e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 6. No 1. April 2025 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah Peran Ayah Dalam Mengembangkan Budaya Berpikir Kritis Pada Anak dalam Keluarga Kristiani Kosma Manurung Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta email: kosmamanurung@sttintheos. Abstract: Today our children live in a period that requires them to think critically. Critical thinking is important for a child because this will prevent him from various crimes that target him, help him find solutions, have a good impact on his academic abilities, and give him the opportunity to be more successful in the future. Given the ties of relationship and position, a father is considered the most suitable in developing a culture of critical thinking in children. This article intends to initiate the role of fathers in developing a culture of critical thinking in children in Christian families. The selection of qualitative narrative methods and literature review is expected to be able to provide a thorough, structured, in-depth description, and have a good academic foundation related to the narrative of God's word about critical thinking, the importance of a child's critical thinking, and the idea of the role of fathers in developing a culture of critical thinking in In conclusion, the father will play the maximum role if he introduces this culture of critical thinking as early as possible in his child's daily life, makes himself a child's discussion partner, positions himself as a mentor and a life example to be emulated by his Keywords: critical thinking. critical thinking culture. father role. Abstraksi: Hari ini anak-anak kita hidup dalam sebuah masa yang mengharuskannya untuk berpikir kritis. Berpikir kritis penting bagi seorang anak karena hal ini akan menghindarkannya dari berbagai tindak kejahatan yang mengincarnya, membantunya menemukan solusi, berdampak bagus pada kemampuan akademiknya, serta memberinya peluang untuk lebih berhasil di masa depan. Mengingat ikatan hubungan maupun posisinya maka seorang ayah dianggap paling cocok dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak. Artikel ini bermaksud mengagas peran ayah dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak di keluarga Kristiani. Pemilihan metode kualitatif naratif dan kajian literatur diharapkan mampu memberikan gambaran yang cermat, terstruktur, mendalam, serta memiliki landasan akademik yang baik terkait narasi firman Tuhan tentang berpikir Kristis, pentingnya seorang anak berpikir kritis, dan mengagas peran ayah dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak. Disimpulkan, ayah akan berperan maksimal jika memperkenalkan budaya berpikir kritis ini seawal mungkin dalam keseharian hidup anaknya, menjadikan dirinya teman diskusi anak, memposisikan diri sebagai mentor dan teladan hidup yang dicontoh oleh anaknya. Kata Kunci: berpikir kritis. budaya berpikir kritis. peran ayah. pola asuh. PENDAHULUAN Hari ini anak-anak kita hidup dalam sebuah masa yang mengharuskannya untuk mampu berpikir kritis. Mengingat begitu maraknya berbagai platform yang sosial media tawarkan dan berbagai informasi yang begitu mudah terakses oleh anak, dengan sendirinya CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 48 hal itu lambat laun akan membentuk cara berpikir mereka. 1 Padahal kalau dikaji lebih dalam, tidak semua informasi yang ada di sosial media itu sesuai alur berpikir anak atau barang kali juga tidak semua yang ada di sosial media itu berdampak positif dan cocok bagi anak. Dalam bukunya matinya kepakaran. Tom Nichols pun mengkritisi hal ini dan dengan terbuka menyatakan bahwa sumber informasi yang berkelindan di media bersumber dari wartawan, tim editor, ataupun para pengambil keputusan di tempat itulah yang menentukan informasi apa yang diberikan kepada masyarakat pengguna platform media tersebut. 2 Suara yang sama dikumandangkan oleh Dominic Strinati dalam kajiannya tentang budaya poluler, berpandangan bahwa media begitu dalam mengatur anak-anak kita dari cara berpikirnya hingga topik yang mereka perbincangkan, bahkan tanpa anak-anak itu sadari mereka sedang berada dalam barisan untuk dieksploitasi. Indonesia juga sedang mengalami hal yang sama yaitu sebuah era kelimpahan yang disebabkan oleh perkembangan pesat informasi dan teknologi secara khusus begitu maraknya platform sosial media yang dengan mudah dapat diakses oleh siapa saja. Namun kalau tidak hati-hati dan dibarengi dengan pemahaman yang baik apalagi bagi seorang anak, maka kelimpahan informasi ini malah bisa berdampak buruk padanya seumpama menjadi korban kejahatan media atau bisa juga mengikuti begitu saja yang yang ditontonnya dan menerapkannya ketika bermain bersama teman-temannya. 5 Kalau yang ditontonnya adalah perkelahian dan ditirukan dengan memukul teman bermainnya, hal ini kan bisa mendatangkan permasalahan dan ketidak harmonisan baik di rumah maupun dalam bertetangga. Ini artinya anak-anak juga perlu diajarkan memfilter semua informasi yang mereka terima dari televisi ataupun media sosial. Filter yang dimaksudkan disini adalah pentingnya anak-anak diajarkan berpikir kritis terhadap berbagai hal yang terjadi di sekitar atau menyangkut dirinya dan untuk berpikir kritis anak-anak harus diajarkan berliterasi dengan baik. Merujuk pada data UNESCO hanya sekitar satu dari seribu orang di Indonesia yang memiliki budaya literasi baik. 6 Bagi keluarga Kristiani, berbagai literasi yang diajarkan kepada anak haruslah senada dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab sebagai pedoman hidup orang percaya. Menyingkapi hal ini sudah seharusnya para ayah di keluarga Kristiani tidak hanya berpangku tangan, malas-masalan, atau malah mempercayakan semua soal pola asuh dan pola didik anak pada istri ataupun pembantu. 7 Para ayah harus sadar dan mulai berkomitmen untuk mengambil tindakan nyata yang terukur demi terlibat dalam pola asuh dan didik anak-anaknya. Pentingnya ayah terlibat secara aktif dalam pola asuh maupun didik anaknya disuarakan oleh Margareth Kerr dan rekannya yang merujuk pada penelitian mereka berpandangan bahwa keikutsertaan ayah dalam pola asuh dan didik anak berdampak pada kuatnya ikatan emosional, keharmonisan hubungan, dan meksimalnya Weijie Mao et al. AuEffects of Game-Based Learning on StudentsAo Critical Thinking: A MetaAnalysis,Ay Journal of Educational Computing Research 59, no. 8 (April 28, 2. : 1682Ae1708, accessed February 27, 2023, https://journals. com/doi/10. 1177/07356331211007098. Tom Nichols. MATINYA KEPAKARAN (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2. , 11-14. Dominic Strinati. POPULER CULTURE Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (Jakarta: Narasi, 2. , 17-22. Puji Rianto and Bagas Catur Pambudi. AuMedia Sosial Dan Komodifikasi Sosial Anak Muda,Ay Komunika: Jurnal Ilmu Komunikasi 8, no. 2 (July 31, 2. : 122Ae132, accessed February 27, 2023, https://journal. id/komunika/article/view/6705. Prodi Kriminologi and Universitas Budi Luhur Jakarta Selatan. AuFENOMENA ANAK SEBAGAI PELAKU PERSEKUSI DI MEDIA SOSIAL,Ay Jurnal Muara Ilmu Sosial. Humaniora, dan Seni 3, no. (October 11Ae21. February https://journal. id/index. php/jmishumsen/article/view/3455. Rahmawati Rahmawati. AuKomunitas Baca Rumah Luwu Sebagai Inovasi Sosial Untuk Meningkatkan Minat Baca Di Kabupaten Luwu,Ay Diklus: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah 4, no. 2 (September 30, 2. : 158Ae 168, accessed February 21, 2023, https://journal. id/index. php/jurnaldiklus/article/view/32593. Kosma Manurung. AuPeran Ayah Dalam Mengajarkan Anak Mencintai Firman Tuhan,Ay THRONOS: Jurnal Teologi Kristen 3, no. 2 (July 3, 2. : 81Ae92, accessed August 25, 2022, http://ojs. org/index. php/thronos/article/view/37. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 49 kecerdasan sosial emosional anak. 8 Hal serupa dikumandangkan oleh Or Dagan dan Abraham Sagi-Schwartz para akademisi dari Haifa University di Israel yang merujuk pada hasil penelitian mereka menyatakan bahwa keterlibatan ayah pada pola asuh dan didik anak berdampak pada terbangunannya ikatan yang kuat antara ayah-anak serta bersumbangsih pada peningkatan berbagai kamampuan anak. 9 Suara yang sefrekuensi juga dikumandangkan oleh seorang guru besar Washington University bernama John Gottman yang menyatakan karena posisi, ikatan, dan otoritasnya maka seorang ayah sangat cocok untuk mengajari anaknya. 10 Ada beberapa penelitian sebelumnya yang membahas terkait berpikir kritis pada anak seumpama penelitian yang dilakukan oleh Hidayat dan Lutfi yang membingkainya dengan nilai karakter psikomotorik pada anak usia dini 11, atau penelitian Utina Sukma Nasution yang membingkai berpikir kritis anak pada pengaruh pola asuh orang tua. 12 Ada juga penelitian yang dilakukan oleh Niko Sudibjo dan Lia Tondok yang membingkai berpikir kritis pada anak dengan metode book talk dan komunikasi ekspresif verbal13, juga penelitian Laksmi Wardhani dan Dewi Sadiyah yang membingkai berpikir kritis pada anak dengan pengenalan fungsi jam maupun konsep waktu. 14 Jika dicermati dengan baik dari penelitian sebelumnya, maka belum ada yang membahas secara terbuka peran ayah mengembangkan berpikir kritis pada anak dan belum ada juga yang membingkainya dalam konteks keluarga Kristiani. Sedangkan dalam artikel ini peneliti berupaya mengagas peran ayah dalam mengembangkan berpikir kritis pada anak di keluarga Kristiani. METODE PENELITIAN Pada setiap artikel ilmiah, metode penelitian wajib dicantumkan karena selain memberikan legal standing pada karya tersebut juga memudahkan dalam hal check and balance secara akademik oleh rekan sejawat. Metode kualitatif sengaja dipilih dalam kerangka efesiensi dan efektifitas dalam pengerjaan artikel ini juga karena karakteristiknya yang mampu secara mendalam dan cermat mengambarkan obyek yang sedang diteliti. Naratif peneliti gunakan ketika membahas narasi firman Tuhan terkait dengan berpikir kritis seumpama penciptaan alam semesta oleh Allah, menarasikan penggunaan berpikir kritis yang salah tujuan pada pembangunan menara Babel atau orang Majus yang dinarasikan sebagai orang pintar yang terbiasa berpikir kritis. Bahkan dalam Margaret L. Kerr et al. AuFathersAo Emotional Experiences While Parenting Toddlers: A Qualitative Exploration,Ay Early Child Development and Care 192, no. : 1982Ae1997, accessed February 21, 2022, https://w. com/doi/abs/10. 1080/03004430. Or Dagan and Abraham Sagi-Schwartz. AuEarly Attachment Network with Mother and Father: An Unsettled Issue,Ay Child Development Perspectives 12, no. 2 (June 1, 2. : 115Ae121, accessed April 10, 2022, https://onlinelibrary. com/doi/10. 1111/cdep. John Gottman and Joan DeClaire. MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2. , 11. Syarip Hidayat and Lutfi Nur. AuNILAI KARAKTER. BERPIKIR KRITIS DAN PSIKOMOTORIK ANAK USIA DINI,Ay Jurnal Ilmiah Visi 13, no. 1 (June 28, 2. : 29Ae35, accessed February 27, 2023, https://journal. id/unj/index. php/jiv/article/view/5938. Unita Sukma Zuliani Nasution. AuPENGARUH POLA PENGASUHAN TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS ANAK DALAM PEMBELAJARAN,Ay Jurnal Sintaksis 1, no. : 1Ae 9, https://jurnal. id/index. php/Sintaksis/article/view/14/11. Niko Sudibjo. Lia Ratna, and Sagita Tondok. AuMETODE BOOK TALK UNTUK MENUMBUHKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KOMUNIKASI EKSPRESIF VERBAL PADA ANAK USIA 3-4 TAHUN,Ay Jurnal Pendidikan 20, no. 2 (September 5, 2. : 111Ae125, accessed February 27, 2023, https://jurnal. id/index. php/jp/article/view/251. Wahju Dyah Laksmi Wardhani and Dewi Khoirotus Sadiyah. AuKonstruksi Berpikir Kritis Melalui Pengenalan Fungsi Jam Dan Konsep Waktu Pada Anak Usia Dini,Ay Early Childhood: Jurnal Pendidikan 2, no. (November 8Ae21. February https://journal. id/index. php/EARLYCHILDHOOD/article/view/283. Kalis Stevanus. AuKarya Kristus Sebagai Dasar Penginjilan Di Dunia Non-Kristen,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika . Kosma Manurung. AuMENCERMATI PENGGUNAAN METODE KUALITATIF DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI TEOLOGI,Ay FILADELFIA Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 3, no. : 285Ae300, http://e-journal. id/index. php/filadelfia/article/view/48. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 50 pengajaranNya pun Tuhan Yesus memberikan contoh terkait berpikir kritis seumpama dalam perencanaan mendirikan menara atau pentingnya perencanaan dalam berperang di Lukas 14. Metode naratif juga peneliti gunakan untuk menarasikan arti penting berpikir kritis bagi kehidupan seorang anak juga pada subtopik pembahasan mengagas peran ayah dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak. Sedangkan kajian literatur peneliti gunakan untuk memberikan topangan secara akademik terkait berbagai pandangan yang peneliti coba angkat dan kembangkan dalam penelitian ini sehingga memiliki standar ilmiah yang baik. Sebagian besar literatur yang digunakan bersumber dari artikel jurnal yang beririsan kuat dengan topik pembahasan serta memiliki nilai kebaharuan, juga ada yang berasal dari buku yang dinilai selaras dengan pembahasan. PEMBAHASAN Narasi Firman Tuhan Tengang Berpikir Kritis Paul Enns seorang guru besar dari South Eastern Baptist Teological Seminary berkata bahwa Alkitab merupakan wahyu Allah dan Allah mewahyukan dirinya melalui Alkitab. 17 Jika menelisik Alkitab secara lebih teliti akan tergambar bahwa sejatinya Alkitab menempatkan Allah sebagai pencipta segala sesuatu (Kej. Hal ini juga bisa dimaknai segala sesuatu baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat semuanya diciptakan oleh Allah dari yang makrokosmos hingga mikrokosmos. 18 Menelisik lebih jauh bagaimana harmonisnya alam semesta dalam artian semua tersusun dengan begitu rapi, bergerak sesuai dengan jalur lintasannya, dan tidak ada yang bergerak asal sehingga menyebabkan tabrakan entah antar planet di dalam tatasurya yang sama ataupun menabrak planet dari sistem tatasurya lainnya. Tergambar jelas dari keteraturan jagad raya ini bahwa Allah ketika membuat alam semesta begitu memperhitungkan secara saksama setiap elemen baik sola kecepatan, lintasan, maupun jarak tempuhnya sehingga antara bintang yang satu dan yang lainnya bisa berjalan secara harmonis tidak saling tabrak. Dalam hal ini ucapan Albert Einstein yang mengatakan bahwa Allah tidak sedang bermain dadu ketika menciptakan dunia sangatlah bisa disepakati. Alkitab adalah buku yang paling jujur dalam membicarakan sesuatu entah itu perihal yang baik, keunggulan karakter, hal yang menyenangkan hingga suatu pelanggaran, kejahatan, bahkan dosa yang sangat memalukan yang tidak layak untuk Narasi yang Alkitab angkat terkait pembangunan menara Babel merupakan contoh yang perlu dikaji terkait perihal bagaimana Alkitab membingkai berpikir kritis pada manusia, namun salah dalam penggunaannya. Digambarkan bahwa manusia bertekad untuk membangun sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, melalui kemampuan berpikirnya zaman itu, mereka sudah sanggup membuat teknologi canggih untuk Sayangnya kemampuan berpikir, teknologi, maupun impian besar mereka waktu itu, mereka dedikasikan pada hal yang keliru dan berusaha menyamai bahkan menyingkirkan Tuhan, padahal Allah tidak pernah mendisain pikiran kita untuk menentang firmanNya. 