E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November Jurnal Manajemen dan Teknologi https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 Ketahanan Kewirausahaan dalam Kondisi Konflik dan Rentan serta Peran Kewirausahaan Mandiri Lulusan dalam Usaha Kecil: Studi Kasus pada Lembaga Pendidikan Tinggi di Indonesia Rahma Karnia Lakamudi 1*, Novita Souisa 2 1*,2 Program Studi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bukit Zaitun Sorong, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia. Email: rahmakrnia26@gmail.com 1*, hanviambonez@gmail.com 2 Histori Artikel: Dikirim 14 Juli 2025; Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2025; Diterima 10 September 2025; Diterbitkan 1 November 2025. Semua hak dilindungi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STMIK Indonesia Banda Aceh. Abstrak Ketahanan kewirausahaan menjadi faktor utama bagi lulusan perguruan tinggi yang memulai usaha kecil di tengah berbagai tantangan ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan kewirausahaan yang dimiliki lulusan perguruan tinggi dalam mengelola usaha kecil serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan dan kegagalan usaha tersebut. Data dikumpulkan dari 350 lulusan perguruan tinggi yang telah memulai usaha kecil di berbagai sektor, seperti makanan, teknologi, dan jasa, dengan menggunakan kuesioner yang mencakup pelatihan kewirausahaan, relevansi kurikulum, keterampilan praktis, dan akses terhadap modal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal seperti kepercayaan diri dan keteguhan, serta faktor eksternal, termasuk stabilitas ekonomi dan politik. Selain itu, kesiapan lulusan untuk memulai dan mempertahankan usaha kecil juga bergantung pada keterampilan praktis yang diperoleh selama pendidikan. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kurikulum kewirausahaan di perguruan tinggi dengan fokus pada keterampilan yang langsung dapat diterapkan di dunia usaha dan dukungan fasilitas yang lebih memadai. Kata Kunci: Ketahanan Kewirausahaan; Pendidikan Kewirausahaan; Usaha Kecil; Lulusan Perguruan Tinggi; Keterampilan Praktis; Stabilitas Ekonomi. Abstract Entrepreneurial resilience is a crucial factor for university graduates starting small businesses amid various economic, social, and political challenges in Indonesia. This study aims to analyze the entrepreneurial resilience of graduates in managing small enterprises and identify the factors influencing the success or failure of these businesses. Data were collected from 350 graduates who have started small businesses in sectors such as food, technology, and services, using questionnaires that address entrepreneurship training, curriculum relevance, practical skills, and access to capital. The results reveal that entrepreneurial resilience is influenced by internal factors such as self-confidence and determination, as well as external factors like economic and political stability. Additionally, graduates' preparedness to start and sustain small businesses is closely linked to practical skills acquired during their education. The study offers recommendations for enhancing entrepreneurship curricula at higher education institutions with a focus on skills that can be directly applied in the business world, along with providing better support facilities. Keyword: Entrepreneurial Resilience; Entrepreneurship Education; Small Businesses; University Graduates; Practical Skills; Economic Stability. 88 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 1. Pendahuluan Ketahanan kewirausahaan menjadi isu penting di negara berkembang, termasuk Indonesia, khususnya dalam menghadapi kondisi yang penuh tantangan. Lulusan perguruan tinggi seringkali terhadang kesulitan dalam mencari pekerjaan sesuai keahlian mereka. Akibatnya, banyak yang memilih untuk memulai usaha kecil sebagai jalan keluar. Namun, usaha kecil yang dikelola lulusan ini seringkali berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian, baik dari segi ekonomi, politik, maupun sosial. Ketahanan kewirausahaan menjadi aspek penting bagi mereka untuk bertahan dan berkembang di tengah ketidakstabilan tersebut. Penelitian ini berfokus pada ketahanan kewirausahaan dalam menghadapi berbagai tantangan serta peran kewirausahaan mandiri lulusan perguruan tinggi dalam menjalankan usaha kecil. Studi dilakukan pada beberapa lembaga pendidikan tinggi di Indonesia untuk memahami bagaimana lulusan memanfaatkan pendidikan mereka untuk menciptakan peluang usaha. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha kecil yang dijalankan oleh lulusan. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang bermanfaat dalam memperkuat ketahanan kewirausahaan di Indonesia, khususnya dalam usaha kecil yang dijalankan oleh lulusan perguruan tinggi. Ketahanan kewirausahaan merupakan faktor kunci dalam mengelola usaha di tengah situasi yang penuh tantangan, seperti konflik atau kondisi rentan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketahanan mental, termasuk faktor-faktor seperti efikasi diri dan ketangguhan, memiliki pengaruh signifikan terhadap niat kewirausahaan dan kemampuan individu untuk bertahan dalam kondisi yang sulit (Bullough, Renko, & Myatt, 2014). Wirausaha yang mampu mengatasi tantangan dan ketidakpastian memiliki peluang lebih besar untuk sukses, terutama di negara dengan tingkat kerentanannya tinggi (Renko, Bullough, & Saeed, 2020). Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana pendidikan kewirausahaan dapat membekali lulusan dengan keterampilan untuk membangun ketahanan tersebut. Pendidikan kewirausahaan yang diberikan di perguruan tinggi turut berperan dalam membentuk pola pikir dan motivasi kewirausahaan mahasiswa, yang pada gilirannya memengaruhi niat mereka untuk berwirausaha secara mandiri (Li et al., 2022). Selain itu, lingkungan pendidikan yang mendukung juga terbukti dapat memperkuat niat kewirausahaan dan mendorong siswa untuk mengembangkan usaha kecil yang berkelanjutan (Aryati, 2024). Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi ketahanan kewirausahaan dalam menghadapi tantangan dan menganalisis peran kewirausahaan mandiri lulusan perguruan tinggi dalam mengelola usaha kecil di Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kerja sama dan tanggung jawab lingkungan dapat memperkuat ketahanan wirausaha, memfasilitasi mereka dalam mengatasi hambatan yang timbul (Pascucci, Hernández-Sánchez, & García, 2021). Selain itu, pengembangan kepribadian kewirausahaan melalui pendidikan vokasi juga berpengaruh besar terhadap kesiapan siswa dalam menjalankan usaha secara mandiri. Pembentukan karakter kewirausahaan tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah dan mengambil keputusan strategis (Kholifah et al., 2022). Di Indonesia, pendidikan kewirausahaan di tingkat vokasi semakin penting untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kesiapan mental dan keterampilan praktis dalam mengelola usaha. Penelitian mengungkapkan bahwa model pembelajaran yang berfokus pada pengembangan sikap kewirausahaan dapat meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan dunia usaha (Susilo, Widiyanti, & Isnandar, 2022). Pembekalan tersebut membantu mereka menjadi wirausahawan yang tangguh, mampu bertahan dan berkembang meskipun berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Ketahanan kewirausahaan memainkan peran penting dalam memastikan kelangsungan dan pertumbuhan usaha, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketahanan ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan pengusaha untuk beradaptasi dengan perubahan yang tidak terduga serta untuk mengatasi kesulitan secara efektif (Conduah & Essiaw, 2022). Misalnya, pengusaha yang berhadapan dengan tantangan besar, seperti pengungsi yang berusaha membangun usaha di tengah keterbatasan 89 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 sumber daya, mampu menunjukkan ketahanan yang luar biasa dalam mengatasi adversity yang berkepanjangan (Shepherd, Saade, & Wincent, 2020). Kewirausahaan telah terbukti memainkan peran utama dalam membangun ketahanan ekonomi secara lebih luas. Wilayah seperti Sheffield City Region menunjukkan bahwa kewirausahaan berkontribusi pada pemulihan ekonomi yang lebih cepat setelah krisis, berkat kemampuan pengusaha untuk bertahan dan berkembang meskipun menghadapi hambatan yang signifikan (Williams & Vorley, 2014). Faktor ini sangat relevan di Indonesia, di mana lulusan perguruan tinggi diharapkan untuk mengelola usaha kecil dan menengah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi yang terus berkembang. Oleh karena itu, pendidikan kewirausahaan perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan dan pola pikir yang mampu memperkuat ketahanan dalam dunia usaha. Penelitian menunjukkan bahwa di negara-negara yang sedang dilanda konflik, seperti Kolombia, kewirausahaan dapat bertindak sebagai mekanisme untuk bertahan dan membangun kembali ekonomi, meskipun terdapat risiko kekerasan dan ketidakstabilan (Rettberg, Leiteritz, & Nasi, 2011). Pengusaha dalam kondisi semacam itu harus memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dan menemukan peluang meskipun banyak hambatan yang harus dihadapi. Di Indonesia, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sering kali menjadi tulang punggung ekonomi, dan ketahanan wirausahanya sangat bergantung pada sikap dan keterampilan pengusaha dalam mengelola ketidakpastian. Penelitian mengungkapkan bahwa kewirausahaan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam dapat memperkuat ketahanan pengusaha dalam menghadapi tantangan ekonomi (Kasim et al., 2024). Selain itu, di wilayah yang lebih rentan, kebijakan kewirausahaan yang tepat dan orientasi kewirausahaan yang kuat dapat memperkuat ketahanan ekonomi lokal, memungkinkan pengusaha untuk bertahan dan berkembang meskipun kondisi eksternal penuh dengan ketidakpastian (Naldi, Larsson, & Westlund, 2020). Ketahanan kewirausahaan sangat penting untuk lulusan perguruan tinggi yang ingin memulai usaha kecil, terutama di lingkungan yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Pendidikan kewirausahaan di lembaga pendidikan tinggi di Indonesia berperan besar dalam membekali lulusan dengan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk mengelola usaha kecil secara mandiri. Dalam menghadapi kondisi yang rentan, seperti ketidakstabilan sosial dan ekonomi, kemampuan untuk beradaptasi dan bertahan menjadi kunci utama. Oleh karena itu, penting untuk menilai bagaimana pendidikan kewirausahaan dapat mempengaruhi kesiapan lulusan dalam mengelola usaha kecil, serta bagaimana mereka dapat bertahan dalam menghadapi tantangan yang ada. 2. Metode Penelitian Penelitian dilakukan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program kewirausahaan. Perguruan tinggi tersebut tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Medan. Setiap kota memiliki karakter pasar dan tantangan ekonomi yang berbeda, memberikan gambaran beragam tentang situasi kewirausahaan di Indonesia (Siregar et al., 2023). Fokus utama adalah universitas yang memiliki kurikulum kewirausahaan dan yang lulusannya terjun langsung ke usaha kecil setelah menyelesaikan pendidikan. Kehadiran perguruan tinggi yang berfokus pada kewirausahaan di Indonesia semakin berkembang seiring dengan tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi. Untuk itu, banyak institusi pendidikan yang berperan dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan, terutama melalui usaha kecil yang dikelola oleh lulusan. Penelitian ini bertujuan untuk mencatat bagaimana berbagai jenis perguruan tinggi mempersiapkan mahasiswanya dalam menghadapi tantangan dunia usaha di Indonesia. 