ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 PENGARUH BEDA SUHU PELETAKAN BANGKAI TERHADAP PERTUMBUHAN LARVA LALAT CHRYSOMYA MEGACEPHALA PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicu. Andi Ipaljri Saputra1,Isramilda2,Sufyan Ats Tsaury3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, andiipaljri@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, isramilda@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, sufyantsaury99@gmail. ABSTRACT Background: Not a few phenomena of abandoned corpses without knowing the length of time of death, to reveal the mystery of abandoned corpses, identification is needed in order to find out postmortem interval (PMI). With the help of forensic entomologists as investigators and Chrysomya Megacephala flies as the type of animal that first landed on the corpse. The fast or slow growth of flies is also influenced by temperature as the main factor, so by examining the growth of flies with different temperatures, it is possible to calculate the length of time the corpse will die. Methods:This research method is an analytical research true experimental design in the laboratory using the "Posttest Only Control Group Design",The test animals in this study were 18 rats (Rattus norvegicu. which were dislocated in the neck and given an 1cm incision in the abdomen. The treatment was divided into 3 temperature groups, namely 160C, 270C and 390C using an incubator, each of which was placed 10 Chrysomya Megacephala flies. And seen for 5 days in a row in the morning and The analytical test used is the Mann Whitney test. Results:The results obtained when tested using the Mann Whitney test were obtained . value = 0. which means that there is a significant difference between temperatures of 160C and 390C. Meanwhile, at a temperature of 270C with a temperature of 160C and 390C . value = 0. , which means that there is a non-significant difference between the treatment at 270C with a temperature of 160C and 390C. Conclusion: Based on the results of this study, it can be concludedthe differences in the growth of Chrysomya Megacephala fly larvae at different temperatures. Keywords: Temperature. Dead. Chrysomya Megacephala fly larvae ABSTRAK Latar Belakang:Tidaklah sedikit fenomena mayat terlantar tanpa diketahui lama waktu kematian, untuk mengungkapkan misteri mayat terlantar, maka dibutuhkan identifikasi agar dapat mengetahui post-mortem interval (PMI). Dengan bantuan entomologi forensik sebagai penyidik dan lalat jenis Chrysomya Megacephala sebagai hewan yang pertama kali hinggap pada mayat. Cepat atau lambatnya pertumbuhan lalat dipengaruhi oleh suhu sebagai faktor utamanya, maka dengan meneliti pertumbuhan lalat dengan suhu yang berbeda-beda dapat menghitung lama waktu kematian mayat. Metode: Metode Penelitian ini merupakan penelitian true exsperimental design di Laboratorium menggunakan rancangan AuPosttest Only Control Group DesignAy,Hewan ujipada penelitian ini adalah 18 ekortikus (Rattus norvegicu. yang di dislokasi leher dan diberi 1cm sayatan pada abdomen. perlakuan dibagi menjadi 3 kelompok suhu yaitu suhu 160C, 270C dan 390C dengan menggunakan inkubator yang masing-masing diletakan 10 ekor lalat Chrysomya Megacephala. Dan dilihat selama 5 hari berturut-turut pada pagi dan sore hari. Uji analisis yang digunakan adalah uji Mann Whitney. Hasil: Hasil yang didapatkan saat di uji menggunakan uji Mann Whitney didapatkan . value = 0,. yang berarti adanya perbedaan yang bermakna antara suhu 160C dengan 390C. Sedangkan pada suhu 270C dengan suhu 160C dan 390C . value = 0,. yang berarti adanya perbedaan yang tidak bermakna antara perlakuan suhu 270C dengan suhu 160C dan 390C. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan adanya perbedaan pertumbuhan larva lalat Chrysomya Megacephala pada suhu yang berbeda-beda. Kata Kunci: Suhu. Bangkai. larva lalat Chrysomya Megacephala Universitas Batam Page 40 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 PENDAHULUAN Seluruh makhluk hidup pasti akan melewati siklus hidupnya masing-masing, dimulai dengan pembuahan dalam rahim sang ibu hingga di akhiri dengan kematian. Kematian merupakan suatu hal yang tidak mungkin bisa dihindari oleh setiap makhluk yang bernyawa, tanpa ada yang mengetahui cara, bagaimana dan dimana manusia itu Salah satu penyebab kematian seseorang adalah pembunuhan (Senduk et al. Menurut data dari World Health Organisation (WHO), bahwa telah terjadi 000 kasus pembunuhan di seluruh dunia pada tahun 2012 . ,7/100. Populas. dengan 60%korban adalah laki-laki dengan rentan usia 15-44 (Sumampouw et al. Data United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC)tahun 2011 menunjukkan Indonesia menempati urutan kedua dalam jumlah kasus pembunuhan di Asia Tenggara dengan presentase 8,1 kasus per 100. penduduk (Nabil Hajar. Gatot Suharto, 2. Menurut catatan Biro Pengendalian Operasi Mabes Polri dan Badan Pusat Statistik Indonesia setidaknya telah terjadi 1. 292 kasus pembunuhan pada tahun 2016 dan 1. kasus pembunuhan pada tahun 2017. Hal ini juga dikaitkan dengan Kota Batam yang termasuk kota dengan adanya kasus pembunuhan yang tidak sedikit, seperti yang tercatat pada Laporan Analisa dan Evaluasi Bulanan Reserse Kriminal Polda Kepri bulan Februari tahun 2020 bahwa sepanjang bulan Januari telah ditemukan adanya 11 kasus pembunuhan dan 9 kasus mayat terlantar. Beberapa informasi yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa jenazah pembunuhan ditemukan di berbagai tempat, sehingga tak sedikit fenomena mayat Untuk mengungkapkan misteri Universitas Batam dari mayat yang ditemukan, mayat tersebut harus diidentifikasi. Dengan demikian pertanyaan yang sering muncul seperti siapa, kapan, dimana, dan bagaimana orang tersebut bisa meninggal akan terjawab. Identifikasi mayat tersebut sangatlah penting baik bagi polisi yang akan menangani masalah tersebut ataupun keluarga korban yang membutuhkan penjelasan atas kematian korban (Laksmita et al. , 2. Dengan pemantauan entomologi forensik, aktivitas serangga akan timbul setelah proses kaku mayat dan lebam mayat Serangga yang muncul pertama dan akan membantu dekomposisi mayat berupa Pertumbuhan larva pada mayat dipengaruhi oleh banyak hal, tergantung dari proses pembusukan mayat dan faktor lingkungan disekitarnya, seperti suhu, pencahayaan, udara, kelembaban dan kehidupan mikroorganisme lainnya (Elfinchia Tiara Switha. Chairil Anwar. Dalilah Dalilah. Terutama di daerah tropika seperti Indonesia yang cenderung lembab dan suhu berubah-ubah perkembangan larva lalat semakin cepat dalam memenuhi satu siklus hidupnya. Tinggi dan rendahnya suhu bisa menjadi ancaman bagi perkembangan larva lalat, sehingga berpengaruh pada tubuh mayat yang akan di singgahinya (Elfinchia Tiara Switha. Chairil Anwar. Dalilah Dalilah, 2. Salah satu jenis lalat yang paling sering muncul pertama kali pada mayat adalah Chrysomya Megacephala, dikarenakan spesies ini sangat menyukai aroma dari darah segar, terutama darah dari luka terbuka dan cairan tubuh yang keluar dari mayat. Spesies ini juga dikenal sebagai lalat jamban oriental yang masuk kedalam keluarga Calliphoridae salah satu ciri dari lalat ini adalah dengan tubuh seperti kotak dan berwarna metalik biru kehijauan (Badenhorst & Villet, 2. Page 41 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 Menurut hasil dari penelitian Switha, et al. dan Manik . , menyatakan bahwa adanya pengaruh tempat peletakan bangkai terhadap pertumbuhan larva lalat, dengan salah satu faktor yang paling mempengaruhi ialah suhu (Elfinchia Tiara Switha. Chairil Anwar. Dalilah Dalilah, 2. , (Laksmita et al. , 2. Diperkuat dengan adanya penelitian oleh Sontigun, et al. tentang pengaruh suhu secara signifikan mempengaruhi fekunditas dan perkembangan Chrysomya Megacephala (Sontigun et al. Berdasarkan dari uraian diatas dan tidak sedikitnya mayat terlantar tanpa diketahui kapan waktu meninggalnya, maka peneliti tertarik membantu instansi terkait untuk meneliti mengenai AuPengaruh Beda Suhu Peletakan Bangkai Terhadap Pertumbuhan Larva Lalat Chrysomya Megacephala Pada Tikus Wistar (Rattus norvegicu. Ay. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Beda Suhu Peletakan Bangkai Terhadap Pertumbuhan Larva Lalat Chrysomya Megacephala Pada Tikus Wistar (Rattus norvegicu. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen yaitu dengan memberikan beda Chrysomya Megacephala pada tikus wistar (Rattus Norvegicu. Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni laboratoris AuPost-test Only Control Group DesignAy. Hewan ujipada penelitian ini adalah 18 ekortikus (Rattus norvegicu. yang di dislokasi leher dan diberi 1cm sayatan pada perlakuan dibagi menjadi 3 kelompok suhu yaitu suhu 160C, 270C dan 390C dengan menggunakan inkubator yang masing-masing diletakan 10 ekor lalat Chrysomya Megacephala. Dan dilihat selama Universitas Batam 5 hari berturut-turut pada pagi dan sore hari. Penelitian ini di laksanakan di Laboratorium Riset Terpadu Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto. Desember 2021. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah suhu lingkungandengan perlakuan suhu 160C, 270C dan 390C yang mempengaruhi pertumbuhan larva lalat. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Perkembangan Larva Lalat Chrysomya Megacepphala pada bangkai tikus. Alat dan Bahan Penelitian. Alat yang digunakan antara lain wadah sampel, inkubator, termometer, timbangan, kamera, pita ukur, mikroskop, perangkap lalat, dan kandang lalat. Bahan yang digunakan antara lain Tikus putih jantan galur wistar (Rattus novergicu. Lalat Chrysomya Megacephala dan Jeroan Sapi. Pengumpulan Lalat Chrysomya Megacephala. Menggunakan corong semi Setiap perangkap diberi umpan 300gr jeroan sapi yang telah didiamkan selama 1 hari. Kemudian jeroan sapi dimasukan dan diletakkan didasar perangkap selama 1 hari (Sontigun et al. , 2. Persiapan hewan uji. Dalam penelitian ini, menyiapkan 18 ekor tikus jantan yang memiliki berat 150-200 gram. Lalu tikus tersebut diberi perlakuan mati dislokasi leher dan diberi sayatan pada bagian abdomen 1cm dengan cara (Manik, 2. , (Stevani et al. Tikus dipegang pada ekornya kemudian ditempatkan pada permukaan yang bisa merenggangkan badannya. Pada tengkuknya dipegang dengan satu . Tangan lainnya kemudian menarik ekornya dengan keras, sehingga lehernya akan terdislokasi, dan tikus akan terbunuh. Kemudian tikus diberi sayatan sepanjang Page 42 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 1cm pada bagian abdomen. Pemberian perlakuan. 8 bangkai tikus dan 30 ekor lalat dikelompokkan menjadi 3 membedakan tiap kelompok. 3 kelompok tersebut yaitu kelompok 1, 2, dan 3 masingmasing berisi 6 ekor tikus dan 10 ekor lalat Chrysomya Megacephala. Kemudian, tikus dan lalat yang telah dikelompokkan diberi perlakuan berupa peletakkan di Incubator berdasarkan perbedaan suhu. Kelompok 1 diberi perlakuan 160C. Kelompok 2 diberi perlakuan dengan suhu 270C. Kelompok 3 diberi perlakuan dengan suhu 390C. Pengamatan. Pengamatan bangkai tikus dilakukan setiap pagi pada pukul 09. 00 dan sore hari pukul 15. 00 pada masing-masing kelompok hingga 5 hari. Pengamatan yang diperhatikan berupa munculnya larva lalat dan perkembangan pada perlakuan tersebut. Identifikasi. Identifikasi dilakukan setelah ditemukan larva lalat dari masing-masing diawali dengan menyiapkan 3 wadah sampel yang berbeda dan diberi label yang berisi informasi tanggal, waktu dan Kemudian, mengambil larva secara random dari 3 kelompok dan diletakkan pada 3 wadah yang sudah disiapkan. Selanjutnya, dilakukan pengukuran panjang larva lalat dengan menggunakan pita ukur. Analisa data. Larva lalat yang telah dideskripsikan dan digambarkan sesuai dengan hasil pengamatan dan dibuat kesimpulan terkait penelitian tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari untuk melihat pertumbuhan dari larva lalat Chrysomya Megacephala yang berada pada bangkai yang