Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 JURNAL TEKNIK INDUSTRI MANAJEMEN DAN MANUFAKTUR JURNAL TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 https://ejournal. id/index. php/jtim Identifikasi Potensi Bahaya Dan Usulan Mitigas Bahaya Pada Area Gudang Produksi Menggunakan Metode Job Safety Analysis (JSA) Edit Rusnita1. Galih Fatkhul Rachman1 Teknik Industri Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta Email : galihfatkhulr@gmail. ABSTRAK PT. Sentosa Kayu Indah merupakan industri yang bergerak di bidang produksi kayu atau industri pengolahan dan manufaktur kayu. Berdasarkan PP No 50 Tahun 2012 Pasal 5 ayat . bulir b yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki potensi bahaya tinggi wajib menerapkan SMK3. Namun praktiknya, saat ini PT. Sentosa Kayu Indah belum menerapkan SMK3. Oleh karena itu pada penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, memberikan prioritas dan usulah mitigasi bahaya terhadap potensi bahaya pada PT. Sentosa Kayu Indah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Job Safety Analysis (JSA) dalam mengidentifikasi potensi bahaya dan tools dari Failure Mode And Effect analysis (FMEA) yaitu Risk Priority Number (RPN) dalam penentuan prioritas potensi bahaya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancaara dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan pada tahap identifikasi potensi bahaya ditemukan 86 potensi bahaya dari keseluruhan stasiun kerja yang ada pada area produksi. Penentuan prioritas risiko atau bahaya dilakukan dengan menggunakan 78 potensi bahaya yang dianggap lolos uji validitas dan reliabilitas. Pada penentuan potensi bahaya prioritas didapat potensi bahaya prioritas dengan kategori tinggi yaitu tersengat listrik (RPN . , gangguan pendengaran (RPN . , jari tangan terpotong (RPN . dan tertabrak forklift (RPN . Untuk mitigasi bahaya, penelitian ini merekomendasikan strategi berdasarkan Hierarchy of Control, yaitu menghilangkan aktivitas berisiko, mengganti mesin atau aktivitas dengan alternatif yang lebih aman, melakukan inspeksi serta pemasangan pelindung pada alat kerja, menerapkan SOP secara ketat dengan penyediaan pelatihan bagi pekerja, serta memastikan penggunaan alat pelindung diri seperti masker, sepatu, kacamata, coverall, earmuff atau earplugs, dan helm safety. Kata Kunci: Job Safety Analysis. Failure Mode And Effect Analysis. Hierarchy Of Control ABSTRACT PT. Sentosa Kayu Indah is an industry engaged in wood production or wood processing and manufacturing industry. Based on PP No. 50 of 2012 Article 5 paragraph . point b which states that companies that have high hazard potential are required to implement SMK3. However, in practice, currently PT. Sentosa Kayu Indah has not implemented SMK3. Therefore, this study aims to identify, prioritize and propose hazard mitigation for potential hazards at PT. Sentosa Kayu Indah. The method used in this study is Job Safety Analysis (JSA) in identifying potential hazards and tools from Failure Mode And Effect analysis (FMEA) namely Risk Priority Number (RPN) in determining the priority of potential hazards. Data collection was carried out by observation, interviews and questionnaires. The results of the study showed that at the stage of identifying potential hazards, 86 potential hazards were found from all work stations in the production area. Determination of risk or hazard priorities was A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 carried out using 78 potential hazards that were considered to have passed the validity and reliability tests. In determining the potential priority hazards, the potential priority hazards obtained were in the high category, namely electric shock (RPN . , hearing loss (RPN . , cut fingers (RPN . and being hit by a forklift (RPN . For hazard mitigation, this study recommends strategies based on the Hierarchy of Control, namely eliminating risky activities, replacing machines or activities with safer alternatives, conducting inspections and installing protection on work tools, implementing strict SOPs with the provision of training for workers, and ensuring the use of personal protective equipment such as masks, shoes, glasses, coveralls, earmuffs or earplugs, and safety helmets. Keywords: Job Safety Analysis. Failure Mode And Effect Analysis. Hierarchy Of Control Diterima Redaksi: 18 April 2024 Selesai Revisi: 23 April 2024 Diterbitkan Online: 30 April 2025 PENDAHULUAN Sektor industri pengolahan atau manufaktur masih menjadi lapangan usaha yang memiliki kontribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi di indonesia pada tahun 2023. Hal ini dapat dikaitkan atas tingginya permintaan dari domestik maupun eksternal di tengah ketidakpastian ekonomi global. Mengutip dari data Kementrian Perindustrian Republik Indonesia . , sampai sekarang industri manufaktur masih menjadi pendorong utama perekonomian Indonesia. Hal ini berkaitan dengan konsistensi industri pengolahan non migas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan tingkat ketercapaian 16,30% pada triwulan II pada tahun 2023. Namun, seiring dengan pertumbuhan sektor industri, sumber daya manusia sebagai tenaga kerja tidak lepas dari masalah yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan selama bekerja, sedangkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. sendiri masih dilihat hanya sebagai lembar peraturan keselamatan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia (Nuawantoro et al. , 2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. merupakan hal yang sangat penting bagi setiap perusahaan yang memiliki tingkat resiko kecelakaan kerja tinggi, terutama pada perusahaan yang berkaitan dengan manufaktur (Kurnia, 2. Masalah-masalah yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. secara umum penerapannya di Indonesia masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukan dengan tingginya jumlah angka kecelakaan kerja di Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya seperti yang terlihat pada Tabel 1. 1 sebagai berikut: Tabel 1. Jumlah Pekerja Yang Mengalami KK/PAK Jumlah pekerja yang yang mengalami KK/PAK Jumlah Jumlah Meninggal (Oran. 210,789 22,20% 5,1% 5,6% Tahun Kenaikan Jumlah Sumber : BPJS Ketenagakerjaan, . Menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA) . , industri produksi kayu termasuk dalam pekerjaan yang dapat menimbulkan banyak bahaya. Sehingga PT. Sentosa Kayu Indah termasuk salah satu perusahaan yang harus menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK. Hal ini sesuai dengan PP No 50 Tahun 2012 Pasal 5 ayat . bulir b yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki potensi bahaya tinggi wajib menerapkan SMK3. Namun praktiknya, saat ini PT. Sentosa Kayu Indah belum menerapkan SMK3. Oleh karena itu Langkah awal dalam pelaksanaan SMK3, yaitu penetapan kebijakan K3 yang mana dalam PP No 50 Tahun 2012 Pasal 7 ayat . bulir a, yang menyebutkan bahwa dalam menyusun kebijakan K3, pemilik usaha, dapat melakukan tinjauan awal kondisi K3 berupa identifikasi potensi bahaya dan pengendalian risiko yang A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Menurut Masi et al. , . perusahaan yang secara baik dapat melakukan identifikasi bahaya dan menerapkan langkah-langkah pencegahannya dapat mengalami perubahan yang signifikan dalam menurunkan jumlah kecelakaan kerja. Selanjutnya guna menurunkan angka kecelakaan kerja yang ada di PT. Sentosa Kayu Indah, maka akan dilakukan langkah awal merujuk pada PP No 50 Tahun 2012 Pasal 7 ayat . bulir a yaitu identifikasi potensi bahaya dan pengendalian risiko. Pada tahap identifikasi bahaya, digunakan metode Job Safety Analysis (JSA) untuk mengetahui potensi bahaya pada setiap proses produksi. Menurut OSHA 3071 . Job Safety Analysis adalah sebuah teknik analisis bahaya pada suatu pekerjaan dengan teknik yang memfokuskan pada aktivitas pekerja sebagai cara untuk melakukan identifikasi bahaya sebelum terjadi sebuah insiden atau kecelakaan kerja. Meski demikian metode Job Safety Analysis (JSA) memiliki kekurangan yaitu dalam proses identifikasi bahaya. Job Safety Analysis (JSA) tidak dapat menilai tingkat risiko dari bahaya yang teridentifikasi (Magda et al. , 2. , sehingga perlu digunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk melakukan penilaian risiko dan penentuan prioritas risiko (Li & Zeng, 2. Ericson II . , menyebutkan bahwa Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) tidak direkomendasikan sebagai satu-satunya alat untuk identifikasi bahaya dikarenakan FMEA kemungkinan besar tidak dapat melakukan identifikasi seluruh bahaya yang kemungkinan ada. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) boleh digunakan ketika dilakukan bersamaan dengan alat yang fokus untuk melakukan identifikasi bahaya. Sehingga Job Safety Analisis (JSA) dan Failure Mode And Effect Analysis (FMEA) diterapkan pada penelitian guna memberikan pendekatan yang terstruktur dan terperinci dalam proses identifikasi bahaya serta memberikan penilaian risiko dan penentuan prioritas risiko pada setiap tahap aktivitas produksi. Setelah potensi-potensi bahaya teridentifikasi, selanjutnya digunakan Hierarchy Of Control sebagai mitigasi atau pencegahan bahaya pada penelitian ini dibuat oleh penulis dengan memberikan rekomendasi atau usulan mitigasi berdasarkan 5 pion pada hierarchy of control yaitu elimination, subtitution, engineering control, administrative control, dan Personel Protective Equipment (PPE). Hal ini sesuai dengan PERMENAKER No 5 Tahun 2018 Pasal 7. METODE PENELITIAN Penelitian berlokasi PT. Sentosa Kayu Indah terkait proses proses produksi dengan tujuan mengidentifikasi potensi bahaya, pencarian prioritas risiko, serta melakukan mitigasi terhadap potensi bahaya yang teridentifikasi pada proses produksi di PT. Sentosa Kayu Indah melalui penagplikasian konsep Job Safety Analysis (JSA) dengan pendekatan Failure Mode And Effect Analisys (FMEA) guna pencarian prioritas potensi bahaya dan Hierarchy Of Control sebagai mitigasi atau pencegahan bahaya sesuai dengan PERMENAKER No 5 Tahun 2018 Pasal 7. Pada penelitian ini metode pengumpulan data dilakukan adalah sebagai berikut: Observasi Pada penelitian ini, menggunakan jenis observasi partisipasi dengan peneliti mengumpulkan data secara langsung di PT. Sentosa Kayu Indah didampingi kepala bagian produksi. Wawancara Pada penelitian ini digunakan wawancara terstruktur kepada setiap perwakilan dari stasiun kerja planner, cross cut, moulding, rip saw dan packing. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui aktivitas dan potensi bahaya dari setiap stasiun kerja yang ada pada area produksi PT. Sentosa Kayu Indah. Kuesioner Kuesioner potensi bahaya akan dibagian kepada setiap pekerja aktif pada tiap stasiun kerja yang ada pada PT. Sentosa Kayu Indah. Skala likert yang digunakan pada penilaian kemungkinan terjadi menggunakan skala 1 sampai 5, mengindikasikan kemungkinan terjadinya potensi bahaya tersebut mulai dari sangat kecil hingga sangat besar. Detail bobot dari skala likert dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Skala Likert Tingkat Kemungkinan Skor/Skala Sangat Kecil (SK) Kecil (K) Sedang (S) Besar (B) Sangat Besar (SB) A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Sumber: Syahputra et al. , . HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Job Safety Analysis (JSA) Pada proses identifikasi potensi bahaya dilakukan berdasarkan unsafe action, unsafe manmachine interaction dan unsafe condition pada area produksi PT. Sentosa Kayu Indah menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA). Metode JSA digunakan untuk mengetahui bahaya-bahaya yang memiliki kemungkinan akan terjadi pada setiap aktivitas yang dilakukan pekerja selama proses Pada penelitian ini, potensi bahaya diidentivikasi melalui wawancara, observasi lapangan dan penelitian sebelumnya. Wawancara dilakukan terhadap perwakilan setiap stasiun kerja mengenai aktivitas kerja dan potensi bahaya yang memungkinkan terjadi. Observasi lapangan juga dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung aktivitas setiap stasiun kerja pada area produksi. Pada observasi lapangan guna identifikasi bahaya, penulis didampingi oleh kepala bagian produksi dan dilakukan analisi potensi bahaya dari penelitian sebelumnya, sehingga pada pengambilan data bukan hanya subjektif dari penulis (Pradipta, 2. Job Safety Analysis (JSA) Stasiun Kerja Planner Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Sumber Tergores permukaan kayu Luka gores Hasil wawancara Tertusuk permukaan kayu Luka tusuk atau luka gores Hasil wawancara Jari mata pisau Luka gores dan Amalia et al. Cidera punggung/bahu Keterbatasan kerusakan saraf dan kelemahan Ayyubi et al. Tuas mengenai Cidera. Ayyubi et al. Jari terjepit Pembengkakan, memar pada jari dan retak tulang Hasil Tersengat listrik Luka bakar Ayyubi et al. Pengecekan permukaan kayu Memastikan mata pisau tidak Menyesuaikan Menyalakan Pengendalian Potensi Bahaya A Subtitusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi A APD: Safety gloves A Subtitusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi A APD: Safety gloves A Eliminasi: menghilangkan aktivitas tersebut dan diganti dengan aktivitas yang lebih A Subtitusi: kegiatan tersebut dapat diganti dengan melakukan pergantian mata pisau secara terjadwal. A Administrasi control: pembuatan prosedur dan SOP yang berlaku dalam melakukan uji Melakukan penggantian mata pisau atau melakukan pengasahan mata pisau secara terjadwal dan telah ditetapkan oleh kebijakan perusahaan. logout/tagout (LOTO) Ketika melakukan pengecekan ketajaman mata A APD: Safety gloves A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi control: memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis A APD: safety gloves, helm safety. Sepatu A Subtitusi: menggunakan mesin dengan penyesuaian otomatis tanpa melakukan manual handling. A Administrasi control: pembuatan SOP mengenai penggunaan alat A APD: safety gloves A Subtitusi: menggunakan mesin dengan dengan penyesuaian otomatis tanpa tanpa melakukan manual handling. A Administrasi control: pembuatan SOP mengenai penggunaan alat A APD: safety gloves A Engineering control: Melakukan inspeksi dan perawatan rutin pada mesin untuk memastikan kondisi listriknya aman dan sesuai standar dan memastikan semua kabel, saklar, dan panel listrik mesin memiliki pelindung isolasi yang baik dan tahan terhadap kerusakan. A Administrasi control: Membuat standar operasional prosedur (SOP) khusus untuk A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Potensi Bahaya Pembengkakan. Amalia et al. Penyusuna kayu tidak rapi Tersandung Safitri et al. Cidera Keterbatasan kerusakan saraf dan kelemahan Safitri et al. Tertimpa kayu Luka memar dan Hasil Tangan tergores Luka gores dan Ayyubi et al. Luka dan pendarahan Ayyubi et al. Tertimpa kayu Memasukkan kayu ke dalam Mengambil kayu yang keluar dari Sumber Jari terjepit/cidera Mengangkat kayu ke area Proses Risiko Tangan masuk ke mesin Luka sobek dan tangan terpotong Alfredo et ,. dan Gangguan Kerusakan gendang telinga. Pradana et al. Terhirup ampas debu kayu Asma, gangguan Hasil Mata Infeksi dan iritasi pada mata Hasil Tertimpa kayu Cidera, memar dan pendarahan Ayyubi et al. Cidera punggung/bahu Keterbatasan kerusakan saraf Ayyubi et al. Pengendalian Potensi Bahaya memastikan pekerja memahami risiko listrik saat bekerja, prosedur aman menyalakan mesin termasuk langkah-langkah inspeksi sebelum mesin dioperasikan. A APD: Sepatu safety, safety gloves A Administrasi control: pembuatan SOP memerhatikan area tangan jagagan terlalu dekat dengan alas kayu. A APD: Sepatu safety A Eliminasi: menghilangkan potensi bahaya dengan membuat area peletakan kayu di area mesin. A Administrasi control: pembuatan area khusus kayu yang akan digunakan dan kayu sisa pemotongan A APD: Sepatu safety A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti forklift. A Administrasi control: memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis APD: safety gloves. Sepatu safety. A Administrasi Melakukan pengangkatan dengan memegang kayu secara erat dan tepat. A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering control: menggunakan alat bantu seperti conveyor A Administrasi control: Pekerja diberikan arahan mengenai menghindari gesekan berlebih saat memasukkan kayu. APD: Safety gloves A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi control: Pembuatan SOP mengenai cara pengangkatan kayu dengan A APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering control: membuat sensor atau fitur interlock pada mesin sehingga mesin dapat mati secara otomatis Ketika ada bagian tubuh yang terlalu dekat dengan mesin, menggunakan alat bantu dorong sehingga tidak mendekatkan tangan pada area mesin. A Administrasi control: pembuatan SOP mengenai penggunaan alat, memberikan pelatihan berkala pada pekerja. A APD: safety gloves. Sepatu safety A Subtitusi: mengganti mesin dengan yang lebih senyap. A Engineering Melakukan maintenance terhadap mesin secara A Administrasi membatasi durasi waktu terkena paparan dengan melakukan rotasi pekerja A APD: earplug atau earmuff A Engineering control: membuat penutup pada area pisau penghalusan A Administrasi SOP mengenai jarak antara pekerja dan mesin. A APD: masker Safety A Engineering control: membuat penutup pada area pisau penghalusan A Administrasi SOP mengenai jarak antara pekerja dan mesin. A APD: kacamata safety A Administrasi Melakukan pengangkatan dengan memegang kayu secara erat dan tepat. A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Memastikan kayu dihaluskan secara merata Tergores permukaan kayu Sumber Luka gores dan Hasil Pengendalian Potensi Bahaya A Administrasi control: memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis APD: safety gloves, helm safety. Sepatu A Eliminasi: menyentuh permukaan kayu. A Subtitusi: melakukan pengecekan dengan hanya melihat permukaan kayu saja. A Engineering control: melakukan inspeksi mesin secara berkala khusunya pada pisau pemotong kayu, agar kayu yang dihasilkan benar- benar terpotong dengan baik dan A Administrasi control: Membatasi pekerja yang tidak terlatih untuk melakukan menghasilkan permukaan kasar, menyusun SOP pemotongan kayu yang benar tanpa A APD: safety gloves Pada tahap identifikasi bahaya pada stasiun kerja planner menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) diperoleh 9 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 20 potensi bahaya yang diidentifikasi berdasarkan hasil wawancara dan penelitian terdahulu. Job Safety Analysis (JSA) Stasiun Kerja Cross Cut Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Sumber Tergores Luka gores Hasil wawancara Tertusuk Luka Hasil wawancara Mengukur kayu yang akan Jari Luka gores pada jari Santoso et al. Memastikan mata gergaji tidak tumpul Jari mata gergaji Luka gores Amalia et al. dan hasil Menyalakan mesin Tersengat Listrik Luka bakar Ayyubi et al. Pengecekan permukaan kayu Pengendalian Potensi Bahaya A Eliminasi: Menghilangkan dikarenakan kecil kemungkinan ada benda asing didalam produk kayu. A Subtitusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi A APD: Safety gloves A Eliminasi: Menghilangkan dikarenakan kecil kemungkinan ada benda asing didalam produk kayu. A Subtitusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi A APD: Safety gloves A Administrasi control: Pada proses pemberian tanda/garis, pekerja diharap tidak melakukan gesekan secara sengaja ke area permukaan A APD: Safety gloves A Eliminasi: dihilangkan dan diganti dengan aktivitas yang lebih safety. A Subtitusi: kegiatan tersebut dapat diganti dengan melakukan pergantian mata pisau secara terjadwal. A Administrasi control: pembuatan prosedur dan SOP yang berlaku dalam melakukan uji A APD: Safety gloves Administrasi control: Membuat standar operasional prosedur (SOP) khusus untuk memastikan pekerja memahami risiko listrik saat bekerja, prosedur aman menyalakan mesin termasuk langkah-langkah inspeksi sebelum mesin dioperasikan. A Engineering control: Melakukan inspeksi dan perawatan rutin pada mesin untuk memastikan kondisi listriknya aman dan sesuai standar,dan memastikan semua kabel, saklar, dan panel listrik mesin memiliki pelindung isolasi yang baik dan tahan terhadap kerusakan. A APD: Sepatu safety, safety gloves A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Mengangkat kayu Proses Pembersihan serbuk kayu sisa Potensi Bahaya Risiko Sumber Mesin terbakar Kebakaran Caesar et al. Jari terjepit Cidera Amalia et al. Penyusunan Tersandung Safitri et al. Cidera punggung/bahu Keterbatasan Safitri et al. Tertimpa kayu Luka memar Hasil wawancara Jari Trauma Sebagian jari tangan Alfredo hasil wawancara Gangguan Rusaknya Terhirup debu ampas kayu Iritasi saluran seperti asma Mata terkena serpihan kayu Iritasi mata, kornea dan Alfredo et Santoso et al. Dzikruloh et al. Safitri et , . dan hasil wawancara Santoso et al. Alfredo et al. dan Santoso et al. dan hasil Jari tergores Luka gores dan infeksi Dzikruloh et al. dan hasil Tertimpa kayu Luka memar Safitri et al. Terhirup debu ampas kayu Iritasi saluran Amalia et al. dan hasil Pengendalian Potensi Bahaya A Administrasi Perusahaan menyediakan APAR di area mesin beroprasi. Melakukan pelatihan penggunaan APAR Melakukan maintenance mesin secara berkala. A Engineering control: Pembuatan fitur pendeteksi suhu mesin dan pembuatan sistem pendeingin otomatis. A APD: Safety gloves dan coverall A Administrasi control: pembuatan SOP memerhatikan area tangan jagan terlalu dekat dengan alas kayu. A APD: Sepatu safety A Eliminasi: menghilangkan potensi bahaya dengan membuat area peletakan kayu di area mesin. A Administrasi control: pembuatan area khusus kayu yang akan digunakan dan kayu sisa pemotongan A APD: Sepatu safety A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi control: memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis A APD: safety gloves, helm safety. Sepatu safety, masker safety, kacamata safety A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering control: membuat sensor atau fitur interlock pada mesin sehingga mesin dapat mati secara otomatis Ketika ada bagian tubuh yang terlalu dekat dengan mata A Administrasi control: mengikuti SOP perusahaan mengenai batas jarak aman area tangan dan proses penggunaan alat yang baik, benar dan aman. A APD: safety gloves A Subtitusi: mengganti mesin dengan yang lebih senyap A Engineering Melakukan maintenance terhadap mesin secara A Administrasi membatasi durasi waktu terkena paparan dengan melakukan rotasi pekerja A APD: earmuff atau ealplugs A Engineering control: pemberian pelindung pada alat supaya serpihan kayu tidak A APD: masker safety A Engineering control: pemberian pelindung pada alat supaya serpihan kayu tidak A APD: kacamata/pelindung wajah A Engineering control: membuat sensor atau fitur interlock pada mesin sehingga mesin dapat mati secara otomatis Ketika ada bagian tubuh yang terlalu dekat dengan mata A Administrasi control: mengikuti SOP perusahaan mengenai batas jarak aman area tangan dan proses penggunaan alat yang baik, benar dan aman. A APD: safety gloves A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering control: pemberian pelindung pada alat supaya serpihan kayu tidak A APD: masker safety A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Sumber Pengendalian Potensi Bahaya Mata terkena serpihan kayu Iritasi mata, kornea dan Amalia et al. A Engineering control: pemberian pelindung pada alat supaya serpihan kayu tidak A APD: kacamata/pelindung wajah Tertusuk serpihan kayu Luka gores, infeksi, dan Hasil wawancara Jari Luka ringan, dan infeksi Hasil wawancara Tertimpa kayu Luka memar Hasil wawancara seperti asma Pengecekan kayu hasil pemotongan A Engineering control: membersihkan area kayu menggunakan sikat yang terbuat dari A APD: safety gloves A Subtitusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi APD: Safety gloves A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A APD: Sepatu safety, safety gloves Pada tahap identifikasi bahaya pada stasiun kerja cross cut menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) diperoleh 8 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 21 potensi bahaya yang diidentifikasi berdasarkan hasil wawancara dan penelitian terdahulu. Job Safety Analysis (JSA) Stasiun Kerja Moulding Aktivitas Memastikan mata pisau tidak tumpul Potensi Bahaya Risiko Sumber Pengendalian Potensi Bahaya Tergores mata Tangan tergores mata Amalia et al. dan hasil Tersengat Listrik Luka bakar Ayyubi Mesin terbakar Caesar et al. Membungkuk Cidera Permatasari et , . Tangan Infeksi Menyalakan mesin Mengangkat kayu ke area mesin Permatasari et , . A Eliminasi: aktivitas tersebut dapat dihilangkan dan diganti dengan aktivitas yang lebih A Subtitusi: kegiatan tersebut dapat diganti dengan melakukan pergantian mata pisau secara terjadwal. A Administrasi control: Pembuatan jadwal pergantian mata pisau srcara berkala. Pembuatan prosedur dan SOP yang berlaku dalam melakukan uji ketajaman A APD: Safety gloves A Engineering control: Melakukan inspeksi dan memastikan kondisi listriknya aman dan sesuai standar,dan memastikan semua kabel, saklar, dan panel listrik mesin memiliki pelindung isolasi yang baik dan tahan terhadap kerusakan. A Administrasi control: Membuat standar operasional prosedur (SOP) khusus untuk memastikan pekerja memahami risiko listrik saat bekerja, prosedur aman menyalakan mesin termasuk langkah-langkah inspeksi sebelum mesin dioperasikan. A APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering Pembuatan pendeteksi suhu mesin dan pembuatan sistem pendingin otomatis. A Administrasi Perusahaan menyediakan APAR di area mesin beroprasi. Melakukan pelatihan penggunaan APAR kepada tiap pekerja. Melakukan maintenance mesin secara berkala. A APD: Safety gloves dan coverall A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti forklift. A Administrasi control: memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis A APD: safety gloves. Sepatu safety. A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti forklift. A Administrasi control: pembuatan SOP mengenai cara memegang kayu yang sesuai guna mengurangi tangan tergores. A APD: safety gloves A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Sumber Pengendalian Potensi Bahaya Jari tempat kayu Kuku Permatasari et , . A Administrasi control: pembuatan SOP memerhatikan area tangan jagan terlalu dekat dengan alas kayu. A APD: Safety gloves Tertimpa kayu Luka memar. Hasil A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A APD: Sepatu safety, safety gloves Tergores serpihan kayu Terluka gores Ayyubi et al. Tertimpa kayu Cidera Ayyubi et al. Memasukkan kayu bagian depan Jari tersayat Luka sayat Daryaningrum Tergores Luka ringan, dan infeksi Daryaningrum Mata terkena serbuk kayu Iritasi Hasil Gangguan Rusaknya Hasil Jari tergores hasil moulding yang tajam Luka Hasil Mata terkena Mata dan gangguan Amalia et al. dan hasil Tangan Iritasi n tangan Amalia et al. Terhirup Debu Ampas Kayu Gangguan seperti asma atau paru-paru Hasil Proses Moulding Memeriksa hasil moulding A Engineering control: menggunakan alat bantu seperti conveyor A Administrasi control: Pekerja diberikan arahan mengenai menghindari gesekan berlebih saat memasukkan kayu. APD: Safety gloves A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi Melakukan pengangkatan dengan memegang kayu secara erat dan tepat. APD: Sepatu safety, safety gloves A Eliminasi: Menghilangkan potensi bahaya dengan tidak mendekatkan area tangan ke area mata pisau. A Subtitusi: Pengecekan dilakukan dengan hanya dengan melihat proses dari jarak A Administrasi control: pembuatan SOP mengenai jarak aman antara pekerja dan Pembuatan memasukkan jari/tangan ke area tajam. A APD: safety gloves A Administrasi Mengikuti SOP mengenai pemegangan kayu pada saat proses berlangsung. A APD: Safety gloves A Engineering control: Pemberian pelindung pada alat supaya serpihan kayu yang keluar tidak berhamburan. A APD: kacamata/pelindung wajah A Subtitusi: mengganti mesin dengan yang lebih senyap. A Engineering control: Melakukan maintenance terhadap mesin secara terjadwal. A Administrasi membatasi durasi waktu terkena paparan dengan melakukan rotasi pekerja A APD: earmuff atau ealplugs A Eliminasi: Menghilangkan dikarenakan kegiatan tersebut diganti dengan kegiatan yang lebih aman. A Subtutusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kayu hasil A APD: safety gloves A Engineering control: Pemberian pelindung pada alat supaya serpihan kayu yang keluar tidak berhamburan. A APD: kacamata/pelindung wajah A Subtitusi: Pembersihan tidak dilakukan dengan tangan kosong dan diganti dengan menggunakan alat bantu tambahan. A Engineering control: menggunakan alat bantu seperti vacuum cleaner A APD: Safety gloves A Subtitusi: Pembersihan tidak dilakukan dengan tangan kosong dan diganti dengan menggunakan alat bantu tambahan. A Engineering control: menggunakan alat bantu seperti vacuum cleaner A Administrasi Control: Pembuatan rambu mengenai jarak aman. A APD: Masker Safety A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Pada tahap identifikasi bahaya pada stasiun kerja moulding menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) diperoleh 7 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 17 potensi bahaya yang diidentifikasi berdasarkan hasil wawancara dan penelitian terdahulu. Job Safety Analysis (JSA) Stasiun Kerja Rip Saw Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Sumber Pengendalian Potensi Bahaya A Eliminasi: Menghilangkan dikarenakan kecil kemungkinan ada benda asing didalam produk kayu. A Subtutusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi A APD: Safety gloves A Eliminasi: Menghilangkan dikarenakan kecil kemungkinan ada benda asing didalam produk kayu. A Subtutusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi A APD: Safety gloves A Eliminasi: aktivitas tersebut dihilangkan dan diganti dengan kegiatan yang lebih savety. A Subtitusi: kegiatan tersebut dapat diganti dengan melakukan pergantian mata pisau secara terjadwal. A Administrasi control: pembuatan prosedur dan SOP yang berlaku dalam melakukan uji A APD: Safety gloves A Subtitusi: Mengganti tombol On/Of dengan menggunakan sistem nyalakan mesin jarak A Administrasi control: Membuat standar operasional prosedur (SOP) khusus untuk memastikan pekerja memahami risiko listrik saat bekerja, prosedur aman menyalakan mesin termasuk langkah-langkah inspeksi sebelum mesin dioperasikan. A Engineering control: Melakukan inspeksi dan perawatan rutin pada mesin untuk memastikan kondisi listriknya aman dan sesuai standar,dan memastikan semua kabel, saklar, dan panel listrik mesin memiliki pelindung isolasi yang baik dan tahan terhadap kerusakan. A APD: Sepatu safety, safety gloves A Administrasi control: Membuat Prosedur Operasional Standart (SOP) mengenai peletakan kayu dengan aman. A Engineering control: menyediakan alat bantu untuk membantu kayu tersusun secara rapi dan tetap stabil. A APD: safety gloves A Eliminasi: menghilangkan potensi bahaya dengan membuat area peletakan kayu di area mesin. A Administrasi control: pembuatan area khusus kayu yang akan digunakan dan kayu sisa pemotongan A APD: Sepatu safety A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi control: memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis A APD: safety gloves, helm safety. Sepatu Tergores Luka gores Hasil Tertusuk Luka tusuk atau luka gores Hasil Memastikan mata pisau tidak tumpul Tergores mata Luka gores Amalia , . Menyalakan mesin Tersengat Luka bakar Ayyubi , . Peletakan kayu tidak sempurna Jari terjepit Amalia , . Penyusunan kayu tidak rapi Tersandung Safitri et al. Cidera punggung/bahu Keterbatasan gerak, kerusakan kelemahan otot Safitri et al. Tertimpa kayu Luka bagian tubuh dan Hasil A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A APD: Sepatu safety, safety gloves Ayyubi , . A Engineering control: menggunakan alat bantu seperti conveyor A Administrasi control: Pekerja diberikan arahan mengenai menghindari gesekan berlebih saat memasukkan kayu. A APD: Safety gloves Pengecekan permukaan kayu Mengangkat kayu ke area mesin rip Memasukkan kayu bagian depan Tergores serpihan kayu Luka gores dan A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Sumber Tertimpa kayu Luka bagian tubuh dan Ayyubi , . Serbuk Iritasi mata Pradana et , . Terhirup debu ampas kayu Gangguan Hasil Gangguan Rusaknya gendang telinga Hasil Terkena potongan kayu Luka robek, luka Hasil Tertimpa kayu Luka dan pendarahan Ayyubi et al. Cidera punggung/bahu Keterbatasan gerak, kerusakan kelemahan otot Ayyubi , . Tergores Luka gores dan Hasil Proses Meangambil kayu yang keluar dari Memastikan kayu terpotong/halus Pengendalian Potensi Bahaya A Engineering control: menggunakan bantu seperti conveyor A APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering control: Memasang penyedot debu pada mesin untuk menangkap serbuk kayu sebelum menyebar di udara atau pelapis guna mengurangi jumlah serbuk kayu yang keluar dari mesin. A Administrasi control: pembuatan SOP jarak antara pekerja dengan mesin saat proses produksi berlangsung. A APD: Kacamata safety A Engineering control: Memasang penyedot debu pada mesin untuk menangkap serbuk kayu sebelum menyebar di udara atau pelapis guna mengurangi jumlah serbuk kayu yang keluar dari mesin. A Administrasi control: pembuatan SOP jarak antara pekerja dengan mesin saat proses produksi berlangsung. A APD: masker safety A Subtitusi: mengganti mesin dengan yang lebih senyap A Engineering Melakukan maintenance terhadap mesin secara A Administrasi membatasi durasi waktu terkena paparan dengan melakukan rotasi pekerja A APD: earmuff atau ealplugs A Engineering control: memberikan penutup mesin di area gergaji untuk menghindari kayu potongan terlempar keluar. A Administrasi control: pembuatan SOP atau kebijakan mengenai jarak aman pekerja antara mesin dan manusia A APD: safety gloves, coverall , helm safety, kacamata safety A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi control: memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis A APD: safety gloves, helm safety. Sepatu safety, masker safety, kacamata safety A Eliminasi: menyentuh permukaan kayu. A Subtitusi: melakukan pengecekan dengan hanya melihat permukaan kayu saja. A Engineering control: melakukan inspeksi mesin secara berkala khusunya pada pisau pemotong kayu, agar kayu yang dihasilkan benar- benar terpotong dengan baik dan A Administrasi control: Membatasi pekerja yang tidak terlatih untuk melakukan menghasilkan permukaan kasar, menyusun SOP pemotongan kayu yang benar tanpa A APD: safety gloves Pada stasiun kerja Rip Saw melalui tahap identifikasi bahaya menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) diperoleh 8 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 17 yang diidentifikasi berdasarkan hasil wawancar dan penelitian terdahulu. Job Safety Analysis (JSA) Stasiun Kerja Packing A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Memeriksa akhir kayu Memindahkan kayu ke area forklift Potensi Bahaya Risiko Sumber Jari produk tajam Luka gores Hasil Cidera punggung/bahu Keterbatasan gerak, kerusakan kelemahan otot Umaindra et , . Kejatuhan Luka dan pendarahan Umaindra et , . Tangan terjepit diantara kayu Umaindra et al. Tertabrak Patah serius, kematian Hasil Forklift Operator tertimpa tulang dan cidera Arisma et , . Kayu terjatuh Luka pada bagian tubuh, kerusakan Arisma et , . Forklift Forklift kendali, terbakar, operator terkena luka bakar, cidera psikis pekerja Arisma et , . Tangan terjepit diantara kayu Luka memar pada tulang tangan Leuw et al. Cidera punggung/bahu Keterbatasan gerak, kerusakan kelemahan otot Leuw et al. Loading barang ke area packing Menyusun sesuai pesanan Pengendalian Potensi Bahaya A Eliminasi: Menghilangkan dikarenakan kegiatan tersebut diganti dengan kegiatan yang lebih aman. A Subtutusi: pengecekan dilakukan hanya dengan melihat secara menyeluruh kayu hasil moulding. A APD: safety gloves, masker safety A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi control: memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis A APD: safety gloves, helm safety. Sepatu safety, masker safety, kacamata safety A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A APD: Sepatu safety, safety gloves A Administrasi control: mengikuti SOP proses penggunaan alat dan cara menaruh kayu agar terhindar dari bahaya, melakukan pelatihan secara rutin A APD: safety gloves A Engineering control: pembuatan jalur khusus forklift dan area pejalan kaki A Administrasi control: mewajibkan operator forklift memiliki surat izin operasional (SIO) memberikan pelatihan khusus pada operator Selain itu diberi rambu atau simbol peringatan area forklift A APD: safety gloves, helm safety. Sepatu A Subtitusi: mengganti ban khusus ketika akan digunakan jika kondisi area dalam kondisi yang licin. A Engineering control: Pembuatan jalur khusus forklift dan melakukan sterilisasi pada A Administrasi control: mewajibkan operator forklift memiliki surat izin operasional (SIO) memberikan pelatihan khusus pada operator A APD: Sepatu safety, safety gloves, helm A Administrasi control: mewajibkan operator forklift memiliki surat izin operasional (SIO) memberikan pelatihan khusus pada operator Menetapkan jumlah muatan yang A APD: Sepatu safety, safety gloves A Engineering Melakukan maintenance terhadap tiap unit forklift secara A Administrasi Menerapkan menentukan batasan kecepatan dan beban muatan yang diangkut. A APD: safety gloves, helm safety dan sepatu A Eliminasi: A Subtitusi: Loading kayu dilakukan oleh forklift, mulai dari mengambil kayu serta menurunkan kayu. A Engineering Menggunakan pembatas antara kayu atas dan kayu bawah. Sehingga ada jeda antara kayu. A Administrasi control: Pembuatan SOP mengenai pembatasan jumlah tumpukan Pembuatan rambu rawan jari/tangan A APD: safety glove. Sepatu safety. A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi control: Desain area susun menjadi ergonomis. Memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis A APD: safety gloves, helm safety. Sepatu safety, masker safety, kacamata safety A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Sumber Pengendalian Potensi Bahaya Tertimpa kayu Luka dan pendarahan A Engineering control: menggunaan alat bantu seperti manual hand stacker A Administrasi control: Pembuatan SOP mengenai mengangkat kayu yang tepat. A APD: Sepatu safety, safety gloves Pada stasiun kerja packing melalui tahap identifikasi bahaya menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) diperoleh 4 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 11 yang diidentifikasi berdasarkan hasil wawancar dan penelitian terdahulu. 2 Uji Validitas & Reliabilitas Pada penelitian ini, penulis mengangkat item pertanyaan dalam kuesioner berdasarkan hasil dari identifikasi potensi bahaya menggunakan Job Safety Analysis (JSA). Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan menggunakan software IBM SPSS Statistics 26 untuk memastikan keakuratan dan kebenaran pertanyaan dalam item kuesioner. Pada pengujian validitas dan reliabilitas penulis menggunakan total 35 responden dengan keseluruhan item pertanyaan sebanyak 86 item pertanyaan. Uji Validitas Dalam melakukan uji validitas, penulis menggunakan nilai Rtabel sebagai parameter. Pada penelitian ini, suatu item dianggap valid jika nilai Rhitung lebih besar dari nilai Rtabel. Dalam hal ini. Rtabel yang digunakan pada setiap stasiun kerja dengan tingkat signifikansi 5% seperti pada Tabel Stasiun Kerja Jumlah Rtabel Sampel Planner 0,754 Cross Cut 0,666 Moulding 0,754 Rip Saw 0,811 Packing 0,811 Dengan demikian item pertanyaan dianggap valid jika R hitung > Rtabel. Hasil dari uji validitas instrumen pada stasiun kerja planner dapat dilihat pada Tabel Tabel 4. Uji Validitas Stasiun Kerja Planner Potensi Bahaya Kode r Hitung r Tabel Keterangan Tergores permukaan kayu 0,944 0,754 Valid Tertusuk permukaan kayu 0,927 0,754 Valid Jari tergores mata pisau 0,886 0,754 Valid Cidera punggung 0,946 0,754 Valid Tuas mengenai tubuh 0,699 0,754 Tidak Valid Jari terjepit 0,796 0,754 Valid Tersengat listrik 0,782 0,754 Valid Jari terjepit/cidera tangan 0,796 0,754 Valid Tersandung 0,779 0,754 Valid Gangguan muskoleskeletal P10 0,927 0,754 Valid Tertimpa kayu P11 0,927 0,754 Valid Tangan tergores kayu P12 0,903 0,754 Valid Tertimpa kayu P13 0,798 0,754 Valid Tangan masuk ke mesin P14 0,366 0,754 Tidak Valid Gangguan pendengaran P15 0,873 0,754 Valid Terhirup ampas debu kayu P16 0,826 0,754 Valid Mata terkena debu ampas kayu P17 0,765 0,754 Valid Tertimpa kayu P18 0,944 0,754 Valid Cidera punggung/bahu P19 0,853 0,754 Valid Tergores permukaan kayu P20 0,927 0,754 Valid A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Berdasarkan hasil pengujian validitas terhadap 20 potensi bahaya pada stasiun kerja planner, terdapat 18 potensi bahaya yang dianggap valid dan 2 potensi bahaya dianggap tidak valid. Adapun hasil dari uji validitas intrumen pada stasiun kerja cross cut dapat dilihat pada Tabel. Tabel 5. Hasil Uji Validitas Stasiun Kerja Cross Cut Potensi Bahaya Kode r Hitung r Tabel Keterangan Tergores permukaan kayu CC1 0,891 0,666 Valid Tertusuk permukaan kayu CC2 0,755 0,666 Valid Tertusuk serpihan kayu CC3 0,778 0,666 Valid Jari tergores mata gergaji CC4 0,740 0,666 Valid Tersengat listrik CC5 0,778 0,666 Valid Mesin terbakar CC6 0,359 0,666 Tidak Valid Jari terjepit CC7 0,741 0,666 Valid CC8 0,741 0,666 Valid Cidera punggung/bahu CC9 0,706 0,666 Valid Tertimpa kayu CC10 0,690 0,666 Valid Jari tangan terpotong CC11 0,766 0,666 Valid Gangguan pendengaran CC12 0,906 0,666 Valid Terhirup debu kayu CC13 0,669 0,666 Valid Mata terkena ampas kayu CC14 0,793 0,666 Valid Jari tergores CC15 0,856 0,666 Valid Tertimpa kayu CC16 0,906 0,666 Valid Terhirup debu ampas kayu CC17 0,806 0,666 Valid Mata terkena debu CC18 0,770 0,666 Valid Tertusuk serpihan kayu CC19 0,898 0,666 Valid Tergores permukaan kayu CC20 0,741 0,666 Valid Tertimpa kayu CC21 0,710 0,666 Valid Berdasarkan hasil pengujian validitas terhadap 21 potensi bahaya pada stasiun kerja cross cut, terdapat 20 potensi bahaya yang dianggap valid dan 1 potensi bahaya dianggap tidak valid. Adapun hasil dari uji validitas intrumen pada stasiun kerja moulding dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil Uji Validitas Stasiun Kerja Moulding Potensi Bahaya Kode r Hitung r Tabel Keterangan Tergores mata pisau 0,947 0,754 Valid Tersengat Listrik 0,768 0,754 Valid Mesin terbakar 0,602 0,754 Tidak Valid Cidera pada tulang 0,838 0,754 Valid Tangan tergores permukaan kayu 0,906 0,754 Valid Jari terjepit antara kayu dan alat tempat kayu 0,856 0,754 Valid Tertimpa kayu 0,789 0,754 Valid Tergores serpihan kayu 0,684 0,754 Tidak Valid Tertimpa kayu 0,965 0,754 Valid Jari tersayat pisau M10 0,564 0,754 Tidak Valid Tergores permukaan kayu M11 0,856 0,754 Valid Mata terkena serbuk kayu M12 0,847 0,754 Valid Gangguan pendengaran M13 0,812 0,754 Valid Jari tergores hasil moulding yang tajam M14 0,980 0,754 Valid Mata terkena serbuk M15 0,815 0,754 Valid Tangan tertusuk sisa kayu M16 0,826 0,754 Valid Terhirup debu ampas kayu M17 0,912 0,754 Valid A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Berdasarkan hasil pengujian validitas terhadap 17 potensi bahaya pada stasiun kerja moulding, terdapat 14 potensi bahaya yang dianggap valid dan 3 potensi bahaya dianggap tidak valid. Adapun hasil dari uji validitas intrumen pada stasiun kerja rip saw dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil Uji Validitas Stasiun Kerja Rip Saw Potensi Bahaya Kode r Hitung r Tabel Keterangan Tergores permukaan kayu RS1 0,898 0,811 Valid Tertusuk permukaan kayu RS2 0,950 0,811 Valid Tangan tergores mata pisau RS3 0,857 0,811 Valid Tersengat listrik RS4 0,872 0,811 Valid Jari terjepit RS5 0,860 0,811 Valid RS6 0,906 0,811 Valid Gangguan muskoleskeletas . RS7 0,974 0,811 Valid Tertimpa kayu RS8 0,890 0,811 Valid Tergores serpihan kayu RS9 0,913 0,811 Valid Tertimpa kayu RS10 0,906 0,811 Valid Iritasi mata RS11 0,353 0,811 Tidak Valid Terhirup debu ampas kayu RS12 0,905 0,811 Valid Gangguan pendengaran RS13 0,849 0,811 Valid Terkena potongan kayu RS14 0,873 0,811 Valid Tertimpa kayu RS15 0,913 0,811 Valid Cidera punggung/bahu RS16 0,934 0,811 Valid Tergores permukaan kayu yang tajam RS17 0,898 0,811 Valid Berdasarkan hasil pengujian validitas terhadap 17 potensi bahaya pada stasiun kerja rip saw, terdapat 16 potensi bahaya yang dianggap valid dan 1 potensi bahaya dianggap tidak valid. Adapun hasil dari uji validitas intrumen pada stasiun kerja packing dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil Uji Validitas Stasiun Kerja Packing Potensi Bahaya Kode r Hitung r Tabel Keterangan Jari tergores produk tajam PK1 0,886 0,811 Valid Cidera punggung/bahu PK2 0,902 0,811 Valid Kejatuhan kayu PK3 0,921 0,811 Valid Tangan terjepit diantara kayu PK4 0,891 0,811 Valid Tertabrak forklift PK5 0,902 0,811 Valid Forklift tergelincir PK6 0,923 0,811 Valid Kayu terjatuh PK7 0,899 0,811 Valid Forklift overhead PK8 0,573 0,811 Tidak Valid Tangan terjepit diantara kayu PK9 0,814 0,811 Valid Cidera pinggung/bahu PK10 0,924 0,811 Valid Tertimpa kayu PK11 0,845 0,811 Valid Berdasarkan hasil pengujian validitas terhadap 11 potensi bahaya pada stasiun kerja packing, terdapat 10 potensi bahaya yang dianggap valid dan 1 potensi bahaya dianggap tidak valid. Berdasarkan Tabel ????, dengan total 86 item pertanyaan, berikut adalah jumlah item pertanyaan yang dianggap valid dan tidak valid seperti pada Tabel 9. Tabel 9. Jumlah Item Pertanyaan Valid dan Tidak Valid Stasiun Kerja Data Valid Planner Cross Cut Moulding Rip Saw Packing Total Data Tidak Valid Jumlah Item Pertanyaan A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Berdasarkan tabel diatas, menurut Utami et al. , . , data yang tidak valid dianggap tidak layak dan tidak dibenarkan untuk digunakan sebagai instrument penelitian. Oleh karena itu data yang tidak valid dilakukan drop out dan data yang dianggap valid dilanjutkan dengan melakukan uji reliabilitas. Sanaky . Uji Reliabilitas Peneliti menggunakan nilai Cronbach Alpha guna