1) Teknik Pengambilan Sampel dan Ukuran Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan convenience sampling. Purposive sampling digunakan untuk memilih universitas dengan program kewirausahaan yang relevan, sementara convenience sampling dipilih berdasarkan ketersediaan dan kesiapan responden untuk berpartisipasi (Lenaini, 2021). Sampel terdiri dari 350 lulusan 90 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 2) 3) 4) 5) 91 perguruan tinggi yang sudah menjalankan usaha kecil di berbagai sektor, seperti makanan, ritel, teknologi, dan jasa. Dari 400 kuesioner yang disebarkan, 350 kuesioner berhasil dikumpulkan. Kuesioner yang diberikan berfokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan lulusan untuk memulai dan mengelola usaha kecil, seperti pelatihan kewirausahaan, relevansi kurikulum, keterampilan praktis yang diajarkan, serta dukungan modal dan fasilitas yang mereka terima. Spesifikasi Model dan Teknik Estimasi Penelitian bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang memengaruhi kewirausahaan mandiri lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Untuk tujuan tersebut, digunakan model regresi logistik biner (Christian et al., 2018). Model ini berguna untuk memperkirakan probabilitas lulusan untuk memulai dan mempertahankan usaha kecil berdasarkan sejumlah faktor internal dan eksternal yang relevan. Regresi logistik biner dipilih karena kemampuannya untuk memprediksi hasil biner, seperti keputusan untuk menjadi wirausahawan mandiri atau tidak, dengan melihat pengaruh berbagai faktor yang ada. Model yang diterapkan dalam penelitian ini dapat dijelaskan melalui rumus berikut. Kewirausahaan Mandiri Lulusan = f(pelatihan kewirausahaan, relevansi kurikulum, keterampilan praktis, fasilitas pendidikan, keterbukaan terhadap modal, tingkat pendidikan, sumber modal) (1) Secara matematis, model ini ditulis sebagai, Kewirausahaan Mandiri Lulusan = α0 + α1Pelatihan Kewirausahaan + α2Relevansi Kurikulum + α3Keterampilan Praktis + α4Fasilitas Pendidikan + α5Keterbukaan terhadap Modal + α6Usia + α7Pendidikan + α8Sumber Modal + ε (2) Dimana αi adalah parameter yang diestimasi dan ε merupakan error term yang mencakup variabilitas yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor-faktor dalam model. Model ini berusaha mengidentifikasi bagaimana faktor-faktor seperti pelatihan kewirausahaan, keterampilan praktis, relevansi kurikulum, dan akses terhadap modal, mempengaruhi keputusan lulusan untuk menjalankan usaha kecil mereka. Hasil dari model ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh masing-masing faktor terhadap peluang sukses atau kegagalan dalam menjalankan kewirausahaan mandiri. Variabel Penelitian Beberapa variabel yang dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah pelatihan kewirausahaan yang diterima selama pendidikan, relevansi kurikulum dengan dunia usaha, keterampilan praktis yang diajarkan, serta dukungan fasilitas pendidikan yang memadai. Selain itu, variabel eksternal yang juga dianalisis adalah keterbukaan terhadap modal, akses ke sumber modal, tingkat pendidikan, dan dukungan keluarga. Selain itu, usia lulusan dan status pendidikan mereka juga turut mempengaruhi keputusan untuk berwirausaha. Banyak lulusan perguruan tinggi yang memulai usaha mereka dengan modal terbatas dan tantangan di awal perjalanan, yang memerlukan dukungan dari keluarga, teman, atau lembaga keuangan untuk dapat berkembang. Teknik Analisis Data Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan regresi logistik biner untuk memahami hubungan antara berbagai faktor yang mempengaruhi keputusan lulusan untuk memulai dan bertahan dalam usaha kecil. Selain itu, analisis deskriptif akan digunakan untuk memberikan gambaran mengenai profil lulusan yang memilih menjalankan usaha kecil dan tantangan yang mereka hadapi. Dengan menggunakan teknik ini, penelitian berusaha memberi pemahaman lebih dalam tentang faktor-faktor yang mendukung atau menghambat kewirausahaan mandiri lulusan perguruan tinggi di Indonesia, serta memberikan rekomendasi yang dapat memperbaiki kualitas program kewirausahaan di institusi pendidikan tinggi di masa depan. Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Hasil 3.1.1 Karakteristik Demografis Responden Tabel 1 menunjukkan statistik deskriptif terkait karakteristik sosio-demografis responden, meliputi rata-rata, deviasi standar, nilai minimum, maksimum, serta ukuran skewness dan kurtosis. Sampel terdiri dari 310 lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Distribusi jenis kelamin responden bervariasi antara 0 (laki-laki) dan 1 (perempuan). Nilai rata-rata 0,639, yang lebih mendekati 1, mengindikasikan bahwa mayoritas responden adalah perempuan. Skewness sebesar -0,578 dan kurtosis 1,334 menunjukkan bahwa distribusi jenis kelamin ini hampir normal, tanpa adanya pencilan yang berarti. Sebagian besar responden adalah perempuan, dengan persentase lebih dari 60%. Hal ini mengindikasikan bahwa kewirausahaan mandiri di kalangan lulusan perguruan tinggi lebih banyak diminati oleh perempuan. Angka ini juga mencerminkan pergeseran peran gender dalam dunia usaha kecil di Indonesia (Akhmad, 2018). Distribusi jenis kelamin ini memberikan gambaran tentang partisipasi perempuan yang semakin meningkat dalam kewirausahaan. Data ini akan membantu dalam memahami lebih lanjut hubungan antara faktor demografis dan keberhasilan kewirausahaan mandiri di kalangan lulusan perguruan tinggi. Tabel 1. Tabel Statistik Deskriptif Variabel Sosio-Demografis Obs