20 Hal ini kemudian membuat Allah murka dan mengacaukan bahasa mereka sehingga jalur komunikasi dalam pembangunan menara terputus, tidak saling memahami, bertampak pada terseraknya umat manusia waktu itu. Apa yang dilakukan oleh para pembuan menara Babel yang menggunakan nalar berpikirnya untuk menyaingi Tuhan ini sangat berbeda dengan apa yang dinarasikan oleh Perjanjian Baru Paul Enns. THE MOODY HANDBOOK OF THEOLOGY 1 (Malang: Literatur SAAT, 2. , 165- Hannas Hannas and Rinawaty Rinawaty. AuApologetika Alkitabiah Tentang Penciptaan Alam Semesta Dan Manusia Terhadap Kosmologi Fengshui Sebagai Pendekatan Dalam Pekabaran Injil,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 4, no. 1 (October 25, 2. : 55Ae74, accessed November 15, 2020, http://w. id/e-journal/index. php/dunamis. Jaume Navarro. AuWhittaker. Einstein, and the History of the Aether: Alternative Interpretation. Blunder, or Bigotry?,Ay History of Science 59, no. 3 (November 3, 2. : 287Ae314, accessed February 28, 2023, https://journals. com/doi/10. 1177/0073275320968408. Kosma Manurung. AuMEREKONSTRUKSI KISAH PEMBANGUNAN MENARA BABEL DARI PERSPEKTIF SPRITUALITAS KAUM PENTAKOSTAL,Ay FILADELFIA Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 3, no. : 492Ae444, http://e-journal. id/index. php/filadelfia/article/view/77. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 51 terkait orang majus. Orang majus digambarkan sebagai sebagai orang yang bukan sekedar cerdas, melainkan dalam kecerdasannya mereka gigih berusaha untuk bertemu dan datang menyembah raja segala raja yaitu Tuhan Yesus yang mengambil rupa manusia dan lahirkan di Betlehem (Mat. 2:1-. Salomo terkenal sebagai orang yang penuh hikmat dan sangat berpengetahuan, dalam hikmat dan pengetahuaannya Salomo banyak menghasilkan karya-karya sastra, nasihat, bahkan ada beberapa bagian Alkitab yang merupakan buah karya Salomo seumpama Amsal. Pengkhotbah dan Kidung Agung. 21 Terkait berpikir kritis, ada pengalan kisah dalam hidup Salomo yang begitu mewakili contoh berpikir kritis dalam hidupnya. Suatu hari ketika Salomo belum terlalu lama menjadi raja, datanglah dua orang wanita yang bertengkar memperebutkan seorang bayi . Raj. 3: 16-. Di depan Salomo yang merupakan penguasa sekaligus pemegang otoritas tertinggi waktu itu, kedua wanita ini saling klaim bahwa itu adalah anaknya. Pikiran kritis Salomo yang terasah oleh hikmat Sorgawi langsung menemukan jalan melalui pembuktian lapangan. Salomo meminta seorang prajurit menghadapkan padanya bayi yang hidup itu dan kemudian meminta pedang untuk membagi dua bayi itu agar adil bagi mereka. 22 Sang ibu sejati tidak akan pernah tega anaknya terluka apalagi mati mengenaskan seperti ini, sementara wanita lainnya setuju saja. Pikiran kritis Salomo langsung bisa menilai bahwa wanita yang tidak tega bayi itu meninggal adalah ibu sejati bayi itu. Salomo pun menyerahkan bayi yang hidup itu kepada ibunya. Hanya seorang ibu yang berani melakukan apa saja agar anaknya bisa selamat dan sejahtera, seperti ibu Musa yang berani melawan perintah Firaun dengan tidak membunuh Musa, sebuah cerita yang sangat sering Salomo dengar tentunya. Perjanjian Baru melalui perumpamaan Tuhan Yesus tentang seseorang yang mendirikan menara, haruslah membuat perencanaan angaran yang matang atau raja yang maju berperan melawan raja lain pasti akan mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum berperang, kedua narasi ini pun mencerminkan pentingnya berpikir kritis (Luk. 14: 28-. Pentingnya Seorang Anak Berpikir Kritis Budaya berpikir kritis penting dikembangkan pada seorang anak karena hal itu akan menghindarkannya dari berbagai tindak kejahatan yang mengancamnya. Kristen Turkey dan Rabecca Goodsell merujuk pada hasil penelitian mereka berkesimpulan bahwa anak-anak begitu rentang terhadap berbagai kejahatan yang dengan mudahnya terjadi pada 23 Kejahatan ini bisa berupa kemarahan orang tua tanpa alasan yang dilampiaskan pada anak, pelecehan verbal, pelecehan seksual, eksploitasi anak, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya yang dengan mudahnya terjadi pada seorang anak. Kemen pA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Ana. tahun 2022 lalu memaparkan ada sekitar 9588 kasus kekerasan seksual pada anak dan menyatakan bahwa Indonesia darurat kekerasan seksual terhadap anak, menanggapi hal ini Widya Kirana Sari menyatakan karena begitu rentannya pelanggaran hak-hak anak dan jadi korban eksploitasi seksual maka harus ada upaya ekstra untuk melindungi mereka. 24 Mengingat fakta begitu mudahnya kejahatan terjadi pada anak. Mark Schaller pun mengingatkan para ayah untuk benar-benar menjaga anak-anak mereka dari berbagai bentuk kejahatan, salah satunya adalah dengan menumbuhkan berpikir kritis pada anak sebagai benteng pertahanan diri Hassell Bullock. Kitab-Kitab Puisi Dalam Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2. , 199- Harls Evan Rianto Siahaan. AuHikmat Sebagai Implikasi Pendidikan Kristiani: Refleksi 1 Raja-Raja 3:1-15,Ay DUNAMIS: Jurnal Penelitian Teologi dan Pendidikan Kristiani 1, no. 1 (October 1, 2. : 15, accessed November 30, 2020, https://sttintheos. id/e-journal/index. php/dunamis/article/view/99. Kristin Turney and Rebecca Goodsell. AuParental Incarceration and ChildrenAos Wellbeing,Ay The Future Children . 147Ae164, https://w. org/stable/26641551?Search=yes&resultItemClick=true&searchText=. AND (Children educatio. &searchUri=/action/doBasicSearch?Query=Children education&so=rel& efqs=eyJjdHkiOlsiYW05MWNtNWhiQT09Il0sImRpc2MiOltdfQ%3. Widya Cindy Kirana Sari. AuPerlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Kejahatan Eksploitasi Seksual,Ay Ikatan Penulis Mahasiswa Hukum Indonesia Law Journal 2, no. 1 (February 2, 2. : 61Ae 72, accessed March 1, 2023, https://journal. id/sju/index. php/ipmhi/article/view/53747. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 52 untuk bisa menghindar dari jerat atau tipuan orang dewasa di sekitar mereka yang mencoba memanfaatkannya. 25 Seumpama mengajarkan anaknya dengan penekanan penjelasan yang mudah dipahami untuk tidak menerima pemberian dari orang yang tidak dikenal, bisa saja orang tersebut sudah mencampurkan obat bius atau obat tidur ke permen atau minuman pemberiannya, karena bermaksud jahat ingin menculiknya atau berbuat jahat padanya. Melatih anak-anak menemukan solusi adalah arti penting lainnya mengapa berpikir kritis perlu dikembangkan pada seorang anak. Jennifer Wellberg seorang akademisi yang lama berkecimpung sebagai praktisi anak dan seorang peneliti perilaku anak, berkeyakinan anak-anak yang terbiasa dilatih berpikir kritis akan mampu untuk mendapatkan solusi dari berbagai persoalan keseharian yang mereka hadapi. 26 Jauh sebelum Wellberg. Daniel Goleman sang akademisi Harvard pernah mengumandangkan hal ini, di mana seorang anak yang sudah terlatih berpikir kritis akan lebih mampu menemukan berbagai jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya juga mampu mengendalikan diri dari berbagai godaan negatif. 27 Data penelitian Gian Anggraini dan rekan pun menunjukan pengaruh positif berupa kemampuan lebih dalam menyelesaikan permasalahan dari anak-anak yang budaya berpikir kritisnya sudah berkembang. 28 Umpamanya saja seorang anak yang terbiasa dilatih berpikir kritis dalam menyelesaikan berbagai soal matematika di rumah, ketika ada di sekolah dan mendapatkan soal-soal yang berkarakter mirip atau dengan persamaan yang tidak terlalu jauh berbeda dari yang terbiasa dia latih di rumah, maka si anak akan dengan sangat mudah mendapatkan jawaban dari persoalan itu. Contoh lainnya jika di rumah seorang anak terbiasa diajarkan pentingnya menjaga kebersihan dengan pemahaman bahwa hal itu terkait erat dengan kesehatan, maka ketika si anak melihat banyak sampah berserakan di ruang kelasnya maka dia akan bertindak mengambil sapu dan engkrak untuk membersihkan sampah yang mengotori ruang kelasnya. Budaya berpikir kritis penting dikembangkan pada diri anak karena hal itu berdampak pada peningkatan kemampuan akademiknya. Pietro Muratori dan rekan menilai ada korelasi yang besar antara berpikir kritis dan kemampuan akademik anak, dalam artian anak yang terbiasa berpikir kritis biasanya lebih unggul secara akademik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ranah akademik menuntut seseorang untuk berpikir kritis dalam artian tidak mudah setuju terhadap pandangan seseorang, melainkan akan berusaha mengkaji pandangan itu dengan mencocokkannya dengan pandangan lainnya atau mencarikan alternatif pemikiran lain untuk memperkokoh pandangan tersebut. Ini artinya seorang anak yang dibiasakan berpikir kritis, ketika membahas suatu pembelajaran misalkan saja tata surya maka sangat mungkin dia akan mencari berbagai pandangan dari banyak sumber untuk mendalami pemahamannya, sehingga gagasannya tentang tata surya Si anak tidak akan menolak ketika ada yang berkata bahwa ada banyak bulan di jagad raya karena dia sendiri tahu bahwa di sistem tata surya kita di mana matahari di kelilingi delapan planet . ulu pluto termasu. ada planet yang punya lebih dari satu bulan misalkan Saturnus punya 82 bulan. Timothy Walker praktisi dan pengamat pendidikan Finlandia melihat bahwa pentingnya budaya berpikir kritis ini dikembangkan pada seorang anak juga terlihat sangat jelas dalam sistem pendidikan di Finlandia, makanya tidak heran Mark Schaller. AuThe Parental Care Motivational System and Why It Matters . or Everyon. ,Ay Current Directions in Psychological Science 27, no. 5 (October 12, 2. : 295Ae301, accessed February 7, 2022, http://journals. com/doi/10. 