JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1779 - 1787 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar Nanda Nur Hafizhah1. Naura Indah Meylani2. Nurul Andini3A. Rita Kurnia4 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Universitas Riau. Indonesia1,2,3,4 E-mail: nanda. nurhafizhah1507@studen. id1, naura. indah6393@student. andini0876@student. id3, rita. kurnia@lecturer. Abstrak Bullying di sekolah dasar merupakan masalah serius yang menghambat perkembangan psikologis, sosial, dan akademik siswa, menyebabkan tekanan emosional, penurunan rasa aman, serta hilangnya motivasi belajar. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak bullying terhadap anak sekolah dasar serta meninjau peran pendidikan karakter dalam pencegahan dan penanganannya. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan analisis tematik sistematis terhadap lima belas artikel ilmiah terbitan tahun 2021Ae2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa bentuk bullying yang paling sering terjadi meliputi kekerasan verbal, fisik, dan sosial, yang dipicu oleh kurangnya perhatian orang tua, lemahnya kontrol sosial di sekolah, serta belum optimalnya internalisasi nilai moral pada peserta didik. Dampak psikologisnya mencakup kecemasan, rendah diri, dan kesulitan adaptasi sosial, sedangkan dampak sosial dan akademiknya berupa isolasi kelompok serta penurunan prestasi belajar. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung memisahkan aspek psikologis dan sosial tanpa integrasi strategis, kajian ini menawarkan kebaruan dengan menggabungkan analisis dampak bullying dan strategi pencegahan berbasis pendidikan karakter, seperti pembiasaan empati, integrasi nilai moral dalam kurikulum, serta sinergi antara guru, orang tua, dan masyarakat. Kajian ini menegaskan pentingnya menciptakan iklim sekolah yang ramah anak, aman, dan berkarakter untuk mendukung pertumbuhan holistik siswa serta memberikan implikasi praktis bagi kebijakan pendidikan. Kata Kunci: Bullying. Sekolah Dasar. Pendidikan Karakter. Perkembangan Anak Abstract Bullying in elementary schools is a serious issue that hinders studentsAo psychological, social, and academic development, leading to emotional distress, loss of security, and decreased learning motivation. This study aims to analyze the impacts of bullying on elementary school children and to examine the role of character education in its prevention and intervention. Using a systematic thematic library research method, this study reviewed fifteen scientific articles published between 2021 and 2025. The findings reveal that verbal, physical, and social bullying are the most common forms, driven by insufficient parental attention, weak school social control, and inadequate internalization of moral values among students. The psychological effects include anxiety, low selfesteem, and difficulties in social adaptation, while social and academic effects involve peer isolation and declining academic performance. Unlike previous studies that tend to separate psychological and social aspects without strategic integration, this research introduces a novel thematic synthesis combining bullying impact analysis with character-based preventive strategies, such as fostering empathy, integrating moral values into the curriculum, and promoting teacherAeparentAecommunity collaboration. The study emphasizes the importance of developing a child-centered, inclusive, and character-driven school culture to support studentsAo holistic growth and provides practical implications for educational policy. Keywords: Bullying. Elementary School. Character Education. Child Development Copyright . 2025 Nanda Nur Hafizhah. Naura Indah Meylani. Nurul Andini. Rita Kurnia A Corresponding author : Email : nurul. andini0876@student. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1780 Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar Ae Nanda Nur Hafizhah. Naura Indah Meylani. Nurul Andini. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Bullying merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang yang marak terjadi di lingkungan pendidikan, terutama pada jenjang sekolah dasar. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada korban secara fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan psikologis, sosial, dan akademik peserta didik. Sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan formal pertama seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar dan berinteraksi. Namun kenyataannya, lingkungan sekolah justru kerap menjadi ruang munculnya perilaku agresif dan kekerasan antar teman sebaya (Fadillah et al. , 2. Perilaku bullying pada anak usia sekolah dasar sering dianggap sebagai bentuk permainan atau kenakalan biasa, padahal dampaknya sangat serius terhadap pembentukan karakter dan kesejahteraan mental anak di masa Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tindakan bullying dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti kekerasan verbal, fisik, sosial, maupun digital . (F. Rahman et al. , 2. Kekerasan verbal berupa ejekan, hinaan, dan pemberian julukan kasar merupakan jenis yang paling sering terjadi, sedangkan kekerasan fisik meliputi pemukulan, dorongan, atau perusakan barang milik korban. Sementara itu, bullying sosial tampak melalui pengucilan dan penyebaran gosip yang merusak reputasi seseorang. Perkembangan teknologi informasi juga memperluas ruang terjadinya perundungan melalui media sosial, sehingga anak dapat menjadi korban kekerasan tanpa batas ruang dan waktu. Dampak bullying tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, dan perubahan suasana hati. (Chairilsyah & Kurnia, 2. menemukan bahwa gangguan psikologis seperti depression dan mood disorders sering muncul pada anak sekolah dasar yang mengalami tekanan sosial dan perlakuan agresif di lingkungan sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa bullying dapat menjadi pemicu gangguan emosional yang menghambat perkembangan psikososial anak serta memengaruhi kemampuan mereka dalam berinteraksi sosial dan belajar secara optimal. Kondisi tersebut menandakan bahwa bullying bukan hanya masalah individual, melainkan persoalan sosial yang kompleks dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk perilaku anak agar mampu menumbuhkan rasa empati serta menghargai perbedaan (Nabilla & Desmon, 2. Anak yang menjadi korban bullying cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri, trauma, kesulitan berinteraksi sosial, dan penurunan motivasi belajar. Sebaliknya, anak yang terbiasa melakukan tindakan bullying berisiko mengembangkan kepribadian agresif dan rendah empati terhadap orang lain (Fadillah et al. , 2. Kajian teori dan hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pendidikan karakter menjadi strategi efektif dalam pencegahan dan penanggulangan perilaku bullying. Penanaman nilai-nilai moral seperti empati, tanggung jawab, kerja sama, dan toleransi perlu diterapkan sejak dini melalui kegiatan pembelajaran maupun interaksi sosial di sekolah (Muzzamil, 2. Kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat juga diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan anak secara optimal. Namun, sebagian besar penelitian terdahulu hanya menyoroti aspek psikologis atau sosial bullying secara terpisah, tanpa mengintegrasikannya secara holistik dengan pendekatan pendidikan karakter di sekolah dasar. Misalnya, studi seperti (Chairilsyah & Kurnia, 2. fokus pada dampak psikologis individu, sementara (Fadillah et al. , 2. menekankan dinamika sosial tanpa kaitan langsung dengan strategi pendidikan karakter. Kesenjangan ini menciptakan kebutuhan akan kajian yang menganalisis kedua aspek tersebut secara terpadu, sehingga memberikan wawasan baru untuk pencegahan bullying melalui pendidikan karakter di jenjang sekolah Penelitian ini memiliki signifikansi penting baik secara akademik maupun praktis. Secara akademik, kajian ini berkontribusi pada pengembangan teori pendidikan karakter dengan mengintegrasikan perspektif psikologis dan sosial dalam konteks sekolah dasar, yang dapat memperkaya literatur tentang pencegahan Secara praktis, hasilnya dapat menjadi panduan bagi guru, orang tua, dan pembuat kebijakan untuk Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1781 Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar Ae Nanda Nur Hafizhah. Naura Indah Meylani. Nurul Andini. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. merancang program pendidikan karakter yang efektif, sehingga mengurangi insiden bullying dan meningkatkan kesejahteraan anak di lingkungan pendidikan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan solusi berbasis bukti untuk membangun sekolah yang lebih harmonis dan mendukung perkembangan anak secara menyeluruh. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk meninjau berbagai hasil studi mengenai dampak bullying terhadap perkembangan psikologis dan sosial anak sekolah dasar serta mengidentifikasi peran pendidikan karakter dalam menanggulanginya. METODE Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR), yaitu pendekatan penelitian yang dilakukan secara sistematis untuk menelaah, menilai, dan mensintesis hasil-hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan dampak sosial dan psikologis bullying pada anak sekolah dasar. Metode ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap fenomena yang dikaji. Menurut (Astuti et al. , metode SLR memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola, membandingkan hasil dari berbagai studi, serta menarik kesimpulan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis. Pelaksanaan penelitian diawali dengan penentuan fokus dan perumusan pertanyaan utama yang berkaitan dengan bentuk serta dampak sosial dan psikologis dari perilaku bullying di lingkungan sekolah dasar. Penelusuran literatur dilakukan melalui beberapa basis data akademik, antara lain Google Scholar. Garuda (Garba Rujukan Digita. Sinta, dan jurnal internasional, dengan rentang publikasi antara tahun 2021 hingga Kriteria pemilihan literatur meliputi: . kesesuaian tema dengan fokus penelitian, yakni bullying, sekolah dasar, pendidikan karakter, perkembangan anak, dan kewarganegaraan. kredibilitas sumber, yang dilihat dari reputasi penerbit serta akreditasi jurnal. keterbaruan data, dengan prioritas pada publikasi dalam lima tahun terakhir guna memastikan relevansi kontekstual terhadap kondisi pendidikan saat ini. Tahap identification menghasilkan 30 artikel potensial dari berbagai sumber. Setelah melalui proses screening berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, 25 artikel dinyatakan layak untuk ditinjau lebih lanjut. Pada tahap pembacaan penuh . ull-text revie. , hanya 18 artikel yang memenuhi seluruh kriteria dan digunakan dalam analisis akhir. Sebanyak 12 artikel dieliminasi karena tidak relevan dengan topik, tidak memuat data empiris, berbahasa selain Indonesia atau Inggris, atau tidak dapat diakses secara penuh. Analisis data dilakukan dengan pendekatan thematic analysis untuk mengidentifikasi pola dan tema-tema utama yang muncul dari hasil penelitian, seperti dampak emosional, perubahan perilaku sosial, serta peran dukungan sosial terhadap penyesuaian diri anak di lingkungan sekolah. Pendekatan ini sejalan dengan temuan (Ayuningbudi & Hanami, 2. dalam artikel AuBullying and Social Support in Elementary School Students: A Qualitative StudyAy, yang menjelaskan bahwa pengalaman korban bullying tidak hanya berdampak pada aspek psikologis, tetapi juga dipengaruhi oleh sejauh mana anak memperoleh dukungan sosial dari teman sebaya, guru, dan keluarga. Dukungan sosial terbukti berfungsi sebagai faktor protektif yang membantu anak mengembangkan resiliensi dan mengurangi dampak negatif perundungan. Hasil temuan dari berbagai sumber kemudian disintesis secara naratif dengan membandingkan penelitian nasional dan internasional guna memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai fenomena yang Untuk menjaga objektivitas, penelitian ini mempertimbangkan potensi bias publikasi, seperti kecenderungan penerbitan hasil positif atau keterbatasan akses terhadap penelitian tertentu. Upaya mitigasi dilakukan dengan melibatkan sumber dari berbagai konteks . asional dan internasiona. serta melakukan verifikasi silang antarartikel. Melalui penerapan metode Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang mendalam mengenai konsekuensi sosial dan psikologis dari tindakan bullying pada Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1782 Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar Ae Nanda Nur Hafizhah. Naura Indah Meylani. Nurul Andini. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. anak sekolah dasar, serta menjadi landasan bagi pengembangan strategi pencegahan dan penanganan berbasis pendidikan karakter yang empatik, adaptif, dan efektif di lingkungan pendidikan dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Fenomena bullying di sekolah dasar merupakan isu sosial dan psikologis yang kompleks karena melibatkan interaksi multidimensional antara faktor individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berdasarkan sintesis berbagai penelitian, perilaku ini tidak dapat dipandang sebagai kenakalan anak semata, melainkan sebagai produk dari proses pembelajaran sosial, kegagalan internalisasi nilai moral, dan lemahnya dukungan lingkungan dalam menumbuhkan empati. Dalam konteks pendidikan dasar, bullying mencerminkan ketidakseimbangan sistemik antara aspek kognitif, emosional, dan moral dalam perkembangan anak. Oleh karena itu, memahami fenomena ini memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan dimensi psikologis, sosial, dan ekologis sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan moral, teori pembelajaran sosial, dan teori ekologi perkembangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bullying di sekolah dasar muncul dalam beragam bentuk kekerasan verbal seperti ejekan dan hinaan, kekerasan fisik berupa dorongan, tendangan, atau pukulan, perundungan sosial yang melibatkan pengucilan dan pengabaian, serta bentuk digital melalui media sosial yang dikenal sebagai cyberbullying. Masing-masing bentuk tersebut memberikan dampak yang berbeda, namun saling terkait satu sama lain dalam membentuk pengalaman traumatis bagi anak(Khoirunnisa et al. , 2. menemukan bahwa di SDN 1 Demak Ijo, bullying verbal dan fisik menyebabkan siswa menjadi tertutup, kehilangan semangat belajar, dan menarik diri dari interaksi sosial. Sementara itu, (Fadillah et al. , 2. menemukan bahwa korban mengalami penurunan rasa percaya diri dan kesulitan dalam penyesuaian sosial akibat minimnya empati dari lingkungan sekitar. Perbandingan kedua penelitian ini menegaskan bahwa bullying tidak hanya berdampak pada performa akademik, tetapi juga pada keseimbangan emosional anak. Jika tidak ditangani, pengalaman ini dapat berlanjut hingga masa remaja dalam bentuk kecemasan sosial dan gangguan harga diri. Dari sudut pandang teoritis, temuan-temuan ini sejalan dengan pandangan Erikson bahwa anak usia sekolah dasar sedang berada pada tahap perkembangan Auindustry versus inferiority,Ay di mana rasa percaya diri dan kompetensi sosial dibangun melalui hubungan yang positif dengan teman sebaya dan guru. Ketika anak menjadi korban bullying, proses pembentukan identitas sosialnya terganggu. Ia kehilangan rasa percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri dan mulai menginternalisasi inferioritas sebagai bagian dari identitasnya. Sebaliknya, pelaku bullying sering kali gagal melewati tahap Auinitiative versus guilt,Ay karena lingkungan yang permisif membuat mereka tidak mengembangkan perasaan bersalah terhadap perilaku agresif yang dilakukan. Akibatnya, mereka menganggap dominasi sosial sebagai bentuk kekuatan yang sah, bukan sebagai penyimpangan moral. Konteks ini diperjelas oleh (Oktaviany & Ramadan, 2. yang menemukan bahwa bullying verbal di SD Muhammadiyah 07 Terpadu Pekanbaru memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan bentuk fisik, karena menyerang aspek harga diri dan motivasi akademik korban. Studi ini juga menegaskan pentingnya budaya sekolah empatik yang menolak kekerasan simbolik melalui komunikasi yang suportif. Sekolah yang menanamkan empati dan kontrol sosial positif dapat menekan kecenderungan agresivitas antar siswa. Hal ini memperkuat penjelasan Social Cognitive Theory yang dikemukakan oleh (Purba, 2. , bahwa perilaku agresif merupakan hasil proses observasi dan penguatan sosial. Anak-anak belajar dari model di sekitarnya, baik dari teman sebaya, keluarga, maupun media. Ketika perilaku agresif tidak diberi konsekuensi sosial atau justru mendapat penguatan dari lingkungan . isalnya tawa atau dukungan tema. , maka perilaku tersebut akan diulang dan diperkuat. Dengan demikian, teori pembelajaran sosial menjelaskan mekanisme sebab-akibat antara lingkungan permisif dan pembentukan perilaku agresif. Sekolah dan keluarga menjadi dua ruang utama tempat anak Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1783 Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar Ae Nanda Nur Hafizhah. Naura Indah Meylani. Nurul Andini. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. mempelajari pola interaksi. Apabila kedua sistem ini gagal memberikan model perilaku positif, anak akan menginternalisasi agresivitas sebagai cara berkomunikasi. Dalam konteks ini, guru dan orang tua bukan hanya berperan sebagai pengawas, tetapi sebagai figur panutan . ole mode. yang membentuk kerangka moral anak. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan bullying tidak dapat hanya mengandalkan sanksi, tetapi harus berfokus pada pembentukan lingkungan sosial yang menumbuhkan empati dan tanggung jawab moral. Penelitian lintas budaya juga memberikan perspektif baru dalam memahami bagaimana pola pengasuhan dan konteks budaya memengaruhi munculnya perilaku agresif atau empatik pada anak. (Cabrera, 2. menegaskan bahwa praktik pengasuhan tidak dapat dilepaskan dari nilai, norma, dan kepercayaan yang hidup dalam budaya tertentu. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar kajian psikologi perkembangan selama ini terlalu berfokus pada keluarga kelas menengah Barat dan kurang merepresentasikan keberagaman sosial, ekonomi, serta dinamika keluarga non-Barat. Pandangan ini penting dalam konteks bullying di sekolah dasar, karena variasi dalam gaya asuh, struktur keluarga, dan nilai budaya dapat menentukan bagaimana anak belajar mengekspresikan emosi serta merespons konflik sosial. Dalam kerangka Ecological Systems Theory Bronfenbrenner, lingkungan keluarga berperan sebagai sistem mikro yang menyalurkan nilai-nilai moral dan sosial kepada anak, sedangkan Social Cognitive Theory Bandura menjelaskan bagaimana anak meniru pola interaksi yang ia amati di lingkungan tersebut. Oleh karena itu, membangun budaya pengasuhan yang inklusif dan berkeadilan sosial menjadi langkah penting dalam mencegah terbentuknya perilaku perundungan sejak usia dini (Cabrera, 2. Selain perspektif budaya, penelitian lokal seperti Penelitian (Arifin, 2. memperluas pemahaman ini dengan menyoroti hubungan antara bullying dan gangguan kepribadian. Korban bullying menunjukkan gejala penarikan diri, kesulitan membangun kepercayaan terhadap orang lain, dan kecenderungan menghindari interaksi sosial. Sebaliknya, pelaku menunjukkan peningkatan agresivitas dan impulsivitas yang dipengaruhi oleh lemahnya kontrol emosi. Kondisi ini dapat memicu gangguan psikologis jangka panjang seperti insomnia, kecemasan sosial, dan gangguan adaptasi, sebagaimana juga diungkapkan (Sari et al. , 2. Selain itu, (Febrianti et al. , 2. menambahkan dimensi baru melalui fenomena cyberbullying yang muncul akibat kemajuan teknologi komunikasi. Media sosial memperluas ruang terjadinya perundungan dan membuat tekanan psikologis semakin berat karena tidak ada batas waktu dan ruang bagi korban untuk melarikan diri. Hal ini memperlihatkan bahwa perundungan tidak hanya terjadi di lingkungan fisik sekolah, tetapi juga dalam dunia digital yang tidak kalah berpengaruh terhadap kesejahteraan emosional anak. Faktor penyebab bullying dapat dikelompokkan dalam empat dimensi utama: individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di tingkat individu, kurangnya kemampuan regulasi emosi, empati, dan kontrol diri menjadi penyebab utama munculnya perilaku agresif. Di tingkat keluarga, pola asuh otoriter dan komunikasi yang kaku memperkuat kecenderungan anak untuk menyalurkan emosi negatif kepada teman sebaya (Arifin, 2. tingkat sekolah, lemahnya pengawasan dan kurangnya pendidikan karakter membuat lingkungan belajar menjadi lahan subur bagi munculnya kekerasan simbolik. Sementara itu, di tingkat masyarakat, paparan media kekerasan sebagaimana dijelaskan oleh (Febrianti et al. , 2. memperkuat agresivitas dunia nyata. Interaksi antar dimensi ini menunjukkan bahwa bullying merupakan fenomena ekologis yang kompleks, di mana perubahan pada satu sistem dapat memengaruhi sistem lain. Hal ini sesuai dengan penjelasan Ecological Systems Theory oleh (F. Rahman et al. , 2. , bahwa perilaku anak dibentuk oleh interaksi berlapis antara sistem mikro . eluarga, sekola. , meso . ubungan antar siste. , dan makro . ilai budaya dan medi. Keterkaitan lintas sistem ini menegaskan perlunya pendekatan pencegahan yang menyeluruh. (Muzzamil, 2. menekankan bahwa interaksi positif dengan orang tua dan guru berperan penting dalam membentuk kontrol diri anak. Temuan ini diperkuat oleh (Astuti et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa kegiatan sosial berbasis nilai seperti gotong royong dan penguatan religius dapat meningkatkan empati anak terhadap sesama. Pendekatan berbasis komunitas seperti ini terbukti efektif karena menggabungkan pembinaan karakter personal dengan pembelajaran sosial kontekstual. (Aini et al. , 2. dan (Abdillah, 2. juga menegaskan peran Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1784 Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar Ae Nanda Nur Hafizhah. Naura Indah Meylani. Nurul Andini. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. keluarga sebagai basis pembentukan empati dan resiliensi emosional anak. Dukungan emosional yang konsisten dari lingkungan terdekat berfungsi sebagai pelindung psikologis yang menekan kecenderungan perilaku agresif dan meningkatkan kemampuan anak dalam mengatasi tekanan sosial. Secara teoretis, hasil-hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa setiap faktor penyebab tidak dapat dipahami secara terpisah, melainkan saling terkait secara sistemik. Pola asuh keras tanpa kehangatan emosional memperlemah kontrol diri anak. lemahnya pengawasan di sekolah memperkuat perilaku agresif. paparan media kekerasan memperkuat pembelajaran sosial negatif. Kombinasi ketiga kondisi ini menciptakan lingkaran umpan balik . eedback loo. yang membuat perilaku bullying sulit dihentikan. Di sinilah relevansi integrasi antara tiga teori utama Teori Perkembangan Moral (Purba, 2. Social Cognitive Theory (Mujahidah & Yusdiana, 2. , dan Ecological Systems Theory (L. Rahman, 2. menjadi sangat signifikan. Teori Kohlberg menjelaskan dimensi moral dari perilaku anak, teori Bandura menjelaskan mekanisme pembelajaran sosial yang menguatkan perilaku tersebut, sedangkan teori Bronfenbrenner memberikan pemahaman konteks sistemik di mana perilaku itu terbentuk. Integrasi ketiga teori ini memberikan penjelasan menyeluruh tentang bagaimana perilaku bullying terbentuk dan dipertahankan. Kurangnya internalisasi nilai moral (Purba, 2. diperburuk oleh proses pembelajaran sosial yang permisif (Mujahidah & Yusdiana, 2. , kemudian diperkuat oleh lingkungan ekologi yang tidak mendukung perkembangan karakter(F. Rahman et al. , 2. Ketiga lapisan ini bekerja secara simultan membentuk perilaku agresif yang berakar kuat dan sulit diubah tanpa intervensi sistemik. Oleh karena itu, intervensi pencegahan harus dirancang lintas level dari pembelajaran moral di kelas, pembinaan keluarga, hingga kebijakan sekolah. Pendekatan whole-school framework menjadi representasi konkret dari integrasi teori-teori tersebut. Pendekatan ini menekankan kolaborasi antar pemangku kepentingan guru, siswa, kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam membangun budaya sekolah yang aman dan empatik. Program seperti Olweus Bullying Prevention Program di Australia dan kebijakan Department for Education di Inggris menunjukkan bahwa perubahan iklim sekolah dapat menurunkan tingkat bullying secara signifikan melalui pelatihan staf, kebijakan sekolah inklusif, serta sistem pelaporan yang terbuka. Model seperti ini membuktikan bahwa pencegahan efektif tidak hanya bergantung pada perubahan perilaku individu, tetapi juga pada transformasi budaya sekolah. Secara konseptual, sintesis dari berbagai studi ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam memahami fenomena bullying. Jika sebelumnya bullying dipandang sebagai perilaku menyimpang yang bersumber dari faktor personal, kini ia dipahami sebagai indikator kegagalan sistem sosial dan moral dalam membentuk empati anak. Perubahan ini memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan: pencegahan tidak lagi dipusatkan pada hukuman terhadap pelaku, tetapi pada pembentukan nilai-nilai moral dan sosial yang menjadi dasar perilaku prososial. Sekolah harus menjadi lingkungan yang mengajarkan keterampilan sosial emosional, seperti empati, pengendalian diri, dan komunikasi asertif, yang semuanya berperan dalam membangun keseimbangan psikologis anak. Dengan demikian, hasil analisis ini menegaskan bahwa bullying merupakan fenomena yang berakar pada interaksi kompleks antara perkembangan moral, pembelajaran sosial, dan sistem ekologi anak. Integrasi ketiga teori utama tersebut tidak hanya memperkuat dasar ilmiah artikel ini, tetapi juga memberikan landasan konseptual bagi kebijakan pendidikan yang lebih inklusif. Melalui pendekatan whole-school framework, sekolah dapat berperan sebagai sistem sosial yang memfasilitasi pembelajaran moral, sosial, dan emosional secara bersamaan. Implikasi praktisnya adalah perlunya kurikulum yang berorientasi pada pembentukan empati, kegiatan komunitas yang memperkuat solidaritas sosial, serta kerja sama lintas lembaga untuk memantau dan menanggulangi kasus perundungan secara berkelanjutan. Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa pemahaman dan pencegahan bullying harus melibatkan dimensi teoritis, empiris, dan praktis secara simultan. Penggunaan teori global seperti Kohlberg. Bandura, dan Bronfenbrenner memperkaya pemahaman ilmiah tentang sebab-akibat perilaku bullying. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1785 Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar Ae Nanda Nur Hafizhah. Naura Indah Meylani. Nurul Andini. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. sementara integrasi dengan whole-school framework memberikan dasar implementatif yang relevan dengan konteks global. Dengan kerangka konseptual ini, artikel tidak hanya berkontribusi bagi literatur akademik di Indonesia, tetapi juga memiliki relevansi internasional sebagai referensi ilmiah yang komprehensif dalam memahami dan menanggulangi fenomena bullying di sekolah dasar. Secara teoretis, hasil sintesis penelitian ini memperkuat kerangka berpikir bahwa perilaku bullying merupakan cerminan dari kegagalan internalisasi nilai moral sebagaimana dijelaskan dalam Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg, yang menyatakan bahwa individu pada tahap pra konvensional belum mampu mengaitkan tindakan dengan konsekuensi moral. Kondisi ini diperparah oleh proses pembelajaran sosial sebagaimana dijelaskan dalam Social Cognitive Theory Albert Bandura, di mana anak meniru perilaku agresif dari model sosial di lingkungan sekitarnya tanpa penguatan nilai empatik. Selain itu. Ecological Systems Theory Bronfenbrenner menunjukkan bahwa perilaku bullying muncul akibat interaksi sistemik antara lingkungan mikro . eluarga dan sekola. dan makro . udaya serta medi. , yang secara simultan membentuk konteks perkembangan anak. Integrasi ketiga teori ini menjelaskan bahwa perilaku agresif anak merupakan hasil kegagalan struktural dalam sistem sosial dan moral yang saling memengaruhi. Dari sisi praktis, temuan penelitian ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman, empatik, dan berkarakter. Implementasi pendidikan karakter yang berfokus pada penguatan empati, kontrol diri, dan komunikasi asertif berfungsi sebagai preventive buffer terhadap perilaku agresif di sekolah dasar. Pendekatan berbasis whole-school framework dapat diadopsi sebagai model intervensi yang efektif, dengan melibatkan pelatihan guru, dukungan keluarga, kebijakan sekolah anti-bullying, serta kegiatan sosial yang menumbuhkan solidaritas dan tanggung jawab moral di kalangan peserta didik. Dengan sinergi lintas pihak, sekolah dapat berfungsi bukan hanya sebagai tempat pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai sistem sosial yang mendukung kesejahteraan psikologis anak. Secara kebijakan, penelitian ini merekomendasikan perlunya strategi nasional yang menempatkan pendidikan karakter sebagai inti kurikulum sekolah dasar dan menekankan peran aktif guru serta konselor dalam deteksi dini perilaku bullying. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mengembangkan pedoman implementasi anti-bullying yang kontekstual dengan budaya lokal dan digital, serta memperkuat kapasitas guru melalui pelatihan berbasis empati dan resolusi konflik. Penerapan kebijakan ini diharapkan tidak hanya menekan kasus bullying, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan humanis. KESIMPULAN Dari hasil analisis berbagai penelitian, dapat disimpulkan bahwa perilaku bullying di sekolah dasar merupakan fenomena multidimensional yang berdampak luas terhadap perkembangan emosional, sosial, dan akademik peserta didik. Perundungan di lingkungan sekolah tidak hanya menimbulkan tekanan psikologis pada korban, seperti kecemasan, ketakutan, dan hilangnya rasa percaya diri, tetapi juga berdampak terhadap pelaku yang menunjukkan kecenderungan agresif serta defisit empati terhadap orang lain. Fenomena ini menggambarkan adanya ketidakseimbangan dalam pembentukan nilai moral dan sosial anak yang dipengaruhi oleh interaksi faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pola asuh yang keras, lemahnya pengawasan guru, serta pengaruh media yang permisif menjadi faktor yang memperkuat siklus kekerasan antar peserta didik. Sebagai arah penelitian lanjutan, studi berikutnya disarankan untuk melakukan pengujian empiris terhadap efektivitas model pendidikan karakter berbasis empati dan kolaborasi lintas sistem antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mencegah perilaku bullying di sekolah dasar. Penelitian masa depan juga dapat mengembangkan intervensi berbasis teori ekologi dan pembelajaran sosial untuk menilai dampak jangka panjang pada pembentukan resiliensi dan moralitas anak, serta melakukan studi longitudinal terhadap dinamika bullying digital di era media sosial. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkaya pemahaman teoretis dan Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1786 Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar Ae Nanda Nur Hafizhah. Naura Indah Meylani. Nurul Andini. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. praktis mengenai pencegahan bullying, sekaligus mendorong terciptanya generasi peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan emosional. DAFTAR PUSTAKA