Jurnal Ekologi. Masyarakat dan Sains E-ISSN: 2720-9717 Volume 3. Nomor 1, 2022 ECOTAS https://journals. org/index. php/ems https://doi. org/10. 55448/ems Ulasan Film Riwayat Artikel: Masuk: 11-11-2025 Diterima: 02-12-2025 Dipublikasi: 18-01-2026 Cara Mengutip Wafa. Muhammad Khoiril. Agostin Khoirunnisha. Zahratul AoUyun, dan Tri Utami Oktafiani. AuKesadaran Ekologis Dalam Film Pulau Plastik: Kajian Filsafat Ekosentrisme Arne NaessAy. Jurnal Ekologi. Masyarakat Dan Sains 6 . : 281-87. https://doi. org/10. Lisensi: Kesadaran Ekologis dalam Film Pulau Plastik: Kajian Filsafat Ekosentrisme Arne Naess Ecological Consciousness in the Film Pulau Plastik: An Analysis of Arne Naess's Ecocentric Philosophy Muhammad Khoiril Wafa1. Agostin Khoirunnisha2. Zahratul AoUyun3. Tri Utami Oktafiani4 1,2,3,4 Prodi Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang Penulis koresponden: 2204016023@student. Abstrak: Penelitian ini menganalisis representasi krisis polusi plastik dalam film dokumenter "Pulau Plastik" melalui lensa filsafat Ekosentrisme Arne Naess atau Deep Ecology. Film dokumenter ini menyoroti dampak buruk sampah plastik di Indonesia sebagai krisis Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian film dan analisis konten filosofis, penelitian ini bertujuan mengevaluasi sejauh mana narasi visual dan verbal film sejalan dengan prinsip-prinsip Ekologi Dalam Naess, seperti Biospherical Egalitarianism, nilai intrinsik alam, dan konsep Self-realization yang luas. Hasil penelitian menemukan bahwa Pulau Plastik berhasil melampaui kritik lingkungan yang dangkal (Shallow Ecolog. Film ini tidak hanya menuntut reformasi kebijakan tetapi juga secara implisit mendorong pergeseran nilai fundamental dari antroposentrisme ke ekosentrisme. Film ini menantang penonton untuk menyadari diri sebagai bagian integral dari keseluruhan biosfer. Kesimpulannya, film Pulau Plastik berfungsi sebagai alat pedagogi lingkungan yang kuat, mempromosikan kesadaran ekologis mendalam yang esensial untuk solusi krisis lingkungan yang berkelanjutan. Kata Kunci: Pulau Plastik. Arne Naess. Kesadaran Ekologis. Abstract: This research analyzes the representation of the plastic pollution crisis in the documentary film "Pulau Plastik" (Plastic Islan. through the lens of Arne Naess's philosophy of Ecocentrism or Deep Ecology. The documentary highlights the devastating impact of plastic waste in Indonesia as an existential crisis. Using a qualitative method with a film studies approach and philosophical content analysis, this study aims to evaluate the extent to which the film's visual and verbal narratives align with Naess's principles of Deep Ecology, such as Biospherical Egalitarianism, the intrinsic value of nature, and the concept of broad SelfArtikel ini berlisensi Creative realization. The findings reveal that "Pulau Plastik" successfully transcends superficial Commons Attributionenvironmental criticism (Shallow Ecolog. The film does not merely demand policy reform NonCommercial 4. but implicitly encourages a fundamental value shift from anthropocentrism to ecocentrism. International License. challenges the audience to recognize themselves as an integral part of the entire biosphere. conclusion, the film "Pulau Plastik" serves as a powerful environmental pedagogy tool, promoting the profound ecological consciousness essential for sustainable solutions to the environmental crisis. Keywords: Pulau Plastik. Arne Naess. Ecological Consciousness Hak Cipta . 