895 JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 PENGARUH PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA MELALUI KEDISIPLINAN TERHADAP KUALITAS VISUAL DI PANTAI SENGGIGI KECAMATAN BATU LAYAR KABUPATEN LOMBOK BARAT Oleh Ni Putu Ayu Arista Yani1. Lalu Masyhudi2. Ulfan Mulyawan3 1,2,3 Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram Email : 1windaamal18@gmail. com, 2laloemipa@gmail. com, 3ulfanmbojo@gmail. Article History: Received: 26-10-2024 Revised: 28-10-2024 Accepted: 30-10-2024 Keywords: Penataan. Pedagang Kaki Lima. Kedisiplinan. Kualitas Visual. Abstract : Pantai Senggigi memiliki keindahan alam yang sangat indah sehingga sudah sewajarnya pantai Senggigi menjadi objek wisata yang diminati masyarakat bahkan turis mancanegara. Pantai Senggigi mengalami perubahan tata ruang yang mengakibatkan kualitas pandangan menjadi terganggu karena keberadaan pedagang yang menjajakan berbagai produk di pinggir pantai telah menimbulkan permasalahan terkait penataan tenda yang kurang tertib. Penelitian ini membahas tentang Pengaruh Penataan Pedagang Kaki Lima Melalui Kedisiplinan Terhadap Kualitas Visual di Pantai Senggigi Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat. Hasil penelitian diuraikan dalam beberapa jawaban terhadap rumusan masalah yaitu pengaruh antara penataan PKL terhadap kualitas visual melalui kedisiplinan sebagai variabel mediasi. Dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif kuantitatif dan data yang bersumber dari observasi, angket dan dokumen pendukung lain. Analisis ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan tipe survei eksplanatif asosiatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel penataan PKL terhadap kualitas visual tanpa melalui kedisiplinan sebagai variabel mediasi di karenakan variabel kedisiplinan memiliki nilai yang lebih besar dari 0,05 sehingga dikatakan berbengaruh tetapi tidak signifikan di Pantai Senggigi kecamatan batulayar. PENDAHULUAN Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut yang merupakan kawasan yang sangat dinamis dari segi fisik, sosial dan ekonomi. Pergulatan dan interaksi kemanusian dan alam sangat intens terjadi yang dapat melahirkan kearifan lokal dan modal sosial yang tumbuh dengan kuat . Namun juga sebaliknya interaksi dengan cara yang salah akan menimbulkan eksploitasi yang berlebihan dari masyarakat yang tidak paham sehingga dapat mengakibatkan wilayah pesisir menjadi rentan terhadap bencana dan juga tidak dapat dimanfaatkas secara optimal. Salah satu kegiatan masyarakat yang dilakukan yaitu menjadi pedagang kaki lima di tempat wisata khususnya pantai. Sehingga perlu adanya manajemen dalam pengelolaan destinasi, menyatakan bahwa Manajemen adalah suatu proses khas yang terdiri atas tindakantindakan perencanaan, pengorganisasian, pergerakan, dan pengendalian untuk menentukan serta mencapai tujuan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, . Salah satunya Pantai yang berada di wilayah Lombok barat adalah Pantai Senggigi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 memiliki keindahan alam yang sangat indah sehingga sudah sewajarnya pantai Senggigi menjadi objek wisata yang diminati masyarakat bahkan turis mancanegara. Pantai Senggigi juga menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat populer di Lombok Barat. Namun, keberadaan pedagang yang menjajakan berbagai produk di pinggir pantai telah menimbulkan permasalahan terkait penataan tenda yang kurang tertib. Hal ini menyebabkan gangguan terhadap kualitas visual di lokasi tersebut. Karakter visual yang menarik adalah karakter formal yang dinamis yang dapat dicapai melalui pandangan yang menyeluruh melalui amatan berseri atau menerus . erial visio. Unit visual yang dominan memiliki keragaman dalam suatu kesinambungan yang terpadu dan berpola yang membentuk kesatuan yang unik, . Permasalahan ini tidak hanya berdampak pada estetika pantai Senggigi, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap pengalaman pengunjung. Dengan kurangnya kedisiplinan dalam penataan tenda, kualitas visual di sekitar pantai Senggigi menjadi terganggu, mengurangi daya tarik wisata, dan dampaknya pada citra pariwisata daerah. Orang-orang di daerah perkotaan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, bergantung pada PKL untuk bertahan hidup. Sektor informal seperti PKL dapat membantu perekonomian dan mengurangi kemiskinan. Sektor informal menyumbang 40% dari PDB Indonesia pada tahun 2013, menyumbang 70% perekonomian Indonesia (Detik Finance, 2. Meskipun PKL berkontribusi pada perekonomian, mereka sering dipandang negatif oleh masyarakat karena dianggap mengganggu kenyamanan masyarakat, seperti mengganggu pejalan kaki, bermain bola di pantai, merusak estetika, kebersihan, dan pengoperasian infrastruktur umum. Namun, karena PKL sangat penting untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian, pemerintah berusaha agar bisnis ini tidak dimatikan. Sebaliknya, mereka berusaha untuk membangun, mengawasi, dan meningkatkannya . Menurut UU No 26 Tahun 2007 , tata ruang terdiri dari pola ruang dan struktur ruang. Struktur ruang terdiri dari susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional. Di sisi lain, pola ruang mencakup peruntukan ruang untuk fungsi budidaya dan perlindungan, . Penelitian ini juga memberikan kontribusi dalam pengembangan kebijakan pengaturan pedagang di destinasi wisata, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya kedisiplinan dalam penataan pedagang untuk menjaga kualitas visual di lokasi wisata. Oleh karena itu, penelitian tentang pengaruh penataan pedagang melalui kedisiplinan terhadap kualitas visual di lokasi Pantai Senggigi. Lombok Barat merupakan hal yang sangat relevan. Dengan memahami dampak dari kedisiplinan penataan pedagang, dapat diidentifikasi strategi untuk meningkatkan kualitas visual di lokasi tersebut, sehingga memberikan pengalaman wisata yang lebih memuaskan bagi pengunjung. LANDASAN TEORI Manajemen merupakan hal yang penting bagi suatu organisasi atau instansi untuk mencapai tujuan dari organisasi atau instansi tersebut. Dalam manajemen sendiri bertujuan untuk mengatur dan mengelola sumber daya yang tersedia dalam organisasi atau instansi. Manajemen didefinisikan sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orangorang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan, . Manajemen adalah suatu proses khas yang terdiri atas tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengendalian untuk menentukan serta mencapai tujuan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, . Penulis dapat mengatakan bahwa manajemen adalah disiplin ilmu yang digunakan untuk a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 mengatur orang-orang yang terlibat dalam suatu organisasi agar bekerja dengan baik dan efisien sehingga mereka dapat mencapai tujuan organisasi. Penataan ruang adalah proses menata ruang. Menurut UU No 26 Tahun 2007, tata ruang terdiri dari pola ruang dan struktur ruang. Menurut Muta'Ali . , struktur ruang terdiri dari susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan Di sisi lain, pola ruang mencakup peruntukan ruang untuk fungsi budidaya dan "Penataan tata" adalah istilah yang mengacu pada proses, cara, atau perbuatan menata, mengatur, atau menyusun. Kata "penataan" merupakan kata sifat yang digunakan untuk melakukan sesuatu yang berbentuk atau tampak seperti yang diharapkan. untuk mencapai kualitas visual yang sesuai dengan subjek penelitian. Penataan diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang aman, nyaman untuk bekerja, dan berkelanjutan, . Karakter visual yang menarik adalah karakter formal yang dinamis yang dapat dicapai melalui pandangan yang menyeluruh melalui amatan berseri atau menerus . erial visio. Unit visual yang dominan memiliki keragaman dalam suatu kesinambungan yang terpadu dan berpola yang membentuk kesatuan yang unik, menurut Cullen . Tampilan fisik secara visual dapat berarti suatu bangunan yang memperlihatkan sisi mukanya. Tampilan visual juga dapat berarti bentuk sebuah bangunan atau lingkungan yang mampu menghadirkan elemen-elemen dalam pola tertentu untuk menghasilkan ekspresi unik. Tampilan visual yang dimaksud adalah tampilan seluruh permukaan bangunan dan elemen lingkungan yang dapat dinikmati dengan indera penglihatan, . Kedisiplinan didefinisikan sebagai sikap dan tindakan yang bertujuan untuk mematuhi semua aturan organisasi yang didasarkan pada kesadaran diri untuk menyesuaikan diri dengan aturan organisasi, . kedisiplinan adalah kesadaran dan keinginan seseorang untuk mematuhi semua peraturan perusahaan dan aturan sosial yang berlaku, . Pedagang kaki lima adalah orang-orang yang berjualan di area informal di trotoar atau bahu jalan dan tempat lainnya. Mereka biasanya menjual kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan mainan untuk anak-anak, atau mereka juga dapat menawarkan jasa. Menurut Fakultas Hukum UNPAR, pedagang kaki lima adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi lemah yang menjual barang-barang kecil seperti kebutuhan sehari-hari, makanan, atau jasa, dan modal sendiri atau modal lain, baik dengan lokasi tetap atau tidak tetap . erpindah-pinda. ke tempat yang terlarang METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan tipe survei eksplanatif asosiatif, karena ditampilkan dalam bentuk angka yang menunjukkan nilai relatif terhadap besaran variabel yang diwakilinya. Data kuantitatif adalah data kualitatif yang diangkakan atau dalam bentuk angka, . Terdapat tiga variabel yang diwakilkan oleh huruf X . Y . dan Z . , dimana X merupakan penataan PKL . Y merupakan kualitas visual, sedangkan Z merupakan kedisiplinan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, kuisioner dan dokumentasi. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pengelola dan wisatawan yang berkunjung ke pantai Senggigi, yang jumlah sebenarnya tidak diketahui. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode teknik accidental sampling adalah metode pengambilan sampel berdasarkan salah satu yang cocok. Dalam perhitungan jumlah populasi yang menggunakan rumus Lemeshow dengan jumlah sampel 96 yang a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 dikumpulkan untuk penelitian dan dibulatkan menjadi 100 responden. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini berhasil mengumpulkan 100 responden yang disebar dilokasi penelitian menggunakan angket. Berdasarkan hasil pengolahan data, dengan karakteristik respoden berdasarkan jenis kelamin, usia dan Pendidikan terakhir. Tabel 1. Hasil Koresponden Karakteristik jenis kelamin Kategori laki-laki >56 SMP SMA/SMK Diploma Jumlah . presentase (%) Data diolah, 2024 Berdasarkan tabel karakteristik responden terdapat 52 jenis kelamin laki-laki dan Perempuan 48 sehingga yang sering berkunjung di pantai Senggigi kebanyakan jenis kelamin lakilaki. Karakteristik responden berdasarkan usia yang sering berkunjung yaitu 17-25 tahun dengan jumlah 78 orang. Responden berdasarkan Pendidikan terakhir yang sering berkunjung di pantai Senggigi adalah SMA/SMK dengan jumlah 37 orang dan jenjang Pendidikan S1 terbanyak yaitu 44 orang. Uji asumsi klasik Uji normalitas Uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji satu sampel Kolmogorov Smirnov atau dengan melihat penyebaran data pada sumber diagonal pada plot regression standardized residual normal P-P. dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Signifikansi > 0,05, maka data berdistribusi normal. Signifikansi < 0,05, maka data tidak berdistribusi secara normal Tabel 2. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Asymp. Sig. -Tailed Keterangan 0,89 Normal Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai signifikansinya adalah 0,089 yang berarti menunjukkan bahwa tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 yang artinya variabel yang diuji berdistribu si normal. Uji multikolinearitas Dasar pengambilan keputusan uji multikolinearitas dapat dicapai dalam dua cara: melihat nilai Jika nilai tolerance > 0. 10, maka artinya tidak terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Jika nilai tolerance < 0. 10, maka artinya terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji. Melihat nilai VIF : 1. Jika nilai VIF < 10. 00, maka artinya tidak terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji. Jika nilai VIF > 10. 00, maka artinya terjadi multikolinearitas terhadap data yang diuji. Tabel 3. Uji Multikolinieritas Collinearity Statistics Model Tolerance VIF ,880 1,136 1Penataan PKL Kedisiplinan ,880 1,136 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa nilai hasil uji multikolinearitas VIF pada variabel Penataan PKL (X) dan Kedisiplinan (Z) yaitu sebesar 1,136 dimana kedua nilai pada variabel bebas lebih kecil atau < 10. Dan pada nilai tolerance dari variabel Penataan PKL (X) dan variabel Kedisiplinan (Z) adalah sebesar 0,880 yang dimana kedua variabel bebas lebih besar atau > 0,1. Dari data hasil uji diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh Penataan Pedagang Kaki Lima Melalui Kedisiplinan Terhadap Kualitas Visual di Pantai Senggigi Lombok Barat tidak mengalami masalah multikolinearitas atau tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Uji hipotesis path analysis . Model Jalur Persamaan I Tabel 4. Model Jalur Persamaan I Standardized Unstandardized Coefficients Model Std. Error 1(Constan. 5,801 1,433 Penataan PKL ,512 ,060 Coefficients Beta ,651 Sig. 4,050 ,000 8,497 ,000 Berdasarkan hasil Path analysis diatas koefisien jalur yang diperoleh sebesar 0,651 hal ini menunjukan bahwa pengaruh Penataan PKL terhadap kualitas visual sebesar 0,651 tanpa di pengaruhi faktor lain. Nilai t hitung 8,497 lebih besar dari t tabel yaitu sebesar 1,661. Hubungan antara variabel penataan PKL (X) terhadap Kualitas Visual (Y) signifikan karena nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai signifikansi 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel penataan PKL memiliki pengaruh secara langsung dan signifikan terhadap variabel kualitas visual. Model jalur persamaan II Tabel 5. Model Jalur Persamaan II a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Koefisien jalur yang diperoleh sebesar 0,145 hal ini menunjukan bahwa pengaruh kedisiplinan terhadap kualitas visual sebesar 0,145 tanpa di pengaruhi faktor lain. Nilai t hitung 1,799 lebih besar dari t tabel yaitu sebesar 1,661. Hubungan antara variabel kedisiplinan (Z) terhadap Kualitas Visual (Y) tidak signifikan karena nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,075 lebih besar dari nilai signifikansi 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kedisiplinan memiliki pengaruh secara langsung tetapi tidak signifikan terhadap variabel kualitas visual. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa variabel penataan PKL berpengaruh positif dan signifikan. Artinya, semakin baik penataan pedagang kaki lima yang dilakukan oleh pengelola Pantai Senggigi maka, akan berdampak dengan kualitas visual di Pantai Senggigi. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa variabel kedisiplinan berpengaruh positif namun tidak Sehingga kedisiplinan tidak berpengaruh terhadap kualitas visual di pantai Senggigi Lombok Barat. Artinya dapat disimpulkan bahwa kurangnya kesadaran diri untuk menyesuaikan diri dari pihak pengelola dengan aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Saran Berkaitan dengan penataan PKl yang ada di Pantai Senggigi perlu adanya penataan pedagang kaki lima di rapikan lagi sesuai dengan batas-batas Pantai dengan lapak jualan agar kedepannya Pantai Senggigi kembali bersih dan rapi sesuai dengan UU No 26 tahun 2007, tata ruang terdiri dari pola ruang dan struktur ruang. Terkait dengan kedisiplinan perlu adanya aturan dalam mengelola suatu daya Tarik wisata, sebagai pelaku PKl perlu adanya kesadaran diri dalam mematuhi aturan organisasi atau pemerintah. DAFTAR PUSTAKA