BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN EMPATI PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR SD AuXAy DI SAMARINDA (EXPERIENTIAL METHOD) ROLE PLAY TO IMPROVE EMPATHY IN SD "X" BASIC SCHOOL CHILDREN IN SAMARINDA (EXPERIENTIAL METHODS) SILVIA EKA MARISKHA . SITI KHUMAIDATUL UMAROH . Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Email : mariskha87@gmail. , sitikhumaidatulumaroh@yahoo. Abstrak: Empati memegang peranan penting dalam pembangunan perilaku prososial dan kompetensi social pada fase anak. Anak yang memiliki tingkat emptai yang tinggi akan mampu menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya dan menunjukkan rasa kasih sayang terhadap sesama. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen sebanyak lima . sesi, 120 menit setiap sesinya. Penelitian ini melibatkan 20 anak usia 9-12 tahun di SD AuXAy Samarinda, dengan metode bermain peran untuk meningkatkan perilaku empati. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Empati untuk Anak (SEA) yang disusun oleh peneliti dan memperoleh nilai koefisen alpha sebesar 0. Uji-t menemukan bahwa ada peran signifikan metode bermain peran dalam meningkatkan empati pada anak yang terlibat dalam penelitian . = 4. 884, p<. Kata kunci: Bermain peran. Empati. Anak SD. Eksperimen Abstract: Empathy has an significant role to develop prosocial behavior and social competence in the chilhood. Children who have a high level of emptathy will be able to adjust well in the environment and show affection towards each other. This research had an experiment methode with five . sessions, 120 minutes each session. The study involved 20 children aged 9-12 years of Elementary student in SD "X" Samarinda, with role playing methods to improve empathy behavior. Empathy Scale for Children (SEA) had been used to measure empathy phase, and at get value of alpha coefficient equal to 0. Test-t found that there was a significant role playing role method in improving empathy in the children involved in the study . = 4. 884, p <. Keywords: Role Playing. Empathy. Elementary Children. Experiments PENDAHULUAN Masa sekolah merupakan masa anak mengalami perubahan peran dan Anak sebagian waktunya untuk bermain dan berinteraksi dengan rekan sebaya nya di Interaksi dengan teman sebayanya dapat menimbulkan kondisi popular, penolakan ataupun pengabaian (Santrock. Lebih lanjut. Kupersmidt dan Patterson menyatakan bahwa anak yang ditolak maupun doabaikan beresiko mengalami berbagai permasalahan dalam Jurnal Motiva pergaulannya seperti menjadi lebih agresif, suka mengganggu orang lain bahkan melakukan tindak kekerasan terhadap teman sebaya (Santrock, 2. Pergaulan anak dengan temans ebayanya akan ditentukan oleh keterampilan nak dalam menempatkan diri dlaam lingkungan Hal ini ditandai dengan kepedulian terhadap orang lain, mengenali perasaan orang lain dan keinginan untuk membantu orang lain. Keterampilan untuk mengenali perasaan orang lain yang diikuti dengan keinginan membantu merupakan Silvia Eka Mariskha wujud dari empati (Thomson & Gullone. Empati memegang peranan penting dalam membangun perilaku prososial dan kompetensi social pada individu, terlebih pada fase anak (Eisnberg & Morris, 2001. Miller, 2. Anak yang memiliki empati akan memiliki pengertian dan rasa kasih sayang terhadap sesama. Empati juga membantu anak memangetahui dan memahami emosi oang lain sehingga mampu berbagi perasaan dengan orang Dengan empati, anak belajar untuk mengubah perilaku yang rigid menjadi lebih fleksibel, pola pikir yang egosentris menjadi lebih toleran (Setyawan, 2. Anak yang memiliki empati yang tinggi akan mudah mengembangkan rasa toleran dan kasih sayang sehingga tidak akan melakukan tindakan yang merugikan Huneck mengungkapkan bahwa 10%-16% siswa Indonesia melaporkan bahwa diri mereka pengucilan, gangguan fisik . emukulan, tendangan ataupun di doron. sedikitnya satu kali dalam satu minggu. Kejadian ini berulang di setiap tahunnya dengan anak sebagai pelaku maupun korbannya. Tindakan kekerasan tersebut sejatinya merupakan wujud dari perilaku agresi (Baron & Byrne, 2. Salah satu factor yang menyebabkan munculnya perilaku agresi adalah hilangnya empati pada korban (Baron & Byrne, 2005. Passer & Smith, 2. Anak terdorong untuk melakukan tindakan yang menyakiti orang kain dikarenakan anak tidak dapat mengerti dan menempatkan diri pada kondisi orang lain dengan tepat (Perrault, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Lutjemeier . dan Broidy dkk. membuktikan bahwa anak yang melakukan kenakalan dan terlibat kriminal memiliki skor empati yang rendah. Sementara itu. Irianto . 10 membuktikan bahwa rendahnya empati yang dimiliki oleh anak-anak membuat mereka cenderung bertindak agresif, membayakan jiwa sendiri dan orang lain Jurnal Motiva Empati perlu dilatih dan dikembangkan agar anak dapat beradaptasi dan diterima di lingkungannya secara Selain itu, anak yang berempati akan melakukan tindakan yang berguna, fungsional dan tindakan agresi yang lebih Empati diartikan sebagai kapasitas kognitif dan afektif untuk memahami dan mengalami jiwa orang lain (Hunter, 2003. Perrault, lepage, & Theoret, 2. Empati dapat pula diartikan sebagai respon atau tanggapan individu atas emosi (Carr & Lutjemeier, 2. , kebutuhan dan penderitaan orang lain (Chaplin, 2. yang diikuti dengan perilaku prososial (Dadds, dkk. , 2. Sementara itu. Broidy . menilai empati sebagai interaksi antara proses afektif dan proses kognitif pada situasi emosional yang melibatkan diri dengan lingkungan Aspek kognitif dalam empati perasan orang lain dan memiliki persprektif orang lain secara spontan . erspective takin. serta kemampuan memprediksi situasi yang mungkin terjadi (Hunter, 2. Factor kognisi ini ditenggarai menyumbang peningkatan skor empati pada anak usia 9-12 tahun. Anak yang memiliki kapasitas kognitif yang tinggi ternyata memiliki skor empati yang lebih tinggi disbanding dengan teman sebayanya (Hay, 2. Sementara aspek afektik dinilai sebagai kemampuan untuk mengalami dan perbagi perasan dengan orang lain (Eisenberg & Morris, 2. Davis . alam Hunter, 2. membagi aspek empati menjadi dua bagian, yairy : emphaty concern yang dimaknai sebagai sebuah bentuk kepedulian terhadap perasaan yang dirasakan orang lain disertai dengan keikhlasan dan kerelaan untuk membantu orang tersebut. personal distress, sebagai bentuk penghayatan Silvia Eka Mariskha terhadap perasaan orang lain dan pemahaman untuk merasakan seolah-olah penderitaan orang lain tersebut. Aspek lain yang ikut berpengaruh terhadap empati individu yaitu gender dan Wanita dinilai lebih emosional ketimbang laki-laki (Broidy dkk. , 2003. Hunter, 2. , sementara lingkungan dinilai sebagai media yang sangat mempengaruhi terbentuknya perilaku anak (Swick, 2. Orang tua dan lingkungan yang mengembangkan empati dalam pola menghasilkan anak-anak yang berempati Pada masa sekarang, peran ini setara dengan peran media masa dalam pembentukan perilaku anak. Media yang menampilkan perilaku empatik akan membuat anak mencontoh perilaku Swick, 2005. Nichols. Svetlova & Brownell, 2. Temuan di atas memaparkan bahwa empati memiliki peran cukup signifikan dalam pergaulan sebaya yang Sayangnya, belum ada usaha khusus untuk menjadikan sikap empati sebagai bagian dari pengembangan perilaku adaptif pada anak sekolah. Pengamatan yang peneliti lakukan di Salah satu sekolah negeri di wilayah Samarinda pada periode Oktober-Desember menendang, mendorong dan mengumpat masih sering ditemui dalam interaksi keseharian anak, bahkan cenderung dianggap sebagai perilaku normal. Padahal, jika dibiarkan perilaku ini bias mengarah pada perilaku agresif yang berujung pada perilaku buliying. Untuk itu diperlukan program khusus yang bertujuan untuk mengembangkan perilaku empati pada anak usia dasar tersebut. Program haruslah program ramah anak. UNESCO dan diknas sejatinya telah lama menyoroti pentingnya pengembangan empati untuk mengembangkan budaya damai pada anak, namun sayangnya program tersebut tersendat karena faktir tidak siapnya banyak sekolah dalam menjalankan Jurnal Motiva program tersebut (Irianto, 2. Beberapa perilaku empati pada anak, diantaranya melalui gubahan puisi, melukis, dan menampilkan foto pembantaian etnis tertentu pada subjek penelitian (Garnell. Thomson Gulone . mengembangkan perilaku empati dengan merawat hewan, sementara itu Swick . melalui program promosi perilaku empatik dalam keluarga menekankan pentingnya interaksi antar anggota mengembangkan perilaku empati pada Ditahun 2009. Schandt, mencoba mengaplikasikan teori Piaget proses bermain dalam mengembangkan perilaku empati pada anak. Kajian pada beberapa penelitian terdahulu, menyebutkan bahwa pada usia sekolah dasar anak sedang menikmati fase sosialisasi melalui aktivitas bermain untuk menemukan pengalaman baru. Maka, metode belajar yang dapat dilakukan untuk mengajarkan empati pada anak adalah . xperimential learning mode. Model belajar ini akan memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang membangkitkan rasa ingin tahu tanpa berhubungan dengan aktivitas belajar Sehingga tugas guru dan orang tua lebih pada memberi kesempatan kepada anak untuk belajar menginterpretasikan dan menggeneralisasi pengalaman yang telah di dapat sesuai dengan tahap perkembangannya (Kumara, 2. Model belajar akan disukai anak jika di dalamnya terdapat proses bermain. Melalui bermain, mengenal dan mengungkapkan emosinya, terlebih bermain dinilai sebagai cara yang paling efektif untuk mengungkapkan dirinya tanpa perlu dinilai (Ginsburg. Blatner, 2002. Landreth, 2. Salah satu caranya adalah dengan bermain peran (Langley, 2. Berdasarkan kondisi di atas, peneliti melihat adanya permasalah di Silvia Eka Mariskha Sekolah Dasar X, yaitu memiliki pola perilaku yang kurang empati di kalangan Dilakukan intervensi bermain peran untuk meningkatkan empati pada siswa sekolah tersebut. Fantacy METODE PENELITIAN Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SD X, sejumlah 20 orang yang berusia 9-12 tahun, tidak memiliki keterbatasan fisik (Buta, tuli, bisu, cacat Pada usia ini anak telah mampu menilai maksud dan tujuan perilaku, menempatkan diri ditempat orang lain sehingga mampu memandang individu lain secara timbal balik dan serentak sebagai subjek (Santrock, 2. Memiliki skor empati dalam kategori sedang hingga Afektif Empatic Concern Personal Disstress 26,27 8, 26, 29,31 34,40 3, 5, 21,37 4, 6, 2, 18, 8 22, 39 33, 35 Total Instrument Penelitian Modul. Modul disusun oleh peneliti yang merupakan modifikasi dari modul yang dikembangkan oleh Langley . berdasarkan pendekatan model belajar ekperimental (Enfield. McQuitty & Smith, 2. Termasuk di dalamnya adalah lembar observasi yang digunakan oleh observer mencatat kejadian penting penelitian berlangsung. Skala empati untuk anak (SEA) Disusun oleh peneliti berdasarkan komponen empati berupa aspek kognitif dan aspek afektif dan telah dilakukan uji reliabilitas, sehingga diperoleh skor koefisiensi Alpha sebesar 0,889. Adapun blue print SEA adalah sebagai berikut : Tabel 1. Blue Print Skala Empati Anak (SEA) Kompone Aspek Kognitif Perspectiv e taking Jurnal Motiva Jenis dan Nomer aitem Sahi Gugu 5, 7, 1, 9, 7 10, 17 Desain penelitian. Penelitian ini didesain dengan menggunakan rancangan Quasi Experimentkarena pemilihan subjek didasarkan pada skor skala empati . ukan Desain gambarkan sebagai berikut: Tabel 2. Desain penelitian Kelompok Eksperimental (KE) Kontrol (KK) Pre Intervensi Pos Keterangan : Skor perlakuan/intervensi . engukuran pertam. : perlakuan . ermain pera. : skor empati setelah bermain peran . engukuran kedu. Intervensi berupa bermain peran dengan alur: pemanasan . Action . ermain peran: pengenalan skenario, penunjukan peran dan pementasa. Debriefing . iskusi mengenai peran yang Jalannya perlakuan/intervensi dipandu oleh seorang Silvia Eka Mariskha trainer. Intervensi dilakukan sebanyak 5 . sesi yang berjalan selama 5 . minggu, dengan durasi 90 menit hingga 120 menit di setiap minggunya. Sementara itu, kelompok kontrol tidak mendapatkan intervensi apapun. Penelitian dilaksanakan sebanyak 5 . sesi dengan rata-rata durasi 120 selama proses intervensi diberikan, anak-anak tampak antusias dan terlibat Dipertemuan pertama, terlihat masih malu-malu, berjarak dan perlu dimotivasi agar mau bermain sesuai dengan Namun pada pertemuan kedua hingga terakhir, motivasi hanya diberikan oleh trainer di awal petemuan saja, selanjutnya peserta bermain sesuai dengan peran yang mereka ambil. Berikut berolehan skor masing-masing kelompok Tabel 3. Perolehan Skor Pada Kelompok Eksperimen (KE) dan Kelompok Kontrol (KK) Peremp Lakilaki Peremp Peremp Lakilaki Peremp Jurnal Motiva Kateg P Seda 6 Kat Seda Tin Seda Tin Seda Tin Seda Tin Seda Tin Peremp Lakilaki Lakilaki Lakilaki Lakilaki Peremp Peremp Peremp Peremp Peremp HASIL DAN PEMBAHASAN Kelompok ekperiment Na Sex Usi Pret Seda Laki11 Seda Laki11 Seda Peremp 10 Seda Kelompok Kontrol Sex Usi Pret Kateg Sed Peremp Tin Sed Tin Sed Kat Seda Seda Sed Seda Sed Seda Sed Seda Sed Seda Sed Seda Sed Seda Tin Seda Sed Seda Tin Sed Pada kedua kelompok penelitian tersebut, terapat dinamika yang tampak pada kelompok eksperimen, semua peserta mengalami kenaikan skor yang bergerak antara 3 hingga 15 poin. Silvia Eka Mariskha dengan rata-rata kenaikan sebesar 11,3 Sementara Paired Differences Confidence Std. Interval of Std. Erro Difference Dev r Sig. Mea iatio Mea Lowe Uppe t df . Pa gainK ir E 7. 1 gainK 13 087 84 kontrol,sebanyak 4 orang mengalami kenaikan skor, satu orang tanpa kenaikan skor dan 6 orang mengalami penurunan skor, dengan rata-rata perubahan skor sebesar 0,1 poin. Sebelum dilakukan uji hipotesa, dilakukan uji normalitas sebagat prasyarat, berikut hasil uji normalitas pada data penelitian yang tampak pada tabel 4 Tabel. Hasil Uji Normalitas pre pos pre Post tes tes gain tes esK gain KE KE KE KK K KK 10 10 10 10 10 10 Nor Mean 52. Para mete Std. rsa Deviat 563 527 5. 64 152 5. Most Absol . Extr ute eme Positi . Diffe ve Negati - es 11 -. 32 -. 188 -. Kolmogoro v-Smirnov Asymp. Sig. -taile. Jurnal Motiva Pada tabel tampak nilai Z pre tes kelompok eksperimen sebesar 0. Zkelompok Hal bermakna bahwa sebaran data adalah normal . >0. Hasil uji hipotesa dilakukan dengan menggunakan analisa statistika dengan uji t berpasangan . Hasil uji hipotesa tersebut tampak pada table 5 Tabel. 5 Uji Hipotesa. Uji statistika dengan uji t berpasangan, menunjukkan nilai t sebesar 884 dengan taraf signifikansi p < 0. Hal ini bermakna bahwa ada perbedaan skor secara signifikan pada kedua kelompok penelitian. Kelompok yang dikenakan intervensi berupa bermain peran memiliki skor empati yang lebih tinggi ketimbang kelompok yang tidak dikenakan intervensi berupa bermain peran. Kondisi ini bermakna bahwa bermain peran signifikan untuk meningkatkan empati pada anak usia SD dalam penelitian ini. Adapun aspek empati yang diungkap dalam permainan peran tersebut Perspective taking. pada aspek ini subjek dalam kelompok eksperimen cukup mampu mengenali emosi dan perasaan orang lain. Hal ini dibuktikan dengan mengambil alih peran yang di distribusikan kepada mereka. masingmasing peserta mampu berperan sebagai kakak, adik, ayah, ibu dan nenek dalam tim masing-masing . ada pertemuan . Masing-masing peserta cukup mampu memainkan peran mereka, misalnya perasaan kesal seorang kakak ketika memiliki adik yang bandel, atau perasaan sedih ketika perkataan ibu tidak anak-anaknya. Fantacy. Aspek kemungkinan yang terjadu, baik perasaan maupun tindakan yang akan diambil Silvia Eka Mariskha berkaitan dengan kondisi tertentu. fase ini, sebagian bersar peserta cukup mampu untuk berperan sesuai dengan peran mereka. Hanya saja, mereka masih butuh untuk dimotivasi saat harus meneruskan cerita saat seorang teman terluka ketika diganggu oleh teman yang lainnya (Sesi 2,4dan . Emphatic Pada fase ini individu diharapkan mampu peduli dengan emosi/perasaan orang disekitarnya dan disertai dengan kerelaan serta keikhlasan untuk membantu individu lainnya. Pada sesi ini, peserta perlu memainkan perannya hingga dua kali untuk bisa membangun inisiatif membantu dan menunjukkan kepeduliannya terhadap teman yang lain. Kondisi ini ditunjukkan oleh beberapa subjek ketika harus dimilikinya untuk dipinjamkan kepada teman yang membutuhkan . personal distress. Fase ini ditandai dengan penghayatan perasaan orang lain dan pengendalian ketidakberdayaan ketika melihat penderitaan orang lain. Dengan bermain peran, anak diharapkan mampu menghayati perasaan yang dirasakan oleh orang lain. Hal ini ditunjukkan oleh subjek penelitian dalam sesi debriefing. bersar peserta menyatakan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh lain dalam peran mereka, misalnya menyatakan perasaan sedih saat nenek diacuhkan oleh cucunya atau perasaan kesal seorang ibu saat anaknya tidak mau mendengar nasehatnya. PEMBAHASAN DAN HASIL Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa ada perbedaan skor empati pada kelompok yang diberi intervensi berupa bermain peran dengan kelompok yang tidak diberi intervensi. Hal ini bermakna bahwa pada subjek penelitian, metode bermain peran dengan pendekatan experimential learning method efektif dalam meningkatkan empati. Hasil uji hipotesa . juga didukung dengan hasil yang peneliti Jurnal Motiva temukan langsung pada subjek penelitian. Dari self report . atatan harian ana. , ditemukan bahwa aspek empati tersebut Hal ditunjukkan anak dengan menuliskan perasaan mereka ketika bermain peran dan bagaimana seandainya mereka berada dalam posisi tersebut. Kondisi ini juga didukung dengan laporan dari guru Masing-masing menyatakan bahwa ada perubahan sikap Anak berpartisipasi dalam penelitian tampak lebih tenang dan mudah diatur, mudah menerima nasehat dan mulai jarang mengganggu teman. Ungkapan perasaan yang dituliskan ataupun dikemukakan oleh subjek tersebut, merupakan bentuk dari pencapaian aspek kognitif empati, yaitu kemampuan intelektual untuk mengidentifikasi dan mengenali perasaan orang lain (Eisenberg & Morris, 2001. Hunter, 2. Peningkatan aspek kognitif tersebut diikuti dengan peningkatan aspek afektif, ditunjukkan dengan kemampuan untuk seolah olah mengalami dan membagi perasaannya kepada orang lain. Selain aspek yang berhasil dibuktikan dalam penelitian ini, perlu dievaluasi pula beberapa aspek yang berperan serta dalam penelitian, yaitu peran serta trainer sebagai motivator dan sosok lekat subjek penelitian serta mempertahankan perilaku yang telah Dinamika yang terjadi dalam kelompok tersebut turut menjadi hal yang menarik untuk ikut dibahas. Beberapa subjek mengalami peningkatan skor yang tidak cukup signifikan . etap berada dalam kategori sebelum diberikan perlakua. , perubahan skor hingga 15 poin. Hal ini menunjukkan bahwa empati merupakan kebutuhan individu sebagai sebuah keterampilan sosial yang akan berkembang jika individu memperoleh kesempatan dan (Perrault, 2. Silvia Eka Mariskha Pemasangan kelompok mereka memiliki peran yang tidak kalah penting. Walaupun teman dalam tim bukanlah orang asing, masingmasing subjek penelitian membutuhkan waktu setidaknya sepanjang sesi pertama untuk bisa membangun keakraban yang akan berimbas pada kelancaran dalam memainkan peran. Hal ini menjadi penting sebab karakter teman bermain akan (Garaigordobil, 2. Walaupun penelitian ini menunjukkan pengaruh yang signifikan, tetap ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar efek intervensi ini mampu betahan dalam jangka panjang, yaitu bagaimana menjaga interaksi anak dengan lingkungannya. Hal ini menjadi faktor yang tidak dapat diprediksi oleh peneliti sekalipun, sebab pengaruh dari luar, lingkungan dan orang-orang di lingkungan anak akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku anak. Salah satunya adalah katekter teman bermain (Garaigordobil, 2. Teman respon/tanggapan positif dan menerima mengembangkan empati yang lebih baik dibanding dengan teman bermain yang tidak mendukung dan mengabaikan perilaku empati anak (Dekovic &Gerris, dalam Garaigordobil, 2. Selain teman sebaya, faktor lingkungan lain yang akan turut mempengaruhi empati anak adalah lingkungan tempat tinggal. Anak yang memberikan respon berupa emosi positif yang jauh lebih banyak ketimbang emosi negatif akan memiliki tingkat empati yang baik, sebaliknya anak yang diremehkan, dikucilkan dan diejek cenderung akan menghilangkan nilai empati dalam dirinya karena kecewa dengan respon yang diterima dari lingkungannya (Moreno. Klute & Robinson, 2. Penelitian keterbatasan, antara lain. tidak diberlakukannya randomisasi sehingga Jurnal Motiva kurang mampu mengontrol variable lain di luar penelitian . kurangnya jumlah observer dan fasilitator sehingga kurang memperoleh infomasi secara mendetail masing-masing . Variable empati merupakan variabel yang bernilai sosial tinggi, sehingga ada kecenderungan untuk mengisi skala tidak sebenarnya. Hal ini dikarenakan pemahaman moral yang telah terbentuk mengenai nilai objektif baikburuk, bukan pada kondisi yang sebenarnya ada pada masing-masing Kondisi ini ditunjukkan dengan skor empati yang diperoleh pada populasi bergerak diantara kategori sedang hingga tinggi, sehingga skor yang tinggipun akan cenderung turun kea rah mean saat dilakukan pengukuran secara statistika (Myers & Hansen, 2. KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disimpulkan : ada perbedaan skor empati pada kelompok kontrol. Kelompok yang diberikan intervensi bermain peran, memiliki peningkatan skor empati dibanding dengan kelompok yang tidak diberikan intervensi bermain Intervensi memberikan pengaruh singnifikan meningkatkan . empati pada subjek penelitian. DAFTAR PUSTAKA