2025 Jurnal Ekologi. Masyarakat dan Sains Wafa. Muhammad Khoiril. Agostin Khoirunnisha. Zahratul AoUyun, dan Tri Utami Oktafiani. AuKesadaran Ekologis Dalam Film Pulau Plastik: Kajian Filsafat Ekosentrisme Arne NaessAy. PENDAHULUAN Krisis lingkungan global, yang ditandai keanekaragaman hayati, telah mencapai titik kritis, dan di Indonesia, masalah polusi plastik laut menjadi salah satu isu paling mendesak yang dihadapi negara kepulauan ini (Widodo & Handayani, 2. Jutaan ton sampah plastik memasuki perairan setiap tahun, merusak masyarakat melalui mikroplastik yang masuk ke rantai makanan, dan mencoreng citra pariwisata. Fakta ini menegaskan bahwa krisis ekologis bukan sekadar masalah teknis, melainkan sebuah krisis moral dan eksistensial yang berakar pada cara pandang antroposentris manusia terhadap Film dokumenter Pulau Plastik . muncul sebagai respons visual dan naratif terhadap krisis ini, menyajikan investigasi mendalam mengenai rantai pasok dan dampak limbah plastik, khususnya di Bali dan Jawa, serta menampilkan perjuangan aktivis dan masyarakat yang terdampak. Untuk menganalisis potensi pesan mendasar dan dampak transformatif dari film ini, diperlukan kerangka filosofis yang melampaui sekadar solusi teknis. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan Filsafat Ekosentrisme atau Deep Ecology yang digagas oleh Arne Naess, yang berpendapat bahwa solusi sejati terletak pada pergeseran ke pandangan ekosentris yang mengakui nilai intrinsik semua bentuk kehidupan (Naess, 2020. Ohoiwutun. Penelitian mengidentifikasi bagaimana film Pulau Plastik menganalisis sejauh mana konsep-konsep kunci Deep Ecology Naess, seperti Biospherical Egalitarianism dan Self-realization yang luas, terefleksikan dalam narasi film, serta mengevaluasi potensi film dalam menumbuhkan kesadaran ekologis mendalam yang esensial untuk perubahan perilaku fundamental. Film dokumenter ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, tetapi juga sebagai media refleksi moral dan sosial. Melalui visualisasi yang kuat dan narasi yang menggugah. Pulau Plastik mengundang penontonnya untuk meninjau kembali relasi manusia dengan alam. Pendekatan visual yang digunakan menggabungkan kesaksian warga, data ilmiah, dan simbol-simbol ekologis untuk membangun kesadaran kolektif bahwa krisis plastik bukan semata akibat dari konsumsi individu, tetapi hasil dari sistem ekonomi global yang berorientasi pada keuntungan tanpa batas (Hidayat & Puspitasari, 2. Film ini mengangkat suara masyarakat yang sering terpinggirkan dalam wacana pembangunan, terutama mereka yang hidup bergantung pada sumber daya laut, dan menghadirkan realitas ekologis dalam bahasa yang dapat dipahami publik luas. Dalam perspektif Deep Ecology, manusia dipandang sebagai bagian integral dari jejaring kehidupan, bukan sebagai penguasa tunggal atas Film ini dengan cermat menggambarkan prinsip tersebut melalui adegan-adegan yang menunjukkan keterhubungan antara aktivitas manusia, kesehatan laut, dan keberlanjutan Setiap fragmen cerita menguatkan pandangan bahwa krisis lingkungan menuntut Aumemanfaatkan alamAy menuju Auhidup bersama alamAy (Rahmawati & Yusuf, 2. Pesan yang disampaikan bukan hanya seruan untuk mengurangi sampah plastik, tetapi juga ajakan untuk membangun kesadaran diri ekologisAi bahwa keberadaan manusia tidak dapat dilepaskan dari keberlanjutan seluruh makhluk hidup di bumi. Selain itu. Pulau Plastik juga menyoroti pentingnya aksi kolektif dalam skala lokal dan Melalui penggambaran perjuangan komunitas pesisir, film ini memperlihatkan bentuk nyata dari ecological citizenship, di mana individu dan kelompok mengambil tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Naess tentang Self-realization, yang menekankan bahwa manusia mencapai realisasi diri sejati ketika mereka memperluas identitasnya untuk mencakup seluruh kehidupan (Lestari, 2. Dengan demikian, film ini bukan hanya karya dokumenter, melainkan juga manifestasi dari kesadaran ekologis yang menegaskan pentingnya solidaritas lintas spesies dan batas geografis dalam menghadapi krisis global. Dari sisi estetika, film ini berhasil memadukan unsur dokumenter investigatif dengan pendekatan sinematik yang menyentuh Jurnal Ekologi. Masyarakat Dan Sains 6 . : 281-87. https://doi. org/10. 55448/dk1scq49. emosi penonton. Penggunaan metafora visual, seperti gambaran laut yang penuh sampah plastik atau kehidupan laut yang terancam, berfungsi sebagai ecological symbolism yang kuat. Unsur sinematik ini memperkuat pesan filosofis Deep Ecology, bahwa setiap bentuk kehidupan memiliki hak untuk eksis secara independen dari nilai guna bagi manusia (Kurniawan & Dewi. Melalui teknik montase, penggunaan musik yang emosional, dan narasi yang lugas, film ini menciptakan pengalaman reflektif yang mengajak penonton tidak hanya memahami masalah, tetapi juga merasakan urgensi untuk Dengan demikian. Pulau Plastik tidak hanya merepresentasikan realitas ekologis yang suram, tetapi juga menghadirkan wacana transformatif menuju kesadaran ekologis baru. Melalui kerangka Deep Ecology, film ini dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap paradigma antroposentris yang mendominasi menumbuhkan empati ekologis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik terhadap kajian ekokritik dan filsafat lingkungan, serta mendorong produksi media yang lebih berpihak pada keberlanjutan planet. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan fokus pada kajian film (Film Studie. dan analisis konten filosofis. Pendekatan ini dipilih karena tujuannya adalah menafsirkan dan memahami makna mendalam dari narasi visual, dialog, dan elemen tematik film, mengaitkannya dengan kerangka filosofis Ekosentrisme Naess. Kerangka teoretis utama yang digunakan adalah Deep Ecology, dengan fokus pada Biospherical Egalitarianism dan konsep Self-realization yang luas. Data primer penelitian ini adalah film dokumenter Pulau Plastik . Data sekunder meliputi tulisantulisan kunci Arne Naess (Ohoiwutun, 2. , artikel jurnal terkait ekokritisisme (Chopra, 2. , dan laporan faktual mengenai polusi Indonesia. Teknik pengumpulan data utama adalah dokumentasi, melibatkan penayangan film secara berulang, membuat transkripsi dialog dan narasi penting, serta mencatat secara detail adegan dan simbolisme visual yang relevan dengan konsep filosofis Naess. Data dianalisis menggunakan Analisis Konten Kualitatif Interpretif. Proses analisis melibatkan reduksi data dengan mengidentifikasi adegan yang secara eksplisit membahas krisis plastik atau secara implisit merefleksikan hubungan manusia-alam, membandingkan representasi film dengan konsep-konsep kunci Deep Ecology, dan menarik kesimpulan mengenai derajat keselarasan film Pulau Plastik dengan filsafat Ekosentrisme Naess serta implikasinya terhadap kesadaran ekologis. Pendekatan kualitatif dalam konteks kajian film memungkinkan peneliti untuk menggali dimensi simbolik dan ideologis yang sering tersembunyi di balik struktur naratif dan estetika Melalui analisis interpretatif, film dipahami bukan hanya sebagai representasi realitas, tetapi juga sebagai teks kultural yang mengandung nilai-nilai dan ideologi tertentu (Suryani, 2. Dengan demikian, penelitian ini menempatkan Pulau Plastik sebagai produk budaya yang berperan dalam membentuk wacana publik mengenai krisis lingkungan dan tanggung jawab ekologis manusia. Pendekatan ini juga membantu mengungkap sejauh mana karya sinematik dapat berfungsi sebagai instrumen pendidikan moral dan refleksi filosofis. Lebih lanjut, proses interpretasi dilakukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dan ekologis Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat rentan terhadap dampak polusi Pengaitan antara pesan film dan realitas empiris dilakukan untuk menilai konsistensi antara representasi sinematik dan kondisi lingkungan aktual. Melalui pendekatan ini, penelitian tidak hanya memberikan pembacaan teoretis atas karya film, tetapi juga menawarkan pemahaman kritis tentang hubungan antara media, etika, dan kesadaran ekologis dalam masyarakat modern (Utami & Rinaldi, 2. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memperkaya khazanah kajian ekofilsafat dan memberikan kontribusi bagi pengembangan studi film berbasis keberlanjutan lingkungan di Indonesia. Wafa. Muhammad Khoiril. Agostin Khoirunnisha. Zahratul AoUyun, dan Tri Utami Oktafiani. AuKesadaran Ekologis Dalam Film Pulau Plastik: Kajian Filsafat Ekosentrisme Arne NaessAy. HASIL DAN PEMBAHASAN Film Pulau Plastik tidak hanya menyajikan serangkaian fakta mengenai polusi. ia berfungsi antroposentrisme modern, sebuah ciri utama dari Deep Ecology. Analisis menunjukkan bahwa film ini berhasil menantang solusi teknis dan end-of-pipe yang dianut oleh Shallow Ecology. Film ini secara eksplisit menggeser fokus dari perilaku konsumen individual menuju kegagalan struktural industri multinasional dan pemerintah dalam mengimplementasikan tanggung jawab Adegan-adegan yang menampilkan pembakaran sampah ilegal dan pembuangan limbah industri menjadi bukti visual dari sistem yang melegitimasi eksploitasi alam demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Kritik sistemik ini adalah inti dari Deep Ecology Naess, yang menekankan bahwa solusi krisis lingkungan hanya dapat dicapai melalui perubahan mendasar dalam ideologi dan struktur sosial, bukan sekadar reformasi dangkal (Satmaidi, 2. Tabel 1. Analisis Kritik Shallow Ecology dalam Narasi Film Karakteristik Shallow Ecology Solusi berbasis teknologi (Daur Fokus pada kesehatan/ekonomi Krisis sebagai masalah Pesan Filosofis yang Disimpulkan Representasi Film Pulau Plastik Film menunjukkan daur ulang sebagai solusi yang tidak memadai di hadapan volume sampah yang Penekanan pada mikroplastik di tubuh manusia sebagai akibat, bukan fokus utama, menuntut pengakuan nilai alam di luar manusia. Film menghubungkan polusi plastik dengan kebijakan industri, korupsi, dan nilai budaya yang hilang, menunjukkan masalah sistemik. Film menuntut perubahan pada tingkat sumber . dan ideologi . , sesuai dengan Deep Ecology. Konsep Biospherical Egalitarianism diimplementasikan secara kuat dalam etika visual film. Egalitarianisme ini, yang menyatakan semua bentuk kehidupan memiliki nilai intrinsik yang setara, diwujudkan melalui narasi yang memberikan martabat penuh pada korban non-manusia. Close-up yang intens pada penyu yang terjerat, paus yang terdampar, atau terumbu karang yang mati bukan sekadar alat pelengkap latar, melainkan subjek moral utama dalam narasi. Penderitaan mereka disajikan setara dengan keprihatinan manusia. Selain itu, film juga menyoroti nilai intrinsik alam melalui kontras tajam antara keindahan ekosistem laut sebelum dan sesudah tercemar. Penekanan pada komunitas lokal, seperti di Bali, yang memegang teguh filosofi Tri Hita Karana, semakin memperkuat pesan ini. Filosofi budaya ini secara penghormatan terhadap alam bukan didasarkan keberadaannya sebagai mitra spiritual dan fisik Tabel 2. Refleksi Biospherical Egalitarianism Prinsip Egalitarianisme Biosfer Nilai Intrinsik Semua Kehidupan Contoh Adegan dan Interpretasi Etis Hak Hidup Setara Penggambaran penderitaan hewan laut dengan close-up yang emosional. Penghormatan Ekosistem Penekanan pada hilangnya ritual dan kearifan lokal akibat kerusakan lingkungan. Visualisasi mikroplastik dalam rantai makanan yang secara langsung mengancam biota terkecil hingga terbesar. Lebih jauh, film Pulau Plastik berfungsi sebagai katalisator bagi terwujudnya Selfrealization yang luas sebagaimana dikemukakan oleh Naess. Menurut Naess, realisasi diri sejati hanya dapat dicapai ketika individu menyadari dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dari keseluruhan biosfer (Ohoiwutun, 2. Film ini mendorong transformasi tersebut dengan menampilkan para aktivis lokal sebagai pahlawan utama. Perjuangan mereka melawan dominasi industri digambarkan bukan sebagai bentuk pengorbanan, melainkan ekspresi identitas yang autentik sebuah wujud dari Ecological Self. Melalui visualisasi yang menyentuh, seperti pengorbanan seorang aktivis yang menjaga kebersihan sungai di tengah Jurnal Ekologi. Masyarakat Dan Sains 6 . : 281-87. https://doi. org/10. 55448/dk1scq49. tekanan besar, penonton diajak memperluas batas ego mereka dari diri pribadi menuju kesadaran ekologis yang lebih luas. Film ini lingkungan bukan sekadar tanggung jawab moral, melainkan tindakan cinta diri yang Dengan menghadirkan model perilaku yang berlandaskan etika ekosentris. Pulau Plastik mampu mengubah rasa bersalah individual (Shallow Ecolog. menjadi tanggung jawab kolektif yang bersumber dari kesadaran ekologis mendalam. Melalui pendekatan ini, film tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan moral yang menumbuhkan transformasi nilai secara menyeluruh (Subandrio, 2. Secara Pulau Plastik Filsafat Ekosentrisme Arne Naess, yaitu pengakuan terhadap nilai intrinsik seluruh makhluk hidup tanpa memandang hierarki antara manusia dan non-manusia. Dalam film ini, laut, ikan, bahkan mikroplastik diperlakukan bukan sebagai objek visual semata, melainkan sebagai bagian integral dari narasi eksistensial manusia. Pengambilan gambar yang berulang pada arus laut yang membawa plastik menciptakan simbol kuat tentang keterhubungan antara tindakan manusia dan sistem alam. Visualisasi ini menegaskan bahwa manusia tidak berada di luar sistem ekologis, melainkan menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya. Dengan demikian, film ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan merupakan konsekuensi dari krisis nilai yang mengabaikan prinsip egalitarianisme biosfer (Lestari, 2. Lebih mendalam. Pulau Plastik menantang logika hierarkis antara manusia dan alam yang menjadi akar antroposentrisme. Dalam salah satu adegan, penonton disajikan kontras visual antara ikan-ikan yang mati akibat mikroplastik dengan manusia yang mengonsumsinya. Simbol ini menegaskan prinsip interdependensi ekologis bahwa penderitaan alam sejatinya mencerminkan penderitaan manusia. Pendekatan visual tersebut memperkuat posisi film sebagai medium etis yang tidak hanya menginformasikan krisis lingkungan, tetapi juga menanamkan paradigma baru pandangan yang menempatkan alam sebagai subjek moral yang setara dengan manusia (Chopra, 2023. Naess, 2. Ekosentrisme dalam Pulau Plastik menjadi pusat moral seluruh narasi. Film ini tidak berhenti pada penyajian kerusakan lingkungan, melainkan mengajukan kritik terhadap cara pandang manusia yang menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan. Dalam adegan-adegan tertentu, seperti ketika laut AuberbicaraAy melalui narasi dokumenter, batas antara manusia dan alam seakan lenyap. Pendekatan sinematik ini selaras dengan gagasan Naess tentang web of life, yakni jejaring eksistensi yang menghubungkan semua entitas hidup tanpa adanya superioritas satu atas yang lain (Arifin, 2. Representasi ekosentrisme juga diperkuat melalui narasi budaya yang menolak dikotomi manusia dan alam. Pulau Plastik memanfaatkan simbolisme adat serta spiritualitas lokal seperti ritual pembersihan laut sebagai bentuk komunikasi etis antara manusia dan lingkungan. Film ini menegaskan bahwa krisis ekologis bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga krisis spiritual akibat terputusnya hubungan sakral dengan alam. Pendekatan ini sejalan dengan teori ecocriticism kontemporer yang menekankan rekonstruksi kesadaran budaya sebagai langkah menuju harmoni ekologis (Nugraha, 2. Selain itu, film ini menegaskan bahwa penerapan ekosentrisme tidak terbatas pada ranah moral, tetapi juga politis. Pulau Plastik menyoroti pentingnya keadilan ekologis yang menempatkan hak-hak alam sejajar dengan hakhak manusia. Advokasi terhadap pelarangan plastik sekali pakai, misalnya, ditampilkan bukan semata sebagai kebijakan praktis, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap hak alam untuk hidup bebas dari polusi. Dalam konteks ini. Pulau Plastik dapat dibaca sebagai manifesto ekosentris yang menyerukan pergeseran paradigma menuju demokrasi ekologis suatu sistem yang memberikan posisi setara bagi manusia dan alam dalam menentukan masa depan planet (Widiyanto, 2. Dimensi ekosentris film ini juga tergambar melalui representasi komunitas lokal dan adat yang mempertahankan hubungan spiritual Wafa. Muhammad Khoiril. Agostin Khoirunnisha. Zahratul AoUyun, dan Tri Utami