AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIHAT DALAM PERPEKTIF SOSIOLOGIS Iskandar Email: iskandar@iainlhokseumawe. Abtraks Al-QurAoan sebagai bayyinah. pembeda antara yang hak dengan bathil, baikburuk, jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah telah menjelaskan dalam surat al-Imran QS. 3: 7. tentang ayat-ayat yang dapat dipahami dengan segera dinamakan dengan ayat muhkamat sebagai pokok-pokok isi al-QurAoan (Ummul al-Kita. dan mutasyabihat ayat yang samara-samar pemahamannya. Untuk memahami ayat ini dibutuhkan ilmu yang mendalam tentang bahasa Arab dan uslub-uslubnya serta teori perubahan social yang memadai. Masyarakat dan tatananya telah banyak berubah memungkinkan orang mencari padanannya dalam al-qurAoan dengan mentaAowil ayat-ayat Perubahan itu terjadi karena efek dari industrialisasi, menjadikan masyarakat abtrak tanpa wajah kemanusiaan. Dalam konteksnya, manusia dan peranannya menjadi samar-samar . Karena itu ayat mutasyabihat menjadi penting dikaji dalam perpektif Kata Kunci: Ayat Muhkamat. Mutasyabihat. Sosiologis Iftitah Dialah yang menurunkan Kitab (Al-QurAoa. kepadamu (Muhamma. Diantaranya ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-QurAoa. dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencaricari taAowilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata. AuKami beriman kepda (Al-QurAoa. , semuanya dari sisi Tuhan kami,Ay Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. ISKANDAR Al-Mabhats with CC BY-SA license. Copyright A 20, the author. AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Al-QurAoan sebagai Hudan. Furqa. Baiyyinah. Keseluruhan itu merupakan petunjuk kepada ummat manusia yang diwahyukan Allah kepada Muhammad lewat perantara Jibril as. 15 abad yang Menurut pendapat jumhur ulama Al-QurAoan pertama sekali diturunkan pada malam 17 Ramadhan yang diawali dengan 5 ayat dalam surat al-AoAlaq yaitu ayat pertama sampai dengan ayat ke lima. Tidak ada yang membantah tentang keotentikanya, kecuali beberapa perbedaan qiraAoat yang berlainan dengan QiraAoat resmi, qiraAoat Zeid bin Tsabit dalam mushaf Utsmani. (Ignaz Golziher: 2006, . Al-QurAoan sebagai Hudan telah menunjuki kiprah dan perjalanan rasul serta perjuangan sahabat sehingga menjadikan mereka komonitas ideal dalam pergaulan dunia saat itu. Menjadi generasi ideal, tentu karena mereka berpegang pada Al-QurAoan yang sama dengan al-quAoan yang kita baca saAoat ini. Al-QurAoan sebagai pembeda antara yang hak dengan bathil, baik-buruk, jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-qurAoan inilah yang memandu mereka yang sekarang kita juga berpegang padanya. Saat itu, semua persoalan terjawab dengan segera baik dengan wahyu maupun melalui pejelasan Rasul sendiri. Selain itu konteks mereka juga paling dekat dengan AlqurAoan. Banyak ayat-ayat khusus menceritakan kejadian-kejadian saAoat itu seperti kutukan terhadap Abu Lahab. Kemenangan Kaum muslimin terhadap Romawi. Perang Badar, penyucian Aisyah, orangorang munafiq dan lain sebagainya. Sehingga ayat-ayat mutasyabihat bukan hal yang paling esinsial buat mereka kecuali beberapa sahabat yang menaruh perhatian tinggi terhadap makna-makna tersirat dalam ayat itu. Rasul sendiri pernah menyindir orang-orang yang Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. coba menta'wilkan ayat mutasyabihat dianggap menuruti hawa nafsu seperti yang disinyalir Allah dalam Al-QurAoan (QS. 3: . Berkaitan dengan itu - tidak begitu besar perhatian