AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Wisata Berbasis Alam Pasir Tiga Warna Di Desa Tude Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor Matias Lau Mau Pating1. Marta simey Famau2. Mitha lodia Sing3. Nampi Iryani Blorton4. Ria Bolang5. Naomi Karpada6. Pertus MauTelu Dony7. Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan ilmu Universitas Tribuana Kalabahi. Email: patingmatias838@gmail. Martafamau20@gmail. mithsinga57@gmail. com3, iryaniblorton@gmail. com4, riabolang31@gmail. naomikarpada@gmail. com6 petrusdony2@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kajian Sejarah wisata pasir tiga warna di Desa Tude Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur. Kajian ini meliputi Sejarah pasir tiga warna, daya Tarik lingkungan wisata pasir tiga warna terhadap pengunjung, fenomena wisata pasir tiga warna yang menarik, dampak perkembangan wisata pasir tiga warna dari waktu ke waktu, dan kehidupan sosial dan ekonomi Masyarakat desa Tude saat ini. Metode pengabdian yang digunakan yaitu, observasi, wawancara, dan Berdasarkan hasil pengabdian yang dilakukan di Desa Tude Puntaru Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor, diperoleh Sejarah, daya Tarik, perkembangan dan damapak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Pasir tiga warna memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan dengan keunikan warna pasir yang menarik yaitu warna putih, kuning keemasan, dan hitam keabuan. Wisata ini memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam peningkatan pendapatan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Penelitian ini merekomendasikan pengelolaan yang berkelanjutan untuk mewujudkan potensi wisata Pasir Tiga Warna secara optimal. Kata Kunci: wisata pasir tiga warna desa Tude PENDAHULUAN Indonesia memiliki kekayaan alamnya yang melimpah, telah menjadi salah satu destinasi wisata utama di dunia. Beragam keindahan alam seperti pegunungan, hutan tropis, dan pantai-pantai eksotis tersebar luas di seluruh wilayah nusantara. Keanekaragaman ini tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan domestik dan internasional tetapi juga menjadi pilar penting dalam pengembangan pariwisata berbasis alam yang berkelanjutan. Menurut teori Ekologi wisata berbasis alam dapat dilihat sebagai cara untuk memperkuat koneksi manusia dengan ekosistem, meningkatkan kesadaran lingkungan, dan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 mempromosikan konservasi. Menurut teori Motovasi pariwisatan. Teori ini menjelaskan mengapa wisatawan tertarik pada wisata berbasis alam. Wisatawan mencari pengalaman seperti ketenangan, keindahan alam, petualangan. Dan kesempatan untuk melarikan diri dari Sejarah desa masih menarik sejarawan untuk ditelusuri karena hampir semua peristiwa sejarah berawal atau terjadi di desa pedesaan. Desa sebagai kesatuan terkecil di indonesia, memiliki karakter tersendiri. Hal ini disebabkan karena masing-masing wilayah di indonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang dan berbeda-beda. Petrus Mau Tellu Dony . demikian juga dengan Desa Tude Puntaru Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor. Desa Tude, yang terletak di Kecamatan Pantar Tengah. Kabupaten Alor. Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu wilayah yang memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata. Salah satu daya tarik utama desa ini adalah Pasir Tiga Warna, sebuah fenomena alam yang menawarkan pemandangan unik berupa pantai dengan pasir berwarna tiga gradasi yang Keunikan ini menjadikan Pasir Tiga Warna sebagai aset berharga yang mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai kalangan. Selain itu, lingkungan alam yang masih asri dan kehangatan masyarakat lokal memberikan nilai tambah bagi wisatawan yang mencari pengalaman wisata yang autentik. Namun, meskipun memiliki potensi yang luar biasa, pengelolaan wisata di Desa Tude masih menghadapi berbagai tantangan. Kurangnya infrastruktur pendukung seperti akses transportasi, fasilitas akomodasi, dan promosi yang terbatas menjadi kendala utama dalam pengembangan destinasi ini. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat lokal tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan pengelolaan wisata yang berkelanjutan juga menjadi isu yang perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi wisata berbasis alam di Desa Tude dengan fokus pada daya tarik Pasir Tiga Warna. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan destinasi wisata ini serta memberikan rekomendasi strategis untuk pengembangan yang berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat. Pasir Tiga Warna tidak hanya dapat menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Alor, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang signifikan bagi masyarakat Desa Tude. Melalui kajian yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 ini, diharapkan muncul kesadaran akan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pihak swasta dalam mengembangkan potensi wisata berbasis alam. Dengan demikian. Desa Tude Puntaru Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor dapat menjadi contoh nyata bagaimana keindahan alam yang unik dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. METODE PENGABDIAN. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ialah data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu observasi lapangan dan Wawancara dilakukan dengan salah satu tokoh, yaitu Bapak Mahalalel Lammakoly. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu analisis deskriptif kualitatif. Observasi Lapangan: Pengamatan langsung dilakukan di lokasi Pasir Tiga Warna Desa Tude Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor NTT. Observasi dilakukan 1 hari yaitu tanggal 21, desember 2024 di wisata pasir tiga warna. Adapun tujuan observasi lapangan yaitu untuk mengkaji Sejarah pasir tiga warna. Daya Tarik Lingkungan. Perkembangan Wisata Pasir Tiga Warna dari Waktu ke Waktu dan Dampak dari Wisata Ini terhadap Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Desa Tude. HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN Sejarah Pasir Tiga Warna bermula dari kisah keluarga Raja Mai Walang, anak dari Kaidi Walang. Cerita ini berakar pada pada Zaman dahulu ada sebuah ke Rajaan yang bernama kerjaan AuKaila WallangAy terletak di Puntaru yang sekarang sudah ditutupi atau digenangi oleh air laut Rajanya bernama Mai Wallang Keinginan Raja untuk beristri lagi sebab ia mendengar ada seorang putri yang cantik, yaitu putri Raja dari ke Rajaan Sambawa, lalu sang Raja mengutus beberapa tokoh adat ke Rajaan untuk ke Sembawa seraya meminang putri Raja. Raja Sembawa menerima pinangan dari Raja Mai Wallang dan langsung menyerahkan putrinya yang bernama Bumanema kepada para delegasi dari ke Rajaan Mai Wallang, setelah memenuhi beberapa persyaratan adat yang sudah disepakati kedua belah pihak, sesuai tradisi adat yang berlaku pada waktu itu, apabila yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 seorang putri Raja keluar kawin maka harus didampingi oleh seorang perempuan sebagai dayang-dayang atau budak. Karena itu Raja menyerahkan seorang perempuan bernama Kallang Buri untuk menjadi dayang-dayang dari Bunanema. Kemudian para delegasi dari ke Rajaan Mai Wallang membawa putri Raja Bunanema bersama Kallang Buri ke ke Rajaan Kaia Wallang. Sementara dalam perjalanan mengarungi lautan, terjadi pertengkaran mulut antara Bunanema dan Kallang Buri, karena Kallang Buri mengakui dirinya sebagai putri Raja, pada saat merapat ke pelabuhan. Kallang Buri menolak Bunanema jatuh kelaut kemudian Kallang Buri memakai pakaian putri ke Rajaan dan menempatkan dirinya sebagai Bunanema. Rombongan ke Rajaan langsung membawa Kallang Buri ke istana Raja Mai Wallang, sementara itu Bunanema berusaha meyelamatkan dirinya kedarat dan menyembunyikan dirinya diatas sebatang pohon asam dekat mata air, yang bernama Opualia. Kallang Buri disambut hangat oleh ke Rajaan bersama masyarakat dan diadakan kenduri besar-besaran dengan upacara adat lego-lego. Sementara upacara adat berlangsung seorang permaisuri Raja, yaitu ibunda Raja Mai Wallang yang bernama Tunia Kau, pergi mengambil air untuk mandi di mata air Opualia, sementara sang permaisuri sedang menimba air Bunanema menampakan dirinya dan mengatakan bahwa ia adalah Bunanema putri Raja dan sementara yang berada di istana itu bukan putri Raja melainkan dayang yang bernama Kallang Buri. Sumber foto:Mata Air Opualia(Air Di Khususkan Untuk Orang-Orang Raja yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Bunanema dibawah ke istana Raja dan duduk di tingkat tujuh dalam maligai . Pada waktu menjelang siang Bunanema turun dan masuk dalam barisan lego-lego dibagian kiri, sedangkan Kallang Buri melepaskan ikatan rambutnya, maka bau busuk memenuhi ruangan lego-lego kemudian Bunanema melepaskan ikatan rambutnya juga maka tercium aroma harum semerbak memenuhi ruangan lego-lego. Sumber foto:Kaki rumah adat jadi batu . Pada saat matahari terbit terjadilah pertengkaran hebat antara Bunanema dan Kallang Buri yang masing-masing mengakui dirinya sebagai putri Raja, dan mau menjadi permaisuri Raja Mai Wallang, pertengkaran di akhiri dengan perang tanding. Bunanema memegang alat tenun kain . dan duduk diatas lesung, sedangkan Kallang Buri yang mengaku dirinya putri Raja ia memegang kelewang dan duduk diatas moko. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sumber foto: Lesung (Mus. Moko (Kuwan. ,pedang dan tiang tenun Giliran pertama diberikan kepada Kallang Buri untuk membela atau memotong Bunanema. Ayunan kesatu, dua dan tiga tidak berhasil malahan kelewang yang dipakainya patah, kemudian giliran Bunanema untuk membelah atau memotong Kallang Buri, hanya dengan sekali ayunan kayu tenun Kallang Buri bersama moko yang didudukinya langsung terbelah menjadi dua bagian dan semua isi perutnya keluar. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sumber foto:Batu Kalang Buri 2025 Kemudian Bunanema menikah dengan Raja Mai Wallang dan perkawinan mereka dikarunia seorang putra yang bernama Weni Kalla. Pada waktu anak ini menjelang kanakkanakan ia mencari belalang pada pada saat itu ada seekor belalang yang hinggap di dahan sebatang pohon terong, yang kebetulan tumbuh diatas kuburan Kallang Buri. Weni Kalla langsung memanah belalang tersebut sebab belalang itu mencaci maki ayah dan ibunya. Kemudian Weni Kalla melaporkan kejadian tersebut kepada ayah dan ibunya, mereka langsung menuju ketempat kuburan dari Kallang Buri. Setelah tiba dikuburan Kallang Buri Weni Kalla memanah belalang tersebut lagi dan ternyata kali ini bidikan Weni Kallah tidak meleset dan langsung mengenai belalang tersebut namun belalang tersebut masih memaki ayah dan ibunya lagi mendengar itu sang ibu (Bunanem. mengambil busur dan panah milik Weni Kalla dan mematahkannya sehingga Weni Kalla langsung menangis dan tidak bisa dibujuk. Ibunya menawarkan segala macam makanan tetapi semuanya ditolak. Akhirnya ibunya menawarkan botok dan tawaran itu diterima oleh Weni Kalla. Sementara ibunya menumbuk botok, sesuatu terjadi di ke Rajaan Kaila Wallang dimana air laut pun naik dan menenggelamkan ke Rajaan Kaila Wallang beserta isinya sampai sekarang Ibu Weni Kalla yaitu Bunanema yang sementara menumbuk botok berubah menjadi batu dan sampai hari ini masih ada di dasar laut pantai Puntaru. Mahligai dan tiangnya yang dua belas batang juga masih ada sampai hari ini, botok yang ditumbuk oleh Ibunya Weni Kalla yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 berubah menjadi pasir tiga warna yang unik yaitu berwarna putih bening, kuning emas dan hitam mengkilat yang hanya terdapat di Pantar Barat Puntara Desa Tude suku Tibe. Lagu Weni Kalla Menggunakan Bahasa Daerah Suku Tubbe Desa Tude AuBunanema KalangburiAy Kong,kong, kong, kong,kong,kong kong, kong, kong, kong, kong, kong. Bunanema kallangburi ilaku pom koliraung middang ilaku raja mewallang garu gaai Waang undar ilaku igaddi katta putaru irsiasa anema maru tipping biring malu, balolang srenattang kuang rawar Olang awe yattu yaidia undar gayang undar gayang ompatang auru tang saikang ala. Daya Tarik Pasir Tiga Warna Daya Tarik pasir tiga warna. Selain pasirnya yang unik, pantai ini dikelilingi oleh pemandangan alam yang indah, air laut yang jernih, sunsat yang indah, serta ekosistem terumbu karang indah dan yang masih terjaga. Keunikan utama dari Pasir Tiga Warna adalah gradasi warna pasirnya, yang terdiri dari putih, hitam, dan kuning keemasan. Fenomena ini jarang ditemukan di pantai lain, menjadikannya daya tarik visual yang kuat. Selain itu, lingkungan sekitar yang asri, air laut yang jernih, dan keberadaan terumbu karang yang masih terjaga, masyarakat sepempat yang ramah membuat lokasi ini ideal untuk kegiatan seperti fotografi, snorkeling, dan eksplorasi alam. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sumber Foto:Pasir Tiga Warna Di Pantai Puntaru Desa Tude Kecamatan Pantar Tengah-Alor Tahun Perkembangan Pasir Tiga Warna Perkembangan wisata pasir tiga warna dari waktu ke waktu. Pasir tiga warna mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah promosi yang dilakukan oleh yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 pemerintah daerah dan komunitas lokal. Meski demikian, perkembangan ini masih terbatas oleh kendala infrastruktur dan aksesibilitas. Fasilitas pendukung seperti penginapan, area parkir, jalur transportasi yang kurang memadai dan layanan wisata masih perlu ditingkatkan untuk menarik wisatawan lebih banyak. Wisata Pasir Tiga Warna memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat setempat, terutama dalam peningkatan pendapatan ekonomi melalui peluang kerja di sektor pariwisata seperti pemandu wisata, penyedia jasa transportasi, dan pedagang. Dari sisi sosial, keberadaan wisata ini mendorong masyarakat untuk menjaga lingkungan dan budaya local serta hidup berkolaborasi dengan setiap wisatawan yang berkunjung. Namun, peningkatan kunjungan wisatawan juga membawa tantangan, seperti potensi kerusakan lingkungan, perubahan pola hidup dan akibat pengambilan pasir tiga warna secara terus menerus. Pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan. Pemerintah daerah perlu bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk meningkatkan infrastruktur dan fasilitas pendukung. Selain itu, strategi promosi yang lebih efektif, seperti penggunaan media digital, dapat membantu meningkatkan visibilitas Pasir Tiga Warna sebagai destinasi wisata serta perlu membangun kerja sama dengan dinas parawisata. KESIMPULAN Desa Tude Puntaru. Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor. Memiliki keunikan Pantai dengan memiliki pasir tiga warna, batu Bunanema di Tengah laut dan pemandangan Pantai yang indah. Keunikan alam ini menunjukan bahwa Desa Tude merupakana salah satu desa yang memiliki keunikan alam yang patut di jaga dan dilestarikan untuk generasi Upaya pelestarian ini tidak hanya penting bagi Masyarakat local, tapi juga bagi keunikan alam Indonesia secara keseluruhan. Pengembangan wisata berbasis alam di Desa Tude Puntaru. Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan semua pihak terkait. Upaya ini tidak hanya akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan. Dengan strategi yang tepat. Desa Tude Puntaru. Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor dapat menjadi salah satu ikon wisata unggulan di Kabupaten Alor dan Nusa Tenggara Timur. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 SARAN Saran Agar sejara Pasir Tiga Waran dan keindahan alam tetap terjaga Masyarakat Desa Tude diharapkan dapat lebih aktif dalam melestarikan keindahan dan keunikan alam yang ada di sekitar mereka. Masyarakat juga perlu menjaga keunikan alam yang ada agar tidak punah. Generasi muda juga diharapkan dapat mempelajari Sejarah pasir tiga warna agar kedepan nanti sejarah Pasir Tiga Waran tidak di lupakan atau punah. UCAPAN TERIMA KASIH. Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pengasuh mata kuliah Bapak Petrus Mau Tellu Dony dan narasumber. Bapak Mahalalel Lamma Koly serta Masyarakat Desa Tude Puntaru. Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor yang telah membantu selama proses pengambilan data dilapangan. Terimakasih juga kepada para reviewer yang telah memberikan saran dan masukan untuk perbaikan jurnal ini. DAFTAR PUSTAKA