengekspresikan penetrasi, keseriusan, khidmat, keagungan, dan kesakralan suatu Sekaligus juga menunjukkan AorahasiaAo yang sedikitnya dapat dibaca, tentang: kebanggaan dan kepuasan pribadi seorang Kuwu karena telah mengalahkan pesaing-pesaingnya saat Pemilu Desa. Bahwa dalam argumentasi yang lain, mitologi-amanat-leluhur di dalam tradisi Kirab Kuwu adalah tentang menunjukkan siapa akhirnya yang pantas mengemban Amanat Sang Leluhur (Ki Ged. Bahwa Kuwu yang terpilihlah yang mempunyai Aodaya kekuatan dan kuasaAo sehingga layak mengemban AoamanatAo tersebut. Sedangkan Calon Kuwu yang Aokalah perangAo . alam Pemil. seolah dianggap tidak layak Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 lum jenazah itu dimandikan, di hadapan jenazah itu orangorang duduk memanjatkan doa-doa keselamatan, yang biasanya kalau beragama Islam dibacakan Surat Yasin. Ritual ini disebut sebagai Nurubi Mayat yang berarti Aomenutupi jenazahAo. Ritual ini dilakukan dalam rangka memohon berkah Diagram 4. keselamatan bagi si mayit dalam Kontruksi wacana mitologi-amanat-leluhur menempuh perjalanan di ke(Sumber: Dewi Mustikasari 2. hidupan selanjutnya. Adapun kehadiran motif Udan Mas Pramuntuk itu. Kemudian Aodaya kekuatanAo dan butan dipercaya sebagai simbol untuk AokuasaAo serta AokelayakanAo diperlihatkan/ memuliakan jazad orang yang meninggal dipamerkan kepada seluruh penjuru desa dengan harapan keselamatan bagi ruhnya seraya membawa pusaka milik Ki Gedy di dalam menempuh perjalanan meng(Sang Leluhur Pemberi Amana. yang dihadap Sang Pencipta. bungkus oleh motif Polyng Myntisa, sim-bol Narasi motif Udan Mas Prambutan dakeluhuran dan keagungan desa. lam mitologi-kematian menuntun maPada aktualisasinya mitologi-amanatsyarakat penggunanya untuk percaya dan leluhur menjadi alat dan media untuk meyakini bahwa: jazad di dunia adalah menyampaikan suatu himbauan dalam AowadahAo sementara bagi ruh, dan setelah koridor kepentingan si penuturnya . uwu ruh itu lepas maka jazad menjadi Aomateri dan/atau aparatur des. Citra mitos terkosongAo, dan ia harus diturubi dengan Udan sebut bergantung pada siapa penutur dan Mas Prambutan, sebagai simbol harapan Mitologi-amanat-leluhur bagi keselamatan bagi ruh-nya. Sementara japolitisi desa menjadi media persenjataan zad yang tertinggal saat pembaringan kepentingannya untuk menarik simpatisan . i rumah duk. dalam kemuliaan atas masyarakat: dukungan, afirmasi, partikenangan hidup, dimandikan untuk memsipasi, dan lain-lain, dalam rancangan bersihkan, dan dikebumikan . embali program-program politiknya. Sedangkan menjadi tana. mitologi-amanat-leluhur bagi AopedagangAo Nilai-nilai ajaran mitologi-kematian barangkali dapat menjadi modal awal diaktualisasikan ke dalam upacara tradisi untuk melakukan komodifikasi budaya mengurus jenazah oleh orang-orang yang yang menguntungkan . aat ini juga marak masih hidup. Hal itu juga dalam rangka terjadi dalam sektor komoditas pariwisata menyadarkan orang yang masih hidup atas nama mitos budaya setempatny. akan kematian, menunggu giliran, dan Mitologi Kematian bahwa kematian tidak menukar nomor anDi desa Juntikebon, jika ada anggota Tangisan duka orang-orang yang keluarga yang meninggal dunia, maka ditinggalkan juga menjadi refleksi atas diri selama masa pembaringan . i rumah duk. mereka, apakah nanti saat tiba AowaktuAonya jenazah itu ditutup menggunakan kain mereka benar-benar telah siap, dalam tenun motif Udan Mas Prambutan. Sebekondisi terpuji atau tercela, dan beraroma Mustika. Dwimarwati. Heriyawati: Mitos Tenun Gedogan Indramayu sebagai sistem Kebudayaan Masyarakat Juntikebon dalam tradisi Nurubi Mayat merupakan sarana berpikir secara emotif. Masyarakat Juntikebon tidak dapat memasuki wilayah transenden dengan keterbatasannya. Untuk mencapai wilayah itu maka terpaksa menggunakan analogi-analogi dan metafora-metafora. Analogi dan metafora mentransformasi pengetahuan dan pengalaman imanennya sehingga menghubungkan dengan yang transenden. Seperti masyarakat Juntikebon melakukan analogi dan metafora lewat simbol berupa motif Udan Mas Prambutan dalam ritual Nurubi Mayat. Dengan cara itu masyarakat memperoleh keterangan tentang realitas yang baru atas benda-benda imanennya. Motif Udan Mas Prambutan sebagai sebuah benda yang disakralkan telah membuat masyarakat penggunanya mabuk kepayang, sadar tidak sadar, memasuki suatu dunia lain. Masyarakat terpesona dan terjerat di sana. Begitulah mitologikematian di dalam ritual Nurubi Mayat yang melibatkan motif Udan Mas Prambutan. Masyarakat memasuki pengalaman dan kebenaran baru. Masyarakat pengguna mitos ingin terus berada di buaian sistemnya, namun tidak boleh, karena masyarakat harus kembali ke dunia yang imanen ini. Akan tetapi yang imanen telah dilihatnya secara ransesnden. surga atau neraka. Bahwa manusia akan melewati perjalanan (Dwimarwati, 2016: spiritual manusia menuju alam semesta hingga mencapai pertemuan dengan Sang Pencipta. Mitologi-kematian telah menjadi sarana pengetahuan yang dianggap efektif, sekaligus penyadaran bagi penggunanya tentang kematian yang pasti akan datang. Bagi masyarakat Juntikebon mitos ini menjadi pegangan penting untuk melaksanakan tradisinya. Nilai-nilai di dalam tradisi Nurubi Mayat seperti sejajar dengan ajaran-ajaran agamanya. Ada semacam naturalisasi konsep antara ritual mengurus jenazah menurut mitos dengan ajaran agamanya (Isla. Maka disini telah terjadi mekanisme pembenaran antara apa yang sudah dilakukan sejak dulu dengan apa yang agama anjurkan dalam konteks prosesi mengurus jenazah. Tentu saja mitologi-kematian lebih kuat menekankan pemaknaan terhadap sajian simbol berupa motif Udan Mas Prambutan. Jakob Sumardjo . 3: . menjelaskan bahwa simbol merupakan suatu peralatan manusia untuk menjangkau pengetahuan dan pengalaman di luar batas-batas budayanya. Orientasi simbol pengetahuan, pikiran, dan pengalaman yang transenden, yang mengatasi batas-batas imanen manusia. Narasi motif Udan Mas Prambutan di Diagram 5. Kontruksi wacana mitologi-kematian (Sumber: Dewi Mustikasari, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 tentang kenyataan semesta ini. Secara positif, mitos tenun Gedogan Indramayu dipersepsi sebagai suatu pandangan masyarakatnya yang menyatakan nilai-nilai tertentu untuk membela dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka dalam Meskipun secara negatif, beberapa nilainya dilihat sebagai suatu kesadaran palsu, yaitu kebutuhan untuk melakukan suatu manipulasi dengan cara memutar-balikkan pemahaman mengenai realitas sosial dan budaya. SIMPULAN Melalui empat motif tenun Gedogan Indramayu, mitos diwujudkan dalam sebuah kain tenun kemudian diberi narasi cerita sebagai pedoman yang mengarahkan kepada masyarakat Juntikebon, tentang bagaimana seharusnya masyarakat bertingkah laku dalam berkehidupan dan Mitos tenun Gedogan Indramayu dengan demikian memberikan ajaran-ajaran hidup yang harus dipatuhi karena tuturan-tuturan tersebut dianggap sebagai riwayat yang sebenar-benarnya Daftar Pustaka