Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 ISSN : . E-ISSN : . KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN MENURUT AZ-ZARNUJI DALAM KITAB TA'LIMUL MUTAAoALIM Muhammad Ibnu Faruk Fauzi STAI Sangatta KutaiTimur. Indonesia Email : ibnufaruq913@gmail. Article Info Accepted 29 Maret 2022 Received 05 Juli 2021 Published 08 Juni 2022 Keywords: ABSTRACT Education Az-Zarnuji Ta'limul Muta'alim Az-Zarnuji's thoughts in the book of Ta'limul Muta'allim contain adab-adab in education about student learning morals and teacher character. The focus of this research is How does Az-Zarnuji think about education in the book of Ta'limul Muta'allim? Research method is qualitative research in the form of library research . ibrary researc. In order to get valid research results, it is necessary to select sources, both primary data sources and secondary data The primary data source of this research is the book "Ta'limul Muta'alim" by Imam Az-Zarnuji, and the secondary source is the translation of Ta'limul Muta'alim, as well as other relevant and relevant books. The results of the research findings of this study show that the Educational Thought of the Book of Ta'limul Muta'alim according to Az-Zarnuji is needed in the world of education Characteristics of his thinking can be classified in practical patterns that stick to the Qur'an and hadith. Another tendency in his thinking is to present ethical values that breathe Sufistics. The moral education that he emphasized can be clarified into three, namely: First, morals to God, teachers and disciples in the process of teaching and learning are intended only to God. Secondly, morals to fellow human beings, especially between students and teachers but at least to fellow friends must respect and respect each other. Third, morals to science itself, that science is light to us and the highest position is a knowledgeable person. ABSTRAK Kata Kunci: Pendidikan Az-Zarnuji TaAolimul MutaAoalim Pemikiran Az-Zarnuji dalam kitab TaAolimul MutaAoallim memuat adab-adab dalam pendidikan tentang akhlak belajar siswa dan karakter guru. Fokus penelitian ini adalah Bagaimana pemikiran Az-Zarnuji tentang pendidikan dalam kitab TaAolimul MutaAoallim? Metode penelitian adalah penelitian kualitatif bersifat studi pustaka . ibrary researc. Guna mendapatkan hasil penelitian yang valid maka diperlukan seleksi sumber, baik sumber data primer maupun sumber data sekunder. Sumber data primer penelitian ini kitab AuTa`limul MutaAoalimAy karya Imam Az-Zarnuji, dan sumber sekundernya adalah terjemah TaAolimul MutaAoalim, serta buku-buku lain yang bersangkutan dan relevan. Hasil penelitian temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Pemikiran Pendidikan Kitab TaAolimul MutaAoalim menurut Az-Zarnuji sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan Karakteristik pemikiran beliau dapat digolongkan dalam corak praktis yang tetap berpegang teguh pada al-QurAoan dan hadits. Kecenderungan lain dalam pemikiran beliau adalah mengetengahkan nilai-nilai etis yang bernafaskan sufistik. Pendidikan akhlak yang ditekankan beliau dapat diklarifikasikan menjadi tiga, yakni: Pertama, akhlak kepada Allah, guru dan murid dalam proses belajar mengajar diniatkan hanya kepada Allah. Kedua, akhlak kepada sesama manusia, terutama antara murid dan guru tetapi paling tidak terhadap sesama teman harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Ketiga, akhlak kepada ilmu itu sendiri, bahwasanya ilmu itu cahaya bagi kita dan kedudukan yang paling tinggi adalah orang yang berilmu. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/namajurnal Copyright and License: Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan, manusia sebagai makhluk Allah SWT, yang dikaruniai dengan akal pikiran dituntut untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sehingga membedakannya dengan makhluk-makhluk lain. Bahkan Ayat-ayat al-QurAoan dan hadits Nabi Muhammad SAW banyak menjelaskan tentang kewajiban tentang menuntut ilmu dan keistimewaan orang-orang yang menuntut ilmu. Pendidikan memiliki berbagai pengertian, tergantung dari cara pandang seseorang mengenai filsafat, tujuan program, maupun metode pendidikan itu sendiri, sebagian ahli pendidikan menyimpulkan, bahwa pendidikan adalah suatu pekerjaan atau kegiatan turun-temurun yang diwariskan oleh orang tua atau nenek moyang kepada para anak dan cucunya (Amin, 2. Pendidikan juga merupakan hal yang sangat vital bagi kemajuan umat manusia, sebagai sarana strategis untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Oleh karenanya kemajuan suatu bangsa dan kemajuan pendidikan adalah suatu determinasi, kemajuan beberapa negara di dunia ini merupakan akibat perhatian mereka yang besar dalam mengelola sektor pendidikan (Ifendi, 2020. Namun tidak jarang pendidikan itu sendiri senantiasa diwarnai oleh berbagai permasalahan yang tentunya tidak habis-habisnya, hal ini disamping karena adanya perubahan orientasi dan tuntutan kehidupan umat manusia juga karena kemajuan teknologi. Ketika masalah pendidikan telah dipecahkan atau diselesaikan, maka akan timbul lagi masalah pendidikan yang baru dengan bobot dan volume yang berbeda dengan masalah yang sebelumnya. Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya para guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki Kelemahan para pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan potensi para siswa. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan. Kualitas pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan analisa dari badan pendidikan dunia (UNESCO), kualitas para guru Indonesia menempati peringkat terakhir dari 14 negara berkembang di Asia Pacifik. Posisi tersebut menempatkan negeri agraris ini dibawah Vietnam yang negaranya baru merdeka beberapa tahun lalu. Sedangkan untuk kemampuan membaca. Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Lemahnya input quality, kualitas guru kita ada diperingkat 14 dari 14 negara Ini juga kesalahan negara yang tidak serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hubungan guru dengan siswa atau anak didik dalam proses belajar mengajar adalah merupakan faktor yang sangat menentukan dan ikut mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Bagaimana baiknya bahan pelajaran yang diberikan, dan sempurnanya metode yang Dipergunakan, namun jika hubungan guru dan murid tidak harmonis maka dapat menciptakan suasana yang tidak diinginkan (Azhar, 2. Guru menurut paradigma baru ini bukan hanya bertindak sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator proses belajar mengajar yang realisasi atau aktualisasi potensi-potensi manusia agar dapat mengimbangi kelemahan pokok yang dimilikinya. Sehingga hal ini berarti bahwa pekerjaan guru tidak dapat dikatakan sebagai suatu pekerjaan yang mudah dilakukan oleh sembarang orang, melainkan orang yang benarbenar memiliki wewenang secara akademisi, kompeten secara operasional dan professional (Ismail, 2. Dalam pendidikan Islam sangat peduli terhadap hak dan kewajiban para murid . nak didi. sebagaimana ia juga sangat peduli terhadap hak dan kewajiban para guru termasuk di dalamnya etika-etika yang harus menjadi pedoman bagi para murid. Berangkat dari kesadaran ini, upaya menciptakan belajar yang mempercepat dan menjamin kesuksesan belajar menjadi sebuah pemikiran tersendiri di kalangan para ilmuan. Sebut saja misalnya Socrates dengan konsep dialektikanya. Begitu pula dengan tokoh-tokoh lainnya (Nandya, 2. Dalam sejarah Islam terdapat seorang yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap proses belajar, yaitu syaikh Az-Zarnuji. Beliau menuangkan rangkaian pengalaman dan renungannya tentang bagaimana seseorang mestinya sukses belajar dalam sebuah kitab. Kitab tersebut diberi nama kitab TaAolimul MutaAoallim. Salah satu unsur penting dari proses kependidikan adalah guru. Oleh karena itu guru mempunyai tanggung jawab mengantarkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan tersebut, guru harus memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual. Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 moral maupun kebutuhan fisik peserta didik (Lindawati et al. , 2. Keberhasilan pendidikan tergantung pada banyak faktor, namun yang terpenting di antara faktor-faktor tersebut adalah sumber daya pontensial guru. Pendidik akan berhasil menjalankan tugasnya apabila mempunyai kompetensi personal-religius, sosial-religius, dan profesional religius. Kata religius selalu dikaitkan dengan tiap-tiap kompetensi, karena menunjukan adanya komitmen pendidik dengan ajaran Islam sebagai kriteria utama, sehingga segala masalah pendidikan dihadapi, dipertimbangkan, dan dipecahkan, serta ditempatkan dalam persfektif Islam (Mujib & Mudzakkir, 2. Guru agama Islam merupakan salah satu komponen dalam proses belajar mengajar memiliki multi peran, tidak terbatas hanya sebagai pengajar yang melakukan transfer of knowledge tetapi juga bertanggung jawab atas pengelolaan . anager of learnin. , pengarah . irector of learnin. , fasilitator, dan perencanaan . he planner of future societ. (Bukhari, 2. Banyak para filosof muslim memberikan perhatian yang sangat besar lewat berbagai tulisanya terhadap eksistensi guru, termasuk di dalamnya mengenai hak dan kewajibannya. Mereka banyak menulis tentang beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru. Di antaranya adalah Syaikh Az-Zarnuji yang hidup sekitar akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13 M pada masa Bani Abbasiyah. Syaikh Az-Zarnuji adalah sosok pemikir pendidikan Islam yang banyak menyoroti tentang etika dan dimensi spiritual dalam pendidikan Islam. Dalam karyanya Syaikh Az-Zarnuji lebih mengedepankan pendidikan tentang etika dalam proses pendidikan. Beliau mengisyaratkan pendidikan yang penekanannya pada mengolah hati sebagai asas sentral bagi