Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 Kompetensi Universitas Balikpapan PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE BERBANTUAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL TERHADAP HASIL DAN KEAKTIFAN BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS Vi PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI (PAI-BP) DI SMPN 27 PADANG Nailus SaAoadah1. Hidayati2. Rozi Fitriza3 Pascasarjana Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang 1,2,3 po-sel: 2420010040@uinib. id1, hidayati@uinib. rozifitriza@uinib. ABSTRAK Model pembelajaran Kooperatif tipe scramble berbantuan media pembelajaran audio visual memiliki peran penting untuk meningkatkan hasil dan keaktifan belajar peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk . Menganalisis peningkatan hasil belajar antara kelas eksperimen dan . Mengetahui peningkatan keaktifan belajar antara kelas eksperimen dan kontrol. Mengetahui perbedaan hasil dan keaktifan belajar kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, dengan desain yang diterapkan adalah Pretest-Postest Control Group Design, penelitian ini menggali data melalui Tes . untuk menghitung hasil belajar dan angket . untuk keaktifan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh dari diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe scramble berbantuan media pembelajaran audio visual terhadap hasil dan keaktifan belajar peserta didik. Hal ini didapatkan dari data peningkatan nilai rata-rata hasil dan keaktifan belajar kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe scramble berbantuan media pembelajaran audio visual efektif digunakan untuk meningkatkan hasil dan keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI-BP di SMPN 27 Padang. Kata Kunci: Model Scramble Berbantuan Audio Visual. Hasil Belajar. Keaktifan Belajar. PAI BP. SMPN 27 Padang. ABSTRACT The scramble-type cooperative learning model, supported by audiovisual learning media, plays an important role in improving studentsAo learning outcomes and engagement. This study aims to: Analyze the improvement in learning outcomes between the experimental and control classes. Determine the increase in learning engagement between the experimental and control classes. Determine whether the experimental classAos learning outcomes and engagement are higher than those of the control class. The method used was a quantitative approach, employing a pretest-posttest control group design. This study collected data through tests . to measure learning outcomes and questionnaires to assess student engagement. The results of the study indicate that the implementation of the scramble-type cooperative learning model, supported by audiovisual learning media, has an effect on studentsAo learning outcomes and This conclusion is based on data showing that the experimental class achieved higher average test scores and greater learning engagement than the control class. Thus, the scramble-type cooperative learning model supported by audiovisual learning media is effective in improving studentsAo test scores and learning engagement in the PAI-BP subject at SMPN 27 Padang. Keywords: Audio-Visual Scramble Model. Learning Outcomes. Active Learning. PAI-BP. SMPN 27 Padang. Vol. No. Juni 2026 Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 PENDAHULUAN Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI-BP) merupakan mata pelajaran yang memiliki potensi dalam mengembangkan dan membentuk karakter, tingkah laku dan tengah perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi digital saat ini, pendekatan pembelajaran yang inovatif menjadi sangat diperlukan. Mata Pelajaran PAI-BP merupakan sebuah peoses pembelajaran yang dilaksakan dalam Lembaga Pendidikan untuk materi-materi berkaitan dengan pemahaman agama islam serta diterapkan lingkungan pribadi, keluarga serta Masyarakat. (Syafrin