JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1892 - 1901 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Pemerolehan Bahasa Ragam Kata Sapaan Kekerabatan pada Anak Usia 4 Tahun dan Penggunaannya pada Tataran Sintaksis Huriyah Padhilah Anasti Sastra Indonesia. Universitas Jambi. Indonesia E-mail: huriyahpadhilahanasti@unja. Abstrak Berbagai penelitian mengenai bagaimana anak usia dini memperoleh akuisisi bahasa pertamanya telah banyak dikaji, namun penelitian mengenai pemerolehan kata sapaan kekerabatan oleh anak usia 4 tahun belum pernah dilakukan padahal kata sapaan merupakan hal penting pada aspek kehidupan sehari-hari dengan tujuan membangun komunikasi dan mematuhi prinsip kesantunan berbahasa. Tujuan penelitian ini berupa mendeskripsikan kata sapaan kekerabatan yang diperoleh anak usia 4 tahun dan bagaimana penggunaannya pada tataran sintaksis. Penelitian ini memberikan suatu kajian baru dalam pemerolehan bahasa anak, yaitu melihat bagaimana anak usia 4 tahun memperoleh dan menggunakan kata sapaan kekerabatan dalam berbagai kalimat. Metode deskriptif kualitatif dan teknik simak dan cakap merupakan bagian penting yang digunakan dalam metodologi penelitian ini. Hasil yang diperoleh yaitu anak usia 4 tahun telah menguasai beberapa kata sapaan kekerabatan baik dalam bentuk bahasa ibu yaitu bahasa daerah maupun juga bahasa Indonesia. Kata sapaan tersebut juga digunakan dalam berbagai bentuk kalimat. Analisis data yang telah dilakukan memperoleh simpulan bahwa kata sapaan yang digunakan oleh anak telah mengalami pergeseran dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu peran keluarga dan lingkungan sosial sangat penting. Penggunaan kata sapaan yang tepat juga menunjukkan bahwa anak telah memahami kesantunan berbahasa sedari ia memperoleh bahasa pertamanya. Kata Kunci: Pemerolehan bahasa, kata sapaan kekerabatan, anak usia 4 tahun, sintaksis. Abstract Various studies on how young children acquire their first language have been widely studied, but research on the acquisition of kinship greetings by 4-year-old children has never been conducted, even though greetings are important in everyday life, with the aim of building communication and complying with the principles of politeness. The purpose of this study is to describe the kinship greetings acquired by 4-year-old children and how they are used at the syntactic This study provides a new study in children's language acquisition, namely looking at how 4-year-old children acquire and use kinship greetings in various sentences. Qualitative descriptive methods and listening and speaking techniques are important parts used in this research methodology. The results obtained are that 4-year-old children have mastered several kinship greetings in both their mother tongue, namely regional languages, and also Indonesian. These greetings are also used in various sentence forms. Data analysis has concluded that the greetings used by children have shifted from regional languages to Indonesian. In addition, the role of family and social environment is very important. The use of appropriate greetings also shows that the child has understood polite language since he acquired his first Keywords: Language acquisition, kinship greetings, 4-year-old children, syntax. Copyright . 2025 Huriyah Padhilah Anasti A Corresponding author : Email : huriyahpadhilahanasti@unja. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 5 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Pemerolehan Bahasa Ragam Kata Sapaan Kekerabatan pada Anak Usia 4 Tahun dan Penggunaannya pada Tataran Sintaksis Ae Huriyah Padhilah Anasti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Manusia menggunakan bahasa baik berupa verbal maupun nonverbal dalam berinteraksi dalam seharihari. Sebelum bisa menggunakan bahasa secara lancar, setiap individu mengalami proses pemerolehan bahasa yang berlangsung sedari lahir. Proses tersebut berlangsung secara alami di alam bawah sadar yang dimulai dari mendengarkan dan menangkap bunyi, proses kemudian berlanjut mengenali simbol-simbol bunyi tersebut dari lingkungannya. Bunyi ujaran dan ragam bahasa yang diperoleh selanjutnya dikembangkan dan digunakan oleh anak sesuai dengan perkembangannya sebagai sistem berkomunikasi (Novitri & Setiawan, 2. Setiap individu memiliki bawaan sistem bahasa dari lahir. Manusia memiliki suatu sistem kejiwaan manusia yang disebut dengan Languange Acquistion Device (LAD) mengurus tentang bagaimana proses seseorang memperoleh bahasanya (Hasanah, 2. Faktor lingkungan juga menjadi pengaruh bagaimana pemerolehan dan perkembangan bahasa anak berlangsung. Lingkungan yang berbeda seperti lingkungan sosial pada setiap anak mempengaruhi perkembangan bahasa pertamanya (Qalbi & Nuryani, 2. Salah satu kompetensi yang harus dikuasai anak dalam pemerolehan bahasa adalah kosakata. Hal ini disebabkan kosa kata merupakan dasar bagi anak untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan (Suprihatien et al. , 2. Salah satu bentuk/ragam kata yang harus dan penting untuk dikuasai oleh anak adalah kata sapaan. Kasus ini terlihat pada saat anak memulai memproduksi ujaran seperti Ma . atau Pa . Menurut Chaer . kata sapaan marupakan kata yang dimanfaatkan untuk menyapa, atau menegur, dan juga dimungkinkan untuk menyebut orang kedua, atau memungkinkan pula orang yang kita ajak bicara sebagai lawan tutur dalam suatu kegiatan komunikasi. Ada berbagai jenis kata sapaan oleh Kridalaksana . yang dibagi menjadi 7 jenis kata sapaan yang salah satunya berupa kata sapaan kekerabatan. Dalam proses pemerolehan bahasanya, anak sudah dibiasakan untuk mentaati norma kesantunan salah satunya dengan menggunakan kata sapaan. Hal ini menjadikan kata sapaan dalam bentuk kekerabatan menjadi kata sapaan yang lebih sering digunakan oleh anak dalam interaksinya dibandingkan dengan jenis kata sapaan Kekerabatan itu sendiri adalah suatu hubungan sosial yang terjadi disebabkan oleh adanya keturunan dan perkawinan (Mahmud et al. , 2. Fase sintaktik pada anak berlangsung pada usia 2-7 tahun dengan ditunjukkannya perilaku kesadaran akan struktur gramatis dan berbicara dengan memperhatikan dan menggunakan kalimat (Tartila, 2. Hal ini memberikan peluang untuk anak usia 4 tahun menggunakan kata sapaan kekerabatan secara aktif dalam berkomunikasi pada tataran sintaksis. Brookes (Qalbi & Nuryani, 2. menyatakan bahwa pemerolehan bahasa anak dimulai dari usia 18 bulan dan menuju ke tingkatan hampir sempurna pada usia 4 tahun. Berdasarkan penjabaran diatas peneliti ingin melakukan suatu kajian berupa penelitian terhadap pemerolehan bahasa ragam kata sapaan pada anak usia 4 tahun. Pemilihan usia anak 4 tahun dikarenakan pada usia ini kalimat yang diucapkan anak sudah kompleks, ujaran anak sudah jelas dan dapat dipahami dengan Beberapa penelitian terdahulu telah dilakukan mengenai pemerolehan bahasa yang dikaji pada anak usia 4 tahun. Mieske . memaparkan tentang mengelompokkan kata pada usia 4 tahun. Pada masa tersebut anak telah mampu mengkategorikan kata yang dilakukan berdasarkan atas makna yang terapat di dalamnya dan telah mampu mengelompokkan kata-kata berdasarkan pada hiererki bahasa tersebut. Namun objek pada penelitian tersebut pada usia 4 tahun belum mampu memberikan suatu perbedaan antara makna dua kata berupa kata itik dan bebek. Tartila . menemukan bahwa gawai memberikan pengaruh kepada bahasa Objek penelitian melakukan peniruan terhadap bahasa-bahasa atau kalimat-kalimat yang ditemukannya pada gawai. Namun sangat disayangkan bahwa peneliti juga menemukan bahwa terdapat dampak negatif terhadap kebebasan pengguanan gawai. Selain dapat membentu dalam pemerolehan bahasa anak 4 tahun, gawai juga memiliki dampak negatif berupa kecanduan, radiasi, proses belajar yang rendah, dan yang paling buruk adalah anak dapat meniru hal yang belum sewajarnya. Endah et al. memperlihatkan bahwa Jurnal Basicedu Vol 9 No 5 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Pemerolehan Bahasa Ragam Kata Sapaan Kekerabatan pada Anak Usia 4 Tahun dan Penggunaannya pada Tataran Sintaksis Ae Huriyah Padhilah Anasti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. pemerolehan bahasa pertama yang terjadi pada anak usia 2-4 tahun yaitu pada tataran morfologi, anak sudah mampu menggunakan kata dengan morfem bebas. Sedangkan pada tataran sintaksis, anak tenyata telah mampu mengucapkan kata-kata yang kemudian mampu disatukan menjadi satu kalimat. Selain itu anak usia 2-4 tahun yang menjadi objek penelitian tersebut memiliki bunyi vokal dan konsonan yang mulai sempurna. Qalbi & Nuryani . dengan hasil penelitian yang diperoleh yaitu anak selaku objek penelitian telah mampu menjawab 13 pertanyaan yang diajukan dengan menggunakan variasi bentuk kalimat berita, atau pun kalimat tanya, dan juga kalimat suruh untuk merespon kartun yang ia sukai. Penelitian terdahulu telah banyak membahas mengenai pemerolehan bahasa anak usia 4 tahun namun belum menyinggung mengenai bagaimana kata sapaan diperoleh dan digunakan oleh anak. Pada penelitian ini peneliti ingin mengkaji bagaimana anak usia 4 tahun memperoleh dan menggunakan kata sapaan khususnya kekerabatan pada tataran sintaksis dengan beberapa pertimbangan. Pertama, kata sapaan adalah hal yang penting dalam komunikasi. Kata sapaan adalah hal penting dalam aspek kehidupan sehari-hari dalam membangun komunikasi baik membuka maupun menutup suatu interaksi. Penelitian tentang kata sapaan kekerabatan pada anak usia 4 tahun serta penggunaannya dalam tataran sintaksis adalah penting untuk dilakukan dan akan memberikan kebaruan dalam dunia penelitian dan pengkajian bahasa dan pemerolehannya (Marnita, 2. Kedua, kata sapaan merupakan indikator kesopanan dalam komunikasi terutama pada ranah Bahkan pada sekarang ini di lingkungan akademik kata sapaan merupakan hal yang penting sebagai indikator utama kesantunan berbahasa (Mahas et al. , 2. Ketiga, kata sapaan merupakan bagian penting dalam bentuk menghormati lawan bicara. Tidak hanya itu, kata sapaan juga menjadi indikator perilaku menghormati dan menghargai melalui bahasa positif yang digunakan yaitu sapaan yang tepat dan sesuai (Abror & Sukmawati, 2. Oleh karena penelitian mengenai pemerolehan kata sapaan anak usia 4 tahun pada tataran sintaksis penting dan mendesak untuk dilakukan mengingat bahwa hal tersebut akan berdampak pada komunikasi anak di lingkungan selanjutnya, baik di sosial, lingkungan masyarakat, maupun dunia pendidikan kedepannya. Pada penelitian ini terdapat kebaruan/novelty yaitu dikhususkan pada pemerolehan bahasa ragam kata sapaan kekerabatan pada anak usia 4 tahun serta penggunaannya dalam tataran sintaksis yang belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. METODE Jenis metode deskriptif kualitatif digunakan sebagai dasar dalam penelitian ini. Hasil penelitian dijelaskan dan dipaparkan dalam bentuk kalimat atau kata, dalam artian peneliti mendeskripsikan fenomena yang terjadi secara alami dengan teknik simak dan cakap. Sumber data dalam penelitian ini yaitu bahasa yang dihasilkan pada ragam kata sapaan oleh anak usia 4 tahun studi kasus pada KHAG dan bagaimana kata tersebut digunakan dalam tataran sintaksis. Teknik dasar yang digunakan yaitu menyadap kata sapaan yang diproduksi oleh anak usia 4 tahun selaku objek penelitian. Data yang diperoleh divalidasi dengan menggunakan teknik triangulasi waktu dan teori. Data diambil pada waktu yang berbeda-beda. Data yang telah diperoleh berdasarkan pengamatan studi kasus kemudian dianalisis dengan membandingkan menggunakan teori. Adapun tujuan dalam penelitian ini mendeskripsikan kata sapaan kekerabatan yang diperoleh oleh anak usia 4 tahun yaitu studi kasus pada KHAG sebagai subjek penelitian dan bagaimana kata sapaan tersebut digunakan pada tataran sintaksis. Prosedur etis yang diterapkan dalam penelitian ini agar menjamin perlindungan terutama anak usia 4 tahun adalah dengan peneliti menjamin tidak adanya ketidak nyamanan fisik dan mental anak, serta melindungi anak dari bahaya yang timbul akibat penelitian yang dilakukan dengan tidak menyebutkan nama subjek penelitian dan hanya memberi inisial. Jurnal Basicedu Vol 9 No 5 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Pemerolehan Bahasa Ragam Kata Sapaan Kekerabatan pada Anak Usia 4 Tahun dan Penggunaannya pada Tataran Sintaksis Ae Huriyah Padhilah Anasti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil yang ditemukan bahwa objek penelitian berupa anak usia 4 tahun dengan studi kasus KHAG telah menguasai beberapa kata sapaan kekerabatan dengan baik meskipun tidak seluruh kata sapaan dikuasai. Anak hanya menguasai kata sapaan terkait orang-orang yang sering ia temui di lingkungannya berupa keluarga Kata sapaan kekerabatan tersebut digunakan dalam berbagai kalimat pada tataran sintaksis. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga berperan penting dan dominan dalam proses pemerolehan bahasa pada anak. Keluarga yang disertai dengan stimulasi bahasa yang baik memberikan pengaruh terhadap pemerolehan bahasa anak (Balqis et al. , 2. Salah satu pengaruhnya adalah dalam penyusunan variasi kalimat tataran sintaksis anak (Aini & Sari, 2. Meskipun kata kekerabatan yang ditemukan hanya pada keluarga dekat, objek penelitian telah mampu menggunakan kata tersebut pada tataran sintaksis. Kata-kata tersebut telah digunakan pada jenis kalimat deklaratif, imperatif, dan interogatif. Selain itu objek penelitian telah mampu menempatkan kata sapaan sesuai dengan kekerabatannya masing-masing, meskipun terdapat hubungan kekerabatan yang sama dengan kata sapaan yang berbeda hal ini bukanlah suatu masalah. Seperti halnya kata tante dan itek yang keduanya dapat sama-sama memiliki bentuk hubungan kekerabatan berupa saudara perempuan dari ayah atau ibu. Namun penggunaan kata tante dan itek telah mampu digunakan pada objeknya masing-masing. Hal ini menandakan bahwa anak usia 4 tahun telah benar-benar memperoleh ragam kata sapaan kekerabatan dan mampu menggunakannya pada tataran sintaksis dalam beragam bentuk kalimat. Hasil penelitian ini dan pendapat oleh Harsanti . sejalan menyatakan bahwa anak usia 2-4 tahun sudah mengenal pola dialog dan memahami giliran berbicara. Adapun kata sapaan kekerabatan yang diperoleh oleh KHAG adalah kata mama, papa, ninek, datuk, abang, ayuk, kakak, mamok, ante, itek, mak, ayah, pak wo, mak wo, dan ncu. Data hasil temuan dipaparkan dalam tabel 1. Tabel 1. Kata Sapaan Kekerabatan dan Bentuk Hubungannya Kata Sapaan Bentuk Hubungan Kekerabatan Kekerabatan Ninek Orang tua kandung perempuan dari ibu atau ayah Datuk Orang tua kandung laki-laki dari ibu atau ayah Mama Orang tua kandung perempuan/ibu kandung Papa Orang tua kandung laki-laki kandung/ayah kandung Ayah Saudara laki-laki dari pihak ibu Mak Saudara ipar perempuan dari pihak ibu Itek Saudara perempuan dari ibu atau ayah Mamok Saudara laki-laki dari pihak ibu atau pihak ayah Ante Saudara perempuan dari pihak ibu Pak Wo Saudara ipar laki-laki tertua dari ayah Mak Wo Saudara perempuan tertua dari ayah Ayuk Saudara perempuan kandung Kakak Saudara perempuan sepupu Abang Saudara laki-laki kandung atau sepupu Ncu Saudara sepupu perempuan yang terakhir atau paling kecil dari ibu Kata-kata yang telah disajikan pada tabel 1 telah digunakan KHAG pada berbagai jenis kalimat pada tataran sintaksis. Kalimat deklaratif Kalimat deklaratif ditujukan untuk menyampaikan sesuatu kepada lawan tutur/lawan bicara, dapat berupa kalimat positif maupun negatif, pasif maupun aktif (Manshur & Nisa, 2. Ninek, akau samo nuhuk Ninek kudek. Jurnal Basicedu Vol 9 No 5 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Pemerolehan Bahasa Ragam Kata Sapaan Kekerabatan pada Anak Usia 4 Tahun dan Penggunaannya pada Tataran Sintaksis Ae Huriyah Padhilah Anasti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. (Nenek, aku ikut nenek ke pasar. Data . merupakan kalimat yang menyampaikan berkenaan dengan keinginan penutur. Penutur menyampaikan bahwa ia ingin mengikuti neneknya ke pasar. Kalimat berbentuk kalimat positif aktif. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata ninek. Itek, akau adea gea naheu boneka sarupo Nana. (Itek, aku juga punya boneka seperti Nana. Data . merupakan kalimat deklaratif yang menyampaikan fakta sesuai di lapangan. Fakta yang disampaikan oleh penutur yaitu bahwa ia memiliki boneka yang sama dengan orang lain yang dimaksudkan. Kalimat berbentuk positif aktif. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata itek. Akau usek buto tadih. Mamok dakdea samo. (Aku jalan-jalan naik mobil tadi, mamok tidak ikut. Data . merupakan kalimat deklaratif yang berbentuk kalimat majemuk yang menyampaikan fakta berdasarkan pengalaman penutur. Fakta yang disampaikan adalah penutur melakukan perjalanan menggunakan mobil, sedangkan mamok . penutur tidak ikut dalam perjalanan tersebut. Induk kalimat berbentuk positif aktif, sedangkan anak kalimat berbentuk negatif karena disertai dengan kata Autidak/dakdeaAy. Kalimat negatif atau disebut juga negasi merupakan kalimat yang di dalamnya terdapat ingkar, dapat berupa penggunaan kata AutidakAy atau dalam bahasa inggris dikatakan AunotAy (Syafar, 2. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata mamok. Ntak isak akau ngaji ma Mak Wo. (Besok saya ikut pengajian di rumah Mak Wo. Data . merupakan kalimat deklaratif yang menyampaikan niat penutur. Kalimat yang disampaikan bermakna bahwa penutur memiliki niat untuk mengikuti pengajian di suatu tempat. Kalimat yang dibentuk berupa positif aktif. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata mak . Akau sayang Kakak. Kakak mbeuh usek pik akau. (Aku sayang Kakak, kakak mau main sama aku. Data . merupakan kalimat deklaratif yang menyatakan suatu perasaan penutur dan alasan hal tersebut Kalimat dibentuk dalam susunan majemuk, induk kalimat bermakna perasaan sayang penutur dan anak kalimat bermakna alasan rasa sayang itu terjadi. Penutur membentuk kalimat dengan positif aktif. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata kakak. Akau sayang Abang gea. Abang dakji nyuh ngaheu akau sarupo Ayuk. (Aku sayang Abang juga, abang tidak pernah ganggu aku seperti Ayuk. Data . hampir sama dengan data . dalam bentuk dan makna kalimat, yaitu deklaratif aktif yang bermakna menyampaikan perasaan penutur dan alasannya. Hal yang membedakan antara data . hanya terletak pada objek/orang yang dibicarakan. Kemudian, pada data . anak kalimat merupakan kalimat negasi dengan penggunaan kata AutidakAy. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata abang dan ayuk. Ncu imut nye. Lucu. Nik nye Ncu. (Ncu imut sekali. Lucu. Kecil sekali Ncu. Data . merupakan kalimat deklaratif yang menyatakan pendapat penutur tentang suatu hal. Kalimat tersebut bermakna penutur memberikan penilaian/pendapat terhadap orang yang disebut ncu bahwa objek tersebut bersifat imut, lucu dan kecil. Kalimat yang dibentuk berupa positif aktif. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata ncu. Jurnal Basicedu Vol 9 No 5 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Pemerolehan Bahasa Ragam Kata Sapaan Kekerabatan pada Anak Usia 4 Tahun dan Penggunaannya pada Tataran Sintaksis Ae Huriyah Padhilah Anasti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa anak usia 4 tahun telah mampu menghasilkan kalimat berupa deklaratif pada tataran sintaksis. Anak pada usia 4 tahun anak telah memperolah kalimat-kalimat dasar seperti kalimat deklaratif berupa berita (Salamah et al. , 2. Kalimat Imperatif Kalimat imperatif mengharapkan terjadi suatu reaksi tindakan atau perbuatan oleh lawan bicara/lawan tutur (Lestari et al. , 2. Kata sapaan kekerabatan yang digunakan pada kalimat imperatif adalah sebagai . Mak dudeuk iniuk Mama! (Jangan duduk di situ Mama!) Data . merupakan kalimat imperatif dengan bentuk larangan. Penutur melarang lawan tutur untuk tidak melakukan suatu kegiatan. Larangan yang disampaikan penutur berupa larangan untuk tidak duduk di tempat tertentu. Kalimat larangan termasuk ke dalam suatu kalimat perintah, yaitu perintah untuk tidak melakukan sesuatu atau melarang melakukan sesuatu (Thamimi & Wiranty, 2. Kalimat larangan merupakan jenis kalimat perintah yang memiliki struktur berbeda dengan kalimat perintah biasa atau kalimat lainnya (Nurhadi, 2. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata . Ayah, mak nguduk! Asak. (Ayah, jangan merokok! Asa. Data . merupakan kalimat imperatif dengan bentuk larangan. Penutur melarang lawan tutur untuk tidak melakukan suatu kegiatan dan juga menyertakan alasannya. Larangan yang disampaikan berupa larangan untuk tidak merokok dan alasannya karena menyebabkan asap. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata ayah. Mak usek pik Ante! Ante mbeuh nyuh mengui akau. (Jangan main sama Ante! Ante suka marahi ak. Data . merupakan kalimat imperatif dengan bentuk larangan. Penutur melarang lawan tutur untuk tidak melakukan suatu kegiatan dan juga menyertakan alasannya. Larangan yang disampaikan berupa tidak bermain bersama tante, karena suka marah. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata ante. Ayuk! Mak ngaheu akau maai! (Ayuk! Jangan ganggu aku mai. Data . merupakan kalimat imperatif dengan bentuk larangan. Penutur melarang lawan tutur untuk tidak melakukan suatu kegiatan. Larangan yang muncul berupa tidak mengganggu penutur bermain. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata ayuk. Kalimat imperatif umunya dibayangkan sebagai kalimat yang mengandung perintah atau menggunakan konstruksi imperatif (Wulandari, 2. Kalimat imperatif memiliki berbagai variasi tergantung pada pembicara menyampaikannya, seperti perintah, keharusan, atau suatu kalimat larangan (Hanifah, 2. Berdasarkan paparan data yang diperoleh diketahui bahwa pada tataran kalimat imperatif anak menggunakan kalimat larangan. Anak usia dini sejak ia berusia 3 tahun telah menguasai kalimat imperatif larangan dalam berkomunikasi (Aini & Sari, 2025. Usman, 2. Kalimat Interogatif Kalimat interogatif dikatakan sebagai kalimat yang membutuhkan jawaban, di antaranya seperti jawaban berupa alasan, meminta pengakuan, pendapat, menyungguhkan, dan meminta jawaban megenai salah satu unsur dan lain sebagainya (Shelanda & Sulaiman, 2. Kalimat interogatif yang dihasilkan seperti . Datuk pio mbeuh ndek kambeh? Paaik. (Kakek kenapa suka pare? Pahi. Jurnal Basicedu Vol 9 No 5 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Pemerolehan Bahasa Ragam Kata Sapaan Kekerabatan pada Anak Usia 4 Tahun dan Penggunaannya pada Tataran Sintaksis Ae Huriyah Padhilah Anasti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Data . merupakan kalimat interogatif yang meminta jawaban berupa alasan. Penutur meminta lawan tutur untuk memberikan alasan mengapa menyukai pare. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata datuk. Papa, iyeah kito ging mento lo sahai nih? (Papa, apakah kita pergi main layang-layang hari ini?) Data . merupakan kalimat interogatif yang meminta jawaban berupa AuyaAy atau AutidakAy. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata papa. Idoak Mak mengaih Ayah nguduk? (Mak tidak marah Ayah merokok?) Data . merupakan kalimat interogatif yang meminta jawaban berupa AuyaAy atau AutidakAy. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata mak dan ayah. Buleh akau samo ngaji. Pak Wo? (Boleh aku ikut pengajian. Pak Wo?) Data . merupakan kalimat interogatif yang meminta jawaban berupa AuyaAy atau AutidakAy. Adapun kata sapaan kekerabatan yang muncul dalam kalimat tersebut berupa kata pak wo. Berdasarkan data-data yang telah dipaparkan diketahui bahwa anak usia 4 tahun telah memperoleh kata sapaan kekerabatan dan mampu menggunakannya pada tataran sintaksis. Fitria & Sartika . juga menemukan bahwa anak usia 4 tahun telah menghasilkan kalimat berupa deklaratif, imperatif, dan interogatif. Sejalan dengan temuan tersebut. Lestari et al. , . juga menemukan hal yang sama yaitu bahwa anak pertama lebih umumnya menghasilkan kalimat deklaratif, kemudian interogatif, dan terakhir imperatif. Elvina et al. , . menemukan bahwa anak yang sedang berada pada usia 4 tahun telah mampu menghasilkan kalimat baik berupa kalimat tunggal maupun majemuk. Hal ini juga ditemukan pada beberapa data bahwa pada studi kasus KHAG juga telah mampu menghasilkan kalimat majemuk dan tunggal. Usman . menegaskan bahwa pada usia 4 tahun anak sudah sampai pada masa konstruksi sederhana, yaitu anak sudah menggunakan kalimat sederhana yang berangsur menjadi suatu kalimat yang lebih kompleks. Kata sapaan yang umum digunakan oleh objek penelitian berupa bahasa pertama atau bahasa ibu, berupa kata ninek, datuk, ayuk, mamok, itek, mak, ayah, pak wo, mak wo, dan ncu. Bahasa ibu yang digunakan oleh objek penelitian berupa bahasa Kerinci daerah Pulau Tengah, yaitu bahasa oleh masyarakat suatu dusun asli daerah Pulau Tengah yang secara administratif terdiri atas 7 desa (Anasti, 2. Hal ini dikarenakan anak masih pada tahap pemulaan yang dalam pemerolehan bahasanya akan mendapatkan satu bahasa yaitu bahasa ibu (Salamah, 2. Melihat bahasa anak yang masih dominan pada bahasa ibu menandakan bahwa peran bahasa ibu dalam pemerolehan bahasa anak sangat penting. Sebagai bahasa pertama yang dikuasai oleh anak, bahasa ibu haruslah diberikan dalam kuantitas dan cakupan yang luas kepada anak terutama pada proses akuisisi bahasa dengan tujuan agar bahasa anak menjadi lebih beragam. Hal ini sejalan dengan pendapat Muna & Ridwan . bahasa ibu merupakan faktor penting dalam menentukan perkembangan bahasa atau linguistik anak. Selain kata sapaan bahasa daerah Kerinci Pulau Tengah, terdapat kata sapaan dalam bahasa Indonesia berupa kata mama, papa, abang, kakak, dan ante. Hal ini dikarenakan bahasa daerah kerinci telah mendapat pengaruh bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia sehingga terdapat beberapa perubahan pada bahasa Kerinci (Anasti, 2. Kasus ini tidak hanya terjadi pada kata sapaan di daerah Pulau Tengah, namun juga terjadi di daerah lain di Kerinci seperti di Siulak Mukai dan Kecamatan Gunung Raya. Masyarakat Siulak Mukai mulai menggeserkan penggunaan kata sapaan bahasa daerah dan menggantinya dengan kata sapaan dalam bahasa Indonesia seperti kata mamak yang sudah mulai tergantikan dengan kata om (Karmizi et al. , 2. Kecamatan Gunung Raya kasus pergeseran penggunaan kata sapaan bahasa daerah ke bahasa lainnya juga telah terjadi, dampaknya penggunaan kata sapaan menjadi lebih bervariasi. Hal ini merupakan dampak dari adanya kontak bahasa yang berlangsung, tidak hanya pada bahasa Indonesia melainkan juga pada bahasa Jurnal Basicedu Vol 9 No 5 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Pemerolehan Bahasa Ragam Kata Sapaan Kekerabatan pada Anak Usia 4 Tahun dan Penggunaannya pada Tataran Sintaksis Ae Huriyah Padhilah Anasti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. daerah lain seperti Minang. Jawa, dan Melayu sesuai dengan etnis-etnis masyarakat di daerah tersebut (Diyanti & Subiyantoro, 2. Penggunaan kata sapaan yang tepat oleh anak usia 4 tahun menunjukkan bahwa anak telah mampu menguasai salah satu konsep kesantunan dalam berbahasa menurut konsep Leech . yaitu menghormati orang lain atau lawan bertutur. Menggunakan kata sapaan yang tepat merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap lawan bicara dengan tidak merendahkan martabat (Suhartatik et al. , 2. Selanjutnya, kata sapaan kekerabatan yang ditemui pada objek penelitian hanya berupa kata kekerabatan dekat. Hal ini dikarenakan objek penelitian memiliki mobilitas yang rendah, hanya bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang terdekat disebabkan usia yang masih kecil. Hasil ini tentunya menunjukkan bahwa peran keluarga dan lingkungan sosial anak sangat berpengaruh terhadap pemerolehan bahasa anak. Keluarga memiliki peran yang penting dalam memberikan sumbangan kosa kata dan bahasa kepada anak dalam proses akuisisi bahasa pertama. Anak dapat memperoleh beragam kalimat dari interaksi yang terjadi bersama keluarga (Aini & Sari, 2. Keluarga yang komunikatif, sering melakukan interaksi langsung seperti berbicara atau membaca buku bersama memberikan dukungan terhadap perkembangan dan pemerolehan bahasa anak. Keluarga yang memberikan dukungan terhadap perkembangan bahasa anak akan berpengaruh besar terhadap kemampuan berbahasa anak itu sendiri (Naibaho et al. , 2. Selain itu pengaruh yang diberikan oleh lingkungan sosial anak juga harus diperhitungkan. Lingkungan sosial yang mencakup keluarga, lembaga pendidikan, teknologi digital, masyarakat dan teman sebaya memberikan pengaruh terhadap perkembangan bahasa anak (Setiasih & Suryadi, 2. KESIMPULAN Berdasarkan pemaparan dan penyajian data, dapat disimpulkan bahwa KHAG anak usia 4 tahun telah menguasai beberapa kata sapaan kekerabatan berupa kata sapaan ninek, datuk, mama, papa, ante, mamok, ayah, mak, pak wo, mak wo, itek, abang, kakak, ayuk, dan ncu. Kata sapaan tersebut juga digunakan dalam berbagai bentuk kalimat. Kalimat yang muncul dengan kata sapaan tersebut berupa kalimat . deklaratif, kemudian . imperatif, dan selanjutnya . Hasil ini juga memberikan pengetahuan baru bahwa kesantunan berbahasa telah diperoleh oleh anak sejak ia memperoleh bahasa pertamanya, salah satunya melalui pemerolehan dan penggunaan kata sapaan yang sesuai dengan lawan bicaranya. Secara teoretis penelitian ini telah menunjukkan bahwa pada usia 4 tahun anak tidak hanya telah memperoleh kemampuan berbahasa dalam bentuk kalimat secara lengkap, namun anak juga telah memahami kondisi lawan bicara dan prinsip kesantunan yang harus ia terapkan dalam berkomunikasi lewat penggunaan kata sapaan. Pemerolehan bahasa tersebut tidak terlepas dari peran keluarga serta kondisi dimana anak tumbuh pada lingkungan sosial yang mendukung. Hasil penelitian ini dapat sekiranya menjadi masukan kepada orang tua dan lingkungan sosial anak untuk mengambil peran dalam proses pemerolehan bahasa pertama anak. Selain itu disimpulkan pula bahwa kata sapaan kekerabatan di daerah Pulau Tengah Kabupaten Kerinci telah banyak mengalami pergeseran dari bahsa daerah ke bahasa Indonesia. Hal ini tentunya berguna bagi para pengguna bahasa daerah Kerinci terutama daerah Pulau Tengah untuk dapat melestarikan dan menjaga pertahanan bahasa daerah. DAFTAR PUSTAKA