RataStd. Min Max Skew. rata Dev. Pekerja Mandiri (1=pekerja mandiri, 310 0.852 0.356 0 1 0=bukan) 1.978 Jenis Kelamin (Laki-laki=0, 310 0.639 0.481 0 1 Perempuan=1) 0.578 Status Perkawinan (Lajang=0, 310 0.129 0.336 0 1 2.213 Menikah=1) Usia 310 1.532 0.652 1 3 0.83 Pendidikan 310 3.316 1.906 1 7 0.214 Lama Berwirausaha 310 1.952 0.725 1 4 0.993 Jumlah Pekerja 310 1.068 0.252 1 2 3.44 Modal Usaha 310 1.994 0.628 1 3 0.005 Sumber Penghasilan 310 2.345 1.241 1 5 0.321 Sumber: Penelitian Penulis (2024) Variabel Kurt. 4.913 1.334 5.898 2.602 1.766 4.701 12.835 2.541 1.941 Sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah perempuan, dengan 198 responden (63,87%) perempuan dan 112 responden (36,13%) laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa kewirausahaan dan pekerjaan mandiri di kalangan lulusan perguruan tinggi di Indonesia lebih diminati oleh perempuan. 3.1.2 Deskripsi Faktor Ketahanan Kewirausahaan Tabel 2 menunjukkan data mengenai faktor-faktor ketahanan kewirausahaan yang diukur dengan skala Likert. Responden diminta untuk memberikan pendapat tentang berbagai aspek ketahanan kewirausahaan, seperti kepercayaan diri (self-efficacy), keteguhan (hardiness), kontrol internal, kebutuhan untuk mencapai (need for achievement), inovasi, fleksibilitas, pengalaman pribadi, dan kemampuan mengambil risiko (Roymon et al., 2022). Sebagian besar responden merasa percaya diri dalam mengelola usaha mereka meskipun menghadapi berbagai tantangan. Sebanyak 61,29% responden setuju bahwa banyak pelanggan merasa puas dengan layanan yang diberikan, yang menunjukkan ketahanan kewirausahaan yang baik dalam menghadapi kesulitan. Faktor lain yang mendapat perhatian adalah keteguhan dan kontrol internal. Banyak responden tetap bertahan dalam menghadapi rintangan berkat motivasi kuat untuk mencapai tujuan mereka. Inovasi dan fleksibilitas dianggap sangat penting dalam perkembangan usaha mereka. Responden 92 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November Jurnal Manajemen dan Teknologi https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 yang cenderung mengambil risiko dan mampu beradaptasi dengan perubahan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil (Khairani et al., 2025). Hasil ini mengindikasikan bahwa ketahanan kewirausahaan sangat penting untuk bertahan dalam situasi yang penuh tantangan dan untuk memastikan kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Tabel 2. Faktor Ketahanan Kewirausahaan Sangat Tidak Tidak Setuju Setuju Banyak pelanggan saya puas dengan layanan 0 0 bisnis saya. Itu sebabnya bisnis saya berkembang meskipun di masa krisis. (Kepercayaan Diri) Saya tetap teguh menghadapi tantangan karena 0 0 saya termotivasi oleh aspirasi dan pencapaian saya meskipun ada hambatan. (Keteguhan) Masa depan bisnis saya bergantung pada upaya 0 0 dan kerja keras saya. Saya bekerja keras untuk membuat bisnis saya berkembang. (Kontrol Internal) Pencapaian adalah tujuan saya, itulah sebabnya 24 20 saya berjuang untuk sukses dalam bisnis saya. (Kebutuhan untuk Mencapai) Bisnis saya berkembang karena saya inovatif dan 0 0 kreatif. (Inovasi dan Kreativitas) Bisnis saya berkembang dan akan terus 21 18 berkembang karena saya menyambut perubahan dan situasi baru. (Fleksibilitas) Dalam menghadapi perubahan pasar yang 14 2 semakin cepat, teknologi, dan persaingan, saya terus mencari peluang baru untuk menjaga daya saing bisnis saya. (Pengalaman Pribadi) Saya banyak mengambil risiko untuk 2 0 mengembangkan bisnis dan membuatnya tumbuh. (Kecenderungan untuk Mengambil Risiko) Kadang-kadang, jalur bisnis dan pemasok sangat 0 0 rumit, tetapi saya selalu menemukan solusi dalam situasi seperti itu. (Toleransi terhadap Ketidakpastian) Sumber: Penelitian Penulis (2024) Pertanyaan Netral Setuju Sangat Setuju 0 190 120 0 106 204 0 106 204 15 122 129 0 121 181 14 126 131 32 141 121 4 129 175 0 207 103 Tabel 2 menggambarkan faktor-faktor ketahanan kewirausahaan yang diukur dengan skala Likert. Sebagian besar responden merasa bahwa pelanggan mereka puas dengan layanan yang diberikan, yang mendukung pertumbuhan bisnis meskipun ada tantangan. Banyak responden menunjukkan keteguhan dan kontrol diri yang tinggi dalam menghadapi rintangan, serta berusaha keras mencapai tujuan mereka. Inovasi dan fleksibilitas juga dipandang sebagai kunci untuk keberhasilan bisnis. Responden cenderung mengambil risiko untuk mengembangkan usaha mereka dan menunjukkan toleransi terhadap ketidakpastian, yang membantu mereka menemukan solusi dalam situasi yang kompleks. 93 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 4.3 Deskripsi Faktor Endogen dan Eksogen dari Kewirausahaan Lulusan Tabel 3 menunjukkan faktor-faktor endogen dan eksogen yang memengaruhi kewirausahaan lulusan. Faktor endogen meliputi kurangnya orientasi yang tepat, relevansi kursus, dan keterampilan praktis, sementara faktor eksogen mencakup fasilitas yang tidak memadai di universitas dan masalah korupsi. Sebagian besar responden setuju bahwa orientasi yang salah dan kurangnya keterampilan praktis sangat mempengaruhi kemampuan mereka untuk memulai usaha kecil. Lebih dari 60% responden merasa kurang dipersiapkan dengan keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam dunia usaha, dan materi yang diajarkan di universitas tidak selalu relevan dengan kebutuhan pasar (Wirawati et al., (2020). Masalah fasilitas di universitas juga menjadi hambatan. Banyak responden yang merasa fasilitas yang tersedia tidak cukup mendukung mereka untuk memulai atau mengembangkan usaha. Masalah korupsi yang terjadi di beberapa institusi pendidikan turut memperburuk keadaan, karena berdampak pada akses terhadap sumber daya dan peluang yang seharusnya tersedia bagi para lulusan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan dalam kurikulum pendidikan tinggi serta penyediaan fasilitas yang lebih baik agar lulusan dapat lebih siap menghadapi tantangan kewirausahaan. Tabel 3. Faktor Endogen dan Eksogen dari Kewirausahaan Lulusan Sangat Tidak Netral Setuju Tidak Setuju Setuju Kurangnya orientasi yang tepat menyebabkan 0 0 0 101 banyak mahasiswa memilih program akademik yang salah dan sulit mendapatkan pekerjaan. (Kurangnya Orientasi) Beberapa mahasiswa memilih program di 0 0 0 195 universitas yang tidak mereka sukai hanya karena menawarkan peluang pekerjaan. (Ketiadaan Relevansi Kursus) Banyak lulusan yang belajar tetapi tidak memiliki 0 0 0 92 keterampilan praktis untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka di dunia nyata. (Kurangnya Keterampilan Praktis) Banyak universitas di Indonesia kekurangan 11 17 33 113 fasilitas yang memadai untuk mempersiapkan lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang menguntungkan. (Fasilitas yang Tidak Memadai) Korupsi, nepotisme, dan tribalism dalam institusi 16 12 31 102 bisnis menyebabkan tingginya angka pengangguran meskipun terdapat banyak lulusan yang berkualitas. (Korupsi dan Tribalism) Sumber: Penelitian Penulis (2024) Pertanyaan Sangat Setuju 209 115 218 136 149 Tabel 3 menunjukkan faktor-faktor yang memengaruhi kewirausahaan lulusan, baik yang bersifat endogen maupun eksogen. Sebagian besar responden setuju bahwa orientasi yang salah membuat mahasiswa memilih program akademik yang tidak tepat, yang pada akhirnya menyulitkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Lebih dari 60% responden merasa bahwa banyak mahasiswa memilih program hanya karena janji peluang kerja, meski tidak sesuai minat. Banyak juga yang merasa kurang memiliki keterampilan praktis yang dapat diterapkan di dunia nyata. Selain itu, fasilitas pendidikan yang tidak memadai dan masalah korupsi di institusi juga menambah tantangan bagi lulusan. 94 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 3.1.3 Pengaruh Faktor Endogen dan Eksogen terhadap Kewirausahaan Mandiri Lulusan Hasil analisis menunjukkan bahwa lulusan yang kurang memiliki orientasi yang tepat dan keterampilan praktis memiliki peluang lebih kecil untuk menjadi wirausahawan mandiri. Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa kekurangan orientasi terhadap dunia kerja dan keterampilan praktis dapat menghambat lulusan dalam memulai serta mengelola usaha kecil. Lulusan yang tidak mendapatkan arahan yang jelas mengenai karier atau dunia usaha sering kesulitan dalam merencanakan langkah-langkah kewirausahaan yang efektif. Selain itu, ketidakmampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan ke dalam praktik nyata juga menjadi tantangan besar. Keterampilan praktis seperti kemampuan manajerial, pemasaran, dan pengelolaan keuangan sangat dibutuhkan dalam menjalankan usaha. Lulusan yang tidak dilatih untuk mengembangkan keterampilan ini akan mengalami kesulitan dalam mengelola usaha mereka dengan baik. Faktor eksternal, seperti fasilitas pendidikan yang kurang memadai dan adanya masalah korupsi, juga mempengaruhi kesiapan lulusan. Banyak universitas yang tidak menyediakan fasilitas yang cukup untuk mendukung pengembangan keterampilan praktis, yang membuat lulusan merasa kurang siap saat memasuki dunia kerja atau memulai usaha (Fasya. 2018). Masalah korupsi di beberapa institusi pendidikan juga menghambat akses lulusan terhadap peluang kewirausahaan yang semestinya mereka dapatkan. Faktor endogen dan eksogen berperan besar dalam menentukan kesuksesan lulusan dalam kewirausahaan mandiri. Perbaikan dalam sistem pendidikan dan penguatan keterampilan praktis yang relevan dengan dunia usaha sangat diperlukan agar lulusan dapat lebih siap menghadapi tantangan kewirausahaan. 3.1.4 Pengaruh Faktor Konflik dan Pengaturan Rentan terhadap Kewirausahaan Mandiri Lulusan Penelitian menemukan bahwa faktor eksternal seperti ketidakstabilan politik, tingkat korupsi, dan krisis sosial-ekonomi berpengaruh besar terhadap peluang lulusan untuk memulai usaha kecil. Lulusan yang berada di daerah yang rentan terhadap konflik dan ketidakstabilan lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi wirausahawan mandiri dibandingkan dengan mereka yang berada di daerah yang lebih stabil. Ketidakstabilan politik sering kali menciptakan ketidakpastian yang menghambat para lulusan untuk memulai bisnis. Di sisi lain, tingginya tingkat korupsi di beberapa daerah juga menghalangi lulusan untuk mengakses peluang bisnis yang tersedia, karena mereka kesulitan mendapatkan izin atau sumber daya yang diperlukan. Krisis sosial-ekonomi memperburuk situasi ini. Dalam kondisi ekonomi yang buruk, daya beli masyarakat menurun, yang berdampak pada permintaan terhadap produk dan layanan dari usaha kecil. Lulusan di daerah yang terdampak krisis lebih cenderung memilih mencari pekerjaan yang lebih stabil atau bergantung pada bantuan sosial, ketimbang berinvestasi untuk memulai usaha. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpastian yang tinggi di lingkungan sekitar dapat membuat lulusan enggan untuk berwirausaha (Natsir, 2023). Lulusan yang berada di daerah stabil dengan dukungan sosial dan ekonomi yang baik memiliki peluang lebih besar untuk memulai dan mempertahankan usaha kecil. Oleh karena itu, stabilitas politik, pengurangan korupsi, dan perbaikan kondisi ekonomi sangat penting untuk mendukung kewirausahaan di kalangan lulusan. 3.1.5 Pengaruh Faktor Ketahanan Kewirausahaan terhadap Kewirausahaan Mandiri Lulusan Faktor ketahanan kewirausahaan seperti kepercayaan diri, keteguhan, dan inovasi sangat berperan dalam meningkatkan peluang lulusan untuk memulai dan bertahan dalam usaha kecil. Lulusan yang memiliki sifat-sifat ini lebih mampu mengatasi hambatan eksternal dan mencapai kesuksesan dalam usaha mereka. Kepercayaan diri memberikan dorongan bagi lulusan untuk percaya pada kemampuan mereka dalam menjalankan bisnis, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Sikap ini sangat penting karena kewirausahaan sering kali melibatkan pengambilan keputusan yang berisiko dan penuh ketidakpastian, di mana keyakinan diri berfungsi sebagai pendorong utama. 95 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 Keteguhan, atau kemampuan untuk bertahan di tengah kesulitan, juga memainkan peran penting. Lulusan yang teguh tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan atau hambatan dalam usaha. Mereka akan berusaha terus menerus untuk mencari solusi dan bangkit kembali, bahkan ketika situasi tidak sesuai harapan. Kualitas ini sangat diperlukan dalam dunia kewirausahaan, di mana bisnis sering kali menghadapi tantangan yang tak terduga dan membutuhkan ketahanan mental untuk terus maju (Indriyani, et al., 2019). Inovasi juga menjadi faktor kunci dalam kesuksesan kewirausahaan. Lulusan yang memiliki kemampuan inovatif mampu melihat peluang pasar dan menciptakan produk atau layanan yang berbeda dari pesaing. Inovasi membantu menarik pelanggan baru dan menjaga agar bisnis tetap berkembang, bahkan di tengah persaingan yang ketat. Lulusan yang menguasai ketiga aspek ini kepercayaan diri, keteguhan, dan inovasi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang dalam usaha kecil yang mereka jalankan. 3.1.6 Rekomendasi dan Implikasi Kebijakan Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar universitas di Indonesia lebih menyesuaikan kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Kurikulum yang berfokus pada keterampilan praktis akan membantu mahasiswa mempersiapkan diri untuk dunia usaha dan pekerjaan dengan lebih baik. Selain itu, universitas perlu menyediakan fasilitas yang lebih baik untuk mendukung pengembangan keterampilan ini, seperti ruang pelatihan dan akses ke teknologi yang dapat digunakan oleh mahasiswa dalam melatih keterampilan kewirausahaan. Dukungan sosial dan modal juga perlu ditingkatkan bagi lulusan yang ingin memulai usaha. Pemerintah dan sektor swasta dapat berkolaborasi untuk memberikan program pendampingan, akses modal, serta jaringan yang dibutuhkan lulusan untuk memulai dan mengembangkan bisnis mereka. Program semacam ini akan membantu mengatasi hambatan yang sering ditemui, seperti keterbatasan modal dan pengalaman praktis dalam mengelola usaha (Jauhari et al., 2021). Sistem yang lebih mendukung dan ramah terhadap pengusaha baru bisa memberikan insentif yang dibutuhkan untuk memulai dan menjalankan usaha. Pembenahan ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pelaku usaha untuk berkembang, meningkatkan peluang kerja, dan akhirnya mendukung perekonomian negara. Kebijakan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan, dukungan kepada pelaku usaha, dan sistem perpajakan yang lebih baik akan membawa dampak positif terhadap kewirausahaan mandiri di Indonesia. 3.2 Pembahsan Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik demografis lulusan perguruan tinggi di Indonesia memberikan gambaran menarik terkait peran gender dalam kewirausahaan mandiri. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa lebih dari 60% responden adalah perempuan, yang menunjukkan meningkatnya minat perempuan dalam kewirausahaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengindikasikan bahwa kewirausahaan semakin diminati oleh perempuan, terutama dalam bidang usaha kecil (Akhmad, 2018). Selain itu, fenomena ini mencerminkan perubahan sosial yang signifikan, dengan perempuan memainkan peran yang semakin besar dalam meningkatkan perekonomian melalui usaha kecil di Indonesia. Perubahan ini dapat dilihat sebagai bagian dari pemberdayaan perempuan yang semakin mendapat tempat dalam dunia usaha. Ketahanan kewirausahaan merupakan faktor utama dalam keberhasilan usaha kecil yang dikelola oleh lulusan perguruan tinggi. Faktor-faktor seperti kepercayaan diri, keteguhan, kontrol internal, dan fleksibilitas sangat mempengaruhi kelangsungan usaha mereka. Sebagian besar responden merasa percaya diri dalam menghadapi tantangan, yang menunjukkan adanya ketahanan yang baik di kalangan para pengusaha muda ini. Keteguhan dan kontrol diri juga menjadi kunci dalam bertahan menghadapi kesulitan, di mana banyak responden yang tetap bertahan berkat motivasi kuat untuk mencapai tujuan mereka. Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa keteguhan sangat penting dalam menjalankan usaha kecil, karena wirausahawan seringkali 96 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 menghadapi tantangan besar yang membutuhkan ketahanan mental untuk tetap maju (Pascucci, Hernández-Sánchez, & García, 2021). Selain keteguhan, kemampuan berinovasi juga menjadi faktor yang mendukung keberhasilan kewirausahaan. Inovasi membantu para pengusaha untuk menciptakan produk atau layanan yang baru dan berbeda, serta menemukan peluang-peluang baru yang dapat memperluas pasar mereka. Dengan mengutamakan inovasi, wirausahawan dapat tetap relevan dan berkembang, meskipun pasar mengalami perubahan cepat. Fleksibilitas juga berperan penting, karena para wirausahawan yang mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar lebih cenderung untuk berhasil dalam menjaga keberlanjutan bisnis mereka. Faktor-faktor ini menggambarkan betapa pentingnya ketahanan pribadi dalam menjalankan usaha, terutama dalam menghadapi tantangan yang tidak terduga. Penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah hambatan yang dapat memengaruhi keberhasilan kewirausahaan, baik dari faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor utama yang ditemukan adalah kurangnya keterampilan praktis yang diajarkan di perguruan tinggi. Banyak lulusan merasa bahwa pendidikan yang mereka terima tidak sepenuhnya relevan dengan tuntutan dunia usaha yang sesungguhnya. Keterampilan praktis seperti manajemen keuangan, pemasaran, dan keterampilan teknis lainnya sangat diperlukan dalam mengelola usaha kecil secara efektif. Kurangnya pengajaran keterampilan praktis ini menjadi salah satu faktor yang menghambat kemampuan lulusan untuk memulai dan mengembangkan usaha mereka dengan baik (Fasya, 2018). Oleh karena itu, penting bagi perguruan tinggi untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dunia usaha dan memberikan lebih banyak pelatihan praktis agar lulusan dapat lebih siap menghadapi tantangan kewirausahaan. Selain faktor internal, hambatan eksternal juga turut mempengaruhi keberhasilan kewirausahaan mandiri. Ketidakstabilan politik, krisis sosial-ekonomi, dan tingkat korupsi yang tinggi menjadi masalah utama bagi banyak lulusan yang berusaha memulai usaha kecil. Ketidakstabilan ini sering kali menciptakan ketidakpastian yang menghambat para lulusan untuk memulai bisnis mereka, terutama di daerah yang rawan konflik dan krisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lulusan yang berada di daerah yang lebih stabil secara sosial dan ekonomi memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses dalam kewirausahaan. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang lebih stabil, baik dari segi politik maupun ekonomi, sangat penting untuk mendukung kewirausahaan di Indonesia (Rettberg, Leiteritz, & Nasi, 2011). Masalah fasilitas pendidikan yang tidak memadai di beberapa perguruan tinggi juga menjadi hambatan bagi lulusan yang ingin memulai usaha kecil. Banyak universitas yang tidak menyediakan fasilitas yang cukup untuk mendukung pengembangan keterampilan praktis. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah dan sektor pendidikan perlu memperbaiki kualitas fasilitas yang ada, seperti ruang pelatihan dan akses ke teknologi terbaru yang dapat membantu mahasiswa dalam belajar dan mengembangkan keterampilan kewirausahaan mereka. Selain itu, penting untuk memperbaiki sistem pendidikan tinggi agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan lebih fokus pada pembekalan keterampilan yang aplikatif (Jauhari & Jauhari, 2021). Ketahanan kewirausahaan juga sangat dipengaruhi oleh kepribadian individu. Lulusan yang memiliki sifat kepercayaan diri, keteguhan, dan inovasi lebih cenderung untuk sukses dalam menjalankan usaha mereka. Penelitian ini menekankan pentingnya membekali lulusan dengan karakter kewirausahaan yang kuat, yang tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan untuk mengelola risiko dan beradaptasi dengan perubahan. Pendidikan kewirausahaan yang berfokus pada pengembangan sikap dan karakter kewirausahaan akan sangat membantu lulusan untuk bertahan dan berkembang dalam dunia usaha yang penuh dengan ketidakpastian. 4. Kesimpulan Ketahanan kewirausahaan memainkan peran penting bagi lulusan perguruan tinggi yang memulai usaha kecil, terutama ketika menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang tidak pasti. 97 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 Lulusan yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan kemampuan untuk bertahan dalam kesulitan lebih mampu mengelola usaha mereka dalam situasi yang penuh hambatan. Selain faktor internal seperti keteguhan dan keyakinan diri, kondisi eksternal juga mempengaruhi keberhasilan usaha kecil yang dikelola oleh lulusan. Stabilitas ekonomi dan politik menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan usaha, terutama di daerah yang rentan terhadap ketidakpastian. Pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi terbukti membantu lulusan dalam memperoleh keterampilan praktis yang diperlukan untuk menjalankan usaha kecil. Namun, banyak lulusan yang merasa bahwa pendidikan yang mereka terima tidak sepenuhnya relevan dengan tantangan yang mereka hadapi di dunia usaha. Keterampilan praktis dan pengalaman langsung yang diperoleh selama pendidikan sangat dibutuhkan agar lulusan dapat lebih siap dalam mengelola usaha mereka. Oleh karena itu, perlu adanya pembaruan dalam kurikulum agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar dan tantangan kewirausahaan. Dukungan eksternal seperti fasilitas pendidikan yang memadai dan akses terhadap modal juga mempengaruhi kesiapan lulusan dalam menjalankan usaha. Program pendampingan, kemudahan akses ke sumber daya, dan kebijakan yang mendukung kewirausahaan akan sangat membantu lulusan untuk bertahan dan berkembang. Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan kewirausahaan dan memperkuat sistem pendukung bagi para lulusan sangat penting untuk meningkatkan ketahanan kewirausahaan di Indonesia. Dengan demikian, lulusan akan memiliki peluang lebih besar untuk mengelola usaha kecil yang sukses dan berkelanjutan. 