CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT: EDUKASI PENGELOLAAN SAMPAH SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN NILAI PANCASILA DAN GREEN CITIZENSHIP DI PESANTREN NURUL HUDA Pat Kurniati1. Susi2. Dwi Septipane3. Ria Rosalina4 . Muhammad Raihan Febriansyah5 Institut Pendidikan Indonesia Garut1 Universitas Pamulang2 Universitas Muhammadiyah Sorong3 Universitas Saintek Muhammadiyah4,5 Corresponding e-mail: patkurnia29@gmail. Copyright A 2025 The Author This is an open access article Under the Creative Commons Attribution Share Alike 4. 0 International License DOI: 10. 53866/jimi. Abstract Environmental issues, particularly waste management, are a crucial issue faced by religious-based educational institutions such as Islamic boarding schools . This study aims to increase ecological awareness and instill Green Citizenship values within the Nurul Huda Islamic Boarding School (Pesantren Nurul Hud. through a waste management education program integrated with Pancasila values and religious This activity uses an educational approach involving direct delivery of materials to students and caregivers, followed by evaluation using a questionnaire. The results indicate a significant increase in knowledge, attitudes, and environmentally friendly behavior, as well as a growing awareness of ecological responsibility as part of citizenship. Most respondents responded positively to the program and acknowledged its connection to Islamic values, morality, and community life in the pesantren. However, challenges remain, including the uneven distribution of this growing awareness and limited supporting facilities. In conclusion, waste management education in pesantren has the potential to be an effective strategy in shaping the character of students who are environmentally aware. Pancasila-minded, and responsible as citizens who care about environmental sustainability. Keywords: Waste Management. Green Citizenship. Pancasila Values. Islamic Boarding School. Environmental Awareness Abstrak Permasalahan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, menjadi isu krusial yang juga dihadapi oleh lembaga pendidikan berbasis keagamaan seperti pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ekologis dan menanamkan nilai-nilai Green Citizenship di lingkungan Pesantren Nurul Huda melalui program edukasi pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran Kegiatan ini menggunakan pendekatan edukatif yang melibatkan penyampaian materi langsung kepada santri dan pengasuh, diikuti oleh evaluasi menggunakan instrumen kuesioner. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku ramah lingkungan, serta tumbuhnya kesadaran akan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari kewargaan. Sebagian besar responden merespons positif program ini dan mengakui keterkaitannya dengan nilai-nilai Islam, moralitas, dan kehidupan bermasyarakat di pesantren. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan berupa belum Hlm | 1097 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal meratanya kesadaran yang tumbuh dari dalam diri dan keterbatasan fasilitas pendukung. Kesimpulannya, edukasi pengelolaan sampah di pesantren berpotensi menjadi strategi efektif dalam membentuk karakter santri yang berwawasan lingkungan, berjiwa Pancasila, dan bertanggung jawab sebagai warga negara yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Kata Kunci: Pengelolaan Sampah. Green Citizenship. Nilai Pancasila. Pesantren. Kesadaran Lingkungan Pendahuluan Permasalahan lingkungan dewasa ini menjadi isu global yang menuntut perhatian serius dari berbagai Salah satu isu yang cukup menonjol adalah pengelolaan sampah, yang jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan pencemaran, kerusakan ekosistem, serta berdampak buruk terhadap kesehatan manusia maupun keberlanjutan lingkungan hidup. Menurut World Health Organization (WHO), sampah merupakan material hasil aktivitas manusia yang sudah tidak digunakan, tidak diinginkan, dan akhirnya dibuang (Ghaffar et al. , 2. Seiring meningkatnya aktivitas manusia, volume sampah pun semakin besar dan kompleks. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah sampah bukan sekadar persoalan teknis, melainkan tantangan sosial, ekonomi, dan budaya yang memerlukan penanganan secara terpadu dan berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan, lembaga seperti pesantren juga menghadapi permasalahan serupa. Aktivitas keseharian santri menghasilkan timbulan sampah yang tidak sedikit. Sayangnya, kesadaran dan pemahaman warga pesantren mengenai pentingnya pengelolaan sampah masih tergolong rendah. Minimnya pengetahuan tentang jenis sampah, dampak pencemaran, serta strategi pengelolaan yang tepat menyebabkan persoalan ini semakin kompleks (Zulfa et al. , 2. Kondisi ini menuntut adanya intervensi pendidikan lingkungan yang lebih serius agar warga pesantren mampu mengelola sampah dengan baik serta memahami dampaknya bagi kelestarian lingkungan. Sampah yang tidak terkelola dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik terhadap kesehatan maupun keberlangsungan hidup manusia. Masalah pencemaran air, udara, dan tanah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan apabila penanganan sampah diabaikan. Oleh karena itu, masyarakat secara keseluruhan perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hidup (Azami & Kustanto, 2. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahap pengelolaan lingkungan sangat penting. Partisipasi ini dapat mencakup keterlibatan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil, hingga pengawasan dan evaluasi (Kusuma Wardany et al. , 2. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan harus menjadi tanggung jawab kolektif, termasuk lembaga pendidikan seperti pesantren. Upaya pengelolaan sampah yang efektif juga menjadi bagian penting dari pendidikan lingkungan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peduli lingkungan bagi para santri. Melalui pengelolaan sampah yang baik, santri tidak hanya diajarkan mengenai kebersihan lingkungan, tetapi juga diajak untuk memahami nilai tanggung jawab, disiplin, serta kepedulian sosial. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menegaskan bahwa setiap orang memiliki hak sekaligus kewajiban untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu, kebijakan pemerintah juga mendorong penerapan prinsip reduce, reuse, recycle . R) yang dapat menjadi model edukasi praktis di lingkungan pesantren (Siahaan et al. , 2. Lebih jauh, pengelolaan sampah di pesantren tidak hanya dipandang sebagai kegiatan teknis, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter kewargaan ekologis atau ecological citizenship. Konsep ini menekankan pentingnya kesadaran individu untuk memahami isu-isu lingkungan, memiliki sikap peduli, serta mengambil tindakan nyata dalam menjaga kelestarian alam (Kurniasari & Suwanda, 2. Santri yang dibekali dengan kesadaran ekologis diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai kepedulian lingkungan ke masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, pesantren dapat menjadi pusat pembelajaran ekologis yang berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan. Pada saat yang sama, nilai-nilai Pancasila dapat diintegrasikan dalam pendidikan lingkungan di pesantren. Gotong royong, tanggung jawab, dan cinta tanah air sebagai nilai luhur bangsa dapat diwujudkan dalam Hlm | 1098 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal praktik sehari-hari santri, misalnya melalui kegiatan pengelolaan sampah bersama. Proses ini sekaligus menumbuhkan Green Citizenship, yaitu bentuk kewargaan yang tidak hanya bertanggung jawab secara sosial, tetapi juga memiliki kepedulian ekologis yang tinggi (Fatmalasari & Yuliandari, 2. Dengan demikian, pembentukan karakter ekologis santri bukan hanya mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang bersih dan sehat, tetapi juga menanamkan nilai kewargaan yang berakar pada identitas bangsa. Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa pendidikan kewargaan di pesantren belum sepenuhnya menyentuh aspek ekologis secara mendalam. Nilai-nilai kepedulian lingkungan seringkali masih dipandang sebagai pelengkap, bukan sebagai bagian inti dari proses pendidikan. Kondisi ini memberikan peluang sekaligus tantangan untuk mengintegrasikan pendidikan kewargaan dengan pendidikan lingkungan secara lebih komprehensif. Melalui program edukasi pengelolaan sampah, nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan secara praktis sehingga santri mampu memahami sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Pesantren Nurul Huda dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran ekologis warga pesantren. Edukasi yang diberikan dirancang tidak sekadar sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses transformasi nilai yang mendorong terbentuknya karakter peduli lingkungan. Program ini melibatkan praktik nyata pengelolaan sampah yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga diharapkan dapat melahirkan santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan religius, tetapi juga memiliki kepedulian ekologis yang tinggi. Dengan demikian, pengelolaan sampah di pesantren tidak hanya menjawab kebutuhan praktis akan kebersihan lingkungan, tetapi juga berperan dalam membentuk generasi yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan alam. Pada akhirnya. Green Citizenship yang diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari santri diharapkan mampu menjadi teladan bagi masyarakat sekitar dan berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan hidup secara lebih luas. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Pesantren Nurul Huda. Depok. Jawa Barat, pada Sabtu, 26 Juli 2025. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara tujuh perguruan tinggi, yaitu IPI Garut. STKIP Kusuma Negara. STKIP Arrahmaniyah. Universitas Pamulang. Universitas Nusa Cendana. Universitas Saintex Muhammadiyah, dan Universitas Muhammadiyah Sorong. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan edukatif melalui pemberian materi secara langsung dan evaluasi menggunakan kuesioner. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan sampah, prinsip 3R, serta nilai-nilai Green Citizenship yang dikaitkan dengan ajaran keagamaan. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan kontekstual, disesuaikan dengan latar belakang peserta yaitu santri di Pesantren Nurul Huda. Setelah sesi edukasi selesai, peserta diminta mengisi kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk mengetahui sejauh mana peningkatan pemahaman, sikap, dan perilaku peserta setelah mengikuti kegiatan Instrumen penelitian berupa kuesioner yang terdiri atas 21 butir pertanyaan dengan enam indikator utama, yaitu: . pengetahuan tentang lingkungan dan pengelolaan sampah . , . sikap terhadap isu lingkungan dan kepedulian ekologis . , dan . perilaku ramah lingkungan sehari-hari . Green Citizenship (Kewargaan Ekologi. , . Pandangan terhadap Program Edukasi Pengelolaan Sampah di Pesantren . , . Pentingnya Peduli terhadap Pengelolaan Sampah di Pesantren . Pertanyaan menggunakan skala Likert 1Ae5 . angat tidak setuju sampai sangat setuj. untuk memudahkan pengukuran tingkat respons peserta. Serta 2 pertanyaan dalam bentuk Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, guna memastikan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan confirmability hasil penelitian. Hasil dan Pembahasan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Pesantren Nurul Huda berjalan dengan lancar dan mendapat respons positif dari para peserta, baik santri maupun pengasuh pondok. Kegiatan ini diawali dengan penyampaian materi oleh narasumber mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan, serta bagaimana praktik tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai Pancasila dan membentuk karakter green citizenship pada peserta didik. Hlm | 1099 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Gambar 