KASUS PULPITIS PADA KUNJUNGAN PASIEN PUSKESMAS TABANAN II PADA BULAN DESEMBER 2023 Ae FEBRUARI 2024 I Nyoman Panji Triadnya Palgunadi1. Ibramsyah Md2. Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat Dan Pencegahan. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Email: ibramsyah113@gmail. ABSTRACT Background: Systematic diagnostics is the key to any endodontic therapy. However, in medicine, every diagnostic procedure has a certain degree of uncertainty. This is true for endodontic diagnostics due to the lack of objective criteria to detect the actual condition of the pulp tissue. Pulp inflammation or pulpitis is one of the most common pulp diseases suffered by both children and adults. Pulp inflammation is a defense reaction of the pulp tissue in the face of infection from bacteria. Pulpitis disease if left untreated will have a serious effect on the health and physiology of the patient, pain, and discomfort in activities, so that it can interfere with everything. Objective: To determine the prevalence of pulpitis cases in UPTD Puskesmas Tabanan 2. Method: Descriptive data analysis technique to determine the status of variables. The sample used in this study was secondary data on the number of Pulpitis cases in the dental clinic of UPTD Puskesmas Tabanan II during the period December 2023 to February 2024. Results: The results of the study obtained as many as 45 . 4%) with cases out of 164 patients. The data obtained the number of pulpitis in female patients was 21 children . 7%) and in male patients as many as 24 children . 3%). Conclusion: The prevalence of dental poly pulpitis cases in the dental clinic of UPTD Puskesmas Tabanan II during the period December 2023 to December 2023. Keywords Pulpitis. Prevalence PENDAHULUAN Setiap terapi endodontik membutuhkan diagnosis sistematis, tetapi dalam dunia medis, setiap prosedur diagnostik memiliki tingkat ketidakpastian tertentu. Hal ini juga berlaku untuk diagnostik endodontik karena tidak ada standar yang objektif untuk mengidentifikasi kondisi jaringan pulpa yang sebenarnya6 . Meskipun berbagai rangsangan kimia, termal, dan traumatis dapat menyebabkan iritasi pada pulpa gigi, masalah mikroba merupakan ancaman utama bagi kelangsungan hidup pulpa4 . Salah satu penyakit pulpa yang paling banyak diderita oleh anak-anak dan dewasa adalah inflamasi pulpa, juga dikenal sebagai pulpitis. Reaksi pertahanan jaringan pulpa terhadap infeksi bakteri dikenal sebagai inflamasi pulpa. Penyakit pulpa yang banyak terjadi di Indonesia adalah pulpitis pada gigi yang berlubang7 . Ini adalah salah satu jenis peradangan pulpa yang terjadi karena trauma jaringan ikat vaskular. Jika tidak diobati, inflamasi pulpa akan menyebabkan rasa nyeri yang bervariasi dari ringan hingga berat. Jika tidak diobati, ini akan menyebabkan nekrosis pulpa dan kerusakan yang lebih besar pada struktur gigi yang Nyeri odontogenik yang berasal dari gigi yang memiliki pulpa vital dapat dibagi menjadi pulpitis reversibel dan ireversibel. Secara definisi, pulpitis reversibel adalah diagnosis klinis berdasarkan temuan subjektif dan obyektif yang menunjukkan bahwa peradangan pada pulpa akan mereda dan jaringan kembali normal, sedangkan pulpitis ireversibel didefinisikan sebagai diagnosis klinis yang menunjukkan bahwa pulpa vital namun mengalami peradangan tidak dapat sembuh. Secara klinis, pulpitis reversibel adalah nyeri yang berhubungan dengan suatu stimulus. Gigi yang nyeri dapat dilokalisasi oleh pasien, dan uji sensibilitasnya positif. Sebaliknya, pada pulpitis ireversibel, ditemukan nyeri yang terus-menerus akibat iritasi atau bahkan nyeri spontan, nyeri karena panas, dengan penyebab gigi tidak dapat ditemukan dengan jelas oleh pasien. Penyakit pulpitis bila di biarkan begiutu saja dan tidak dirawat akan memberikan pengaruh yang serius terhadap kesehatan dan pisikologis penderita, rasa nyeri, dan ketidaknyamanan dalam beraktifitas, sehingga dapat mengganggu segala sesuatunya2 . Gigi yang mengalami inflamasi pulpa membutuhkan 6 perawatan saluran akar untuk menghilangkan iritan berupa bakteri dan membersihkan saluran akar gigi yang terinfeksi dari jaringan Perawatan saluran akar bertujuan untuk mencegah perluasan penyakit dari pulpa ke jaringan periapikal dan mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secarabiologis oleh jaringan sekitarnya3 . BAHAN DAN METODE Dalam penelitian ini, peneliti akan mengemukakan hasil pengukuran data penelitian berupa data kuantitatif yang akan dihitung dengan teknik deskriptif persentase. Teknik analisis data deskriptif persentase dimaksudkan untuk mengetahui status variabel, yaitu mendiskripsikan pemaparan presentase dan gambaran kasus Persistensi secara numerik dalam bentuk tabel. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang datang ke UPTD Puskesmas Tabanan II dari bulan Desember tahun 2023 sampai dengan Februari Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data dan pencatatan data pada bagian register poli gigi yang menyatakan adanya kasus Pulpitis pada tiap bulannya. Populasi penelitian ini adalah seluruh jumlah penduduk di Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan. Provinsi Bali sejumlah 20. 637 jiwa. Sedangkan sampel pada penelitian ini didapatkan melalui data sekunder jumlah kasus Pulpitis di poli gigi UPTD Puskesmas Tabanan II selama periode bulan Desember 2023 hingga bulan Februari 2024. HASIL Sampel dari penelitian ini sebanyak 164 sampel. Didapatkan sebanyak 45 . ,4%) dengan kasus pulpitis yang terdiri dari 21 pasien perempuan dan 24 pasien laki-laki. Berikut merupakan pulpitis yang dapat dilihat pada Tabel 1: Sampel Pulpitis Tidak Pulpitis Distribusi Pulpitis menunjukkan Pulpitis sebanyak 45 . ,4%), sedangkan yang tidak persistensi sebanyak 119 . ,6%). Dibawah ini merupakan distribusi pulpitis selama Desember 2023 Ae Februari 2024 yang dapat dilihat pada Tabel Bulan/Tahun Desember 2023 Januari 2024 Februari 2024 Total Distribusi Pulpitis menunjukkan Pulpitis pada bulan Desember 2023 sebanyak 17 . ,8%). Januari 2024 sebanyak 10 . ,2%). Februari 2024 sebanyak 18 . %). Dibawah ini merupakan distribusi pulpitis berdasarkan jenis kelamin pada pasien yang dapat dilihat pada Tabel 2: Jenis Kelamin Perempuan Laki Laki Hasil diatas diperoleh jumlah pulpitis pada pasien perempuan sebanyak 21 anak . ,7%) dan pada pasien laki-laki sebanyak 24 anak . ,3%). PEMBAHASAN Prevalensi pulpitis pada wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabanan II merupakan proporsi orang yang mengalami periodontitis pada rongga mulutnya dari suatu populasi pada wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabanan II pada suatu waktu atau dalam hal ini mengambil kurun waktu satu tahun dimulai dari bulan Desember 2023 hingga bulan Februari 2024. Dari hasil perhitungan didapatkan prevalensi pulpitis sebesar 27,4%. Pada bulan Desember tahun 2023 didapatkan hasil sebesar 37,8%, pada bulan Januari tahun 2024 di dapatkan hasil 22,2 %, dan pada bulan Februari tahun 2024 di dapatkan hasil Sehingga dapat dilihat prevalensi dari bulan Desember tahun 2023 sampai bulan Januari tahun 2024 mengalami penurunan dari 37,8% ke 22,2% dan dari bulan Januari tahun 2024 sampai bulan Februari tahun 2024 mengalami keanikan dari 22,2% ke 40%. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa pasien Laki Laki lebih banyak mengalami pulpitis daripada Perempuan . Hasil ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Yoga pada tahun 2018 yaitu dengan persentase jenis kelamin perempuan yang terkena pulpitis sebesar 63,0% sedangkan jenis kelamin laki-laki yang mengalami pulpitis sebesar 37,0%. Ketidakpatuhan pasien berdasarkan jenis kelamin sebagian besar disebabkan disengaja, yakni karena merasa sudah tidak sakit lagi giginya mempengaruhi perilaku pasien untuk berhenti mencari pengobatan. Persepsi pasien terhadap sakit gigi itu adalah bila menimbulkan sakit bukan hanya bila mengalami kerusakan. Makanya dalam hal perlu diberikan Pendidikan terus kepada masyarakat terkait dengan pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi termasuk pentingnya melakukan renovasi gigi yangrusak atau berlubang. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyakit ginjal, jantung, disebabkan karena infeksi dari gigi yang berlobang dan tidak dilakukan perawatan dalam jangka waktu yang lama. Ditinjau dari segi epidemiologi tingginya angka kejadian periodontitis rongga mulut di UPTD Puskesmas Tabanan II terjadi berkaitan dengan ketidakseimbangan interaksi antara faktor host, faktor agent . , dan faktor lingkungan. Gangguan keseimbangan yang memungkinkan terjadinya penyakit berkaitan dengan host yang rentan, terpaparnya oleh faktor agen yang potensial beresiko dan perubahan lingkungan yang mendukung keterpaparan oleh agen dan host yang semakin rentan. Pulpitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam yaitu faktor yang disebabkan oleh gigi itu sendiri meliputi karies, mekanis dan kimiawi. Faktor luar adalah faktor yang disebabkan di luar dari gigi tersebut meliputi ras, usia, jenis kelamin sosial ekonomi, tingkat pendidikan, jarak ke pelayanan kesehatan, kebiasaan, perilaku dan asupan nutrisi. Jika pulpitis tidak mendapat penanganan pulpitis akan menjadi penyakit yang lebih parah seperti nekrosis pulpa dan abses. Pulpitis akut merupakan kondisi inflamasi pulpa gigi yang terjadi dengan tibatiba atau dapat juga terjadi karena kondisi eksaserbasi dari inflamasi kronis. Pulpitis disebabkan oleh karies gigi yang berpenetrasi melewati email dan dentin, kemudian mencapai pulpa. Selain itu, pulpitis akut juga bisa disebabkan oleh trauma, baik trauma mekanis ataupun termal. Pulpitis akut dapat berlanjut menjadi pulpitis kronis. Pulpitis akut memiliki tanda-tanda klinis berupa nyeri tajam atau berdenyut dan biasanya terjadi selama beberapa menit . -15 meni. Asal nyeri susah dicari bahkan nyeri dapat menyebar jauh dari pusat kerusakan. Rasa nyeri dapat terjadi karena rangsang panas, dingin dan stimulus manis. Penyakit pulpitis bila di biarkan begiutu saja dan tidak dirawat akan memberikan pengaruh yang serius terhadap kesehatan dan pisikologis penderita, rasa nyeri, dan ketidaknyamanan dalam beraktifitas, sehingga dapat mengganggu segala Gigi yang mengalami inflamasi pulpa membutuhkan perawatan saluran akar untuk menghilangkan iritan berupa bakteri dan membersihkan saluran akar gigi yang terinfeksi dari jaringan nekrotik. Perawatan saluran akar bertujuan untuk mencegah perluasan penyakit dari pulpa ke jaringan periapikal dan mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara biologis oleh jaringan sekitarnya. SIMPULAN Berdasarkan penelitian ini didapatkan sebanyak 45 . ,4%) kasus pul. Prevalensi kasus pulpitis dari bulan Desember tahun 2023 sampai bulan Januari tahun 2024 mengalami penurunan, dan dari bulan Januari tahun 2024 sampai bulan Februari tahun 2024 mengalami keanikan. Kasus pulpitis berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa pasien Laki Laki lebih banyak mengalami pulpitis daripada Perempuan. Gigi yang mengalami inflamasi pulpa membutuhkan perawatan saluran akar untuk menghilangkan iritan berupa bakteri dan membersihkan saluran akar gigi yang terinfeksi dari jaringan nekrotik dan mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara biologis oleh jaringan sekitarnya DAFTAR PUSTAKA