Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan Volume 12 No. April 2021 ISSN:2086-3861 E-ISSN: 2503-2283 Keterkaitan Hubungan Parameter Kualitas Air Pada Budidaya Intensif Udang Putih (Litopenaeus vanname. The Relationship Between of Water Quality Parameters in Intensive Aquaculture of White Shrimp (Litopenaeus vanname. Heri Ariadi. Abdul Wafi. Muhammad Musa. , dan Supriatna. Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan. Universitas Pekalongan. Pekalongan. Departemen Akuakultur. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Ibrahimy. Situbondo. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Brawijaya. Malang. Penulis korespondensi : email : ariadi_heri@yahoo. (Diterima Juni 2020/ Disetujui Maret 2. ABSTRACT Water quality parameters play an important role in intensive pond ecosystems. The purpose of this study was to determine the relationship between of water quality parameters in intensive shrimp farming of L. This research was carried out for 95 days of intensive shrimp farming in PT. Menjangan Mas Nusantara Company. Banten, with the physical, chemical, and microbiological parameters of water as the main reference object of observation. The results showed that during the shrimp culture period the pond water quality parameter concentration was considered to be quite optimal with a stable fluctuation trend, except for the salinity and TOM parameters whose values were above the water quality standard. Correlation test results state that between the physical chemical parameters have a strong and heterogeneous relationship, with the strongest parameters of pH, phosphate, nitrite, and TOM. As for the microbiological variables, the correlation of physical chemistry parameters of water is considered to be very weak, because from the correlation test results, only DO parameters showed the correlation with microbiological The conclusion of this study, that during intensive shrimp culture period, the physical and chemical parameters of water have a strong correlation of association between one another and the highest are pH, phosphate, nitrite, and TOM, but only dissolved oxygen parameters that show the relationship correlation with microbiological parameters. Keywords: Water quality, intensive ponds. Litopenaeus vannamei, white shrimp. ABSTRAK Parameter kualitas air memainkan peran penting dalam ekosistem tambak intensif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan keterkaitan antar parameter kualitas air pada tambak budidaya intensif udang putih (L. Penelitian ini dilaksanakan selama 95 hari masa budidaya udang intensif di PT. Menjangan Mas Nusantara. Banten, dengan parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi air sebagai obyek acuan utama pengamatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa selama masa budidaya berlangsung konsentrasi parameter kualitas air tambak dinilai cukup optimal dengan trend fluktuasi yang stabil, kecuali parameter salinitas dan TOM yang nilainya berada diatas ambang batas baku mutu. Hasil uji korelasi menyebutkan bahwa antar parameter fisika kimia memiliki keterkaitan yang kuat dan heterogen, dengan parameter pH, fosfat, nitrit, dan TOM yang terkuat. Sedangkan terhadap variabel mikrobiologi, korelasi parameter fisika kimia air dinilai sangat lemah, karena dari hasil uji korelasi, hanya parameter DO yang menunjukan korelasi terhadap parameter mikrobiologi. Kesimpulan dari penelitian ini, bahwa selama masa budidaya udang intensif berlangsung, nilai parameter fisika kimia air memiliki tingkat To Cite this Paper: Ariadi. Wafi. Musa. Supriatna. Keterkaitan Hubungan Parameter Kualitas Air Pada Budidaya Intensif Udang Putih (Litopenaeus vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 18-27. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI keterkaitan yang kuat antara satu sama lain dengan yang paling tinggi adalah pH, fosfat, nitrit, dan TOM, tetapi hanya parameter oksigen terlarut saja yang menunjukan keterkaitan korelasi terhadap parameter mikrobiologi. Kata kunci: Kualitas air,budidaya intensif. Litopenaeus vannamei, udang putih PENDAHULUAN Udang putih (L. adalah salah satu komoditas budidaya perikanan dengan tingkat produksi terbesar di dunia (Suantika et al, 2. Sebagai negara beriklim tropis, udang putih (L. banyak dibudidayakan di Indonesia sepanjang tahun dengan sistem intensif ataupun semi intensif. Budidaya intensif dicirikan dengan padat tebar tinggi, penggunaan pakan buatan, sarana prasarana budidaya yang lebih komplit, serta manajemen budidaya yang lebih modern (Romadhona et al, 2016. Ahmed et al, 2. Keberhasilan produksi budidaya udang intensif, sangat ditentukan oleh faktor lingkungan, inang . , dan sebaran patogen (Van Thuong et al. Ponce-Palafox et al, 2. Faktor lingkungan dalam budidaya adalah nilai kapasitas parameter fisika, kimia, dan biologi perairan atau yang disebut juga dengan parameter kualitas air (Boyd dan Tucker, 1. Parameter kualitas air dalam ekosistem tambak, memainkan peranan penting terhadap tingkat produktifitas budidaya (Boyd, 1. Keadaan kualitas air tambak akan berperan terhadap kondisi dan performa udang yang dibudidayakan (Fakhri et al, 2015. Gao et al, 2. kualitas air yang fluktuatif akan membuat udang mudah mengalami stress akibat kondisi yang abnormal (Su et al, 2010. Vieira-Girao et al. Ariadi et al, 2. Udang yang stress sangat mudah terserang penyakit dan mati, sehingga tingkat mortalitas budidaya akan semakin meningkat (Jiang et al, 2005. Edhy et al, 2. Fluktuasi parameter kualitas air yang dinamis, salah satunya dipengaruhi oleh faktor input dan limbah budidaya. Limbah dari input budidaya akan semakin meningkat seiring bertambahnya biomassa udang dan umur budidaya udang (Culberson and Piedrahita, 1996. Brown et al, 2. Sehingga, untuk melewati siklus budidaya udang yang diinginkan. Maka pembudidaya harus memahami dinamika fluktuasi kualitas air, serta rutin untuk melakukan kontrol terhadap kondisi parameter kualitas air di tambak (Edhy et al, 2. Berdasarkan uraian diatas, adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan keterkaitan antar parameter kualitas air pada tambak budidaya intensif udang putih (L. MATERI DAN METODE Penelian ini dilaksanakan pada bulan juli-oktober 2015 atau selama satu siklus pemeliharaan budidaya intensif udang putih (L. di PT. MENJANGAN MAS NUSANTARA, Pandeglang. Banten. Parameter kualitas air diamati pada 4 kolam budidaya ukuran 3. 200 m2 dengan pengunaan kincir air sebanyak 16 HP dan densitas tebar 110 ekor/m2. Kincir air dinyalakan 12 HP pada 30 hari pertama budidaya, serta 16 HP mulai umur 30 hari sampai panen. Variasi penggunaan kincir air didasarkan pada daya dukung biomassa udang dan beban limbah budidaya yang ada pada ekosistem tambak intensif (Hopkins et al, 1. Adapun data kualitas air yang diamati adalah parameter pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), kecerahan, suhu yang dilakukan pengamatan setiap hari pada waktu pagi dan sore. Selain itu juga dilakukan pengamatan parameter alkalinitas, fosfat, nitrit. Total Amonia Nitrogen (TAN). Total Organic Matter (TOM), total bakteri vibrio (TVC), dan total kelimpahan bakteri (TBC) yang dilakukan pengamatan setiap satu minggu sekali pada siang hari. Kemudian, sampel air pengamatan dilakukan analisa di Laboratorium Kualitas Air PT. MENJANGAN MAS NUSANTARA. Banten, dengan alat dan metode analisa penelitian yang disebutkan pada Tabel 1. Metode analisa penelitian paramater fisika dan kimia air mengacu pada standar metode APHA, . Sedangkan analisa mikrobiologi, untuk parameter Total Vibrio Count (TVC) dan Total Bacteria Count (TBC) menggunakan teknik planting jumlah coloni bakteri yang berpedoman sesuai metode Prescott et al, . To Cite this Paper: Ariadi. Wafi. Musa. Supriatna. Keterkaitan Hubungan Parameter Kualitas Air Pada Budidaya Intensif Udang Putih (Litopenaeus vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 18-27. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Selanjutnya data hasil dari analisa laboratorium dikumpulkan per satuan waktu, sesuai dengan jadwal pengamatan. Berikutnya, untuk mengetahui hubungan keterkaitan antar parameter kualitas air, maka dilakukan uji korelasi dengan bantuan software SPSS ver. Tabel 1. Parameter Kualitas Air dan Metode Pengukurannya. No. Parameter kualitas air Salinitas Oksigen terlarut Kecerahan Suhu Alkalinitas Fosfat Nitrit Total Amonia Nitrogen (TAN) Total Organic Matter (TOM) Total Vibrio Count (TVC) Total Bacteria Count (TBC) Satuan Alat/Metode CFU/ml CFU/ml pH meter Refraktometer DO meter Secchi disk Thermometer HG Titrimetri Spectrophotometry Spectrophotometry Spectrophotometry Titrimetri Prescott et al, . Prescott et al, . HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai Parameter Kualitas Air Tambak Konsentrasi masing-masing parameter kualitas air dapat dilihat pada Tabel 2. Nilai parameter kualitas air tambak mayoritas masih sesuai dengan ambang batas untuk budidaya udang putih. Yaitu, pH 7. 5, oksigen terlarut >4 mg/L, kecerahan 30-40 cm, suhu 26-320C, alkalinitas 90-250 mg/L, fosfat 0. 2 mg/L, nitrit <0. 23 mg/L. TAN <0. 1 mg/L, dan perbandingan vibrio terhadap kelimpahan total bakteri <2% (Edhy et al, 2. Kecuali untuk parameter salinitas dan Total Organic Matter yang berada diatas ambang batas. Nilai salinitas yang baik untuk budidaya udang putih berkisar antara 5-35 ppt dan konsentrasi Total Organic Matter yang dianjurkan untuk budidaya intensif adalah <80 mg/L (Edhy et al, 2010. Murdjani et al, 2. Tabel 2. Nilai Rata-rata Parameter Kualitas Air Tambak Selama Siklus Budidaya. Parameter Kualitas air Salinitas . DO . g/L) Kecerahan . Suhu . C) Alkalinitas . g/L) Fosfat . g/L) Nitrit . g/L) TAN . g/L) TOM . g/L) Total Vibrio Count Kolam 1A0. 36A0. 34A0. 35A16. 33A0. 157A13. 660A0. 312A0. 061A0. 80A9. 00E 022. 23E 03 1A0. 36A0. 28A0. 40A18. 43A0. 156A15. 661A0. 400A0. 070A0. 03A8. 00E 013. 01E 03 1A0. 36A0. 33A0. 37A19. 47A0. 160A11. 652A0. 316A0. 079A0. 104A9. 90E 022. 17E 03 1A0. 36A0. 34A0. 35A16. 38A0. 163A7. 621A0. 358A0. 060A0. 95A7. 00E 001. 96E 03 To Cite this Paper: Ariadi. Wafi. Musa. Supriatna. Keterkaitan Hubungan Parameter Kualitas Air Pada Budidaya Intensif Udang Putih (Litopenaeus vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 18-27. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI (CFU/m. Total Bacteria Count (CFU/m. 11E 03A554. 10E 043. 65e 05A102. 65E 02A726. 90E 045. 93E 05 77E 05A143. 46E 02A530. 00E 046. 29E 05 99E 05A172. 94E 02A550. 00E 045. 73E 05 36E 05A189. *Note : DO = oksigen terlarut. TAN = Total Amonia Nitrogen. TOM = Total Organic Matter Nilai salinitas yang tinggi, disebabkan karena periode budidaya berlangsung selama musim panas, serta pada tambak budidaya jarang dilakukan aktifitas sirkulasi pergantian air. Nilai salinitas yg hypersaline disebabkan oleh tingginya tingkat evaporasi air karena suhu tinggi yang dibarengi dengan rendahnya tingkat percampuran . dari air baru (Effendi, 2003. Supono. Sedangkan kadar bahan organik di tambak yang tinggi selain dikarenakan oleh rendahnya aktifitas siphon atau buang lumpur, juga disebabkan oleh semakin intensifnya input budidaya yang diberikan mengikuti pertambahan umur dan biomassa udang (Herbeck et al, 2013. Wulandari et al, 2015. Kamal et al, 2. Kadar salinitas yang cukup hypersaline diduga berpengaruh buruk terhadap tingkat asimilasi pakan dan sistem osmoregulasi udang (Su et al, 2010. Supono, 2. Sementara, untuk kadar bahan organik yang terlalu tinggi, akan berdampak pada penurunan daya dukung oksigen akibat proses dekomposisi yang semakin intens (Boyd, 1. Selain itu, kadar bahan organik yang tinggi juga diyakini akan mendukung peningkatan kelimpahan bakteri patogen di tambak (Alfiansah et al, 2. Bakteri patogen seperti Vibrio sp. akan tumbuh melimpah pada perairan tambak yang memiliki akumulasi kadar bahan organik >90 mg/L (Ariadi et al, 2. Sehingga, untuk parameter kadar bahan organik perlu untuk dijaga kuantitas dan konsentrasinya supaya tetap berada pada nilai ambang batas baku mutu air untuk budidaya udang. Keterkaitan Parameter Kualitas Air Selama 95 hari masa budidaya intensif udang putih berlangsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi terjadi keterkaitan antara satu sama lainnya (Tabel 3. Kualitas air, adalah faktor dinamis yang dapat memacu keberhasilan budidaya udang (Sahrijanna et al, 2. Berdasarkan data hasil uji korelasi (Tabel 3. ), terlihat bahwa dari semua parameter kualitas air di tambak, terdeteksi bahwa parameter pH, fosfat, nitrit, dan Total Organic Matter memiliki tingkat keeratan hubungan dengan parameter lain paling tinggi dibandingkan parameter lainnya. Nilai konsentrasi pH terkait dengan parameter salinitas, kecerahan, suhu, nitrit, dan bahan organik. Nilai pH memiliki hubungan kontras dengan kecerahan, artinya apabila air tambak semakin pekan, maka nilai pH akan semakin basa. Parameter Fosfat memiliki keterkaitan terhadap parameter oksigen terlarut, kecerahan, alkalinitas, nitrit, dan bahan organik. Dalam ekosistem perairan sendiri, fosfat bertindak sebagai faktor pembatas produktifitas perairan (Egna dan Boyd, 1. Parameter nitrit dideskripsikan memiliki keterkaitan korelasi terhadap pH, salinitas, kecerahan, fosfat. TAN, dan bahan organik (Tabel 3. Dari keenam parameter tersebut, nitrit berkorelasi negatif dengan kecerahan, artinya apabila tingkat kecerahan air tambak semakin pekat, maka konsentrasi nitrit akan semakin meningkat. Kelarutan konsentrasi nitrit yang tinggi di tambak, disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah input pakan dan pemupukan yang berakibat pada penumpukan bahan organik serta kepekatan air (Boyd dan Tucker, 1. Sedangkan parameter bahan organik (TOM) memiliki korelasi dengan parameter pH, salinitas, kecerahan, fosfat, dan TOM memiliki korelasi negatif terhadap nilai kecerahan, artinya semakin pekat air tambak maka akan semakin tinggi konsentrasi bahan organik di perairan tambak. Sumber bahan organik (TOM) di tambak berasal dari akumulasi partikel organisme hidup, detritus, feces, lumpur dan limbah pakan yang membentuk kekeruhan pada perairan ( Boyd, 2000. Schober et al, 2. Selain itu, terlihat bahwa semua parameter fisika kimia air memiliki tingkat keterkaitan yang heterogen antara satu sama lainnya, sedangkan dengan parameter mikrobiologi tidak memiliki keterkaitan, kecuali parameter oksigen terlarut. Parameter oksigen terlarut dideskripsikan memiliki hubungan negatif dengan total kelimpahan bakteri, artinya setiap terjadi kenaikan kelimpahan bakteri maka akan terjadi penurunan konsentrasi oksigen (Tabel 3. Semakin melimpahnya bakteri di tambak, maka akan semakin intens proses dekomposisi dan mineralisasi berlangsung. To Cite this Paper: Ariadi. Wafi. Musa. Supriatna. Keterkaitan Hubungan Parameter Kualitas Air Pada Budidaya Intensif Udang Putih (Litopenaeus vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 18-27. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI sehingga akan berdampak terhadap tingkat kebutuhan oksigen di perairan yang defisit (Madenjian et al, 1987. Boyd, 1995. Gunarto, 2. Tingkat konsumsi oksigen ini akan membuat akumulasi kadar kelarutan oksigen total di tambak udang akan berfluktuasi secara dinamis setiap waktunya (Ariadi et al, 2. To Cite this Paper: Ariadi. Wafi. Musa. Supriatna. Keterkaitan Hubungan Parameter Kualitas Air Pada Budidaya Intensif Udang Putih (Litopenaeus vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 18-27. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Tabel 3. Hasil Uji Korelasi Keterkaitan Antar Variabel Kualitas Air. Pearson Correlation Test Sig. -taile. Sig. -taile. oksigen terlarut Sig. -taile. Sig. -taile. 610AoAo 378AoAo 610AoAo TAN TOM TVC TBC 378AoAo 304Ao 358AoAo 526AoAo 325Ao 469AoAo 397AoAo 336Ao 358AoAo 526AoAo 397AoAo 293Ao 293Ao 458AoAo 458AoAo 357AoAo 507AoAo 357AoAo 507AoAo 416AoAo 343AoAo 583AoAo 448AoAo 531Ao Ao Sig. -taile. Sig. -taile. Sig. -taile. Sig. -taile. 304Ao 325Ao 469AoAo Total Amonia Nitrogen Sig. -taile. Total Organic Matter Sig. -taile. Total Vibrio Count Sig. -taile. Total Bacteria Count Sig. -taile. 416AoAo 343AoAo 336Ao 583AoAo 448AoAo 531AoAo Note : *. emiliki korelasi dengan taraf signifikansi 5%), **. emiliki korelasi dengan taraf signifikansi 1%) To Cite this Paper: Ariadi. Wafi. Musa. Supriatna. Keterkaitan Hubungan Parameter Kualitas Air Pada Budidaya Intensif Udang Putih (Litopenaeus vanname. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 12 . : 18-27. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Fluktuasi Konsentrasi pH. Fosfat. Nitrit, dan Bahan Organik Tambak Dinamika fluktuasi konsentrasi pH, fosfat, nitrit, dan bahan organik di tambak selama siklus budidaya berlangsung dapat dilihat pada (Gambar 1. ) dan (Gambar 2. Berdasarkan kedua grafik tersebut, antara pH dan bahan organik sepanjang siklus budidaya berlangsung memiliki trend dinamika yang mirip, hal ini serupa dengan hasil uji korelasi yang menunjukan bahwa antara pH dengan TOM memiliki korelasi positif (Tabel 3. Dapat ditelisik bahwa intensitas dekomposisi bahan organik di tambak, selain oksigen juga sangat dipengaruhi oleh kondisi asam basa perairan (Edhy et al, 2. Sementara fluktuasi konsentrasi fosfat dan nitrit selama masa budidaya berlangsung juga memiliki trend yang serupa. Kondisi tersebut, diperkuat oleh hasil uji korelasi bahwa kedua parameter tersebut memiliki korelasi positif sepanjang siklus budidaya (Tabel 3. Sumber konsentrasi fosfat dan nitrit di tambak berasal dari banyaknya limbah pakan, udang mati, cangkang moulting, dan partikel organik terlarut lainnya (Montoya et al, 2000. Dwitasari dan Mulasari, 2. Gambar 1. Trend pH dan TOM di tambak Gambar 2. Trend fosfat dan nitrit di tambak Secara keseluruhan, dari berbagai deskripsi data penelitian, dapat dijelaskan bahwa, kondisi parameter kualitas air yang stabil akan sangat menentukan kondisi budidaya yang optimal. Hal ini dapat dilihat dari umur budidaya yang panjang . dan minimnya kelimpahan bakteri vibrio sebagai patogen (<2% dari total bakter. Fluktuasi kualitas air yang optimum dan stabil memiliki implikasi dampak yang sangat luas dalam sistem budidaya intensif (Abedin et al, 2. Nilai uji korelasi parameter kualitas air, menunjukan setiap parameter memiliki keterkaitan yang kuat antara parameter fisika dan kimia, dan lemah terhadap parameter mikrobiologi . ecuali oksigen Kondisi tersebut, menggambarkan bahwa dalam ekosistem tambak, air bersifat dinamis (Effendi, 2003. Supono, 2. Selanjutnya kenapa hanya oksigen terlarut yang memiliki korelasi terhadap parameter mikrobiologi, karena oksigen adalah sumber utama proses perombakan material organik oleh bakteri (Effendi, 2. Oksigen adalah parameter lingkungan dengan prosentase terpenting bagi ekosistem mikrobiologi untuk proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik tambak (Lemonnier et al, 2016. Cao et al, 2. KESIMPULAN Selama masa budidaya udang intensif berlangsung, nilai parameter fisika kimia air memiliki tingkat keterkaitan yang kuat antara satu sama lain dengan yang paling tinggi adalah pH, fosfat, nitrit, dan TOM, tetapi hanya parameter oksigen terlarut saja yang menunjukan keterkaitan korelasi terhadap parameter mikrobiologi. SARAN