AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 C-ISSN 2528-2697 The Habituation of Religious Activities in Shaping Students' Moral Character at Huda Wan Nur Integrated Islamic Elementary School. Langsa Muhammad Fadly1 1 Universitas KH Abdul Chalim Email: fadlymuhammad111094@gmail. ABSTRACT The development of students' moral character is one of the primary objectives of Islamic education, which is fostered through the habituation of religious activities within the school This study aims to describe the implementation process of religious activity habituation and analyze its impact on the development of students' moral character at Huda Wan Nur Integrated Islamic Elementary School. Langsa. This research employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving the Vice Principal for Student Affairs. Tahfidz teachers, and students as the research participants. The data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, including data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. Data credibility was ensured through prolonged engagement, persistent observation, and triangulation of techniques and data sources. The findings reveal that the habituation of religious activities is systematically implemented through congregational prayers. Qur'an memorization (Tahfid. , morning charity programs, daily prayers, short Islamic sermons. Hadith memorization, basic Islamic jurisprudence (Fiq. learning, and various religious competitions. These activities are conducted routinely, systematically, and supported by teachers' role modeling, contributing significantly to the development of students' moral character, including discipline, responsibility, religiosity, perseverance, empathy, and self-confidence. Furthermore, the positive impact of these habituation programs extends beyond the school environment and is reflected in students' daily behavior within their families. These findings indicate that the habituation of religious activities plays a significant role in strengthening character education in Islamic elementary schools. Keywords: Habituation. Religious Activities. Students' Moral Character. Character Education. Muhammad Fadly Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A Pembiasaan Kegiatan Keagamaan dalam Membentuk Karakter Akhlak Siswa di Sekolah Dasar Islam Terpadu Huda Wan Nur Langsa Muhammad Fadly1 1 Universitas KH Abdul Chalim Email: fadlymuhammad111094@gmail. ABSTRAK Pembentukan akhlak siswa merupakan salah satu tujuan utama pendidikan Islam yang diwujudkan melalui pembiasaan berbagai kegiatan religius di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan pembiasaan kegiatan religius serta menganalisis dampaknya terhadap pembentukan akhlak siswa di SD IT Huda Wan Nur Langsa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri atas Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, guru tahfidz, dan peserta didik. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui ketekunan pengamatan, perpanjangan waktu penelitian, serta triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan kegiatan religius dilaksanakan secara sistematis melalui program shalat berjamaah, tahfidz Al-Qur'an, sedekah pagi, pembacaan doa harian, kultum, hafalan hadis, pembelajaran fikih dasar, dan berbagai lomba keagamaan. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara rutin, terstruktur, dan didukung oleh keteladanan guru sehingga mampu membentuk karakter akhlak siswa, seperti disiplin, tanggung jawab, religiusitas, kerja keras, empati, dan Dampak pembiasaan tersebut tidak hanya terlihat dalam perilaku siswa di lingkungan sekolah, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Temuan ini menegaskan bahwa pembiasaan kegiatan religius berkontribusi signifikan terhadap penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar Islam. Kata Kunci: Pembiasaan. Kegiatan Religius. Akhlak Siswa. Pendidikan Karakter. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses yang sangat fundamental dalam membentuk kualitas sumber daya manusia, baik dari aspek intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual. Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer ilmu pengetahuan . ransfer of knowledg. , tetapi juga sebagai proses pembentukan kepribadian, penanaman nilai, dan pembinaan akhlak . ransfer of value. Tujuan utama AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A pendidikan adalah melahirkan manusia yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), sehingga mampu menjalankan perannya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi (Al-Attas, 1. Dengan demikian, pendidikan memiliki fungsi strategis dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai moral dan religius. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab (Republik Indonesia, 2. Rumusan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan akhlak merupakan tujuan utama yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari terbentuknya karakter dan perilaku peserta didik dalam kehidupan seharihari. Dalam konteks pendidikan Islam, akhlak menjadi inti dari seluruh proses pendidikan. Ibnu Miskawaih menjelaskan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang memiliki karakter mulia melalui pembiasaan terhadap perilaku baik secara terus-menerus sehingga menjadi sifat yang melekat dalam dirinya (Bisri, 2. Pendidikan Islam tidak hanya mempersiapkan peserta didik agar mampu bersaing dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mengarahkan mereka agar memiliki orientasi kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan demikian, pendidikan Islam berfungsi membentuk keseimbangan antara dimensi duniawi dan ukhrawi. AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A Namun demikian, realitas pendidikan dewasa ini menunjukkan bahwa keberhasilan akademik belum sepenuhnya diikuti oleh keberhasilan pembentukan karakter peserta didik. Berbagai fenomena penyimpangan moral masih sering ditemukan di lingkungan sekolah maupun masyarakat, seperti rendahnya sikap disiplin, kurangnya rasa hormat kepada guru dan orang tua, perilaku tidak jujur, tindakan perundungan . , hingga penyalahgunaan media digital yang berdampak negatif terhadap perkembangan karakter anak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter masih menghadapi tantangan yang cukup serius sehingga memerlukan strategi pembinaan yang lebih efektif dan berkelanjutan (Julaeha, 2. Fenomena kemerosotan moral tersebut menjadi perhatian berbagai kalangan, baik akademisi, pemerintah, tokoh agama, maupun masyarakat. Husai et al. menyatakan bahwa krisis moral yang terjadi pada generasi muda merupakan dampak dari melemahnya internalisasi nilainilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan kemajuan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas moral masyarakatnya. Oleh sebab itu, rehabilitasi nilai-nilai etika dan moral menjadi kebutuhan yang sangat mendesak dalam sistem pendidikan Indonesia. Pembentukan akhlak tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus melalui proses pembiasaan yang berlangsung secara terus-menerus sejak usia dini. Masa anak-anak merupakan periode emas . olden ag. yang sangat menentukan perkembangan karakter seseorang pada masa Pada masa ini anak memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam menyerap berbagai pengalaman, baik yang diperoleh dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Zakiah Daradjat . AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A menjelaskan bahwa perkembangan mental dan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang diterima selama masa pertumbuhan. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan teladan serta membiasakan perilaku positif kepada peserta didik. Salah satu pendekatan yang efektif dalam membentuk karakter adalah melalui pembiasaan kegiatan religius. Pembiasaan merupakan metode pendidikan yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga suatu perilaku menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri seseorang. Dalam perspektif pendidikan Islam, pembiasaan ibadah dan perilaku Islami nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, kesabaran, serta kepedulian Nasution . menjelaskan bahwa pendidikan akhlak akan berhasil apabila nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan religius memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan karakter peserta Aktivitas seperti membaca Al-Qur'an, melaksanakan shalat berjamaah, shalat dhuha, menghafal Al-Qur'an, membiasakan salam, berdoa sebelum dan sesudah belajar, serta membangun budaya sopan meningkatkan kualitas perilaku sosial siswa. Pembiasaan tersebut tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Allah . ablum minallA. , tetapi juga memperbaiki hubungan antarsesama manusia . ablum minannA. Selain sekolah, keluarga juga memiliki peranan penting dalam membentuk karakter religius anak. Orang tua merupakan pendidik AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A pertama dan utama yang memberikan contoh perilaku kepada anak sejak usia dini. Bahkan pendidikan telah dimulai sejak anak berada dalam kandungan melalui pembiasaan mendengarkan bacaan Al-Qur'an, memperbanyak doa, dan menjaga lingkungan spiritual keluarga. Roidah . menjelaskan bahwa stimulasi religius sejak masa prenatal hingga usia dini memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan spiritual, emosional, serta kecintaan anak terhadap Al-Qur'an. Oleh sebab itu, sinergi antara keluarga dan sekolah menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan karakter. Dalam implementasinya, sekolah memiliki posisi strategis untuk membangun budaya religius melalui berbagai program yang terintegrasi dalam aktivitas harian peserta didik. Budaya religius di sekolah bukan hanya diwujudkan melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, tetapi juga melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam seluruh aktivitas pendidikan. Lingkungan sekolah yang religius akan menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi perkembangan akhlak peserta didik. Dengan adanya budaya religius yang kuat, peserta didik tidak hanya memahami nilai-nilai agama secara kognitif, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Salah satu lembaga pendidikan yang berupaya mengintegrasikan pembiasaan religius dalam pembentukan akhlak peserta didik adalah SD IT Huda Wan Nur Langsa. Sekolah ini menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan utama dalam seluruh kegiatan pendidikan. Berbagai program religius diterapkan secara sistematis, seperti pembiasaan mengucapkan salam, membaca doa sebelum dan sesudah pembelajaran, shalat dhuha berjamaah, murojaah dan tahfiz Al-Qur'an, pembinaan adab terhadap guru dan teman, serta pembiasaan berbicara santun dalam kehidupan sehari6 AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A Program-program meningkatkan kemampuan keagamaan siswa, tetapi juga membentuk karakter religius yang menjadi fondasi perilaku mereka di masa depan. Keunikan SD IT Huda Wan Nur Langsa terletak pada konsistensinya dalam menjadikan kegiatan religius sebagai budaya sekolah, bukan sekadar program seremonial. Seluruh warga sekolah dilibatkan dalam proses pembiasaan sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang mendukung internalisasi nilai-nilai Islam secara menyeluruh. Melalui pembiasaan yang dilakukan setiap hari, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan sikap disiplin, tanggung jawab, jujur, santun, peduli, serta memiliki kesadaran spiritual yang kuat sebagai bekal menghadapi tantangan perkembangan zaman. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa pembiasaan kegiatan religius merupakan salah satu strategi yang efektif dalam Namun perencanaan program, keteladanan guru, dukungan orang tua, serta budaya sekolah yang dibangun secara berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mampu memberikan gambaran secara komprehensif mengenai implementasi pembiasaan kegiatan religius beserta dampaknya terhadap pembentukan akhlak peserta didik. Atas dasar itulah penelitian ini dilakukan dengan judul Pembiasaan Kegiatan Religius dalam Membentuk Akhlak di SD IT Huda Wan Nur Langsa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam sekaligus menjadi referensi bagi lembaga pendidikan lain dalam membangun budaya religius yang efektif. AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai penerapan pembiasaan kegiatan religius dalam membentuk akhlak peserta didik di SD IT Huda Wan Nur Langsa. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berupaya mengungkap makna, proses, serta pengalaman para informan terhadap pelaksanaan budaya religius di Penelitian memperoleh gambaran yang utuh mengenai fenomena yang diteliti berdasarkan kondisi alamiah tanpa melakukan manipulasi terhadap objek penelitian (Creswell & Poth, 2024. Moleong, 2. Penelitian dilaksanakan di SD IT Huda Wan Nur Langsa. Kota Langsa. Provinsi Aceh. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa sekolah tersebut memiliki program unggulan pembiasaan kegiatan religius yang terintegrasi dalam proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari peserta didik. Program tersebut meliputi pembiasaan mengucapkan salam, membaca doa sebelum dan sesudah pembelajaran, shalat dhuha berjamaah, tadarus dan tahfiz Al-Qur'an, pembiasaan adab kepada guru, serta berbagai aktivitas keagamaan yang menjadi budaya sekolah. Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu memilih informan yang dianggap mengetahui secara mendalam pelaksanaan pembiasaan kegiatan religius di sekolah. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, guru tahfiz, wali kelas, peserta didik, dan beberapa orang tua peserta didik sebagai informan pendukung. Pemilihan informan tersebut bertujuan AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A memperoleh data yang komprehensif mengenai implementasi kegiatan religius serta pengaruhnya terhadap pembentukan akhlak peserta didik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan kegiatan religius dan perilaku peserta didik dalam lingkungan sekolah. Wawancara semi-terstruktur digunakan untuk menggali informasi mengenai strategi pembiasaan religius, proses pembentukan akhlak, faktor pendukung maupun penghambat, serta dampak program terhadap perkembangan karakter siswa. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian melalui analisis dokumen sekolah, seperti profil sekolah, visi dan misi, program kegiatan religius, tata tertib, jadwal pembiasaan, foto kegiatan, serta berbagai arsip yang berkaitan dengan fokus penelitian. Analisis data dilakukan secara interaktif menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldaya, yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih dan mengelompokkan informasi yang relevan dengan fokus penelitian. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk uraian naratif sehingga memudahkan peneliti memahami hubungan antartemuan. Tahap akhir dilakukan melalui penarikan kesimpulan yang terus diverifikasi selama proses penelitian berlangsung agar hasil penelitian memiliki tingkat validitas yang tinggi (Miles et al. , 2. Keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua. Triangulasi teknik dilakukan dengan AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A Selanjutnya, hasil wawancara dikonfirmasikan kembali kepada informan melalui proses member checking untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Penerapan teknik tersebut diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas hasil penelitian. PEMBAHASAN Implementasi Pembiasaan Kegiatan Religius dalam Membentuk Akhlak Siswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan kegiatan religius di SD IT Huda Wan Nur Langsa dilaksanakan secara sistematis melalui integrasi antara proses pembelajaran dan budaya sekolah. Temuan observasi, wawancara, dan dokumentasi memperlihatkan bahwa kegiatan religius tidak hanya diposisikan sebagai rutinitas keagamaan, tetapi menjadi strategi utama dalam membentuk akhlak peserta didik. Program seperti shalat berjamaah, tahfiz Al-Qur'an, sedekah Jumat, kultum, membaca buku Islami, hafalan hadis, pembelajaran fikih, dan lomba keagamaan dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga membentuk kebiasaan positif pada diri siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa sekolah menerapkan prinsip habituation . yang dipadukan dengan keteladanan guru sebagai inti pendidikan karakter. Guru tidak hanya menjelaskan nilai-nilai Islam secara konseptual, tetapi juga memperagakan langsung perilaku yang diharapkan sehingga peserta didik memperoleh pengalaman nyata dalam menginternalisasi nilai tersebut. Model ini sejalan dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona . yang menegaskan bahwa karakter terbentuk melalui tiga komponen utama, yaitu moral knowing. AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A moral feeling, dan moral action. Dengan kata lain, siswa tidak cukup hanya mengetahui nilai kebaikan, tetapi harus dibimbing untuk mencintai dan mempraktikkannya secara konsisten. Selain itu, temuan penelitian memperlihatkan bahwa keberhasilan pembentukan akhlak di SD IT Huda Wan Nur Langsa tidak terlepas dari terciptanya budaya religius . eligious cultur. di lingkungan sekolah. Muhaimin . menjelaskan bahwa budaya religius merupakan kondisi ketika nilai-nilai keagamaan menjadi kebiasaan kolektif yang tercermin Lingkungan memudahkan peserta didik untuk menginternalisasi nilai agama karena mereka tidak hanya memperoleh pembelajaran di kelas, tetapi juga menyaksikan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Shalat Berjamaah sebagai Pembentuk Akhlak Disiplin dan Tanggung Jawab Salah satu program utama yang diterapkan sekolah adalah Berdasarkan hasil observasi, seluruh siswa diarahkan untuk berwudhu, memasuki musala dengan tertib, mengikuti imam, serta menjaga kekhusyukan selama pelaksanaan shalat. Setelah shalat selesai, guru memberikan arahan singkat mengenai makna ibadah, pentingnya menjaga waktu, serta adab sebagai seorang muslim. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari sehingga menjadi rutinitas yang melekat dalam kehidupan Hasil wawancara menunjukkan bahwa guru memandang shalat berjamaah bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi sebagai media pendidikan karakter. Ketepatan waktu dalam mengikuti shalat melatih kedisiplinan, sedangkan keteraturan saf, kepatuhan kepada imam, serta AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A tanggung jawab menjalankan ibadah membentuk sikap disiplin dan sehari-hari. Temuan memperlihatkan bahwa ibadah ritual memiliki implikasi langsung terhadap pembentukan karakter sosial peserta didik. Temuan ini mendukung pandangan Al-Ghazali bahwa akhlak tidak terbentuk melalui nasihat semata, tetapi melalui latihan yang dilakukan secara berulang hingga menjadi karakter yang menetap (Al-Ghazali, 2. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Abdullah Nashih Ulwan . yang menyatakan bahwa pembiasaan merupakan metode pendidikan Islam yang paling efektif dalam menanamkan nilai moral sejak usia dini. Oleh sebab itu, konsistensi pelaksanaan shalat berjamaah di sekolah memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan kedisiplinan siswa. Hasil penelitian ini juga selaras dengan penelitian Munawaroh . yang menemukan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Guru yang ikut melaksanakan shalat berjamaah bersama siswa memberikan contoh konkret sehingga peserta didik belajar melalui proses imitasi. Dengan demikian, keberhasilan pembiasaan shalat berjamaah di SD IT Huda Wan Nur Langsa tidak hanya dipengaruhi oleh adanya aturan sekolah, tetapi juga oleh keteladanan yang ditunjukkan oleh guru secara konsisten. Tahfiz Al-Qur'an sebagai Pembentuk Karakter Religius dan Kerja Keras Program tahfiz Al-Qur'an merupakan kegiatan unggulan yang dilaksanakan setiap pagi setelah shalat berjamaah. Berdasarkan hasil penelitian, siswa mengikuti proses hafalan menggunakan metode talaqqi, muraja'ah, dan evaluasi hafalan secara bertahap sesuai tingkat kemampuan AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A masing-masing. Guru tahfiz tidak hanya memperbaiki bacaan siswa, tetapi juga memberikan motivasi spiritual agar mereka mencintai Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Hasil observasi menunjukkan bahwa kegiatan tahfiz melatih siswa untuk tekun, sabar, dan konsisten dalam mencapai target hafalan. Siswa terbiasa mengulang hafalan setiap hari sehingga terbentuk sikap pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan. Selain meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an, kegiatan ini juga memperkuat karakter religius karena siswa berinteraksi langsung dengan kalam Allah secara rutin. Temuan tersebut sejalan dengan pendapat Al-Attas . yang menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang beradab . nsan adab. , yaitu individu yang memiliki keseimbangan antara ilmu, iman, dan akhlak. Dalam konteks ini, tahfiz bukan hanya aktivitas menghafal, melainkan proses internalisasi nilai-nilai Al-Qur'an ke dalam perilaku sehari-hari. Hasil penelitian juga memperkuat temuan Hidayat . yang menyimpulkan bahwa pembelajaran tahfiz secara rutin mampu meningkatkan kedisiplinan, kesabaran, serta tanggung jawab peserta didik. Dengan demikian, pembiasaan tahfiz Al-Qur'an di SD IT Huda Wan Nur Langsa memberikan dampak yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga spiritual dan moral. Siswa tidak hanya berkembang dalam kemampuan menghafal, tetapi juga menunjukkan peningkatan karakter religius, ketekunan, dan etos kerja yang tinggi. Hal tersebut membuktikan bahwa integrasi antara pembelajaran Al-Qur'an dan pembiasaan religius menjadi strategi efektif dalam membentuk akhlak peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A Sedekah sebagai Pembentuk Akhlak Empati dan Tanggung Jawab Sosial Hasil penelitian menunjukkan bahwa program sedekah yang dilaksanakan setiap hari Jumat melalui kegiatan Jumat Berkah telah menjadi salah satu media efektif dalam menanamkan nilai kepedulian sosial kepada peserta didik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, siswa dibiasakan membawa sebagian rezekinya untuk disedekahkan secara Dana yang terkumpul kemudian disalurkan kepada fakir miskin. Sebelum pelaksanaan sedekah, guru memberikan penjelasan mengenai keutamaan berbagi melalui kisah-kisah Rasulullah SAW dan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan sedekah. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya melakukan aktivitas berbagi, tetapi juga memahami nilai spiritual yang Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan empati berlangsung melalui pengalaman langsung . xperiential learnin. Peserta didik tidak sekadar memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya membantu sesama, tetapi dibimbing untuk mempraktikkannya secara Pendekatan ini sesuai dengan teori pembelajaran pengalaman yang dikemukakan Kolb . , yang menyatakan bahwa pengalaman langsung merupakan sarana efektif dalam membangun sikap dan nilai. Dalam perspektif pendidikan Islam, pembiasaan sedekah juga menjadi sarana penyucian jiwa sekaligus membentuk akhlak dermawan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial. Zakiah Daradjat . menjelaskan bahwa pendidikan agama yang berhasil akan melahirkan individu yang memiliki sensitivitas terhadap penderitaan orang lain serta terdorong membantu dengan penuh keikhlasan. Oleh karena itu, program sedekah di SD IT Huda AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A Wan Nur Langsa telah memperlihatkan fungsi pendidikan Islam sebagai media pembentukan akhlak sosial yang aplikatif. Ceramah Agama sebagai Sarana Menumbuhkan Keberanian Moral Program ceramah agama atau kultum yang dilaksanakan secara bergiliran juga memberikan kontribusi penting terhadap pembentukan karakter peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap siswa memperoleh kesempatan menyampaikan materi keagamaan yang telah bersama guru pembimbing. Sebelum tampil, siswa memperoleh bimbingan mengenai teknik berbicara, penyusunan materi, serta etika berdakwah sehingga mereka memiliki kesiapan mental ketika tampil di depan teman-temannya. Pembiasaan tersebut terbukti meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat di depan umum. Lebih jauh lagi, kegiatan kultum membentuk keberanian moral . oral courag. , yaitu keberanian menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun dan bertanggung jawab. Temuan ini selaras dengan teori Lickona . yang menempatkan keberanian sebagai salah satu unsur penting dalam moral Pendidikan karakter tidak hanya menghasilkan individu yang mengetahui nilai kebaikan, tetapi juga memiliki keberanian untuk Dalam pendidikan Islam, aktivitas dakwah sejak usia dini menjadi bagian dari pembentukan kepribadian muslim yang memiliki tanggung jawab amar ma'ruf nahi munkar sesuai kemampuan masing-masing. Oleh karena itu, kegiatan kultum di sekolah tidak hanya meningkatkan keterampilan komunikasi, tetapi juga memperkuat identitas religius peserta didik. AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A Membaca Buku Islami. Doa Harian, dan Hafalan Hadis dalam Pembentukan Karakter Religius Program literasi Islami yang diterapkan di SD IT Huda Wan Nur Langsa memperlihatkan bahwa pembiasaan membaca kisah nabi, sahabat, dan buku-buku akhlak mampu memperkaya wawasan keislaman sekaligus membentuk kesadaran moral siswa. Berdasarkan hasil observasi, kegiatan membaca dilaksanakan sebelum pembelajaran dimulai dan diikuti dengan refleksi singkat mengenai pesan moral yang diperoleh dari bacaan tersebut. Guru berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman nyata yang dihadapi peserta didik dalam kehidupan seharihari. Temuan ini menunjukkan bahwa literasi religius tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga menjadi media internalisasi nilai-nilai akhlak. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Ibnu Sina yang menempatkan kisah-kisah teladan sebagai salah satu metode efektif dalam pendidikan anak karena mampu menyentuh aspek afektif sekaligus kognitif. Di sisi lain, pembiasaan doa harian dan hafalan hadis semakin memperkuat dimensi spiritual peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa tidak hanya menghafal lafaz doa dan hadis, tetapi juga diberikan penjelasan mengenai makna serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut menjadikan hafalan tidak berhenti pada aspek verbal, melainkan berkembang menjadi perilaku Dalam perspektif Al-Ghazali . , pengulangan zikir, doa, dan nasihat agama secara terus-menerus akan membersihkan hati sehingga melahirkan akhlak yang baik. Hasil penelitian ini mendukung pandangan AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A tersebut karena siswa yang terbiasa membaca doa dan menghafal hadis menunjukkan sikap lebih santun, rendah hati, bertanggung jawab, serta memiliki kesadaran spiritual yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian, integrasi antara literasi Islami, doa harian, dan hafalan hadis telah menjadi strategi efektif dalam membentuk karakter religius peserta didik secara menyeluruh. Pembelajaran Fikih dan Lomba Keagamaan sebagai Penguatan Akhlak Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa pembelajaran fikih dilaksanakan melalui pendekatan demonstrasi dan praktik langsung. Guru tidak hanya menjelaskan konsep bersuci, shalat, maupun adab sehari-hari, tetapi mengajak siswa mempraktikkannya secara langsung sehingga setiap materi dapat dipahami sekaligus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran ini membuat peserta didik lebih mudah memahami hubungan antara ilmu fikih dan perilaku nyata sebagai seorang muslim. Selain menyelenggarakan berbagai lomba keagamaan, seperti lomba tahfiz, adzan, pidato Islami, kaligrafi, dan cerdas cermat agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada prestasi, tetapi diarahkan untuk membangun semangat fastabiqul khairat atau berlomba dalam kebaikan. Guru menanamkan pemahaman bahwa kemenangan bukan tujuan utama, melainkan kesungguhan dalam berusaha, kejujuran, sportivitas, dan kemampuan menghargai keberhasilan orang lain. Pendekatan ini membentuk karakter kerja keras, tanggung jawab, serta sikap rendah hati pada peserta didik. Temuan tersebut mendukung pendapat Muslich . yang menyatakan bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif apabila peserta AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A didik memperoleh ruang untuk mempraktikkan nilai-nilai moral dalam berbagai aktivitas nyata. Kompetisi yang dikemas secara edukatif mampu membangun motivasi intrinsik sekaligus mengembangkan keterampilan sosial peserta didik tanpa menghilangkan nilai-nilai persaudaraan. Oleh karena itu, pembelajaran fikih dan lomba keagamaan di SD IT Huda Wan Nur Langsa telah menjadi instrumen penting dalam memperkuat integrasi antara pengetahuan agama dan pembentukan karakter. Secara pembiasaan kegiatan religius di SD IT Huda Wan Nur Langsa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan akhlak peserta didik. Program-program religius yang dilaksanakan secara terencana, konsisten, dan didukung oleh keteladanan guru mampu membentuk karakter disiplin, religius, tanggung jawab, kerja keras, empati, keberanian, serta kepedulian sosial. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pendidikan karakter berbasis Islam akan berjalan lebih efektif apabila nilai-nilai agama tidak hanya diajarkan melalui pembelajaran formal, tetapi diinternalisasikan melalui budaya sekolah dan pembiasaan yang berlangsung secara terus-menerus. Dengan demikian, keberhasilan SD IT Huda Wan Nur Langsa menunjukkan bahwa pembiasaan religius merupakan strategi pendidikan yang relevan dalam menjawab tantangan degradasi moral peserta didik sekaligus mendukung tercapainya tujuan pendidikan Islam, yaitu membentuk insan yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. PENUTUP AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A Penelitian ini menunjukkan bahwa pembiasaan kegiatan religius di SD IT Huda Wan Nur Langsa merupakan strategi yang efektif dalam membentuk akhlak peserta didik. Program religius dilaksanakan secara terencana, berkelanjutan, dan terintegrasi dalam budaya sekolah melalui berbagai kegiatan, seperti shalat berjamaah, tahfiz Al-Qur'an, sedekah Jumat, ceramah agama, membaca buku Islami, hafalan doa dan hadis, pembelajaran fikih, serta lomba keagamaan. Seluruh kegiatan tersebut didukung oleh metode pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan guru sehingga nilai-nilai keislaman tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kegiatan religius Pembiasaan shalat berjamaah membentuk sikap disiplin dan tanggung jawab, tahfiz Al-Qur'an menumbuhkan karakter religius, kerja keras, dan ketekunan, sedekah melatih empati serta kepedulian sosial, sedangkan ceramah agama meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri. Sementara itu, pembiasaan membaca buku Islami, doa harian, dan hafalan hadis pembelajaran fikih dan lomba keagamaan mengembangkan tanggung jawab, sportivitas, serta semangat berlomba dalam kebaikan . astabiqul Temuan penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan akhlak akan lebih efektif apabila dilakukan melalui pembiasaan yang konsisten, lingkungan sekolah yang religius, serta keteladanan guru. Dengan demikian, pembiasaan kegiatan religius di SD IT Huda Wan Nur Langsa telah menjadi model pendidikan karakter berbasis Islam yang mampu AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli-Desember dan Tahun 2026 E-ISSN 2723-4452 Muhammad Fadly. Pembiasaan. Karakter Akhlak Siswa A mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar SD IT Huda Wan Nur Langsa terus mempertahankan dan mengembangkan program pembiasaan religius melalui inovasi kegiatan yang relevan dengan perkembangan peserta didik. Guru diharapkan terus meningkatkan keteladanan dan melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan karakter siswa. Orang tua juga perlu memperkuat sinergi dengan sekolah melalui pembiasaan nilai-nilai religius di lingkungan keluarga sehingga proses pembentukan akhlak berlangsung secara berkesinambungan. Selain itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan kajian mengenai pembiasaan kegiatan religius pada jenjang pendidikan yang berbeda atau menggunakan pendekatan kuantitatif maupun mixed methods untuk mengukur pengaruh pembiasaan religius terhadap pembentukan karakter peserta didik secara lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA