Jurnal TEKNIK SIPIL TERAPAN http://Jurnal. JTST, 2 . , 2020, 9-20 Memahami Ketahanan Komunitas Berdasarkan Lama Tinggal Penghuni di Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda Sherley Runtunuwu Program Studi D-IV Konstruksi Bangunan Gedung Jurusan Teknik Sipil. Politeknik Negeri Manado e-mail: sherley. runtunuwu@sipil. Abstrak DKI Jakarta merupakan kota yang menghadapi masalah kepadatan jumlah penduduk. Hal tersebut berdampak pada daya dukung lingkungan kehidupan semakin terbatas, sehingga memunculkan permukiman ilegal, daerah-daerah dengan kepadatan tinggi dengan kondisi hunian yang tidak layak, padat dan kumuh. Relokasi ke rumah susun sederhana sewa merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah DKI Jakarta untuk mengurai kepadatan penduduk tersebut. Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda dibangun dengan tujuan untuk mengakomodir kebutuhan tempat tinggal layak bagi warga yang terkena program Namun demikian, setelah relokasi dilakukan kini warga membutuhkan penyesuaian atas beberapa aspek kehidupan di lingkunan baru. Ketahanan komunitas merupakan proses masyarakat beradaptasi secara positif terhadap kesulitan atau risiko. Penelitian ini bertujuan untuk memahami ketahanan komunitas berdasarkan lama tinggal dengan studi pada penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda. Metode yang digunakan untuk menganalisis yaitu dengan uji penyelerasan, uji normalitas, dan uji homogenitas. Responden penelitian adalah penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang merupakan warga relokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 5 hingga 6 tahun memiliki tingkat ketahanan lebih baik dibanding dengan penghuni Rusuawa Marunda yang masih tinggal selama 1 hingga 4 tahun, atau telah tinggal lebih lama dari 6 tahun. Kata kunciAirelokasi. Ketahanan Komunitas, lama tinggal PENDAHULUAN Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus-menerus di daerah perkotaan memungkinkan timbulnya bencana . Di Indonesia. DKI Jakarta merupakan contoh nyata sebuah kota yang menghadapi masalah tersebut. Jumlah penduduk yang terus meningkat dan pemanfaatan lahan untuk permukiman yang tidak terkendali menyebabkan daya dukung lingkungan kehidupan semakin terbatas, sehingga memunculkan permukiman ilegal, daerah-daerah dengan kepadatan Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 tinggi dengan kondisi hunian yang tidak layak, padat dan kumuh. Masyarakat yang berpenghasilan rendah mulai menghadapi tantangan serius terkait dengan penguasaan lahan dan strategi pendapatan mereka, akhirnya ruang menjadi sumber daya yang langka di kota. Pemerintah DKI Jakarta kemudian melakukan penertiban dengan merelokasi masyarakat yang bermukim di lahan ilegal ke rumah susun. Salah satu rumah susun yang menjadi tujuan relokasi adalah Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunaw. Marunda yang terletak di Jakarta Utara. Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memberikan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Beberapa alasan penertiban yang pertama adalah untuk penataan kawasan perkotaan. Kedua, keterbatasan pemerintah dalam menyediakan dana untuk perumahan yang layak, dan ketiga adalah upaya modernisasi Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia . Ada beberapa masalah yang perlu diperhitungkan terkait dengan kebijakan relokasi, seperti adanya perbedaan cara pandang masyarakat terhadap kebijakan relokasi yang menimbulkan penolakkan warga, tipe profesi warga Indonesia yang sebagian besar berkaitan dengan kegiatan usaha kecil/pertukangan, pertanian/agrikultur atau pedagang, sehingga membutuhkan tempat usaha di dalam rumah atau setidaknya berdekatan dengan Setelah direlokasi ke rumah susun sederhana, warga membutuhkan penyesuaian atas beberapa aspek kehidupan di lingkungan baru karena mengalami peristiwa traumatis, sebab sebagian besar warga yang direlokasi telah tinggal belasan bahkan puluhan tahun. Penelitian menunjukkan bahwa perisiwa traumatis seperti relokasi dari tempat asal secara sepihak menimbulkan dampak psikologis yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian . , 4,. Ketahanan komunitas merupakan kemampuan sesuatu, seseorang atau bahkan masyarakat untuk mengatasi kesulitan, untuk pulih dan kembali ke keadaan normal pada waktu yang tepat . Pembentukan ketahanan komunitas merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu, upaya, dan keterlibatan berbagai pihak dalam pengambilan beberapa langkah penting . Gangguan stress pasca trauma dari individu yang mengalami bencana menjadi berkurang seiring dengan berjalannya waktu, dan mengarah pada ketahanan . Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, maka penting untuk memahami ketahanan komunitas berdasarkan lama tinggal dari penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda berdasarkan beberapa aspek, yaitu aspek ekonomi, aspek sosial, aspek budaya, aspek sumber daya manusia, aspek ekologi, aspek fisik, aspek politik dan pemerintah, dan aspek Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 DASAR TEORI Beton Ketahanan komunitas merupakan konsep baru yang melibatkan berbagai disiplin ilmu . Konsep ketahanan komunitas merupakan proses masyarakat beradaptasi secara positif terhadap kesulitan atau risiko . Ketahanan komunitas ditentukan oleh faktor-faktor atau proses-proses fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan . ,13,. , yang bila tidak diperhatikan bisa meningkatkan rawannya sebuah komunitas terhadap dampak bahaya. Disamping itu, ketahanan komunitas juga dapat dibentuk melalui aspek teknologi, dimana teknologi merupakan faktor penting yang dapat berfungsi menggandakan atau mengakumulasi output produksi dari kapital dan sumberdaya manusia, sehingga pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan yang berlipat . Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) memiliki peran penting dan tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, karena TIK telah menjadi bagian yang terintegrasi ke dalam hampir setiap aspek kehidupan . Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa ketahanan masyarakat dapat terbentuk melalui tersedianya akses kepada penguasa politik untuk menyuarakan aspirasinya . ,13,. Selain itu, kemampuan individu dalam mengidentifikasi potensi yang ada dalam komunitasnya dengan pengetahuan dan keterampilan SDM yang ada juga dapat meningkatkan ketahanan . Ketahanan komunitas adalah proses yang berubah melalui waktu. Ketahanan masyarakat bukanlah sebuah kondisi natural individu, melainkan sebuah proses yang diciptakan. Dimana proses tersebut tidak hanya mengidentifikasi faktor-faktor pelindung saja, namun juga mencakup pembentukan optimisme pada individu, pengurangan dampak faktor risiko, dan memutus siklus negatif sehingga membuka peluang baru bagi individu. Ketahanan dapat terbentuk ketika warga dapat mengidentifikasi aspek yang membuatnya merasa terlindungi, dan juga mampu untuk bersikap positif atas kepindahanannya ke tempat baru. Disamping itu, pihak pemerintah diharapkan juga berperan dalam mengurangi faktor risiko dan memutus siklus negatif seperti banjir dan penggunaan lahan terbuka hijau sebagai hunian illegal. Sehingga warga dapat lebih mengembangkan dirinya tanpa harus dibebani dengan masalah-masalah yang terjadi sebelumnya. Untuk mencapai pada kondisi bertahan, maka dibutuhkan waktu dan proses . Pembentukan ketahanan merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu, upaya, dan keterlibatan pihak dalam pengambilan beberapa langkah penting . Gangguan stress pasca trauma dari individu yang mengalami bencana menjadi berkurang seiring dengan berjalannya waktu, dan mengarah pada ketahanan . Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Revocery . merupakan bagian ketahanan itu sendiri, baik itu terjadi dalam waktu singkat maupun dalam waktu yang lebih lama. Ketahanan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu titik waktu saja, melainkan dari bagaimana individu tersebut dapat tetap menjalankan perannya seperti sedia kala dan tetap berada dalam kondisi emosi yang positif dari waktu ke waktu . METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Peneliti juga melakukan beberapa wawancara secara mendalam terhadap responden dengan tujuan supaya dapat menangkap aspek-aspek struktural dan kognitif penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda secara lebih mendalam. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan Populasi penelitian ini adalah penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda. Sampel penelitian diperoleh dengan menggunakan teknik stratified random sampling di setiap lantai gedung pada setiap klaster Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda sebanyak 265 orang Teknik analisis yang digunakan adalah uji penyelarasan. Sebelum dilakukan uji penyelarasan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data dan uji homogenitas data. Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal. Uji homogenitas data bertujuan untuk mengetahui apakah 2 atau lebih kelompok data memiliki varian yang sama/homogen atau tidak memiliki varian yang sama/tidak Hasil uji normalitas dan homogenitas digunakan untuk menentukan apakah pengujian penyelarasan dilakukan dengan menggunakan metode parametrik atau dengan metode nonparametrik. Jika hasil uji normalitas dan homogenitas tidak dilanggar . ata berdistribusi normal pada masing-masing kelompok data dan homoge. maka pengujian selanjutnya dilakukan dengan metode parametric yaitu dengan menggunakan independent t-test . ji t sampel tidak Namun, jika hasil uji normalitas dan homogenitas dilanggar . erdapat kelompok data yang tidak berdistribusi normal dan tidak homoge. maka pengujian selanjutnya dilakukan dengan metode non-parametric yaitu dengan menggunakan uji mann-whitney. Uji normalitas yang digunakan adalah metode Shapiro-wilk . < . dan Kolmogorovsmirnov . > . Data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai p-value lebih besar dari 5% atau lebih besar dari 0,05. Uji homogenitas yang digunakan adalah metode Levene Statistic. Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Data dikatakan homogen apabila nilai p-value lebih besar dari 5% atau lebih besar dari 0,05. Selanjutnya dilakukan uji penyelarasan dengan bantuan aplikasi Program SPSS versi 25. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, diketahui bahwa lama tinggal penghuni di Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda berada pada rentang 1 hingga 11 tahun. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Aspek/Variabel p-value Keterangan Ketahanan komunitas 1 tahun 0,001 Tidak berdistribusi normal Ketahanan komunitas 2 tahun 0,981 Berdistribusi normal Ketahanan komunitas 3 tahun 0,953 Berdistribusi normal Ketahanan komunitas 4 tahun 0,002 Tidak berdistribusi normal Ketahanan komunitas 5 tahun 0,200 Berdistribusi normal Ketahanan komunitas 6 tahun 0,519 Berdistribusi normal Ketahanan komunitas 7 tahun 0,760 Berdistribusi normal Ketahanan komunitas 8 tahun 0,560 Berdistribusi normal Ketahanan komunitas 9 tahun 0,364 Berdistribusi normal Ketahanan komunitas 10 tahun 0,122 Berdistribusi normal Ketahanan komunitas 11 tahun 0,000 Tidak berdistribusi normal Jumlah Terdapat tiga data yang nilai p-value lebih kecil dari 0,05, yaitu data ketahanan komunitas . , ketahanan komunitas . , dan ketahanan komunitas . Artinya, data ketahanan komunitas . , ketahanan komunitas . , dan ketahanan komunitas . tidak berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas menjelaskan bahwa data dari penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda terdapat beberapa data yang nilai p-value berada dibawah atau lebih kecil dari 5% atau 0,05 yang artinya tidak homogen. Adapun kelompok data tersebut adalah antara penghuni yang tinggal selama 3 tahun dengan 4 tahun, penghuni yang telah tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda selama 4 tahun dengan 5 tahun, dan penghuni yang telah tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda selama 4 tahun dengan yang telah tinggal Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 selama 7 tahun. Di luar data tersebut memiliki nilai p-value yang lebih besar dari 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar data penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda memiliki varian yang sama atau homogen. Setelah melakukan uji homogenitas, selanjutnya adalah melakukan uji penyelarasan. Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 1 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa hanya terdapat dua perbandingan yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan yaitu ketahanan komunitas 1 tahun - ketahanan komunitas 5 tahun dan ketahanan komunitas 1 tahun - ketahanan komunitas 6 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan komunitas tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa selama 1 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 5 tahun dan ketahanan komunitas tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa selama 1 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa selama 6 tahun. Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 2 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa terdapat empat perbandingan yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan yaitu ketahanan komunitas 2 tahun - ketahanan komunitas 4 tahun, ketahanan komunitas 2 tahun - ketahanan komunitas 5 tahun, ketahanan komunitas 2 tahun - ketahanan komunitas 6 tahun dan ketahanan komunitas 2 tahun - ketahanan komunitas 7 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 2 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 4 tahun, ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 2 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 5 tahun, ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 2 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rusun selama 6 tahun, dan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 2 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 7 tahun. Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 3 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa hanya terdapat dua yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan yaitu ketahanan komunitas 3 tahun - ketahanan komunitas 5 tahun dan ketahanan komunitas 3 tahun - ketahanan komunitas 6 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 3 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 5 tahun, dan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 3 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 6 tahun Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 4 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun, diketahui bahwa hanya terdapat satu perbandingan yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan yaitu ketahanan komunitas . Tahu. - ketahanan komunitas . Tahu. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 4 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 6 tahun. Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 5 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa hanya terdapat satu perbandingan yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan yaitu ketahanan komunitas 5 tahun - ketahanan komunitas 6 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 4 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 6 tahun. Tabel 2. Hasil Uji Penyelarasan 6 Tahun Sampai 11 Tahun Aspek/Variabel Uji p-value Keputusan Keterangan Ketahanan komunitas 6 Independent 0,336 H0 diterima Tidak terdapat tahun - Ketahanan t-test perbedaan yang komunitas 7 tahun Ketahanan komunitas 6 Independent 0,019 tahun - Ketahanan t-test H0 ditolak Terdapat perbedaan yang komunitas 8 tahun Ketahanan komunitas 6 Independent tahun - Ketahanan t-test 0,158 H0 diterima Tidak terdapat perbedaan yang komunitas 9 tahun Ketahanan komunitas 6 Independent tahun - Ketahanan t-test 0,066 H0 diterima Tidak terdapat perbedaan yang komunitas 10 tahun Ketahanan komunitas 6 Mann- tahun - Ketahanan komunitas 11 tahun 0,500 H0 diterima Tidak terdapat perbedaan yang Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 6 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa hanya terdapat satu perbandingan yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan yaitu ketahanan komunitas 6 tahun - ketahanan komunitas 8 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 6 tahun berbeda signifikan dengan ketahanan komunitas tinggal di rumah susun selama 8 tahun. Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 7 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa seluruh nilai p-value yang lebih besar dari 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh data memiliki varian yang sama atau homogen. Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 8 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa seluruh nilai p-value yang lebih besar dari 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh data memiliki varian yang sama atau homogen. Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 9 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa seluruh nilai p-value yang lebih besar dari 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh data memiliki varian yang sama atau homogen. Hasil uji penyelarasan untuk responden penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda yang telah tinggal selama 10 tahun dibanding yang telah tinggal selama 2 tahun hingga 11 tahun diketahui bahwa tidak terdapat perbandingan yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan. Artinya ketahanan komunitas antara tinggal di rumah susun selama 10 tahun dan 11 tahun tidak berbeda signifikan. Berdasarkan hasil keseluruhan analisis penyelarasan, diketahui bahwa responden dengan lama tinggal 5 tahun dan 6 tahun yang memiliki perbedaan signifikan dibandingkan responden yang telah tinggal sebelum 5 tahun dan setelah 6 tahun. Dengan demikian dapat dipahami bahwa lama tinggal selama 5 sampai 6 tahun dapat membentuk tingkat ketahanan lebih baik daripada penghuni yang tinggal sebelum atau lebih dari 5-6 tahun. Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Tabel 3. Rekapitulasi Penyelarasan Ketahanan Komunitas Penghuni Rumah Susun Marunda Beradasarkan Lama Tinggal Lama tinggal di rumah susun En En En En En En En En En En En . Keterangan: En = Terdapat perbedaan signifikan X = Tidak terdapat perbedaan signifikan Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa aspek ekologi, sosial, dan budaya merupakan aspek yang paling dominan membentuk ketahanan responden di Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda. Sehingga dapat dipahami bahwa pihak pengelola juga memiliki upaya untuk membentuk ketahanan warga, dimana penyediaan air bersih yang lancar, merata, dan berkualitas menjadi pembeda antara tempat tinggal sebelumnya dengan tempat tinggal yang sekarang. Di samping itu, adanya kedekatan sosial dan budaya antar responden, yang memiliki latar belakang sama sehingga pembentukan ikatan sosial sesama responden tidak menghadapi kendala. Hal tersebut juga diungkapkan oleh penjelasan beberapa responden dan pihak pengelola Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda bahwa karena warga Marunda memiliki latar belakang sosial dan ekonomi yang sama, sehingga tidak ada sekat bagi individu untuk bergaul dan bersosialisasi. Selain itu, adanya perubahan tingkat perekonomian dari awal ketika responden bertempat tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda juga memberi peluang bagi responden untuk merasa lebih optimis, dan membentuk ketahanan. Namun demikian, bagi warga yang mendiami Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda di atas 6 tahun justru menjadi rentan dan tidak memiliki ketahanan kembali. Ketahanan Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 komunitas tidak ditentukan oleh lama tidaknya individu berada pada situasi pasca peristiwa traumatis, dalam hal ini adalah relokasi dari tempat sebelumnya ke Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda. Ketahanan dapat terbentuk bila adanya peningkatan kesejahteraan. Beberapa responden menjelaskan bahwa walau telah melakukan usaha yang sama seperti yang dilakukan di tempat tinggal sebelumnya, tetapi tidak memberi hasil yang sama. Responden merasa pesimis terhadap masa depannya. Ketahanan komunitas tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu titik waktu saja, melainkan dari bagaimana individu tersebut dapat tetap menjalankan perannya seperti sedia kala dan tetap berada dalam kondisi emosi yang positif dari waktu ke KESIMPULAN Penelitian bertujuan untuk memahami ketahanan komunitas berdasarkan lama tinggal dengan studi pada penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda berdasarkan aspek ekonomi, sosial, budaya, sumberdaya manusia, ekologi, fisik, politik, dan teknologi. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat dipahami bahwa ketahanan komunitas penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Marunda dapat terbentuk selama 5 hingga 6 tahun setelah relokasi berdasarkan lama tinggal selama 5 sampai 6 tahun. Atau dengan kata lain bahwa penghuni Rusunawa Marunda yang telah tinggal selama 5 hingga 6 tahun memiliki tingkat ketahanan lebih baik dibanding dengan penghuni Rusuawa Marunda yang masih tinggal selama 1 hingga 4 tahun, atau telah tinggal lebih lama dari 6 tahun. SARAN Seiring dengan perkembangan pembangunan rumah susun terutama di daerah perkotaan, maka ketahanan komunitas menjadi sesuatu yang penting dan menarik untuk Hal ini disebabkan oleh semakin efisien dan efektifnya situasi rumah susun akan semakin menjadikan penghuninya dapat bertahan hidup atau tetap memilih tinggal di rumah Untuk itu, aspek yang mempengaruhi ketahanan komunitas bukan hanya pada aspek fisiknya saja tetapi harus melibatkan berbagai aspek seperti ekologi, sosial, budaya, ekonomi, politik dan pemerintah, teknologi dan suber daya manusia. Untuk itu perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam lagi dengan memperhatikan latar belakang penghuni rumah susun dan bagaimana usaha untuk meningkatkan kesejahteraan penghuni rumah susun. Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh responden yang telah turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Terima kasih juga kepada Pimpinan Politeknik Negeri Manado dan Pimpinan Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Manado yang telah memberikan kesempatan sehingga penelitian ini boleh dilakukan. DAFTAR PUSTAKA