http://ejurnal. id/index. php/photon Ekstraksi. Fraksinasi. Dan Uji Antioksidan Daun Pakis Sawit (Davallia denticulat. Eti Norhaslinda. Jufrizal Syahri. Fitra Perdana* Program Studi S1 Kimia. Fakultas MIPA dan Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Riau Jl. Tuanku Tambusai Pekanbaru 28294. Riau. Indonesia *Correspondence e-mail: fitra. perdana@umri. Abstract Antioxidants are compounds that are able to counteract the negative effects of oxidants by donating an electron to compounds that are oxidants so that they can be inhibited. Fern leaves contain several secondary metabolites that provide potential as a source of natural antioxidants. In this study, extraction, fractionation, and antioxidant tests were carried out on palm fern (Davallia denticulat. The palm fern leaf extraction method was carried out by maceration using ethanol as a solvent and fractionation was carried out in three fractions, namely the ethanol, ethyl acetate and n-hexane fractions. Then the phytochemical tests were carried out on the extract and fraction of the palm fern leaves obtained. The ethanol extract indicated the presence of flavonoids, saponins, tannins, triterpenoids and steroids, the n-hexane fraction indicated the presence of flavonoids and phenolic compounds, the ethyl acetate fraction indicated the presence of flavonoids, tannins and phenolic compounds, and the ethanol fraction indicated the presence of flavonoids, saponins, tannins, triterpenoids and Testing the antioxidant activity of the ethanol extract showed an IC50 value of 1. 406 g/mL, the n-hexane fraction showed an IC50 value of 2. 91 g/mL, the ethyl acetate fraction showed an IC50 value of 103 g/mL, the ethanol fraction showed an IC50 value of 18. 99 g/mL, and vitamin C as a comparison showed an IC50 value of 2. 22 g/mL. Based on a comparison with vitamin C, it can be seen that there is very strong antioxidant activity in the ethanol extract and moderate activity in the ethyl acetate fraction. Keywords: Antioxidant activity. Palm fern leaves. Davallia denticulatta. Extraction. Fractionation Abstrak Antioksidan merupakan salah satu senyawa yang mampu menangkal dampak negatif oksidan dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga dapat terhambat. Daun pakis mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder sehingga memberikan potensi sebagai sumber antioksidan alami. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi, fraksinasi, dan uji antioksidan daun pakis sawit (Davallia denticulat. Metode ekstraksi daun pakis sawit dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol dan fraksinasi dilakukan sebanyak tiga fraksi yaitu fraksi etanol, etil asetat dan n-heksan. Kemudian dilakukan uji fitokimia dari ekstrak dan fraksi daun pakis sawit yang didapat. Ekstrak etanol menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid dan steroid, pada fraksi n-heksan menunjukkan adanya senyawa flavonoid dan fenolik, fraksi etil asetat menunjukkan adanya senyawa flavonoid, tanin dan fenolik, dan pada fraksi etanol menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid dan steroid. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol menunjukkan nilai IC50 1,406 g/mL, fraksi n-heksan menunjukkan nilai IC50 2,91 g/mL, fraksi etil asetat menunjukkan nilai IC50 103 g/mL, fraksi etanol menunjukkan nilai IC50 18,99 g/mL, dan vitamin C sebagai pembanding menunjukkan nilai IC50 2,22 g/mL. Berdasarkan perbandingan dengan vitamin C dapat diketahui bahwa terdapat aktivitas antioksidan yang sangat kuat pada ekstrak etanol dan aktivitas sedang pada fraksi etil asetat. Kata kunci: Aktivitas antioksidan. Daun pakis sawit. Davallia denticulatta. Ekstraksi. Fraksinasi Pendahuluan