e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 8 . Desember 2023 RESPON INDUKSI KALUS TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L. ) VARIETAS ASA AGRIBUN TERHADAP PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI 2. 4 D (Dichlorophenoxyaceti. DAN BAP (Benzly Amino Purin. RESPONSE OF CALLUS INDUCTION IN SUGARCANE PLANT (Saccharum officinarum L. ) ASA AGRIBUN VARIETY TO VARIOUS CONCENTRATIONS OF 2,4-D (Dichlorophenoxyacetic aci. AND BAP (Benzylaminopurin. Dillah Abdullah1*. Ani Lestari1. Sri Suhesti2 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Singaperbangsa Karawang Jl. HS. Ronggo Waluyo. Puseurjaya. TelukjambeTimur. Karawang. Jawa Barat 41361. Indonesia Pusat Standardisasi Instrumen Pertanian Perkebunan Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor. Jawa Barat 16111. Indonesia ABSTRAK Tebu (Saccharum offinarumm L. ) merupakan komoditas perkebunan yang bernilai ekonomis cukup tinggi karena sebagai bahan baku utama dalam pembuatan gula. Perbanyakan tanaman tebu umumnya dilakukan secara vegetatif menggunakan stek, namun metode tersebut memiliki kekurangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi 2. 4D dan BAP terhadap respon induksi kalus tanaman tebu varietas ASA Agribun. Penelitian dilakukan di Laboratorium Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian (UPBUP). Pusat Standardisasi Instrumen Perkebunan (PSIP). Bogor dari bulan Januari sampai dengan Maret 2021. Bahan tanaman tebu yang digunakan adalah umbut daun muda varietas ASA Agribun yang masih Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial dengan 2 faktor yaitu konsentrasi 2. 4D dan BAP yang terdiri dari 9 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. D0B0 ( 4D 1 ppm BAP 0 pp. D0B1 . 4D 1 ppm BAP 0. 1 pp. D0B2 ( 2. 4D 1 ppm BAP 0. 2 pp. D1B0 ( 2. 4D 2 ppm BAP 0 pp. D1B1 . 4D 2 ppm BAP 0. 1 pp. D1B2 . 4D 2 ppm BAP 0. D2B0 . 4D 3 ppm BAP 0 pp. D2B1 . 4D 3 ppm BAP 0. 1 pp. D2B2 . 4D 3 ppm BAP 0. 2 pp. Parameter yang diamati adalah persentase eksplan hidup, waktu muncul kalus, berat segar dan diameter kalus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pemberian 2. 4D dan BAP dalam memacu pertumbuhan dan perkembangan kalus tanaman tebu varietas ASA Agribun. Perlakuan D1B0 ( 2. 4D 2 ppm BAP 0 pp. merupakan kombinasi terbaik dalam waktu muncul kalus, berat segar dan diameter kalus. Kata Kunci : 2. BAP. Kalus. Saccharum offinarumm L. ABSTRACT Sugarcane (Saccharum offinarumm L. ) is a plantation commodity that has a high economic value because it is the main raw material in making sugar. Sugarcane plant propagation is generally done vegetatively using cuttings, but this method has shortcomings. This study aims to examine the effect of 2. 4D and BAP concentrations on the callus induction response of sugarcane varieties ASA Agribun. The research was conducted at the Laboratory of Agricultural Superior Seed Management Unit. Plantation Instrument Standardization Center (PSIP). Bogor from January to March 2021. The sugarcane plant material used was young leaf tubers of the ASA Agribun variety that were still rolling. This study used a completely randomized design (CRD) factorial pattern with 2 factors, namely the concentration of 2. 4D and BAP consisting of 9 treatments and repeated 3 times. D0B0 . 4D 1 ppm BAP 0 pp. D0B1 . 4D 1 ppm BAP 0. 1 pp. D0B2 . 4D 1 ppm BAP 0. 2 pp. D1B0 . 4D 2 ppm BAP 0 pp. D1B1 . 4D 2 ppm BAP 0. 1 pp. D1B2 . 4D 2 ppm BAP 0. 2 pp. D2B0 . 4D 3 ppm BAP 0 pp. D2B1 . 4D 3 ppm BAP 0. 1 pp. D2B2 . 4D 3 ppm BAP 0. 2 pp. The parameters observed were the percentage of live explants, callus emergence time, fresh weight and callus diameter. The results showed that there was an interaction effect of 2. 4D and BAP in spurring the growth and development of -----------------------------------------------------------------*) Penulis Korespondensi. E-mail: 1910631090119@student. Telp: 62 83865462049 e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 8 . Desember 2023 sugarcane callus varieties ASA Agribun. D1B0 treatment . 4D 2 ppm BAP 0 pp. is the best combination in callus emergence time, fresh weight and callus diameter. Keywords : 2. 4 D. BAP. Callus. Saccaharum officinarum Pendahuluan Tanaman tebu (Saccharum offinarumm L. merupakan komoditas perkebunan yang bernilai ekonomis cukup tinggi karena sebagai bahan baku utama dalam pembuatan gula. Kebutuhan gula tiap tahun meningkat sejalan dengan pertumbuhan pangan masyarakat. Akan tetapi Produksi gula nasional hanya mencapai angka 2,17 juta ton. Sementara, kebutuhan gula nasional mencapai 66 juta ton. Ini menandakan Indonesia baru mampu memenuhi 3,29% dari total kebutuhan nasional, sehingga lebih dari 96% defisit kebutuhan gula nasional yang belum mampu dan harus dipenuhi Indonesia (Kemenperin, 2. Gula merupakan salah satu komoditas yang termasuk dalam sembilan jenis kebutuhan pokok masyarakat (Sembak. menurut keputusan Menteri Industri Perdagangan 115/mpp/kep/2/1998 tanggal 27 Febuari 1998. Konsumsi gula selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ketergantungan konsumen terhadap konsumsi gula cukup besar karena kecilnya/lemahnya mensubstitusikannya dengan gula buatan atau pemanis lain. Permintaan gula secara nasional akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pendapatan masyarakat, dan pertumbuhan industri pengolahan makanan dan minuman (Sugiyanto, 2. Salah satu masalah tidak tercukupinya kebutuhan gula nasional karena petani tebu masih menggunakan metode perbanyakan konvensional yang tidak efektif, metode ini menghasilkan tanaman yang terbatas. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan perbanyakan secara vegetatif non-kovensional yaitu dengan kultur jaringan (Lutfiani et al. , 2. Teknik kultur jaringan yang dikenal juga dengan kultur in vitro telah terbukti dapat memperbanyak tanaman secara cepat dan dalam jumlah yang banyak serta identik dengan induknya di industri pembibitan komersial (Hardjo, 2. Prinsip dari teknik kultur jaringan adalah teori totipotensi sel, dimana semua bagian tanaman baik berupa sel, jaringan, dan organ tanaman dapat berkembang menjadi individu baru yang utuh apabila ditumbuhkan dalam kondisi yang aseptik. Kultur in vitro berperan penting untuk memperoleh hasil yang tidak bisa dicapai melalui kultur ex vitro. Penelitian mengetahui formulasi media penggunaan 2. dan BAP dalam menginduksi kalus Tanaman tebu varietas ASA Agribun secara lebih optimal. Metode Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Somatik Embriogenesis Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian (UPBUP). Jl. Tentara Pelajar. RT. 01/RW. Ciwaringin. Kecamatan Bogor Tengah. Kota Bogor. Jawa Barat 16124. Dengan titik koordinat 6A34Ao40AyS 106A47Ao11AyE. Waktu dilaksanakan penelitian dari bulan Desember 2022 sampai bulan Februari tahun Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua (Dichlorophenoxyaceti. terdiri atas 3 taraf . ppm, 2 ppm, 3 pp. dan konsentrasi BAP (Benzly Amino Purin. dan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 27 unit. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah Persentase Eksplan Hidup. Waktu Muncul Kalus. Diameter Kalus Bobot Segar Kalus. Tabel 1. Perlakuan Interaksi Berbagai Konsentrasi 2. 4 Dichlorophenoxyacetic . 4D) dan Benzyl Amino Purine (BAP) ZPT BAP (B) ZPT 2. 4 D (D) 0 ppm (B. 1 ppm (B. 2 ppm (B. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 8 . Desember 2023 1 ppm (D. D0B0 D0B1 D0B2 2 ppm (D. D1B0 D1B1 D1B1 3 ppm (D. D2B0 D2B1 D2B2 Hasil dan Pembahasan Hasil analisis ragam menunjukkan terdapat interaksi yang berbeda nyata terhadap waktu muncul kalus. Sedangkan, pada parameter persentase eksplan hidup, diameter kalus dan bobot segar kalus menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata (Tabel . Tabel 2. Rekapitulasi analisis ragam pertumbuhan kalus in vitro tebu dengan pemberian berbagai 4D dan BAP Parameter Pengamatan BAP Interaksi Persentase Eksplan Hidup Waktu Muncul Kalus Diameter Kalus Bobot Segar Kalus Keterangan : *= nyata pada taraf 5%, **= nyata pada taraf 1%, tn= tidak nyata. Persentase Eksplan Hidup Persentase eksplan hidup merupakan eksplan yang mampu bertahan hidup yang ditandai dengan daun berwarna hijau dan tidak mengalami Browning maupun kontaminasi. Hasil rata-rata persentase eksplan hidup berdasarkan Menunjukan bahwa perlakuan 2. 4D dan BAP tidak berinteraksi terhadap persentase eksplan hidup, tetapi terdapat perbedaan persentase eksplan hidup pada perlakuan D0B1. 4D 1 ppm BAP 0. 1 pp. D0B2 . 1 ppm BAP 0. 2 pp. D2B1 . 4D 3 ppm BAP 0. 1 pp. dan D2B2 . 4D 3 ppm BAP 2 pp. Perlakuan dengan tingkat kematian tertinggi terjadi pada D2B2 . 4D 3 ppm BAP 2 pp. (Gambar . , eksplan mengalami browning dan terjadi kontaminasi bakteri dan Menurut Zulfikar et al. , . pertumbuhan dan morfogenesis tanaman secara in vitro dikendalikan oleh zat pengatur tumbuh endogen yang ada di dalam eksplan. Hal ini diduga berkaitan dengan kerja auksin dan sitokinin yang belum seimbang Dewanti . selain itu, eksplan mengalami browning (Gambar . Browning diawali dengan adanya perubahan warna eksplan dari hijau dan kemudian berubah menjadi coklat pada daerah pelukaan. Eksplan yang berwarna kecoklatan menandakan bahwa sel-selnya telah mengalami kematian (Sitinjak et 2. kemudian Ozygit . menambahkan bahwa eksplan yang terpotong menyebabkan kandungan sitoplasma dan vakuola tercampur dan keluar sehingga senyawa fenol dapat teroksidasi oleh udara. Waktu Muncul Kalus variabel waktu muncul kalus menunjukan terdapat beda nyata dan interaksi antara penggunaan ZPT 2. 4D dan BAP (Tabel . Hasil rata-rata penggunaan 2. 4D dan BAP berdasarkan Tabel 2. menunjukkan pengaruh perlakuan D1B0 dengan faktor . 2,4D dan Faktor . BAP . 2 ppm BAP 0 pp. memberikan hasil terbaik Gambar 1. Perlakuan Pencoklatan (Brownin. Respon awal terbentuknya kalus dari membengkaknya daun yang disertai dengan munculnya kalus, terutama di sekitar daerah pemotongan tebu. Hasil analisis statistik untuk D2B2 e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 8 . Desember 2023 dengan waktu kemunculan kalus 37 HSK (Hari Setelah Kultu. dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya kecuali perlakuan D1B1 . 2ppm BAP 0. 1 pp. Waktu kemunculan kalus terlama terjadi pada perlakuan D0B0 . 4D 1 ppm 0 BAP 0 pp. D0B1 . 4D 1 ppm 0 BAP 0. 1 pp. D0B2 . 4D 1 ppm 0 BAP 0. D1B2. 4D 2 ppm BAP 0. 2 pp. D2B0 . 3 ppm 0 BAP pp. D2B1 . 4D 2 ppm 0. BAP pp. dan D2B2 . 4D 3 ppm 0. 2 BAP). Perlakuan D1B0 . 4D 2 ppm BAP 0 pp. merupakan konsentrasi yang optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan kalus dapat terlihat dengan nilai waktu muncul kalus tercepat (Tabel . Penggunaan auksin secara mandiri tanpa sitokinin dengan konsentrasi 2 ppm sudah cukup untuk menginduksi kalus (Gambar . Hal ini sejalan dengan penelitian Suhesti . yang menjelaskan bahwa 4D secara tunggal memberikan pengaruh inisiasi kalus yang lebih cepat, baik pada varietas Kidang Kencana maupun PSJT Perlakuan D1B1 . 4D 2ppm BAP 0 pp. dan D1B0 . 4D 2ppm BAP 0. 1 pp. berdasarkan tabel 3. tidak berbeda nyata hal ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan 2. secara tunggal (D1B. maupun kombinasi dengan BAP (D1B. dengan konsentrasi 0. 1 ppm menghasilkan respon inisisasi kalus tercepat dengan waktu 37 HSK dan 38 HSK. Sedangkan perlakuan dengan konsentrasi 2. 4D dibawah 2 ppm ataupun diatasnya menghasilkan waktu muncul kalus terlama. Perlakuan dengan kombinasi 2. 4 D dan BAP tertinggi justru memberikan hasil kemunculan kalus terlama. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan (Not Balance. antara pemberian hormon eksogen dengan ketersediaan hormon endogen pada tanaman sehingga pertumbuhan kalus terhambat karena kontaminasi dan browning . dan akhirnya eksplan mengalami perlambatan pertumbuhan bahkan mengalami kematian. Menurut Sainawal . beberapa faktor penyebab browning diantaranya seperti penggunaan eksplan berasal dari jaringan dewasa, tindakan sterilisasi berlebihan, dan media atau lingkungan yang tidak Gambar 2. Respon Perlakuan D1B0 (A) dan Perlakuan D1B1 (B) terhadap Waktu Kemunculan kalus Tebu Varietas ASA Agribun Diameter Kalus Hasil pengamatan terhadap diameter kalus setelah dilakukan analisis ragam didapatkan nilai sig >0. 05 = 0. 55 lebih dari 5% tidak signifikan, ini menunjukan tidak terdapat interaksi pemberian 2. 4D dan BAP dalam mempengaruhi diameter kalus tanaman tebu. Kemudian, dilakukan analisis faktor mandiri 2. D dan BAP (Tabel 3 dan . pengaruhnya terhadap diameter kalus tanaman tebu, didapatkan hasil yang berbeda nyata penggunaan BAP terhadap diameter kalus, sementara 4D menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 8 . Desember 2023 Tabel 3. Pengaruh pemberian berbagai konsentrasi 2. 4 D dan BAP terhadap Pertumbuhan tebu In-Vitro Kode Formulasi Media Code Media Formulation D0B0 D0B1 D0B2 D1B0 D1B1 D1B2 D2B0 D2B1 D2B2 4D 1 ppm BAP 0 ppm 4D 1 ppm BAP 0. 1 ppm 4D 1 ppm BAP 0. 2 ppm 4D 2 ppm BAP 0 ppm 4D 2 ppm BAP 0. 1 ppm 4D 2 ppm BAP 0. 2 ppm 4D 3 ppm BAP 0 ppm 4D 3 ppm BAP 0. 1 ppm 4D 3 ppm BAP 0. 2 ppm KK (%) Persentase Eksplan Hidup (%) Waktu Muncul Kalus Diameter Kalus Bobot Segar Kalus Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji DMRT taraf 5% Tabel 4. Uji Lanjut Faktor Mandiri 2. Tabel 5. Uji Lanjut Faktor Mandiri BAP Kode Perlakuan Diameter Kalus 4 D 1 ppm Kode Perlakuan 4 D 2 ppm BAP 0 ppm Diameter Kalus 4 D 3 ppm BAP 0. 1 ppm BAP 0. 2 ppm 3 ab KK (%) KK (%) Rerata diameter tertinggi selama 8 minggu pengamatan terjadi pada media dengan tidak menggunakan BAP di dalamnya. Seperti pada tabel 3. Terlihat perlakuan D1B0 (BAP 0 pp. menunjukan hasil yang berbeda nyata dengan perlakuan D1B1 (BAP 0. 1 pp. akan tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan B2 . 2 pp. Hal ini menunjukan bahwa senyawa 4D sebagai ZPT tunggal mampu menghasilkan diameter kalus terbaik. Hasil ini sesuai dengan Pierik . yang menyatakan bahwa 2. merupakan golongan auksin kuat yang sering digunakan secara tunggal untuk menduksi terbentuknya kalus dari berbagai jaringan tanaman serta sangat efektif untuk inisiasi kalus. penggunaan masing-masing 2. 4D dan BAP terhadap Bobot segar kalus didapatkan hasil yang tidak berbeda nyata. Berdasarkan tabel 3. Perlakuan D1B0 . 4D 2 ppm BAP 0 pp. memiliki Bobot segar kalus tertinggi dengan 53 dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan yang lain. Hal ini sejalan dengan uji lanjut faktor mandiri BAP (Tabel . diameter kalus D1B0 . 4D 2 ppm BAP 0 pp. yang memiliki nilai rata-rata 1. Menurut Fitriani . Bobot segar kalus yang tinggi didukung oleh besarnya diameter kalus yang dihasilkan dan seluruh variabel tersebut saling berkaitan, selain itu diameter kalus dipengaruhi oleh besar atau tidaknya rongga pada kalus. Perlakuan D2B1. 4D 0. 1 ppm BAP) memiliki Bobot segar kalus terendah dengan nilai 1. 72 meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya namun nilai ini cukup Bobot segar kalus rendah diduga disebabkan oleh adanya kontaminasi bakteri dan cendawan kemudian terjadi pencoklatan Bobot Segar Kalus Hasil pengamatan terhadap bobot segar kalus setelah dilakukan analisis ragam didapatkan nilai sig >0. 05 = 0. 65 lebih dari 5% tidak signifikan, ini menunjukan tidak terdapat interaksi pemberian 2. 4D dan BAP dalam mempengaruhi Bobot segar kalus tanaman tebu. Kemudian dilakukan uji mandiri pengaruh e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 8 . Desember 2023 (Brownin. sehingga eksplan mengalami gagal Bobot segar kalus berhubungan dengan tekstur kalus. Kalus yang memiliki kepadatan tinggi berbanding lurus dengan Bobot segar Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ruswaningsih . Bobot segar kalus dari segi fisiologi terdiri dari dua komponen utama, yaitu air dan karbohidrat. Hasil penelitian oleh Indah dan Ermayitalini . menyatakan bahwa Bobot segar kalus yang signifikan pada kalus disebabkan oleh adanya kandungan air yang tinggi Gambar 3. Respon Perlakuan D1B1 (A) dan D2B1 terhadap Bobot Segar Kalus Tebu Varietas ASA Agribun Ermavitalini D. Induksi Kalus Daun Nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn. ) pada Beberapa Kombinasi Konsentrasi 6-Benzylaminopurine (BAP) dan 2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid . ,4-D). Jurnal Sains dan Seni Pomits. : 16 Kesimpulan Terdapat Pengaruh Interaksi penggunaan ZPT 2. 4D . ,4-Dichlorophenoxyacetic acid ) dan BAP (Benzyl Amino Purin. terhadap waktu muncul kalus. Sementara persentase eksplan hidup. Bobot segar kalus dan diameter kalus tidak berinteraksi namun, terdapat pengaruh yang berbeda nyata untuk faktor mandiri diameter Perlakuan D1B0 . 4D 2 ppm BAP 0 pp. menghasilkan persentase eksplan hidup terbaik, waktu kemunculan kalus tercepat . , diameter kalus terlebar . 43 c. dan Bobot segar kalus terberat dengan nilai 3. 53 gram. Hardjo. Kultur Jaringan Anggrek: Embriogenesis Somatik Vanda Tricolor (Lindl. ) var. Graha Ilmu. Yogyakarta. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Industri Gula Digenjot. Melalui: https://kemenperin. id/artikel/20447/in dustri-gula-digenjot Di akses pada tanggal 11 Juni 2022. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada kepala Pusat Standardisasi Instrumen Pertanian Perkebunan yang telah memberikan kesempatan untuk penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Dr. Sri Suhesti. Kepala Laboratorium Somatik Embriogenesis. Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian (UPBUP). Lutfiani. Lestari. Widyodaru. , dan Suhesti. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsentrasi NAA (Naphthalene Acetic Aci. dan BAP (Benzyl Amino Purin. Multiplikasi Tunas Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L. Jurnal Agrotek Indonesia. : 49 - 57. Daftar Pustaka