1183 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 PENGEMBANGAN PARIWISATA NON BAHARI DI KABUPATEN MANGGARAI BARAT SEBAGAI ALTERNATIF WISATA BAGI WISATAWAN PASCA SAILING TRIP DI LABUAN BAJO Oleh I Wayan Adi Putra Ariawan1 & Damianus Sonny Lamoren2 Jurusan Pariwisata. Politeknik Negeri Kupang. Indonesia E-mail: 1adiputra. ariawan11@gmail. com & 2lamorensonny@gmail. Article History: Received: 20-09-2025 Revised: 21-10-2025 Accepted: 24-10-2025 Keywords: Pengembangan. Pariwisata. Non Bahari Abstract: Kabupaten Manggarai Barat dengan ibu kota Labuan Bajo merupakan destinasi wisata yang berkembang pesat berkat potensi wisata baharinya. Pemerintah melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Indonesia. Namun, fokus pengembangan yang hanya menitikberatkan pada wisata bahari menimbulkan ketimpangan dengan sektor wisata non bahari di wilayah lainnya yang ada di Kabupaten Manggarai Barat. Akibatnya, manfaat perkembangan pariwisata belum dirasakan secara merata oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan memberikan rekomendasi pengembangan wisata non bahari untuk mendukung eksistensi Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Penelitian dilakukan di berbagai daya tarik wisata non bahari di Kabupaten Manggarai Barat dengan metode deskriptif kualitatif dan dianalisis menggunakan teknik analisis PESTEL. PENDAHULUAN Kabupaten Manggarai Barat merupakan kawasan yang berada diujung barat Pulau Flores sekaligus menjadikannya sebagai gerbang pintu masuk bagi wisatawan yang ingin datang untuk menikmati kepariwisataan di Kabupaten Manggarai Barat maupun mengeksplorasi kepariwisataan di Pulau Flores. Berdasarkan data BPS 2025. Kabupaten Manggarai Barat dengan Ibukota Labuan Bajo merupakan Kabupaten kepulauan yang terdiri dari 244 pulau kecil. Beberapa pulau kecil diantaranya telah menjadi tempat wisata bahari primadona yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan. Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis telah lakukan, pulau tersebut diantaranya Pulau Bidadari dengan keindahan bawah laut dan terumbu karang. Pulau Komodo dengan keunggulan pasir pantai yang berwarna merah muda atau yang dikenal pink beach dan habitat satwa purba yang hanya cuma ada Pulau Komodo yaitu hewan Komodo. Pulau Rinca dengan keindahan alam dan keberadaan habitat hewan Komodo. Pulau Padar dengan keindahan puncak bukit padar. Pulau Kelor dengan aktivitas wisata trekking dan keindahan alam perbukitannya. Pulau Kalong dengan keindahan alam dan ribuan satwa kalong yang keluar saat senja. Pulau Kenawa dengan keindahan pasir putih dan air laut yang jernih, dan Pulau Koaba dengan keindahan terumbuh karang. Perkembangan kepariwisataan di Kabupaten Manggarai Barat telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Berdasarkan Perpres No 32 Tahun 2018. Pemerintah telah membentuk Badan Otoritas Pengelolaan Kawasan Pariwisata Labuan Bajo dan Flores (BPOLF) dengan tujuan menjadikan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 5 destinasi wisata di Indonesia a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 untuk dikembangkan menjadi sebuah Destinasi Pariwisata Super Prioritas dan masuk dalam rencana strategis pemerintah. Penetapan tersebut diharapkan dapat mampu mendongkrak lebih banyak jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. Peran pemerintah dalam program tersebut antara lain: membangun bandara internasional dengan tujuan memberikan kenyamanan dan kemudahan akses bagi wisatawan, mengundang para investor untuk menciptakan lapangan pekerjaan, dan menyiapkan SDM yang terampil dan handal melalui kegiatan sertifikasi kepariwisataan dalam mendukung perkembangan kepariwisataan. Selain itu, pemerintah juga berhasil menyelenggarakan event KTT ASEAN ke-42 pada 09-11 Mei 2023 di Labuan Bajo. Melihat fenomena perkembangan kepariwisataan yang ada di Kabupaten Manggarai Barat, terdapat beberapa isu permasalahan yang terjadi dan layak untuk diteliti. Isu permasalahan tersebut yaitu terjadinya ketimpangan dan rasa ketidak adilan terhadap pengembangan kepariwisataan yang ada di Labuan Bajo dengan daya tarik pariwisata non bahari di Kabupaten Manggarai Barat. Pada saat ini pemerintah hanya fokus terhadap pengembangan dan berbagai macam kegiatan promosi di Labuan Bajo saja. Sehingga mengakibatkan 90% wisatawan yang datang hanya terfokus pada eksplorasi wisata bahari menggunakan kapal pinisi pada pulau kecil sekitar Ibu Kota Labuan Bajo saja. Paket wisata kapal pinisi tersebut menawarkan paket wisata sailing ke pulau-pulau kecil sekitar Labuan Bajo selama berhari-hari dan setelah melakukan sailing, wisatawan yang datang akan meninggalkan Labuan Bajo (Cristhofel, 2. Hal ini mengakibatkan Labuan Bajo hanya menjadi sebagai tempat transit saja bagi wisatawan. Sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas, sebenarnya Kabupaten Manggarai Barat terdapat banyak sekali tempat wisata non bahari yang dapat dikunjungi oleh wisatawan dalam mendukung eksistensi Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas dan menambah masa length of stay wisatawan berkunjung. Wisata Non Bahari yang ada di Kabupaten Manggarai Barat seperti Goa Batu Cermin. Cunca Wulang Waterfalls. Desa Wisata Melo. Danau Sano Nggoang. Bukit Silvia. Goa Rangko dan Cunca Rami Waterfalls. Pendekatan pemecahan masalah yang digunakan pada penelitian ini yaitu secara deskriptif kualitatif dan exploratif potensi pariwisata non bahari. Pendekatan pemecahan masalah pada penelitian ini dibagi menjadi 2 langkah strategis yaitu : mengidentifikasi dan memetakan semua potensi daya tarik wisata non-bahari di Kabupaten Manggarai Barat, seperti objek wisata alam, budaya, dan buatan dan bagaimana pengembangan pariwisata non bahari yang ada di Kabupaten Manggarai Barat. LANDASAN TEORI Pariwisata Secara konseptual, pariwisata didefinisikan sebagai sebuah sistem yang kompleks. UndangUndang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan mendefinisikan pariwisata sebagai berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha. Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Dalam konteks yang lebih luas, pariwisata merupakan sebuah sistem terbuka yang terdiri dari beberapa elemen utama yang saling terkait (Leiper, 1. , yaitu: Wisatawan (The Touris. :1. Elemen manusia yang menjadi subjek pergerakan, 2. Elemen Geografis: Meliputi daerah asal wisatawan (Generating Regio. , daerah tujuan wisata (Destination Regio. , dan daerah transit (Transit Regio. , 3. Industri Pariwisata (The Tourism Industr. : Sektor yang menyediakan jasa, fasilitas, dan layanan bagi Sebuah destinasi pariwisata dapat berhasil jika didukung oleh empat komponen utama yang dikenal sebagai 4A (Cooper et al. , 2. , yaitu: 1. Attraction (Daya Tari. : Segala sesuatu yang menjadi alasan wisatawan mengunjungi suatu daerah, baik berupa alam, budaya, maupun a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 buatan, 2. Amenities (Fasilita. : Fasilitas pendukung di luar daya tarik utama, seperti akomodasi, restoran, dan toko cenderamata, 3. Accessibility (Aksesibilita. : Kemudahan untuk mencapai destinasi, mencakup infrastruktur transportasi, terminal, dan frekuensi layanan, 4. Ancillary Services (Layanan Tambaha. : Organisasi dan kelembagaan yang memfasilitasi dan mengelola pariwisata di destinasi . isalnya, agen perjalanan, pusat informasi, dan badan otorita. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu terjadinya sebuah ketimpangan pengembangan yang menunjukkan adanya fokus yang berlebih pada satu komponen Attraction wisata di sektor wisata bahari dan mengabaikan potensi Attraction lainnya . on-bahar. di Kabupaten Manggarai Barat dalam mendukung pengembangan kepariwisataan yang ada. Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Pada bagian Latar belakang masalah dalam penelitian ini menyoroti adanya ketimpangan terhadap rasa kesejahteraan dan rasa ketidakadilan terhadap pengembangan kepariwisataan yang ada di Kabupaten Manggarai Barat ditengah isu ditetapkan Labuan Bajo sebagai salah Destinasi Wisata Super Prioritas di Indonesia. Isu ini secara langsung bertentangan dengan prinsip utama pengembangan pariwisata modern, yaitu keberlanjutan. Pengembangan pariwisata adalah sebuah proses yang kompleks, terencana, dan berkelanjutan yang bertujuan untuk membangun dan meningkatkan seluruh komponen kepariwisataan di suatu destinasi. Konsep ini jauh melampaui sekadar pembangunan infrastruktur fisik. Menurut Inskeep . , pengembangan pariwisata adalah proses multidisipliner yang mencakup perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan sumber daya pariwisata secara terintegrasi untuk mencapai tujuan ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Dalam konteks Kabupaten Manggarai Barat, pengembangan pariwisata tidak seharusnya berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan . , tetapi harus berorientasi pada pencapaian dampak positif yang lebih luas. Pengembanagan pariwisata Berkelanjutan, menurut UNWTO . , adalah pengembangan yang memenuhi kebutuhan wisatawan saat ini dan daerah tujuan wisata, sekaligus melindungi dan meningkatkan peluang untuk masa depan. Konsep ini berdiri di atas tiga pilar yang harus diseimbangkan: 1. Keberlanjutan Ekonomi (Economic Viabilit. : Pengembangan harus memastikan kelayakan ekonomi jangka panjang. Ini tidak hanya tentang profit bagi investor besar . isalnya, industri kapal pinis. , tetapi tentang distribusi manfaat ekonomi yang adil . air distribution of benefit. , 2. Pengembangan pariwisata non-bahari adalah strategi untuk menyebarkan "kue" ekonomi pariwisata ke wilayah hinterland . dan memberdayakan masyarakat yang selama ini hanya menjadi penonton, 3. Keberlanjutan SosialBudaya (Socio-Cultural Sustainabilit. : Pengembangan harus menghormati otentisitas sosialbudaya masyarakat setempat, melestarikan warisan budaya . eperti di Desa Adat Tod. , dan berkontribusi pada pemahaman antarbudaya. Ini menuntut partisipasi aktif masyarakat lokal dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan, bukan menjadikan mereka objek wisata, 3. Keberlanjutan Lingkungan (Environmental Sustainabilit. : Pengembangan harus memanfaatkan sumber daya lingkungan secara optimal, melestarikan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Ini sangat relevan untuk daya tarik non-bahari seperti Air Terjun Cunca Wulang atau Danau Sano Nggoang, di mana konsep daya dukung . arrying capacit. harus diterapkan untuk mencegah kerusakan akibat kunjungan berlebih. Diversifikasi Produk sebagai Strategi Pengembangan Kabupaten Manggarai Barat pada saat ini hanya bergantung pada satu produk utama sebagai destinasi wisata yaitu Labuan Bajo. Wisata bahari yang menjadi produk tunggal terhadap perkembangan idustri pariwisata yang ada, sangat rentan terhadap guncangan eksternal dan kejenuhan pasar. Seperti yang diidentifikasi dalam proposal ini, terjadi fenomena over-dependency pada sailing trip. Oleh karena itu, diversifikasi produk wisata sangat perlu dilakukan dengan a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 melakukan pengembangan pariwisata non-bahari di Kabupaten Manggarai Barat. Tujuannya adalah untuk (Smith, 1. : 1. Mengurangi Ketergantungan: Menyebar risiko dan tidak "menaruh semua telur dalam satu keranjang, 2. Memperpanjang Masa Tinggal (Length of Sta. dengan strategi Memberikan alasan dan pilihan aktivitas bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama di daratan setelah sailing trip, yang secara tidak langsung akan meningkatkan pengeluaran wisatawan . ourist expenditur. , dan 3. Menciptakan Keterkaitan (Linkage. dengan startegi menciptakan keterkaitan ekonomi yang lebih kuat antara sektor pariwisata dengan sektor lain di wilayah pedalaman, seperti pertanian lokal . ntuk suplai restoran di desa wisat. dan kerajinan tangan. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakaukan pada setiap daya tarik wisata non bahari di Kabupaten Manggarai barat seperti Goa Batu Cermin. Cunca Wulang Waterfalls. Desa Wisata Melo. Danau Sano Nggoang. Desa Adat Todo. Bukit Nangalili,dan Cunca Rami Waterfalls. Metode yang dipakai adalah pendekatan kualitatif dengan analisis data secara deskriptif kualitatif. Sumber data utama diperoleh melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara bersama informan yang membahas mengenai pengembangan pariwisata non bahari di Kabupaten Manggarai Barat sebagai Alternatif wisata bagi wisatawan pasca sailing trip di Labuan Bajo. Teknik ini dilakukan dengan menyajikan uraian secara terperinci sesuai informasi dari para Sedangkan metode dokumentasi digunakan untuk menghimpun data sekunder melalui beragam dokumen yang dimiliki oleh pihak terkait. Informasi tambahan diperoleh dari dokumen resmi yang tersedia di Desa Pringgasela. HASIL DAN PEMBAHASAN Kabupaten Manggarai Barat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi kepulauan Nusa Tenggara Timur yang terletak di ujung barat Pulau Flores. Wilayah ini menjadi pintu gerbang utama menuju kawasan pariwisata Flores dan kawasan Taman Nasional Komodo yang telah diakui World Heritage Site UNESCO Secara geografis. Kabupaten Manggarai Barat memiliki luas wilayah sekitar 9. 450 kmA yang terdiri 947 kmA daratan dan 6. 503 kmA lautan, serta terdiri dari lebih dari 240 pulau kecil, dengan Ibu Kota di Labuan Bajo. Melihat posisi strategis ini, menjadikan Kabupaten Manggarai Barat tidak hanya sebagai pusat kegiatan pariwisata di Flores, tetapi juga sebagai simpul utama konektivitas wisata antara Bali. Sumbawa, dan Nusa Tenggara Timur. Perkembangan pesat sektor pariwisata di Manggarai Barat dalam dua dekade terakhir sangat dipengaruhi oleh potensi wisata bahari, khususnya di sekitar perairan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo. Wisata ini meliputi aktivitas sailing trip, diving, snorkeling, dan eksplorasi pulau-pulau eksotik seperti Pulau Padar. Pulau Komodo. Pulau Rinca, dan Pulau Kanawa. Pemerintah melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus mendorong pengembangan infrastruktur bahari, termasuk pelabuhan, bandara, dan akomodasi wisata. Namun, dominasi wisata bahari ini menimbulkan ketimpangan, karena sebagian besar aktivitas wisata hanya terpusat di kawasan perairan sekitar Labuan Bajo. Potensi Wisata Non Bahari Pasca Sailing Trip Wisatawan Di Kabupaten Manggarai Barat. Kabupaten Manggarai Barat pada dasarnya memiliki beragam jenis potensi wisata nonbahari yang tidak kalah menarik. Fakta yang ada yang dilapangan sebagaian besar potensi wisata tersebut belum mendapatkan perhatian secara optimal dalam pengembangan dan promosi demi menambah length of stay wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Manggarai Barat. Potensi a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 wisata non bahari yang ada di Kabupaten Manggarai Barat meliputi wisata alam darat, wisata budaya, wisata desa, dan wisata petualangan. Goa Batu Cermin. Goa Batu Cermin merupakan daya tarik wisata alam non-bahari yang paling terkenal dan paling mudah diakses dari Labuan Bajo. Goa Batu cermin terletak hanya sekitar 4-5 kilometer dari pusat kota dan sekitar 15-20 menit jika menggunakan kendaraan bermotor dan menjadi daya tarik wisata pilihan utama bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas. Secara harfiah, nama Gua Batu Cermin diberikan bukan tanpa alasan, melainkan merujuk pada fenomena unik yang menjadi daya tarik utama yaitu berupa goa batu kapur yang terbentuk secara alami akibat proses geologi jutaan tahun lalu dan dinding goa tersebut tersusun dari batu karst dengan warna keabu-abuan dan memiliki banyak rongga. Berdasarkan hasil wawancara dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat selaku pengelola. Gua ini pertama kali ditemukan dan dipetakan oleh seorang misionaris sekaligus arkeolog Belanda bernama Theodore Verhoeven pada tahun 1951. Hasil temuan yang penulis dapatkan dilapangan, dinding-dinding goa memiliki fosil-fosil biota laut yang sangat jelas, seperti terumbu karang, kura-kura, dan ikan. Penemuan ini membuktikan bahwa secara ilmiah bahwa ribuan tahun yang lalu, kawasan Labuan Bajo khususnya Goa Bati Cermin berada di bawah permukaan laut. Hal inilah kemudian hari dijadikan cerita atau storytelling utama yang dijual oleh pemandu lokal kepada wisatawan yang hendak berkunjung ke Goa Batu cermin. Gambar. 