Perubahan pola konsumsi makanan hingga dampak dari kemajuan sains dan teknologi menyebabkan semakin meningkatnya masyarakat yang menderita penyakit degeneratif yakni kanker, aterosklerosis, rematik, jantung koroner, katarak, dan penyakit degenerasi saraf seperti parkinson (Ikhrar et al. , 2. Hal ini disebabkan karena proses metabolisme tubuh yang menghasilkan radikal bebas berlebihan sehingga menyebabkan kerusakan pada fungsi sel-sel tubuh (Fitriani et al. , 2. Tubuh manusia memiliki sistem antioksidan agar dapat mengetahui reaktivitas radikal bebas yang terbentuk dengan sendirinya oleh setiap Tetapi pada keadaan tertentu tubuh tidak dapat mengatasinya sendiri sehingga memerlukan zat Received: 26 September 2022. Accepted: 15 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon antioksidan dari luar tubuh untuk mencegah terjadinya reaksi reaktif radikal bebas tersebut. Antioksidan merupakan salah satu senyawa yang mampu menangkal dampak negatif oksidan dalam tubuh yang bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut dapat terhambat (Surya, 2. Antioksidan diperlukan karena tubuh manusia tidak memiliki sistem pertahanan antioksidan yang cukup, sehingga apabila terjadi paparan radikal berlebihan maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen (Tamunu et al. , 2. Daun pakis mengandung beberapa komponen non gizi yang penting bagi kesehatan. Komponen non Gizi yang utama pada pakis adalah flavonoid dan polifenol (Noprianto, 2. Tanaman pakis sawit (Davallia denticulat. adalah salah satu tanaman paku epifit yang paling banyak tumbuh di Pohon Sawit. Beberapa spesies dari genus Davallia (Davalliacea. secara luas digunakan dalam pengobatan tradisional karena efek farmakologisnya sebagai antioksidan, antiosteoporosis, dan asam urat. Daun tumbuhan pakis sawit diketahui memiliki senyawa metabolit sekunder golongan flavonoid, terpenoid/steroid, saponin dan fenolik (Hendra et , 2. Kandungan senyawa metabolit sekunder ini memberikan potensi daun pakis sawit sebagai sumber antioksidan alami. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi menggunakan pelarut etanol dengan metode maserasi dan dilanjutkan dengan fraksinasi serta uji antioksidan dengan sampel utama daun pakis sawit. Keuntungan metode maserasi yaitu dapat menghindari resiko rusaknya senyawa-senyawa dalam tanaman yang bersifat tidak tahan panas. Proses fraksinasi dilakukan dengan metode sederhana menggunakan corong pisah dan pengukuran aktvitas antioksidan dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan larutan vitamin C sebagai pembanding. Hasil penelitian diharapkan memberikan data kuantitatif terkait potensi daun pakis sawit sebagai antioksidan alami. Metodologi Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah vakum rotary, destilasi, hot plate, timbangan, kertas whatman, botol gelap, tabung reaksi, rak tabung reaksi, beaker glass, corong pisah, pipet tetes, cawan petri, labu ukur, spatula, kaca arloji, aluminium foil, pipet ukur, kuvet, spektrofotometer UV-Vis Pharo 300 dan alatalat gelas laboratorium lainnya. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun pakis sawit, etanol, n-heksan, metanol, etil asetat. HCl, eter, aquades, reagen meyer, bubuk Mg. H2SO4 pekat. FeCl3. AgNO3, vitamin C, dan DPPH. Persiapan Ekstrak Daun diambil dari perkebunan sawit di Kota Pekanbaru dan dilakukan uji taksonomi di Laboratorium Biologi Universitas Riau. Daun yang sudah terkumpul kemudian dicuci menggunakan air mengalir untuk selama 2 minggu untuk menghilangkan kadar air. Setelah kering daun diblender dan ditimbang 250 gram serbuk daun kering untuk dilakukan maserasi menggunakan pelarut etanol. Serbuk daun kering dimasukkan ke dalam botol gelap kemudian ditambahkan