1177/0963721418767873. Jennifer Wellberg. AuFostering Critical Thinking in Pre-K,Ay The Reading Teacher 73, no. 377, https://w. org/stable/26839962. Daniel Goleman. EMOTIONAL INTELLIGENCE (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2. , 40-44. Gian Fitria Anggraini et al. AuPENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS ANAK USIA DINI MELALUI STORYTELLING DI TK AMARTANI BANDAR LAMPUNG,Ay Jurnal Pengabdian Dharma Wacana 1, no. 1 (December 18, 2. : 15Ae25, accessed March 1, 2023, https://ejurnal. id/index. php/jp/article/view/21. Pietro Muratori et al. AuUniversal Coping Power for Pre-Schoolers: Effects on ChildrenAos Behavioral Difficulties and Pre-Academic Skills,Ay School Psychology International 40, no. 2 (December 3, 2. : 128Ae144, accessed March 2, 2023, https://journals. com/doi/10. 1177/0143034318814587. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 53 kalau hasil pembelajaran di sana dianggap salah satu yang terbaik dari sistem pendidikan di dunia. Peluang lebih berhasil di masa depan adalah hal penting lainnya budaya kritis perlu dikembangkan pada diri seorang anak. Goleman mengamati dalam masyarakat modern, keunggulan seseorang menempatkannya dalam berbagai keuntungan baik berupa penghargaan, fasilitas, income, dan hal istimewa lainnya. 31 Berpikir kritis merupakan keunggulan tersendiri bagi seorang anak, di ruang kelas ia akan menonjol dengan nilai akademik yang sangat bagus, membuatnya unggul secara akademik yang memungkinnya melanjutkan pendidikan di kampus-kampus bereputasi baik dan dikenal secara 32 Bahkan ketika ada persoalan yang membutuhkan pemikiran mendalam, dia akan selalu dilibatkan. Bisa jadi setelah tamat dari universitas terkenal tersebut, dia diminta bekerja untuk membantu pemerintah mengevaluasi berbagai program atau merancang program yang akan dikerjakan. Seumpama di masa Jokowi memerintah, ada banyak anak muda yang unggul bekerja dipemerintahannya, ada banyak kementrian yang sengaja memakai anak muda yang unggul dalam cara berpikir tersebut, serta cara pandang mereka lebih cocok dan sangat relevan dengan budaya kekinian. Keunggulan berpikirnya yang kritis dan mampu menganalisis dengan tajam berbagai program membuatnya selalu menemani pimpinannya bertemu dengan banyak orang hebat lainnya. Selain itu akan ada banyak tempat yang akan dia kunjungi dan bagi kedua orang tuanya tentunya pencapaian si anak ini merupakan kebanggaan. Mengagas Peran Ayah Seorang ayah akan berperan maksimal dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak ketika mulai mengajarkannya seawal mungkin dalam kehidupan seorang David Morgan menelisik sejatinya keluarga bukanlah rangkaian hubungan yang pasif melainkan hubungan yang terbentuk kuat serta mendalam melalui praktik keseharian hidup, yang diajarkan kepada anggotanya sedari kecil dan diupayakan untuk mereka dilakukan terkait nilai-nilai baik, penuh kasih, saling hormat dan berbagai nilai-nilai bernuansa kebenaran yang dihidupi oleh para anggotanya. 33 Senada dengan Morgan. Carrie DePasquale dan Megan Gunnar merujuk pada hasil penelitian mereka terkait pentingnya kepekaan dalam pola asuh dan didik anak pun sepemahaman, bahwa keterlibatan ayah sangat penting dalam mengajarkan anak sedini mungkin dalam artian ketika anak sudah mulai bisa berkomunikasi dan mulai bisa memahami. 34 Gottman dan DeClaire pun mengemukakan pandangan yang ekuivalen yaitu pentingnya mengajarkan anak di awal usia yang biasa juga disebut lima tahun pertama usia anak karena di usia itu keingin tahuan anak begitu tinggi dengan daya serap yang maksimal. 35 Prinsip yang sama pun berlaku dalam mengembangkan budaya anak berpikir kritis, ayah harus mulai melibatkan diri dan melatih anak sedari dia kecil. Seumpama ayah mulai bisa mengajarkan permainan catur yang memang dikenal menantang untuk berpikir, atau mulai mengajarkan anak penjumlahan matematika sederhana bahkan bisa melatih anak mulai perkalian. Intinya ayah mulai memperkenalkan hal-hal yang bisa sianak temui yang juga menantangnya untuk berpikir. Pentingnya Ayah terlibat dalam pola didik dan pola asuh anak sedini mungkin juga disuarakan oleh Manurung dan Walean yang berpandangan Timothy D. Walker. TEACH LIKE FINLAND (Jakarta: Grasindo, 2. , 156-160. Daniel Goleman. SOCIAL INTELLIGENCE (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2. , 101. Erfan Hasmin and Sitti Aisa. AuPenerapan Algoritma C4. 5 Untuk Penentuan Penerima Beasiswa Mahasiswa,Ay CogITo Smart Journal 5, no. 2 (December 26, 2. : 308Ae320, accessed March 2, 2023, https://cogito. id/index. php/cogito/article/view/219. David H. Morgan. AuFamily Troubles. Troubling Families, and Family Practices,Ay Journal of Family Issues 40, no. 16 (November 9, 2. : 2225Ae2238, accessed February 24, 2022, http://journals. com/doi/10. 1177/0192513X19848799. Carrie E. DePasquale and Megan R. Gunnar. AuParental Sensitivity and Nurturance,Ay The Future of Children . 53Ae70, https://w. org/stable/27075015?refreqid=excelsior:297cfb7426fdf96b06659ccd9f15c034. Gottman and DeClaire. MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK, 4-9. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 54 bahwa keterlibatan ayah ini selain membangun ikatan emosional juga memicu semangat yang berdampak pada meningkatnya kemampuan anak. Seorang ayah akan berperan maksimal mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak ketika menjadikan dirinya teman diskusi bagi sang anak. Marc James Uy dan rekannya meneliti bahwa anak-anak yang terbiasa berdiskusi dan dalam diskusi tersebut diberikan cukup ruang untuk mengemukakan pendapatnya, mempertahankan pendapatnya, diperlakukan dengan baik dan penuh hormat selama berdiskusi, bahkan dihargai pendapatnya selain terasahnya kemampuan berpikir anak juga mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi anak. 37 Untuk bisa menjadi teman diskusi anak. Goleman menyarankan para ayah menjadi pendengar yang baik bagi anaknya. 38 Haim Ginott guru besar Universitas New York kelahiran Tel Aviv Israel mengingatkan para ayah ketika berkomunikasi atau mengajarkan anak sesuatu haruslah menggunakan standar si anak jangan pernah menggunakan standar orang dewasa. 39 Ini artinya seorang ayah yang mencoba menjadi teman diskusi anak, maka materi yang dijadikan bahan diskusi harusnya menggunakan materi-materi yang selevel dengan nalar berpikir si anak. Ketika anak baru berusia 3 tahunan maka jangan pernah memperkenalkan teori Pitagoras untuk mencari panjang segitiga sama sisi, hal ini tentunya masih di luar kemampuan si anak. Barangkali bisa mulai dengan menonton film bersama dan kemudian membahas seputar film itu, seperti yang dilakukan oleh mas menteri Nadim Makarim yang dalam salah satu wawancaranya dengan Gita Wirjawan di kanal You Tube Endgame bersaksi bahwa beliau sering mendiskusikan film Frozen dengan putri kecilnya. Intinya untuk mengawali, ada baiknya mulailah dengan memilik topik-topik diskusi yang menyenangkan bagi anak sehingga diskusi itu akan menyenangkan bagi mereka, baru kemudian setahap demi setahap berproses naikkan materi diskusinya dengan sesuaitu yang lebih menantang pikiran kritisnya. Menjadi mentor bagi anak adalah hal lain yang bisa diperankan oleh para ayah agar menjadi maksimal dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak. Marcus Stallworth menelisik ada kalanya dalam kegiatan pembelajarannya, yang seorang anak butuhkan dari ayahnya adalah dia berperan sebagai mentor untuk membantunya menunjukan dan memahami dengan baik apa yang sedang dipelajarinya. 40 Seorang mentor sejatinya bukanlah orang yang sekedar tahu terkait sesuatu atau mampu melakukan sesuatu, melainkan juga mampu menstransfer pengetahuannya sehingga membuat orang lain mampu melakukan yang bisa iya lakukan sama baiknya atau malah lebih baik. Seorang mentor akan melakukan berbagai upaya yang dibutuhkan misalkan membantu yang dimentoring untuk mampu menemukan cara atau solusi mengerjakan sesuatu, bersedia memberikan lebih banyak waktu, serta mendedikasikan dirinya untuk tidak menyerah sampai yang dimentoring mencapai target yang disepakati bersama. Dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak, tergambar jelas banwa seorang ayah pun perlu menempatkan dirinya sebagai mentor sang anak. Gottman dan DeClaire berpandangan bahwa memang seorang anak akan sangat diuntungkan jika memiliki ayah yang pintar namun kalau kepintaran ayah hanya bagi dirinya saja dan tidak bersedia mengajar dan menjadi mentor bagi anak untuk mengajarkan keunggulan padanya maka kepintaran ayah tidak terlalu berguna bagi perkembangan pendidikan anaknya. 41 Ginott Kosma Manurung et al. AuMenelisik Kontribusi Ayah Dalam Menanamkan Kesabaran Pada Anak Di Keluarga Kristen,Ay Jurnal Salvation 3, no. 2 (January 26, 2. : 89Ae100, accessed February 13, 2023, http://jurnal. id/index. php/salvation/article/view/66. Marc James Abrigo Uy et al. AuHow Should We Approach and Discuss ChildrenAos Weight With Parents? A Qualitative Analysis of Recommendations From Parents of Preschool-Aged Children to Physicians,Ay Clinical Pediatrics 58, no. 2 (November 15, 2. : 226Ae237, accessed March 3, 2023, https://journals. com/doi/10. 1177/0009922818812489. Goleman. EMOTIONAL INTELLIGENCE, 203. Haim G. Ginott. MEMESRAKAN HUBUNGAN ANDA DAN ANAK ANDA (Jakarta: Gramedia, 1. Marcus Stallworth. AuWorking for Father Involvement: Notes from the National Fatherhood Leadership Council. ,Ay ChildrenAos Voice 28, no. : 24, https://w. org/stable/48626303. Gottman and DeClaire. MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK. 202- 206. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 55 pun mengingatkan para ayah ketika bersama anak mereka untuk mengambil peran sebagai mentor yang bisa mengarahkan anak-anaknya pada tujuan atau nilai-nilai tertentu untuk dipelajari dan memberitahukan cara terbaik untuk mengapainya. 42 Lan Pei Cha merujuk pada penelitiannya meyakini kehadiran ayah dalam pola asuh maupun pola didik anak akan maksimal ketika menavigasinya sebagai seorang mentor, dalam artian ayah juga menempatkan diri sebagai mentor bagi anaknya. Menjadi teladan hidup paling dekat yang bisa dicontoh anak adalah peran penting lainnya yang bisa para ayah lakukan untuk mengembangkan budaya berpikir kritis pada Albert Bandura menilai bahwa kehidupan anak itu merupakan sebuah proses peniru, jadi anak-anak akan dengan mudah meniru orang dewasa disekitarnya maka dari itu penting bagi seorang ayah untuk memberikan contoh yang baik dalam bertutur kata maupun berperilaku. 44 Pernyataan serupa juga dikumandangkan oleh Singgih Gunarsa sang guru besar dari Universitas Indonesia yang meminta para ayah untuk menjadi tokoh ideal yang bisa ditiru oleh sang anak. 45 Ginott pun meminta para ayah untuk jangan asal bicara saja tapi menunjukan hal tersebut dalam perbuatan nyata karena ketika seorang ayah gagal menjadi contoh yang bisa diteladani anak, hal ini akan menyebabkan anak kehilangan kepercayaan, kegembiraan, bahkan terlihat sebagai sesuatu yang menjijikkan bagi anaknya . 46 Ini artinya ayah jangan hanya meminta anak berpikir kritis melainkan menjadikan dirinya model teladan berpikir kritis bagi anak-anaknya. Seumpama kalau sedang menonton tv terkait topik perundungan yang dilakukan di sekolahan maka ayah harus menjelaskan dampak dari perundungan tersebut, bagi perasaan anak pastinya dia sangat sedih dan kedua orang tuanya pasti jusa sangat sedih terkait yang dialami si anak. Si ayah bisa melanjutkan argumen pemikirannya misalkan kalau perundungan itu kemudian menyebabkan si anak harus ke rumah sakit maka anak-anak lain yang menyebabkan hal tersebut bisa berurusan dengan polisi, juga orang tua mereja jadi malu karena perbuatan anak-anak ini. Intinya sang ayah harus memposisikan dirinya sebagai teladan dalam berpikir kritis. Seperti kata Manurung menjadi ayah yang bisa diteladani merupakan hak istimewa sekaligus juga kehormatan yang Allah berikan bagi seorang PENUTUP Budaya berpikir kritis pada anak tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya melainkan mereka perlu orang tuanya atau orang dewasa lainnya yang ada di sekitar mereka untuk membantunya. Mengingat posisi, kedekatan, maupun otoritasnya maka seorang ayah dianggap paling cocok dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak. Merujuk pada hasil pembahasan, seorang ayah akan berperan maksimal dalam mengembangkan budaya berpikir kritis pada anak ketika mulai memperkenalkannya sedini mungkin pada anak, seumpama mengajarkannya sembari bermain catur atau tanya jawab dalam matematika sederhana tentang penjumlahan dan pengurangan yang beririsan kuat dengan keseharian hidup anaknya. Selain itu ayah bisa berperan sebagai teman diskusi Tentunya pemilihan materi diskusi disesuaikan dengan kemampuan si anak dan halhal yang menyenangkan bagi anak, bisa berupa mendiskusikan film yang ditonton bersama Menjadikan dirinya mentor berpikir kritis bagi anak adalah peran lainnya yang ayah bisa pilih agar budaya berpikir kritis anak berkembang dengan baik. Menjadikan dirinya Ginott. MEMESRAKAN HUBUNGAN ANDA DAN ANAK ANDA, 103-107. Pei Chia Lan. AuNavigating Childrearing. Fatherhood, and Mobilities: A Transnational Relational Analysis,Ay The Sociological Review 71, no. 1 (December 15, 2. : 3Ae26, accessed March 3, 2023, https://journals. com/doi/10. 1177/00380261221143586. Albert Bandura. AuApplying Theory for Human Betterment,Ay Perspectives on Psychological Science (January 12Ae15. February http://journals. com/doi/10. 1177/1745691618815165. Singgih D. Gunarsa. DASAR & TEORI PERKEMBANGAN ANAK (Jakarta: Libri, 2. , 208. Ginott. MEMESRAKAN HUBUNGAN ANDA DAN ANAK ANDA, 68-88. Kosma Manurung. AuMenelisik Kontribusi Ayah Dalam Mengajarkan Kemandirian Pada Anak,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 3, no. : 61Ae77, https://stak-pesat. id/ejournal/index. php/edulead/article/view/95. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 56 contoh hidup yang bisa diteladani dalam hal berpikir kritis adalah peran lainnya yang para ayah bisa mainkan agar budaya berpikir kritis pada anak mampu berkembang pesat. Pada konteks ini ayah bukan hanya mentransfer informasi maupun pengetahuan saja melainkan juga menjadikan dirinya pelaku dari berbagai informasi maupun pengetahuan yang dia REFERENSI