Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Indonesian Language Proficiency through Interactive Learning Strategies: A Classroom Action Research at MIS DDI Cabang Mapilli Nur Asia1. Suryani Abdul Mutalib2 1 MIS DDI Cabang Mapilli 2 MI Ibnu Khaldun Correspondence: ichaariqah4@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Indonesian language, interactive learning strategies, language proficiency. MIS DDI Cabang Mapilli, student engagement. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve Indonesian language proficiency among students at MIS DDI Cabang Mapilli through interactive learning strategies. The study is conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. Interactive learning strategies are implemented to engage students actively in the learning process, focusing on speaking, writing, reading, and listening The first cycle involves activities such as group discussions, roleplaying, and interactive storytelling, which encourage students to use Indonesian in real-life contexts. The second cycle introduces more complex tasks, such as writing short essays and conducting interviews in Indonesian. Data is collected through observations, student reflections, and performance tasks to evaluate the development of students' language skills. The results show a significant improvement in students' participation, engagement, and language proficiency, with students demonstrating a higher level of confidence and fluency in both written and spoken Indonesian. This research highlights the effectiveness of interactive learning strategies in enhancing students' language skills and fostering a more engaging and dynamic classroom environment. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk keterampilan komunikasi siswa. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, tidak hanya digunakan dalam konteks akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, yang mengharuskan siswa menguasai keterampilan berbicara, menulis, mendengarkan, dan membaca dengan baik. Namun, di banyak sekolah dasar, termasuk di MIS DDI Cabang Mapilli, pembelajaran bahasa Indonesia sering kali belum mengoptimalkan potensi siswa dalam mengembangkan keterampilan tersebut (Sari, 2. Metode pengajaran yang masih konvensional dan kurang interaktif menjadi salah satu penyebab kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia yang berbasis pada pendekatan yang lebih pasif sering kali menghambat kreativitas siswa dalam mengungkapkan ide dan menggunakan bahasa Indonesia secara efektif. Sebagian besar waktu pembelajaran dihabiskan untuk aktivitas yang bersifat teori, seperti menghafal kosakata dan aturan tata bahasa, tanpa adanya kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan bahasa dalam konteks yang lebih nyata (Dewi, 2. Padahal, penggunaan bahasa Indonesia yang lebih aplikatif dan interaktif dapat mempermudah siswa untuk mengembangkan keterampilan berbahasa mereka dengan cara yang lebih Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia, perlu diterapkan metode yang lebih aktif dan melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Salah satu metode yang dianggap efektif adalah penggunaan strategi pembelajaran interaktif, yang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mendorong siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar (Haris, 2. Strategi ini memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan cara yang lebih dinamis, menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari mereka, dan mengaplikasikan bahasa Indonesia dalam berbagai situasi yang relevan. Pembelajaran interaktif, yang mencakup diskusi kelompok, permainan peran, dan proyek berbasis tugas, memberikan siswa peluang untuk berinteraksi langsung menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks sosial dan akademik. Dalam hal ini, siswa tidak hanya belajar tentang bahasa, tetapi juga belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai situasi (Fauziyah, 2. Metode ini tidak hanya meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia siswa, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir kritis yang sangat penting dalam pembelajaran abad ke-21. Di MIS DDI Cabang Mapilli, siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa Indonesia secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Pengamatan menunjukkan bahwa siswa kurang percaya diri dalam berbicara di depan kelas, dan kebanyakan dari mereka cenderung bergantung pada cara menghafal untuk menguasai materi. Hal ini menunjukkan perlunya perubahan dalam pendekatan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengembangan keterampilan berbahasa secara aktif dan menyeluruh (Indriyani, 2. Penerapan strategi pembelajaran interaktif bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah ini. Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah pengembangan keterampilan menulis. Banyak siswa di tingkat sekolah dasar yang merasa kesulitan untuk mengungkapkan ide dalam bentuk tulisan. Hal ini sering kali disebabkan oleh keterbatasan kosakata, kurangnya pemahaman tentang struktur teks, dan minimnya latihan Oleh karena itu, pembelajaran yang lebih berbasis pada pengalaman menulis langsung dan penerapan teknik yang lebih kreatif diperlukan untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa (Rizki, 2. Metode pembelajaran interaktif menawarkan kesempatan bagi siswa untuk lebih terlibat dalam proses menulis dengan cara yang menyenangkan dan penuh tantangan. Selain itu, keterampilan berbicara juga merupakan bagian penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang sering terabaikan. Sebagian besar siswa di sekolah dasar tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk berbicara dalam bahasa Indonesia di luar kegiatan rutin seperti membaca atau menjawab pertanyaan di kelas. Melalui strategi pembelajaran interaktif, seperti permainan peran dan diskusi kelompok, siswa dapat meningkatkan keterampilan berbicara mereka dengan cara yang lebih alami dan menyenangkan (Sari, 2. Pembelajaran yang menekankan pada komunikasi aktif akan membantu siswa lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa Indonesia secara lisan. Seiring dengan itu, penting bagi guru untuk mendesain kegiatan yang tidak hanya meningkatkan keterampilan bahasa, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Sebagai contoh, melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa dapat diajak untuk menyusun presentasi, membuat video, atau menulis cerita yang berkaitan dengan pengalaman pribadi mereka. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan bahasa Indonesia, tetapi juga meningkatkan keterampilan kerja sama, kepemimpinan, dan kreativitas siswa (Putri, 2. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia, penggunaan teknologi juga bisa menjadi faktor penunjang yang sangat berharga. Dengan memanfaatkan media digital, guru dapat memperkenalkan berbagai sumber belajar yang lebih menarik, seperti video pembelajaran, aplikasi pembelajaran interaktif, dan platform daring yang memungkinkan siswa berlatih secara mandiri di luar jam pelajaran. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan meningkatkan keterlibatan mereka (Hidayati, 2. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di MI DDI Cabang Mapilli sangat diperlukan. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Metode pembelajaran berbasis tugas juga dapat diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih terlibat dalam pembelajaran Dengan menggunakan pendekatan ini, siswa diberikan tugas yang relevan dan menantang, seperti membuat esai, menulis cerita, atau berdiskusi dalam kelompok mengenai topik yang telah dipelajari. Tugas-tugas tersebut mendorong siswa untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks yang lebih bermakna dan dapat meningkatkan keterampilan menulis serta berbicara mereka (Haris, 2. Hal ini memperlihatkan bagaimana metode berbasis tugas dapat mendukung pembelajaran yang lebih aktif dan terstruktur. Namun, penerapan strategi pembelajaran interaktif juga memerlukan kesiapan dan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang efektif. Guru perlu memiliki keterampilan dalam mengelola kelas dan memotivasi siswa agar mereka aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Selain itu, guru juga harus mampu memberikan umpan balik yang konstruktif dan membimbing siswa untuk mengembangkan keterampilan bahasa mereka dengan cara yang lebih mandiri (Anwar, 2. Ini menunjukkan pentingnya pelatihan profesional bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah Pendidikan bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar juga harus melibatkan peran orang tua dalam mendukung proses pembelajaran. Orang tua dapat membantu anak-anak mereka dengan memberikan dukungan di rumah, seperti membaca bersama, berdiskusi, dan memperkenalkan kosa kata baru. Kolaborasi antara guru dan orang tua sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran bahasa Indonesia di luar kelas (Dewi, 2. Dengan adanya dukungan yang kuat dari orang tua, siswa akan lebih termotivasi untuk mengembangkan keterampilan bahasa mereka secara berkelanjutan. Mengingat pentingnya penguasaan bahasa Indonesia dalam perkembangan akademik dan sosial siswa, pembelajaran bahasa Indonesia di MI DDI Cabang Mapilli perlu diarahkan pada peningkatan keterampilan berbahasa yang lebih holistik. Pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis tugas memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan secara lebih efektif. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia dapat lebih relevan dan bermanfaat bagi siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan di masa depan (Putri, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia siswa di MIS DDI Cabang Mapilli dengan menerapkan model pembelajaran berbasis tugas (Task-Based Learning/TBL). PTK dipilih karena memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi dan perbaikan dalam setiap siklus pembelajaran. Proses PTK melibatkan empat tahap utama: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Peneliti berharap dengan penerapan TBL, siswa dapat lebih aktif dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan dapat mengaplikasikan bahasa dalam situasi yang nyata dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka (Kemmis & McTaggart, 2. Proses penelitian dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus dimulai dengan tahap perencanaan, di mana peneliti merancang kegiatan pembelajaran berbasis tugas yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara, menulis, mendengarkan, dan membaca siswa. Tugas yang diberikan berfokus pada situasi nyata dan relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari siswa, seperti tugas menulis cerita, melakukan wawancara, dan berdiskusi dalam kelompok. Peneliti juga menyiapkan instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, rubrik penilaian, dan angket untuk mengukur perkembangan keterampilan siswa secara objektif (Haris, 2. Tahap tindakan dilakukan dengan mengimplementasikan rencana pembelajaran berbasis tugas di kelas. Siswa dibagi ke dalam kelompok dan diberikan tugas yang memerlukan penggunaan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 bahasa Indonesia secara aktif, seperti membuat presentasi, menulis cerita pendek, atau mendiskusikan topik tertentu dalam kelompok. Peneliti bertindak sebagai fasilitator, memberikan arahan dan mendampingi siswa dalam proses pengerjaan tugas. Selama tahap ini, peneliti mengamati dan mencatat setiap interaksi siswa, baik dalam diskusi kelompok maupun dalam penyelesaian tugas (Fauziyah, 2. Tahap observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai hasil pembelajaran yang diperoleh siswa. Observasi mencakup pengamatan terhadap partisipasi siswa dalam kegiatan kelompok, penggunaan bahasa Indonesia dalam percakapan dan penulisan, serta respons siswa terhadap materi yang disampaikan. Peneliti juga memberikan tes singkat atau tugas individu untuk menilai keterampilan bahasa Indonesia siswa secara individu. Selain itu, refleksi siswa terhadap pembelajaran juga dicatat untuk memahami tingkat pemahaman mereka mengenai materi yang telah diajarkan (Indriyani, 2. Pada tahap refleksi, peneliti menganalisis data yang telah dikumpulkan dari observasi, tugas, dan angket. Refleksi ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana pembelajaran berbasis tugas berhasil meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia siswa, serta untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari metode yang diterapkan. Berdasarkan temuan dari refleksi, peneliti akan merencanakan perbaikan dan modifikasi untuk siklus berikutnya agar proses pembelajaran lebih efektif dan siswa dapat mencapai hasil yang optimal. Dengan demikian. PTK memungkinkan perbaikan berkelanjutan dalam pengajaran bahasa Indonesia di MI DDI Cabang Mapilli (Sari, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis tugas (Task-Based Learning/TBL) di MI DDI Cabang Mapilli dapat meningkatkan keterampilan menulis bahasa Indonesia siswa. Sebelum tindakan, banyak siswa yang kesulitan merangkai kalimat yang jelas dan terstruktur. Namun, setelah penerapan TBL, siswa mampu menghasilkan teks yang lebih terorganisir, dengan ide yang lebih jelas dan beragam. Ini menunjukkan bahwa TBL efektif dalam membantu siswa menyusun teks dengan lebih baik dan lebih terstruktur (Sari, 2. Selain peningkatan keterampilan menulis, keterlibatan siswa dalam pembelajaran juga meningkat secara signifikan. Pada tahap awal, banyak siswa yang cenderung pasif dan hanya menjadi pendengar. Namun, setelah penerapan TBL, siswa aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok, berbagi ide, dan menyelesaikan tugas bersama. Hal ini menunjukkan bahwa TBL dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih interaktif, yang memungkinkan siswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia (Hidayati, 2. Penerapan TBL juga berpengaruh positif terhadap keterampilan berbicara siswa. Banyak siswa yang merasa lebih percaya diri dalam berbicara di depan kelas, terutama setelah diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok atau mempresentasikan hasil tugas mereka. Proses ini membuktikan bahwa TBL mendukung pengembangan keterampilan berbicara melalui latihan langsung dalam situasi yang lebih alami dan tidak hanya terbatas pada latihan formal (Dewi, 2. Selain itu, pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif juga terlihat dalam pembelajaran TBL. Karena tugas yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengulangan pola bahasa, tetapi juga pada produksi teks dan dialog berdasarkan pemikiran sendiri, siswa terlatih untuk berpikir lebih mendalam dan kreatif. Hal ini sangat penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yang memerlukan kemampuan berpikir kritis untuk mengorganisasi ide dan menyampaikannya dengan jelas (Rizki, 2. Namun, meskipun TBL memberikan banyak manfaat, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan dalam penerapannya. Salah satunya adalah keterbatasan waktu. Karena tugas yang diberikan memerlukan waktu lebih lama untuk diselesaikan dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional, hal ini dapat menjadi kendala, terutama di sekolah dengan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 jadwal yang padat. Pengelolaan waktu yang efektif perlu diperhatikan agar proses TBL berjalan dengan optimal (Sari, 2. Masalah lain yang ditemukan adalah ketidakseimbangan partisipasi dalam kelompok. Beberapa siswa cenderung lebih dominan dalam diskusi kelompok, sementara siswa lainnya lebih pasif. Hal ini menunjukkan perlunya pengelolaan yang lebih baik oleh guru untuk memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan kesempatan yang setara dalam mengerjakan tugas dan berpartisipasi dalam diskusi. Dengan bimbingan yang tepat, hal ini dapat diminimalisir (Haris, 2. Penilaian terhadap hasil tugas siswa juga menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan TBL. Karena tugas yang diberikan berupa proyek atau teks, evaluasi tidak hanya mencakup aspek bahasa, tetapi juga kreativitas, kerja sama, dan presentasi. Guru perlu merancang rubrik penilaian yang komprehensif untuk menilai berbagai aspek ini. Hal ini membutuhkan waktu lebih banyak dan perencanaan yang lebih matang agar evaluasi dapat dilakukan secara adil dan efektif (Fauziyah, 2. Namun, meskipun tantangan ini ada, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan TBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara keseluruhan. Dengan diberikan tugas yang menantang dan relevan dengan kehidupan mereka, siswa merasa lebih termotivasi untuk Mereka tidak hanya belajar bahasa Indonesia secara teoritis, tetapi juga secara praktis dan kontekstual, yang membuat pembelajaran lebih bermakna bagi mereka (Dewi, 2. TBL juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara kolaboratif. Diskusi dan kerja kelompok memungkinkan siswa saling berbagi ide, memperbaiki kesalahan, dan belajar dari teman-teman mereka. Hal ini memperlihatkan bahwa TBL tidak hanya bermanfaat untuk penguasaan bahasa, tetapi juga untuk pengembangan keterampilan sosial siswa, yang sangat penting dalam pembelajaran abad ke-21 (Putri, 2. Peningkatan motivasi siswa merupakan hasil lain yang signifikan dari penerapan TBL. Sebelum penerapan TBL, banyak siswa yang merasa bosan dengan metode pembelajaran yang Namun, setelah diberikan tugas yang lebih bermakna dan interaktif, siswa menunjukkan peningkatan motivasi untuk belajar. Mereka menjadi lebih antusias dan termotivasi untuk menyelesaikan tugas dengan baik, yang berdampak langsung pada peningkatan keterampilan bahasa mereka (Hidayati, 2. Dari sisi guru, penerapan TBL memerlukan peran yang lebih besar dalam merancang dan memfasilitasi pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan, membimbing siswa saat kesulitan, serta mengelola kegiatan kelompok dengan baik. Peran guru yang lebih aktif dalam memfasilitasi tugas membuat pembelajaran lebih efektif dan memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan bahasa mereka secara lebih optimal (Indriyani, 2. Penerapan TBL di MI DDI Cabang Mapilli menunjukkan bahwa model pembelajaran ini fleksibel dan bisa diterapkan di berbagai konteks. Meskipun tantangan seperti waktu dan pembagian tugas ada, dengan perencanaan yang baik. TBL dapat diterapkan dengan efektif. Guru yang dapat menyesuaikan tugas dengan karakteristik siswa dan konteks sekolah dapat memaksimalkan manfaat dari pembelajaran berbasis tugas ini (Anwar, 2. Dalam jangka panjang, penerapan TBL dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pengembangan keterampilan bahasa Indonesia siswa. Dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran yang lebih aktif, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hal berbicara, menulis, maupun berpikir kritis. Hal ini menunjukkan bahwa TBL merupakan metode yang relevan dan efektif dalam pendidikan bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar (Putri, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti bahwa model pembelajaran berbasis tugas (TBL) efektif dalam meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia siswa di MI DDI Cabang Mapilli. TBL tidak hanya meningkatkan keterampilan berbahasa, tetapi juga meningkatkan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 keterlibatan siswa, motivasi, dan kemampuan sosial mereka. Meskipun ada tantangan dalam penerapannya, dengan bimbingan dan perencanaan yang matang. TBL dapat diimplementasikan dengan baik untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal (Fauziyah. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MI DDI Cabang Mapilli, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis tugas (Task-Based Learning/TBL) secara signifikan meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia siswa. Pembelajaran berbasis tugas memungkinkan siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam proses belajar, yang pada gilirannya meningkatkan keterampilan berbicara, menulis, dan berpikir kritis mereka. Selain itu, model ini juga meningkatkan motivasi siswa, karena tugas-tugas yang diberikan relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari, membuat pembelajaran bahasa Indonesia lebih bermakna dan kontekstual. Namun, meskipun TBL efektif dalam meningkatkan keterampilan bahasa siswa, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu dan distribusi tugas yang tidak merata dalam kelompok. Beberapa siswa lebih dominan dalam diskusi kelompok, sementara yang lain cenderung pasif, yang menunjukkan perlunya pengelolaan kelompok yang lebih baik oleh guru. Selain itu, proses penilaian terhadap hasil tugas yang beragam memerlukan waktu dan rubrik penilaian yang jelas untuk memastikan penilaian yang adil dan Meskipun demikian, manfaat yang diperoleh dari penerapan TBL jauh lebih besar. Pembelajaran yang berbasis tugas tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa siswa, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan kolaborasi mereka. Dengan diterapkannya metode ini, siswa menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi nyata. Oleh karena itu, model pembelajaran berbasis tugas (TBL) dapat menjadi alternatif yang sangat efektif dan relevan dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, terutama di MI DDI Cabang Mapilli, jika diterapkan dengan perencanaan yang matang dan bimbingan yang tepat dari guru. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES