Kupang Journal of Food and Nutrition Research Vol. No. March 2026, pp. ISSN: 2721-4877 iC28 THE RELATIONSHIP BETWEEN MAGNESIUM AND VITAMIN C INTAKE WITH RANDOM BLOOD GLUCOSE IN TYPE 2 DIABETES PATIENTS IN THE INPATIENT ROOM Angelita Alexandrina1. Anak A. Mirah Adi1. Regina Maria Boro1 Program studi Gizi. Poltekkes Kemenkes Kupang. Kupang. Indonesia ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak lagi mampu menghasilkan insulin secara memadai atau tidak dapat memanfaatkannya secara efektif. Berdasarkan SKI 2023, prevalensi DM tipe 2 pada penduduk berusia Ou15 tahun mencapai 50,2%, sementara Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat angka 45,9% pada tahun yang sama. Data rekam medis RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang menunjukkan terdapat 797 kasus diabetes melitus tipe 2 sepanjang JanuariAeDesember. Penelitian ini untuk menilai hubungan antara asupan magnesium dan vitamin C dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM tipe 2. Kadar GDS pada penelitian cross-sectional bertujuan memotret kondisi pada satu titik waktu. GDS memberikan gambaran kadar glukosa pasien saat mereka sedang beraktivitas dan mengonsumsi makanan sehari-hari, bukan dalam kondisi puasa. Desain menggunakan pendekatan deskriptif analitik rancangan cross-sectional, dilaksanakan pada 17 JuniAe17 Juli 2025 sebanyak 40 responden. Variabel yang diteliti meliputi asupan magnesium, asupan vitamin C, serta kadar gula darah sewaktu. data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42,5% responden . memiliki asupan magnesium yang tergolong defisit. Uji Chi-Square memberikan nilai p=0,002 yang menandakan adanya hubungan signifikan antara asupan magnesium dan gula darah sewaktu. 20 responden . %) berada pada kategori defisit vitamin C, namun uji statistik menghasilkan p=0,184 sehingga tidak ditemukan hubungan bermakna. Selain itu, sebanyak 39 responden . ,5%) tercatat memiliki kadar gula darah sewaktu tinggi, dan hanya satu responden . ,5%) berada dalam kategori normal. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa asupan magnesium berkorelasi signifikan dengan kadar gula darah sewaktu, sedangkan asupan vitamin C tidak menunjukkan keterkaitan serupa. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2. Asupan Magnesium. Asupan Vitamin C. Gula Darah Sewaktu ABSTRACT Type 2 diabetes mellitus occurs when the body can no longer produce sufficient insulin or is unable to use insulin effectively. According to SKI 2023, the prevalence of type 2 diabetes among individuals aged Ou15 years reached 50. 2%, while East Nusa Tenggara Province reported a prevalence of 45. 9% in the same year. Medical record data from Prof. Dr. Johannes Kupang Regional General Hospital indicated that there were 797 cases of type 2 diabetes mellitus from January to December. This study was conducted to assess the relationship between magnesium and vitamin C intake and random blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus. The study employed a descriptive analytical approach with a cross-sectional design, conducted from June 17 to July 17, 2025. Samples were selected using purposive sampling, resulting in 40 respondents who met the inclusion criteria. The variables examined included magnesium intake, vitamin C intake, and random blood glucose levels, all analyzed using the Chi-Square test. The findings revealed that 5% of respondents . had deficient magnesium intake. The Chi-Square test produced a p-value of 0. indicating a significant association between magnesium intake and random blood glucose levels. Meanwhile, 20 respondents . %) had deficient vitamin C intake, but the statistical test showed a p-value of 0. 184, demonstrating no significant Additionally, 39 respondents . 5%) had high random blood glucose levels, with only one respondent . falling within the normal category. Overall, the study concludes that magnesium intake is significantly associated with random blood glucose levels, whereas vitamin C intake shows no such association among patients with type 2 diabetes Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus. Magnesium Intake. Vitamin C Intake. Random Blood Sugar *Correspondeng Author: Angelita Alexandrina Program Studi D-i Gizi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Kupang Jl. A Kartini kelapa lima, kota kupang, nusa Tenggara timur angelitaalexandrina22@gmail. Kupang Journal of Food and Nutrition Research PENDAHULUAN Diabetes melitus (DM) digolongkan sebagai penyakit metabolik yang muncul akibat ketidakseimbangan dalam regulasi gula darah. Penderita biasanya mengalami kekurangan hormon insulin atau mengalami hambatan dalam pemanfaatan insulin oleh tubuh, yang pada akhirnya menyebabkan tingginya konsentrasi glukosa dalam darah (Umam & Purnama, 2. Pada diabetes melitus tipe 1, gangguan utama terletak pada rendahnya produksi insulin. Berbeda halnya dengan diabetes melitus tipe 2, yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor keturunan terkait produksi insulin dan faktor eksternal seperti kebiasaan makan yang kurang sehat, stres, serta minimnya kegiatan Mayoritas kasus diabetes melitus, yaitu mencapai 90%, berasal dari kategori diabetes melitus tipe 2 (Irayani, 2. Data dari International Diabetes Federation . menunjukkan bahwa diabetes berperan dalam terjadinya sekitar 6,7 juta kematian di tingkat global setiap tahunnya. Dari total kematian akibat diabetes tersebut, sekitar 43% atau setara dengan 3,7 juta kasus terjadi sebelum individu mencapai usia 70 tahun, menunjukkan bahwa sebagian besar kematian akibat diabetes terjadi pada kelompok usia produktif atau pra- lansia. Menurut WHO, memengaruhi sekitar 422 juta orang di seluruh dunia, dengan prevalensi tertinggi di negara- negara berpendapatan rendah dan Diabetes turut berkontribusi terhadap kurang lebih 1,5 juta kematian per Angka prevalensi dan insidens kasus diabetes terus mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir (Caryanto & Awaludin, 2. Menurut laporan SKI 2023, jumlah penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia pada populasi berusia 15 tahun ke atas mencapai 50,2%, yang berjumlah sekitar 935 orang. Sementara itu, di wilayah Nusa Tenggara Timur, prevalensi diabetes melitus tipe 2 pada tahun 2023 dilaporkan sebesar 45,9%. ISSN: 2721-4877 Laporan rekam medis di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang menunjukkan bahwa 797 pasien diabetes melitus tipe 2 menerima perawatan inap sepanjang Januari sampai Desember tahun 2024. Diabetes melitus tipe 2 ditandai oleh gangguan metabolisme di mana tubuh tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah memanfaatkan insulin secara efektif. Kondisi ini mengakibatkan munculnya resistensi insulin pada penderita. Penyakit diabetes melitus ini dapat di indetifikasi melalui kriteria kadar glukosa dalam plasma darah atau nilai glukosa plasma 2 jam sebesar 75g selama tes toleransi Standar HbA1C (Marasabessy et al. Penderita Diabetes Melitus yang tidak mempunyai perilaku terhadap pengelolaan pola makan, akan berisiko mengalami komplikasi yang dapat berujung pada kematian. Karena banyakya komplikasi yang mungkin muncul, langkah-langkah pencegahan yang harus diambil oleh penderita DM2 untuk menghindari komplikasi meliputi pengendalian darah sewaktu secara teratur, mengikuti diet rendah gula, pemeriksaan gula darah secara berkala, aktifitas fisik, dan menjaga kesehatan kaki, yang sangat penting untuk dilakukan oleh penderita DM2 (Simatupang & T, 2. Magnesium, berperan dalam menjaga homeostasis glukosa dan mendukung fungsi insulin. Mineral ini sangat penting dalam proses metabolisme glukosa, terutama untuk meningkatkan pembentukan molekul ATP yang digunakan oleh sel sebagai sumber energi, serta dalam reaksi transfer fosfat. Mineral magnesium turut berkontribusi pada autofosforilasi subunit reseptor insulin sekaligus berperan dalam mempertahankan serta pertumbuhan sel pankreas. Kadar magnesium yang rendah di dalam sel memengaruhi proses fosforilasi pada reseptor insulin dengan mengganggu aktivitas tirosin kinase, sehingga kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan yang sensitif terhadap insulin menjadi menurun (Aruan et al. Kupang Journal of Food and Nutrition Research. Vol. No. March 2026, pp. 28Ae35 Kupang Journal of Food and Nutrition Research Vitamin memainkan peran krusial dalam plasma manusia sebagai penghambat oksidasi. Sebagai vitamin yang bersifat larut air, vitamin C memiliki kemampuan melawan radikal bebas dan berfungsi sebagai antioksidan utama dalam plasma manusia. Perannya sebagai agen reduksi membuatnya efektif dalam melindungi sel dari stres oksidatif. Proses pengurangan kadar glukosa darah oleh vitamin C terjadi melalui penghambatan autooksidasi glukosa di dalam tubuh. Kemampuan vitamin C dalam memperbaiki sel pankreas yang mengalami kerusakan turut mendukung peningkatan efektivitas kerja insulin dalam tubuh (Septiana dkk. , 2. Hasil studi Alvitananda et al. mengungkapkan bahwa tingkat asupan vitamin C berhubungan dengan kadar gula darah sewaktu pada pra lansia penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Idaman Banjarbaru, dengan signifikansi statistik p = 0,007. Vitamin C memiliki fungsi sebagai antioksidan dengan cara menetralkan dan menghambat radikal bebas yang beredar dalam Radikal bebas berpotensi menimbulkan kerusakan pada sel pankreas, sehingga peran vitamin C sebagai pelindung menjadi sangat penting untuk mencegah dampak tersebut. Penelitian oleh Aruan et al. menunjukkan adanya korelasi signifikan antara konsumsi magnesium . =0,02, r=0,. serta zink . =0,04, r=-0,. dengan kadar glukosa darah puasa di Kecamatan Juwiring. Kabupaten Klaten, sesuai dengan hasil yang diperoleh pada studi ini. Pemilihan gula darah sewaktu sebagain variabel dependen didasarkan pada relevansi klinisnya dalam mencerminka kondisi metabolisme glukosa harian pasien DM tipe 2. Berbeda dengan gula darah puasa (GDP) yang hanya memotret kondisi tubuh dalam keadaan basal . stirahat tota. GDS memberikan gambaran tentang kemampuan tubuh dalam mengelola beban glikemik yang berasal dari asupan makanan sehari-hari, termasuk mikronutrien seperti magnesium dan vitamin C. Secara teknis, penggunaan GDS dalam penelitian crosectional memberikan keuntungan praktis ISSN: 2721-4877 dalam meminimalkan risiko bias kepatuhan Mewajibkan pasien rawat jalan untuk berpuasa selama 8Ae12 jam sebelum pengambilan sampel sering kali terkendala oleh faktor kejujuran dan kondisi fisik pasien yang rentan hipoglikemia. Oleh karena itu. GDS dianggap sebagai indikator yang lebih realistis untuk menilai efektivitas asupan zat gizi mikro terhadap fluktuasi gula darah dalam aktivitas harian pasien. Selain itu, pemantauan GDS merupakan standar pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan primer dan rumah sakit . eperti RSUD Prof. Dr. Johanne. untuk mengevaluasi kontrol glikemik pasien secara cepat dan (American Diabetes Association. Merujuk pada latar belakang yang telah disampaikan, penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara asupan magnesium dan vitamin C dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM tipe 2 yang menjalani perawatan inap di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain crosectional, yang digunakan untuk mengkaji hubungan antara asupan magnesium serta vitamin C dan kadar gula darah sewaktu pada pasien diabetes melitus tipe 2 di ruang rawat inap RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang HASIL Karakteristik Responden Penelitian ini mencakup 40 responden, seluruhnya terdiri dari pasien yang telah didiagnosis menderita Diabetes Melitus Tipe Para responden tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam kelompok usia masing-masing. Penelitian ini mengumpulkan data terkait identitas responden. Tabel di bawah ini responden menurut rentang usia: Kupang Journal of Food and Nutrition Research. Vol. No. March 2026, pp. 28Ae35 Kupang Journal of Food and Nutrition Research . Karateristik Berdasarkan Usia Tabel 1. Karateristik Berdasarkan Usia Dari data pada tabel 1, usia pasien yang berpartisipasi dalam penelitian ini tercatat antara 25 hingga 81 tahun, menandakan keragaman usia yang cukup tinggi pada kelompok pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Distribusi usia responden menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada rentang paruh baya sampai lanjut usia, di mana kelompok usia 53Ae 61 tahun merupakan yang paling banyak, yakni 33,1%. Dengan demikian, mayoritas responden termasuk dalam fase usia produktif akhir dan pascaproduktif, yang secara klinis rentan terhadap komplikasi penyakit metabolik seperti diabetes dengan menggunakan teknik total sampling, yang mana sampel dalam populasi diambil dengan karakteristik inklusi. ISSN: 2721-4877 Pekerjaan Frekuensi PNS Pensiunan Wiraswasta IRT Nelayan Total Sumber: Data primer terolah 2025 Tabel di atas menggambarkan distribusi pekerjaan responden, di mana profesi mayoritas adalah pensiunan, yang mencakup 10 orang . ,4%) dari 40 responden. Tujuh orang responden . ,1%) masing-masing berprofesi sebagai wiraswasta dan ibu rumah tangga. Sedangkan profesi lain, seperti PNS . ,8%) dan nelayan . ,4%), tercatat memiliki jumlah yang Analisis Univariat Tabel 4. Karateristik Asupan Magnesium Karateristik Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 2. Karateristik Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Laki-Laki Perempuan Total Sumber: Data primer terolah 2025 Berdasarkan tabel di atas, komposisi memperlihatkan bahwa 25 dari total 40 responden . ,0%) berjenis kelamin lakilaki, sementara 15 responden lainnya . ,6%) merupakan perempuan. Karateristik Berdasarkan Pekerjaan Tabel 3. Karateristik Berdasarkan Pekerjaan Berdasarkan tabel di atas hasil penelitian Berdasarkan hasil distribusi, dari total 40 responden terdapat 17 orang . ,5%) yang mengalami defisit magnesium ringan, dan 11 orang . ,5%) mengalami defisit tingkat Adapun 7 responden lainnya . ,5%) berada pada kategori defisit selanjutnya berada dalam kategori defisit tingkat berat, dan 5 responden . 5%) yang memiliki asupanr magnesium dalam batas normal. Kupang Journal of Food and Nutrition Research. Vol. No. March 2026, pp. 28Ae35 Kupang Journal of Food and Nutrition Research ISSN: 2721-4877 Tabel 5. Karateristik Asupan Vitamin C Tabel 8. Hubungan Asupan Vitamin C dengan GDS Hasil pada tabel di atas menggambarkan bahwa dari total 40 responden, 20 orang . ,0%) tercatat mengalami defisit vitamin C tingkat berat. Sebanyak 7 orang . ,5%) berada pada kategori defisit sedang, dan 9 orang . ,5%) mengalami defisit ringan. Adapun 4 responden . ,0%) diketahui memiliki asupan vitamin C yang masih berada dalam batas normal. Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa sebagian besar GDS tinggi. Hanya 1 responden berada dalam kategori normal. Analisis Bivariat Tabel 7. Hubungan Asupan Magnesium dengan GDS Dari 40 responden, mayoritas 11 orang . ,5%) mengalami defisit magnesium pada tingkat sedang, sebagaimana terlihat pada tabel. Hasil uji Chi-Square memperlihatkan nilai p=0,002, magnesium berhubungan secara signifikan dengan gula darah sewaktu. Tabel di atas memperlihatkan bahwa mayoritas responden, yaitu 20 orang . ,0%), tergolong dalam kelompok defisit vitamin C Uji Chi-Square untuk menilai hubungan antara tingkat konsumsi vitamin C dan kadar gula darah sewaktu menghasilkan nilai p = 0,184, menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Dengan demikian, tidak terdapat keterkaitan yang berarti antara asupan vitamin C dan kadar gula darah sewaktu pada responden penelitian. PEMBAHASAN Tujuan utama dari penelitian ini adalah magnesium dan vitamin C dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM tipe 2 yang dirawat di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang. Penelitian ini melibatkan 40 pasien sebagai responden, sehingga memungkinkan analisis yang representatif terhadap pengaruh kedua nutrien tersebut pada kontrol glukosa Kupang Journal of Food and Nutrition Research. Vol. No. March 2026, pp. 28Ae35 Kupang Journal of Food and Nutrition Research Asupan Magnesium Untuk kebutuhan asupan magnesium menggunakan AKG 2019 dengan kriteria objekif Gibson 2005 dari usia 15 tahun-81 tahun. Berdasarkan analisis univariat rata-rata asupan magnesium dengan nilai paling tinggi 42,5% atau sebanyak 17 orang dengan kategori defisit tingkat ringan dan nilai paling rendah 12,5 atau sebanyak 5 orang dengan kategori normal. Melalui analisis bivariat dengan uji ChiSquare, nilai p=0,002 diperoleh, yang mengindikasikan adanya keterkaitan yang signifikan secara statistik antara tingkat konsumsi magnesium dan kadar gula darah Mineral mendukung pengelolaan diabetes melitus tipe 2 melalui mekanisme pengaturan absorbsi glukosa dan peningkatan sensitivitas insulin pada sel-sel tubuh. Kadar magnesium yang rendah menyebabkan tubuh menghasilkan insulin dalam jumlah lebih tinggi dan menghambat jalur transport insulin, yang pada akhirnya memperburuk resistensi insulin, meningkatkan kadar gula darah, serta berpotensi menimbulkan komplikasi penyakit lainnya (Sulistyowati dkk. , 2. Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil yang diperoleh oleh Aruan et al. , . , yang menunjukkan adanya korelasi signifikan antara asupan magnesium dan zink dengan kadar glukosa darah puasa pada populasi lansia di Kecamatan Juwiring. Kabupaten Klaten, dengan nilai p=0,02 dan koefisien korelasi r=-0,249. Vitamin C Untuk kebutuhan asupan Vitamin C menggunakan AKG 2019 dengan kriteria objekif Gibson 2005 dari usia 15 tahun 81 tahun. Berdasarkan analisis univariat rata-rata asupan vitamin c dengan nilai paling tinggi 50,5% atau sebanyak 20 orang masuk kategori defisit tingkat berat dan nilai paling rendah 10,0% atau sebanyak 4 orang masuk kategori normal. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square ISSN: 2721-4877 p=0,184, yang mengindikasikan tidak adanya hubungan signifikan antara asupan vitamin C dan kadar gula darah sewaktu pada responden penelitian. Dari data tabel 11 asupan responden pada vitamin c sebanyak 20 responden masuk kategori defisit tingkat berat, hal ini disebabkan oleh faktor usia responden dimana hasil penelitian tabel 7 diketahui paling banyak responden usia 56 tahun keatas. Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi peningkatan intoleransi glukosa, yang sebagian besar disebabkan oleh penurunan jumlah sel pankreas yang memproduksi insulin akibat penuaan. Vitamin C dapat membantu memperbaiki sel beta pankreas, mengurangi resistensi insulin. Variasi kadar glukosa darah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, tetapi juga oleh kondisi lingkungan, termasuk suhu tinggi saat memasak makanan dan paparan sinar matahari (Kardina dkk. , 2. Penelitian ini mendukung temuan Kardina et al. , . , yang melaporkan bahwa asupan bahan pangan kaya vitamin D maupun vitamin C tidak terkait dengan penurunan kadar glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Hal ini menegaskan bahwa pengendalian gula darah pada pasien tersebut kemungkinan membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, melampaui sekadar suplementasi vitamin. Analisis menggunakan uji Pearson menghasilkan nilai 0,607, sehingga dapat disimpulkan bahwa asupan vitamin C tidak memberikan pengaruh terhadap kadar glukosa darah dua jam postprandial. Salah satu kelemahan penelitian ini adalah bahwa pengukuran kadar glukosa hanya didasarkan pada pemeriksaan gula darah Untuk meningkatkan ketepatan temuan, seharusnya penelitian turut mencakup data gula darah puasa dan gula darah dua jam setelah makan. Di sisi lain, penelitian ini belum membedakan secara jelas antara penderita DM tipe 2 tanpa komplikasi dan yang mengalami komplikasi, sehingga dapat terpengaruh oleh heterogenitas kondisi Kupang Journal of Food and Nutrition Research. Vol. No. March 2026, pp. 28Ae35 Kupang Journal of Food and Nutrition Research KESIMPULAN DAN SARAN Dari penelitian yang dilaksanakan untuk mengkaji hubungan antara asupan magnesium dan vitamin C dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM tipe 2 yang dirawat di RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang, diperoleh sejumlah temuan yang menjadi dasar kesimpulan berikut: Hasil analisis menunjukkan bahwa kategori dengan persentase tertinggi untuk asupan magnesium adalah defisit tingkat ringan, yang mencakup 42,5% dari seluruh responden. Data menunjukkan bahwa setengah dari jumlah responden . ,0%) mengalami kekurangan vitamin C pada tingkat yang tergolong berat. Mayoritas responden, mencapai 97,5%, tercatat memiliki nilai gula darah sewaktu yang tergolong pada kategori tinggi. Analisis data mengungkapkan bahwa kadar gula darah sewaktu pada pasien DM tipe II berkorelasi secara signifikan dengan asupan magnesium . =0,. , sementara asupan vitamin C tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan kadar gula darah sewaktu . =0,. Diharapkan agar peneliti berikut mempertimbangkan variabel lain, seperti zat gizi mikro lainnya, yang mungkin memiliki dampak terhadap kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2. REFERENSI