et al. Pembelajaran PAI-BP tidak hanya fokus pada pembelajaran keagamaan dan nilai-nilai pembelajaran PAI-BP di Tingkat SMP juga menekankan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. (Amelia, 2. Namun pembelajaran yang terjadi dilapangan minimnya pemahaman peserta didik dan keaktifan belajarnya. Permasalahan yang terjadi dilapangan menjadi tantangan bagi Data yang didapatkan dari hasil Berdasarkan dilaksanakan pada 17 September 2025 dengan Guru PAI-BP. Bapak Muhammad Sholeh, diketahui bahwa AuPelaksanaan Pembelajaran masih menggunakan model dan metode konvensional seperti metode ceramah dengan tujuan menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, namun pencapaian belajar masih terkategori dibawah KKTP dan begitu juga dengan mengemukakan pendapat, bertanya, ataupun menjawab pertanyaan ketika Diskusi kelas cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik tertentu saja. Ay Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan Berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik di SMPN 27 Kota Padang. Kayla Putri Aisyah berpendapat mengenai Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu: AuKurang bersemangat dan kurang aktif saat pembelajaran berlangsung dan kesusahan dalam menghafal ayat-ayat yang begitu banyak, mencatat atau menulis di buku catatan dengan sangat banyak serta lebih menyukai pembelajaran yang membutuhkan inovasi seperti adanya kombinasi dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik serta media pembelajaran yang ditayangkan berupa film atau video bersuara. Ay Serta sumber data lain juga terlihat dari nilai hasil belajar dari Penilaian Tengah Semester (PTS) peserta didik yang rendah, hanya 30% peserta didik yang memiliki nilai tuntas. Pada proses pembelajaran juga terlihat kurang aktifnya peserta didik saat belajar, kurang memberikan pendapat dan tidak Hal ini sangat berpengaruh pada Tingkat pemahaman dan rendahnya Tingkat keberhasilan serta mengakibatkan rendahnya keterlibatan aktif dalam proses Solusi yang dapat diberikan pada hambatan dan tantangan yang terjadi di lapangan yaitu dengan mengeksperimenkan model pembelajaran yang lebih bervariatif dikombinasikan dengan media audio Model pembelajaran kooperatif tipe Scramble diimplementasikan melalui prosedur pencocokan kartu pertanyaan dengan kartu jawaban dalam bentuk potongan-potongan yang telah ditentukan, yang disajikan dan diselaraskan dengan bobot dan kesesuaian yang diajarkan. (Saridewi & Kusmariyatni. Model pembelajaran yang diterapkan secara berkelompok dengan tipe scramble dapat memaksimalkan ketuntasan belajar sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa model ini dilihat dari perolehan nilai belajar peserta didik terjadi peningkatan dari sebelum diterapkan dan setelah diterapkan karena peserta didik sangat Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 peserta didik ikut serta terlibat aktif. Dengan itu tingkat pemahaman peserta didika akan lebih meingkat. (Julyanti et , 2. Dengan pembelajaran yang lebih berwarna, bervariasi serta keterlibatan aktif peserta Dengan demikian maka akan berdampak juga terhadap pemahaman yang didapatkan siswa. Pemicu yang dapat memunculkan pengaruh hasil belajar ada dua yaitu internal dan Adapun internal yaitu yang muncul dari dalam diri peserta didik seperi minat, motivas, intelegensi. Kesehatan mental atau psikis peserta Adapun dari eksternal yang dapat mendorong keberhasilan peserta didik lingkungan sekolah seperti cara guru lingkungan kelaurga, lingkungan sosial yang saling mempengaruhi. (Hakim. Alternatif inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk melengkapi model penggunaan media pembelajaran dalam bentuk audio dan visual, kombinasi dari Kumpulan gambar, viseo dan audio dalam satu pemahaman. Media merupakan sarana yang digunakan guru untuk menjelaskan gagasan atau informasi terkait dengan materi pembelajaran untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan (Hasan et al. , 2. (Pagarra et al. , 2. Media yang diterapkan merupakan suatu kreasi yang melahirkan bentuk yang menarik dari sekumpulan yang sudah dikombinasikan dari gambar dan suara agar memudahkan dicermati. (Hidayat et , 2. Selain itu, audio visual juga dijadikan sebagai penujang untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan dan kompetitif, karena menyediakan berbagai macam permainan edukatif yang dapat disesuaikan dengan materi pelajaran. Media pembelajaran Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan disajikan dalam bentuk visual, audio dan video yang dirangkum dari materi pembelajaran serta disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Materi yang disajikan diharapkan dapat tersampaikan kepada peserta didik. (Wibawanto&Ds. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa dikolaborasikan dengan media akan dapat menguatkan pencapaian dan keterlibatan peserta didik. Solusi yang diberikan dapat mengatasi permasalahan yang terjadi di Agar memberikan suatu perubahan, maka dari memperhatikan tingkat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe scramble berbantuan media audio visual terhadap hasil dan keaktifan belajar peserta didik efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif dan keaktifan klasikal peserta didik pada elemen akidah materi iman kepada rasul mata Pelajaran PAI di SMPN 27 Padang. METODE PENELITIAN Metode Penelitian yang dipakai yaitu Pretest-Postest Control Group Design, yaitu digunakan perbandingan pada tahap awal dan tahap akhir setelah diterapkan pada dua kelompok atau dua kelompok . ksperimen dan kontro. (Sugiyono, 2. Subjek pada penelitian yaitu peserta didik kelas Vi. Teknik pengambilan dilaksanakan dengan cara acak . andom samplin. atau dipilih secara random dari seluruh populasi. Kelompok eksperimen (Vi. dan kontrol (Vi. Data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kemampuan siswa menggunakan tes . dan angket . , tes dilakukan untuk mengevaluasi hasil belajar dan angket untuk mengevaluasi keaktifan belajar peserta didik. (Balaka, 2. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas. Tingkat peningkatan hasil belajar serta keaktifan Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 peserta didik dianalisis menggunakan uji N-gain score, sedangkan perbedaan kedua variabel tersebut diuji melalui paired sample t-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble Berbantuan Media Audio Visual Lebih Tinggi Dari Model Pembelajaran Langsung Hasil belajar mengalami Peningkatan setelah diterapkan model scramble pembelajaran langsung, hal ini dapat dilihat dari hasil yang dperoleh masingmasing kelas. Hasil yang diperoleh dapat dilihat dari nilai pretest dan postest. Tabel 1 untuk melihat persentase peningkatan hasil belajar yang diperoleh dari kelas Tabel 1. Persentase Peningkatan Hasil Belajar (Kelas Eksperime. Deskripsi Pretest Posttest Persentase Mean 72,24 90,06 24,67% Skor min Skor mak 19,05% Stan. dev 9,052 Selanjutnya peningkatan menggunakan uji N-gain terdapat pada Tabel 2. Tabel 2. N Gain Hasil Belajar (Kelas Eksperime. Descriptive Statistics Min Max Mean Std. Dev Gain Persentase N-Gain dilihat untuk Persentase yang diperoleh yaitu 0,64 dan termasuk dalam kategori sedang yang cukup efektif. Aktivitas belajar yang dilaksanakan pada kelas eksperimen cenderung baik. Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan ini dapat dibuktikan dari pelaksanaan saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari potongan-potongan scramble yang sudah diberikan saat pembelajaran. pelaksanaannya terdapat 4 butir pertanyaan dalam setiap pertemuan. Dari lima rata-rata menjawab pertanyaan dengan benar, hanya beberapa kelompok yang menjawab kurang benar dari pertanyaan. Proses pembelajaran sangat berjalan dengan yang diharapkan karena rata-rata nilai meningkat dan peserta didik paham dengan materi Pelajaran. Pelaksanaan model scramble yang menarik perhatian siswa dengan cara berlomba-lomba pertayaan yang diberikan guru dari potongan-potongan kartu. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan materi pembelajaran PAI pada elemen akidah materi iman kepada rasul. Sebelum scramble diberikan, guru memberikan pemahaman materi pelajaran melalui media pembelajaran berupa power point secara ringkas agar mudah dipahami oleh siswa, selanjutnya di berikan video pendukung tentang materi yang diajarkan seperti tayangan video kisah rasul ulul azmi yang dilengkapi dengan biografi, peristiwa serta tahun terjadinya. Selain itu ada juga media dalam bentuk audio tentang ayat yang berkaitan dengan iman kepada rasul, siswa diminta mendengarkan dan mengikuti bacaan ayat, kandungan ayat diberikan pemahaman oleh guru setelah ayat diulang ulang dan dihafal secara bersama-sama. Pelaksanaan pembelajaran dengan scramble dimulai setelah materi diajarkan, dalam pelaksanaannya terlihat siswa yang menjawab benar dari potongan-potongan dari sebuah pertanyaan yang sudah disedikan, mereka sangat teliti dalam Menyusun agar menghasilkan jawaban Dikaitkan sebelumnya terdapat pada model scramble dapat meningkatkan pemahaman intelektual serta pembelajaran yang menyenangkan. Peserta didik lebih berpartisipasi dalam menjalani pembelajaran, dengan demikian pelaksanaan akan menciptakan capaian Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 belajar yang lebih maksimal. (Dwiyanti. Sejalan dengan penelitian Hajidin & Mislinawati, . juga menjelaskan bahwa Penyajian materi melalui media audio visual mempermudah guru dalam peserta didik lebih mudah menyerap materi pelajaran, sehingga ini dapat bentuk penyederhanaan dalam belajar. Kombinasi antara model dan media dapat menunjang proses pembelajaran yang lebih bermakna serta dapat meningkatkan kualitas belajar. Hasil adanya peningkatan capaian belajar peserta didik. Peningkatan tersebut ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata antara pretest dan posttest. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa praktik dalam model Scramble yang didukung oleh media audio visual pencapaian belajar peserta didik. Efektivitas meningkatnya pemahaman materi dalam Sedangkan jika dibandingkan dengan kelas kontrol terdapat peningkatan hasil belajar, namun hanya sedikit. Hasilnya bisa dilihat dari Tabel 3. Tabel 3. Persentase Peningkatan Hasil Belajar Kelas Kontrol Deskripsi Pretest Posttest Persentase Mean 70,06 81,10 15,76% Skor min Skor mak Stan. Tabel 4. Analisis Deskriptif N-Gain Hasil Belajar Kelas Kontrol Descriptive Statistics Min Max Mean Std. Dev Gain Penentuan tingkat keefektifan hasil belajar dapat dilihat dari persentase NVol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan Gain (Tabel . Persentase yang diperoleh yaitu 0,39 dan termasuk dalam kategori sedang yang tidak efektif. Pelaksanaan pembelajaran langsung merupakan proses belajar lebih dominan berpusat kepada guru, pembelajaran yang memiliki Langkah-langkah dan tujuan yang jelas, namun kurang melibatkan peserta didik secara aktif. Pembelajaran langsung diberikan pembelajaran dan pemahaman materi secara langsung kepada siswa, ada beberapa siswa yang merespon guru dengan baik ada yang kurang berkontribusi dalam pembelajaran, hal ini sangat berdampak kepada nilai yang diperoleh oleh siswa. Hasil dari dilai pretest dan posttest yang diperoleh hanya sedikit terjadinya peningkatan. Berkaitan dengan hasil penelitian perolehan Hasil tersebut memaparkan adanya Peningkatan dari pencapaian belajar, namun peningkatan tersebut masih rendah sehingga model pembelajaran langsung dinilai kurang efektif untuk diterapkan secara optimal dalam proses Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Putri . Implementasi model pembelajaran langsung bahwa dilihat pada pelaksaan pembelajaran lebih dominan pada guru sehingga rendahnya keinginan belajar peserta didik sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar, hal ini kurang optimal proses pembelajaran yang Peningkatan hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontol, hal ini disebabkan dari implementasi masing-masing kelas, pembelajaran di kelas eksperimen lebih berpusat kepada siswa sedangkan pada kelas kontrol pembelajaran lebih berpusat kepada guru sehingga mempengaruhi hasil belajar. Peningkatan Keaktifan Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble Berbantuan Media Audio Visual Lebih Tinggi Menggunakan Model Pembelajaran Langsung Peningkatan keaktifan belajar dapat dilihat dari perolehan angket keaktifan Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 belajar yang dilaksanakan pada kelas kontrol dan eksperimen. Tabel 5 menunjukkan persentase untuk mengukur keaktifan belajar. Tabel 5 menunjukkan pencapaian keaktifan belajar dengan melihat peningkatan pada kelas eksperimen. Selanjutnya untuk mengetahui kategori peningkatan keaktifan belajar digunakan uji N-Gain Score yang disajikan pada Tabel 6. Tabel 5 Persentase Peningkatan Keaktifan Belajar Kelas Eksperimen Deskripsi Pretest Posttest Persentase Mean 86,61 112,94 30,40 % Skor min 31,08% Skor mak 19,04% Stan. 8,023 7,445 Tabel 6. Analisis Deskriptif N-Gain Score Keaktifan Belajar Kelas Eksperimen Descriptive Statistics N Min Max Mean Std. Dev Gain 27 9621 5 Untuk keefektifan keaktifan belajar peserta didik yaitu berdasarkan persentase N-Gain Persentasenya yang diperoleh yaitu 0,88 dan termasuk dalam kategori tinggi dan efektif. Keaktifan belajar peserta didik dapat pembelajaran melalui penayanyan video pembelajaran yang berkaitan dengan materi, serta antusias dalam merespon pembelajaran yang diberikan melalui slide power point. Rata-rata peserta didik memberikan tanggapan dalam mengikuti Begitu juga pada saat pembelajaran kooperatif tipe scramble menjawab pertanyaan dari potonganpotongan pembelajaran yang menyenagkan. Sejalan sebelumnya dari hasil penelitian Harahap & Rahman, . mengindikasikan Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan bahwa model Scramble efektif dalam mengoptimalkan keaktifan dan capaian belajar peserta didik, karena mode tersebut bisa mewujudkan pembelajaran Peserta didik merasa punya tantangan menyelesaikan dari berbagai pertanyaan dalam pembelajaran, pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok akan menumbuhkan rasa empati dan percaya diri peserta didik karena mereka tidak merasa sendiri dan dilaksanakan secara Bersamasama dengan teman-temannya. Penelitian lain. Lestari dan Ngazizah, . yang sejalan dengan penelitian ini bahwa keaktifan belajar dapat memunculkan pemikiran kritis peserta didik. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa model Scramble yang didukung dengan media audio visual berkontribusi menciptakan lingkungan belajar yang aktif serta memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, hal ini dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan keaktifan belajar, khususnya pada pembelajaran PAIBP di SMPN 27 Padang. Hal ini berbeda dengan keaktifan belajar pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran Tabel 7. Persentase Peningkatan Keaktifan Belajar Kelas Kontrol Pretest Posttest Persentase Mean 86,24 94,93 10,07% Skor min 9,09% Skor mak -4,42% Stan. 8,653 6,461 Tabel 7 menunjukkan pencapaian keaktifan belajar peserta didik kelas kontrol. Selanjutnya untuk melihat peningkatan juga dapat diukur dari N-Gain Score. Tabel 8. Analisis Deskriptif N-Gain Keaktifan Belajar Kelas Kontrol Descriptive Statistics N Min Max Mean Std. Dev Gain Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 Untuk keefektifan keaktifan belajar pada model pembelajaran langsung yaitu berdasarkan persentase N-Gain Score. Persentase yang diperoleh yaitu 0,24 dan termasuk dalam kategori rendah dan tidak efektif. Dari hasil penjelasan di atas, penerapan model pembelajaran langsung keaktifan belajar peserta didik, namun peningkatan tersebut tergolong masih rendah karena pembelajaran berpusat Penerapan pembelajaran langsung diikuti oleh peserta didik dapat dilihat dari pemahaman terhadap isi pembelajaran, namun kegiatan cenderung pasif, hanya beberapa siswa yang berkontribusi dan merespon, beberapa peserta didik bertanya, mengemungkakan pendapat dan kebanyakan hanya menunggu respon dari Hal ini terlihat kurangnya kontribusi siswa dalam belajar. Kondisi tersebut diperkuat oleh penelitian Prasetyo&Abduh, . yang menjelaskan bahwa penyebab rendahnya keaktifan belajar peserta didik salah satunya dengan penggunaan metode konvensional seperti metode ceramah Implementasi belajar mengajar hanya berpusat kepada guru mengakibatkan keaktifan belajar Penelitian lain yang dijelaskan oleh Haliyana, . menyatakan bahwa proses pembelajaran dengan minimnya kerjasama antar peserta cenderung pasif dan kurang percaya diri dalam mengemungkakan pendapat. Kesimpulan dari hasil penelitian ini, terdapat keaktifan belajar peserta didik antara kelas kontrol dan eksperimen, lebih tinggi keaktifan belajar pada kelas eksperimen, hal ini terbukti dari hasil nilai pretest dan postest serta aktifitas belajar saat pembelajaran berlangsung. Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan Perbedaan Hasil dan Keaktifan Belajar Kelas Eksperimen dan Kontrol Pengujian hipotesis tentang perbedaan hasil dan keaktifan belajar antara kelas menggunakan uji berpasangan sampel Ttest. Uji ini dilakukan sesudah diberikan perlakukan dari dua kelompok (Tabel . Tabel 9. Uji Paired Sampel T-Tes Data Hasil Belajar Deskripsi Eksperimen Kontrol Mean Stan. Def Stan. Eror T-table Berdasarkan Tabel 9 maka diketahui bahwa uji t test pada kelas eksperimen yaitu df . egree of freedo. Karena menggunakan rumus df = n-1. Nilai t yang diperoleh yaitu 13. Nilai negatif menunjukkan bahwa nilai posttest yaitu Ttabel yang didapat dari data ini yaitu 2. artinya t hitung . >t tabel . Jika dilihat dari sig . -taile. hasilnya 000 yang mana 0. 000<0. 05, ini juga menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar peserta didik. Hasil uji t-test pada kelas kontrol yaitu df . egree of freedo. Karena menggunakan rumus df = n-1. Nilai t yang didapat yaitu 11. Nilai negatif menunjukkan bahwa nilai posttest yaitu ttabel yang didapat dari data ini yaitu 2. artinya t hitung . > t tabel . Jika dilihat dari sig . -taile. hasilnya 000 yang mana 0. 000 < 0. 05 ini juga menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pemaparan perbedaan dapat diperhatikan pada pencapaian hasil belajar antara kelas eksperimen dan kontrol, dapat dilihat bahwa lebih tinggi nilai t-table kelas Model Scramble merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam proses menemukan jawaban melalui kegiatan yang aktif dan kolaboratif serta menyelesaikan masalah Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 dengan adanya potongan pertanyaan dan disusun dalam bentuk kalimat yang utuh untuk menemukan jawaban. Melalui pembelajaran kooperatif tipe scramble peserta didik terus belajar dalam Menyusun dalam bentuk kata atau kalimat yang memiliki rati dan makna. (Fadilawati&Trisnawati, 2. Model yang digunakan dalam hal ini merupakan model scramble yang dikolaborasikan dengan media audio visual menjadi salah satu cara yang digunakan dalam penelitian ini untuk menunjang hasil belajar agar lebih meingkat dan lebih tinggi, serta meningkatnya pemahaman Sedangkan pada kelas yang beriringan dengan diatas yaitu kelas langsung, bentuk pembelajaran yang diterapkan seperi metode ceramah. Namun pada kenyataanya pembelajaran masih jauh dari yang diharapkan, peserta didik sering kali merasa jenuh dalam belajar serta rendahnya kontribusi dalam memberikan (Wahyuni, 2. Penjelasan yang sejalan bahwa hasil dari penerapan model scramble lebih meningkat dibandingkan dengan model memperhatikan dari setiap aspek dalam proses pembelajaran berlangsung, baik itu dari pemahaman, cara peserta didik merespon serta hasil akhir yang diperoleh. (Fadilla et al. , 2. Dari penjelasan diatas dapat diberikan kesimpulan bahwa adanya perbedaan yang lebih tinggi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun pengujian untuk mengukur perbedaan keaktifan belajar antara kelas eksperimen dan kontrol menggunakan sampel T-test pada Tabel 10. Berdasarkan Tabel 10 maka diketahui bahwa keaktifan belajar pada kelas eksperimen yaitu df . egree of Karena menggunakan rumus df = n-1. Nilai t yang didapat yaitu 16. Nilai negatif Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan menunjukkan bahwa nilai posttest t-tabel yang didapat dari data ini yaitu 2. artinya t hitung . > t tabel . Jika dilihat dari sig . -taile. hasilnya 000 yang mana 0. 000<0. 05, ini juga menunjukkan adanya perbedaan keaktifan Tabel 10. Tabel Uji Paired T-Test Data Angket Keaktifan Belajar Deskripsi Eksperimen Mean Stan. Def Stan. Eror T-table Hasil keaktifan belajar pada kelas kontrol yaitu df . egree of freedo. adalah Karena menggunakan rumus df = n-1. Nilai t yang didapat yaitu 8. Nilai negatif menunjukkan bahwa nilai posttest yaitu T-tabel yang didapat dari data ini artinya t hitung . > t tabel . Jika dilihat dari sig . -taile. 000 yang mana 0. 000 < 0. 05, ini juga menunjukkan adanya perbedaan keaktifan belajar peserta didik. Perbedaan keaktifan belajar antara kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat bahwa lebih tinggi nilai t-table kelas eksperimen, maka terdapat perbedaan yang lebih tinggi antara kelas eksperimen dan kontrol. Penjelasan keterkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh sianturi mengungkapkan bahwa adanya pengaruh setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe scramble terhadap keaktifan peserta didik pada mata pelajaran PAI-BP serta adanya perbandingan yang lebih tinggi. Hal ini dihasilkan dari perolehan data yang dijawab oleh peserta didik melalui indikator keaktifan belajar peserta didik, perolehan dari kedua kelompok lebih tinggi keterlibatan aktif di kelas eksperimen (Sianturi et al. , 2. Perbedaan terlihat pada hasil yang diperoleh dari keaktifan peserta didik. Dengan demikian terdapat perbedaan yaitu lebih tinggi kelas eksprimen. Nailus SaAoadah 1. Hidayati 2. Rozi Fitriza 3 KESIMPULAN Terdapat peningkatan hasil belajar kelas eksperimen, dibuktikan dari hasil nilai rata-rata nilai pretets yaitu . sedangkan posttest yaitu . Pengujian N-Gain dengan mean . berada pada kategori sedang dan cukup efektif. Maka Ha diterima dan Ho ditolak. Sedangkan pada kelas kontrol Tidak terdapat peningkatan hasil belajar, dibuktikan hasil nilai rata-rata nilai pretets yaitu . sedangkan posttest yaitu . Pengujian N-Gain dengan mean . berada pada kategori sedang dan tidak efektif. Terdapat peningkatan keaktifan belajar, dibuktikan dari hasil nilai ratarata nilai pretets yaitu . sedangkan posttest yaitu . Pengujian N-Gain dengan mean . berada pada kategori tinggi dan efektif. Maka Ha diterima dan Ho ditolak. Sedangkan pada kelas kontrol Tidak terdapat peningkatan keaktifan belajar, dibuktikan dari hasil nilai rata-rata nilai pretets yaitu . sedangkan posttest yaitu . Pengujian uji N-Gain dengan mean . berada pada kategori rendah dan tidak efektif. Terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dan eksperimen, dapat dilihat dari data paired sample ttest, pada kelas eksperimen terdapat nilai 14. 685sedangkan pada kelas kontrol yaitu 583, maka terdapat perbedaan yang lebih tinggi antara eksperimen dan Seserta didik juga mengalami perbedaan yaitu dengan nilai kelas 749 sedangkan pada kelas 170, dengan demikian terdapat Peningkatan yang lebih tinggi antara kelas eksperimen dan kontrol. DAFTAR PUSTAKA