ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. ANALISA PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K. PADA PEKERJA BANGUNANGEDUNG PENATAAN RUANG KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM Dwi Handoko Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Sony Sunaryo Indung Soedarso Dosen Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember ABSTRAK: Masalah K3 secara umum di Indonesia masih sering terabaikan terutama pada pelaksanaan pembangunan bidang pekerjaan umum dengan konstruksi bangunan sederhana, hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerja pada penyelenggaraan konstruksi, tenaga kerja di sektor jasa konstruksi mencakup sekitar 7-8% dari jumlah tenaga kerja di seluruh sektor, dan menyumbang 6. 45% dari PDB di Indonesia. Sektor jasa konstruksi adalah salah satu sektor yang paling berisiko terhadap kecelakaan Berdasarkan hasil evaluasi terdapat beberapa faktor penyebab terjadi kecelakaan kerja, antara lain tidak dilibatkan ahli teknik konstruksi, penggunaan metoda pelaksanaan yang tepat, lemahnya pengawasan pelaksanaan konstruksi di lapangan, belum sepenuhnya melaksanakan peraturan-peraturan menyangkut K3 yang telah ada, lemahnya pengawasan penyelenggaraan K3, kurang memadainya baik dalam kualitas dan kuantitas ketersediaan alat pelindung diri (APD), faktor lingkungan sosial ekonomi dan budaya pekerja dan kurang disiplinnya para tenaga kerja didalam mematuhi ketentuan mengenai K3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepatuhan dan pengawasan terhadap kesadaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pengujian hipotesis, sedangkan subjek penelitian ini adalah pekerja bangunan Gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum yang dijadikan sampel penelitian. Teknik pengumplan data menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS) menggunakan bantuan program statistik SPSS, namun sebelum dilakukan pengujian regresi berganda terlebih dahulu dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak kontraktor dan kementerian Pekerjaan Umum dalam upaya meminimalkan terjadinya kecelakaan kerja dalam proses pelaksanaan kontruksi. Kata Kunci:Peraturan. Pengawasan. Kesadaran K3 ABSTRACT: K3 general problem in Indonesia is still often over looked, especially in the execution of public works construction with simple building construction, as shown by the high number of accidents on the implementation of construction work, employment inthe construction sector covers about 7-8% of total work force in all sectors, and accounted 6:45% of GDP in Indonesia. Construction sector is one of the sectors most at risk of work place accidents. Based on the evaluation results, there are several factors that cause work place accidents, among others, were excluded expert construction techniques, the use of appropriate methods of implementation, lack of supervision in the field of construction, not yet fully implement regulations concerning existing K3. K3 implementation of weak supervision, less in a dequate both in quality and quantity of availability of personal protective equipment (PPE), environmental factors, socio19 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 economic and cultural workers and the lack of discipline in the work force to comply with the K3. This study aims to determine how much influence the awareness of compliance and over sight of Occupational Health and Safety (K. The research method used in this study is a quantitative method to test the hypothesis, while the subject of this study is the construction workers building campus Spatial Planning Ministry of Public Works that the research sample. Data collecting using questionnaires. Datawere analyzed using multiple linear regression with the method of Ordinary Least Square (OLS) using a statistical program SPSS, but prior to the first regression testing conducted validity and reliability testing. The results oft his study are expected to help the contractor and the Ministry of Public Works in an effort to minimize the occurrence of occupational accidents in the construction process of implementation. Keywords: Regulation. Control. Awareness K3 LATAR BELAKANG Kementerian Pekerjaan Umum sesuai bidang Kementerian Pekerjaan Umum disamping dalam menyelenggarakan urusan pembangunan di bidang pekerjaan umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. , membantu Presiden dalam penyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam upaya Kementerian Pekerjaan Umum meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, hal ini dikuatkan dengan diterbitkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/PRT/M/2008 tanggal 01 Juli 2008 tentang pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK. konstruksi bidang pekerjaan umum. Masalah K3 secara umum di Indonesia masih pelaksanaan pembangunan bidang pekerjaan sederhana, hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerjapada penyelenggaraan konstruksi,tenagakerja di sektor jasa konstruksi mencakup sekitar 78% dari jumlah tenaga kerja diseluruh sektor, dan menyumbang 6. 