pendidikan. Dalam proses pembelajaran, baik pendidik maupun peserta didik harus mengetahui jenjang etika tujuan dan metode yang digunakan, sehingga dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat dan mampu meningkatkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Az-Zarnuji menekankan bagi guru dalam mendidik siswa hendaknya mempertimbangan kondisi peserta Dia menawarkan beberapa konsep yang perlu dipegang untuk mencapai tujuan pendidikan, bahwa pendidik harus orang yang Aoalim . , waraAo . rang yang dapat menjauhi diri dari perbuatan tercel. , dan tawadlu . idak sombong dengan keilmuanny. Syaikh Az-Zarnuji dalam muqaddimah kitab TaAolim MutaAoallim menjelaskan latar belakang penyusunan kitabnya. Yaitu diawali karena banyaknya para pencari ilmu yang tidak mendapat ilmu atau dia mendapat ilmu tapi tidak mendapat kemanfaatan dari ilmu tersebut. Itu disebabkan karena kurangnya akhlak atau etika dalam mencari ilmu. Kemerosotan moral para pencari ilmu dan pendidik yang dirasakan Syaikh Az-Zarnuji pada saat itu, kini masih kita rasakan bahkan jauh lebih Dalam materi kitab TaAolimul MutaAoalim sarat dengan muatan-muatan pendidikan moral AuTasawufAy yang jika direalisasikan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tentu tujuan ideal dari pendidikan islam dapat tercapai. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Yaitu penelitian yang bermaksud menggambarkan tentang suatu variable, gejala atau keadaan Auapa adanyaAy, dan tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu. Selanjutnya, untuk memudahkan pengumpulan data, fakta dan informasi yang mengungkapkan dan menjelaskan permasalahan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan metode penelitian studi dokumentasi, yaitu mengumpulkan data, fakta dan informasi berupa tulisan-tulisan dengan bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruangan perpustakaan (Saihu, 2. Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan mempelajari literatur yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti dengan mengumpulkan data-data melalui bahan bacaan dengan bersumber pada buku-buku primer dan buku-buku sekunder atau sumber sekunder lainya. Data primer penelitian ini yaitu berupa karya dari Az-Zarnuji, yakni kitab TaAolim al-MutaAoalim. Sementara sumber data sekunder sebagai data pendukung yaitu berupa data-data tertulis baik itu buku-buku maupun sumber lain yang memiliki relevansi dengan masalah yang dibahas. Setelah data-data terkumpul lengkap, berikutnya yang penulis lakukan adalah membaca, mempelajari, meneliti, menyeleksi, dan mengklasifikasi data-data yang relevan dan yang mendukung pokok bahasa, untuk selanjutnya penulis analisis, simpulan dalam suatu pembahasan yang utuh. Pengecekan keabsahan data pada penelitian ini dilakukan dengan dua cara, yaitu: kriteria kredibilitas dan transferabilitas. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Konsep Pemikiran Pendidikan Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolimul MutaAoallim Salah satu karya monumental Syaikh az-Zarnuji yang berbicara tentang pendidikan adalah kitab TaAolimul MutaAoalim yang mengupas masalah belajar mengajar. Kitab ini diakui sebagai karya yang monumental dan sangat diperhitungkan keberadaannya. Kitab ini juga banyak dijadikan bahan penelitian dan rujukan dalam penulisan karya-karya ilmiah, terutama dalam bidang pendidikan. Kitab ini tidak hanya digunakan oleh ilmuwan Muslim saja, tetapi juga dipakai oleh para orientalis dan penulisan Barat (Aliyah & Amirudin, 2. Konsep Pemikiran Pendidikan Menurut Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolimul MutaAoallim (Muhammad Ibnu Faruq Fauz. Keistimewaan lain dari kitab TaAolimul MutaAoalim ini terletak pada materi yang dikandungnya. Meskipun kecil dan dengan judul yang seakan-akan hanya membahas metode belajar, sebenarnya esensi kitab ini juga mencakup tujuan, prinsip-prinsip dan strategi yang didasarkan pada moral religius. Kitab ini tersebar hampir keseluruh penjuru dunia. Kitab ini juga telah dicetak dan diterjemahkan serta dikaji di berbagai dunia, baik di Timur maupun di Barat. Di Indonesia, kitab TaAolimul MutaAoalim dikaji dan dipelajari hampir di setiap lembaga pendidikan klasik tradisional seperti pesantren, bahkan di pondok pesantren modern. Dari pembahasan kitab ini, dapat diketahui tentang konsep pendidikan Islam yang dikemukakan Az-Zarnuji. Secara umum kitab ini mencakup tiga belas pasal yang singkat-singkat, yaitu. Pengertian ilmu dan keutamaannya. Niat belajar. Memilih guru, ilmu, teman dan ketabahan dalam belajar. Menghormati ilmu dan ulama. Ketekunan, kontinuitas dan cita-cita yang luhur. Permulaan dan insensitas belajar serta tata tertibnya. Tawakal kepada Allah. Masa belajar. Kasih sayang dan memberi nasihat. Mengambil pelajaran. WaraAo . enjaga diri dari yang subhat dan hara. pada masa belajar. Penyebab hafal dan lupa. Masalah rezeki dan usia. Pasal-pasal tersebut dapat disimpulkan ke dalam tiga cakupan besar, yaitu pembagianpengetahuan, tujuan pembelajarandan metode belajar . he division of knowledge, the purpose of learning dan the method of stud. Ketiga bidang pendidikan inidapat dikemukakan sebagai berikut: 1 Pembagian Ilmu Az-Zarnuji membagi ilmu pengetahuan dalam empat kategori. Pertama,ilmu fardhu Aoain, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim secara individual. Hal ini didasarkan pada hadits AuMenunut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuanAy. Dalam kamus istilah fiqih, fardlu Aoain yaitu perbuatan yang dikerjakan oleh setiap mukallaf, seperti shalat, puasa . alam bulan Ramadha. , zakat, haji dan sebagainya (Tholabi, 2. Adapun kewajiban menuntut ilmu yang pertama kali harus dilaksanakan adalah memperlajari ilmu tauhid, yaitu ilmu yang menerangkan keesaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Baru kemudian mempelajari ilmu-ilmu lainnya, seperti fiqih, shalat, zakat, haji dan lain sebagainya yang kesemuanya berkaitan dengan tata cara beribadah kepada Allah (Baharuddin & Wahyuni, 2. Kedua, ilmu fardhu kifayah. Kewajiban yang bisa dilakukan oleh hanya sebagian mukallaf. Bila hal itu telah dilakukan oleh seorangatau beberapa orang mukallaf, maka lainnya bebas dari kewajiban Akan tetapi jika tidak ada seorang pun yang melakukannya, semuanya mendapat dosa (Tholabi. Ketiga, ilmu haram. Sesuatu atau perkara-perkara yang dilarang oleh syaraAo. Berdosa jika mengerjakannya dan berpahala jika meninggalkannya (Tholabi, 2. Keempat,ilmu jawaz, yaitu ilmu yang hukum mempelajarinya adalah boleh karena bermanfaat bagi manusia. Misalnya, ilmu kedokteran, yang dengan mempelajarinya akan diketahui sebab dari segala sebab . umber penyaki. Hal ini diperbolehkan karena Rasulullah Saw. sendiri juga berobat. Seperti dalam Kamus Istilah Islam, ilmu Jawaz yaitu boleh. Pernyataan bebas melakukan sesuatu, tidak terikat dengan kewajiban atau larangan (Tholabi, 2. 2 Unsur-Unsur Pendidikan Syaikh Az-Zarnuji a Niat dan Tujuan Belajar Mengenai niat dan tujuan belajar. Az-Zarnuji mengatakan bahwa niat yang benar dalam belajar adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT. , memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, berusaha memerangi kebodohan pada diri sendiri dan orang lain, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam dan mensyukuri nikmat Allah. Sehubungan dengan hal ini. Az-Zarnuji mengingatkan agar setiap penuntut ilmu tidak sampai keliru menentukan niat dalam belajar, misalnya belajar yang diniatkan untuk mencari pengaruh, mendapatkan kenikmatan duniawi atau kehormatan dan kedudukan tertentu. Jika masalah niat ini sudah benar, tentu ia akan merasakan kelezatan ilmu dan amal serta berkuranglah kecintaannya pada harta dunia, sebagaimana hadits yang artinya. AuSesungguhnya pokok dari semua pekerjaan bergantung pada niatAy (Baharuddin & Wahyuni, 2. Syeikh Imam Hammad bin Ibrahim bin Ismail Assyafar Al Anshari membacakan syairnya kepada Abi Hanifah: AuSiapa yang menuntut ilmu untuk akhirat, tentu ia akan memperoleh Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 a a a a anugerah kebenaran. Dan kerugian bagi orang yang menunut ilmu hanya karena mencari kedudukan di masyarakatAy (Az-Zarnuji, 2. Peserta Didik (Muri. Fokus pembahasan banyak ditujukan kepada murid. Syarat Ae syarat yang harus dimiliki dan dipenuhi oleh murid, baik itu mengenai kognitif . , afektif . ikap, nilai Ae nila. dan psikomotor . elincahan / keterampila. dan kehalusan bahasa sesuai dengan tujuan proses balajar. Murid harus memilih ilmu, guru dan teman. Seorang murid harus rajin, tekun dan mempunyai citacita, tertiban belajar, wara' dan menguraikan tentang hal Ae hal yang dapat memperkuat, memperlemah hafalan (Az-Zarnuji, 2. Pendidik (Gur. Guru dalam belajar itu adalah seorang yang sangat dihormati dan ilmu tidak akan bermanfaat tanpa menghormati guru. Murid memilih guru dengan cara mencari yang alim, yang bersifat waraAo dan yang lebih tua (Az-Zarnuji, 2. Alat Pendidikan Yang dimaksud dengan alat pendidikan ialah segala sesuatu yang dipergunakan langsung atau tidak langsung membantu terlaksananya pendidikan. Dengan demikian, alat Ae alat pendidikan yang dapat digunakan itu cukup banyak. Misalnya, buku, alat tulis dan sebagainya. Materi pendidikan yang tertera dalam berbagai macam bidang studi yang terwujud dalam bentuk buku pelajaran yang merupakan bagian dari komponen alat pendidikan amat diperhatikan oleh Az Zarnuji. Metode Pembelajaran Dalam kitab TaAolimul MutaAoalim Az-Zarnuji menjelaskan bahwa metode pembelajaran meliputi dua kategori. Pertama, metode yang bersifat etik religi. Kedua, metode yang bersifat teknik strategi. Termasuk ke dalam kategori pertama adalah pemikirannya yang mengharuskan para pelajar mempraktekkan beberapa jenis amalan agama tertentu. Kategori ini dikatakan sebagai allogical, dalam arti kita tidak dapat mendiskusikannya secara rasional. Sebagai contoh AzZarnuji mengatakan bahwa untuk dapat diberikan rezeki, hendaknya setiap belajar dianjurkan untuk membaca Subhanallah al-Aoazim. Subhanallah wa bihamdih sebanyak seratus kali. Kedua, metode bersifat teknik strategis meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman dan langkah-langkah dalam belajar. Langkah-langkah dalam belajar. mengenai hal ini, termasuk juga tiga aspek teknik pembelajaran, menurut Grunebaum dan Abel, terdapat enam hal yang menjadi sorotan AzZarnuji, yaitu . Kurikulum dan materi pelajaran . he curiculum and subject matte. , . Pilihan pengaturan dan guru . he choice of setting and teache. , . Waktu untuk belajar . he time for stud. , . Teknik untuk belajar dan cara belajar. echniquea for learning and manner of stud. , . Dinamika pembelajaran . ynamics of learnin. , . Hubungan siswa untuk lain . he studentAos relationship to othe. Dari informasi tersebut terlihat dengan jelas bahwa Az-Zarnuji telah berbicara tentang aspek-aspek pendidikan yang amat penting. (Tholabi, 2. Tentang kurikulum terkait dengan pemikirannya tentang pembagian ilmu pengetahuan sebagaimana disebutkan di atas. Sedangkan tentang situasi belajar terkait dengan bagaimana seharusnya seorang pelajar memilih guru dan temannya yang dapat mendorong terjadinya proses belajar-mengajar yang efektif. Strategi pembelajaran dalam konsep Az-Zarnuji ada empat metode pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan murid. n Metode menghafal Guru disarankan untuk memilih pelajaran yang ringkas dan mudah sehingga bisa dipahami dan dihafal oleh murid, murid disarankan hendaknya menghafal diluar kepala pelajaran yang didapatkan, walaupun demikian, cara menghafal ini harus disesuaikan dengan karakteristik Metode ini biasanya digunakan untuk menghafal materi yang bersifat syair atau nazdom (Ifendi, 2. n Metode pemahaman setelah menghafal Murid diupayakan bisa memahami pelajaran dengan cara mengulang-ngulang yang telah diterangkan, dalam hal ini murid disarankan untuk memiliki cara agar bisa memahami apa yang diterangkan oleh gurunya. n Metode diskusi Murid harus sering mendiskusikan suatu masalah atau pendapat dengan teman-temannya, karena sifatnya dialogis-dialektif, sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan dengan tetib dan tenang serta berdasarkan akal jernih untuk memperoleh jawaban yang Konsep Pemikiran Pendidikan Menurut Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolimul MutaAoallim (Muhammad Ibnu Faruq Fauz. n a menjadi topik pembicaraan. Metode eksplorasi Setelah melewati tiga tahap tadi, barulah seorang murid disarankan untuk mengamati dan menelaah tarutama pelajaran-pelajaran yang sukar dipahami, seorang pelajar harus terus berfikir dan terus menambah pengetahuannya darimanapun sumbernya (Az-Zarnuji, 2. Lingkungan Lingkungan merupakan lapangan-lapangan berupa keluarga, sekolah dan masyarakat, itu yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan. Komponen lingkungan secara khusus menekankan agar anak didik memilih teman yang rajin, tekun, wara' dan menjauhi teman yang banyak bicara, suka berbuat keburukan dan gemar membuat fitnah (Az-Zarnuji, 2. Disamping besarnya pengaruh pergaulan teman-teman betapa kuatnya pengaruh keluarga, terutama kedua orang tua. 2 Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid Ada beberapa pemikiran Az-Zarnuji dalam kitab TaAolimul al-MutaAoalim yang memberi acuan terhadap pola hubungan guru dan murid. 1 Murid tidak akan memperoleh ilmu yang bermanfaat tanpa adanya pengagungan dan pemuliaan terhadap ilmu dan orang yang mengajarnya . , menjadi semangat dan dasar adanya penghormatan murid terhadap guru. Posisi guru yang mengajari ilmu walaupun hanya satu huruf dalam konteks keagamaan disebut sebagai bapak spiritual sehingga kedudukan guru sangat terhormat dan tinggi, yang memberi konsekuensi bagi sikap dan perilaku murid sebagai manifestasi penghormatan terhadap guru baik dalam lingkungan formal maupun nonformal. Sementara tingginya ilmu yang dimiliki oleh guru, menjadikan fungsi guru seperti dokter, menunjukkan nilai kepercayaan dan pentingnya nasihat bagi murid dalam mencapai tujuan belajar yang optimal. Oleh karena itu murid hendaknya membersihkan hati dari segala kotoran, agar ilmu mudah masuk pada dirinya (Yasin, 2. 