http://ejurnal. id/index. php/photon Pengetahuan. Sikap, dan Perilaku Social Distancing Sebagai Upaya Pencegahan COVID-19 Pada Dewasa Muda di Kota Pekanbaru Tyagita Widya Sari1. Sindy Mutiara Irawati. Yurissa Mizar Anggraini Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Universitas Abdurrab. Indonesia *Correspondence e-mail: tyagita. ws@univrab. Abstract COVID-19 is a disease that has never been previously identified in humans. This case is increasing day by day in all corners of the world, including in Indonesia. Riau Province has reported 120 confirmed cases of COVID-19 and Pekanbaru City is the area with the most COVID-19 cases from 12 districts/cities. The World Health Organization (WHO) issued a decision so that people can practice social distancing which is very helpful in breaking the chain of COVID-19 transmission. However, some people in Indonesia still consider social distancing to be just an ordinary recommendation, resulting in the implementation of social distancing not being completely evenly distributed. The purpose of this study were to determine the relationship between knowledge and attitudes towards social distancing and the relationship between attitudes towards social distancing and social distancing behavior as an effort to prevent COVID-19 in young adults in Pekanbaru City in 2020. This study used an analytical observational study design with a cross sectional design. This research was conducted on a young adult population in Pekanbaru City in August 2020. The sampling technique used was cluster sampling with a sample of 120 Data retrieval on respondents was done by online method. Data analysis was carried out by means of the Spearman correlation test to obtain the p-value and correlation coefficient. The results of the Spearman's rho correlation analysis show that there is a significant relationship between knowledge and attitudes towards social distancing . -value = . with a correlation coefficient of 0. In addition, there is a significant relationship between attitudes towards social distancing and social distancing behavior . -value = 0. with a correlation coefficient value of 0. The conclusion of this study are that there is a significant relationship with a very strong correlation strength and a positive direction of correlation between knowledge and attitudes towards social distancing and there is a significant relationship between attitudes towards social distancing and social distancing behavior as an effort to prevent COVID-19 in young adults in Pekanbaru City in 2020. Keywords: Behavior. COVID-19. Knowledge. Attitudes. Social distancing Abstrak COVID-19 adalah penyakit yang belum pernah terindentifikasi sebelumnya pada manusia. Kasus ini semakin meningkat dari hari ke-hari di seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia. Provinsi Riau sudah melaporkan 120 kasus terkonfirmasi COVID-19 dan Kota Pekanbaru merupakan daerah yang paling banyak terdapat kasus COVID-19 dari 12 kabupaten/kota se-Provinsi Riau. World Health Organization (WHO) mengeluarkan keputusan agar masyarakat dapat melakukan social distancing yang sangat membantu dalam memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19. Akan tetapi, sebagian masyarakat di Indonesia masih menganggap social distancing hanya anjuran biasa saja, sehingga mengakibatkan pelaksanaan social distancing belum sepenuhnya merata. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap terhadap social distancing dan hubungan sikap terhadap social distancing dengan perilaku social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19 pada dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada populasi dewasa muda di Kota Pekanbaru pada bulan Agustus 2020. Teknik sampel yang digunakan adalah cluster sampling dengan besar sampel 120 responden. Pengambilan data pada responden dilakukan dengan metode daring. Analisis data dilakukan dengan cara uji korelasi Spearman untuk mendapatkan nilai p-value dan koefisien korelasi. Hasil analisis korelasi menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan sikap terhadap social distancing . -value = 0,. dengan nilai koefisien korelasi 0,899. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap social distancing dengan perilaku social distancing . -value = 0,. dengan nilai koefisien korelasi 0,880. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan korelasi yang sangat kuat dan arah korelasi yang positif antara pengetahuan dengan sikap terhadap social distancing dan hubungan sikap terhadap social distancing dengan perilaku social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19 pada dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun 2020. Kata kunci : Perilaku ,COVID-19. Pengetahuan, ,Sikap. Social distancing Received: 23 Mei 2022. Accepted: 18 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Pendahuluan Coronavirus (CoV) merupakan famili besar virus yang menimbulkan penyakit dengan gejala ringan hingga gejala berat. Penelitian yang dilakukan di Institute of Virology di Wuhan sudah melaksanakan analisis metagenomics untuk mengenali Coronavirus baru yang menjadi etiologi potensial dan mereka menamakannya Novel Coronavirus 2019. Virus ini belum pernah terindentifikasi sebelumnya pada manusia. World Health Organization (WHO) China Country Office pada tanggal 31 Desember 2019 telah mengungkapkan kasus pneumonia yang penyebab atau etiologinya belum diketahui di Kota Wuhan. Selanjutnya, pada tanggal 7 Januari 2020 China mengidentifikasipneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai jenis baru yaitu Coronavirus (Novel Coronavirus, 2019-nCoV). Sampai saat ini angka kejadian Coronavirus Disease 2019 (COVID-. terus bertambah, di mana penyebaran COVID-19 terjadi dengan cepat hingga meluas keluar wilayah Wuhan dan beberapa negara lainnya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Pada tanggal 11 Juni 2020 telah terkonfirmasi kasus COVID-19 dengan jumlah 7. 539 kasus dengan angka kematian 408. 025 kasus yang tersebar di 216 negara dan wilayah teritorial. Indonesia telah mengkonfirmasi kasus pertama COVID-19 sebanyak 2 kasus pada tanggal 2 Maret 2020 dan hingga 11 Juni 2020 telah terkonfirmasi kasus COVID-19 sebanyak 35. 295 kasus dari 34 provinsi dan 424 kabupaten/kota di Indonesia. Dikarenakan terus meningkatnya angka kejadian COVID-19 di Indonesia dan dalam rangka membatasi laju penyebaran pandemi, maka pada tanggal 17 Maret 2020 Presiden Republik Indonesia telah mendeklarasikan status penyakit ini menjadi tingkat Tanggap Darurat. Presiden menyatakan dalam Keputusan Presiden No. 7 Tahun 2020 mengenai Gugus Tugas Percepatan Penanganan Coronavirus yang diketuai oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang bertujuan sebagai ketahanan nasional di bidang kesehatan, mempercepat penanganan COVID-19 dengan melakukan sinergi sesama kementerian atau lembaga pemerintah daerah (Pratama & Hidayat, 2. World Health Organization (WHO) mengeluarkan keputusan agar masyarakat dapat melakukan pembatasan sosial dengan menjaga jarak . ocial distancin. ketika berinteraksi yang merupakan program yang sangat membantu dalam memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19. Namun, sebagian masyarakat di Indonesia masih menganggap social distancing hanya anjuran biasa saja, sehingga mengakibatkan pelaksanaan social distancing belum sepenuhnya merata (Pratama & Hidayat, 2. Beberapa upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19 salah satunya dengan menerapkan pembatasan sosial atau social distancing. Social distancing ialah suatu metode untuk meminimalkan interaksi dengan orang banyak dan bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit pada suatu kelompok (Aslam, 2. Kriteria dewasa muda pada populasi bagian Asia Tenggara menurut World Health Organization (WHO) memiliki rentang 15 sampai 24 tahun (World Health Organization, 2. Menurut Perkasa, dewasa muda sulit untuk mematuhi kebijakan social distancing saat ini. Sifat khas mereka dalam mengetahui bahaya COVID-19 malah menjadi sikap yang menentang karena secara fisik mereka merasa kuat dan dari segi umur 15-24 tahun yang masih muda, sehingga virus ini dianggap tidak akan berpengaruh dalam Padahal sebagian yang sakit dan meninggal akibat dari COVID-19 pada usiaproduktif dan mereka memiliki potensi yang tinggi menjadi carrier dari penyakit ini (Perkasa, 2. Seseorang yang menjadi carrier ialah suatu fenomena yang disebut dengan Orang Tanpa Gejala (OTG). Orang Tanpa Gejala ialah seseorang yang mempunyai risiko tertular dari orang yang terkena COVID-19 namun tidak memiliki gejala. Orang Tanpa Gejala ini merupakan kontak erat dengan yang terkena COVID-19 di mana kontak erat yang dimaksud ialah melakukan kontak fisik atau berada dalam satu ruangan/berkunjung selama 2 hari sebelum datangnya gejala hingga 14 hari sesudah datangnya gejala (Valdivia, 2. Pengetahuan atau kognitif menjadi domain pertama dalam mewujudkan perilaku terbuka . vert Sikap membentuk suatu kesiapan dalam bertindak dan bukan membentuk pelaksanaan suatu Received: 23 Mei 2022. Accepted: 18 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon motif khusus. Terdapatnya sikap pada suatu subjek yang menjadi kesiapan subjek untuk bereaksi terhadap suatu objek sebagai suatu pendalaman terhadap objek. Pengetahuan dan sikap merupakan landasan dalam membentuk suatu perilaku kesehatan suatu individu. Perilaku menjadi keseluruhan pendalaman dan kegiatan seseorang yang membuat hasil bersama antara bermacam-macam faktor. Pengetahuan dan sikap terkait kesehatan merupakan faktor predisposisi pembentukan perilaku kesehatan, yaitu faktor yang mempermudah atau merupakan predisposisi terjadinya suatu perilaku kesehatan. Dengan demikian, faktor pengetahuan tentang social distancing dan sikap terhadap social distancing disimpulkan memiliki hubungan yang erat terhadap perilaku social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19 pada dewasa muda (Notoatmodjo, 2. Ditinjau dari penelitian Zhong et al tentang pengetahuan, sikap, dan praktik terhadap pencegahan COVID-19 pada masyarakat di Provinsi Hubei, di mana diperoleh hasil penelitian pengetahuan tentang COVID-19 memiliki hubungan yang signifikan dengan sikap terhadap pencegahanCOVID-19 . -value < 0,. dan perilaku pencegahanCOVID-19 . -value < 0,. (Zhong et , 2. Penelitian lainnya yang dilakukan pada penduduk Peru yang mayoritas berusia 18-29 tahun didapatkan korelasi positif antara pengetahuan tentang COVID-19 dan skor praktik pencegahan COVID-19 (Valdivia, 2. Secara deskriprif. Pratama dan Hidayat menyimpulkan bahwa socialdistancing sudah diketahui dan dipahami oleh sebagian besar masyarakat usia produktif . - 45 tahu. di Kota Bandung sebagai strategi pencegahan penyebaran COVID-19. Akan tetapi, masih ada sebagian masyarakat yang melanggar ketentuan tersebut karena alasan ekonomi dan relasi sosial (Pratama & Hidayat, 2. Metodologi Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik, dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 12 kecamatan di Kota Pekanbaru. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster sampling dengan menggunakan besar sampel minimal 120 responden. Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang social distancing, sikap terhadap social distancing, dan perilaku social distancing. Populasi penelitian ini adalah dewasa muda wanita dan pria yang tersebar di Kota Pekanbaru dengan rentang usia 15 sampai 24 tahun. Kriteria inklusi sampel pada penelitian ini adalah responden dewasa muda yang berumur 15 sampai 24 tahun yang bersedia berpartisipasi pada penelitian ini dan mampu membaca. Penelitian ini dilakukan menggunakan kuesioner dan beberapa instrumen lainnya yang mendukung seperti lembar permohonan menjadi responden penelitian, lembar persetujuan sebagai responden penelitian, dan kuesioner penelitian. Penelitian ini menggunakan beberapa daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner mengenai pengetahuan tentang social distancing dan sikap terhadap social distancing yang telah dibuat sendiri oleh peneliti yang berlandaskan teori menurut (Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID19, 2020. Walikota Pekanbaru, 2. dalam bentuk google form berbasis online yang dibagikan kepada kelompok dewasa muda di Kota Pekanbaru. Pertanyaan pada kuesioner penelitian meliputi data pengetahuan responden tentang social distancing, sikap responden terhadap social distancing, dan perilaku social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19 pada dewasa muda di Kota Pekanbaru. Pertanyaan untuk mengukur variabel pengetahuan tentang social distancing terdiri dari 10 pertanyaan berbentuk multiple choice. Apabila responden menjawab benar maka akan diberi skor 1, sedangkan apabila responden menjawab salah maka akan diberi skor 0. Adapun rentang skor minimal dan maksimal dari variabel pengetahuan tentang social distancing adalah 0 sampai 10. Sementara itu, pertanyaan untuk mengukur variabel sikap terhadap social distancing terdiri dari 11 pertanyaan berbentuk multiple choice. Apabila responden menjawab benar maka akan diberi skor 1, sedangkan apabila responden menjawab salah maka akan diberi skor 0. Adapun rentang Received: 23 Mei 2022. Accepted: 18 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon skor minimal dan maksimal dari variabel sikap terhadap social distancing adalah 0 sampai 10. Selain itu, pertanyaan untuk mengukur variabel perilaku social distancing terdiri dari 11 pertanyaan. Apabila responden menjawab benar maka akan diberi skor 1, sedangkan apabila responden menjawab salah maka akan diberi skor 0. Adapun rentang skor minimal dan maksimal dari variabel perilaku social distancing adalah 0 sampai 10. Selain itu, peneliti juga menyisipkan gambar sebagai edukasi terkait pencegahan COVID-19 pada kuesioner penelitian. Kuesioner penelitian ini sudah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas terlebih dahulu. Uji validitas dengan menggunakan uji Pearson yang dilakukan untuk membuktikan ketelitian kuesioner dalam penelitian Kuesioner dinyatakan valid jika r hitung lebih besar daripada r tabel dengan jumlah sampel sebanyak 30 sampel . =0,. Uji reliabilitas dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana kuesioner ini dapat dipercaya atau dapat diandalkan suatu kuesioner dikatakan reliabel . jika jawaban responden terhadap pernyataan bersifat stabil atau konsisten dari waktu ke waktu (Dahlan, 2. Kuesioner dinyatakan reliabel jika nilai CronbachAos alpha > 0,6 pada keseluruhan item pertanyaan yang valid. Keseluruhan item pertanyaan pada kuesioner penelitian ini dinyatakan valid dan reliabel dimana r hitung lebih besar dari r tabel dan CronbachAos alpha masing-masing variabel penelitian antara lain pengetahuan tentang social distancing . , sikap terhadap social distancing . , dan perilaku social distancing . Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang langsung diambil oleh peneliti dari sumber utama . esponden yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslus. melalui instrumen kuesioner penelitian. Pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang disebarkan secara daring . melalui google form. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari data proyeksi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok usia dari Badan Pusat Statistik Kota Pekanbaru 2020 untuk keperluan perhitungan besar sampel penelitian. Data yang telah dikumpulkan selajutnya dilakukan pengolahan dan analisis data dengan menggunakan program SPSS 21. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel, baik variabel independen dan variabel dependen. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap terhadap social distancing dan hubungan sikap terhadap social distancing dengan perilaku social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19 pada dewasa muda di Kota Pekanbaru. Selanjutnya, akan dilakukan uji normalitas data untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data pada penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov karena jumlah sampel yang diteliti ialah 120 sampel. Hasil uji normalitas data dengan p-value <0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa data tidak terdistribusi normal, maka analisis bivariat dilakukan uji korelasi Spearman. Hasil dan Pembahasan Hasil Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa proporsi usia responden yang paling banyak pada usia 23-24 tahun yaitu sebanyak 41 orang . %), sedangkan proporsi usia responden yang paling sedikit yaitu pada usia 15-16 tahun sebanyak 5 orang . %). Selain itu, dapat diketahui juga bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 64 orang . %). Berdasarkan pendidikan terakhir, dapat diketahui bahwa pendidikan terakhir responden yang paling banyak pada pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu sebanyak 74 orang . %), sedangkan pendidikan terakhir yang paling sedikit yaitu tidak sekolah sebanyak 1 orang . %). Berdasarkan pekerjaan, dapat diketahui bahwa pekerjaan responden yang paling banyak adalah mahasiswa sebanyak 31 orang . %), sedangkan pekerjaan yang paling sedikit ialah pegawai negeri sebanyak 3 orang . %). Adapun dapat diketahui pula bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tentang social distancing yang baik yaitu berjumlah 67 orang . %), sebagian besar responden memiliki tingkat sikap terhadap social distancing yang baik yaitu sebanyak 68 orang . %), dan responden paling banyak memiliki tingkat perilaku social distancing yang baik yaitu berjumlah 58 orang Received: 23 Mei 2022. Accepted: 18 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon . %). Tabel 1. Distribusi frekuensi responden dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun 2020. Variabel Proporsi Umur 15-16 tahun 17-18 tahun 19-20 tahun 21-22 tahun 23-24 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Terakhir Tidak Sekolah SMP SMA Diploma Strata 1 Pekerjaan Belum Bekerja Mahasiswa Pelajar Pegawai Swasta Pegawai Negeri Mengurus Rumah Tangga Wirausaha Buruh Tingkat Pengetahuan Tentang Social Distancing Baik Cukup Kurang Tingkat Sikap Terhadap Social Distancing Baik Cukup Kurang Tingkat Perilaku Social Distancing Baik Cukup Kurang Berdasarkan Tabel 2, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel penelitian memiliki data yang tidak terdistribusi normal . -value < 0,. , maka pengujian hipotesis pada analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Received: 23 Mei 2022. Accepted: 18 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Tabel 2. Hasil uji normalitas data. Uji Kolmogorov Kesimpulan Variabel Smirnov . -valu. Pengetahuan tentang social distancing 0,000 Data tidak terdistribusi normal . -value < 0,. Sikap terhadap social distancing 0,000 Data tidak terdistribusi normal . -value < 0,. Perilaku social distancing 0,000 Data tidak terdistribusi normal . -value < 0,. Tabel 3. Hubungan pengetahuan tentang social distancing dengan sikap terhadap social distancing pada dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun 2020. Pengetahuan Sikap terhadap tentang social social distancing Spearman's Pengetahuan 1,000 0,899 tentang social p-value 0,000 Sikap terhadap r 0,899 1,000 social distancing p-value 0,000 Berdasarkan Tabel 3 diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 dan nilai koefisien korelasi . sebesar 0,899. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang social distancing dengan sikap terhadap social distancing, dengan arah hubungan positif dan kekuatan hubungan sangat kuat. Tabel 4. Hubungan sikap terhadap social distancing dengan perilaku social distancing pada dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun 2020. Sikap terhadap Perilaku social social distancing Spearman's rho Sikap 1,000 0,880 social distancing p-value 0,000 Perilaku 0,880 1,000 p-value 0,000 Berdasarkan Tabel 4 diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 dan nilai koefisien korelasi . sebesar 0,880. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap social distancing dengan perilaku social distancing, dengan arah hubungan positif dan kekuatan hubungan sangat kuat. Hubungan pengetahuan tentang social distancing dengan sikap terhadap social distancing pada dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun 2020 Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang social distancing dengan sikap terhadap social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19 pada dewasa muda di Kota Pekanbaru. Selain itu, diperoleh pula nilai koefisien korelasi . sebesar 0,899 yang memiliki arti kekuatan korelasi yang sangat kuat. Hasil penelitian ini menunjukkan arah korelasi positif yang artinya semakin tinggi pengetahuan tentang social Received: 23 Mei 2022. Accepted: 18 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon distancing yang dimiliki oleh responden, maka semakin tinggi sikap responden terhadap social distancing dan begitu juga sebaliknya. Berdasarkan hasil tabulasi silang antara variabel pengetahuan tentang social distancing dengan variabel sikap terhadap social distancing pada penelitian ini didapatkan bahwa responden dengan sikap terhadap social distancing yang baik berjumlah 68 orang, di mana sebagian besar di antaranya memiliki pengetahuan baik yaitu 65 orang . ,0%). Responden dengan sikap terhadap social distancing cukup berjumlah 42 orang, di mana sebagian besar diantaranya memiliki pengetahuan yang cukup yaitu 37 orang . ,1%). Sementara itu, sikap terhadap social distancing yang kurang berjumlah 10 orang dimana sebagian besar di antaranya memiliki pengetahuan yang kurang yaitu 8 orang . ,7%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saqlain et al . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara skor pengetahuan, sikap, dan praktik yaitu pengetahuan berhubungan dengan sikap . -value = 0,. , pengetahuan berhubungan dengan praktik . -value = 0,. , dan sikap berhubungan dengan praktik . -value = 0,. Selain itu, terdapat juga hubungan yang signifikan p-value 0,04 . -value < 0,. antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap COVID-19 pada penelitian yang dilakukan Sari et al . Ditinjau dari gambaran pengetahuan dan sikap pada responden, penelitian ini memiliki pengetahuan yang baik tentang social distancing . %) dan sikap yang baik terhadap social distancing . %). Hal ini sejalan dengan penelitian Yanti et al . yang menyatakan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan tentang social distancing yang baik yaitu 1. 096 orang . %) dan sikap yang positif terhadap social distancing yaitu 646 orang . %) dalam mencegah penularan COVID-19. Penelitian dari Sari et al . memperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan p-value 0,04 . -value < 0,. antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap COVID-19 dimana hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik memiliki korelasi dengan sikap positif. Penelitian yang dilakukan Rahman & Sathi . menunjukkan korelasi positif antar skor pengetahuan tentang COVID-19 dan skor praktik pencegahan COVID-19 . -value < 0,. Hal ini berarti semakin tinggi skor pengetahuan tentang COVID-19 maka semakin tinggi skor praktik pencegahan COVID-19. Pengetahuan yang baik sangat penting untuk mewujudkan praktik yang baik terkait pencegahan COVID-19. Penelitian yang dilakukan Valdivia et al . memperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan . -value = 0,. , pekerjaan . -value = 0,. dan usia . -value = 0,. terhadap terbentuknya pengetahuan seseorang tentang COVID-19. Ranah kognitif ialah komponen terpenting dalam mewujudkan tindakan suatu individu (Notoadmodjo, 2. Faktor predisposisi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tindakan . kesehatan akseptor. Pengetahuan dan sikap terhadap tradisi dan kepercayaan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial dan ekonomi merupakan faktor predisposisi perilaku menurut teori Green . dalam Priyoto . Pengetahuan merupakan landasan terbentuknya sikap dan perilaku pada seseorang. Seseorang yang mendapatkan stimulus rangsangan . akan memproses suatu stimulus itu yang nantinya akan membentuk suatu kesiapan dalam bertindak. Hal ini merupakan terbentuknya sikap seseorang yang tidak dapat diamati secara langsung. Dengan demikian, pengetahuan tentang social distancing pada dewasa muda memiliki hubungan yang erat dengan sikap terhadap social distancing. Dengan adanya pengetahuan tentang social distancing yang baik maka akan terbentuk sikap terhadap social distancing pada dewasa muda yang baik, sehingga memiliki hasil akhir bahwa terbentuklah perilaku social distancing yang baik juga (Notoatmodjo, 2. Analisis pertanyaan kuesioner sikap responden terhadap social distancing yang ditinjau dari nomor 11 didapatkan hasil dari penelitian ini ialah mayoritas responden sebanyak 70 orang . %) setuju dilakukannya social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19. Received: 23 Mei 2022. Accepted: 18 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Hubungan sikap terhadap social distancing dengan perilaku social distancing pada dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun 2020 Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap tentang social distancing dengan perilaku social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19 pada dewasa muda di Kota Pekanbaru Tahun 2020. Selain itu, diperoleh pula hasil nilai koefisien korelasi sebesar 0,880 yang artinya memiliki kekuatan korelasi sangat kuat. Arah korelasi dalam penelitian ini adalah positif yang artinya semakin tinggi skor sikap terhadap social distancing yang dimiliki oleh responden, maka semakin tinggi skor perilaku social distancing responden dan begitu juga sebaliknya. Berdasarkan hasil tabulasi silang antara variabel sikap terhadap social distancing dan perilaku social distancing pada penelitian ini, didapatkan bahwa mayoritas responden yang memiliki perilaku social distancing baik berjumlah 58 orang, di mana keseluruhan memiliki sikap terhadap social distancing yang baik yaitu 58 orang . ,3%). Responden dengan perilaku social distancing cukup berjumlah 45 orang, di mana sebagian besar di antaranya memiliki sikap terhadap social distancing yang cukup yaitu 36 orang . ,7%). Responden dengan perilaku social distancing kurang berjumlah 17 orang, di mana sebagian besar di antaranya memiliki sikap terhadap social distancing yang kurang yaitu 9 orang . ,0%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yanti et al, . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap tentang social distancing yang positif sebanyak 646 orang . %) dengan perilaku social distancing yang baik sebanyak 1. %) dengan hasil uji statistik antara sikap dan perilaku . -value = 0,. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Salman et al. , . mendapatkan hasil bahwa terdapat hubungan sikap tentang social distancing . ,4%) dengan perilaku social distancing. Ditinjau dari penelitian Zhong et al, . tentang pengetahuan sikap dan perilaku terhadap pencegahan COVID-19 pada masyarakat di Provinsi Hubei. China dimana diperoleh hasil penelitian sikap . -value 0,. memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku . -value <0,. terhadap pencegahan COVID-19. Ditinjau dari gambaran sikap dan perilaku pada responden pada penelitian ini memiliki sikap yang baik terhadap social distancing . %) dan perilaku social distancing yang baik . %). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Yanti et al, . yang menyatakan bahwa didapatkan mayoritas yang memiliki sikap yang positif . %) terhadap social distancing dan perilaku social distancing yang baik . %). Pembentukan perilaku pada individu akan bertahan lama jika dilandasi dengan adanya pengetahuan yang baik dan sikap yang positif. Menurut (Notoadmodjo, 2. terdapat beberapa tahapan yang dialami individu untuk membentuk suatu perilaku yang baru yaitu tahap pertama awareness adalah suatu proses di mana individu memahami tentang rangsangan yang ada, tahap kedua interest adalah suatu proses di mana individu mulai tertarik dengan rangsangan yang didapatkan, tahap ketiga evaluation adalah suatu proses di mana individu mulai mempertimbangkan kembali pada rangsangan yang diterima, tahap keempat trial adalah suatu proses di mana individu mulai mencoba untuk membuat perilaku yang belum pernah dilakukannya, dan tahap kelima adoption adalah suatu proses di mana individu sudah melakukan perilaku yang belum pernah dilakukan sebelumnya yang didasarkan pada proses awareness, pengetahuan, dan sikap yang diterima. Menurut teori Green . , adanya faktor predisposisi yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan seorang individu, faktor ini berupa pengetahuan dan sikap terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan, sistem nilai yang telah dianut, tingkat pendidikan, sosial dan ekonomi (Priyoto, 2. Perilaku dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ialah faktor bawaan yang sudah ada dalam diri subjek berupa tingkatan kecerdasan, emosional, jenis kelamin, dan lainnya. Faktor eksternal ialah lingkungan yang berada pada subjek berupa lingkungan fisik, sosial budaya, ekonomi, politik, dan lainnya. Menurut Notoadmodjo . faktor lingkungan ialah faktor yang bepengaruh dalam mewarnai perilaku seseorang. Dalam teori Green . menyatakan bahwa sikap Received: 23 Mei 2022. Accepted: 18 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan seorang individu. Sikap memiliki hubungan yang erat dengan perilaku kesehatan suatu individu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sikap terhadap social distancing memiliki hubungan yang erat dengan perilaku social distancing sebagai upaya dalam pencegahan COVID-19 pada dewasa muda di Kota Pekanbaru (Notoadmodjo, 2. Analisis pertanyaan kuesioner sikap responden terhadap social distancing ditinjau dari nomor 11 didapatkan hasil dari penelitian ini adalah mayoritas responden sebanyak 70 orang . %) setuju dilakukannya social distancing sebagai upaya pencegahan COVID-19. Selain itu, terdapat pula sebanyak 6 responden yang mengisi pendapat lain terkait dengan pertanyaan nomor 11. Sementara itu, analisis pertanyaan perilaku social distancing responden ditinjau dari nomor 11 didapatkan hasil dari penelitian ini adalah mayoritas responden sebanyak 90 orang . %) memiliki perilaku mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dalam mencegah penularan COVID-19, yang kemudian diikuti dengan menutup mulut dan hidung ketika batuk dan bersin dengan cara menekukkan lipatan siku. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, dapat diambil kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan pengetahuan tentang social distancing dengan sikap terhadap social distancing pada dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun 2020, dengan kekuatan korelasi sangat kuat dan arah korelasi positif . value = 0,000. r = 0,. Selain itu, diperoleh pula kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan sikap terhadap social distancing dengan perilaku social distancing pada dewasa muda di Kota Pekanbaru tahun 2020, dengan kekuatan korelasi sangat kuat dan arah korelasi positif . -value = 0,000. r = 0,880. Ucapan Terimakasih Terima kasih diucapkan kepada seluruh responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini antara lain dewasa muda berusia 15-24 tahun di Kota Pekanbaru. Daftar Pustaka