pelarut etanol hingga menutupi seluruh serbuk dan dilakukan perendaman selama 3x24 jam. Setelah itu diambil hasil rendaman dan lakukan pengulangan sampai pelarut Setelah bening dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring dan hasil yang didapat dipekatkan menggunakan vakum rotary pada suhu 78AC. Ekstrak yang di peroleh disimpan pada suhu 4AC untuk penggunaan selanjutnya. Uji Fitokimia C Uji Alkaloid Sebanyak 0,05 g sampel dimasukkan dalam tabung reaksi dan dilarutkan dengan 10 mL larutan HCl, kemudian lakukan penyaringan. Filtrat selanjutnya diuji dengan pereaksi meyer, sebanyak 4 mL filtrat dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan pereaksi meyer sebanyak 1 mL. Uji positif bila terbentuk endapan putih kekuningan (Khasanah et al. , 2. C Uji Triterpenoid dan Steroid Sebanyak 0,05 g ekstrak dimasukkan dalam tabung reaksi dan diencerkan dengan etanol 70%, kemudian ditambahkan eter sebanyak 5 tetes hingga terbentuk 2 lapisan larutan air dan etanol. Lapisan bagian atas etanol dipisahkan dan diuapkan dalam plat tetes lalu ditambahkan H2SO4 pekat sebanyak 3 tetes. Endapan warna hijau kehitaman menunjukkan hasil Received: 26 September 2022. Accepted: 15 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon C yang positif (Khasanah et al. , 2. Uji Flavonoid Sebanyak 0,05 g sampel tumbuhan yang telah diekstrak dengan 5 mL etanol dan dipanaskan selama A 5 menit didalam tabung reaksi. Selanjutnya ditambah 3 tetes HCl. Kemudian ditambahkan 0,02 g bubuk Mg. Hasil positif ditunjukan dengan timbulnya warna merah tua . menunjukkan senyawa flavonol/flavonon, endapan merah menunjukkan senyawa flavon, dan endapan hijau menunjukkan senyawa glikosida/aglikon (Khasanah et al. , 2. Uji Saponin Sebanyak 0,05 g sampel tumbuhan yang telah dihaluskan dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian diencerkan dengan etanol 70% ditambahkan air hangat lalu dikocok selama 30 Dilihat busa dan diukur berapa cm busa yang terbentuk. Dibiarkan selama 10 menit dan jika busanya tidak hilang ditambahkan HCl pekat. Apabila masih terdapat busa yang konstan maka menunjukkan hasil positif (Khasanah et al. , 2. Uji Tanin Sebanyak 0,05 g sampel tumbuhan yang telah dihaluskan dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 mL aquades yang mendidih, kemudian lakukan penyaringan. Filtrat ditambahkan 2-3 tetes larutan FeCl3 1%. Uji positif ditandai dengan adanya warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman (Khasanah et al. , 2. Uji Fenolik. Sebanyak 0,05 gram sampel diekstrak dengan 20 mL etanol 70%. Ekstrak sebanyak 1 mL kemudian ditambahkan 2 tetes larutan FeCl 3 5%. Pembentukan warna hijau atau hijau biru menunjukkan senyawa fenol dalam sampel (Khasanah et al. , 2. Fraksi n-Heksan. Etil Asetat dan Etanol Ekstrak daun pakis kelapa sawit yang diperoleh dimasukkan ke dalam erlenmeyer sebanyak 20 gram, kemudian dilarutkan dengan aquadest 200 ml dan dilarutkan dengan pelarut nonpolar n-heksan 200 mL dikocok sampai homogen, diamkan selama 30 menit hingga terbentuk dua lapisan. Lapisan bawah etanol-air dan lapisan atas n-heksan. Lapisan etanol-air sisa fraksinasi n-heksan selanjutnya ditambahkan pelarut semi polar etil asetat 200 mL kemudian masukan kedalam corong pisah lalu dikocok dan diamkan hingga terbentuk dua lapisan. Lapisan bawah etanol-air dan lapisan atas etil asetat. Selanjutnya ketiga fraksi tersebut dievaporasi sehingga diperoleh tiga fraksi yaitu fraksi n-heksan (F. , fraksi etil asetat (F. , dan fraksi etanolair (F. (Novia et al. , 2. Tahap selanjutnya dilakukan uji fitokimia meliputi, alkaloid, polifenol, tanin, flavonoid, steroid dan triterpenoid, dan saponin (Herdiana dan Aji 2. Uji Aktivitas Antioksidan Pembuatan larutan DPPH 0. 1 mM Serbuk DPPH ditimbang 3 mg dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL dan dilarutkan dengan metanol sampai tanda batas kemudian dihomogenkan (Maitulung et al. , 2. Optimasi Panjang Gelombang DPPH Larutan DPPH 0. 1 mM sebanyak 2 mL dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan metanol 2 mL, divortex hingga homogen, diinkubasi dalam ruangan gelap selama 30 menit, lalu dituang ke dalam kuvet dan diukur pada panjang gelombang 517 nm dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan ditentukan panjang gelombangnya (Maitulung et al. , 2. Persiapan Larutan Uji Pembuatan larutan induk . onsentrasi 1000 pp. Sebanyak 10 mg sampel dilarutkan dengan metanol p. lalu dimasukkan ke dalam labu takar 5 mL, volume dicukupkan dengan metanol p. a sampai tanda batas. Kemudian lanjutkan ke pembuatan larutan seri ekstrak daun pakis sawit dibuat dengan variasi konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm dan 250 ppm. Masing-masing dipipet 0,25 Ml, 0,5 mL, 0,75 mL, 1 mL dan 1,25 mL dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL dan dicukupkan volumenya dengan methanol p. a hingga 5 (Maitulung et al. , 2. Pembuatan Vitamin C Pembuatan Larutan Induk . onsentrasi 1000 pp. Ditimbang vitamin C p. a sebanyak 50 mg, dilarutkan dengan metanol p. a lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL, volume dicukupkan dengan metanol p. sampai tanda batas. Larutan induk vitamin C, masing-masing dipipet 0,25 mL, 0,5 mL, 0,75 mL, 1 mL dan 1,25 mL dimasukkan ke dalam labu ukur masing-masing 5 mL, volume dicukupkan dengan metanol p. a sampai tanda batas. Pengukuran Serapan Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis Pharo 300 Received: 26 September 2022. Accepted: 15 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Sebanyak 2 mL masing-masing konsentrasi larutan uji dimasukkan ke dalam tabung rekasi, ditambahkan 2 mL larutan DPPH 0. 1 mM, divortex hingga homogen, diinkubasi dalam ruang gelap dan pada menit ke 26 dan maksimal pada menit ke 30 diukur serapannya pada panjang gelombang (Maitulung et al. , 2. Penentuan Persen Inhibisi Akitivitas penangkal radikal dinyatakan sebagai persen inhibisi yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: yaycaycycuycycaycaycuycycn ycoycuycuycycycuyco Oe yaycaycycuycycaycaycuycycn ycaycaEaycaycu ycycycn %ycnycuEaycnycaycnycycn yaycEycEya = ycu100% yaycaycycuycycaycaycuycya ycoycuycuycycycuyco (Maitulung et al. , 2. Penentuan Nilai IC50 (Inhibitory Concentratio. Dari persen peredaman yang diperoleh ditentukan IC50 yaitu konsentrasi yang mampu menghambat 50% radikal bebas. Nilai IC50 ditentukan dengan rumus : 50 Oe yca yaya50 = yca Keterangan: a = nilai x pada kurva linear b = nilai y pada kurva linear Senyawa IC 50 kurang dari 50 ppm, kuat apabila nilai IC50 antara 50-100 ppm, sedang apabila nilai IC50 berkisar antara 100150 ppm, dan lemah apabila nilai IC50 berkisar antara 150-200 ppm. Semakin kecil nilai IC50 suatu senyawa maka semakin kuat pula aktivitas antioksidan senyawa tersebut karena dengan konsentrasi yang kecil mampu menghambat radikal bebas DPPH dengan baik (Maitulung et al. , 2. Hasil dan Pembahasan Hasil Preparasi bahan dan ekstraksi Hasil proses ektraksi daun pakis sawit (Davallia denticulat. dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Rendemen (%) Ekstrak Daun Pakis Sawit Sampel Berat ekstrak . Rendemen (%) Daun pakis sawit basah Daun pakis sawit kering Ekstrak Hasil uji fitokimia Uji fitokimia dilakukan terhadap ekstrak etanol daun pakis sawit (Davallia denticulat. untuk mengetahui golongan senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, steroid, tanin dan terpenoid dapat dilihat pada Tabel Tabel 2. Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Pakis Sawit. Golongan senyawa Pereaksi Hasil Alkaloid HCl dan Meyer Titerpenoid dan Steroid Etanol 70%. Eter dan H2SO4 Flavonoid Etanol. HCl dan bubuk Mg Saponin Etanol 70% dan HCl Tanin Aquadest dan FeCl3 1% Fenolik Etanol 70% dan FeCl3 5% Keterangan: ( ) : Mengandung (-) : Tidak mengandung Received: 26 September 2022. Accepted: 15 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Hasil fraksinasi Fraksinasi dari ekstrak etanol daun benalu pakis sawit menggunakan metode fraksinasi cair-cair yang dipisahkan berdasarkan perbedaan kepolaran dan hasil ekstrak dari fraksinasi ini didapatkan: Tabel 3. Hasil Fraksinasi Ekstrak Etanol Daun Pakis Sawit Warna setelah Hasil fraksi Sampel Warna asal proses rotary Rendemen% . Ektrak etanol Hijau Coklat Fraksi n-heksan Hijau hijau kehitaman Fraksi Etil asetat Hijau kecoklatan Hijau kecoklatan Fraksi Etanol kuning kecoklatan Kuning kecoklatan Hasil uji fitokimia fraksinasi Hasil uji fitokimia daun pakis sawit dari hasil ektraksi dan hasil fraksinasi berikut hasil uji fitokimia yang Table 4. Hasil Uji Fitokimia Fraksi Daun Pakis Sawit Fraksi Golongan senyawa n-heksan Etil asetat Etanol Alkaloid Titerpenoid dan Steroid Flavonoid Saponin Tanin Fenolik Hasil uji aktivitas antioksidan Berikut data dari pengujian antioksidan yang didapatkan untuk mengetahui seberapa besar aktivitas antioksidan dalam daun pakis sawit: Konsentrasi Tabel 5. Hasil Uji Antioksidan Ekstrak Etanol Rata-rata Abs Sampel % Inhibisi 0,355 0,330 0,310 0,310 0,320 0,314 0,289 0,269 0,269 0,279 64,41 67,25 69,52 69,52 68,38 IC50 AAg/mL 1,406 Tabel 6. Hasil Uji Antioksidan Fraksi n-heksan Konsentrasi Rata-rata Abs Sampel % Inhibisi 0,286 0,245 72,24 0,096 0,054 93,87 0,052 0,011 98,80 0,034 -0,008 100,90 0,031 -0,011 101,19 IC50 AAg/mL 2,91 Received: 26 September 2022. Accepted: 15 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Tabel 7. Hasil Uji Antioksidan Fraksi Etil Asetat Konsentrasi Rata-rata 0,595 0,505 0,450 0,345 0,305 Konsentrasi Tabel 8. Hasil Uji Antioksidan Fraksi Etanol Rata-rata Abs Sampel % Inhibisi Konsentrasi 0,336 0,310 0,265 0,205 0,127 Abs Sampel 0,554 0,464 0,409 0,304 0,264 0,295 0,269 0,224 0,164 0,085 % Inhibisi 37,17 47,38 53,63 65,55 70,09 66,57 69,52 74,63 81,44 90,35 Tabel 9. Hasil Uji Antioksidan Vitamin C Rata-rata Abs Sampel % Inhibisi 0,243 0,205 0,165 0,140 0,093 0,201 0,164 0,124 0,099 0,052 77,18502 81,44154 85,98184 88,81952 94,15437 IC50 AAg/mL IC50 AAg/ml 18,99 IC50 AAg/ml 2,22 Pembahasan Pada penelitian ini dilakukan beberapa tahap penelitian yang diantaranya yaitu dimulai dari pengambilan simplisia dan uji taksonomi, pembuatan ekstrak, fraksinasi dan uji fitokimia, pembuatan larutan DPPH, pembuatan larutan ekstrak dan pengujian aktivitas antioksidan. Tahapan pertama yaitu pembuatan Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah tanaman daun pakis sawit (Davallia denticulat. Daun yang telah dipetik, dicuci, dan dikeringkan di udara terbuka dengan suhu ruangan. Setelah kering, daun dihaluskan dengan blender sampai menjadi serbuk dan diayak kemudian hasil ayakan disimpan pada wadah tertutup untuk dipakai pada perlakuan selanjutnya. Metode yang digunakan untuk penyarian simplisia yakni metode maserasi. Maserasi merupakan proses perendaman sampel pelarut organik yang digunakan pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstrak senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan (Hasrianti, 2. Ekstrak daun pakis sawit (Davallia denticulat. dibuat dengan mengekstraksi 250 gram serbuk daun pakis sawit secara maserasi dengan pelarut etanol. Simplisia direndam dalam pelarut etanol sebanyak 10 L selama 3 x 24 jam sambil sesekali diaduk. Hasil