2 Kontekstualisasi hubungan guru dan murid, menurut Az-Zarnuji, menunjukkan bahwa penempatan guru pada posisi terhormat terkait oleh sosok guru yang ideal. Yaitu guru yang memenuhi kriteria dan kualifikasi kepribadian sebagai guru yang memiliki kecerdasan ruhaniah dan tingkat kesucian tinggi, di samping kecerdasan intelektual. Dalam bahas Az-Zarnuji, guru ideal adalah guru yang alim, wiraAoi dan mempunyai kesalehan sebagai aktualisasi keilmuan yang dimiliki serta tanggung jawab terhadap amanat yang diemban untuk menggapai ridha Allah Swt. Dengan demikian, pemikiran Az-Zarnuji berupaya membawa lingkungan belajar pada tingkat ketekunan dan kewibawaan guru dan pengajarannya. Sedangkan murid sebagai individu yang belajar, menunjukkan keseriusan dan kesungguhan dalam belajar sebagai manifestasi daya juang dalam pencapaian ilmu yang diajarkan oleh guru dalam rangka mencari ridha Allah SWT. Dan untuk menuai Karena itu, pola hubungan guru murid yang tercipta adalah pola hubungan timbal-balik yang menempatkan posisi guru murid sesuai proporsi masing-masing menuju tercapainya tujuan pendidikan yang optimal, yaitu terbentuknya pribadi yang berakhlakul karimah. Kontekstualisasi terhadap hubungan guru dan murid saat sekarang adalah pemahaman terhadap pemikiran Az-Zarnuji yang signifikan yang bernafas pada religious ethics. Dengan mengambil nilai-nilai dan pesan yang terkandung dalam pemikiran Az-Zarnuji tersebut, berarti kita telah menggali dan menghidupkan kembali nilai-nilai etika dalam proses pendidikan dan sekaligus menjadikannya sebagai dasar pembentukan akhlak dan landasan dalam membina hubungan yang harmonis antara guru dengan murid yang berorientasi pada hubungan yang etis-humanis (Baharuddin & Wahyuni, 2. 3 Persyaratan Mencari Ilmu Menurut Syaikh Az-Zarnuji Keenam syarat sukses yang ditulis Syaikh Az-Zarnuji antara lain: 1 Cerdas Cerdas dalam kitab TaAolimul MutaAoalimThariqat al-TaAoalum berarti berarti kecepatan dalam Hal ini adalah kecerdasan akal . Cerdas bisa diartikan sebagai sempurna dalam perkembangan akal dan budi . ntuk berfikir, mengert. Jadi cerdas bukan hanya menguasai banyak informasi tetapi juga mampu mengolah informasi menjadi sesuatu hal yang baru atau teori baru. 2 Rasa Ingin Tahu yang Tinggi Rasa ingin tahu yang tinggi dalam kitab TaAolimul al-MutaAoalim Thariqat al-TaAoalum berarti yang dihasilkan dari kecerdasan. Hal ini diartikan sebagai kemauan keras untuk bisa mengetahui suatu ilmu pengetahuan yang belum diketahui . , sehingga dengan kemauan tersebut akan membuat Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 seseorang menjadi termotivasi untuk bisa menguasai ilmu pengetahuan tersebut dan nantinya akan menjadikan dirimu menjadi giat dan gigih serta ulet dalam menghadapi problem-problem yang ada selama proses belajar. 3 Sabar Menurut (Ahmad, 2. kata shabr maknanya habs, yakni menahan. Maka kata sabar dimaknai Auusaha menahan diri dari hal-hal yang tidak disukai dengan sepenuh kerelaan dan kepasrahanAy. Sabar juga yang mempunyai arti berarti atas rintangannya dan cobaannya. Tahan dalam menghadapi cobaan . idak cepat marah, tidak cepat putus asa dan tidak patah hat. Antara sabar dan syukur ada kriteria seperti keterkaitan antara nikmat dan cobaan. Setiap orang tidak dapat terlepas dari nikmat dan cobaan itu dalam menjalankan kehidupan di dunia 4 Biaya Biaya dalam pendidikan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam menyelenggarakan pendidikan. Hampir tidak ada pendidikan yang dapat mengabaikan peranan biaya, sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa biaya proses pendidikan tidak akan berjalan. Biaya dalam pendidikan memiliki arti jenis pengeluaran yang berkenan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga. Dalam pengertian ini, misalnya, urusan siswa adalah jelas merupakan biaya, tetapi sarana fisik, buku sekolah dan guru juga adalah biaya. Bagaimana biaya-biaya itu direncanankan, diperoleh, dialokasikan dan dikelola merupakan persoalan pembiayaan atau pendanaan 5 Petunjuk Dari Guru Petunjuk dari guru berarti arahan guru atas sisi yang benar. Arahan guru disini adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan, sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya. 6 Waktu yang Lama Waktu yang lama adalah perlu membutuhkan waktu yang lama sehingga menghasilkan atau mendapatkan ilmu karena sesungguhnya dasar-dasarnya ilmu sangat banyak sehingga ilmu tidak bisa didapatkan dalam waktu yang cepat. Waktu yang lama suatu proses agar benar-benar menguasai suatu ilmu maka haruslah mempelajari ilmu tersebut, sebab hal-hal yang berhubungan dengan ilmu tersebut sangat banyak sehingga tidak bisa ditempuh dalam waktu yang sangat singkat (Iqbal, 2. Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji Terhadap Pendidikan Modern Dunia pendidikan Indonesia saat ini bisa digambarkan dengan pola hidup masyarakat Indonesia yang sudah memprihatinkan. Dalam hal ini terdapat dua kelompok. Satu kelompok melihat nilai-nilai lama mulai runtuh sedang nilai-nilai baru belum muncul untuk menggantikan nilai-nilai lama. Sedangkan kelompok kedua melihat nilai-nilai lama itu masuk ke dalam nilai-nilai baru dan membantu Samsul Nizar mengungkapkan bahwa keprihatinan bangsa yang tengah dilanda krisis dalam berbagai aspek kehidupan membuat peran pendidikan khususnya sekolah dipertanyakan (Budijarto, 2. Ini berarti pendidikan belum mampu membentuk manusia ideal yang dapat diandalkan dalam masyarakat. Melihat kondisi nyata yang ada sekarang ini, seperti maraknya tawuran, konsumsi dan pengedar narkoba yang merajalela dan pergaulan bebas, membuat peran pendidikan semakin tersudut. Seakan-akan pendidikan sekolahlah yang bertanggung jawab penuh terhadap berbagai permasalahan yang menyelimuti generasi bangsa dan masyarakat. Fenomena seperti ini digambarkan di atas menunjukkan adanya something wrong dalam praktek pendidikan kita, yaitu kurangnya perhatian pada aspek moral, yang perlu dicarikan pemecahannya. Pesantren sebagai model pendidikan yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah dalam mengambil kebijakan bidang pendidikan, justru sudah membuktikan keberhasilannya dalam mencetak santri yang saleh dan berakhlak mulia. Berbicara tentang pendidikan moral, keberhasilan pesantren merupakan suatu hal yang patut Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati bahwa pesantren telah berhasil mendidik santrinya menjadi orang yang taat beragama dan berakhlak mulia. Pesantren yang menggunakan holistik dalam pendidikannya menjadikan semua aktivitas yang dilaksanakan di dalamnya sebagai suatu kesatuan untuk mengantarkan santri mencapai tujuan yang dicita-citakan. Ditambah lagi, waktu pendidikannya yang 24 jam setiap hari membuat pesantren mempunyai kesempatan untuk membekali lebih banyak kepada santri dari pada sistem konvensional yang rata-rata hanya menggunakan waktu 6-7 jam setiap harinya, disamping kiai dan para ustadzahnya dapat mengontrol kegiatan para santri sepanjang hari. Menyikapi permasalahan di atas, konsep pendidikan yang tertuang dalam kitab TaAolim al-MutaAoallim karya Syaikh Az-Zarnuji, relatif bagus dalam persoalan bimbingan belajar. Hanya saja ketika mempelajari konsep pendidikan Az-Zarnuji dalam kitab TaAolim MutaAoallim harus disertai dengan pemahaman yang dalam. Konsep Pemikiran Pendidikan Menurut Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolimul MutaAoallim (Muhammad Ibnu Faruq Fauz. karena belum tentu apa yang dikonsepsikan oleh Az Zarnuji dapat pula diterapkan pada saat ini. Seperti membaca tulisan pada nisan dapat menyebabkan lupa, menyapu di malam hari dapat menghambat rizki. Hal-hal tersebut sudah tidak bisa lagi diterapkan karena sudah dipandang tidak logis. Kitab Ta'lim al Muta'allim, karya Az-Zarnuji, apabila dilihat dari isi dan materi yang dibahas didalamnya, pada hakekatnya masih relevan dengan dunia pendidikan modern sekarang ini. Hal ini dapat dilihat bahwa komponenAe komponen pendidikan dan pengajaran yang banyak dikemukakan oleh para pakar pendidikan pada abad ini sebenarnya sudah tercakup dalam kitab tersebut, meskipun harus diakui bahwa dari pola urutan pembahasannya masih kurang sistematis. Dalam unsur-unsur pendidikan dalam kitab TaAolimul MutaAoalim evaluasi belum dijelaskan secara eksplisit dan implisit, dalam pengembangan kitab tersebut di pesantren, menurut penulis hanya dengan metode setoran hafalan kepada kyai, ustadz atau ustadzah dan juga pengembangan materi yang dipelajari sehari-hari hanya melalui diperhatikan oleh Kyai, ini dibuktikan pada bab i pada unsur-unsur pendidikan hanya ditemukan sumber yang membahas lima unsur saja. Tetapi di zaman modern ini evaluasi harus ada dan dilaksanakan, karena pendidikan tidak sempurna tanpa adanya evaluasi, dalam unsur-unsur pendidikan satu dengan lainnya mempunyai hubungan timbal balik dan tidak boleh dipisah-pisah. Unsur-unsur pendidikannya yaitu: n Tujuan pendidikan n Anak didik n Pendidik n Interaksi Edukatif n Materi pendidikan n Metode n Alat-alat n Lingkungan. n Evaluasi Sebenarnya bila dikaji lebih lanjut, ada banyak hal-hal yang masih relevan untuk diterapkan meskipun juga ada beberapa pendapat beliau yang sudah tidak relevan lagi. Maka, jika kitab ini dikaji di yang merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam asli yang lahir di nusantara (Ifendi, 2020. , supaya tidak menimbulkan akses yang tidak diinginkan, sebaiknya diajarkan oleh seorang guru yang mempunyai pemahaman mendalam mengenai bimbingan belajar, sehingga ketika mempunyai gagasan yang dianggap kurang relevan dengan zaman sekarang, bisa mengadakan reinterpretasi atau merefleksikan dengan masa Syaikh Az-Zarnuji hidup. Karya besar ini sebenarnya sangat bisa diterapkan ke arah luar pesantren baik itu madrasah atau sekolah-sekolah umum. Karena bisa diketahui dari analisis konsep pendidikan Az-Zarnuji cukup banyak yang masih relevan dan baik untuk diajarkan dan ditanamkan sejak dini. Seperti, menghormati guru, anak didik ditanamkan sejak dini untuk bisa berakhlak baik kepada guru, disiplin dalam belajar, memuliakan ilmu, anak didik bisa diajarkan sejak dini tidak mengotori kitab, meletakkan kitab atau buku ditempat yang tepat, juga kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur. Karena. Mencari ilmu itu harus bersungguh-sungguh dan Karena itu, pendidikan menurut Syaikh az-Zarnuji dalam kitab TaAolimul MutaAoalim ini telah menggali dan menghidupkan kembali nilai-nilai etika dalam proses pendidikan dan sekaligus menjadikannya sebagai dasar pembentukan akhlak dan landasan dalam membina hubungan yang harmonis antara guru dengan murid yang berorientasi pada hubungan yang etis-humanis. Membuat suasana religius dan membiasakan akhlak yang baik dalam setiap kegiatan belajar mengajar untuk melangkah maju menuju cita-cita keseimbangan dunia dan akhirat. KESIMPULAN Dalam pembelajaran hendaknya berniat dan mempunyai tujuan yang jelas, bahwa niat yang benar dalam belajar adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, berusaha memerangi kebodohan pada diri sendiri dan orang lain, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam dan mensyukuri nikmat Allah SWT. Adapun kewajiban menuntut ilmu yang pertama kali harus dilaksanakan adalah memperlajari ilmu tauhid baru kemudian mempelajari ilmu-ilmu lainnya, seperti fiqih, shalat, zakat, haji dan lain sebagainya yang kesemuanya berkaitan dengan tata cara beribadah kepada Allah. Sedangkan pembelajaran mempunyai dua metode. metode yang bersifat etik religi dan metode yang bersifat teknik strategi. Metode bersifat teknik strategis meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman dan langkah-langkah dalam belajar keberhasilan belajar seseorang dalam mencari ilmu kecuali denganenam syarat, keseluruhan syarat-syarat tersebut yaitu. cerdas, rasa ingin tahu yang tinggi, sabar, mempunyai biaya, adanya petunjuk dari seseorang guru dan dalam waktu yang lama. Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 Tujuan pendidikan tampaknya tidak lepas dari tujuan ideal dan tujuan operasional. Tujuan ideal biasanya disesuaikan dengan tujuan hidup manusia. Pendapat ini dilandaskan pada asumsi bahwa pendidikan merupakan bagian dan sarana untuk mencapai tujuan hidup. Pendidikan akhlak yang ditekankan beliau dalam kitab tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yakni akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia dan akhlak kepada ilmu. Sampai disini jelas, bahwa tujuan pendidikan menurut Syaikh az-Zarnuji mengandung 3 makna sekaligus, yaitu membentuk manusia yang mempunyai akhlak mulia kepada Tuhannya, membentuk manusia yang berakhlak mulia terhadap sesamanya dan membentuk manusia yang berilmu yang hanya bertujuan untuk mencari ridha Allah. Dengan kata lain, tujuan pendidikan menurut Az-Zarnuji adalah untuk membentuk manusia yang Uraian Syaikh Az-Zarnuji telah memberikan pemikiran yang baik. Ada tiga pandangan hidup yang bisa ditangkap dari uraian kitab TaAolimul MutaAoalim: 1 Manusia adalah makhluk yang punya potensi keilmuan yang sempurna dengan akal dan hati, yang sekaligus menempatkan manusia sebagai makhluk yang dapat berkembang menuju kehidupan yang lebih baik, memahami dirinya dan yang lainnya. 2 Manusia adalah makhluk yang berinteraksi dengan yang lain dengan aktualisasi keilmuan yang dapat dinikmati orang banyak. Manusia tidak hanya sebagai sosok individu melainkan juga makhluk sosial yang harus berhubungan dengan orang lain. 3 Manusia adalah makhluk yang harus berbakti kepada Tuhannya. Tidak sekedar berbentuk ritual Melainkan harus benar-benar menyadarkan segalanya untuk mencari ridla dan kebaikan di sisi-Nya. Berdasakan keadaan di atas, maka membuat suasana religius dan membiasakan akhlak yang baik dalam setiap kegiatan belajar mengajar merupakan langkah maju menuju cita-cita keseimbangan dunia dan akhirat. Konsep Pemikiran Pendidikan Menurut Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolimul MutaAoallim (Muhammad Ibnu Faruq Fauz. REFERENCES Ahmad. Risalah Akhlak. Era Intermedia. Aliyah. , & Amirudin. Konsep Pendidikan Akhlak dalam Kitab TaAolim MutaAoallim Karangan iImam Az -Zarnuji. Tamaddun: Jurnal Pendidikandan Pemikiran Keagamaan, 21. , 161Ae182. Amin. Kedudukan Akal Dalam Islam. Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam, 3. , 79Ae92. Az-Zarnuji. Terjemah TaAolimul MutaAoallim (Cetakan P. Mutiara Ilmu. Azhar. Kepemimpinan Kepaka Sekolah Efektif (Perspektif Pendidikan Isla. El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1. , 189Ae209. Baharuddin, & Wahyuni. Teori Belajar dan Pembelajaran. Ar-Ruzz Media. Budijarto. Pengaruh Perubahan Sosial Terhadap Nilai-Nilai yang Terkandung Dalam Pancasila. Jurnal Kajian Lemhannas RI. Edisi 34, 1Ae88. Bukhari. Ilmu Pendidikan Islam. Amzah. Ifendi. Masa Pembinaan Pendidikan Islam : Telaah Kritis Pendidikan Rasulullah SAW Pada Periode Makkah. Al-Rabwah: Jurnal Ilmu Pendidikan. XIV. , 58Ae74. Ifendi. Pesantren Dan kepemimpinan Kiai: Studi Kasus Di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik . MUDIR (Jurnal Manajemen Pendidika. , 2(Septembe. , https://ejournal. id/index. php/MPI/issue/view/18 Ifendi. Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Sunan Drajad Banjarwati Lamongan. Al-Tarbawi Al-Haditsah: Jurnal Pendidikan Islam, 6. , https://doi. org/10. 24235/tarbawi. Iqbal. Pemikiran Pendidikan Islam Gagasan-Gagasan Besar Para Ilmuan Muslim. Pustaka