PERAWAT MENGABDI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka. Vol. 2 No. 1 April 2023 http://journal. p-ISSN : x-x e-ISSN : x-x UPAYA PEMBERDAYAAN KADER DENGAN METODE ROLE PLAY TERHADAP PENCEGAHAN STUNTING Agung Widiastuti. Dwi Lestari Mukti Palupi. Annisa Yuli Kartikasari. Jasita Salma Delilia Universitas Duta Bangsa Surakarta Info Artikel: Diterima :17 Maret 2023 Diperbaiki :24 Maret 2023 Disetujui :24 Maret 2023 Kata Kunci: Kader. Role Play. Stunting Keywords: Cadre. Role play. Stunting Abstrak: Latar Belakang: Stunting disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin atau bayi dalam kandungan dan pada masa-masa awal kehidupan anak kelahiran. Kurangnya asupan gizi yang diterima bayi juga disebabkan oleh kurangnya asupan gizi ibu pengetahuan tentang kesehatan gizi sebelum dan selama kehamilan dan setelah ibu memberikan Oleh karena itu, perlu dilakukan pemberdayaan kader agar dapat memberikan pendidikan kepada ibu tentang stunting dan pencegahannya. Tujuan: Untuk menambah pengetahuan dan keterampilan kader tentang pencegahan stunting. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Posyandu Cemara Serengan pada bulan September 2022. Ada tahapan yang dilakukan yaitu tahap persiapan diantaranya koordinasi, perencanaan kegiatan, tahap implementasi yaitu sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan kader pencegahan stunting, tahap evaluasi pengetahuan dan keterampilan dengan post test. Hasil dari pengabdian ini terdapat peningkatan pengetahuan dimana sebelum dilakukan pelatihan didapatkan kader yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 16 % kemudian setelah dilakukan pelatihan meningkat menjadi Kesimpulan: Peningkatan kemampuan kader dapat dilihat melalui observasi saat mendampingi kader dalam pencegahan Disarankan agar kader menerapkan ilmu yang didapat dari hasil pelatihan. Pencegahan stunting akan dilakukan dengan meningkatkan kemampuan kader. Abstract: Background: Stunting is caused by a lack of nutritional intake received by the fetus or baby in the womb and in the early days of the child's life. The lack of nutritional intake received by the baby is also caused by the lack of nutritional intake of the mother, knowledge of nutritional health before and during pregnancy and after the mother gives Therefore, it is necessary to empower cadres so that they can provide education to mothers about stunting and its Objective: To increase the knowledge and skills of cadres about stunting prevention. The service activity was carried out at the Posyandu Cemara. Serengan in September There were stages carried out, namely the preparation implementation stage, namely socialization, counseling and training for stunting prevention cadres, knowledge and skills evaluation stage with post test. The result of this service is that there is an increase in knowledge where before the training is obtained cadres who have a good level of knowledge as much as 16% then after training it increases to 60%. Conclusion: The increase in the ability of cadres can be seen through observations when assisting cadres in preventing stunting. It is recommended that cadres apply the knowledge gained from the training results. Stunting prevention will be carried out by increasing the capacity of cadres. PENDAHULUAN Peningkatan derajat kesehatan masyarakat merupakan upaya yang diperlukan dari seluruh lapisan masyarakat. Agar dapat memelihara kesehatan lebih merata maka perlu memperhatikan semua kalangan dalam memelihara kesehatan. Anemia defisiensi besi adalah permasalahan yang terjadi dikalangan masyarakat Indonesia yang bisa terjadi pada kalangan usia baik dari balita sampai lansia. Menurut (RISKESDAS, 2. , menyatakan prevalensi anemia pada wanita berusia lebih dari 15 tahun sebanyak 22,7 %, sedangkan usia ibu hamil sebanyak 37,1 %. Di Indonesia remaja wanita mengalami anemia dikarenakan kurangnya zat besi didalam tubuhnya. Anemia adalah kurangnya hemoglobin atau sel darah merah didalam tubuh seseorang. Padahal sel darah merah begitu penting untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. Penyebab yang sering terjadi pada remaja wanita adalah menstruasi disetiap bulannya yang menyebabkan kehilangan banyak darah selain itu karena konsumsi zat besi yang tidak adekuat. Menurut (Ogbu & Arah, 2. , menyatakan 30% remaja wanita dan ibu hamil yang menderita anemia. Remaja wanita yang sedang mengalami anemia mencapai 29%. Di Indonesia prevalensi anemia usia 5-14 tahun sebanyak 21,7%, pada usia 15-24 tahun sebanyak 18,4%. Sedangakan dilihat dari jenis kelamin paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 22,7% dibandingkan laki-lai sebanyak 12,4% (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2. Kejadian anemia memberikan dampak negatif pada seseorang salah satunya adalah penurunan fungsi kognitif yang menyebabkan keterlambatan informasi serta konsentrasi juga mengalami penurunan. Anemia yang sudah kronis akan memberikan dampak negatif atau serius khususnya pada perempuan karena wanita adalah calon ibu yang nantinya akan melahirkan bayi sehingga bayinya akan berdampak menjadi stunting. BBLR, atau lahir secara premature. Selain itu akan berdampak pada tekanan darah tinggi dan bayi akan berdampak pada kelainan jantung (Muhayati & Ratnawati. Konsumsi tablet tambah darah dan nutrisi pada kelompok usia remaja, menjadi salah satu cara untuk 8 meningkatkan zat besi ketika remaja putri mengalami menstuasi. Selain itu upaya dalam penanggulangan terjadinya anemia pada ibu hamil bisa lebih bermanfaat ketika dilakukan sejak masa usia remaja (Jaelani. Simanjuntak, & Yuliantini. Melihat fenomena tersebut menjadi tugas kita untuk menurunkan angka kejadian stunting yang tujuannya agar tidak berdampak negatif pada ibu hamil ataupun anak remaja (Dewi & Nindya, 2. Maka dari itu diperlukan edukasi untuk mengurangi angka kejadian stunting yaitu salah satunya adalah dengan pemberdayaan kader dengan metode pole play guna mencegah terjadinya stunting. Metode penyuluhan berbentuk permainan gerak yang di dalamnya terdapat sistem, tujuan dan juga melibatkan unsur Dengan menggunakan metode role play diharapkan kader lebih bisa memahami dan bisa membantu dalam menginformasikan kepada masyarakat sehingga sasaran dapat mecegah terjadinya kekurangan zat besi (Losong & Adriani, 2. Berdasarkan data profil kesehatan Puskesmas Serengan Tahun 2022 dan hasil survei di Kelurahan Serengan, terdapat data prevalensi stunting yang masih cukup tinggi, pemahaman kader yang masih kurang optimal, sehingga perlu dilakukan penanganan untuk mencegah kejadian stunting. Salah satu tugas dari posyandu merupakan suatu Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UBM) yang dilaksanakan dari, oleh dengan masyarakat untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu, bayi dan balita. Salah satu permasalahan yang besar adalah kurangnya pengetahuan bagi kader baik dari segi pengetahuan ataupun teknis. Maka dari itu kader perlu mendapatkan tambahan METODE Tujuan melakukan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan ketrampilan serta pengetahuan kader dalam pencegahan stunting secara dini melalui metode role play. Tujuan dari melakukan sosialisasi dan pemberdayaan kader ini yaitu supaya kader mampu membantu dalam memberikan konseling pada ibu yang mempunyai balita. Pemberdayaan kader denga memberikan pelatihan sangat penting sekali karena kader merupakan kunci utama dalam membantu meningkatkan kesehatan Metode yang digunakan dalam meningkatkan pengetahuan tentang stunting adalah metode role play. Adapun tahapan kegiatan dapat dalam Gambar 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan kegiatan sosialisasi dilakukan koordinasi terlebih dahulu dengan bidan desa dan kader untuk menetukan masalah pada balita yang ada di Kelurahan Serengan, dan didapatkan hasil bahwa terdapat masalah yaitu terdapat prevalensi balita stunting yang cukup tinggi mencapai 20 anak yang mengalami stunting pada bulan Agustus 2022. Setelah menemukan masalah dilanjutkan menyusun kegiatan yaitu melakukan sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan terhadap kader terkait pencegahan stunting. Kegaitan ini dilakukan selama satu bulan dari tanggal 1 sampai 30 September 2022 peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak 20 orang kader, pelatihan dilakukan di posyandu Serengan Surakarta. Media yang digunakan dalam pendidikan kesehatan ini adalah lembar balik serta kader diberi pendampingan penyuluhan dengan dbagi menjadi 4 kelompok dan diakhir dilakukan evaluasi dengan 2 peserta kader yang nantinya akan mlakukan konseling dengan metode roleplay. Persiapan harus dilaksanakan dengan baik supaya mendapatkan hasil yang terbaik. Materi yang akan diberikan meliputi pengertian, penyebab dan cara pencegahan stunting. Setelah penyampaian materi kemudian dilanjutkan pendampingan dengan membagi kelompok kader kemudian dilanjutkan dengan kegiatan role play atau latihan peran oleh 2 kader yang ditunjuk untuk melakukan roleplay terkait pencegahan Satu kader bertugas sebagai pemberi konseling satu kader sebagai klien. Tujuan dari pemberdayaan kader dengan metode roleplay yaitu memberikan materi sebagai bekal dalam melakukan konseling dan supaya kader bisa lebih mudah Selain pelatihan kita juga akan melkukan pemeriksaan antropometri pada anak maupun pengukuran, berat bada. LILA, linkar perut dan tinggi badan pada ibu balita. Dokumentasi pada saat melakukan penyuluhan dan pemberdayaan kader ditunjukan pada Gambar 2. Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan dengan memberdayakan kader sebagai konselor, pelatihan ini sangat bermanfaat dilihat dari hasil role play dan tingkat pengetahuan dari pre dan post test. Dimana hasil dari pre dan post test dapat dilihat pada diagram yang ditujukan pada Gambar 3. Post test Kurang Gambar 3. Diagram Hasil Pre Test dan Post Test Tingkat Pengetahuan Kader Dari hasil gambar diagram di atas tingkat pengetahuan kader sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan kader didapatkan hasil prestest dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 5 orang . %) meningkat setelah dilakukan pelatihan dimana dilihat dari hasil post test didapatkan hasil tingkat pengetahuan baik sebanyak 18 orang . %), hal ini dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan pelatihan dengan metode roleplay kader mengalami peningkatan pengetahuan. Evaluasi dari kegiayatan ini yaitu melakukan monitoing evaluasi secara berkala untuk kegiatan selanjutnya. Melakukan monev supaya tetap terkontrol dalam menyampaikan informasi. Hasil dari kegiatan pemberdayaan kader hal ini sesuai dengan teori (Notoatmodjo, 2. , perilaku merupakan respon seseorang setelah menerima Perilaku adalah hasil dar sebuah pengalaman dan hubungan dari manusia dengan lingkungannya. Bentuk perilaku meliputi pengetahuan, sikap atau tindakan (Fitriana, 2. Bentuk perubahan perilaku antara satu orang dengan orang yang lain akan berbeda tergantung pada konsep yang digunakan dalam penyampaian (Saifudin. Seseorang dalam merubah perilaku ada beberapa cara yaitu dengan cara terpaksa yaitu seseorang dapat merubah perilakunya karena menginginkan imbaln baik materi ataupun non materi, dimana acara ini seseorang tersebut melakukan perubahan karena ingin terhindar dari sanksi dan masih bisa menjaga hubungan baik dengan orang Kedua adalah meniru, cara ini dimana seseorang ingin sama dengan orang yang dikagumi. Ketiga yaitu menghayati, cara ini merupakan cara yang alami dalam merubah perilaku, seseorang percaya bahwa perubahan merupakan bagian dari kehidupannya (Trihono et al. , 2. Teknik dalam penyampaian komunikasi dapat dilakukan dengan cara salah satunya dengan metode role play. Metode Role play merupakan metode penyuluhan dengan cara bermain peran (Mutiarasari et al. , 2. Dengan adanya metode ini diharapkan para kader mempunyai rasa semangat dan menumbuhkan rasa kebersamaan melalu pembelajaran yang menyenangkan dan mudah diterima. Setelah dilakukan role play dimana beberapa perwakilan kader dapat bermain peran sebagai kader dan keluarga balita didaptkan hasil bahwa kader dapat melakukan kegiatan konseling dengan baik sesuai dengan pelatihan yang diberikan oleh tim pengabdian. Disini kader dapat menggali masalah yang dialami keluarga dengan cara melakukan edukasi terkait pencegahan stunting. KESIMPULAN Setelah dilakukan pemberdayaan kader posyandu dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan edukasi terhadap pencegahan stunting. Dilihat dari hasil prestest dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 5 orang . %) meningkat setelah dilakukan pelatihan dimana dilihat dari hasil post test didapatkan hasil tingkat pengetahuan baik sebanyak 18 orang . %). DAFTAR PUSTAKA