ekstraksi selanjutnya dipekatkan dengan menggunakan rotary vacuum evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak etanol yang diperoleh berupa ekstrak kental sebanyak 74 gram dari 250 gram serbuk daun pakis sawit dan diperoleh rendemen sebanyak 29,6 %. Rendemen merupakan nilai berat ekstrak kental yang diperoleh dibandingkan dengan berat simplisia atau serbuk awal (Fatoni, 2. Setelah didapatkan ekstrak kental dilanjutkan proses fraksinasi. Fraksinasi adalah suatu cara untuk memisahkan senyawa berdasarkan sifat kepolarannya. Senyawa polar akan masuk akan masuk ke polar, begitu pula senyawa non polar akan masuk pada pelarut non polar (Lona, 2. Fraksinasi diambil dari ekstrak kental hasil ekstraksi yang ditimbang sebanyak 20 gram kemudian dilakukan fraksinasi cair-cair Received: 26 September 2022. Accepted: 15 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon dengan pelarut beda kepolaran yaitu pelarut n-heksan . on-pola. , etil asetat . emi pola. , dan etanol . Setelah dilakukan fraksinasi lanjutkan ke rotary evaporator untuk pengentalan ekstrak kemudian timbang ekstrak sesuai yang didapatkan yaitu n-heksan mendaptkan 6 gram ekstrak dan 30% rendemen dengan warna hijau kehitaman, etil asetat mendapatkan 3 gram ekstrak dan 15% rendemen dan warna ekstrak hijau kecoklatan, dan etanol mendapatkan ekstrak 10 gram sedangkan rendemen yang didapatkan 50% dengan warna ekstrak kuning kecoklatan. Pengujian fitokimia pada kstrak etanol didapat uji titerpenoid dan steroid menunjukkan hasil positif ditandai dengan ada endapan hijau kehitaman, uji flavonoid mendapatkan hasil positif ditandai dengan timbulnya endapan warna hijau, uji saponin mendapatkan hasil positif ditandai dengan terbentuknya busa konstan, uji tanin mendapatkan hasil positif ditandai terbentuknya warna biru kehitaman. Pada fraksi nheksan mendapatkan hasil positif pada pengujian flavonoid ditandai adanya warna hijau dan fenolik ditandai adanya warna hijau, sedangkan alkaloid, triterpenoid dan steroid, saponin, tannin tidak terjadi reaksi apapun dan dinyatakan negatif. Pada fraksi etil asetat yang mendapatkan hasil positif yaitu flavonoid terdapat warna hijau, tanin terdapat warna hijau kecoklatan dan fenolik terdapat warna hijau dan yang negatif adalah alkaloid, triterpenoid dan steroid, saponin tidak terjadinya reaksi apapun. sedangkan fraksi etanol hasil positif yaitu triterpenoid dan steroid ditandai dengan adanya endapan coklat, flavonoid adanya warna merah, saponin terdapat busa konstan dan tannin terdapat warna hijau kecoklatan sedangkan yang hasil negatif yaitu alkaloid dan fenolik tidak terjadinya reaksi apapun. Berdasarkan hasil uji fitokimia ini terlihat potensi sebagai antioksidan alami. Keberadaan senyawa flavonoid memiliki potensi sebagai antioksidan karena memiliki gugus hidroksil yang terikat pada karbon cincin aromatik sehigga dapat menangkap radikal bebas yang dihasilkan dari reaksi peroksidasi lemak. Senyawa. Flavonoid akan menyumbangkan satu atom hidrogen untuk menstabilkan radikal peroksi lemak (Dewi. Pengujian antioksidan dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilihat dari adanya perubahan warna pada larutan ketika ditambahkan sampel yang mengandung antioksidan. Sedangkan secara kuantitatif yang dilakukan dengan mengukur kadar dari hasil absorbansi dan persen inhibisi yang didapat pada pengujian menggunakan spektrofotometer Uv-Vis (Hartini, 2. Peredaman radikal bebas oleh antioksidan terjadi ketika elektron tak berpasangan menjadi berpasangan dengan adanya sebuah donor hidrogen, sehingga membentuk DPPH yang lebih stabil, reaksi yang terjadi antara radikal bebas dan antioksidan dapat di lihat pada gambar berikut. Gambar 1. Reaksi yang terjadi antara radikal bebas dan antioksidan (Wulansari, 2. Elektron tak berpasangan pada DPPH memberikan suatu absorbsi yang kuat, maksimum pada = 517 nm dan berwarna ungu. Peredaman radikal bebas oleh antioksidan terjadi ketika elektron tak berpasangan menjadi berpasangan dengan adanya sebuah donor hidrogen, sehingga membentuk DPPH yang lebih stabil. Penetapan aktivitas antioksidan dapat dilakukan secara in vitro dengan metode DPPH. DPPH . difenil-1- pikrihidrazi. merupakan metode uji aktivitas antioksidan menggunakan reagen DPPH yang berperan sebagai radikal. DPPH digunakan untuk mengetahui aktivitas antioksidan melalui kemampuannya dalam menangkap radikal bebas (Wulansari, 2. Metode DPPH dipilih karena sederhana, mudah, cepat dan peka serta hanya memerlukan sedikit sampel. Pengujian dilakukan dengan memipet 2 mL DPPH dalam 2 mL metanol. Dilakukan vortex dan diinkubasi pada suhu 37AC dalam ruangan gelap. Pengukuran absorbansi dilakukan pada panjang gelombang 517 nm (Yuliani, 2. Hasil dari pengukuran absorbansi adalah 0,925 untuk DPPH. Penetapan aktivitas antioksidan dilakukan dengan mereaksikan 2 mL DPPH dengan 2 mL larutan uji dengan pada konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, dan 250 ppm, kemudian dilanjutkan dengan pengukuran absorbansi menggunakan instrumen Spektrofotometri UV-Vis sehingga diketahui nilai absorbansinya. Data absorbansi kemudian digunakan untuk menghitung nilai persen inhibisi dari larutan uji terhadap DPPH. Data inhibisi dengan konsentrasi sampel kemudian digunakan untuk menentukan persamaan regresi linier pada masingmasing larutan uji. Penetapan konsentrasi inhibisi 50 (IC . dilakukan dengan memasukkan nilai y = 50 pada Received: 26 September 2022. Accepted: 15 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon persamaan regresi linier. Persentase inhibisi menyatakan besarnya kemampuan perendaman radikal bebas oleh suatu sampel. Sementara inhibitor consentration (IC . merupakan parameter yang digunakan untuk menunjukkan aktivitas antioksidan, merupakan nilai yang menggambarkan konsentrasi sampel paling efektif meredam radikal bebas 50% (Hartini, 2. Tabel 10. Tingkat Kekuatan Antioksidan dengan Metode DPPH (Maitulung et al. , 2. Intensitas Antioksidan Nilai IC50 Sangat Kuat <50 ppm Kuat 50-100 ppm Sedang 100-250 ppm Lemah 250-500 ppm Pada penelitan uji aktivitas daun pakis sawit didapatkan hasil perhitungan IC50 yang didapat dari absorbansi pada hasil ekstraksi etanol yaitu pada 50 ppm mempunyai nilai % inhibisi sebesar 64,2 %, untuk 100 ppm sebesar 66,69 %, untuk 150 ppm sebesar 69,52 %, untuk 200 ppm sebesar 69,52 % dan 250 ppm sebesar 68,39 %. Data % inhibisi dari hasil ekstraksi awal etanol dimasukkan kedalam aplikasi agar didapatkan persamaan regresi linier untuk penentuan IC 50, dengan cara konsentrasi sampel sebagai sumbu x dan % inhibisi sebagai sumbu y dari persamaan: y = bx a. Hasil yang didapat yaitu persamaan y = 14,339lnx 45,113 . Untuk penentuan nilai IC50 dapat dihitung dengan menggunakan rumus: IC 50 = . /b. Hasil perhitungan yaitu Nilai IC50: 1,406 AAg/ml yang termasuk golongan antioksidan sangat kuat. Rentang IC50= < 50 AAg/ml merupakan aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Kemudian dilanjutkan ke hasil perhitungan IC 50 yang didapat dari absorbansi pada hasil fraksinasi menggunakan pelarut n-heksan yaitu pada 50 ppm mempunyai nilai % inhibisi sebesar 72,25 %, untuk 100 ppm sebesar 93,87 %, untuk 150 ppm sebesar 98,81 %, untuk 200 ppm sebesar 100,91 % dan 250 ppm sebesar 101,19 %. Hasil yang didapat yaitu persamaan y = 85,516lnx-41,349. Untuk penentuan nilai IC50 dapat dihitung dengan menggunakan rumus: IC50 = . /b. Hasil perhitungan yaitu Nilai IC50: 2,91 AAg/ml yang termasuk golongan antioksidan sangat kuat. Hasil perhitungan IC50 yang didapat dari absorbansi pada hasil fraksinasi menggunakan pelarut etil asetat yaitu pada 50 ppm mempunyai nilai % inhibisi sebesar 37,17 %, untuk 100 ppm sebesar 47,39 %, untuk 150 ppm sebesar 53,63 %, untuk 200 ppm sebesar 65,55 % dan 250 ppm sebesar 70,09 %. Hasil yang didapat yaitu persamaan y = 85,516lnx-41,349. Untuk penentuan nilai IC50 dapat dihitung dengan menggunakan rumus: IC50 = . /b. Hasil perhitungan yaitu Nilai IC50: 103 AAg/ml yang termasuk golongan antioksidan sedang. Dilanjutkan hasil perhitungan IC50 yang didapat dari absorbansi pada hasil fraksinasi menggunakan pelarut etanol yaitu pada 50 ppm mempunyai nilai % inhibisi sebesar 66,57 %, untuk 100 ppm sebesar 69,52 %, untuk 150 ppm sebesar 74,63 %, untuk 200 ppm sebesar 81,44 % dan 250 ppm sebesar 90,35 %. Hasil yang didapat yaitu persamaan y = 13,764x 9,4785. Untuk penentuan nilai IC 50 dapat dihitung dengan menggunakan rumus: IC50 = . /b. Hasil perhitungan yaitu Nilai IC50: 18,99 AAg/ml yang termasuk golongan antioksidan sangat kuat dan hasil nilai larutan vitamin C yaitu IC 50: 2,22 AAg/ml sebagai larutan pembanding. Rentang IC50= < 50 AAg/ml merupakan aktivitas antioksidan sangat kuat. Aktivitas antioksidan yang diperoleh dari hasil analisa pengujian ekstrak etanol sangat kuat sedangkan fraksi n-heksan dan etanol mendapatkan hasil sangat kuat pada fraksi etil asetat aktivitasnya sedang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena beberapa faktor diantaranya adalah sifat yang mudah rusak bila terpapar oksigen, cahaya, pengeringan dan suhu yang terlalu panas pada saat proses pengentalan ekstrak menggunakan rotary evaporator, sehingga membuat kandungan senyawa flavonoid dan fenolik pada ekstrak daun pakis sawit yang mana berpotensi sebagai antioksidan menjadi berkurang. senyawa flavonoid dan fenolik memiliki potensi sebagai antioksidan karena memiliki gugus hidroksil yang terikat pada karbon cincin aromatik sehigga dapat menangkap radikal bebas yang dihasilkan dari reaksi peroksidasi lemak. Senyawa flavonoid akan menyumbangkan satu atom hidrogen untuk menstabilkan radikal peroksi lemak (Haveni et , 2. nilai IC50 dimana semakin besar aktivitas antioksidannya semakin kecil nilai IC 50 yang diperoleh. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maserasi mengunakan pelarut etanol menghasilkan rendemen sebesar 29,6 %. Metode fraksinasi yang digunakan yaitu metode cair-cair pemisahan berdasarkan perbedaan Received: 26 September 2022. Accepted: 15 Mei 2023 - Jurnal Photon Vol. 13 No. DOI: https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon kepolaran dengan rendemen masing-masing pelarut yang didapatkan yaitu n-heksan 30 %, etil asetat 15 % dan etanol fraksi 50 %. Hasil maserasi dan fraksinasi dilakukan uji fitokimia dengan pelarut etanol didapatkan triterpenoid dan steroin, flavonoid, saponin dan tanin sedangkan pada plarut hasil fraksinasi yaitu n-heksan didapatkan flavonoid dan fenolik. Etil asetat didapatkan flavonoid, tannin dan fenolik. Etanol fraksi didapatkan triterpenoid dan steroin, flavonoid, saponin dan tannin. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan pelarut etanol yaitu hasil ekstraksi mendapatkan nilai IC 50 1,406 AAg/ml, fraksi n-heksan mendapatkan nilai IC50 2,91 AAg/ml, fraksi etil asetat mendapatkan nilai IC 50 103 AAg/ml dan fraksi etanol mendapatkan nilai IC50 18,99 AAg/ml dan vitamin C mendapatkan nilai IC 50 2,22 AAg/ml sebagai pembanding jadi hasil yang didapatkan pada etanol sangat kuat dibandingkan vitamin C, fraksi n-heksan dan fraksi etanol menunjukkan hasil sangat kuat sedangkan yang fraksi etil asetat memiliki hasil sedang. Daftar Pustaka