Oktafiani. AuKesadaran Ekologis Dalam Film Pulau Plastik: Kajian Filsafat Ekosentrisme Arne NaessAy. dengan lingkungan. Nilai-nilai seperti Tri Hita Karana di Bali menunjukkan etika ekologis yang sejalan dengan prinsip Deep Ecology. Film menampilkan bahwa praktik budaya dan keagamaan tradisional dapat menjadi landasan etika lingkungan yang kuat karena menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Hal ini menegaskan bahwa kesadaran ekologis yang mendalam tidak hanya berasal dari filsafat Barat, tetapi telah hidup dalam kearifan lokal Indonesia. Dengan demikian, film ini menjadi jembatan antara ekofilosofi global dan spiritualitas lokal, memperlihatkan penerapan konkret Filsafat Ekosentrisme di konteks Indonesia (Rahmawati & Yusuf, 2023. Kurniawan & Dewi, 2. Selanjutnya. Pulau Plastik menampilkan kesadaran ekologis bukan hanya sebagai isu moral, tetapi sebagai transformasi identitas manusia modern. Dalam perspektif Selfrealization Naess, kebahagiaan sejati dicapai ketika manusia mengaktualisasikan dirinya sebagai bagian dari jaringan ekologis yang lebih Para aktivis seperti Gede Robi dan Tiza Mafira dalam film ini mewujudkan bentuk Ecological Self, di mana perjuangan mereka menjaga kelestarian lingkungan menjadi makna Representasi memperlihatkan bahwa perjuangan ekologis bukan sekadar tindakan altruistik, tetapi juga bentuk tertinggi dari realisasi diri manusia. Film ini dengan demikian mengajak penonton untuk merefleksikan sejauh mana mereka telah hidup secara ekologis sadar (Ohoiwutun, 2020. Subandrio, 2. Akhirnya. Pulau Plastik dapat dipahami sebagai karya seni ekosofis yang berfungsi membangun kesadaran ekologis kolektif. Melalui perpaduan estetika sinema dan pesan moral yang kuat, film ini tidak hanya menyerukan pengurangan penggunaan plastik, tetapi juga mengajak penonton untuk membongkar paradigma antroposentris yang menempatkan manusia di atas alam. Kesadaran ekologis yang ditanamkan bersifat transformatif, menuntut pergeseran nilai menuju penghormatan yang setara bagi semua bentuk kehidupan. Dengan demikian. Pulau Plastik bukan hanya media informasi, tetapi juga instrumen perubahan sosial dan moral yang mendorong manusia untuk menata kembali cara pandangnya terhadap dunia (Suryani, 2022. Utami & Rinaldi. PENUTUP Secara menegaskan bahwa film dokumenter "Pulau Plastik" merupakan media yang sangat efektif dalam mempromosikan kesadaran ekologis mendalam yang diadvokasi oleh Filsafat Ekosentrisme Arne Naess. Film ini berhasil melampaui kritik dangkal dengan secara tajam mengkritik akar antroposentris dari krisis plastik. Analisis konten menunjukkan bahwa film ini secara konsisten merefleksikan prinsip-prinsip Ekologi Dalam, terutama melalui penekanan visual pada Biospherical Egalitarianism dan penggambaran karakter yang mencontohkan Self-realization yang luas. Film ini menantang epistemologis, yaitu untuk memahami bahwa perlindungan alam adalah manifestasi dari pemenuhan diri dan bukan sekadar kewajiban Film Pulau Plastik berfungsi sebagai katalisator yang kuat, mendorong penonton untuk bergerak dari awareness pasif ke aksi transformatif yang menuntut perubahan sistemik. Oleh karena itu, penggunaan film semacam ini harus diakui sebagai strategi kunci dalam pendidikan lingkungan dan upaya advokasi. Penelitian di masa depan disarankan untuk mengukur dampak empiris dari film ini terhadap perubahan nilai dan partisipasi sipil penonton untuk lebih memvalidasi potensi transformatif Ekosentrisme Naess dalam konteks media visual. UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti menyampaikan penghargaan yang tulus kepada semua pihak yang telah mendukung penyelesaian jurnal ini. Penghargaan khusus ditujukan kepada tim di balik film dokumenter Pulau Plastik atas kontribusi mereka yang berharga dalam meningkatkan wacana lingkungan di Indonesia, serta kepada para filsuf lingkungan yang karyanya menjadi fondasi teoretis penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA