Marcho Simon Werinussa , & Frans Efraim Serang30 April 2026 Submitted: 27 Juli 2025David Pentury,Accepted: 16 April 2026 Published: Penulis: A Marcho David Pentury A Simon Werinussa A Frans Efraim Serang Afiliasi: Balitbang Sinode GPM Korespondensi: SPOCha as a Framework for Strategic Church Analysis Integrating Problem Solving and Appreciative Inquiry in GPM Ministry Planning Abstract This article proposes SPOCha (Strength. Problem. Opportunity. Challeng. as a new strategic analysis technique for developing ministry planning in the Protestant Church in Maluku (GPM). This model is a synthesis of the Problem Solving (PS) and Appreciative Inquiry (AI) approaches, as well as a modification of the SWOT and SOAR models. The main criticism of PS-SWOT is its tendency to focus on weaknesses and threats, while AI-SOAR emphasizes positive potential but risks ignoring structural issues within the congregation. SPOCha is developed to address these limitations by integrating four key elementsAiStrength. Problem. Opportunity, and ChallengeAi within a reflective and participatory framework. This technique has been tested on a limited basis in GPM and has proven helpful in developing contextual and data-based ministry strategies. Therefore, this article concludes that SPOCha contributes to the development of an integrative, participatory, and theological church planning method and can be applied in various local ministry contexts. Keywords: SWOT. SOAR, methodology. SPOCha, church strategic A Marcho David Pentury. Simon Werinussa. Frans Efraim Serang3 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM DOI: 10. This work is licenced under a Creative Commons AttributionNonCommercial 4. International Licence. Abstrak Artikel ini membahas integrasi pendekatan SWOT dan SOAR dalam perencanaan pelayanan gereja melalui model analisis strategis yang disebut SPOCha. Selama ini, kedua pendekatan tersebut sering digunakan GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja: Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM secara terpisah dalam praktik organisasi. SWOT berangkat dari paradigma problem solving yang menekankan identifikasi kelemahan dan ancaman, sedangkan SOAR berakar pada Appreciative Inquiry yang menekankan kekuatan dan aspirasi. Pemisahan ini berpotensi mengabaikan realitas gereja yang memuat persoalan sekaligus potensi penguatan pelayanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan analisis kritis terhadap paradigma metodologis yang melandasi SWOT dan SOAR. Hasil analisis digunakan untuk merumuskan model integratif dalam konteks gereja. Artikel ini mengusulkan SPOCha sebagai kerangka metodologis yang menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi kedua paradigma, membantu menganalisis dan menginterpretasi realitas pelayanan gereja yang tidak hanya memperhatikan dimensi empiris, tetapi juga aspek etis, spiritual, dan teologis yang membentuk kehidupan dan panggilan gereja. Kata-kata kunci: SWOT. SOAR, metodologi. SPOCha, perencanaan strategis gereja. PENDAHULUAN Meskipun keduanya menyajikan perspektif yang berbeda. SWOT dengan fokus pada Organisasi gereja secara inheren, menghadapi pemetaan kelemahan dan ancaman, sedangkan SOAR menekankan pada apresiasi terhadap Konteks Gereja Protestan Maluku kekuatan dan aspirasi nilai-nilai yang terbaik. (GPM), memiliki dinamika yang mencakup Penggunaan keduanya secara terpisah kerap menghasilkan pendekatan yang parsial dan akses terhadap sumber daya, serta harapan tidak utuh. SWOT, misalnya, sering kali terjebak dalam pola pikir problematik yang sosial-budaya. SOAR partisipatif, dan berkelanjutan. Situasi ini, berisiko mengabaikan realitas problematik menuntut gereja untuk tidak hanya bersikap apabila tidak dikritisi secara teologis dan responsif, melainkan juga proaktif, dalam merancang perencanaan pelayanan yang strategis, reflektif, dan transformatif. Sejauh ini, dua pendekatan analisis Berdasarkan realitas tersebut, artikel organisasi yang lazim digunakan dalam SPOCha, akronim dari Strength. Problem, perencanaan strategis gerejawi yakni Problem Opportunity. Solving (PS) melalui kerangka analisis SWOT analisis ini dikembangkan dalam konteks (Strengths. Opportunities, praksis pelayanan GPM, sebagai kontribusi Threat. (Gurel dan Tat 2017, . , dan metodologis dalam menjembatani pendekatan Appreciative Inquiry (AI) melalui kerangka problematik, dan apresiatif secara holistik. SOAR (Strengths. Opportunities. Aspirations. Pendekatan ini juga, mengafirmasi kebutuhan (Cooperrider dan Whitney 2. akan ruang reflektif metodologis . iddle Result. Weaknesses. Challenge. Kerangka GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 Marcho David Pentury. Simon Werinussa , & Frans Efraim Serang spac. , yakni sebuah ruang teologis-analitis, dalam dialektika antara anugerah dan dosa, di mana gereja dapat memaknai kekuatan dan antara realitas penderitaan dan pengharapan peluang secara jujur (Cooperrider et al. eskatologis (Moltmann 1999, . seraya tidak mengabaikan permasalahan Oleh karena itu, analisis SPOCha tidak dan tantangan riil yang dihadapi, dalam hanya menjadi instrumen teknis perencanaan, melainkan juga representasi dari spiritualitas gereja, yang tanggap terhadap anugerah terhadap elemen-elemen dasar dari SWOT Allah, dan setia pada misi Allah di tengah dan SOAR (Kamkankaew 2023, 63-. SPOCha Komponen (Block. Weaknesses ulang sebagai Problems untuk menggantikan istilah kelemahan yang cenderung negatif. METODE PENELITIAN tersembunyi dan sengaja ditutupi. Istilah permasalahan, secara sengaja dipilih untuk Penelitian kualitatif dengan metode studi literatur kelemahan dan saling menyalahkan, sehingga (Creswell 2009, . Fokus penelitian adalah, gereja tetap terbuka untuk menghadapi analisis konseptual terhadap dua pendekatan persoalan dengan tanggung jawab kolektif analisis strategis organisasi, yang banyak (Bushe 2. Demikian pula. Threats digunakan dalam perencanaan pelayanan direinterpretasi sebagai Challenges, guna gereja, yakni SWOT (Strengths. Weaknesses, menegaskan bahwa ancaman bukan hanya Opportunities. Threat. dan SOAR (Strengths, sesuatu yang destruktif dan harus dihindari. Opportunities. Aspirations. Result. Data tetapi juga dapat menjadi medan transformasi iman, yang kreatif dan profetis. Empat elemen literatur, yang membahas teori perencanaan SPOCha (Strength. Problem. Opportunity, strategis organisasi, pendekatan SWOT dan dan Challeng. , diposisikan secara dialektis SOAR, serta refleksi teologis mengenai Keempatnya berdiri secara dikotomis, melainkan saling Literatur tersebut dianalisis secara kritis melengkapi dalam pembacaan realitas secara reflektif dan transformatif. Oleh karena itu paradigma epistemologis, yang melandasi analisis startegi ini dikembangkan, melalui kedua pendekatan tersebut. penelaah terhadap prinsip dasar PS-SWOT Melalui analisis tersebut, penelitian ini dan AI-SOAR, selanjutanya mengidentifikasi berupaya merumuskan model integratif yang titik temu dan perbedaan esensial keduanya, disebut SPOCha, sebagai kerangka analisis hingga menyusun kerangka analisis SPOCha, strategis, yang menggabungkan orientasi yang integratif. Secara teologis, pendekatan problem solving dan Appreciative Inquiry ini juga, bersandar pada pemahaman tentang dalam membaca dinamika pelayanan gereja. natur gereja sebagai komunitas yang hidup. Dengan demikian, penting untuk dibedakan GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja: Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM bahwa metode penelitian dalam artikel ini adalah studi literatur kualitatif, sedangkan teknologi, keterbukaan sosial, atau dukungan SPOCha yang dibahas dalam batang tubuh kebijakan pemerintah. artikel, merupakan model metodologis yang Ancaman (Threat. berkaitan dengan diusulkan, sebagai hasil refleksi konseptual faktor eksternal, yang menimbulkan risiko atau atas kedua pendekatan tersebut. destruksi terhadap keberlanjutan pelayanan, seperti meningkatnya sekularisasi, konflik, atau tekanan terhadap kebebasan beragama. SWOT DALAM STRATEGI PERENCANAAN GEREJA teknologi yang bisa mengganggu eksistensi Salah satu pendekatan yang relevan dan Untuk memahami keempat elemen efektif dalam perencanaan strategis, adalah ini secara fungsional (Boya dan Phetla 2022, pendekatan problem solving dan alat analisis . , organisasi gereja perlu menelaah dua SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities, kategori lingkungan utama dalam organisasi: Threat. SWOT digunakan secara luas dalam lingkungan internal dan lingkungan eksternal. dunia organisasi, termasuk organisasi gereja. Lingkungan internal mencakup semua aspek untuk memetakan posisi strategis secara yang berada dalam kontrol gereja, seperti Kerangka ini memungkinkan struktur organisasi, kualitas SDM, pengelolaan gereja mengidentifikasi potensi internal, yang keuangan, liturgi, dan infrastruktur pelayanan, dapat dimaksimalkan, dan tantangan eksternal serta aset gereja dan sebagainya. Sedangkan yang perlu diantisipasi secara cermat (Sormin lingkungan eksternal meliputi faktor-faktor 2024, . Empat elemen utama dalam SWOT yang berada di luar jangkauan gereja, dijabarkan sebagai berikut: seperti perubahan sosial-politik, dinamika Kekuatan (Strength. merujuk pada ekonomi, pertumbuhan denomiasi lain, serta keunggulan internal gereja, seperti kualitas perkembangan budaya digital. Pemahaman para pelayan, kapasitas komunitas, tingkat yang menyeluruh terhadap kedua aspek ini partisipasi jemaat, serta aset fisik, media akan sangat menentukan arah dan efektivitas pelayanan, dan sebagainya. strategi pelayanan gereja ke depan (Boya dan Kelemahan (Weaknesse. mencakup Dalam penerapannya, analisis SWOT menghasilkan sebuah alat praktis yang disebut matriks SWOT, yang membantu dimilikinya keunggulan kompetitif seperti organisasi menyusun empat tipe strategi keterbatasan sumber daya yang tidak dimiliki utama berdasarkan kombinasi antara faktor oleh suatu organisasi. internal dan eksternal: Phetla 2022, . Peluang (Opportunitie. merupakan kondisi eksternal yang berpotensi memperluas GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 Marcho David Pentury. Simon Werinussa , & Frans Efraim Serang Tabel 1. Matriks SWOT EVALUASI EKSTERNAL hanya dari perbaikan terhadap yang salah. EVALUASI INTERNAL KEKUATAN (S) KELEMAHAN (W) ISU-ISU STRATEGI PELUANG (O) ISU-ISU STRATEGI STRATEGI SO ISU-ISU STRATEGI ANCAMAN (T) Srivastva, perubahan sejati lahir bukan harapan (Cooperrider dan Srivastva 1987. Maka. SOAR menjadi strategi yang STRATEGI WO ISU-ISU STRATEGI STRATEGI ST melainkan dari penggalian terhadap hal- STRATEGI WT mengapresiasi nilai-nilai terbaik sebagai landasan transformasi gereja yang bermakna dan menginspirasi, (Stavros dan Wooten Sumber: Bryson dan George 1996, 4 Strategi SO: memanfaatkan kekuatan Strategi SOAR SEBAGAI STRATEGI ST: PERENCANAAN GEREJA YANG menggunakan kekuatan untuk mengantisipasi MENGAPRESIASI NILAI-NILAI ancaman. Strategi WO: mengatasi atau TERBAIK menutupi kelemahan untuk memanfaatkan Strategi WT: kelemahan untuk menghadapi ancaman. Dengan Di dalam dunia organisasi, termasuk lembaga sosial dan keagamaan, perubahan sering kali dipicu oleh kesadaran akan adanya krisis, analisis ini, organisasi gereja tidak hanya stagnasi, atau penurunan kinerja. Pendekatan dapat membaca kondisi pelayanannya secara konvensional terhadap perubahan, umumnya faktual, tetapi juga membangun kesadaran berakar pada analisis masalah (PS) mendeteksi strategis yang bersifat partisipatif, dan adaptif. SWOT membantu gereja merancang langkah dan merancang solusi korektif. Namun, pelayanan yang berorientasi pada realitas, dan pendekatan ini justru kerap memunculkan pemenuhan misi spiritual secara berkelanjutan kelelahan kolektif, memperkuat budaya saling dalam konteks sosial yang terus berubah, menyalahkan, dan mereduksi semangat untuk (Bernard 2020, . berubah secara konstruktif (Cooperrider dan Namun, di tengah dinamika perubahan Srivastva 1987, . Sebagai respons terhadap sosial dan tantangan pelayanan gereja yang keterbatasan pendekatan tersebut, muncullah kompleks, muncul kebutuhan untuk tidak Appreciative Inquiry (AI) sebagai paradigma hanya menganalisis kelemahan dan ancaman, alternatif, yang berfokus pada kekuatan, nilai- tetapi juga menumbuhkan semangat kolektif nilai terbaik, cerita keberhasilan, dan harapan. Appreciative Inquiry (AI) (AI) dikembangkan pertama kali oleh David dengan kerangka SOAR menjadi relevan. Cooperrider dan Suresh Srivastva, pada awal Sebagaimana ditekankan Cooperrider dan tahun 1980 dalam proyek penelitian perubahan Appreciative Inquiry GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja: Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM organisasi di Cleveland Clinic. Ohio. Dalam mimpi masa depan yang membangkitkan Organisasi, seperti halnya makhluk diagnosis kelemahan tidak hanya melemahkan hidup, tumbuh melalui relasi yang sehat, semangat, tetapi juga menciptakan ketegangan narasi yang menginspirasi, dan semangat dalam relasi antarpersonal. Sebaliknya, ketika bersama yang dikuatkan secara terus-menerus narasi keberhasilan dan pengalaman puncak (Whitney dan Trosten 2. Maka AI organisasi diangkat ke permukaan, mereka menjadi pendekatan yang lebih sesuai untuk menyaksikan lahirnya semangat kolektif dan membangkitkan kehidupan organisasi, karena peningkatan kinerja yang signifikan (Whitney ia tidak hanya bertanya Auapa yang salah?Ay, et al. 2003, . melainkan juga Auapa yang menghidupkan? Berdasarkan temuan tersebut, dan juga (Cooperrider dan Srivastva 1. Secara dipengaruhi oleh pemikiran Albert Schweitzer konseptual. AI adalah pendekatan perubahan, tentang reverence for life, yakni hormat terhadap yang bertumpu pada proses mengapresiasi kehidupan dalam segala bentuknya (Schweitzer aspek-aspek terbaik, dari suatu organisasi Pandangan ini menginspirasi lahirnya atau komunitas. AI melibatkan penggalian Appreciative Inquiry untuk memandang suatu pengalaman positif masa lalu, penguatan nilai- sistem seperti organisasi, klinik, komunitas, nilai yang menghidupkan, dan penciptaan visi atau lembaga agama sebagai entitas yang masa depan, yang didasarkan pada kekuatan (Hammond Cooperrider mata sebagai mesin fungsional (Clay 2023, dan Srivastva mendefinisikan AI sebagai Kerangka Appreciative Inquiry (AI). Ausuatu pendekatan terhadap pengembangan organisasi tidak dipahami sebagai mesin organisasi yang menekankan pada pencarian fungsional, yang sekadar terdiri atas bagian- sistematis terhadap apa yang memberikan bagian mekanis yang harus diperbaiki jika kehidupan . ife-giving force. dalam suatu rusak, melainkan sebagai entitas yang hidup sistem sosial (Bushe 2011, . Pendekatan dari dan berkembang. Sebuah sistem organisasi Appreciative Inquiry adalah suatu transformasi yang memiliki kesadaran, nilai, relasi, dan yang dikerjakan secara bersama. Selain itu, potensi transformatif, yang terus bergerak Appreciative Inquiry turut berkontribusi dalam dari dalam dirinya sendiri. Perspektif ini berakar pada pandangan sistem hidup . iving seperti SWOT (Strength: Kekuatan. Weakness: systems theor. , yang menekankan pentingnya Kelemahan. Opportunities: Peluang. Threats: mengenali dan menghargai daya hidup. Ancama. , menuju model analisis yang lebih dalam komunitas yang menghidupkan suatu membangun, yaitu SOAR. Pendekatan ini. Berdasarkan kerangka ini, perubahan fokus diarahkan pada Strength: Kekuatan, organisasi tidak dilakukan melalui koreksi Opportunities: Peluang Aspirations: Aspirasi, defisit, tetapi melalui proses partisipatif yang dan Results: Hasi. Kerangka berpikir tersebut menggali kekuatan, nilai-nilai yang terbaik, diimplementasikan melalui tahapan reflektif keberhasilan masa lalu, harapan kolektif, serta yang dikenal sebagai siklus 4-D . -D Cycl. GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 Marcho David Pentury. Simon Werinussa , & Frans Efraim Serang Oleh mereka diwujudkan dalam kerangka pendekatan konvensional lainnya, adalah bahwa kerja yang dikenal sebagai 4-D Cycle, yakni: setiap elemen yang dieksplorasi membawa Tabel 2. Matriks SOAR Tabel 02. Matriks SOAR muatan positif sebagai sumber pembelajaran. Tahapkolektif juga berperan penting harapan-harapan merumuskan arah dan tujuan organisasi Discocvery ke depan. Melalui partisipasi aktif anggota- Apa yang terbaik Tahapan nilai-nilai anggotanya, organisasi merancang orientasi momen-momen Destiny. Apa yang akan dilakukan Positif Dream Apa yang akan terjadi di masa baru yang berakar pada kekuatan internal dan nilai-nilai unggulan yang telah ditemukan. Elemen-elemen mendorong pergerakan organisasi. SOAR berelasi erat dengan aspek Kekuatan dalamnya, potensi dan kekuatan Design, apa yang seharusnya dirancang . Sebagaimana ditegaskan oleh David organisasi dimunculkan dan dikenali. Visi Sumber: Aponno 2019, 100 Sumber: Aponno 2019, 100 Discovery Discovery Cooperrider. AuTugas utama fase Discovery individu-individu adalah mengidentifikasi dan mengapresiasi dibentuk menjadi visi kolektif yang hal-hal terbaik yang dimiliki, memahami menjadi landasan bersama, dalam faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya komunitas organisasi. Salah satu dalam pendekatan Inquiry, yang karakteristik tertinggi, serta belajar dari detil awal dalam Appreciative pendekatan Appreciative utama dari pendekatan berfokus Inquiry, pada pengenalan terhadap nilai-nilai terkecil yang menghidupkan pengalaman yang berfokus ini, yang membedakannya dari utama serta atas keberhasilantersebut. terhadap nilai-nilai pendekatan-pendekatan telah dicapai oleh organisasi lainnya, adalah Aspek serta yang atas keberhasilanbahwa setiap (Aponnokeberhasilan 2019, . Padatelah ini, organisasi masa depan yang dicita-citakan dieksplorasi membawa diajak untuk Dalam kerangka SOAR, (Aponno 2019, . Pada sumber pembelajaran. dengan tahap pengalamanini, organisasi tahapan ini selaras dengan aspek opportunity puncak pencapaian yang bermakna. Melalui . Organisasi diajak untuk menggali proses ini, membuka ruang berbagi narasi tentang sejarah, nilai-nilai pengalaman-pengalaman puncak inti, yang bermakna. Melaluiharapan-harapan proses ini, positif, serta kolektif menuju ruang untuk berbagi ini tentang sejarah, nilaiTahapan momen-momen nilai inti, pengalaman positif, sertayang paling berharga, menggali nilai-nilai mengilhami, serta aspirasi yang mendorong Tahap berperan penting dalam merumuskan dan mengembangkan peluang strategis, baik arah dan tujuan organisasi ke depan. yang berasal dari dalam organisasi maupun Melalui partisipasi aktif anggota(Aponno 2019 . dari konteks eksternal anggotanya, organisasi merancang Elemen-elemen kunci yang ditemukan orientasi baru yang berakar pada pada tahap sebelumnya diperdalam lagi hingga kekuatan internal nilai-nilai melahirkan suatu visi bersama yang bersifat unggulan yang telah ditemukan. pergerakan organisasi. Di dalamnya, potensi Design adalah proses perancangan dan kekuatan organisasi dimunculkan dan sistem, struktur, serta mekanisme kerja Visi individu-individu kemudian yang mendukung visi bersama yang telah dibentuk menjadi visi kolektif yang menjadi landasan bersama, dalam komunitas organisasi. mimpi kolektif, yang lahir dari refleksi Salah satu karakteristik utama dari pendekatan mendalam terhadap tahap dream. Rancang ini, yang membedakannya dari pendekatan- bangun yang dihasilkan berasal dari yakni Tahapan GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja: Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM pernyataan positif . rovocative propositio. , melainkan bersifat berlanjut dan berkembang yang menggabungkan temuan pada tahap seiring dinamika organisasi. Dalam kerangka discovery dan aspirasi dari tahap dream tersebut, setiap tahap dalam siklus Appreciative (Aponno 2019, . Tahap ini juga dikenal Inquiry sebagai fase co-constructing, yang berarti membentuk satu kesatuan dialogis yang membangun secara kolaboratif dari pondasi melibatkan seluruh elemen organisasi secara yang telah ada, bukan melakukan transformasi aktif dan partisipatif. Olah karena itu bagi Dalam pendekatan SOAR, design organisasi agama. AI-SOAR dapat menjadi berkaitan erat dengan aspirasi serta dengan ruang untuk menghidupkan kembali cerita- konsep kompetensi generative . enerative cerita iman, praktik terbaik dalam pelayanan. Menurut Frank Barret . alam D. serta nilai-nilai pengharapan yang menjadi Cooperride. , kompetensi generatif merujuk pada kemampuan mengintegrasikan sistem Penerapan AI dalam konteks ini, secara menyeluruh, sehingga memungkinkan menunjukkan bahwa perubahan sejati tidak kontribusi aktif dan pertumbuhan bersama dari harus lahir dari krisis, tetapi dapat bertumbuh seluruh anggota organisasi. dari apresiasi terhadap anugerah, kekuatan Destiny/Delivery merupakan tahapan implementasi yang menekankan pada tindakan (Watkins dan Mohr 2. Lebih dari sekadar nyata serta keberlanjutan proses transformasi metode manajerial. AI yang menggunakan (Aponno teknik analisis SOAR, merupakan kerangka SOAR, fase ini sejajar dengan Result yang epistemologis, yang mengubah cara kita . ollaborative memahami perubahan. AI-SOAR menggeser competenc. , yakni kemampuan untuk menjalin fokus dari Auapa yang salahAy menjadi Auapa yang dialog yang terus menerus, dengan seluruh mungkin,Ay dari defisit menuju potensi, dan dari koreksi menuju kolaborasi. Sebab itu, dalam pembaruan secara berkelanjutan. Pada fase dunia yang rentan terhadap narasi pesimisme, ini, organisasi menciptakan ruang partisipatif AI-SOAR menawarkan cara pandang yang yang memungkinkan setiap anggota terlibat memberdayakan dan menyemangati, bahwa aktif dalam proses transformasional. Destiny perubahan terbaik bukanlah hasil dari intervensi merupakan hasil sinergis dari pengenalan kekuatan, eksplorasi peluang, serta perumusan penggalian nilai-nilai hidup yang telah ada di Fase ini juga mencerminkan proses dalam sistem itu sendiri (Barrett dan Fry 2. improvisasi, di mana organisasi membentuk Dengan demikian, kedua pendekatan lingkungan yang mengapresiasi dan menopang yang telah penulis deskripsikan pada bagian- terwujudnya visi bersama. Oleh karena itu, destiny merupakan proses yang terbuka dan AI-SOAR, telah mewakili dua lensa terhadap pembentukan budaya apresiatif yang epistemologis yang berbeda, dalam membaca Proses ini tidak berhenti pada satu titik, dinamika organisasi. Pendekatan PS-SWOT Dalam PS-SWOT GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 Marcho David Pentury. Simon Werinussa , & Frans Efraim Serang AI-SOAR identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman serta strategi pengembangan apresiasi terhadap nilai-nilai yang terbaik. Dalam eksplorasi strengths dan opportunities tetap gereja yang kontekstual dan berbasis iman, membuka ruang untuk mengenali dinamika penggabungan keduanya menawarkan suatu sintesis metodologis yang menyeluruh, yakni Dengan menghimpun analisis krisis SWOT untuk pendekatan tersebut, tidak terletak pada mengidentifikasi kondisi riil, dan kekuatan struktur metodologisnya, melainkan pada inspiratif SOAR dalam satu gerak perencanaan kecenderungan praksis penggunaannya yang yang seimbang antara realisme dan harapan. sering kali parsial dan reduktif. Pendekatan Itu sebabnya, pada bagian berikut artikel ini. SWOT, misalnya, dalam praktik tertentu menyajikan pendekatan perencanaan yang dapat terfokus secara berlebihan pada aspek berbasis gabungan PS dan AI sebagai kerangka problematik, sehingga berpotensi membangun analisis yang disebut sebagai SPOCha. perspektif yang kurang optimistis. Di sisi lain. SOAR pendekatan SOAR dalam penggunaannya yang kurang kritis, dapat berisiko mengabaikan SPOCHA SEBAGAI KERANGKA dimensi problematik yang nyata. ANALISIS GEREJA Oleh karena itu, persoalan utama Praktik pendekatan tersebut, melainkan pada belum umumnya memanfaatkan dua pendekatan adanya kerangka metodologis, yang secara analisis organisasi, yaitu problem solving sistematis, menjaga keseimbangan antara (PS) melalui kerangka SWOT (Strengths, analisis kritis, dan orientasi transformatif Weaknesses. Opportunities. Threat. dalam satu proses yang utuh. Appreciative Inquiry (AI) melalui kerangka Senada dengan hal itu. Banawiratma SOAR (Strengths. Opportunities. Aspirations, menekankan bahwa aspek-aspek negatif, yang sebelumnya dihilangkan dalam kerangka pandang yang berbeda. SWOT berorientasi SOAR . akni kelemahan dan ancama. telah pada identifikasi persoalan dan potensi risiko, digantikan dengan unsur-unsur yang lebih positif, yaitu aspirasi dan hasil (Banawiratma penggalian kekuatan, peluang, serta perumusan Misalnya, setelah kekuatan . aspirasi yang berlandaskan nilai-nilai terbaik. Result. Keduanya SOAR . Namun demikian, penerapan kedua diidentifikasi, para peserta diajak untuk pendekatan tersebut secara terpisah, kerap mengemukakan aspirasi . , yang akan menuntun mereka dalam merancang Pendekatan SWOT, misalnya, melalui matriks masa depan yang diharapkan. Selanjutnya. SO. ST. WO, dan WT justru memungkinkan penyusunan rencana dan program, diarahkan GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja: Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM pada pencapaian hasil-hasil . yang unsur-unsur dari pendekatan asal, tidak lagi Penekanan pada sisi positif serta dipertahankan sebagai entitas yang terpisah, ketiadaan aspek negatif, tentu dapat dilihat melainkan mengalami pembentukan ulang sebagai keunggulan, namun pada saat yang ke dalam kategori analisis, pola penarikan sama juga, menyimpan keterbatasan dalam kesimpulan, dan orientasi nilai yang baru dan pendekatan Appreciative Inquiry. Gambaran SPOCha bukan kombinasi karena tidak yang penuh optimisme memang dapat memberi menaruh SWOT dan SOAR berdampingan, energi, tetapi juga berpotensi melemahkan sikap tetapi memadukan elemen-elemen keduanya kritis, yang sebenarnya dibutuhkan, sehingga untuk menghasilkan lima strategi baru (SP, terkadang terlihat naif. Karena itu, proses ini SO. SCha. OP. OCh. , sekaligus memasukkan tetap membutuhkan langkah-langkah realistis, horizon teologis, dan etis. SPOCha melampaui misalnya dengan merumuskan hasil-hasil modifikasi karena bukan sekadar mengganti . ang juga dapat dimaknai sebagai indikato. indikator, melainkan menggeser tujuan analisis, yang jelas dan dapat diukur. Dalam kerangka yang tidak hanya berhenti untuk memperoleh teologi praktis, setiap tahapan seyogianya data empiris, tetapi berupaya menangkap apa disertai dengan dialog kritis dengan premis- yang menghidupi nilai-nilai moral . dan premis nilai kristiani (Banawiratma 2. makna terdalam . dari realitas yang Berdasarkan perspektif tersebut, dalam dialami oleh jemaat. Atas dasar itu, maka dapat kajian ini ditawarkan sebuah metodologi yang dikatakan bahwa SPOCha merupakan integrasi rekonstruktif karena mendesain kategori, dan apresiatif secara holistik yang disebut norma inferensi, dan kerangka aksiologis baru. SPOCha. SPOCha, tidak ditentukan oleh jenis Secara filosofi keilmuan, penggabungan data yang digunakan, baik kuantitatif maupun dua pendekatan yang berbeda. AI-SOAR kualitatif, melainkan oleh cara analisis, dan dan PS-SWOT, mencerminkan paradigma realitas pelayanan gereja. Data statistik dapat epistemologis antara narasi generatif dan membantu menggambarkan kecenderungan analisis empiris (Bushe 2. Oleh karena tertentu, dalam kehidupan jemaat secara itu. SPOCha bukan pengulangan, melainkan riil, sementara data kualitatif, memberikan penciptaan metodologis baru, berbasis integrasi pemahaman yang lebih mendalam, mengenai dari kedua paradigma, yang melandasi kedua pendekatan tersebut. Secara substantif. SPOCha bentuk data tersebut, memungkinkan proses merefleksikan penggabungan kedua pendekatan interpretasi strategis yang lebih komprehensif, dalam struktur komponennya, seperti yang dalam perencanaan pelayanan gereja. dianalisa dan deskripsikan di bawah ini: Intergrasi Komponen Kekuatan . , tidak rekonstruksi epistemik yang meleburkan unsur hanya mencakup keunggulan kompetitif yang berbeda menjadi entitas metodologis baru dapat diukur, seperti jumlah aset, sumber (Lakatos 1978, . Integrasi tersebut, membuat daya manusia, atau kapasitas teknis gereja Integrasi GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 Marcho David Pentury. Simon Werinussa , & Frans Efraim Serang (SWOT-S), tetapi juga mencakup dimensi dan memiliki pengharapan bahwa Tuhan akan aspiratif yang ada dalam organisasi gereja memampukan, memelihara, membuka jalan yaitu nilai, moral, dan spiritual, yang hanya dan akhirnya mereka bisa kuliah dan berhasil dapat dipahami melalui pendekatan reflektif menjadi sarjana. Jadi permasalahan bukanlah (SOAR-S). kelemahan yang defisit, bukan kekurangan yang kekuatan tidak hanya sebagai aset fungsional, membinasakan, melainkan ada aspek spiritual, melainkan juga dipahami sebagai anugerah yang menjelaskan bahwa situasi keterbatasan. Allah (SPOCha = SWOT-S SOAR-S). kesulitan dan kerapuhan, ada pengharapan Kekuatan adalah Anugerah yang diberikan oleh akan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan. Allah, (Moltmann, 1. untuk dimanfaatkan Realitas kesenjangan, dan energi postif akan secara bertanggung jawab dalam pelayanan, mimpi, yang hendak diraih. Variabel-variabel bukan dipakai dalam mencari profit atau untung inilah, yang bisa dirancang, disusun menjadi rugi, karena institusi gereja orientasinya adalah satu perencanaan untuk mencapai yang hasil- menghadirkan kerjaan Allah bukan seperti hasil terukur. Dengan demikian, pemaknaan korporasi yang adalah bisnis. permasalahan bukan hanya pada aspek empiris SPOCha Komponen permasalahan . Sejalan SPOCha menggantikan istilah kelemahan dengan itu. Moltman hendak menyampaikan . bukan pengalaman manusia yang membentuk tersembunyi dan sengaja ditutupi, dengan iman dan pengharapan, justru iman dan istilah permasalahan. Istilah permasalahan pengharapanlah yang membentuk pengalaman secara sengaja dipilih untuk menghindari manusia (Moltmann 1. kecenderungan menutup kelemahan, sehingga Komponen Peluang . menempatkan gereja sebagai entitas, yang persoalan, dengan tanggung jawab kolektif. Hal senantiasa peka terhadap dinamika perubahan ini mencerminkan penyerapan dari kerangka eksternal, baik dalam bidang kebijakan. PS-SWOT, yang mengakui realitas kesenjangan, kemajuan teknologi, perkembangan ekonomi, namun dikoreksi secara kreatif oleh semangat AI- maupun dinamika sosial-politik masyarakat SOAR dengan aspek aspiratif positif. SPOCha (SWOT-O). Dalam perspektif SOAR, peluang tidak sekadar dipahami sebagai ruang strategis situasi sulit, yang meneguhkan pengharapan, yang dapat dimanfaatkan secara manajerial, tentang Allah yang hadir dan solider, di tengah situasi yang sulit dan rapuh. Ada contoh yang membuka jalan bagi pengembangan menarik dari Jemaat GPM Lafa Klasis Telutih untuk mencapai impian bersama, sehingga . an tentu juga di Jemaat pada Klasis lainny. mendorong lahirnya pembaharuan untuk meraih sekalipun pendapatan dari beberapa keluarga rendah per bulan, rata-rata di bawah lima ratus SPOCha (SPOCha = SWOT-O SOAR-O) ribu, tetapi ketika anak-anak ingin melanjutkan menjelaskan bahwa peluang bukan hanya ke perguruan tinggi, orang tua mereka yakin terkait dengan keunggulan eksternal, tetapi (SOAR-O). Dengan GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja: Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM juga harus dimaknai secara reflektif sebagai Pada komponen ini dimensi profetik gereja momen anugerah Allah yang universal dan menjadi penting. Contoh tentang hal ini yaitu senantiasa terbuka bagi semua ciptaan. Dalam ada jemaat, klasis, dan sinode yang melakukan kerangka ini, dukungan masyarakat, kebijakan advokasi lingkungan terhadap pemerintah dan pemerintah, jejaring mitra, serta dinamika korporasi, gereja menyampaikan masukan dan sosial-politik, yang menguatkan semangat saran . ebagai cara penggembalaan publi. kolaborasi dapat dilihat sebagai wujud nyata kepada pemerintah dan pemangku kebijakan inisiatif Allah, yang bekerja melalui realitas lainnya, dalam rangka mendorong pemerintahan eksternal untuk memperluas ruang kesaksian dan pembangunan yang lebih baik. gereja, sekaligus memperkokoh keberlanjutan Guna memperoleh pemahaman yang pelayanannya untuk mengeluarkan gereja dari komprehensif mengenai SPOCha sebagai situasi-situasi sulit. kerangka analisis gereja, bagian berikut ini Demikian pula, komponen Tantangan . , yang direinterpertasi dari konsep akan menguraikan penerapan SPOCha dalam menganalisis realitas pelayanan gereja. ancaman dalam SWOT, tidak lagi dimaknai secara destruktif (Gurel 2. Tantangan Penerapan SPOCha dalam dalam SPOCha, adalah situasi eksternal yang Analisis Pelayanan Gereja menyulitkan, namun situasi itu bukanlah batu sandungan, yang mematikan melainkan Penerapan SPOCha sebagaimana tergambar sebagai batu ujian yang memicu pertumbuhan melalui alur pada Bagan 1, menunjukkan bahwa proses analisis pelayanan gereja, diawali dengan memperluas ruang pelayanan. Perspektif ini perhimpunan berbagai sumber data, baik itu sekaligus mengubah cara pandang gereja dari internal atau eksternal yang mencerminkan mentalitas bertahan atau resilensi, menjadi realitas kehidupan gereja . emaat, klasis, dan Keseluruhan data ini menjadi fondasi perkembangan, dan menjadi aktor perubahan utama yang memastikan bahwa profil jemaat yang menghadirkan damai sejahtera. Dalam atau klasis, maupun sinode berangkat dari konteks itu. SPOCha menafsirkan tantangan kondisi faktual. Berdasarkan data yang telah sebagai panggilan untuk bertindak dalam dihimpun proses selanjutnya adalah tahap iman, membuat hidup jauh lebih bermutu dan identifikasi dan analisis, yang dilakukan dengan bermartabat, yang berbasis pada aspek profetik. menggunakan pendekatan SPOCha, yaitu Karena itu dalam dialektika dengan SOAR-R, kekuatan, permasalahan, peluang dan tantangan. kritis-transformatif, hasil bertindak dalam iman, memperlihatkan Proses tentang gereja yang berani bersuara terhadap melakukan analisis SPOCha, tidak dilakukan praktik ketidakadilan, menjadi agen rekonsiliasi dalam konflik sosial, serta menghadirkan tanda- bergerak dalam proses hermeneutis yang tanda keselamatan Allah, melalui tindakan nyata, yang memuliakan martabat manusia. interpertasi teologis secara integratif untuk GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 Marcho David Pentury. Simon Werinussa , & Frans Efraim Serang Bagan 1. Alur Penerapan SPOCha WAWASAN EKLESIOLOGI VISI-MISI GPM DATA DESA/KEC/KAB/ KOTA/PROV/ LEMBAGA LAIN HIMPUNAN KEPUTUSAN SIDANG (JEMAAT, KLASIS. SINODE) PROFIL JEMAAT/KLASIS IDENTIFIKASI SASARAN STRATEGIS SPOCha MANAJEMEN SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI (MSIPT) FORM DATA BASE LAIN, HASIL RAPAT, PERKUNJUNGA, DLL TUJUAN STRATEGIS ISU STRATEGIS SPOCha STRATEGI USG PROGRAM/ KEGIATAN TAHUNAN MONEVA PROGRAM/ KEGIATAN TAHUNAN AKSENTUASI PROGRAM ARAH PENGEMBANGAN PELAYANAN HASIL EVALUASI RENSTRA Sumber: diolah dari data primer Konkritnya seperti di bawah ini: Komponen Analisis SPOCha Kekuatan: Tidak hanya kompetitif tetapi direfleksikan sebagai anugerah dari Allah yang berbasis pada nilai-nilai moral dan Identifikasi Keadaan Peribadahan 45% warga jemaat aktif mengikuti peribadahan jemaat. Keaktifan warga jemaat merupakan wujud syukur atas pemeliharaan Allah Komponen Analisis SPOCha Permasalahan: Refleksi terhadap berbagai situasi sulit dan rapuh yang meneguhkan pengharapan akan masa depan. Identifikasi Keadaan Peribadahan Terdapat 77 KK dalam jemaat yang hidup dengan pendapatan dan pengeluaran di bawah Rp. per bulan, namun mereka percaya bahwa Tuhan akan mereka untuk GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja: Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM Realitas dan energi untuk meraih mimpi. Variabel-variabel inilah dirancang, disusun menjadi satu perencanaan untuk mencapai hasilhasil yang terukur. Artinya keterbatasan ekonomi tidak semata-mata sebagai problem tetapi ditafsir sebagai ruang pengharapan. Komponen Analisis Identifikasi Keadaan SPOCha Peribadahan Peluang: Adanya bantuan merupakan refleksi pemberian bodi terhadap berbagai laut dari seorang keunggulan eksternal pengusaha lokal sebagai anugerah untuk menunjang bagi gereja untuk pelayanan jemaat. Hal tersebut bukan dan efektivitas hanya dipahami sebagai dukungan material, melainkan juga sebagai wujud kebaikan Allah yang bekerja melalui jejaring Pemberian ini membuka kesempatan bagi gereja untuk dalam memperkuat akses pelayanan, pusat-pusat klasis, serta memastikan Komponen Analisis SPOCha Tantangan: direfleksikan sebagai situasi eksternal yang menyulitkan, namun situasi itu tidak menjadi batu sandungan yang mematikan, tetapi menjadi batu ujian yang memicu pertumbuhan iman, menguji ketahanan spiritual, dan memperluas ruang pelayanan sebagai bagian dari tindakan Setelah Identifikasi Keadaan Peribadahan Masuknya perusahaan tambang dan perkebunan sawit skala besar menimbulkan konflik lahan, kerusakan lingkungan, dan kehidupan jemaat. Kondisi ini telah mendorong gereja edukasi pola hidup sederhana, jaringan advokasi dengan LSM serta komunitas yang memiliki keprihatinan di bidang lingkungan menganalisis, selanjutnya gereja diundang untuk masuk dalam mengerjakan visi dan misi Allah, yang diwujudkan dalam bentuk perumusan isu strategis. Isu strategis adalah hasil dari berbagai temuan pada tahap identifikasi, yang dianggap paling berpengaruh. GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 Marcho David Pentury. Simon Werinussa , & Frans Efraim Serang juga menghadirkan proses pembacaan realitas pelayanan, yang mencerminkan kebutuhan yang lebih mendalam, di mana fakta empiris, nyata, sekaligus arah pengembangan gereja pengalaman spritual, dan nilai-nilai teologis dalam jangka panjang, terintegrasi dalam satu kerangka interpretatif Langkah berikutnya adalah menyusun Inilah tujuan strategis, yang menggambarkan arah SPOCha secara fundamental dari SWOT besar yang ingin dicapai oleh jemaat. Klasis, dan SOAR, yakni kemampuannya untuk Sinode dalam jangka waktu tertentu. Tujuan tidak hanya menganalisis realitas, tetapi juga strategis dirumuskan secara umum dan memaknainya dan mentransformasikannya. bersifat proyektif, sebagai bentuk harapan yang ingin diwujudkan di masa depan. Dari tujuan tersebut, kemudian diturunkan KESIMPULAN sasaran strategis yang lebih spesifik, yang menjelaskan hasil konkret, yang diharapkan. Menghadapi tengah dinamika sosial, ekonomi, budaya, kekuatan dan peluang, sekaligus sebagai dan spiritual masyarakat Maluku. Gereja respons terhadap permasalahan dan tantangan Protestan Maluku (GPM) terpanggil untuk yang ada. Selanjutnya, untuk mendapatkan hasil konkret, dibutuhkanlah strategi untuk tidak semata teknis, tetapi juga kontekstual SPOCha dan misioner. Kerangka analisis SPOCha yang mempunyai lima strategi (SP. SO, (Strength. Problem. Opportunity. Challeng. SCha. OP. OCh. Setelah itu, penetapan yang ditawarkan dalam tulisan ini, merupakan sintesis metodologis untuk menjembatani berfungsi sebagai panduan umum dalam dua pendekatan PS-SWOT yang cenderung pelaksanaan program. Arah pengembangan problematik, dan AI-SOAR yang bersifat Dengan mengintegrasikan kekuatan diagnosis kritis dan apresiasi terhadap nilai- kerangka acuan bagi penyusunan kegiatan nilai terbaik. SPOCha menghadirkan kerangka yang lebih operasional. Selanjutnya, arah kerja yang reflektif dan transformatif. tersebut diterjemahkan ke dalam aksentuasi Lebih jauh. SPOCha tidak hanya program yang menekankan prioritas-prioritas kegiatan, yang sesuai dengan kebutuhan Aksentuasi program inilah yang nantinya diwujudkan dalam bentuk kegiatan SPOCha, memungkinkan pembacaan tahunan yang konkret dan terukur. realitas pelayanan secara menyeluruh, dengan Dengan demikian, penerapan SPOCha, menjadikan kekuatan sebagai anugerah Allah, tidak hanya menghasilkan kerangka analisis permasalahan diinterpertasi sebagai ruang pelayanan gereja yang berbasis data, tetapi pengharapan agar keluar dari situasi sulit. GEMA TEOLOGIKA JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN FILSAFAT KEILAHIAN | Vol. 11 No. April 2026 SPOCha sebagai Kerangka Analisis Strategis Gereja: Integrasi Problem Solving dan Appreciative Inquiry dalam Perencanaan Pelayanan GPM peluang dipahami sebagai anugerah Allah yang Gema Teologi 37 . : 123Ae48. universal, baik dari pihak-pihak eksternal. Barrett. dan Fry. Appreciative dan tantangan sebagai arena kesaksian Inquiry: A Positive Approach to profetik yang menuntut keberanian dan Building SPOCha menjadi medan dialog Chagrin Falls. OH: Taos Institute. antara iman dan konteks, antara nilai injili Bernard. David K. Au. AuStrategic Planning dan narasi lokal. Artinya Kerangka analisis for Church Growth in Changing SPOCha berupaya menolong gereja untuk Societies. Ay Journal of Pentecostal mengenali wajah-wajah jemaat, dan klasis Theology 31 . : 1Ae43. https://upci. secara kontekstual, sekaligus meneguhkan org/wp-content/uploads/2023/03/ komitmen gereja untuk membangun kualitas Strategies-For-Growth-Booklet. kapabilitas, dan advokasi sosial. Cooperative Capacity. Block. Community: The Structure of Belonging. Berrett: Koehler Publishers. Dengan demikian, kerangka analisis Boya. Kgaugelo Sammy, dan Germinah Evelyn SPOCha adalah ekspresi praksis gerejawi yang Chiloane-Phetla. AuThe Modern menyatukan metodologi dengan visi profetis. Church as Not-for-Profit Organisation: SPOCha menjelma sebagai strategi pelayanan Is it not Time for the Church to Become yang membantu memberi arah bagi gereja More Strategic?Ay Studia Historiae untuk terus menafsirkan zaman, sambil tetap Ecclesiasticae 48 . : 1Ae21. https://doi. berakar pada injil dan berpijak pada konteks. org/10. 25159/2412-4265/10581. Bagi GPM. SPOCha bukan hanya pendekatan Bryson. John, dan Bert George. strategis, tetapi juga perwujudan iman yang AuStrategic Planning for Public and bergerak, iman yang menghidupi kasih. Nonprofit Organizations: A Guide menghadirkan pemulihan, dan membangun persekutuan yang memberdayakan di tengah Organizational Achievement. Ay Choice realitas kehidupan. Reviews Online 33 . : 33-4601- Strengthening 33Ae4601. Sustaining https://doi. org/10. DAFTAR PUSTAKA