45% dari PDB di Indonesia. Sektor jasa konstruksi adalah 20 | K o n s t r u k s i a salah satu sektor yang paling berisiko terhadap kecelakaan kerja, disampingsektor utama lainnya yaitu pertanian, perikanan, perkayuan, dan pertambangan. Jumlahtenaga kerja di sektor konstruksi yang mencapai 5 juta orang, 53% diantaranya hanya mengenyam pendidikan sampai dengan tingkat Sekolah Dasar, bahkansekitar 5% dari tenaga kerja ini belum pernah mendapatkan pendidikan formalapapun (Iman Kurniawan Wicaksono dan Moses L. Singgih, 2. Gambar 1. Statistik Kecelakaan Kerja di Indonesia dari Tahun 2007-2011 Berdasarkan data grafik diatas dari tahun 2007-2011 terjadi peningkatan kecelakaan kerja di Indonesia setiap tahunnya. Dari tahun 2007 sejumlah 83. 714 orang, tahun 2008 sejumlah 94. 736 orang, tahun 2009 ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. 314 orang, tahun 2010 sejumlah 711 orang, tahun 2011 sejumlah 99. orang (Yustiawan. Anas, 2. Menurut teori efek domino H. W Heinrich juga bahwa kontribusi terbesar penyebab kasus kecelakaan kerja adalah berasal dari faktor kelalaian manusia yaitu sebesar 88%. Sedangkan 10% lainnya adalah dari faktor ketidaklayakan properti/aset/barang dan 2% faktor lain-lain. Hasil evaluasi kejadian-kejadian kecelakaan kerja selama ini dapat disimpulkan beberapa faktor penyebab terjadi kecelakaan baik yang telah menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka disebabkan tidak dilibatkan ahli teknik konstruksi, penggunaan metoda pengawasan pelaksanaan konstruksi di lapangan, belum sepenuhnya melaksanakan peraturan-peraturan menyangkut K3 yang penyelenggaraan K3, kurang memadainya ketersediaan Alat Pelindung Diri(APD), faktor lingkungan social ekonomi dan budaya pekerja dan kurang disiplinnya para tenaga kerja didalam mematuhi ketentuan mengenai K3, antara lain pemakaian APD kecelakaan kerja (Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia, 2. Berkaitan dengan hal tersebut diatas untuk mengetahui lebih jauh, maka Peneliti melakukan penelitian mengenai pelaksanaan K3padaPekerja Bangunan Gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan UmumJalan Pattimura No. Jakarta Selatan. PERUMUSAN MASALAH Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Ingin mengetahui seberapa besar pengaruh . eraturan, prosedur, peralatan, pengarahan, menetapkan sasaran, memantau Keselamatan Kesehatan Kerja (K. Pekerja Bangunan Gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum? BATASAN MASALAH Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada AnalisaPengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. pada Pekerja Bangunan Gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan UmumJalan Pattimura No. Jakarta Selatan. Manfaat Penelitian Penelitian AnalisaPengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. pada Pekerja Bangunan Gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umumini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan, baik secara teoritis maupun praktis terutama : Bagi para peneliti, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan terutama bagi mereka yang menaruh minat untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini dengan mengambil variabel penelitian yang berbeda dan dengan pendekatan yang berbeda pula. Bagi kalangan akademisi,hasil penelitian ini diharapkan publik, khususnya mengenai pengaruh K3 pada Pekerja Bangunan Gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. 21 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 Bagi Konsultan Perencana, hasil penelitian ini diharapkan dapat membuat masukan dalam dokumen pelaksanaan untuk meningkatkan K3. Bagi Kontraktor, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berarti untuk meningkatkan K3 pada Pekerja Bangunan Gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. LANDASAN TEORI Pengertian Kepatuhan Kepatuhan pada peraturan keselamatan menggambarkan aktivitas inti yang harus memelihara keselamatan tempat kerja (Neal & Griffin, 2002 dalam Prihatiningsih dan Sugiyanto, 2. Lebih lanjut, dikatakan bahwa kepatuhan keselamatan meliputi keselamatan,mengikuti prosedur yang benar, dan menggunakan peralatan yang tepat. Pada penelitian ini tentang kepatuhan menggunakan teori Neal dan Griffin . dalam Prihatiningsih dan Sugiyanto . dengan indikator peraturan, prosedur, dan Digunakannya teori Neal dan Griffin . tersebut dikarenakan, ketiga kesesuaian dengan obyek penelitian ini. Pengertian Pengawasan Black . dalam Rapina dan Friska mengungkapkan pengawasan merupakan tercapainya sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, dengan hasil yang bermutu dalam batas waktu yang telah Agus . dalam Rapina dan Friska 22 | K o n s t r u k s i a mengkoordinasikan tugas pelaksanaan tugas melalui pengarahan dan umpan balik . yang efektif dan efisien. Hasil studi Kozlowski dan Doherty . yang dikutip dari studi OAoDriscoll dan Beehr . dalam Rapina dan Friska . merupakan pihak yang paling dekat dengan konteks kerja seseorang karena melalui mereka tercermin budaya atau iklim Dengan kata lain, supervisor mempunyai pengaruh langsung terhadap perilaku bawahannya. Pada penelitian ini tentang pengawasan menggunakan teori Agus . dalam Rapina dan Friska . dan Hasil studi Kozlowski dan Doherty . yang dikutip dari studi OAoDriscoll dan Beehr . dalam Rapina dan Friska . dengan indikator pengarahan, menetapkan sasaran, memantau pelaksanaan. Digunakannya teori Agus . dalam Rapina dan Friska . dan Hasil studi Kozlowski dan Doherty . yang dikutip dari studi OAoDriscoll dan Beehr . dalam Rapina dan Friska . tersebut dikarenakan, ketiga indikator yang digunakan memiliki kesesuaian dengan obyek penelitian ini. Pengertian Keselamatan Kerja Adapun penyebab dasar kecelakaan di tempat kerja: kejadian karena ada kemungkinan, kondisi yang tidak aman, dan tindakan yang tidak aman dari pihak Kejadian karena ada kemungkinan berkontribusi terhadap kecelakaan, tetapi kurang lebih berada di luar kendali manajemen (Dessler, 2007:. ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. Kondisi yang Tidak Aman dan Faktor Lain yang Berhubungan dengan Pekerjaan Kondisi yang tidak aman adalah salah satu penyebab utama kecelakaan. Hal ini hal-hal (Dessler, 2007:. Peralatan yang tidak terjaga dengan baik. Peralatan yang rusak. Prosedur berbahaya di dalam, pada, atau di sekitar mesin atau peralatan. Penyimpanan yang tidak aman, kepadatan, kelebihan beban. Penerangan yang tidak tepat, cahaya yang menyorot, atau tidak cukup. Ventilasi yang tidak baik, pertukaran udara yang tidak cukup sumber udara yang tidak murni. Penyebab Tindakan yang Tidak Aman Tindakan yang tidak aman dapat merusak upaya terbaik untuk meminimalkan kondisi yang tidak aman, tetapi sayangnya tidak mudah menjawab pertanyaan tentang apa yang menyebabkan hal tersebut. Karenanya, meskipun sebagian orang yakin bahwa hampir semua orang yang mudah celaka adalah orang yang implusif (Dessler, 2007:. Pada peraktiknya, pencegahan kecelakaan bermula dari dua aktifitas dasar: . mengurangi kondisi yang tidak aman dan . mengurangi tindakan yang tidak aman. Disebagian besar fasilitas, kepala petugas keamanan bertanggung jawab untuk kegiatan ini (Dessler, 2007:. Mengurangi Kondisi yang Tidak Aman Mengurangi kondisi yang tidak aman dengan merancang pekerjaan dengan baik dan memiliki manajer yang mengawasi bahaya Kemudian administratif, seperti rotasi pekerjaan untuk mengurangi keterbukaan jangka panjang terhadap bahaya. Baru kemudian peralatan perlindung pribadi. Mengurangi tindakan yang tidak aman melalui penyaringan, pelatihan, atau program insentif, adalah cara dasar untuk mengurangi kecelakaan (Dessler, 2007:. Mengurangi Tindakan Tidak Aman dengan Menekankan Keamanan Menciptakan iklim keamanan yang tepat bukan hanya bersifat akademis. Studi menemukan bahwa . karyawan memang mengenai praktik keamanan penyediaan, dan . memprediksikan catatan keamanan di bulanbulan setelah survei tersebut. Amatlah penting untuk memperlihatkan baik dengan perkataan dan perbuatan bahwa keamanan adalah sangat penting. Sebagai contoh, penyelia harus (Dessler, 2007:. Menguji karyawan saat mereka memilih perilaku yang aman. Mendengar saat karyawan menawarkan usulan, kekhawatiran, atau keluhan. Menjadi contoh yang baik, misalnya dengan mengikuti setiap aturan keamanan dan prosedur. Mengunjungi daerah pabrik secara Memelihara komunikasi keamanan yang terbuka, misalnya dengan memberitahu karyawan sebanyak mungkin tentang aktifitas keamanan seperti menguji alarm dan mengubah peralatan atau prosedur Menghubungkan bonus manajer dengan perbaikan keamanan. 23 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 Mengurangi Tindakan Tidak Aman Melalui Seleksi dan Penempatan Penyaringan adalah cara lain untuk mengurangi tindakan tidak aman. Disini tujuannya adalah untuk mengisolasi sifat . eperti keterampilan visua. yang dapat memprediksikan kecelakaan pada pekerjaan yang bersangkutan, kemudian menyaring Studi menyatakan bahwa tes seperti Employee Reliability Inventory (ERI)/ Daftar Keandalan Karyawan dapat membantu pengusaha mengurangi tindakan yang tidak aman di tempat kerja. Pada intinya ERI mengukur dimensi keandalan seperti kematangan emosional, kehati-hatian, kinerja pekerjaan aman, dan kinerja kehati-hatian (Dessler, 2007:. Mengurangi Tindakan Tidak Aman Melalui Pelatihan Pelatihan keamanan adalah cara lain untuk mengurangi tindakan tidak aman. Hal ini sangatlah tepat bagi karyawan baru. Anda harus menginstruksikan mereka dalam memperingatkan mereka tentang potensi bahaya dan bekerja dengan mengembangkan perilaku yang menyadari keamanan (Dessler, 2007:. Mengurangi Tindakan Tidak Aman Melalui Motivasi: Poster. Program Insentif, dan Penguatan Positif Poster mengurangi tindakan tidak aman. Namun, poster bukanlah pengganti bagi program keamanan komprehensif, pengusaha harus mengkombinasikan mereka dengan teknik lainnya untuk mengurangi kondisi dan tindakan tidak aman, dan juga sering mengubahnya (Dessler, 2007:. 24 | K o n s t r u k s i a Program insentif juga telah berhasil mengurangi luka-luka tempat kerja. Satu pilihan adalah dengan menekankan insentif AunontradisionalAy memberikan penghargaan pengakuan kepada karyawan karena menghadiri pertemuan keamanan, karena mengenali bahya, atau karena memperlihatkan kemahiran mereka dalam hal keamanan dan kesehatan (Dessler, 2007:. Keamanan Berdasarkan Perilaku Keamanan berdasarkan perilaku berarti berkontribusi pada kecelakaan dan kemudiaan melatih pekerja untuk menghindari perilaku ini (Dessler, 2007:. Menggunakan Partisipasi Karyawan Partisipasi karyawan dapat diterapkan dalam beberapa bentuk. Manajemen membentuk tim gabungan keamanan tenaga kerja menajemen untuk setiap departemen. Paling tidak ada dua alasan untuk melibatkan karyawan dalam menyusun program keamanan