1. Penyampaian Materi Gambar 2. Suasana saat penyampaian materi Setelah sesi pemaparan materi, peserta diberikan kuesioner untuk mengukur pemahaman dan perubahan persepsi mereka terhadap pengelolaan sampah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hasil dari kuesioner ini kemudian diolah untuk mengetahui efektivitas kegiatan dan tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan. Pengetahuan Tentang Sampah Dan Lingkungan Table 1. Pengetahuan Tentang Sampah Dan Lingkungannya Indikator Mengetahui perbedaan sampah organik & Memahami dampak negatif sampah terhadap lingkungan Mengetahui prinsip 3R (Reduce. Reuse. Recycl. Mengetahui manfaat kompos dari sampah Perentase Keterangan Seluruh responden memahami perbedaan jenis sampah Kesadaran kognitif sudah sangat baik Masih ada 15% yang belum memahami Potensi pengembangan kegiatan praktis sangat tinggi Hasil ini mencerminkan Santri memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai sampah, tetapi penguasaan prinsip 3R masih perlu ditingkatkan agar edukasi berjalan lebih optimal. Sikap terhadap Edukasi Sampah dan Lingkungan Hlm | 1100 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Table 2. Sikap terhadap Edukasi Sampah dan Lingkungan Pernyataan Mengelola sampah itu penting Kebersihan pesantren sumber Pengelolaan sampah bagian dari peran warga negara Edukasi sampah sebaiknya jadi program rutin Mendukung pengolahan sampah menjadi produk daur ulang Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Keterangan Seluruh responden setuju Menunjukkan kepedulian dan rasa kepemilikan Nilai kewargaan cukup Mayoritas edukasi berkelanjutan Dukungan positif meski masih ada yang netral Mayoritas responden menunjukkan sikap positif dan mendukung terhadap edukasi serta pengelolaan Seluruh responden sepakat bahwa mengelola sampah itu penting, dan hampir semua menilai kebersihan pesantren sebagai sumber kebanggaan sekaligus bagian dari tanggung jawab kewargaan. Responden juga mendukung edukasi sampah sebagai program rutin serta pengolahan sampah menjadi produk daur ulang, meskipun sebagian kecil masih bersikap netral. Perilaku Ramah Lingkungan Table 3. Perilaku Ramah Lingkungan Indikator/Perilaku Membuang sampah pada Memilah sampah Selalu Sering Kadang Jarang Mengikuti kegiatan gotong Mengolah sampah menjadi Mengingatkan orang lain untuk menjaga kebersihan Keterangan Kebiasaan positif sudah cukup terbentuk Pemilahan Kegiatan kolektif cukup Kreativitas masih rendah, perlu pelatihan Kepedulian sosial cukup Secara umum, perilaku ramah lingkungan santri di pesantren sudah mulai terbentuk, terutama dalam kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong. Namun, pemilahan sampah dan pengolahan sampah menjadi kerajinan masih belum konsisten, bahkan cenderung rendah sehingga membutuhkan pembinaan serta pelatihan lanjutan. Kepedulian sosial terlihat cukup baik, ditunjukkan oleh kebiasaan sebagian santri yang aktif mengingatkan orang lain untuk menjaga kebersihan. Green Citizenship (Kewargaan Ekologi. Instrumen ini terdiri dari lima pernyataan yang mengukur sejauh mana santri memiliki kesadaran dan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari kewargaan mereka. Skala yang digunakan adalah penilaian dari 1 . angat tidak setuj. hingga 5 . angat setuj. Hlm | 1101 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Table 4. Green Citizenship (Kewargaan Ekologi. Pernyataan Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju Keterangan Menjaga kebersihan sebagai bagian dari nilai moral warga negara Siap berpartisipasi dalam program lingkungan Nilai agama dan lingkungan saling Berkomitmen menerapkan perilaku ramah lingkungan dimanapun berada Mayoritas memiliki kesadaran ekologis yang kuat, meski masih ada yang rendah Kebersihan dikaitkan dengan nilai moral Antusiasme cukup tinggi, namun masih ada keraguan dalam keterlibatan nyata Mayoritas mengakui keterkaitan nilai agama dengan kepedulian Niat sudah ada, tetapi konsistensi masih perlu Merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan Hasil instrumen menunjukkan bahwa mayoritas santri memiliki kesadaran yang cukup baik terhadap nilai-nilai kewargaan ekologis. Sebagian besar responden menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan, meyakini bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari moralitas warga negara, serta bersedia terlibat dalam program lingkungan. Selain itu, keterkaitan antara nilai-nilai agama dan kepedulian terhadap lingkungan diakui oleh sebagian besar peserta, yang menjadi kekuatan khas dalam konteks Namun demikian, masih terdapat sekelompok santri yang belum sepenuhnya menunjukkan komitmen atau pemahaman kuat terhadap prinsip-prinsip Green Citizenship. Ini terlihat dari adanya persentase yang menilai rendah . kor 1Ae. pada hampir semua pernyataan. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun kesadaran ekologis sudah mulai terbentuk, penginternalisasiannya belum merata dan masih membutuhkan proses pembiasaan serta pendekatan yang lebih intensif. Pandangan terhadap Program Edukasi Pengelolaan Sampah di Pesantren Table 5. Pandangan terhadap Program Edukasi Pengelolaan Sampah di Pesantren Nama Responden Sri Ayu Lestari Nur Septi Amelia Putri Nurani Malik Hlm | 1102 das-institute. Ringkasan Tanggapan Program berhasil meningkatkan kesadaran santri serta menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini. Santri berpotensi menjadi agen perubahan di masyarakat. Program relevan dengan nilai keislaman, serta penting untuk menjaga kesehatan, kenyamanan, dan keberlangsungan aktivitas di pesantren. Edukasi lingkungan sangat penting di pesantren dengan penghuni padat, demi menjaga kesehatan dan kenyamanan. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Windy Fitria Dewi Mediana Tri Maria Ulfah Reyhan Andika Amaludin Program menggabungkan nilai agama dengan kepedulian lingkungan, berpotensi menumbuhkan kesadaran ekologis dan mendukung ekonomi daur ulang. Menyebut tantangan: keterbatasan fasilitas dan literasi. Menyarankan pelatihan, kerja sama eksternal, dan evaluasi. Program berkontribusi menjaga kebersihan, menanamkan tanggung jawab lingkungan, serta menciptakan pesantren yang lebih sehat. Bersikap kritis. menilai kesadaran santri yang belum tumbuh dari diri sendiri, masih karena perintah. Diperlukan pengawasan khusus agar program berdampak jangka panjang. Mengapresiasi materi program karena sesuai nilai moral. Menekankan bahwa pengelolaan sampah yang buruk dapat merugikan seluruh warga pesantren. Pentingnya Peduli terhadap Pengelolaan Sampah di Pesantren Table 6. Pandangan Pentingnya Peduli terhadap Pengelolaan Sampah di Pesantren Nama Responden Sri Ayu Lestari Nur Septi Amelia Putri Nurani Malik Windy Fitria Dewi Mediana Tri Maria Ulfah Reyhan Andika Amaludin Ringkasan Tanggapan Kepedulian sampah menciptakan lingkungan bersih dan sehat, mengurangi risiko penyakit, serta menanamkan tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap alam. Pengelolaan sampah mencerminkan nilai kebersihan dalam Islam dan membentuk karakter santri yang bertanggung jawab. Lingkungan bersih berpengaruh pada kenyamanan belajar, ibadah, dan kehidupan sehari-hari di pesantren. Kepedulian terhadap sampah mencerminkan nilai keimanan, melatih tanggung jawab, dan menumbuhkan kesadaran ekologis yang bisa menjadi teladan bagi masyarakat luar. Pesantren sebagai komunitas besar menghasilkan banyak sampah, sehingga diperlukan pengelolaan yang baik demi kesehatan dan nilai-nilai religius. Perlu pengawasan dan pendekatan yang menyentuh kesadaran pribadi agar kepedulian terhadap sampah tidak hanya lahir karena perintah, tetapi dari kesadaran bersama. Tanpa kepedulian dalam pengelolaan sampah, dampaknya akan merugikan seluruh komunitas pesantren. Berdasarkan hasil kuesioner dan tanggapan responden, dapat disimpulkan bahwa program edukasi pengelolaan sampah yang dilaksanakan di Pesantren Nurul Huda mendapatkan respons positif dari para Program ini dinilai bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap peduli lingkungan, serta menanamkan nilai-nilai tanggung jawab sosial dan keagamaan dalam kehidupan santri sehari-hari. Sebagian besar responden menyatakan bahwa program ini relevan dengan kebutuhan lingkungan pesantren dan sejalan dengan ajaran Islam tentang kebersihan. Selain menumbuhkan kesadaran ekologis, edukasi ini juga berpotensi mendukung kemandirian ekonomi melalui pengolahan sampah daur ulang. Kepedulian terhadap pengelolaan sampah dipandang sebagai hal yang sangat penting oleh para responden, karena berpengaruh langsung terhadap kesehatan, kenyamanan, dan kualitas hidup di lingkungan Selain itu, kepedulian ini juga dianggap sebagai bagian dari akhlak mulia dan wujud nyata tanggung jawab sebagai warga pesantren sekaligus warga negara. Namun demikian, masih terdapat tantangan seperti belum meratanya kesadaran yang tumbuh dari dalam diri santri, keterbatasan fasilitas, dan kurangnya Hlm | 1103 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal pengawasan berkelanjutan. Oleh karena itu, program edukasi ini perlu disertai dengan strategi pendampingan, pelatihan praktis, evaluasi berkala, dan pelibatan seluruh elemen pesantren secara aktif agar dampaknya dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Kesimpulan Program edukasi pengelolaan sampah di Pesantren Nurul Huda terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap positif, dan mendorong perilaku ramah lingkungan di kalangan santri, sekaligus menanamkan nilai-nilai Green Citizenship yang selaras dengan ajaran Pancasila dan prinsip Temuan menunjukkan bahwa mayoritas santri memiliki kesadaran ekologis yang cukup baik, meskipun penginternalisasian nilai tersebut belum merata. Implikasi dari program ini menunjukkan pentingnya integrasi nilai kewargaan ekologis dalam pendidikan pesantren sebagai strategi membangun generasi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Namun, keterbatasan seperti kurangnya fasilitas, belum meratanya kesadaran yang tumbuh dari dalam diri, dan lemahnya pengawasan menjadi tantangan yang perlu ditangani. Untuk itu, diperlukan pendekatan lanjutan berupa pendampingan intensif, pelatihan berkelanjutan, dan pelibatan aktif seluruh elemen pesantren guna memastikan keberlangsungan dampak edukasi dalam membentuk karakter santri yang berakhlak mulia dan berwawasan lingkungan. Bibliografi Azami. , & Kustanto. Pencemaran. Kerusakan Alam Dan Cara Penyelesaiannya Ditinjau Dari Hukum Lingkungan. Qistie, 16. , 40. https://doi. org/10. 31942/jqi. Fatmalasari. Penguatan Ecological Citizenship Sebagai Upaya Mengubah Perilaku Masyarakat Sadar Akan Lingkungan Melalui Program Kampung Selo Beraksi (Studi Di Desa Pojok. Kecamatan Tawangsari. Kabupaten Sukoharj. Ghaffar. Al. Syamsih. Widyati. , & Wasonowati. Pengelolahan Bank Sampah dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat di Desa Banangkah Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan. Buletin Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa, 1. , 13Ae19. https://doi. org/10. 21107/bpmd. Kurniasari. , & Suwanda. Kelestarian Lingkungan Hutan Berbasis Ecological Citizenship Di Desa Sumberjo Kecamatan Widang Kabupaten Tuban. Kajian Moral Dan Kewarganegaraan, 10. , 79Ae98. https://doi. org/10. 26740/kmkn. Kusuma Wardany. Reni Permata Sari, & Erni Mariana. Sosialisasi Pendirian AuBank SampahAy Bagi Peningkatan Pendapatan Dan Pemberdayaan Perempuan Di Margasari. Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4. , 364Ae372. https://doi. org/10. 31849/dinamisia. Siahaan. Fauziah. Supriatna. , & Novitasari. Gambaran Pengelolaan Sampah di Pondok Pesantren Darul Muhtadin Kota Jambi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 24. , 1495. https://doi. org/10. 33087/jiubj. Zulfa. Akbar. , & Azzat. Dalam Upaya Pemberdayaan Santri Di Pondok Pesantren Al-Mustaqim. Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ, 9. , 167Ae172. https://doi. org/10. 32699/ppkm. Hlm | 1104 das-institute.