mereka pada ayat-ayat mutasyabihat - dapat dipahami karena mereka sebagai masyarakat konkret, semua persoalan dapat diselesaikan dengan segera. Sebagai masyarakat konkrit semua masalah juga terang dan jelas. Berbeda dengan kondisi sekarang barang kali, memungkinkan orang-orang coba mencari jawabnya dalam al-qurAoan dengan taAowil ayat-ayat mutasyabihat dalam al-qurAoan. Bagaimana masyarakat dapat berubah. Menurut Kuntowijoya, masyarakat sekarang mengalami dehumanisasi. Hal ini terjadi karena efek dari Menjadikan kemanusiaan (Kuntowijoyo, 2005: . Semua menjadi samar-samar . Karena itu ayat mutasyabihat menjadi penting dikaji. Tentunya dalam hal ini penekanannya adalah pada makna muhkamat dan mutasyabihat dalam makna khasnya yaitu ayat yang terang samar-samar Penting disini disinggung tentang ada beberapa perbedaan konteks kehidupan sahabat saat itu dengan masyarakat sekarang. Perbedaan masyarakat kongkret untuk zaman klasik dan masyarakat abtrak untuk masyarakat modern saat ini. Masyarakat kongkret, di mana semua orang berusaha dengan "tangannya sendiri" sementra masyarakat abtrak . dengan dengan cara yang lebih ISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Meskipun tidak semunya seperti itu. Masyarakat kongkret menyampaikan pesan harus dengan jarak-dekat dan jikapun mereka mencuri juga dengan tangannya sendiri. Masyarakat abtrak sekarang, pesan cukup disampaikan dengan jarak-jauh dan jikapun mencuri cukup dengan telunjuknya saja. Berdasarkan itu maka konsekwensinya barangkali akan menjadi tidak adil jika pencuri sekarang diperlakukan sama dengan hanya dipotong tangannya saja misalnya. Mendapati kondisi yang berbeda antara dulu dan sekarang maka Al-QurAoan sebagai petunjuk perlu dipahami lebih mendalam dengan menginternalisasikan kultur . dan perubahan Sebagai contoh sekarang ketidakjelasannya zakat Gaji dan Profesi, setidaknya ada sebagian dari kita yang tidak mengamini zakat gaji dan profesi. Variatif hukuman potong tangan sebagai batasan maksimal dengan hukuman lain di bawah standar kesalahan Semua latarbelakang dalam memahami ayat Al-QurAoan baik yang muhkamat maupun mutasyabihat sekarang. Karena keikutsertaan kultur . masyarakat dalam semangat wahyu itulah kemudian tulisan ini coba menjelaskan duduk "perkara" ayat muhkamat dan mutasyabihat dengan perpektif Kenapa dengan sosiologis. Sekali lagi karena Al-QurAoan diturunkan ditengah-tengah masyarakat Arab yang memiliki kultur tersendiri ditopang oleh beberapa struktur sederhana seperti dalam ke-kabilah-an. Selain itu mereka juga memiliki bahasa dengan tiga Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. perubahan yang kemudian digunakan sebagai bahasa dalam merekam pesan-pesan wahyu. Bahasa Arab sendiri adalah produk budaya meskipun al-qurAoan ikut meyempurnakannya dengan serapan dari beberapa bahasa asing. (Salahuddin, 2007: . Mengingat lemahnya dan terbatasnya tiori linguistik dalam menangkap pesan-pesan sehingga banyak hal yang tidak dapat dijelaskan kepermukaan ketika dihadapkan dengan Untuk itu dalam kajian ini penulis akan melihat secara konteks-sosiologis. Dalam konteks ini nanti juga akan bersentuhan dengan struktur Ae ini adalah bahagian dari kajian sosiolagi Ae sebab dalam masyarakat sekarang yang paling mengwarnai adalah kekuatan struktur bukan kekuatan individu. (Giorge Ritzer Ae Doglas Goodman, 2007: . - inipun jika nanti dianggap penting. Artinya memahahami ayat mutasyabihat semata-mata dengan kekuatan bahasa itu lemah. namun bila makna ayat dan kenyataan dengan jelas dan gamblang tersurat maka tidak ada makna lain yang perlu dicari-cari, sebab bahasa tidak mampu merangkul semua makna. ralitas apalagi yang ghaib. Sebab itulah Allah menurunkan ayat-ayat mutasyabihat agar dapat dimaknai dan memaknai kehidupan manusia sebagai petunjuk sepanjang masa hingga akhir zaman . allahu aAola. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih Allah telah menjelaskan dalam surat al-Imran QS. 3: 7. tentang ayat-ayat yang dapat dipahami dengan segera dinamakan dengan ayat muhkamat sebagai pokok-pokok isi al-QurAoan (Ummul alISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Kita. dan mutasyabihat ayat yang samara-samar pemahamannya. Untuk memahami ayat ini dibutuhkan ilmu yang mendalam tentang bahasa Arab dan uslubulubnya serta kesadaran social yang tinggi. Selama persoalan dapat dirujuk pada nash yang sareh . tidaklah perlu menggunakan ayat mutasyabihat. Kecenderungan menafsirkan ayat mutasyabihat untuk memperoleh taAowil lain selain yang sudah jelas tersebut dalam nash muhkamat disinyalir oleh Allah sebagai orang yang memperturutkan hawa nafsu dan mereka ini condong kepada kesesatan. Takutlah kita pada hal yang demikian. Pengertian ayat Muhkamat Pengertian secara Aoamm Secara bahasa kata-kata Muhkam ) A )IEIAberasal dari hakamtu ad-dabbata wa ahkamtu. Sementara al-Hukm berarti memutuskan antara dua hal atau perkara. Oleh karena itu ungkapan hakim dinisbahkan kepada orang yang memutuskan perkara atau yang memisahkan para pihak yang bersengketa, antara yang hak dan yang bathil dan antara kebenaran dan kepalsuan. (Manna' Khalil al-Qattan, 2007: . Kata ini juga berpadanan dengan hikmah yang dapat diartikan kejelasan ketetapan, tidak lagi goyah. Muhkam yang bermakna " ketetapan" yang tegak, tidak plinplan sehingga dangan itu menjadi pegangan, referensi, rujukan, pendirian, kongkrit, kokoh. Ihkam al-kalam berarti mengokohkan perkataan dengan memisahkan dari perkataan yang benar dengan yang salah, lurus dari yang sesat. Dengan pengertian inilah Allah mensifati kalam-Nya kepada kita, menjadi kokoh, jelas serta bebas dari kesalahan, keraguan. Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Sebagaimana ditegaskan dalam firmannya QS. Hud: 1. QS. Yunus: 1. QS. Luqman: 2 QS. al-Baqarah: 2. Dalam konteks ini seluruh al-QurAoan adalah muhkam , sebab kata-kata, pengulangannya yang bahasanya jelas Terindifikasi disini dimaksudkan bahwa tidak ada satu kata-katapun yang "terasing" dari makna harfiahnya. Pengertian Secara Khas Untuk ayat muhkam sering disebut sebagai ayat yang mudah diketahui maksudnya atau sering juga diistilahkan dengan ayat yang memiliki satu wajah karena itu ayat muhkamat juga disebutkan sebagai ayat yang berdiri sendiri tanpa perlu penerangan, dapat diketahui maksudnya secara langsung, atanpa memerlukan keterangan lain. Ayat ini memiliki makna dan maksud yang jelas tanpa harus berijtihat dengan sangat. Seumpama perintah shalat. " Alakukanlah shalat untuk mengingat AllahA" ayat seperti ini jelas sekali apa Allah. ttp://iqro. Word press. Com/2007/82/13/metode-memplajari alquran/February, 13, 2. Untuk mengingat Allah ya shalat. Kirakira begitu dapat kita komentari untuk menjelaskan keterangan ayat di atas. Dan banyak ayat lain akan diterangkan kemudian. Pengertian Ayat Mutasyabihat Pegertian Secara 'Amm Mutasyabih secara bahasa berarti tasyabuh memiliki makna "serupa" satu dengan yang lainnya. Kata-kata Tasyabbaha bi syaiin memiliki makna "menyerupai dengan sesuatu". Syubhah memiliki ISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. makna "samar-samar" yaitu sesuatu dari dua hal tidak dapat dibedakan dari yang lain karena ada kemiripan keduanya. Lebih jauh mugkin kita sering mendengar ungkapan istilah "harta syubhat" dalam perpektif negative, kata ini memiliki makna bahwa harta itu tidak jelas, samar-samar antara keharaman dan kehalalanya. Makna lain dari mutasyabihat adalah mutamatsil . dalam perkatan dan Antara ayat yang satu dengan yang lain saling Pengulangan-pengulangan yang serupa terdapat pada semua surat. Dalam konteks ini berarti seluruh al-QurAoan adalah mutasyabihat dari segi susunan bahasa dan keindahannya. Begitu kurang lebih uraian Manna' Khalil al-Qattan dalam Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur'an. Pengertian Secara Khas Secara umum pengertian ayat mutasyabihat disampaikan dalam beberapa model. Pertama, ayat mutasyahbih adalah ayat dimana maksudnya hannya Allah yang mngetahuinya. Kedua, bahwa ayat mutasyabihat memiliki banyak wajah. Ketiga, ayat mutasyabaih memerlukan penjelasan lebih lanjut ole ayat yang lain atau ayat ini tidak berdiri sendiri tetapi memerlukan keterangan tertentu pada kali yang lain. (Manna' Khalil al-Qattan, 2007: . Pendekatan Muhkamat dan Mutasyabihat Mengenai al-Qur'an menerangkannya secara jelas dalam tiga ayat. Mengenai al-Qur'an seluruhnya muhkamat diterangkan dalam ayat QS. Hud: 1: Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. EAsAoEIAEAEA EACANEaA A CEAEANCCEAIE " Asebuah kitab yang disempurnakan . Sementara mutasyabihat seluruhnya diterangkan dalam QS. az-Zumar: 23: AAoAEaACCAICiAC AAoACANEaA A ICeEaAiAACAC "A. al-Qur'an yang serupa . lagi berulangulangA" Dan yang ketiga menerangkan bahwa al-QurAoan itu ada yang muhkmat dan ada yang mutasyabihat. Hal ini diterangkan dalam al-Imran ayat 7. Artinya: Dialah yang menurunkan Kitab (Al- QurAoa. kepadamu (Muhamma. Diantaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-QurAoa. dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencaricari taAowilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata. AuKami beriman kepda (Al-QurAoa. , semuanya dari sisi Tuhan kami,Ay Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. ( QS. ISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Dan jika dicermati dengan seksama beberapa definisi mutasyabihat yang berikan oleh para pakar ternyata tidak ada pertentangan mengenai adanya ayat mutasyabihat dan muhkamat dalam al-QurAoan. Hannya saja nanti terjadi perselisihan pada apakah yang mutasyabihat dapat dita'wilkan atau tidak. Sebelum kita mulai me-munaqasyah-kan perselisihan itu mari kita lihat beberapa model ayat mutasyabihat dalam al-Qur'an. Dalam al-Qur'an terdapat tiga model kesamaran . Pertama. Tasyabuh bil lafdzi Kedua. Tasyabuh bil ma'na dan Ketiga, tasyabuh bil lafdzi a ma'na. Tasyabuh bil lafdzi dapat kita temkan dalam surat QS. 'Abas 80: 31 Audan buah-buahan serta aIA AoaEIACEIA rerumputanAy Kata-kata aban disini jarang digunakan yang berarti "rumput", makna "rumput" itu sendiri ditemukan pada penjelasan ayat berikutnya: QS. AoAbas 80: 32 EAEAEaoCAiEAeAUAIA EAEACA AAoiCANCAC Au. emua it. untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmuAy Selanjutnya tasyabuh bil ma'na hal ini menyangkut tentang sifat-sifat Allah, maknanya jelas kita tahu akan tetapi bagaimana sesungguhnya kita tidak mengetahuinya. Contoh: Al-Fath QS. 48: 10 " tangan . A EAaEsACOEOCOECEAA AEycE Ca ECOCE. Allah di atas tangan mereka " Yang terakhir tasyabuh bil lafdzi wa ma'na seumpama ayat alQurAoan QS. al-Baqarah: 189: AAyciAEAA aEaA CiCaEOAEa AnECOAIA A . aEsCcycEAIeE AEaAC CoAnycECOEAEa Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. A ACIACa ENAAC nCaEOAEa CAEIACAIA EAEaAC CoAnycECUEAEa AAycIeACaIA AAyciAEAIA aEaACIycEa CoAycEEaAEEiA EAaIeACAAiA Ca Ayat ini hanya dipahami oleh mereka yang berkaitan dengan berita yang terkandung ayat tersebut. Yaitu dapat kebiasaan bangsa Arab jaman Jahiliyah. Diriwayatkan bahwa saAoat itu tatkala berihram maupun umrah mereka tidak memasuki rumahnya dari pintu depan akan tetapi melalui lubang yang digali di belakang rumah mereka. Inilah yang disampai Allah sebagai pekerjaan yang tidak baik. (Ahmad Syazali. Ahmad Rofi'I, 2006: . Kemudian, perselisihan boleh tidaknya menta'wilkan ayat mutasyabihat ini dimulai pada perbedaan pembacaan terhadap ayat ketiga diatas yaitu surat al-Imran ayat 7. Sementara pada dua ayat sebelumnya tidak dipertentangkan karena memang ayat-ayat dalam al-QurAoan itu ada yang muhkamat dan ada yang mutasyabihat. Dalam ayat ini Allah menginfomasikan bahwa dalam alQurAoan terdapat ayat muhkamat. yang dapat dipahami dengan mudah yang juga disebutkan dengan istilah umul kitab selain itu juga Upaya mutasyabihat dilakukan dengan ta'wil. Penta'wilan ini kemudian menjadi perdebatan apakah ayat itu dapat dipahami atau tidak. Lalu siapa yang berhak menta'wilkan ayat tersebut. Allah sajakah yang tahu ataukah memang Allah memberikan peluang pemahaman ayat ini dengan ta'wil kepada orang yang mendalam ilmunya . Perbedaan perpektif ini semata-mata karena terdapat beberapa bacaan menurut masing-masing pakar. Permasalahan itu ISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. dimulai pada letak peng-wakafan ayat 7 dalam surat al-Imran dalam kalimat ayat "warraashikuuna fi al-'ilmi" Apakah kedudukan kalimat itu sebagai mubtada' yang diawali dengan "wauw" berkedudukan sebagai huruf isti'naf, sementara "yakuunuuna" sebagai khabar sehingga wakaf pembacan ayat itu pada "wama ya'lamu ta'wiilahu illa Allah". Ataukah ia ma'tuf karena huruf "wauw" sebagai huruf 'ataf sementara "yakuuna" menjadi hal dan wakafnya pada lafaz "warrashikhuuna fii ilmi". Pendapat pertama disepakati oleh sejumlah ulama seperti Ibn MasAoud. Ibn Abbas dan sejumlah tabi'in lainnya. Sebab ini kerena mereka juga didukung oleh masing-masing qiraAoatnya Ibn Abbas dan qira'at Ibn Mas'ud misalnya yang sesuai dengan pendapat pertama. Selain itu pendapat pertama juga didukung oleh hadiht yang diriwayatkan 'Aisyah ra. : "Dari 'Aisyah ia berkata: Rasulullah membaca ayat ini "huwallaziA. ilakh sampai ulul albab". Kemudian berkata "Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat mutasyabihat mereka itulah yang disinyalir Allah. Maka waspadalah kepada mereka". (Shahih Bukhari, tt, t. Pendapat Mujtahid. Dalam riwayatnya menerangkan bahwa "saya telah membaca mushaf kepada Ibn Abbas dengan tuntas dari al-Fatihah sampai an-Nass dan saya pelajari sampai tamat kata-kata satu-persatu dan saya tanyakan tafsirnya kepada Ibn Abbas". Sementara Ibn Abbas memiliki qira'at tersendiri yang cenderung kepada pemahaman yang pertama karena itu pendapat kedua menurut penulis lemah. Meskipun kemudian Imam Nawawi dalam Syarah Muslim-nya lebih menyepakati Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. pendapat yang kedua sebab tidak mungkin Allah menurunkan ayat untuk menyeru manusia tapi mereka tidak memahaminya. Dalam konteks Nawawi, sebetulya dapat dipahami duduk Allah tidak mungkin menurunkan ayat sebagai Penerang. Pembeda. Petuntuk menerangi, tidak dapat membedakan antara yang hak dengan yang Sebetunya ini telah menggugurkan maksud pewahyuan itu Memang ta'wil (Ibn Ja'far Muhammad Ibn Jarir at-Thabary. Allah kecenderungan penulis pada pemahaman yang Tetapi makna ta'wil yang hannya diketahui Allah adalah ta'wil yang hakiki. Secara hakiki Allahlah yang paling mengetahui. Kebenaran yang hakiki semua itu disisi Allah, "al-Hakku min Rabbikum". Sementara manusia dengan kesungguhannya, keihklasanya dan dengan pertolongan Allah, kedalaman pengetahuannya juga dapat menta'wilkan ayat. Bukankah Rasul pernah mendo'akan Ibn Abbas agar ia menjadi seorang yang paham dalam agama dan ta'wil. (Ahmad Syazali. Ahmad Rofi'I, 2006: . AEENI ACNN AO EOI O EIN OOEA Namun perlu diingat. Allah menghardik orang-orang yang mencari-cari ta'wil dengan dilandasi hawa nafsu. Dilandasi hawa nafsu disini adalah bagi mereka yang mencari makna-makna . enta'wila. dibalik ayat mutasyabihat sementara mereka masih memiliki ayat lain yang lebih terang dan jelas untuk menjawab persoalan-persoalan mereka. Upaya untuk menghindari konsekwensi ISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. dari makna ayat yang sudah jelas dan terang hukumnya dengan mencari-cari keringanan pada ayat mutasyabihat sebagai dalil agar dapat konsekwensi baru yang lebih ringan. Itulah yang dihardik Allah sebagai orang yang condong pada kesesatan. Sementara jika ada persoalan yang perlu jawaban dan jalan keluarnya, maka ayat-ayat Allah yang Maha Luas, artinya para mufassir masih memiliki ruang untuk menyelami ayat-ayat al-qurAoan bila ada persoalan yang mengganjal dan bukan karena mencari-cari jalan menuruti hawa nafsu. Bukankah al-QurAoan diturunkan untuk memberi pentunjuk dan menunjuki manusia siapapun, kapanpun dan dimanapun. Selain itu ayat mutasyabihat ini akan menjadi khazanah al-QurAoan sampai akhir zaman. Ayat inilah yang akan didefinisikan secara terus menerus dan kaya hikmah. Tidak mungkin Allah menurunkan ayat yang sia-sia. Namun ada pendapat yang lebih ekstrim. Abu Zayd (Heri Salahuddin, al-QurAoan diwahyukan akan menjadi milik pembaca, sebagaimana pemanahn Derida. Meskipun pendapat ini bagi penulis kurang pas dipakai untuk memahami al-qurAoan, sebaba pesan-pesan al-qurAoan pasti akan dipahami maknanya bagi mereka yang ikhlas dan dalam petunjuk Allah. Sementara teori Derida digunakan dalam memahami injil yang Al-qurAoan. Al-qurAoan Allah Dan Namun bagi penulis memamahaminya tidak bagi semua pembaca. Bagi ayat yang jelas memang jadi miliki pembaca, namun berbeda dengan ayat ayat-ayat yang mutasyabihat. Ayat ini Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. tidak boleh bebas diinterpretasikan kecuali bagi mereka yang berilmu, ihklas dan selalu memohon pentunjuk Allah swt. Sebab ketika teks diwahyukan pertamakalipun terikat dengan konteks sa'at itu, artinya terdapat sebagian besar ayat menjelaskan kondisi masyarakat saAoat itu dan juga kadang-kadang menjawab persoalan yang terjadi pada waktu itu. Al-QurAoan disampaikan oleh ruh al-amin dalam makna-maknanya kepada Nabi Muhammad dan bahasa Qaum Quraiy dan Rasullullah Muhammad adalah bahasa Arab (Ibn Ja'far Muhammad Ibn Jarir at-Thabary, 1995: . , bahasa yang lebih baik dalam menyerab makna dan maksud pesan. Bahasa yang sudah digunakan sehari-hari masyarakat Arab. Hal al-Qur'an memposisikan dirinya sebagai media informasi. Pada waktu itu alQur'an menginformasikan tentang hal-hal ghaib kepada mereka seperti cerita nabi Yusuf dan Zulaikha yang begitu detail. FirAoun dan Haman. Ashabul Aykah. Kaum 'Add. Tsamud dan lain sebaginya. Sementara yang lain untuk menjawab pertanyaan ujian mereka terhadap al-QurAoan seperti dalam kasus ashabu al-Kahfi. Zulkarnai. Mereka menanyakan tentang Haid. Ruh, ke-Esa-an Allah yang dijawab dengan surat al-Ikhlas dan lain sebagainya. Di sisi lain wahyu juga mengkonfirmasikan sesuatu kebiasaan yang salah dengan menjelaskan cara yang benar kepada masyarakat Arab sa'at itu dan juga untuk seluruh manusia. Bagaimana al-Qur'an memahami keinginan manusia saAoat itu untuk berbuat baik dan menyembah Tuhannya sebagai Sang Pencipta, lalu al-Qur'an menjelaskan tentang shalat, zakat, dan sebagainya. ISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Semangat ratifikasi, al-QurAoan mengakui beberapa tradisi Arab dan menshahihkan yang baik dan membuang yang tidak benar. Hal ini dapat kita pahami misalnya dengan warisan. Tradisi warismengwari telah terjadi dalam masyarakat Arab tapi belum Kawin juga diratifikasi kembali dari jumlah yang tidak terbatas cukup empat saja, percampuran atau penyatuan satu saudara dalam satu perkawinan tidak lagi dibenarkan. Dalam konteks ini al-QurAoan benar-memahami kondisi Tentu kontek masyarakat akan berbeda dari segi tempat dan masa. Perbedaan itupun berlapis-lapis. Pertama perbedaan jarak waktu dan iklim . Allah Maha Mengetahi betapa perbedaan itu dalam batas-batas maklum. Sosiologi simbolik Arab akan berbeda jauh dengan masyarakat di luar itu. Meskipun demikian pengaruh globalisasi moderent beberapa pranata social hampir sama diseluruh dunia karena kemajuan teknologi dan system Perubahan dan pergeseran itu telah dan sedang terjadi dalam Namun perlu diingat betapapun dunia akan berubah namun nilai-nilai yang disampaikan dalam al-qurAoan selalu relevan hingga akhir zaman. Karena memenag al-qurAoan ini sebagai petunjuk bagi manusia akan berlaku hingga akhir. Hanya saja kita yang terlalu dangkal kadang-kadang dalam menyelamai samudra hikmah dan petunjuk dalam al-qurAoan. Pergeseran lain, dahulu orang kaya adalah mereka yang memiliki tanah pertanian sehingga disebut tuan tanah. Sementara orang kaya sekarang adalah mereka yang memiliki saham di berbagai bursa efek di seluruh dunia. Dulu orang yang memiliki padi dalam konteks kita misalnya menjadi sangat penting, sekarang harga Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. sekarung padi sama dengan empat potong Hamburger atau roti Paparon. Padi sudah digeser oleh prodak lain. Hasil pertanian menjadi sempit, belum lagi petani berperang dengan hama penyakit. Dulu padi memiliki peran penting maka wajar jika zakat padi dikenakan 5 Ae 10 % tapi dalam kondisi sa'at ini hal itu perlu ditinjau kembali sebab padi sekarang disamping harganya murah biaya perawatannya . pupuk mahal dan langka, bibit harus diimpor, anti hama, irigasi dan lain sebagainya. WallahuaAoalam. Jika kita sepakat sampai pada tahap ini maka komposisi ayat muhkamat dan mutasyabihat dalam al-QuraAoan perlu dihitung Kemudian muhkamat dan mutasyabihat akan dapat digunakan sebagai salah satu metode dalam mengistimbatkan hukum. Ini sebagi contoh dan kita tidak sedang mendiskusikan ini lebih jauh. Beberapa Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat Syeh Muhammad Ahmad Malqub mengenai ayat-ayat muhkam dalam kirangannya berjudul Ayaat alMuhakkamat. al-Tauhiid wa al-Ibaadaat wal mu'aamalah. Beliau membagi ayat itu ke dalam tiga rumpun: Pertama, kelompok ayat-ayat tauhid yang menerangkan tentang sifat-sifat Allah yang dua puluh, diantaranya QS. al-Ihklas 112: 1-4, . QS. Ibrahim14: 10. Kedua, kelompok ayat ibadah . diantarnya adalah: QS. al-Maidah 5: 6. QS al-Furqan: 49. QS al-Baqarah 2: 15. ISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Ketiga, mengenai muAoamalah tersebar dalam beberapa surat diantaranya adalah. QS al-Baqarah 2: 231, 232, 275, 282. QS an-Nisa'. 4: 3. Sementara ayat-ayat mutasyabihat diantaranya sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Yang lain tersebar dalam al-Qur'an diantaranya adalah: QS Thaha 20: 5 EECECsAiEa CeAE EACAAOEycnCsa ACeIycANECoAA Auyaitu Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemanyam di atas ArsyAy ACACAEaA AEAC eCOA CAIA CcAAEA A IyciA CAEaA ACAEaA AOA C CsaIE EAA A CEaEAIA CAEaA EAEa AeAC AycEiAAECsiA EaAECUAEaAIA EAEAAEEa Ausegala sesuatu pasti binasa kecuali wajahnyaAy QS al-Qasass 28: 88 A EAaEsACOEOCOECEAA AEycE Ca ECOCE. Autangan Allah di atas tangan merekaAy QS al-Fath 48: 10 CEsEaCOAAEaE AEycE ECsEaEa IyciAIA AuDialah yang memiliki kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-NyaAy QS al-AnAoam 6: 61 IeaoEaIA AACiAICc IEAAuAAIA AAEAC AAEAC Audan Tuhanmu, berbaris-barisAy QS al-Fajr 89: 22 AACEEAe Ca EAaIeAECcEOACUAEuECEIA . Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. AuAdan Allah diri-Nyay QS al-Imran 3: 28 Ihktitam Demikianlah uraian tentang ayat muhkamat, mutasyabihat dalam al-QurAoan. Tentu uraian ini tidaklah mengwakili semua hal dalam muhkamat dan mutasyabihat dengan hanya beberapa lembar kertas ini karena keterbatasan ruang. Namun setidaknya akan menjadi renungan serta wacana intelektual kita tanpa akhir. Kepada Allahlah kami memohon pertolongan dan ampunan atas segala kekurangan dan kesalahan dalam menguraikan permasalahan ini. Term ayat muhkamat, mutasyabihat dalam al-QurAoan telah diperbincangkan sejak awal. Sejak ayat yang diangab samar-samar . diwahyukan dan juga sebalikya. Ada hal lain untuk memahami al-qurAoan yaitu dengan munasabah ayat yang tidak sempat kita bahas dalam tulisan ini. Motode munasabah ayat agak telat disadari. Sebab sebelum itu untuk memahami ayat cenderung para mufassir menngunakan dengan pendekatan periwayatan dari rasul . afsir riwaya. , balaghah . dan asbab an-nuzul. Sementara munasabah jarang digunakan itupun setelah terdapat beberapa ayat yang tidak ditemukan periwayatan asbab an-nuzulnya sehinga disadari sesunguhnya peletakan ayat-ayat itu tidak saja untuk keindahan, kesesuiaan lafadz-lafadznya akan tetapi lebih dari itu yaitu penjelasan tentang makna dan fungsi ayat itu sendiri. Allah Maha Benar. Maha Tepat Ukuran-Ukurannya. Kongkrit Bilangannya dan Benar Perhitungannya. ISKANDAR AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Akhirnya kepada-Nyalah Ampun Tentu pennulis menyadari betul bahwa tulisan ini memiliki segala kekurangan baik dari segi konsep maupun teknis. Jika ini sebagai gagasan maka sungguh banyak hal yang masih teralpa-kan dan jika ini untuk mengajak kepada kebenaran sungguh tulisan ini perlu koreksi dan bimbingan. Wallahu aAolam bissawab. Ayat Muhkam dan Mutasyabihat dalam Perpektif Sosiologis AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. DAFTAR RUJUKAN Al-QurAoan Terjemahan. Departemen Agama RI, edisi 2002. Pena alQur'an (Jakarta: 2. Ahmad Syazali. Ahmad Rofi'I. Ulumul Qur'an, jil. I, cet. Pustaka