karyawan. Pertama, mereka adalah sumber ide terbaik pihak manajemen berkaitan dengan ide tentang apa masalah potensial dan bagaimana solusinya. Kedua, lebih mudah membuat karyawan menerima dan secara antusias mengikuti program keamanan bila mereka berperan serta dalam penyusunannya (Dessler, 2007:. Melakukan Inspeksi dan Audit Keamanan dan Kesehatan Manajer dapat mempercepat proses audit keamanan dengan menggunakan bantuan digital Palm Pilot. Untuk menggunakan aplikasi ini, manager atau petugas keamanan memberikan nama audit keamanan, memasukan pertanyaan audit, dan ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. daftar jawaban yang mungkin. Penyelia dan para karyawan lalu menggunakan Palm Pilot untuk mencatat audit tersebut untuk secara otomatis mengirimkannya ke bagian keamanan perusahaan (Dessler, 2007:. Mengendalikan Biaya Kompensasi Pekerja Pada saat kecelakaan benar-benar terjadi, karyawan mungkin beralih pada asuransi pekerja pengusaha untuk menutupi biaya dan kehilangannya. Sebaliknua, kompensasi premium pekerja memiliki pengusaha merefleksikan jumlah dan ukuran klain yang Oleh karena itu, terdapat dorongan menusiawi dan keuangan untuk mengurangi tuntutan tersebut (Dessler, 2007:. Pada penelitian ini tentang kesadaran keselamatan kerja menggunakan teoriFlin et . , dan Dessler . dengan pelatihan, dan kompetensi. Penelitian ini menggunakan teori yang dikembangkan oleh Flin et al. , dan Dessler . karena terdapat indikator dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang memiliki kesesuaian dengan obyek penelitian ini. PEMBAHASAN Kerangka Pemikiran Berdasarkan pemaparan teori mengenai Peraturan. Prosedur. Peralatan. Pengawasan. Menetapkan Sasaran. Memantau Pelaksanaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. dari para peneliti dan ahli terdahulu, maka dapat dibuatkan kerangka pemikiran dalam penelitian ini sebagai berikut: Gambar 2. Kerangka Pemikiran Uji Validitas Dalam kedudukan yang paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variabel yang pembuktian hipotesis. Benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya hasil Sedang benar tidaknya data, tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data. Pengujian instumen biasanya terdiri dari uji validitas dan Validitas adalah tingkat keandalan dan kesahihan alat ukur yang digunakan. Intrumen menunjukkan alat ukur yang dipergunakan untuk mendapatkan data itu valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya di ukur. Dengan demikian, instrumen yang valid merupakan instrumen yang benar-benar tepat untuk mengukur apa yang hendak di ukur. Pengujian validitas menggunakan program SPSS dengan metode Pearson Correlation, yaitu mengkorelasikan tiap item dengan skor total item kuisioner. Dasar pengambilan 25 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 keputusan uji validitas sebagai berikut: (Alhusin, 2. - Jika rhitung> rtabel, maka butir pertanyaan dinyatakan valid. - Jika rhitung< rtabel, maka butir pertanyaan dinyatakan tidak valid. Nilai r table dapat dilihat pada table statistik r dengan N=100 atau df = n-2 = 98 dan dengan signifikansi 0,05 maka didapat nilai r tabel = 0,197. Hasil uji validitas disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 4. Hasil Uji Validitas Item Variabel Peratura (X. Prosedur (X. Peralata n (X. Pengarah an (X. Item r hitung r kritis Kepu Item1 0,705 0,197 Valid Item2 0,671 0,197 Valid Item3 0,797 0,197 Valid Item4 0,790 0,197 Valid Item1 0,617 0,197 Valid Item2 0,752 0,197 Valid Item3 0,778 0,197 Valid Item4 0,747 0,197 Valid Item1 0,661 0,197 Valid Item2 0,742 0,197 Valid Item3 0,784 0,197 Valid Item4 0,718 0,197 Valid Item1 0,692 0,197 Valid Item2 0,689 0,197 Valid Item3 0,714 0,197 Valid 26 | K o n s t r u k s i a Item4 0,692 0,197 Valid Item1 0,734 0,197 Valid Item2 0,713 0,197 Valid Item3 0,777 0,197 Valid Item4 0,651 0,197 Valid Item1 0,672 0,197 Valid Memantau Item2 n (X. Item3 0,641 0,197 Valid 0,797 0,197 Valid Item4 0,698 0,197 Valid Item1 0,522 0,197 Valid Item2 0,687 0,197 Valid Item3 0,649 0,197 Valid Item4 0,682 0,197 Valid Item5 0,586 0,197 Valid Item6 0,633 0,197 Valid Item7 Kesadara Item8 Item9 an dan kesehatan Item10 Kerja (Y) Item11 0,582 0,197 Valid 0,585 0,197 Valid 0,536 0,197 Valid 0,662 0,197 Valid 0,667 0,197 Valid Item12 0,656 0,197 Valid Item13 0,640 0,197 Valid Item14 0,677 0,197 Valid Item15 0,579 0,197 Valid Item16 0,633 0,197 Valid Item17 0,684 0,197 Valid Menetapk (X. ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. Item18 0,669 0,197 Valid Item19 0,649 0,197 Valid Item20 0,508 0,197 Valid Sumber: Data diolah, 2014 Dari tabel di atas dapat diketahui semua item nilai korelasi lebih dari r table 0,197. Dengan ini maka dapat disimpulkan bahwa item-item kuisioner tersebut valid. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen yang dalam hal ini kuesioner dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas instrumen mencirikan tingkat konsistensi. Pengujian reliabilitas yang digunakan adalah dengan menggunakan metode Cronbach Alpha. Metode Cronbach Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya merupakan rentangan dari beberapa nilai atau berbentuk skala. Dasar pengambilan keputusan untuk pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut: (Ghazali, 2. - Jika nilai Cronbach Alpha> 0,60, maka kuesioner yang diuji dinyatakan reliabel. - Jika nilai Cronbach Alpha< 0,60, maka kuesioner yang diuji dinyatakan tidak Setelah dihitung dengan bantuan program SPSS maka dapat diketahui nilai reliabilitas . ronbachAos alph. adalah sebagai berikut: Analisis deskriptif statistk Analisis ini untuk mengetahui deskripsi data seperti mean, nilai minimum, nilai maksimum, dan standar deviasi. Berikut ini disajikan statistik deskriptif variable-variabel penelitian yaitu sebagai 27 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 Dari tabel di atas dapat diketahui deskripsi statistik tentang skor total dari variabelvariabel yang digunakan dalam penelitian ini. Skor total adalah penjumlahan skor dari item pertanyaan 1 sampai item terakhir untuk masing-masing variabel. Untuk variable Peraturan jumlah data 100, nilai minimum 13, nilai maksimum 26, rata-rata 20,61, dan standar deviasi 3,101. Untuk variable Prosedur jumlah data 100, nilai minimum 13, nilai maksimum 26, rata-rata 21,08, dan standar deviasi 3,177. Untuk variable Peralatan jumlah data 100, nilai minimum 12, nilai maksimum 27, rata-rata 20,66, dan standar deviasi 3,207. Untuk variable Pengarahan jumlah data 100, nilai minimum 13, nilai maksimum 26, rata-rata 20,76, dan standar deviasi 3,009. Untuk variable Menetapkan sasaran jumlah data 100, nilai minimum 12, nilai maksimum 25, rata-rata 20,70, dan standar deviasi 3,211. Untuk variable Memantau pelaksanaan jumlah data 100, nilai minimum 13, nilai maksimum 26, rata-rata 20,37, dan standar deviasi 3,090. Dan untuk variable Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja jumlah data 100, nilai minimum 69, nilai maksimum 120, rata-rata 102,66, dan standar deviasi 13,929. Uji Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik ini bertujuan untuk menguji kelayakan atas model regresi berganda yang digunakan dalam penelitian Pengujian ini juga dimaksudkan untuk memastikan bahwa di dalam model regresi multikolinieritas dan heteroskedastisitas serta untuk memastikan bahwa data yang dihasilkan berdistribusi normal (Ghozali, 28 | K o n s t r u k s i a Uji Normalitas Uji normalitas pada model regresi digunakan untuk menguji apakah nilai residual terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki nilai residual yang terdistribusi secara normal. Cara untuk mendeteksinya adalah dengan melihat penyebaran data pada sumber diagonal pada grafik NormalP-P Plotof regression standardized sebagai dasar pengambilan keputusannya. Jika menyebar sekitar garis dan mengikuti garis diagonal maka model regresi tersebut telah normal dan layak dipakai untuk memprediksi variabel bebas dan sebaliknya. Gambar 4. Uji Normalitas (Grafik Normal P-P Plo. Sumber : Data diolah, 2014 Dari gambar grafik di atas dapat diketahui bahwa titik-titik menyebar sekitar garis dan mengikuti garis diagonal, maka model regresi tersebut telah normal dan layak dipakai untuk memprediksi variabel bebas. ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi yang tinggi, maka dinamakan terdapat masalah multikolonieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi yang tinggi diantara variabel independen. Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai VIF (Variance Inflation Facto. dan Tolerance. Apabila nilai VIF berada dibawah 10,00 dan nilai Tolerance lebih dari 0,100, maka diambil kesimpulan bahwa model regresi tersebut tidak terdapat masalah Menetapkan sasaran (X. Memantau (X. Dependent Variable: Kesadaran keselamatan dan kesehatan Kerja (Y) Sumber : Data diolah, 2014 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai VIF kurang dari 10,00 dan Tolerance lebih dari 0,100 untuk ke enam variabel independen, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi masalah Uji Heteroskedastisitas Hasil uji multikolinearitas disajikan sebagai Tabel 4. Hasil uji Multikolinearitas Coefficientsa Collinearity Statistics Model Tolerance VIF 1 (Constan. Peraturan (X. Prosedur (X. Peralatan (X. Pengarahan (X. Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana terjadinya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi(Priyatno, 2. Model regresi yang baik mensyaratkan tidak adanya masalah heteroskedastisitas. Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan Homoskedastisitas, namun jika variansnya berbeda, disebut heteroskedastisitas. Untuk heterokedastisitas dengan melihat pola titiktitik pada scatterplots regresi. Jika titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada output Regression pada gambar Scatterplot: 15 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 Gambar 4. Hasil uji Heteroskedastisitas X12 = Prosedur X13 = Peralatan X21 = Pengarahan X22 = Menetapkan sasaran X23 = Memantau pelaksanaan e = error . ingkat kesalaha. Hasil yang diperoleh setelah data diolah dengan bantuan program SPSS disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 4. Analisis Regresi Linear Berganda Sumber : Data diolah, 2014 Dapat diketahui bahwa titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heterokedastisitas pada model regresi. Analisis Regresi Linier dan Uji Hipotesis Persamaan Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen baik secara parsial maupun secara simultan. Bentuk umum persamaan regresi linier berganda dengan empat variabel independen yaitu sebagai berikut: Y = a y11X11 y12X12 y13X13 y21X21 y22X22 y23X23 e Dimana : = Kesadaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja a = Konstanta y = Koefisien regresi X11 = Peraturan 16 | K o n s t r u k s i a Sumber : Data diolah, 2014 Persamaan regresinya sebagai berikut: Y = 2,687 1,321X11 0,909X12 0,724X13 0,732X21 0,577X22 0,563X23 - Konstanta sebesar 2,687. artinya jika pengarahan, menetapkan sasaran, dan memantau pelaksanaan nilainya adalah 0, maka besarnya kesadaran keselamatan ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. dan kesehatan kerja (Y) nilainya sebesar 2,687. - Koefisien regresi variabel Peraturan (X. sebesar 1,321. artinya setiap peningkatan peraturan sebesar 1 satuan, maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 1,321 satuan, dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. - Koefisien regresi variabel Prosedur (X. sebesar 0,909. artinya setiap peningkatan prosedur sebesar 1 satuan, maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 0,909 satuan, dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. - Koefisien regresi variabel Peralatan (X. sebesar 0,724. artinya setiap peningkatan peralatan sebesar 1 satuan, maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 0,724 satuan, dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. - Koefisien regresi variabel Pengarahan (X. sebesar 0,732. artinya setiap peningkatan pengarahan sebesar 1 satuan, maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 0,732 satuan, dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. - Koefisien regresi variabel Menetapkan sasaran (X. sebesar 0,577. artinya setiap peningkatan menetapkan sasaran sebesar 1 satuan, maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 0,577 satuan, dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. - Koefisien regresi variabel Memantau pelaksanaan (X. sebesar 0,563. pelaksanaan sebesar 1 satuan, maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja sebesar 0,563 satuan, dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap. Uji t . ji koefisien regresi secara parsia. Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap variable dependen atau tidak. Hasil uji t yang diperoleh disajikan sebagai Tabel 4. Hasil uji t . ji secara parsia. Coefficientsa Model Sig. (Constan. Peraturan (X. Prosedur (X. Peralatan (X. Pengarahan (X. Menetapkan sasaran (X. Memantau (X. 17 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 Coefficientsa Model Sig. (Constan. Peraturan (X. Prosedur (X. Peralatan (X. Pengarahan (X. Menetapkan sasaran (X. Memantau (X. Dependent Variable: Kesadaran keselamatan dan kesehatan Kerja (Y) Sumber : Data diolah, 2014 aA Pengujian terhadap koefisien variabel Peraturan. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut: Menentukan hipotesis nol dan hipotesis Ho : b11= 0 APeraturan secara parsial tidak keselamatan dan kesehatan kerja pekerj. 18 | K o n s t r u k s i a Ha : b11C 0 APeraturan secara parsial keselamatan dan kesehatan kerja pekerjaA. Menentukan t hitung Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar 4,876 Menentukan t tabel dengan menggunakan A = 0,05 Tabel distribusi t dapat dilihat pada tabel t statistik dengan signifikansi = 0,05 : 2 = 0,025 . ji 2 sis. dengan derajat kebebasan . n-k-1 atau 100-6-1 = 93. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh untuk ttabel sebesar 1,986 / -1,986,. Kriteria pengujian - Ho diterima bila -t hitungC -t tabel atau t hitung O t tabel - Ho ditolak bila -t hitungA -t tabel atau t hitung> t Membandingkan thitung dengan ttabel Nilai thitung> ttabel . ,876 > 1,. , maka Ho Membuat kesimpulan Oleh karena nilai thitung> ttabel . ,876 > 1,. , maka Ho ditolak, artinya bahwa Peraturan secara parsial berpengaruh terhadap Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Nilai t hitung positif, artinya berpengaruh peraturan maka akan meningkatkan Kesadaran keselamatan dan kesehatan bA Pengujian terhadap koefisien variabel Prosedur. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut: ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. Menentukan hipotesis nol dan hipotesis Ho : b12 = 0 AProsedur secara parsial tidak keselamatan dan kesehatan kerja pekerj. Ha : b12C 0 AProsedur keselamatan dan kesehatan kerja pekerjaA. Menentukan t hitung Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar 2,420 Menentukan t tabel dengan menggunakan A = 0,05 Tabel distribusi t dapat dilihat pada tabel t statistik dengan signifikansi = 0,05 : 2 = 0,025 . ji 2 sis. dengan derajat kebebasan . n-k-1 atau 100-6-1 = 93. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh untuk ttabel sebesar 1,986 / -1,986,. Kriteria pengujian - Ho diterima bila -t hitungC -t tabel atau t hitung O t tabel - Ho ditolak bila -t hitungA -t tabel atau t hitung> t tabel Membandingkan thitung dengan ttabel Nilai thitung> ttabel . ,420 > 1,. , maka Ho ditolak Membuat kesimpulan Oleh karena nilai thitung> ttabel . ,420 > 1,. , maka Ho ditolak, artinya bahwa Prosedur secara parsial berpengaruh terhadap Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Nilai t hitung positif, artinya berpengaruh positif, yaitu semakin meningkat prosedur maka akan meningkatkan Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja. cA Pengujian terhadap koefisien variabel Peralatan. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut: Menentukan hipotesis nol dan hipotesis Ho : b13 = 0 APeralatan secara parsial tidak keselamatan dan kesehatan kerja pekerj. Ha : b13C 0 APeralatan keselamatan dan kesehatan kerja pekerjaA. Menentukan t hitung Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar 2,023 Menentukan t tabel dengan menggunakan A = 0,05 Tabel distribusi t dapat dilihat pada tabel t statistik dengan signifikansi = 0,05 : 2 = 0,025 . ji 2 sis. dengan derajat kebebasan . n-k-1 atau 100-6-1 = 93. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh untuk ttabel sebesar 1,986 / -1,986,. Kriteria pengujian - Ho diterima bila -t hitungC -t tabel atau t hitung O t tabel - Ho ditolak bila -t hitungA -t tabel atau t hitung> t tabel Membandingkan thitung dengan ttabel Nilai thitung> ttabel . ,023 > 1,. , maka Ho Membuat kesimpulan Oleh karena nilai thitung> ttabel . ,023 > 1,. , maka Ho ditolak, artinya bahwa Peralatan secara parsial berpengaruh terhadap Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. 19 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 Nilai t hitung positif, artinya berpengaruh positif, yaitu semakin meningkat peralatan maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan dA Pengujian terhadap koefisien variabel Pengarahan (X. Langkah-langkah Menentukan hipotesis nol dan hipotesis Ho : b21 = 0 APengarahan secara parsial tidak berpengaruh terhadap kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pekerj. Ha : b21C 0 APengarahan secara parsial keselamatan dan kesehatan kerja pekerjaA. Menentukan t hitung Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar 1,996 Menentukan t tabel dengan menggunakan A = 0,05 Tabel distribusi t dapat dilihat pada tabel t statistik dengan signifikansi = 0,05 : 2 = 0,025 . ji 2 sis. dengan derajat kebebasan . n-k-1 atau 100-6-1 = 93. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh untuk ttabel sebesar 1,986 / -1,986,. Kriteria pengujian - Ho diterima bila -t hitungC -t tabel atau t hitung O t tabel - Ho ditolak bila -t hitungA -t tabel atau t hitung> t tabel Membandingkan thitung dengan ttabel Nilai thitung> ttabel . ,996 > 1,. , maka Ho 20 | K o n s t r u k s i a Membuat kesimpulan Oleh karena nilai thitung> ttabel . ,996 > 1,. , maka Ho ditolak, artinya bahwa Pengarahan secara parsial berpengaruh terhadap Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Nilai t hitung positif, artinya berpengaruh pengarahan maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan eA Pengujian terhadap koefisien variabel Menetapkan sasaran (X. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut: Menentukan hipotesis nol dan hipotesis Ho : b22 = 0 AMenetapkan sasaran secara kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja Ha : b22C 0 AMenetapkan sasaran secara parsial berpengaruh terhadap kesadaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja PekerjaA. Menentukan t hitung Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar 1,907 Menentukan t tabel dengan menggunakan A = 0,05 Tabel distribusi t dapat dilihat pada tabel t statistik dengan signifikansi = 0,05 : 2 = 0,025 . ji 2 sis. dengan derajat kebebasan . n-k-1 atau 100-6-1 = 93. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh untuk ttabel sebesar 1,986 / -1,986,. Kriteria pengujian ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. - Ho diterima bila -t hitungC -t tabel atau t hitung O t tabel - Ho ditolak bila -t hitungA -t tabel atau t hitung> t Membandingkan thitung dengan ttabel Nilai thitung< ttabel . ,907 < 1,. , maka Ho Membuat kesimpulan Oleh karena thitung< ttabel . ,907 < 1,. Menetapkan sasaran secara parsial tidak Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. fA Pengujian terhadap koefisien variabel Memantau pelaksanaan (X. Langkah-langkah Menentukan hipotesis nol dan hipotesis Ho : b23 = 0 AMemantau pelaksanaan secara kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja Ha : b23C 0 AMemantau secara parsial berpengaruh terhadap kesadaran terhadap kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pekerja A. Menentukan t hitung Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar 1,932 Menentukan t tabel dengan menggunakan A = 0,05 Tabel distribusi t dapat dilihat pada tabel t statistik dengan signifikansi = 0,05 : 2 = 0,025 . ji 2 sis. dengan derajat kebebasan . n-k-1 atau 100-6-1 = 93. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh untuk ttabel sebesar 1,986 / -1,986,. Kriteria pengujian - Ho diterima bila -t hitungC -t tabel atau t hitung O t tabel - Ho ditolak bila -t hitungA -t tabel atau t hitung> t Membandingkan thitung dengan ttabel Nilai thitung< ttabel . ,932 < 1,. , maka Ho Membuat kesimpulan Oleh karena thitung< ttabel . ,932 < 1,. , maka Ho diterima, artinya bahwa Memantau Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Uji F . ji koefisien regresi secara bersamasam. Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen atau tidak. Hasil uji F yang diperoleh setelah data diolah disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 4. Hasil Uji F (Koefisien Regresi Secara Bersama-sam. 21 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 Predictors: (Constan. Memantau (X. Peraturan (X. Menetapkan sasaran (X. Peralatan (X. Pengarahan (X. Prosedur (X. Dependent Variable: Kesadaran keselamatan dan kesehatan Kerja (Y) Sumber: Data diolah, 2014 Tahap-tahap untuk melakukan uji F sebagai Menentukan hipotesis nol dan hipotesis Ho = 0 AArtinya peraturan, prosedur, peralatan, pengarahan, menetapkan sasaran, dan memantau pelaksanaan secara bersamasama tidak berpengaruh terhadap kesadaran keselamatan dan kesehatan kerjaA. Ha C 0AArtinya peraturan, prosedur, peralatan, pengarahan, menetapkan sasaran, dan memantau pelaksanaan secara bersamasama berpengaruh terhadap kesadaran keselamatan dan kesehatan kerj. Menentukan F hitung Berdasarkan tabel di atas diperoleh F hitung sebesar 65,092 Menentukan F tabel F tabel dapat dilihat pada lampiran table statistik, dengan menggunakan tingkat signifikansi 0,05, dengan df 1 . umlah variabel Ae. atau 7-1 = 6 dan df 2 . -k-. -6-. = 93. Hasil diperoleh untuk F tabel sebesar 2,198. Kriteria pengujian - Ho diterima bila F hitung O F tabel - Ho ditolak bila F hitung> F tabel Membandingkan thitung dengan ttabel. Nilai F hitung> F tabel . ,092 > 2,. , maka Ho 22 | K o n s t r u k s i a Membuat kesimpulan Karena F hitung> F tabel . ,092 > 2,. , maka Ho ditolak, artinya bahwa peraturan, menetapkan sasaran, dan memantau bersama-sama keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Analisis koefisien determinasi (Adjusted R Squar. Nilai koefisien determinasi menunjukkan seberapa besar prosentase model regresi mampu menjelaskan variabel dependen. Batas nilai R2 adalah 0 O R2 Ou 1 sehingga apabila R2 sama dengan nol . berarti variabel tidak bebas tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas secara serempak, sedangkan bila R2 sama dengan 1 berarti variabel bebas dapat menjelaskan variabel tidak bebas secara serempak. Hasil analisisdeterminasi AAdjusted R2A yang diperoleh setelah data diolah disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 4. Hasil Analisis Koefisien Determinasi Sumber: Data diolah, 2014 ANALISA PENGARUH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Dwi Ae Sony Ae Indun. Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai Adjusted R2 sebesar 0,795 . ,5%). Hal ini menunjukkan bahwa variasi variabel independen yang digunakan dalam model . eraturan, prosedur, peralatan, pengarahan, menetapkan sasaran, dan memantau pelaksanaa. mampu menjelaskan sebesar 79,5% keselamatan dan kesehatan kerja, dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. KESIMPULAN Dari hasil analisis data pada bab pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:Peraturan Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini ditunjukkan oleh uji t yang didapat nilai thitung> ttabel . ,876 > 1,. , sehingga Ho Nilai t hitung positif, artinya meningkatkan Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja. Prosedur secara parsial berpengaruh terhadap Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini ditunjukkan oleh uji t yang didapat thitung> ttabel . ,420 > 1,. , sehingga Ho ditolak. Nilai t hitung positif, artinya berpengaruh positif, yaitu semakin meningkat prosedur maka akan meningkatkan Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja. Peralatan secara parsial berpengaruh terhadap Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini ditunjukkan oleh uji t yang didapat nilai thitung> ttabel . ,023 > 1,. , sehingga Ho ditolak. Nilai t hitung positif, artinya berpengaruh positif, yaitu semakin meningkat peralatan maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja. Pengarahan secara parsial berpengaruh terhadap Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini ditunjukkan oleh uji t yang didapat nilai nilai thitung> ttabel . ,996 > 1,. , sehingga Ho ditolak. Nilai t hitung positif, artinya berpengaruh pengarahan maka akan meningkatkan kesadaran keselamatan dan kesehatan Menetapkan sasaran secara parsial tidak Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini ditunjukkan oleh uji t yang didapat nilai nilai thitung< ttabel . ,907 < 1,. , sehingga Ho diterima. Memantau pelaksanaan secara parsial tidak berpengaruh terhadap Kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini ditunjukkan oleh uji t yang didapat nilai nilai thitung< ttabel . ,932 < 1,. , sehingga Ho diterima. pengarahan, menetapkan sasaran, dan memantau pelaksanaan secara bersamasama berpengaruh terhadap kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja pada 23 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 2 | Agustus 2014 pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini ditunjukkan oleh uji F yang didapat nilai F hitung> F tabel . ,092 > 2,. , sehingga Ho Keterbatasan Penelitian Beberapa hal yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini dan perlu diperhatikan oleh peneliti yang akan datang adalah sebagai berikut : Penelitian ini hanya terbatas pada jumlah sampel yaitu sebanyak 100 responden dan terbatas pada pekerja bangunan gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum saja, sehingga kurang akuratnya hasil penelitian jika ditujukan pada pekerja yang Saran Setelah melakukan analisis dan pengamatan terhadap semua keterbatasan yang ada, peneliti memberikan saran sebagai berikut: Untuk menggunakan sampel yang lebih banyak, misal 200 responden dan pada pekerja yang lain, sehingga hasil penelitian akan lebih DAFTAR PUSTAKA