Journal Genta Mulia Volume 15. Number 2, 2025 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm ANALISIS GAYA BELAJAR MAHASISWA GEN Z Elly Aulia Sujani1. Tiara Meidiani Putri2. Amelia Rahayu3. Wanda Hamidah4. Iis Lisnawati5 12345Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Siliwangi. Kota Tasikmalaya * Corresponding Author: ellyauliasujani@gmail. Abstrak Mahasiswa Generasi Z memiliki karakteristik unik karena tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang pesat. Hal ini memengaruhi cara mereka dalam menerima dan memproses informasi, termasuk dalam kegiatan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan gaya belajar mahasiswa Generasi Z agar strategi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner yang disebarkan kepada mahasiswa dari berbagai program studi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar visual paling dominan, diikuti oleh kinestetik, dan terakhir auditori. Mahasiswa dengan gaya belajar visual cenderung lebih mudah memahami materi melalui gambar, warna, dan tampilan visual lainnya. Sementara itu, gaya kinestetik menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa lebih menyukai pembelajaran berbasis praktik atau aktivitas langsung. Gaya auditori memiliki presentase paling rendah yang menandakan metode ceramah kurang efektif untuk sebagian besar responden. Kata Kunci : Gaya Belajar. Mahasiswa. Gen Z Abstract Generation Z students grew up surrounded by rapidly advancing technology and constant access to information, which shaped their unique ways of learning. This study aimed to identify the dominant learning styles among Generation Z university students to help educators tailor more effective teaching strategies. A quantitative descriptive method was applied, using a closed-ended questionnaire distributed to students from various majors. The findings reveal that visual learning is the most preferred style among respondents, followed by kinesthetic and auditory styles. Students with a visual learning style tend to absorb information more effectively through images, diagrams, and visual aids. Kinesthetic learners show a preference for hands-on activities and learning through physical involvement. Meanwhile, the auditory style ranks lowest, suggesting that lecture-based methods may not fully engage most Generation Z learners. Keywords : Learning Style. Students. Gen Z PENDAHULUAN Pendidikan di Indonesia terus berkembang mengikuti zaman yang semakin serba Di era modern ini, pendidikan tidak lagi bersifat satu arah, tetapi menuntut adanya fleksibilitas, kolaborasi, serta pemanfaatan teknologi yang optimal untuk menunjang proses belajar mengajar. Transformasi ini menuntut tenaga pendidik untuk memahami karakteristik peserta didik termasuk di antaranya gaya belajar yang sesuai dengan generasi saat ini. Salah satu kelompok yang mendominasi dunia pendidikan tinggi saat ini adalah Generasi Z atau Gen Z. Menurut Howe dan Strauss dalam (Giray, 2. menjelaskan bahwa generasi adalah sekumpulan individu yang lahir dalam rentang waktu sekitar dua dekade, atau sepanjang satu tahap kehidupan seperti masa kanak-kanak, masa dewasa Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. awal, usia paruh baya, hingga lanjut usia. Gen Z merupakan kelompok generasi yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi digital. Mereka dikenal memiliki keterikatan yang kuat dengan dunia digital. Menurut Pratama dalam (Ishak, 2. , "Gen Z" disebut juga sebagai "generasi digital", generasi muda yang sangat bergantung pada teknologi digital untuk berkembang dan berkembang. Sejak usia dini. Gen Z sudah terbiasa menggunakan perangkat teknologi canggih, dan kedekatan ini secara tidak langsung membentuk kepribadian mereka. (Muhajirina et al. , 2. Kehidupan mereka yang tidak bisa dilepaskan dari teknologi ini turut memengaruhi cara berpikir, berinteraksi, serta pola belajar mereka. Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau pengetahuan seseorang yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau Menurut Gagne dalam (Jannah et al. , 2. , belajar adalah sebuah proses untuk memeperoleh pengalaman sebagai motivasi merubah sikap, kebiasaan, dan tingkah laku. Menurut Slameto dalam (Jannah et al. , 2. , belajar merupakan suatu aktivitas yang timbul dari dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengubah perilaku atau sikapnya melalui interaksi dengan lingkungan, guna mendapatkan pengalaman yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam ranah pendidikan, belajar bukan hanya sekadar menerima informasi dari dosen atau membaca materi dari buku. Aktivitas belajar juga mencakup keterlibatan aktif peserta didik dalam memahami makna dari informasi yang diperoleh, mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, serta mampu mengaplikasikan hasil pembelajaran tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari. Proses ini tidak hanya menuntut aktivitas mental, tetapi juga melibatkan dimensi emosional dan keterampilan fisik yang dikenal sebagai aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perbedaan dalam cara individu menyerap, mengolah, dan mengekspresikan pengetahuan inilah yang menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan belajar yang unik. Keunikan ini menjadi dasar pentingnya memahami konsep gaya belajar agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan masingmasing peserta didik. Gaya belajar . earning styl. mengacu pada cara seseorang dalam menerima, memproses, dan menyimpan informasi. Menurut M. Joko Susilo dalam buku Gaya Belajar oleh Risa Zakiatul Hasanah . , gaya belajar diartikan sebagai proses gerak laku, penghayatan, serta kecenderungan seorang pelajar mempelajari atau memperoleh ilmu dengan caranya tersendiri. Rita Dunn dalam buku Gaya Belajar oleh Risa Zakiatul Hasanah . juga menjelaskan definisi gaya belajar yang merupakan cara siswa berkonsentrasi terhadap proses dan mempertahankan informasi. Maka, dapat ditegaskan bahwa gaya belajar dapat membedakan individu dengan individu lain untuk mempelajari suatu hal. Merujuk pada beberapa pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa gaya belajar menjadi kunci bagaimana siswa dapat mengembangkan kompetensi dirinya baik dari segi kognitif, afektif, ataupun psikomotor semaksimal mungkin. Dengan kurikulum Merdeka tenaga pendidik diharapkan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan gaya belajar peserta didik baik di tinggkat pendidikan sekolah maupun di pendidikan tinggi (Oktavia. Salah satu model yang membahas mengenai gaya belajar yaitu model VAK (Visual. Auditory, and Kinestheti. Model gaya belajar VAK pertama kali diperkenalkan oleh Walter Burke Barbe dan selanjutnya disempurnakan oleh Neil Fleming. Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa setiap individu memiliki cara tersendiri dalam memproses informasi saat belajar. Fleming dan Mills dalam (Suriaman et al. , 2. , menyatakan bahwa setiap individu biasanya memiliki kecenderungan atau preferensi tertentu dalam menerima dan memahami informasi. Model ini membagi gaya belajar menjadi tiga P-ISSN:2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 116 Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. kategori utama, yaitu gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Gaya belajar visual, yaitu gaya belajar yang mengandalkan indera penglihatan. Individu dengan gaya ini lebih mudah memahami informasi dalam bentuk gambar, diagram, grafik, warna, peta konsep, dan tayangan video. Mereka cenderung lebih cepat menangkap informasi melalui representasi visual dan sering kali menyukai catatan yang rapi dan penuh warna. Gaya belajar auditori bertolak belakang dengan gaya belajat visual. Gaya belajar sual berfokus pada penglihatan, sementara auditori berfokus pada indra Mahasiswa dengan gaya belajar ini lebih mudah memahami materi melalui penjelasan verbal, diskusi, ceramah, atau rekaman suara. Gaya belajar kinestetik adalah suatu cara proses menerima informasi yang erat kaitannya mengenai organ tubuh contohnya tangan dan kaki, karena gaya belajar ini melibatkan gerakan fisik, aktivitas motorik, dan sentuhan. Mahasiswa kinestetik lebih menyukai praktik langsung, simulasi, eksperimen, atau pembelajaran berbasis proyek. Dari hal-hal tersebut pemilik gaya belajar kinestetik akan bisa mengingat suatu informasi dengan hal tersebut, (Magdalena dan Afiffah, 2020:. Bagi mahasiswa, terutama mahasiswa Gen Z saat ini, penting untuk mengetahui gaya belajar mereka yang dominan, sehingga dapat membantu mereka mengembangkan strategi belajar yang lebih personal, efisien, dan menyenangkan terutama dalam lingkungan belajar yang semakin terdigitalisasi. Meskipun konsep gaya belajar telah lama menjadi topik diskusi dalam dunia pendidikan, kajian mengenai gaya belajar mahasiswa Gen Z masih sangat terbatas, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, penting dilakukan eksplorasi mengenai kecenderungan gaya belajar mahasiswa Gen Z. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis preferensi gaya belajar mahasiswa Generasi Z serta mengidentifikasi tantangan yang memengaruhi kegiatan pembelajaran mereka. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan tujuan untuk mengeksplorasi gaya belajar mahasiswa Generasi Z. Penelitian deskriptif kuantitatif merupakan jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu variabel tanpa adanya upaya untuk menguji hipotesis tertentu. Penelitian ini berfokus pada penggambaran, pengkajian, dan penjelasan terhadap suatu fenomena berdasarkan data numerik secara objektif dan apa adanya (Sulistyawati. Wahyudi, & Trimuryono, 2. Penelitian ini difokuskan pada upaya pemetaan preferensi belajar mahasiswa berdasarkan pilihan jawaban dari kuesioner yang telah disusun oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif yang termasuk dalam kategori usia Gen Z. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah kuesioner yang disusun oleh peneliti berdasarkan indikator-indikator dari teori gaya belajar, seperti teori VAK (Visual. Auditory, dan Kinestheti. Kuesioner terdiri atas beberapa pertanyaan yang menggambarkan kecenderungan responden dalam memilih cara menerima, mengolah, dan memahami informasi dalam proses pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan disusun dalam bentuk pilihan ganda dengan alternatif jawaban yang menunjukkan kecenderungan terhadap salah satu gaya belajar tertentu. Penelitian ini mengandalkan analisis dari pilihan jawaban yang telah dikategorikan secara tematik sesuai gaya belajar. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui platform Google Form, sehingga memudahkan responden dalam mengakses dan mengisi kuesioner secara fleksibel. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung frekuensi dan persentase dari masing-masing pilihan jawaban. Hasil analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi gaya belajar yang paling dominan serta memetakan pola belajar umum mahasiswa Gen Z yang menjadi subjek penelitian. P-ISSN:2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 117 Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. HASIL DAN PEMBAHASAN Gaya belajar merupakan cara individu dalam menerima, mengolah, dan menyimpan informasi selama proses pembelajaran. Setiap orang memiliki preferensi belajar yang berbeda-beda, tergantung pada karakteristik pribadi, pengalaman sebelumnya, serta pengaruh lingkungan di sekitarnya. Dalam dunia pendidikan, memahami gaya belajar peserta didik akan membantu mereka dalam menciptakan suasana belajar yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan. Generasi Z, yang saat ini mendominasi bangku perkuliahan, dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi digital. Akses yang luas terhadap informasi serta kebiasaan menggunakan media digital membentuk pola belajar yang khas dibandingkan generasi sebelumnya. Kebiasaan ini turut memengaruhi cara mahasiswa Gen Z memahami materi, berinteraksi dengan dosen, hingga menanggapi tugas akademik. Perbedaan karakteristik tersebut mendorong perlunya penyesuaian dalam pendekatan pembelajaran di perguruan tinggi. Dosen dan lembaga pendidikan perlu memahami bagaimana mahasiswa Gen Z belajar agar proses perkuliahan berjalan lebih lancar dan menyenangkan. Untuk menggambarkan kecenderungan gaya belajar mahasiswa Gen Z, penulis melakukan survei terhadap beberapa mahasiswa dari berbagai program studi dan universitas. Survei ini mengumpulkan data terkait preferensi belajar mereka, media yang biasa digunakan, serta tantangan yang mereka alami selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Gambar 1. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuMenurut saya, belajar akan lebih efektif jika. Ay Berdasarkan hasil survei "Gaya Belajar Mahasiswa Gen Z" yang diikuti oleh 36 responden, diperoleh data bahwa sebagian besar mahasiswa merasa belajar akan lebih efektif jika diterapkan melalui praktik dan pengalaman langsung . aya belajar kinesteti. , dengan persentase sebesar 47,2%. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Gen Z cenderung lebih menyukai metode pembelajaran yang melibatkan aktivitas fisik atau langsung terjun dalam praktik nyata, dibandingkan hanya menerima teori. Sementara itu, sebanyak 36,1% responden memilih gaya belajar visual, yaitu belajar yang dilengkapi gambar, warna, atau tayangan visual sebagai metode yang paling efektif. Hanya 16,7% responden yang merasa bahwa penjelasan secara lisan dan diskusi . aya belajar auditor. lebih efektif bagi mereka. Hasil ini mengindikasikan bahwa mahasiswa Gen Z lebih responsif terhadap metode pembelajaran yang bersifat aktif, konkret, dan aplikatif. P-ISSN:2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 118 Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. Gambar 2. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuKetika mencatat materi mata kuliah, saya lebih sering. Ay Berdasarkan hasil survei pertanyaan kedua, diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa, yaitu 50%, lebih sering menulis tangan sambil bergerak atau menjelaskan ulang sambil praktik, yang menunjukkan kecenderungan gaya belajar kinestetik. Sementara itu, 36,1% responden memilih untuk membuat mind map atau memberi warna pada catatan penting, yang mencerminkan gaya belajar visual. Sisanya terbagi ke dalam beberapa metode lain seperti merekam suara untuk didengar kembali . , menulis tangan sambil mendengarkan, dan sebagian kecil tidak mencatat sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun gaya belajar setiap individu berbeda, gaya belajar kinestetik dan visual adalah yang paling dominan di kalangan mahasiswa. Gambar 3. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuDalam proses belajar, saya lebih fokus Ay Berdasarkan hasil jawaban pada pertanyaan ketiga, 47,2% dari total 36 mahasiswa, menyatakan bahwa mereka lebih fokus belajar ketika melihat video atau membaca materi dengan gambar pendukung, yang menunjukkan dominasi gaya belajar visual. Sementara itu, 33,3% responden lebih fokus saat membuat eksperimen, studi kasus, atau bermain peran, yang mencerminkan gaya belajar kinestetik. Hanya 19,4% responden yang merasa lebih fokus saat mendengarkan podcast, rekaman materi, atau penjelasan verbal, yang berkaitan dengan gaya belajar auditori. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Gen Z cenderung lebih mudah fokus dan memahami materi melalui media visual dan aktivitas langsung, dibandingkan hanya dengan mendengarkan penjelasan. P-ISSN:2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 119 Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. Gambar 4. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuSaat menghadapi materi yang sulit dimengerti, saya selalu. Ay Berdasarkan hasil kuisioner pada pertanyaan ke-4, mayoritas mahasiswa . ,8%) cenderung meminta teman atau dosen untuk menjelaskan kembali secara lisan ketika menghadapi materi yang sulit dipahami . aya bejar auditor. Sebanyak 27,8% responden lebih memilih membuat diagram atau mencari penjelasan tambahan melalui platform seperti YouTube . aya belajar visua. , sementara 16,7% lebih menyukai mengulang latihan atau mempraktikkan langsung materi tersebut . aya belajar kinesteti. Hanya sebagian kecil responden . ,8%) yang menjawab bahwa mereka merasa mengantuk saat menghadapi materi sulit. Data ini menunjukkan bahwa gaya belajar auditorial lebih dominan di kalangan mahasiswa Gen Z yang disurvei. Gambar 5. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuCara terbaik saya menyimpan informasi adalah dengan. Ay Berdasarkan hasil jawaban pada pertanyaan kelima, 44,4% responden memilih melihat informasi yang terstruktur secara visual . , 36,1% responden menyatakan bahwa mereka menyukai cara mendengarkan dan mengulang informasi secara lisan . , dan 19,4% responden lebih mudah menyimpan informasi dengan menyentuh, melakukan, atau menggerakkan tubuh saat belajar . Mayoritas mahasiswa Gen Z merasa metode visual adalah cara paling efektif dalam menyimpan informasi, seperti melalui grafik, tabel, atau tampilan terstruktur lainnya. Namun, gaya belajar auditori juga menempati porsi yang cukup besar, bahwa sebagian besar mahasiswa lebih mudah menyerap informasi ketika mendengarkan dan mengulang informasi secara lisan. Gaya belajar kinestetik berada di posisi terakhir, yang melibatkan aktivitas fisik atau praktik Gambar 6. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuSaat ujian, saya lebih mudah mengingat materi jika. Ay Berdasarkan hasil kuisioner pada pertanyaan ke-6, mayoritas mahasiswa Gen Z . ,2%) lebih mudah mengingat materi saat ujian jika mereka mengingat catatan atau diagram yang pernah dilihat, yang mencerminkan gaya belajar visual. Sebanyak 30,6% responden mengaku lebih mudah mengingat materi melalui aktivitas praktik atau latihan P-ISSN:2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 120 Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. yang dilakukan . aya belajar kinesteti. , sedangkan 22,2% lainnya mengandalkan ingatan terhadap suara atau penjelasan yang pernah didengar . aya belajar auditoria. Hasil ini menunjukkan bahwa gaya belajar visual menjadi yang paling dominan dalam konteks mengingat materi saat ujian. Gambar 7. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuDalam diskusi kelompok, saya Ay Berdasarkan hasil kuisioner pada pertanyaan ke-7, sebagian besar mahasiswa Gen Z . ,6%) menyatakan bahwa dalam diskusi kelompok mereka lebih aktif mendengarkan dan merespons ide secara verbal, yang menunjukkan dominasi gaya belajar auditorial dalam situasi kolaboratif. Sementara itu, masing-masing 22,2% responden memilih untuk menggambar ide atau menuliskan poin penting . aya belajar visua. dan mengatur alur diskusi sambil membuat simulasi atau contoh kasus . aya belajar kinesteti. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam konteks diskusi kelompok, mahasiswa cenderung lebih nyaman dengan pendekatan komunikasi lisan secara langsung. Gambar 8. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuJika harus memilih metode belajar, saya akan memilih. Ay Berdasarkan hasil kuisioner pada pertanyaan ke-8, mayoritas mahasiswa Gen Z . ,7%) lebih memilih metode belajar visual, seperti membaca buku, melihat slide presentasi, atau infografik. Sebanyak 30,6% responden cenderung memilih metode auditorial, yaitu dengan mendengarkan rekaman atau penjelasan ulang secara lisan. Sementara itu, 25% memilih metode kinestetik, yakni dengan melakukan tugas proyek atau simulasi langsung. Hanya sebagian kecil . ,8%) yang tidak memilih. Data ini menunjukkan bahwa metode visual masih menjadi pilihan utama dalam proses pembelajaran di kalangan mahasiswa Gen Z. P-ISSN:2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 121 Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. Gambar 9. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuSejauh mana Anda memanfaatkan media digital yang sesuai dengan gaya belajar Anda dalam proses pembelajaran?Ay Berdasarkan hasil kuisioner pada pertanyaan ke-9, mayoritas mahasiswa Gen Z . ,7%) merasa belajar paling efektif jika menggunakan media digital visual seperti video, infografik, atau animasi pembelajaran. Sebanyak 30,6% responden merasa lebih efektif belajar dengan cara mendengarkan penjelasan secara langsung atau melalui rekaman audio seperti podcast. Sementara itu, 16,7% memilih metode praktik langsung melalui simulasi digital . , dan 11,1% lainnya lebih nyaman belajar secara konvensional serta jarang menggunakan media digital. Kesimpulannya, media digital visual menjadi media paling dominan dalam mendukung gaya belajar mahasiswa Gen Z. Gambar 10. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuBagaimana cara Anda membuat catatan saat belajar?Ay Berdasarkan hasil jawaban pada pertanyaan ke-10, mayoritas responden . %) lebih memilih membuat catatan dengan cara menulis tangan menggunakan pensil atau pulpen dengan membuat coretan atau sketsa di buku. Sebanyak 30,6% responden menyatakan menggunakan kombinasi antara catatan digital dan tulisan tangan, tergantung pada kebutuhan materi. Sementara itu, hanya 16,7% yang lebih suka membuat catatan digital dengan tampilan warna di laptop atau gadget, dan sisanya sangat sedikit yang memilih merekam penjelasan lalu mengetiknya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Gen Z akrab dengan teknologi, metode mencatat secara manual masih menjadi pilihan utama dalam proses pembelajaran mereka. Gambar 11. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuSeberapa sering Anda mencari materi pembelajaran melalui internet dibandingkan menggunakan buku cetak?Ay P-ISSN:2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 122 Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. Berdasarkan hasil jawaban pada pertanyaan ke-11, mayoritas responden . ,3%) menyatakan bahwa mereka sangat sering mencari materi pembelajaran melalui internet karena lebih mudah dalam mendapatkan sumber. Sebanyak 25% responden juga memilih menggunakan internet secara sering karena buku cetak dinilai terlalu sulit untuk Hanya 11,1% yang menjawab kadang-kadang, karena mereka merasa buku cetak masih membantu dalam menyajikan informasi yang lebih lengkap. Sementara itu, hanya sebagian kecil . ,6%) yang memilih tidak menggunakan internet karena lebih nyaman dan fokus dengan buku cetak. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Gen Z lebih mengandalkan internet sebagai sumber utama dalam mencari materi pembelajaran dibandingkan dengan buku cetak. Gambar 12. Grafik hasil survei dengan pertanyaan AuApa tantangan utama yang Anda hadapi dalam belajar yang sesuai dengan gaya belajar?Ay Berdasarkan hasil jawaban pada pertanyaan ke-12, terdapat tiga tantangan utama yang dihadapi mahasiswa dalam belajar sesuai dengan gaya belajar mereka, masingmasing mendapatkan persentase yang sama yaitu 27,8%. Ketiga tantangan tersebut adalah: sulit menemukan materi visual yang sesuai dan mudah dipahami, ketidakpastian terhadap gaya belajar sendiri sehingga kesulitan menyesuaikan metode belajar, dan responden merasa terganggu karena terlalu banyak distraksi saat menggunakan media digital. Selain itu, 8,3% responden menjawab mengalami kendala karena kurang lengkapnya media pembelajaran auditorial. Sisanya, minimnya kesempatan serta izin untuk praktik langsung. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan dalam pembelajaran sangat bervariasi dan berkaitan erat dengan kebutuhan individu terhadap gaya belajar masing-masing. Hasil survei terhadap 36 responden mahasiswa Gen Z menunjukkan kecenderungan gaya belajar yang unik dan bervariasi. Sebagian besar responden cenderung menyukai metode pembelajaran visual. Banyak mahasiswa yang merasa terbantu saat menerima informasi melalui gambar, grafik, warna, atau video yang menarik. Selain itu, gaya belajar kinestetik juga banyak sukai, karena mahasiswa merasa lebih mudah memahami materi ketika dapat melakukan praktik langsung, bergerak, atau menyentuh objek yang berkaitan dengan materi. Mahasiswa Gen Z menunjukkan kecenderungan untuk menghindari pembelajaran pasif seperti mendengarkan ceramah dalam waktu lama. Gaya belajar auditori memang masih digunakan dalam konteks tertentu seperti diskusi kelompok atau mendengarkan penjelasan dosen, tetapi presentasenya lebih kecil dibandingkan visual dan kinestetik. Data ini menunjukkan bahwa mahasiswa Gen Z membutuhkan metode belajar yang lebih interaktif, kreatif, dan fleksibel agar mereka bisa tetap fokus dan terlibat secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Meskipun lahir dan tumbuh dalam era digital, tidak semua mahasiswa Gen Z sepenuhnya meninggalkan cara belajar tradisional. Sebagian besar responden masih memilih mencatat materi secara manual menggunakan tulisan tangan. Kebiasaan ini dapat membantu mereka dalam proses mengingat dan memahami materi lebih dalam P-ISSN:2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 123 Elly Aulia Sujani1,Analisis Gaya BelajarA Jurnal Genta Mulia. dibandingkan mencatat secara digital. Internet menjadi sumber utama dalam mencari informasi karena dinilai praktis dan lengkap. Namun, tidak jarang pula responden menghadapi tantangan seperti gangguan konsentrasi saat belajar dengan gawai, kesulitan menemukan materi visual yang tepat, serta ketidaktahuan terhadap gaya belajar yang paling sesuai untuk diri sendiri. Temuan dari survei ini mengindikasikan bahwa mahasiswa Gen Z memiliki karakteristik belajar yang sedikit berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Generasi sebelum Gen Z memang sudah memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran, serta gaya belajar yang interaktif dan kolaboratif. Namun, mahasiswa Gen Z lebih intens dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam hampir seluruh aspek proses belajarnya. Mereka terbiasa menggunakan perangkat digital seperti smartphone, laptop, dan aplikasi pembelajaran berbasis daring sebagai bagian dari keseharian akademik. Akses terhadap informasi yang cepat melalui internet membuat mereka cenderung memilih sumber belajar yang praktis, visual, dan mudah dipahami. Temuan ini mencerminkan adanya perubahan pola belajar yang tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi, tetapi juga oleh cara berpikir dan kebiasaan generasi yang tumbuh di era digital. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Generasi Z memiliki kecenderungan gaya belajar yang berbeda-beda, dengan mayoritas memilih gaya belajar visual, yang berarti mereka menyukai bantuan gambar, warna, dan tayangan visual untuk memahami informasi. Gaya belajar kinestetik juga cukup banyak dipilih, yaitu belajar melalui praktik langsung dan pengalaman nyata. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mudah memahami materi jika terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, seperti melakukan percobaan, simulasi, atau kegiatan yang melibatkan gerakan tubuh. Sementara itu, gaya belajar auditori menempati urutan paling rendah, sehingga bisa dikatakan bahwa penjelasan lisan atau diskusi saja kurang efektif bagi sebagian besar dari mereka. Hasil ini menjawab pertanyaan penelitian bahwa mahasiswa Gen Z lebih menyukai metode belajar yang aktif, dan menyenangkan sesuai dengan karakter mereka yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan lingkungan yang serba interaktif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan sebagai tindak lanjut yang bersifat praktis dan aplikatif. Bagi tenaga pendidik, disarankan agar lebih kreatif dalam merancang dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Guru hendaknya mampu menggunakan pendekatan yang variatif, interaktif, dan kontekstual agar materi pembelajaran tidak hanya dapat dipahami secara kognitif, tetapi juga dapat membangkitkan minat dan partisipasi aktif siswa. Bagi peserta didik, pembelajaran diharapkan tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga mampu mengembangkan sikap belajar mandiri, berani bertanya, serta terbuka terhadap berbagai sumber belajar yang Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar dapat memperluas lingkup kajian dengan melibatkan variabel-variabel lain yang mungkin memengaruhi hasil penelitian, serta mempertimbangkan pendekatan metodologis yang lebih beragam agar menghasilkan temuan yang lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA