Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 369-375 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Keterbatasan Sarana Dan Prasarana PIAUD Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Di Desa Binjai Erine Agustia1. Yumidar2. Mila Sukarti3. Selpiana4 Info Artikel Abstract Keywords: Community Engagement. Early Childhood Education. Educational Facilities. Listening Comprehension. Teacher Training. This study investigates the limitations of facilities and infrastructure in the Early Childhood Islamic Education (PIAUD) program in Binjai Village and explores alternative solutions to enhance the quality of early childhood Adequate educational facilities and resources are crucial for supporting effective learning, particularly in developing childrenAos listening comprehension skills and overall cognitive development. The research employed a case study design with a qualitative approach, complemented by descriptive statistical analysis to strengthen data interpretation. Data were collected through field observations, in-depth interviews with teachers and school principals, and documentation. Thematic analysis was used to identify recurring issues, while frequency counts and percentage distributions were applied to highlight the extent of facility limitations. The findings indicate that physical facilities, including classrooms, learning media, and educational toys, are significantly limited in PIAUD institutions in Binjai Village. These constraints negatively affect the teachingAelearning process and hinder the development of childrenAos potential, particularly in language acquisition and listening comprehension skills. Key contributing factors include inadequate government budget allocation, insufficient teacher training, and low levels of community engagement. To address these challenges, the study proposes several alternative solutions: optimizing local resources, strengthening partnerships with private sectors and donor agencies, and establishing community-based teacher training Implementing these strategies is expected to improve the quality, sustainability, and equity of early childhood education services in Binjai Village. Kata kunci: Keterlibatan Masyarakat. Kemampuan Menyimak. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterbatasan sarana dan prasarana pada Program Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di Desa Binjai serta merumuskan alternatif solusi untuk meningkatkan kualitas Sarana pendidikan yang memadai sangat penting dalam mendukung efektivitas pembelajaran, khususnya dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan keterampilan listening comprehension anak usia Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna. Natuna. Indonesia Email: erineagustina@gmail. Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna. Natuna. Indonesia Email: yumidarntn25@gmail. Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna. Natuna. Indonesia Email: milasukartym@gmail. Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna. Natuna. Indonesia Email: viantn736@gmail. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pendidikan Anak Usia Dini. Pelatihan Guru. Sarana Pendidikan E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif yang dipadukan dengan analisis statistik deskriptif untuk memperkuat interpretasi data. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan guru dan kepala sekolah, serta Analisis tematik digunakan untuk menemukan isu-isu utama, sedangkan analisis frekuensi dan distribusi persentase digunakan untuk menyoroti sejauh mana keterbatasan sarana prasarana. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sarana fisik seperti ruang kelas, media pembelajaran, dan alat permainan edukatif di lembaga PIAUD Desa Binjai masih sangat terbatas. Keterbatasan ini berdampak negatif terhadap proses pembelajaran dan menghambat pengembangan potensi anak, khususnya dalam pemerolehan bahasa dan keterampilan listening Faktor penyebab utama meliputi minimnya dukungan anggaran pemerintah, kurangnya pelatihan guru, serta rendahnya keterlibatan masyarakat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini menawarkan beberapa alternatif solusi, antara lain optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan kemitraan dengan sektor swasta dan lembaga donor, serta pengembangan program pelatihan guru berbasis masyarakat. Implementasi strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas, keberlanjutan, dan pemerataan layanan pendidikan anak usia dini di Desa Binjai. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 04 September 2025 25 September 2025 28 September 2025 30 September 2025 Cara Mensitasi Artikel: Agustia. Yumidar. Sukarti. , & Selpiana. Keterbatasan sarana dan prasarana PIAUD dalam meningkatkan mutu pembelajaran di Desa Binjai. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 369-375, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Selpiana, viantn736@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap awal dan sangat penting dalam keseluruhan sistem pendidikan. Pada tahap ini, fondasi karakter, nilai moral, serta potensi intelektual anak mulai terbentuk sehingga menentukan arah perkembangan anak di jenjang pendidikan Dalam konteks pendidikan Islam, keberadaan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) memiliki urgensi yang lebih tinggi, karena tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, motorik, dan sosial-emosional anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini. Melalui PIAUD, diharapkan terbentuk generasi yang berakhlakul karimah, cinta ilmu, dan berkepribadian Islami. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan Islam yang menekankan keselarasan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan moral. Namun, dalam praktiknya, berbagai lembaga PAUD di Indonesia, termasuk PIAUD, masih menghadapi beragam kendala dalam manajemen pembelajaran. Kendala tersebut antara lain kurangnya tenaga pendidik yang profesional, keterbatasan sarana prasarana, serta minimnya pelibatan orang tua dalam proses pendidikan anak (Suwandi, 2. Padahal, tenaga pendidik yang kompeten dan didukung dengan sarana prasarana yang memadai merupakan syarat utama untuk menciptakan proses pembelajaran yang optimal. Kondisi ini semakin nyata terlihat di wilayah pedesaan seperti Desa Binjai, di mana keterbatasan sarana prasarana menjadi masalah serius yang memengaruhi kualitas layanan pendidikan. Berdasarkan observasi awal, lembaga PIAUD di Desa Binjai menghadapi keterbatasan yang cukup kompleks dalam hal pengelolaan sarana prasarana. Fasilitas dasar seperti ruang kelas, media Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 pembelajaran, hingga alat permainan edukatif masih sangat terbatas. Padahal, pengetahuan tentang sarana dan prasarana pendidikan yang memadai akan membantu guru dalam memahami peran strategis mereka dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, ketiadaan sarana prasarana di sekolah akan berdampak langsung pada menurunnya kualitas pembelajaran di kelas dan berpotensi menghambat perkembangan anak secara holistik (Adilla et al. , 2. Dengan kata lain, persoalan sarana dan prasarana bukan hanya sekadar pelengkap, tetapi merupakan faktor fundamental yang menentukan efektivitas pembelajaran anak usia dini. Urgensi penelitian ini semakin kuat jika melihat fakta bahwa keterbatasan anggaran negara dan rendahnya prioritas pendidikan anak usia dini dalam kebijakan lokal membuat pemerintah sulit menyediakan sarana prasarana yang ideal bagi seluruh lembaga PIAUD. Oleh karena itu, perlu dicari strategi alternatif yang tidak bergantung sepenuhnya pada intervensi pemerintah. Pendekatan berbasis komunitas, pemanfaatan potensi lokal, serta kerja sama lintas sektor menjadi strategi penting yang perlu ditelaah lebih jauh. Dengan demikian, penelitian ini hadir untuk memberikan gambaran nyata mengenai kondisi PIAUD di Desa Binjai sekaligus menawarkan solusi praktis yang lebih aplikatif. Jika ditinjau dari literatur sebelumnya, penelitian mengenai PIAUD telah banyak dilakukan, namun sebagian besar berfokus pada aspek tenaga pendidik, kurikulum, atau metode pembelajaran. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, tren penelitian lebih banyak mengarah pada pemanfaatan teknologi digital interaktif, seperti penggunaan aplikasi pembelajaran berbasis augmented reality, media digital berbasis audio-visual, atau film animasi sebagai sarana meningkatkan motivasi dan keterampilan anak di PAUD. Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital dapat meningkatkan partisipasi anak serta memperkuat keterampilan kognitif, termasuk kemampuan bahasa. Akan tetapi, sebagian besar penelitian tersebut dilaksanakan di wilayah perkotaan yang relatif memiliki akses sarana teknologi yang lebih baik. Di sisi lain, masih sangat terbatas penelitian yang secara khusus membahas persoalan sarana dan prasarana PIAUD di daerah pedesaan. Aspek infrastruktur pendidikan sering kali dianggap sepele atau sekadar latar belakang masalah, padahal pada kenyataannya merupakan fondasi utama dari proses pembelajaran yang efektif. Belum banyak penelitian yang mendalami bagaimana keterbatasan sarana prasarana secara langsung memengaruhi kualitas pembelajaran, khususnya pada konteks lembaga pendidikan Islam anak usia dini di pedesaan. Inilah yang menjadi research gap utama dari penelitian ini. Dengan demikian, penelitian ini memiliki novelty dalam dua hal. Pertama, penelitian ini menempatkan persoalan sarana prasarana sebagai fokus utama, bukan sekadar faktor pendukung, sehingga diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dampaknya terhadap proses pembelajaran anak usia dini. Kedua, penelitian ini menawarkan solusi alternatif yang berbasis komunitas, mengoptimalkan sumber daya lokal, serta membangun kemitraan dengan sektor swasta dan lembaga donor, yang hingga kini belum banyak diangkat dalam penelitian-penelitian Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengisi kekosongan literatur sekaligus memberikan kontribusi praktis bagi pengelolaan PIAUD di pedesaan, khususnya di Desa Binjai, dan pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kualitas layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia secara lebih luas. METODE Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif yang dipadukan dengan analisis statistik deskriptif. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada kebutuhan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai keterbatasan sarana dan prasarana Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di Desa Binjai serta untuk merumuskan alternatif solusi peningkatan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mutu pembelajaran. Studi kasus dianggap tepat karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi fenomena secara kontekstual dalam batasan ruang dan waktu tertentu (Creswell & Poth, 2. Subjek penelitian terdiri atas kepala lembaga PIAUD dan guru yang berada di Desa Binjai, karena mereka memiliki pengalaman langsung terkait kondisi sarana prasarana serta dinamika proses pembelajaran. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam. Observasi digunakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan kondisi aktual sarana prasarana yang ada di lembaga PIAUD. Hal ini penting karena observasi memungkinkan peneliti mendapatkan data faktual di lapangan yang mungkin tidak terungkap melalui wawancara (Sugiyono, 2. Selanjutnya, wawancara mendalam dilakukan dengan kepala lembaga dan guru untuk menggali perspektif, pengalaman, serta ide-ide solusi mereka terkait keterbatasan sarana prasarana dan strategi peningkatan kualitas Wawancara dipilih karena dapat menghasilkan informasi yang kaya serta memungkinkan peneliti memahami makna dari pengalaman partisipan (Kvale & Brinkmann, 2. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik, yaitu dengan mengidentifikasi, mengorganisasi, dan menginterpretasi tema-tema pokok dari hasil wawancara dan observasi. Tahapan analisis meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang bersifat reflektif (Braun & Clarke, 2. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan triangulasi sumber dan Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari kepala lembaga dan guru, sementara triangulasi teknik dilakukan dengan mengonfirmasi data hasil wawancara menggunakan observasi lapangan. Strategi ini dipandang efektif dalam meningkatkan kredibilitas dan validitas temuan penelitian (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menjunjung tinggi etika akademik. Sebelum kegiatan penelitian dilakukan, peneliti meminta izin kepada pihak lembaga PIAUD di Desa Binjai serta memberikan penjelasan terkait maksud dan tujuan penelitian. Selain itu, kerahasiaan informasi pribadi dari para partisipan dijaga secara ketat untuk memastikan hak-hak partisipan terlindungi. Prinsip informed consent diterapkan untuk memastikan bahwa setiap partisipan memahami dan menyetujui keterlibatan mereka dalam penelitian (Punch & Oancea, 2. Dengan metodologi ini, diharapkan penelitian dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai keterbatasan sarana dan prasarana PIAUD di Desa Binjai sekaligus menawarkan alternatif solusi yang relevan untuk peningkatan mutu pembelajaran. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Kondisi Aktual Sarana dan Prasarana PIAUD di Desa Binjai Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di beberapa lembaga PIAUD di Desa Binjai, ditemukan bahwa kondisi sarana dan prasarana masih jauh dari standar minimal yang ditetapkan oleh Direktorat PAUD. Sebagian besar lembaga masih menggunakan ruang seadanya seperti ruang tamu rumah penduduk, aula serbaguna, atau musala yang dialihfungsikan menjadi ruang kelas. Hal ini berdampak pada keterbatasan ruang gerak anak, minimnya dekorasi edukatif, serta kurangnya suasana kelas yang ramah anak. Peralatan belajar juga sangat terbatas. Media pembelajaran seperti alat peraga, buku cerita anak, poster edukatif, dan alat permainan edukatif (APE) hampir tidak tersedia dalam jumlah memadai. Beberapa guru bahkan harus membuat alat peraga sendiri dengan bahan sederhana. Tidak ada fasilitas teknologi seperti laptop, proyektor, atau media audio-visual yang mendukung pembelajaran modern. Aspek sanitasi juga masih kurang memadai. Toilet dan tempat cuci tangan tidak higienis serta tidak ramah anak, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan. Kondisi ini memperkuat kesenjangan fasilitas pendidikan antar daerah. Ketimpangan infrastruktur pendidikan antara daerah maju dan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 tertinggal menyebabkan pelaksanaan kebijakan nasional tidak dapat berjalan optimal di semua wilayah, menimbulkan disparitas kualitas pendidikan (Putri et al. , 2. Analisis Statistik Untuk memperkuat temuan, dilakukan uji t independen yang membandingkan skor ketersediaan sarana prasarana antara lembaga PIAUD di Desa Binjai . elompok eksperime. dengan standar minimal nasional . elompok pembandin. Variabel Ruang Kelas Media Pembelajaran Alat Permainan Edukatif Fasilitas Sanitasi M (Binja. M (Standa. T-Value P-Value CohenAos D Hasil uji menunjukkan perbedaan yang signifikan . < 0. pada seluruh indikator sarana dan prasarana, dengan effect size besar (CohenAos d > 0. Hal ini menegaskan bahwa kondisi PIAUD di Desa Binjai jauh di bawah standar minimal nasional. Keterbatasan yang dihadapi lembaga Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di pedesaan tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor penyebab yang saling berkaitan. Salah satu penyebab utama adalah minimnya dukungan dana dari pemerintah. Banyak lembaga PIAUD swasta di wilayah pedesaan yang jarang memperoleh bantuan operasional secara memadai. Sebagian besar lembaga tersebut dikelola secara swadaya oleh masyarakat atau yayasan kecil yang tidak memiliki akses kuat terhadap berbagai program pemerintah. Kondisi ini menyebabkan sarana dan prasarana yang tersedia sangat terbatas dan pengelolaan lembaga sering kali berjalan dengan penuh keterbatasan. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya PIAUD juga menjadi faktor yang memperburuk keadaan. Sebagian besar masyarakat masih memandang PIAUD hanya sebagai pelengkap dalam pendidikan anak usia dini, bukan sebagai fondasi penting bagi perkembangan anak di masa depan. Akibatnya, tingkat partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan maupun keberlangsungan lembaga menjadi sangat rendah. Hal ini berdampak pada minimnya kontribusi, baik berupa dukungan moral maupun material, dari lingkungan sekitar. Faktor lain yang turut memperkuat keterbatasan adalah rendahnya kapasitas pengelola lembaga. Banyak pengelola yang belum memiliki kemampuan memadai dalam menyusun proposal bantuan, menjalin kerja sama dengan pihak luar, maupun memanfaatkan potensi lokal yang tersedia. Kondisi ini menyebabkan peluang untuk mendapatkan sumber daya tambahan dari pemerintah, swasta, maupun masyarakat tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Terakhir, tidak adanya kemitraan strategis juga menjadi hambatan besar dalam pengembangan lembaga PIAUD. Belum terjalin kolaborasi yang kuat dengan pihak swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), maupun perguruan tinggi yang sebenarnya dapat memberikan kontribusi besar melalui program pendampingan, pelatihan, maupun penyediaan sarana. Ketiadaan jejaring kerja sama ini membuat lembaga berjalan sendiri tanpa dukungan dari pihak eksternal yang berpotensi memperkuat kualitas layanan pendidikan. Keterbatasan sarana prasarana berpengaruh langsung terhadap kualitas pembelajaran. Anak-anak menjadi kurang aktif karena minimnya alat bermain, pembelajaran lebih bersifat verbal dan monoton. Guru kesulitan mengembangkan materi ajar secara Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 variatif, sehingga menurunkan minat belajar anak. Hal ini menghambat perkembangan kognitif, motorik, dan sosial emosional. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara kondisi aktual PIAUD di Desa Binjai dengan standar nasional. Perbedaan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mencerminkan ketimpangan nyata dalam pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan. Hal ini sejalan dengan temuan Putri et al. yang menyoroti adanya disparitas infrastruktur pendidikan antar daerah di Indonesia. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa keterbatasan sarana prasarana bukan sekadar hambatan teknis, melainkan hambatan struktural yang berimplikasi langsung terhadap kualitas layanan pendidikan. Besarnya effect size yang diperoleh menunjukkan bahwa dampak keterbatasan ini bersifat substantif, bukan marjinal. Secara teoritis, keterbatasan sarana dan prasarana berdampak pada terbatasnya penerapan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman nyata . xperiential learnin. , yang menurut berbagai teori pendidikan anak usia dini merupakan inti dari proses belajar. Tanpa adanya alat peraga, alat permainan edukatif (APE), serta media visual yang memadai, pembelajaran cenderung bersifat Hal ini bertolak belakang dengan teori perkembangan kognitif Piaget yang menekankan pentingnya interaksi anak dengan objek nyata untuk membangun skema pengetahuan baru. Sebagaimana ditegaskan oleh Nugraha et al. , pengalaman langsung melalui manipulasi objek konkret sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan kognitif dan sosial-emosional anak usia Kontribusi praktis penelitian ini tercermin dalam solusi alternatif yang ditawarkan, yaitu pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan peran orang tua, kolaborasi lintas sektor, dan pelatihan guru berbasis komunitas. Strategi ini dinilai lebih kontekstual dan realistis dibandingkan dengan solusi berbasis teknologi digital yang umumnya lebih relevan untuk wilayah perkotaan dengan dukungan infrastruktur memadai. Dengan demikian, penelitian ini menekankan urgensi penerapan pendekatan community-based education management sebagai salah satu strategi untuk memperkecil disparitas antar daerah. Sejalan dengan hasil penelitian Suryani dan Rahmawati . , kolaborasi berbasis komunitas terbukti dapat memperkuat daya dukung pendidikan anak usia dini di wilayah pedesaan. Lebih jauh, penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas perspektif mengenai keterbatasan infrastruktur fisik. Selama ini, literatur tentang PAUD lebih banyak menekankan aspek kurikulum, kompetensi guru, dan partisipasi orang tua. Penelitian ini melengkapi kajian sebelumnya dengan menegaskan bahwa infrastruktur fisik bukan sekadar pendukung teknis, tetapi juga faktor determinan dalam menjamin kualitas pembelajaran anak usia dini. Hal ini sejalan dengan temuan Susanti . yang menegaskan bahwa infrastruktur yang memadai tidak hanya menunjang kelancaran proses belajar, tetapi juga menjadi prasyarat bagi keberhasilan implementasi kurikulum PAUD secara utuh. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa lembaga PIAUD di Desa Binjai menghadapi permasalahan serius terkait keterbatasan sarana dan prasarana, mulai dari ruang kelas yang tidak layak, minimnya media pembelajaran, hingga ketiadaan alat permainan edukatif yang sesuai standar, yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran anak usia dini yang seharusnya aktif, menyenangkan, dan berbasis pengalaman nyata. Faktor penyebab utama mencakup rendahnya dukungan dana dari pemerintah, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan usia dini, terbatasnya kapasitas pengelola lembaga, serta belum adanya kemitraan strategis dengan pihak luar. Penelitian ini menawarkan solusi berbasis pendekatan lokal, kolaboratif, dan berkelanjutan, seperti pemanfaatan sumber daya lokal, pemberdayaan orang tua, kemitraan dengan perguruan tinggi Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dan sektor swasta, serta pelatihan guru berbasis komunitas. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan di satu desa dengan jumlah lembaga yang relatif kecil, sehingga temuan belum dapat digeneralisasikan ke konteks yang lebih luas. Oleh karena itu, penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan cakupan wilayah yang lebih besar, melibatkan lebih banyak lembaga, serta mempertimbangkan penggunaan desain eksperimen atau pendekatan kuantitatif yang lebih kuat untuk mengukur dampak nyata keterbatasan sarana prasarana terhadap perkembangan anak usia dini. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abdulah. Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini. Kencana. Andini. , & Setiawan. Strategi pengelolaan sarana prasarana untuk meningkatkan mutu layanan PAUD. Jurnal Educhild, 5. , 88Ae99. Braun. , & Clarke. Thematic analysis: A practical guide. SAGE Publications. Creswell. , & Poth. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches . th ed. SAGE Publications. Fitria. Pengaruh sarana dan prasarana terhadap kualitas pembelajaran di lembaga PAUD. Jurnal Pendidikan Usia Dini, 14. , 87Ae95. https://doi. org/10. 21009/JPUD. Hapsari. , & Purnamasari. Implementasi manajemen sarana prasarana PAUD berbasis Masyarakat. Jurnal Golden Age, 7. , 45Ae56. Hidayat. Manajemen Lembaga PAUD Modern. Deepublish. Kvale. , & Brinkmann. InterViews: Learning the craft of qualitative research interviewing . th ed. SAGE Publications. Lubis. , & Hasanah. Analisis kebutuhan sarana prasarana PAUD di daerah terpencil. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia, 7. , 133Ae145. Miles. Huberman. , & Saldaya. Qualitative data analysis: A methods sourcebook . th ed. SAGE Publications. Nugraha. Putra. , & Hidayat. Experiential learning dalam pendidikan anak usia dini: Teori Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5. , 112Ae123. https://doi. org/10. 21009/jpaud. Pratiwi. , & Nugroho. Pengembangan media pembelajaran inovatif di PAUD. Early Childhood Education Journal of Indonesia, 3. , 55Ae64. Punch. , & Oancea. Introduction to research methods in education . rd ed. SAGE Publications. Putra. , & Dewi. Efektivitas pelatihan guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran anak usia dini. Jurnal Obsesi, 6. , 210Ae220. Putri. Anwar. , & Siregar. Ketimpangan infrastruktur pendidikan dan dampaknya terhadap pemerataan akses PAUD di Indonesia. Jurnal Kebijakan Pendidikan, 10. , 15Ae28. Rahmah. Kolaborasi orang tua dan guru dalam peningkatan mutu PAUD. Jurnal Pendidikan Anak, 9. , 77Ae88. Ramadhani. , & Yuliana. Optimalisasi sumber daya lokal untuk mendukung kegiatan belajar anak usia dini. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kebudayaan, 17. , 112Ae119. Sari. , & Wulandari. Peran guru dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini melalui media pembelajaran. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5 . , 1001Ae1012. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Sugiyono. Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Alfabeta. Suryani. , & Rahmawati. Manajemen pendidikan berbasis komunitas dalam memperkuat layanan PAUD di pedesaan. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7. , 89Ae104. https://doi. org/10. 18326/jmpi. Susanti. Peran infrastruktur fisik dalam peningkatan kualitas pembelajaran PAUD. Jurnal Pendidikan Anak, 8. , 44Ae56. https://doi. org/10. 15294/jpa. Syamsu. , & Rahman. Inovasi pendidikan anak usia dini. Alfabeta. Wahyuni. , & Fadli. Peran teknologi digital dalam mendukung pembelajaran PAUD. Jurnal Inovasi Pendidikan Anak Usia Dini, 10. , 55Ae67. Yuliani. Strategi pembelajaran anak usia dini. Prenada Media Group.