ditempatkan pada masing-masing perlakuan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang Pengaruh Beda Suhu Peletakan Bangkai Terhadap Pertumbuhan Larva Lalat Chrysomya Megacephala Pada Tikus Wistar (Rattus norvegicu. terdapat perbedaan pertumbuhan larva lalat pada tiap perlakuan. Hasil penelitian dibagi menjadi 3 kelompok. yang dilihat pada penjelasan sebagai berikut:. Tabel 1 Hasil Pengamatan Rerata Panjang Larva Lalat Telur Hasil Pengamatan Peletakan Telur Telur Telur Telur Hari Ke-1 Hari Ke-2 Hari Ke-3 Hari Ke-4 Hari Ke-5 Universitas Batam Larva Instar I dengan Panjang 1 mm Larva Instar I dengan Panjang 1,5 mm Larva Instar I dengan Panjang 2 mm Larva Instar I dengan Panjang 2,5 mm Larva Instar I dengan Panjang 3,5 mm Larva Instar I dengan Larva Instar I dengan Panjang 1 mm Larva Instar I dengan Panjang 2 mm Larva Instar I dengan Panjang 4 mm Larva Instar II dengan Panjang 6 mm Larva Instar II dengan Panjang 8 mm Larva Instar i dengan Panjang 12 mm Larva Instar i dengan Telur Larva Instar I dengan Panjang 2 mm Larva Instar I dengan Panjang 4 mm Larva Instar II dengan Panjang 8 mm Larva Instar II dengan Panjang 10 mm Larva Instar i dengan Panjang 15 mm Larva Instar i dengan Panjang 17 mm Larva Instar i dengan Panjang 19 mm Larva Instar i dengan Page 43 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 Panjang 4 mm Panjang 15 mm Panjang 20 mm Tabel 2 Hasil Pengamatan Pembusukan Tikus Hasil Pengamatan Waktu Pengamatan Hari Pertama Lalat hinggap pada bangkai dan mulai bertelur (Fresh Stag. Hari Ke-2 Hari Ke-3 Hari Ke-4 Hari Ke-5 Berdasarkan tabel 1. didapatkan suhu yang paling lambat dalam perkembangan larva lalat adalah pada suhu 160C, yang dibuktikan dengan hanya ditemukan rerata panjang larva lalat 4mm pada hari ke-5. Dan pada suhu 270C pada hari terakhir ditemukan rerata panjang larva lalat berada pada panjang 15mm. Sedangkan pada suhu 390C didapatkan pertumbuhan tercepat pada penelitian ini yakni hingga mencapai panjang rerata 20mm. Berdasarkan tabel 2. didapatkan suhu yang paling lambat dalam pembusukan tikus Universitas Batam adalah pada suhu 160C, yang dibuktikan dengan hanya sampai tahap Bloated Stagepada 0-78 jam. Dan pada suhu 270C dan 390C pada hari terakhir sama-sama ditemukan pembusukan tahap Active Decay Stage. Sedangkan pada suhu 390C didapatkan pertumbuhan tercepat pada penelitian ini yakni hingga mencapai panjang rerata 20mm. Setelah data,maka datamenggunakan SPSS(Statistical Package for the Social Science. dilakukan uji Kruskal Wallis . Page 44 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 Tabel 2 Hasil Uji Kruskal Wallis Kruskal Wallis Test Test Statisticsa,b Chi-Square Asymp. Sig. 7,669 Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan nilai signifikansi 0,022 dimana 0,022 < 0,05. Pada penelitian ini, yang terjadi adalah penolakan Ho dan penerimaan Ha adanya Pengaruh Beda Suhu Peletakan Bangkai Terhadap Pertumbuhan Larva Lalat Chrysomya Megacephala Pada Tikus Wistar (Rattus Norvegicu. Dikarenakan p<0,05, maka data tersebut dilanjutkan dengan uji Mann Whitney untuk melihat perbedaan bermakna antar kelompok, perbedaan dapat dilihat pada tabel 3 berikut . Tabel 3 Hasil uji Mann Whitney (I) Kelompok Perlakuan 160C Perlakuan 270C (I) Kelompok Perlakuan 270C Perlakuan 390C Perlakuan 390C Berdasarkan hasil uji Mann Whitney pada panjang larva lalat setelah perlakuan didapatkan kelompok perlakuan 390C memiki perbedaan bermakna terhadap kelompok perlakuan 160C, dan Perlakuan 270C tidak memiliki perbedaan bermakna dengan kelompok perlakuan 160C dan perlakuan 390C. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (M. Ihsan et al. , 2. , yang menjelaskan bahwa suhu yang rendah akan cenderung lebih lambat pertumbuhannya dibanding suhu panas yang tentunya masih dalam rentan suhu yang masih bisa dijadikan ekosistem larva lalat yaitu ketika dingin (<120C) dan panas (>470C) (I. Ihsan, 2. Pada penelitiannya yang mengambil rentan suhu 160C, 270C, 310C, dan 390C sebagai Beliau menyimpulkan bahwa perkembangan lalat terpanjang terletak pada suhu 160C dan perkembangan lalat tercepat berada pada suhu 390C. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian (Arifanty, 2. tentang pengaruh Universitas Batam Sig. 0,153 0,010 0,101 beda suhu terhadap jumlah anakan dan siklus hidup pada biakan lalat buah (Drosophila melanogaster meige. strain normal dengan hasil terdapat perbedaan yang bermakna jumlah anakan pada daerah suhu . C-300C) dengan daerah suhu . C-270C) dan tidak memiliki beda nyata pada daerah bersuhu . C-300C) dengan daerah bersuhu . C210C) (Arifanty, 2. Hal ini terjadi dikarenakan lalat (Hewan berdarah dingi. yang mana metabolisme dan kinerja enzim-enzim pencernaan dalam tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungannya. Hewan berdarah dingin akan mengikuti suhu dari lingkungan sekitarnya. Dalam artian suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari siklus hidupnya (Dwi haryaYudistira, diperkuat dengan hasil penelitian (Dwi Yudistira, (Dwi haryaYudistira, bahwasannya suhu merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuh kembangan Page 45 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 dari lalat (Elfinchia Tiara Switha. Chairil Anwar. Dalilah Dalilah, 2. Fungsi enzim-enzim pencernaan ini saling berkaitan dalam proses pertumbuhan makhluk hidup. Adapun enzim tersebut berupa pepsin, amilase, lipase, tripsin, dan kemotripsin yang memilki fungsinya masingmasing (Vinasyiam, 2. Enzim-enzim ini sangat dipengaruhi oleh suhu, enzim akan melambat pada suhu dingin kemudian optimal pada suhu 300C-500C dan akan kembali melambat apabila lebih dari 13Selanjutnya enzim akan mengalami denaturasi apabila suhu sudah melewati batas pertumbuhan yaitu ketika suhu panas diatas 800C dan dingin dibawah 00C (Sari, 2. Dalam penelitian ini didapatkan suhu 39 C lebih cepat dalam pertumbuhannya dikarenakan suhu tersebut termasuk dalam suhu optimal dalam proses metabolisme larva menyesuaikan pada suhu sekitar, lebih cepat terjadi pada suhu 390C dan cenderung lambat pada suhu 160C. SARAN Ada baiknya kedepannya bisa melanjutkan penelitian ini dengan memilih faktor lain sebagai variabel penelitiannya seperti halnya faktor kelembaban, cahaya dan lain-lain Diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini dengan memilih atau membandingkan kondisi kematian yang lain, selain yang ada pada penelitian ini seperti kematian karena racun, kematian karena bekap, dan kematian akibat sayatan Ada baiknya apabila penelitian ini dilakukan lebih lama sehingga dapat melihat sikklus hidup penuh lalat hingga lalat dewasa. UCAPAN TERIMA KASIH KESIMPULAN Terdapat pengaruh perbedaan suhu terhadap pertumbuhan larva Lalat Chrysomya Megacephala pada bangkai Tikus Wistar (Rattus norvegicu. Diketahui adanya perbedaan bermakna antara suhu 160C dengan suhu 390C. Sedangkan pada suhu 270C dengan suhu 160C dan 390C ada perbedaan namun tidak Didapatkan adanya perbedaan pertumbuh Chrysomya Megacephala pada masing-perlakuan yaitu untuk suhu 160C dibutuhkan 0-48 jam untuk menjadi larva. pada suhu 270C dibutuhkan 0-30 jam dari awal hingga adanya larva, sedangkan pada suhu 390C hanya dibutuhkan 24 jam hingga adanya Diketahui adanya pengaruh pertumbuhan larva lalat dengan lama kematian, semakin panjang ukuran larva lalat maka semakin lama hari kematian. Dan pertumbuhan Universitas Batam Penulis menghanturkan terimakasih kepa da dr. Andi Ipaljri S. Kes dan Ibu Isramilda. Si yang telah memberikan banyak bimbingan, dorongan motivasi dan masukan pada penelitian ini. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada dr. Zulkarnain Edward. MS. Ph. D dan dr. Sukma Sahreni. Gizi yangtelah memberikan masukan dalam penelitian ini. Ucapan terimakasih sebesarbesarnya kepada pihak Laboratorium Riset Terpadu Universitas Jenderal Soedirman yang telah memberikan kesempatan untuk dapat melangsungkan penelitian. Page 46 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 DAFTAR PUSTAKA