1 Keindahan alam Goa Batu Cermin Sumber : Dokumentasi Pribadi, 27 Juli 2025 Dari segi fasilitas wisata. Goa Batu Cermin telah mendapatkan perhatian yang cukup baik dari pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dikarenakan lokasinya berdekatan dengan pusat Kota Labuan Bajo. Hal ini dapatkan dibuktikan dengan tersedianya fasilitas parkir yang luas, toilet umum yang terjaga kebersihannya, dan Pusat informasi wisata yang memberikan penjelasan singkat tentang sejarah, proses geologi, serta aturan selama berada di kawasan goa. Daya tarik a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 wisata Goa Batu Cermin juga dirancang untuk menunjang aktivitas eksplorasi dan edukasi wisata, sehingga terdapat beberapa fasilitas pendukung diantara lainnya Jalur trekking dan tangga batu menuju mulut goa, yang sudah dilengkapi dengan pegangan tangan . dan beberapa papan arah penunjuk jalan. Papan informasi dan interpretasi lingkungan, yang menjelaskan tentang proses pembentukan batu kapur, jenis fosil laut yang ditemukan, serta fenomena pantulan Cahaya. Penerangan dalam goa menggunakan lampu senter dan headlamp yang disediakan oleh pengelola atau pemandu wisata, karena pencahayaan alami di dalam goa terbatas. Pemandu wisata lokal . ocal guid. yang telah mendapatkan pelatihan dasar interpretasi wisata alam dan konservasi lingkungan dari Dinas Pariwisata Manggarai Barat. Pengelolaan Goa Batu Cermin dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat bekerja sama dengan kelompok masyarakat lokal di sekitar lokasi. Pengunjung dikenakan tiket masuk dengan tarif yang terjangkau, yang sebagian digunakan untuk pemeliharaan fasilitas dan pemberdayaan masyarakat lokal. Pemandu wisata di Goa Batu Cermin umumnya berasal dari masyarakat sekitar yang telah dilatih untuk memberikan penjelasan mengenai sejarah, geologi, serta nilai-nilai konservasi. Dengan demikian. Goa Batu Cermin menjadi salah satu contoh model pengelolaan pariwisata berbasis komunitas (Community-Based Tourism/CBT) yang mulai berkembang di Manggarai Barat. Meskipun Goa Batu Cermin telah memiliki fasilitas yang cukup memadai, terdapat beberapa tantangan utama dalam pengelolaan fasilitas wisata, yaitu: Kurangnya penerangan alami dan buatan di dalam goa, sehingga wisatawan masih bergantung pada lampu portable. Kualitas kebersihan dan perawatan fasilitas umum yang belum optimal. Kurangnya promosi digital dan papan informasi berbahasa asing untuk wisatawan mancanegara. Belum adanya sistem tiket elektronik atau pengelolaan berbasis digital tourism. Cunca Wulang Waterfalls. Nama Cunca Wulang berasal dari bahasa setempat, di mana arti dari kata Cunca berarti air terjun dan arti kata Wulang berarti bulan. Secara harfiah. Cunca Wulang dapat diartikan sebagai Air Terjun Bulan, yang mencerminkan keindahan aliran airnya yang berkilau seperti cahaya bulan ketika terkena sinar matahari. Air terjun ini memiliki tinggi sekitar 30Ae40 meter, dengan aliran air yang jatuh di antara dua tebing batu kapur besar membentuk lembah sempit menyerupai canyon Di bawahnya terbentuk kolam alami berwarna biru toska, yang menjadikan air terjun ini sebagai daya tarik utama bagi wisatawan. Lingkungan sekitar air terjun masih sangat asri, dikelilingi pepohonan lebat dan hutan tropis yang menjadi habitat berbagai spesies burung endemik Flores. Air terjun Cunca Wulang terletak di Desa Wersawe. Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Labuan Bajo. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh sekitar 1-2 jam menggunakan kendaraan bermotor, dilanjutkan dengan trekking sejauh A2 kilometer melalui jalur hutan tropis yang masih alami. Meskipun jalur a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 menuju lokasi cukup menantang, kondisi jalan sudah sangat baik dengan akses utama melalui jalur Trans-Flores yang kemudian berbelok ke arah Desa Wersawe. Gambar 2. Keindahan Alam Air Terjun Cunca Wulang Sumber : Dokumentasi Prinadi, 28 Juli 2025 Pengelolaan Cunca Wulang dilakukan secara kolaboratif antara Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat dan kelompok masyarakat Desa Wersawe. Masyarakat berperan penting sebagai pemandu lokal . ocal guid. , penyedia jasa transportasi, serta penjaga kebersihan dan keamanan kawasan wisata. Sistem pengelolaan berbasis masyarakat ini mencerminkan konsep CommunityBased Tourism (CBT), di mana sebagian besar pendapatan dari tiket masuk dan jasa pemandu dialokasikan untuk kepentingan desa dan konservasi lingkungan. Pemandu lokal juga berperan sebagai interpreter ekowisata, yang memberikan informasi kepada wisatawan tentang ekosistem hutan Mbeliling, flora-fauna endemik, serta nilai-nilai budaya masyarakat sekitar yang masih menjunjung kearifan lokal. Meskipun memiliki potensi luar biasa. Cunca Wulang masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain: Akses jalan menuju Desa Wersawe yang sebagian masih rusak pada musim hujan. Keterbatasan fasilitas umum seperti toilet dan tempat makan di area utama. Promosi digital yang masih minim, sehingga kurang dikenal oleh wisatawan mancanegara. Kapasitas pemandu lokal yang masih perlu pelatihan lebih lanjut mengenai keselamatan wisata dan interpretasi ekowisata. Namun di sisi lain, terdapat peluang besar untuk pengembangan Cunca Wulang sebagai destinasi wisata petualangan dan ekowisata unggulan non-bahari, terutama sebagai paket lanjutan bagi wisatawan setelah menyelesaikan aktivitas bahari di Labuan Bajo . ost-sailing trip itinerar. Desa Wisata Melo Desa Wisata Melo dikenal oleh masyarakat Kabupaten Manggarai Barat sebagai pintu gerbang wisata budaya Manggarai. Kawasan Desa Wisata Melo ini menjadi representasi kehidupan masyarakat adat yang masih memegang kuat tradisi, struktur sosial, dan sistem nilai leluhur. Wisatawan yang datang ke Desa Melo biasanya tertarik untuk merasakan keaslian budaya, kehidupan sosial masyarakat, serta panorama alam pegunungan Mbeliling yang masih asri. Desa a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 ini sering menjadi lokasi pertunjukan tari tradisional, terutama Caci, yang merupakan tarian perang khas Manggarai. Melalui tarian ini, wisatawan tidak hanya disuguhi hiburan visual, tetapi juga makna filosofis tentang kejantanan, kehormatan, dan solidaritas sosial masyarakat Manggarai. Desa Wisata Melo menjadi contoh nyata pengembangan wisata berbasis masyarakat (Community-Based Touris. di Kabupaten Manggarai Barat. Sebagian besar penduduknya berperan aktif sebagai pelaku wisata, baik sebagai: Penari dan musisi tradisional. Pemandu wisata lokal. Pengelola homestay, maupun Pengrajin kain tenun dan produk souvenir demi menunjang kebutuhan para wisatawan yang datang. Pendapatan dari aktivitas wisata dikelola secara kolektif oleh lembaga adat dan kelompok masyarakat, kemudian digunakan untuk mendukung kegiatan sosial seperti perawatan rumah adat, ritual budaya, serta pendidikan anak-anak desa. Dari segi aksesibilitas dan fasilitas. Desa Wisata Melo dapat dicapai dengan kendaraan roda dua atau empat dengan jarak tempuh 1-2 jam dari pusat Kota Labuan Bajo melalui jalan beraspal dengan kondisi cukup baik, meskipun di beberapa titik masih terdapat tanjakan curam. Fasilitas yang tersedia di Desa Wisata Melo antara lain: Balai pertunjukan budaya untuk kegiatan tari Caci dan upacara adat. Homestay sederhana yang dikelola masyarakat lokal untuk wisatawan yang ingin menginap. Toilet umum dan area parkir di sekitar area pertunjukan. Pusat informasi dan kios cendera mata yang menjual tenun ikat serta produk lokal lainnya. Walaupun memiliki potensi besar, pengembangan Desa Wisata Melo menghadapi beberapa tantangan, antara lain: Keterbatasan fasilitas penunjang seperti penginapan dan jaringan internet. Kurangnya promosi digital yang menampilkan keunikan kebudayaan Kabupaten Manggarai, dan Ketergantungan pada kunjungan wisata rombongan yang membuat jumlah wisatawan menjadi tidak stabil. Bukit Silvia Bukit Silvia merupakan salah satu spot wisata non-bahari yang menawarkan pemandangan alam perbukitan dan panorama laut dari ketinggian. Tempat ini terkenal di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai lokasi sunset point yang sangat indah. Dari puncak bukit, pengunjung dapat melihat hamparan laut Flores, pulau-pulau kecil di sekitar Labuan Bajo, dan gradasi warna langit senja yang memukau. Karakteristiknya adalah bukit savana berumput hijau keemasan pada musim hujan dan kecokelatan eksotis pada musim kemarau, mirip lanskap di Pulau Padar, namun lebih mudah dijangkau dari kota. Gambar. 3 Pemandangan Alam Bukit Silvia Sumber : Dokumentasi Penulis, 28 Juli 2025 a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Bukit Silvia terletak di Desa Gorontalo. Kecamatan Komodo. Kabupaten Manggarai Barat. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasinya hanya berjarak sekitar 4Ae5 kilometer dari pusat Kota Labuan Bajo, sehingga sangat mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat sekitar 10Ae15 menit perjalanan dari bandara Labuan Bajo atau pelabuhan. Fasilitas di Bukit Silvia masih tergolong sederhana, namun perlahan mengalami peningkatan seiring naiknya popularitas kawasan tersebut. Hal yang menjadi nilai tambah yaitu tidak adanya biaya tiket masuk dan biaya Beberapa fasilitas yang tersedia antara lain: Area parkir sederhana. Warung lokal dan penjual minuman ringan. Jalur trekking yang sudah cukup tertata. Spot foto yang disediakan oleh masyarakat setempat Goa Rangko Goa Rangko merupakan gua alami yang didalamnya terdapat kolam air asin berwarna biru toska yang jernih dan berkilau saat terkena cahaya matahari. Gua ini sering dijuluki sebagai Blue Cave of Labuan Bajo karena keindahan pantulan cahaya birunya yang mempesona. Fenomena cahaya biru tersebut biasanya muncul pada pukul 12. 00Ae14. 00 WITA, ketika sinar matahari masuk melalui celah di langit-langit goa dan memantul di air laut yang tenang. Maka dari itu wisatawan yang akan hendak berkunjung ke daya tarik wisata Goa Rngko dianjurkan untk datang pada saat siang hari. Kolam di dalam goa memiliki kedalaman sekitar 2Ae3 meter dan menjadi tempat favorit wisatawan untuk berenang atau snorkeling ringan. Gambar 4. Pemandangan Alam Goa Rangko Sumber : Dokumentasi Pribadi, 28 Juli 2025 Saat ini, fasilitas di Goa Rangko sudah mulai berkembang, meskipun masih sederhana: Area parkir di Desa Rangko. Penyewaan perahu oleh nelayan local. Area tunggu dan gazebo sederhana di sekitar dermaga. Namun saat ini belum tersedia fasilitas permanen seperti toilet umum, ruang ganti, yang mengakibatkan para wisatawan harus mengganti pakaiannya di rumah penduduk yang notabene harus menggunakan perahu. Selain itu juga belum tersedianya sistem a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 tiket elektronik yang dikhawatirkan rentan terjadi pungli. Pengelolaan masih bersifat komunitas berbasis masyarakat Desa Rangko, dengan dukungan terbatas dari pemerintah daerah. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain: Akses menuju lokasi masih tergantung pada transportasi perahu tradisional, tanpa dermaga khusus wisata. Kapasitas pengunjung belum diatur secara jelas, sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan ekosistem gua, dan masih adanya pemaksaan yang dilakukan oleh para oknum tertentu yang mengakibatkan para wisatawan takut jika datang menggunakan kendaraan pribadi. Danau Sano Nggoang Danau Sano Nggoang merupakan salah satu danau vulkanik terbesar di Nusa Tenggara Timur dan menjadi salah satu daya tarik wisata alam non-bahari unggulan di Kabupaten Manggarai Barat. Danau ini terletak di Kecamatan Sano Nggoang, sekitar 60 kilometer dari Kota Labuan Bajo dan memakan jarak waktu tempuh sekitar 2,5 hingga 3 jam perjalanan darat. Danau ini memiliki luas 500 hektar dan kedalaman mencapai 600 meter, menjadikannya danau terdalam di Indonesia Timur. Berdasarkan infromasi yang didapat. Secara geologis Danau Sano Nggoang terbentuk dari aktivitas vulkanik purba yang meninggalkan kawah besar berisi air dan sumber belerang alami sehingga mengakibatkan suhu air di beberapa titik Danau Sano Nggoang terasa hangat karena aktivitas geothermal di dasar danau. Secara umum, fasilitas wisata di Danau Sano Nggoang masih tergolong terbatas, namun menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir berkat dukungan program dari BPOLBF dan Dinas Pariwisata Manggarai Barat. Fasilitas yang tersedia meliputi: Area parkir sederhana di dekat pintu masuk utama. Gazebo dan spot foto alami di beberapa titik pandang. Pemandian air panas alami yang sudah ditata dengan kolam kecil dari batu alam. Homestay sederhana yang dikelola masyarakat lokal di Desa Nunang dan Desa Wae Sano. Papan petunjuk arah dan informasi geowisata meskipun terlihat masih sangat terbatas, dan Akses menuju danau sebagian sudah beraspal, namun beberapa ruas jalan terakhir menuju desa sekitar masih berupa jalan tanah berbatu. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara para informan, kehidupan masyarakat di sekitar Danau Sano Nggoang masih didominasi oleh sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan. Namun, dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, sebagian masyarakat mulai beralih ke usaha wisata berbasis komunitas, seperti: Penyedia homestay dan kuliner lokal. Penyewaan perahu tradisional untuk menjelajahi danau. Pemandu ekowisata dan penyedia jasa birdwatching, dan Produksi kopi lokal Sano Nggoang yang mulai dikenal sebagai produk unggulan khas daerah. Meskipun memiliki potensi luar biasa, pengembangan Danau Sano Nggoang menghadapi beberapa tantangan utama, di antaranya: Keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas yang menyulitkan wisatawan mencapai Lokasi. Minimnya promosi digital dan informasi wisata dalam bahasa asing. Potensi konflik kepentingan antara konservasi dan pemanfaatan ekonomi, terutama dalam pengelolaan sumber daya alam . isalnya air panas dan huta. , kualitas masyarakat yang perlu ditingkatkan dalam manajemen pariwisata. Cunca Rami Waterfalls. Cunca Rami merupakan air terjun alami yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan aliran air jernih yang berasal dari kawasan pegunungan Hutan Mbeliling, salah satu kawasan konservasi penting di Kabupaten Manggarai Barat. Sama halnya dengan air terjun lainnya, mama Cunca berasal dalam bahasa Manggarai berarti air terjun, sedangkan Rami berarti hutan lebat atau rimba, sehingga Cunca Rami dapat diartikan sebagai air terjun di tengah hutan rimba. Lingkungan di sekitar air terjun masih sangat alami, dikelilingi oleh vegetasi tropis, pepohonan tinggi, dan suara burung endemik Flores yang menjadikannya daya tarik wisata non-bahari yang ideal untuk wisatawan pecinta alam dan petualangan/eco-tourism. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Fasilitas di kawasan Cunca Rami masih sangat terbatas, karena karakter destinasinya masih alami dan belum terbangun secara masif. Beberapa fasilitas sederhana yang tersedia antara lain: Area parkir kecil di titik awal trekking di Desa Wersawe. Jalur trekking yang dijaga masyarakat local. Pemandu wisata local/local guide dari kelompok sadar wisata (Pokdarwi. Shelter atau pondok sederhana di titik awal pendakian. Namun beberapa hal yang sangat disayangkan yaitu fasilitas seperti toilet umum, warung makan, dan papan petunjuk arah masih perlu peningkatan dan penataan dari pemerintah daerah agar destinasi ini lebih ramah bagi wisatawan. Tantangan yang dihadapi terhadap keberadaan air terjun Cunca Rami sebagai daya tarik wisata non bahari yaitu Minimnya intervensi berupa program infrastruktur, pendampingan Pokdarwis, dan investasi pariwisata dari pemerintah membuat pengelolaan masih bersifat lokal dan informal, dan Masyarakat Desa Wersawe sudah mulai terlibat, tetapi kapasitas SDM pariwisata, pelatihan pemandu, dan tata kelola wisata berbasis komunitas (CBT) masih rendah. Pengembangan Pariwiwsata Non Bahari Kabupaten Manggarai Barat Sebagai Alteranatif Wisata Bagi Wisatawan Pasca Sailing Trip Di Labuan Bajo Pengembangan pariwisata non-bahari di Kabupaten Manggarai Barat memerlukan strategi komprehensif yang berlandaskan prinsip keberlanjutan pariwisata . ustainable touris. , keterlibatan masyarakat . ommunity participatio. , dan diversifikasi produk wisata . roduct Sebagai wilayah yang telah ditetapkan sebagai bagian dari Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), pendekatan pengembangan tidak boleh hanya terpusat pada wisata bahari di sekitar Labuan Bajo, tetapi juga harus diarahkan pada kawasan hinterland yang menyimpan potensi wisata alam, budaya, dan petualangan yang bernilai tinggi. Menurut Inskeep . , perencanaan pariwisata berkelanjutan harus dilakukan secara multidisipliner dan terintegrasi untuk mencapai keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Oleh karena itu, strategi pengembangan pariwisata non-bahari di Manggarai Barat harus menyasar peningkatan aksesibilitas, pemberdayaan masyarakat lokal, serta inovasi dalam produk dan promosi wisata. penguatan infrastruktur dan aksesibilitas Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, penguatan infrastruktur dan aksesibilitas menuju daya tarik wisata non-bahari seperti Air Terjun Cunca Wulang. Air Terjun Cunca Rami. Danau Sano Nggoang, dan Desa Wisata Melo menjadi syarat yang mutlak yang harus segera dibenahi terhadap daya saing pariwisata dalam mendukung kepariwisataan yang ada di Labuan Bajo. Pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Barat bersama BPOLBF perlu memastikan peningkatan kualitas akses jalan, konektifikas sarana transportasi antar daya tarik wisata, dan fasilitas publik seperti toilet, tempat parkir, serta papan informasi berbahasa ganda seperti Bahasa IndonesiaAeInggris. Penerapan sistem digitalisasi destinasi melalui e-ticketing yang telah dilakukan pada setiap daya tarik wisata di Bali dapat dijadikan contoh dikarenakan hal tersebut dapat meminimalisir terjadinya kecurangan yang terjadi dan mempermudahkan pendataan kunjungan wisatawandan smart tourism platform dapat meningkatkan kenyamanan dan efisiensi pengelolaan setiap daya tarik wisata. Infrastruktur yang memadai akan menjadi fondasi penting bagi daya saing daya tarik wisata, sebagaimana ditegaskan oleh Cooper et al. bahwa aksesibilitas merupakan salah satu elemen utama dalam keberhasilan suatu destinasi wisata. Selaras dengan perkembangan teori kompetisi destinasi, studi terkini menunjukkan bahwa kualitas aksesibilitas dan infrastruktur secara signifikan berkontribusi pada kompetitivitas destinasi tidak hanya dari sisi fisik tetapi juga melalui kapasitas pengelolaan digital dan konektivitas antar-pelaku dalam ekosistem destinasi. pemberdayaan masyarakat lokal berbasis Community-Based Tourism (CBT) Strategi pemberdayaan masyarakat lokal berbasis Community-Based Tourism (CBT) perlu diperkuat untuk memastikan keberlanjutan sosial dan ekonomi. Seperti contoh masyarakat di a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 sekitar destinasi seperti Wersawe. Melo, dan Sano Nggoang yang sangat perlu mendapatkan perhatian khusus mengenai pelatihan pelayanan wisata, keselamatan, interpretasi budaya, serta pengelolaan usaha kecil seperti homestay, kuliner lokal, dan kerajinan tangan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO) pada 2005 bahwa pengembangan pariwisata yang berkelanjutan harus memberikan manfaat ekonomi langsung kepada komunitas lokal dan mendorong partisipasi aktif mereka dalam setiap tahapan pengelolaan. Keterlibatan masyarakat sangat bergantung pada partisipasi aktif komunitas/mayarakat, dukungan kebijakan pemerintah, dan penguatan jaringan lokal serta teknologi digital sebagai Sebagai contoh. Pamuja et al. dalam studi mereka menyatakan bahwa pengembangan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat membutuhkan three-pillar synergy yaitu partisipasi komunitas, infrastruktur institusional, dan teknologi digital agar dapat berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan ekologi. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat di Manggarai Barat harus dilengkapi dengan sistem pelatihan yang komprehensif mulai dari peningkatan keterampilan seperti hospitality, layanan wisata, bahasa asing, pengembangan produk ekonomi lokal seperti kuliner khas, kerajinan, homestay, dan partisipasi dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan destinasi. Hal ini akan meningkatkan kualitas komunitas untuk menjadi pelaku utama dalam pembangunan pariwisata, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata dan kesenjangan antara kawasan bahari dan non-bahari dapat diminimalisir. Diversifikasi produk wisata Perkembangan kepariwisataan yang kurang merata di Kabupaten Manggarai Barat, mengakibatkan sebagaian besar wisatawan yang datang hanya terfokus pada wisata bahari yang ada di Labuan Bajo. Diversifikasi produk wisata perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap perkembangan wisata bahari dengan harapan dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan . ength of sta. Produk wisata non-bahari sangat potensial jika dikembangkan dalam bentuk paket tematik seperti contoh eco-adventure yang ada di air terjun Cunca Wulang dan Cunca Rami, cultural experience seperti di Desa Wisata Melo, serta geowisata yang ada di Goa Batu Cermin dan Danau Sano Nggoang. Strategi ini sejalan dengan pendapat Smith . yang menyebutkan bahwa penyebaran risiko dan keterkaitan ekonomi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan destinasi wisata. Dengan cara ini, wisatawan yang biasanya hanya berwisata bahari dapat diarahkan untuk menikmati wisata daratan . and-based touris. sebagai bagian lanjutan dari perjalanan mereka. Penelitian terbaru juga menegaskan bahwa diversifikasi tidak hanya berarti menambah daya tarik wisata baru, tetapi juga menghubungkan pariwisata dengan sektor lain seperti pertanian, kerajinan, dan teknologi. Weidenfeld . menjelaskan bahwa destinasi yang melakukan diversifikasi akan menjadi lebih kuat karena tidak bergantung pada satu jenis produk wisata saja. Selain itu, menurut Ahmed . menunjukkan bahwa destinasi yang memiliki beragam produk wisata mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan dan memperluas peluang ekonomi lokal. Berdasarkan hasil penjelasan diatas dapat ditekankan bahwa pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat diharapkan merancang sebuah produk wisata yang beragam namun saling terhubung antar jenis wisata seperti wisata alam, budaya, kuliner, dan edukasi. Pendekatan ini tidak hanya menambah pilihan bagi wisatawan, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat lokal dan mendukung pemerataan kepariwisataan antara kawasan wisata berbasis bahari dan kawasan wisata berbasis non-bahari. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 promosi dan branding destinasi Setelah melakukan disverifikasi produk wisata di Kabupaten Manggarai Barat, perlu dilakukannya sebuah promosi branding destinasi wisata. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama BPOLBF dan pelaku usaha wisata dapat membangun citra baru Kabupaten Manggarai Barat dengan slogan Beyond the Sea: Discover Manggarai Barat yang artinya menonjolkan keindahan alam, budaya, dan petualangan di daratan. Promosi melalui digital storytelling, konten visual menarik, dan kolaborasi dengan travel influencer lokal akan membantu memperluas jangkauan promosi, baik di pasar domestik maupun internasional. Seperti yang kita ketahui perkembangan dunia digital saat ini memperlihatkan bahwa promosi digital seperti kampanye di media sosial, melalui konten storytelling, dan kolaborasi influencer secara signifikan mempengaruhi persepsi wisatawan terhadap destinasi dan memperkuat ekuitas merek destinasi. Rahmawati dan Rachma . Adapun saran yang dapat diberikan dalam melakukan promosi dan branding destinasi yaitu Penggunaan media sosial dan platform digital seperti Instagram. YouTube. TikTok, website resmi untuk menyebarkan konten tersebut secara luas dan interaktif, memanfaatkan keberadaan influencer lokal sebagai media promosi. Melalui pemanfaatan media platform digital dan kolaborasi dengan influencer lokal, akan menghasilkan sebuah narasi visual dan storytelling yang menggambarkan pengalaman unik seperti pengalaman ke air terjun, merasakan budaya lokal, dan melakukan petualangan darat, dengan harapan wisatawan merasa terhubung secara emosional. KESIMPULAN Pengembangan pariwisata non-bahari di Kabupaten Manggarai Barat menjadi langkah strategis dalam upaya mengurangi ketimpangan kepariwisataan yang terjado antara kawasan bahari dan daratan. Potensi wisata seperti Goa Batu Cermin. Air Terjun Cunca Wulang dan Cunca Rami. Desa Wisata Melo, serta Danau Sano Nggoang memiliki daya tarik wisata alam dan budaya yang cukup potensial dalam mendukung eksistensi Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan infrastruktur dan aksesibilitas, pemberdayaan masyarakat berbasis Community Based Tourism (CBT), diversifikasi produk wisata, serta promosi digital dan branding destinasi merupakan kunci utama untuk menciptakan keseimbangan pembangunan pariwisata di Manggarai Barat. Diharapkan pemerintah daerah. BPOLBF, akademisi, dan sektor swasta dapat memberikan dukunhan terhadap pengembangan wisata non-bahari dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan. Selain memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, strategi ini juga berperan dalam memperpanjang masa tinggal wisatawan . ength of sta. , memperluas peluang usaha lokal, serta menjaga kelestarian lingkungan dan budaya. Dengan demikian, wisata non-bahari tidak hanya menjadi alternatif setelah aktivitas bahari, tetapi juga pilar penting dalam mewujudkan Manggarai Barat sebagai destinasi wisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 DAFTAR REFERENSI Ahmed. Product Diversification in Destinations: The Case of Aswan. Journal of Association of Arab Universities for Tourism and Hospitality, 20. , 15Ae28. https://journals. eg/article_139592. Angga Pradikta. Strategi Pengembangan Objek Wisata Waduk Gunungrowo Indah dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan asli Daerah Kabupaten Pati. Universitas Negeri Semarang. Brandano. Evaluating Tourism Externalities in Destinations: The Case Of Italy. Italia: University Sassari . Buhalis. , & Foerste. SoCoMo marketing for travel and tourism: Empowering co-creation of value. Journal of Destination Marketing & Management, 4. , 151Ae161. https://doi. org/10. 1016/j. Dixion. Assessing the Economic Impact of Sport TouristsAo Expenditures Related to a UniversityAos Baseball Season Attendance. Journal of Issue in Intercollegate Athletics, 2013, 6,96-113. Febrina. Nini. AoPersepsi Wisatawan Tentang Daya Tarik Wisata Pemandian Tirta Alami Kabupaten Padang PariamanAo. Skripsi pada Program Studi D4 Manajemen Perhotelan Jurusan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik. Universitas Negeri Padang. Rosyidah. Eka. Dkk. Pengaruh Daya Tarik Wisata dan Fasilitas Layanan Terhadap Kepuasan Wisatawan di Pantai Balekambang Kabupaten Malang. Jurnal Administrasi Bisnis. Vol. 51 No. 2 Oktober 2017 . Hermawan. Dampak Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran Terhadap Ekonomi Masyarakat Lokal. Jurnal Pariwisata, 3. , 105-117. Khotimah. , & Wilopo. AuStrategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Budaya Au. Jurnal Administrasi Bisnis, 42 . Moleong. Lexy J. , 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit Rosdakarya Bandung. Nazir. Moh. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Rahmawati. , & Rachma. The Role of Digital Marketing and Influencer Collaboration in Strengthening Tourism Brand Image in Indonesia. West Science Journal of Innovation Studies, 3. , https://wsj. com/index. php/wsis/article/view/1700 . Suratmo. Gunawan. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Sugiarto. Antonius & Mahagangga. I Gusti Agung. Kendala Pengembangan Pariwisata di Destinasi Pariwisata Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur (Studi kasus komponen produk pariwisat. Jurnal Destinasi Pariwisata. Vol. 8 No. Ward. J & Peppard. The Strategic Management of Information System. Wiley . Weidenfeld. Tourism Diversification and Its Implications for Smart Specialisation. Sustainability, 10. , 319. https://doi. org/10. 3390/su10020319 . Widagdo. R, & Rokhlinasari. Dampak Keberadaan Pariwisata Realigi Terhadap Perkembangan Ekonomi Masyarakat Cirebon. Al-Amwal: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah, 9. https://ejournal. id/JRT