5. Daftar Pustaka Akhmad, A. N. (2018). Kualitas hidup pasien Gagal Jantung Kongestif (GJK) berdasarkan karakteristik demografi. Jurnal Keperawatan Soedirman, 11(1), 27-34. http://dx.doi.org/10.20884/1.jks.2016.11.1.629 Aryati, S. (2024). The influence of entrepreneurship education and entrepreneurial environment on entrepreneurial intentions through entrepreneurial motivation in private vocational school students in mojokerto regency. Social Science Studies, 4(1), 566-584. https://doi.org/10.47153/sss41.8452024 Bullough, A., Renko, M., & Myatt, T. (2014). Danger zone entrepreneurs: the importance of resilience and self–efficacy for entrepreneurial intentions. Entrepreneurship Theory and Practice, 38(3), 473-499. https://doi.org/10.1111/etap.12006 Christian, Y., Harimurti, H., & Wijatmiko, I. (2018). Pemodelan Peningkatan Akurasi Estimasi Biaya Dengan Metode Structural Equation Modeling-Partial Least Square Pada Proyek Jalan Provinsi Kalimantan Tengah. Rekayasa Sipil, 11(2), pp.91–101. https://doi.org/10.21776/ub.rekayasasipil/2017.011.02.2 Conduah, A. and Essiaw, M. (2022). Resilience and entrepreneurship: a systematic review. F1000research, 11, 348. https://doi.org/10.12688/f1000research.75473.1 Fasya. (2018). Pengaruh Faktor Internal Dan Faktor Eksternal Terhadap Minat Berwirausaha (Studi Kasus Pada Mahasiswa Febi Iain Langsa. Hacked, 3(II), 179-200. Retrieved from https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/muamalat/article/view/721 Indriyani, L., & Margunani, M. (2019). Pengaruh Kepribadian, Pendidikan Kewirausahaan, Dan Lingkungan Keluarga Terhadap Minat Berwirausaha. Economic Education Analysis Journal, 7(3), 848–862. https://doi.org/10.15294/eeaj.v7i3.28315 98 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 Jauhari, A. K., & Jauhari, A. L. R. (2021). Analisis Aspek-Aspek, Implikasi Dan Penanganan Masalah Kebijakan Publik Penerbitan Rekomendasi Perijinan Rehabilitasi Pasar Banjaran Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Kebijakan: Jurnal Ilmu Administrasi, 12(1), 38-56. Kasim, S., Hamzah, M., Kadir, A., & Abdullah, M. (2024). Resilience of micro, small, and medium enterprises based on islamic entrepreneurship. Iqtishoduna Jurnal Ekonomi Islam, 13(1), 211-232. https://doi.org/10.54471/iqtishoduna.v13i1.2333 Khairani, N., Putri, A., Aritonang, A. P., & Hutasoit, E. (2025). Studi Literatur : Peran Entrepreneurial Mindset dalam Membangun Ketahanan Bisnis Stratup di Kalangan Mahasiswa . Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(3), 5737–5748. https://doi.org/10.31004/innovative.v5i3.19482 Kholifah, N., Kusumawaty, I., Nurtanto, M., Mutohhari, F., Isnantyo, F., & Subakti, H. (2022). Designing the structural model of students' entrepreneurial personality in vocational education: an empirical study in indonesia. Journal of Technical Education and Training, 14(3). https://doi.org/10.30880/jtet.2022.14.03.001 Lenaini, I. (2021). Teknik pengambilan sampel purposive dan snowball sampling. Historis: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah, 6(1), 33-39. https://doi.org/10.31764/historis.v6i1.4075 Li, Y., Sha, Y., Lv, Y., Wu, Y., & Liu, H. (2022). Moderated mediating mechanism effects of chinese university entrepreneurship education on independent student entrepreneurship. Frontiers in Psychology, 13. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.782386 Naldi, L., Larsson, J., & Westlund, H. (2020). Policy entrepreneurship and entrepreneurial orientation in vulnerable swedish municipalities. Entrepreneurship and Regional Development, 32(7-8), 473-491. https://doi.org/10.1080/08985626.2020.1798557 Natsir, U. D. (2023). Pengaruh pendidikan kewirausahaan, motivasi berwirausaha, dan lingkungan keluarga terhadap intensi berwirausaha yang dimediasi oleh nilai-nilai petualangan Alam Bebas di Kota Makassar= The influence of entrepreneurship education, entrepreneurial motivation, and family environment on entrepreneurial intentions mediated by the values of outdoor adventure in Makassar City (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin). Pascucci, T., Hernández-Sánchez, B., & García, J. (2021). Cooperation and environmental responsibility as positive factors for entrepreneurial resilience. Sustainability, 14(1), 424. https://doi.org/10.3390/su14010424 Renko, M., Bullough, A., & Saeed, S. (2020). How do resilience and self-efficacy relate to entrepreneurial intentions in countries with varying degrees of fragility? a six-country study. International Small Business Journal Researching Entrepreneurship, 39(2), 130-156. https://doi.org/10.1177/0266242620960456 Rettberg, A., Leiteritz, R., & Nasi, C. (2011). Entrepreneurial activity in the context of violent conflict: business and organized violence in colombia1. Journal of Small Business & Entrepreneurship, 24(2), 179-196. https://doi.org/10.1080/08276331.2011.10593533 Roymon Panjaitan, & Nada Trasthya Ibaneza. (2022). Menelisik Ketahanan Kewirausahaan Dan Ketahanan Organisasi Menuju Umkm Tangguh Di Kabupaten Semarang. Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang, 4(1), 28–43. https://doi.org/10.55606/sinov.v5i1.213 99 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1547 Shepherd, D., Saade, F., & Wincent, J. (2020). How to circumvent adversity? refugee-entrepreneurs' resilience in the face of substantial and persistent adversity. Journal of Business Venturing, 35(4), 105940. https://doi.org/10.1016/j.jbusvent.2019.06.001 Siregar, P. P., Julmasita, R., Ananda, S., & Nurbaiti, N. (2023). Pentingnya Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi. Asatiza: Jurnal Pendidikan, 4(1), 4350. https://doi.org/10.46963/asatiza.v4i1.805 Susilo, F., Widiyanti, W., & Isnandar, I. (2022). Implementation of welding production unit learning model for students’ entrepreneurial preparedness of public vocational high school. Teknologi Dan Kejuruan Jurnal Teknologi Kejuruan Dan Pengajarannya, 45(1), 11. https://doi.org/10.17977/um031v45i12022p11-18 Williams, N. and Vorley, T. (2014). Economic resilience and entrepreneurship: lessons from the sheffield city region. Entrepreneurship and Regional Development, 26(3-4), 257-281. https://doi.org/10.1080/08985626.2014.894129 Wirawati, N., Kohardinata, C., & Vidyanata, D. (2020). Analisis sikap kewirausahaan sebagai mediasi antara pendidikan kewirausahaan terhadap intensi kewirausahaan di universitas ciputra. Performa, 3(6), 709–720. https://doi.org/10.37715/jp.v3i6.1350 100 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025)