mengukur reliabilitas atau keandalan dalam Pada pengujian reliabilitas atau keandalan sebuah kuesioner pada penelitian ini, menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics 26. Skala keandalan Alpha CronbachAos dapat dilihat pada Tabel 10 sebagai berikut. Tabel 10. Skala Keandalan Reliabilitas Nilai CronbachAos Alpha Tingkat Keandalan Kurang Andal >0. Agak Andal >0. Cukup Andal >06. Andal >0. Sangat Andal Sumber: Maulana . Pada penelitian ini dilakukan uji reliable, berikut adalah rekapitulasi hasil uji reliabilitas dapat diliat pada tabel 11. Tabel 11. Hasil Uji Reliabilitas Planner Cronbach Alpha 0,973 Reliable Tingkat Keandalan Sangat Andal Cross Cut 0,966 Reliable Sangat Andal Moulding 0,973 Reliable Sangat Andal Rip Saw 0,982 Reliable Sangat Andal Packing 0,966 Reliable Sangat Andal Stasiun Kerja Status Hasil dari pengujian reliabilitas pada setiap item pertanyaan pada stasiun kerja dianggap reliable dan dapat dilanjutkan pengambilan data Risk Priority Number (RPN) menggunakan metode Failure Mode And Effect Analysis (FMEA). 3 Failure Mode And Effect Analysis (FMEA) Stasiun Kerja Planner Aktivitas Potensi Bahaya Pengecekan Tergores permukaan kayu Tertusuk permukan kayu Memastikan tidak tumpul Menyesuaikan Menyalakan (Severit. (Occuranc. (Detectio. Luka gores Luka tusuk atau luka Jari mata pisau Luka gores Cidera punggung/bahu Risiko RPN Kategori Rendah Rendah Sedang Keterbatasan gerak, kerusakan saraf dan kelemahan otot Sedang Jari terjepit Pembengkakan, memar pada jari dan retak tulang Sedang Tersengat listrik Luka bakar Tinggi Jari terjepit/cidera Pembengkakan. Rendah A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Mengangkat kayu ke area Memasukkan kayu ke dalam mesin bagian Proses Mengambil Memastikan secara merata (Severit. (Occuranc. (Detectio. Tersandung Cidera Keterbatasan gerak, kerusakan saraf dan kelemahan otot Tertimpa kayu Luka memar dan Tangan tergores Luka gores Tertimpa kayu Luka pembengkakan dan Potensi Bahaya Risiko Penyusuna kayu tidak rapi Gangguan Terhirup ampas debu kayu Mata debu ampas kayu Kerusakan gendang telinga, kehilangan Asma, saluran pernapasan Infeksi dan iritasi pada mata RPN Kategori Rendah Sedang Sedang Rendah Sedang Tinggi Sedang Sedang Tertimpa kayu Cidera, memar dan Sedang Cidera punggung/bahu Keterbatasan gerak, kerusakan saraf dan kelemahan otot Sedang Tergores permukaan kayu Luka gores Rendah Berdasarkan Tabel diatas, pada stasiun kerja planner memiliki 9 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 20 bahaya dengan potensi bahaya yang memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) dengan kategori tinggi yaitu tersengat listrik dengan nilai RPN sebesar 567 dan gangguan pendengaran dengan nilai RPN sebesar 700. Stasiun Kerja Cross Cut Aktivitas Pengecekan permukaan kayu Memberi kayu yang akan Memastikan mata Menyalakan mesin Mengangkat kayu (Severit. (Occuranc. (Detectio. Luka gores Tertusuk Luka tusuk atau luka gores Jari Luka gores dan infeksi pada jari Jari mata gergaji Potensi Bahaya Risiko RPN Kategori Tergores permukaan kayu Rendah Rendah Rendah Luka gores Sedang Tersengat Listrik Luka bakar Tinggi Jari terjepit Cidera tangan Rendah Penyusunan barang tidak rapi Tersandung Rendah Cidera punggung/bahu Keterbatasan kerusakan saraf dan kelemahan Sedang A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Proses Potensi Bahaya (Occuranc. (Detectio. RPN Kategori Luka memar Sedang Jari Trauma Sebagian atau keseluruhan jari Tinggi Gangguan Rusaknya gendang telinga dan kehilangan Tinggi Sedang Sedang Terhirup ampas kayu Iritasi pernapasan dan gangguan organ seperti asma Iritasi Jari tergores Luka gores dan Rendah Tertimpa kayu Luka memar Sedang Terhirup ampas kayu Iritasi Sedang Sedang Rendah Rendah Sedang Jari permukaan kayu Iritasi Luka Luka ringan, dan Tertimpa kayu Luka memar Mata serpihan kayu Tertusuk serpihan kayu Pengecekan kayu hasil pemotongan (Severit. Tertimpa kayu Mata serpihan kayu Pembersihan serbuk kayu sisa Risiko Berdasarkan Tabel diatas, pada stasiun kerja cross cut memiliki 8 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 21 bahaya dengan potensi bahaya yang memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) dengan kategori tinggi yaitu tersengat listrik dengan nilai RPN 504, jari tangan terpotong dengan nilai RPN sebesar 504 dan gangguan pendengaran dengan nilai RPN 700. Stasiun Kerja Moulding Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Memastikan mata pisau tidak tumpul Tergores mata Menyalakan Mengangkat kayu ke area mesin (Severit. (Occuranc. (Detectio. Tangan tergores mata pisau Tersengat Listrik Luka bakar Membungkuk secara berulang Cidera Tangan Infeksi RPN Kategori Sedang Tinggi Sedang Rendah A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Memasukkan Proses Moulding Potensi Bahaya Jari antara kayu dan alat tempat kayu (Severit. (Occuranc. (Detectio. Kuku Tertimpa kayu Luka dan pendarahan Tertimpa kayu Cidera pada kaki Luka ringan, dan Mata serbuk kayu Gangguan Memeriksa kayu hasil moulding Jari hasil moulding yang tajam Mata Tangan tertusuk sisa kayu pembersihan sisa Terhirup Debu Ampas Kayu Risiko Iritasi kerusakan kornea Rusaknya gendang telinga Luka sayat, infeksi Iritasi kerusakan kornea Rusaknya gendang telinga Gangguan seperti asma atau paru-paru RPN Kategori Rendah Sedang Sedang Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Sedang Sedang Berdasarkan Tabel diatas, pada stasiun kerja moulding memiliki 7 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 17 bahaya dengan potensi bahaya yang memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) dengan kategori tinggi yaitu tersengat listrik dengan nilai RPN 504 dan gangguan pendengaran dengan nilai RPN 700. Stasiun Kerja Rip Saw Aktivitas Potensi Bahaya Risiko (Severit. (Occuranc. (Detectio. RPN Kategori Tergores permukaan kayu Luka gores Rendah Tertusuk Luka tusuk atau luka Rendah Memastikan mata pisau tidak Tergores Luka gores Sedang Menyalakan Tersengat listrik Luka bakar Tinggi Peletakan kayu tidak sempurna Jari terjepit Sedang Penyusunan kayu tidak rapi Tersandung Rendah Sedang Sedang Pengecekan Mengangkat kayu ke area mesin rip saw Cidera punggung/bahu Tertimpa kayu Keterbatasan gerak, kerusakan saraf dan kelemahan otot Luka A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Potensi Bahaya Risiko (Severit. (Occuranc. (Detectio. RPN Kategori Rendah bagian tubuh dan Memasukkan kayu kedalam Proses Meangambil Memastikan terpotong/halus Tergores serpihan kayu Luka gores Tertimpa kayu Luka bagian tubuh dan Sedang Terhirup debu ampas kayu Gangguan Sedang Gangguan Rusaknya gendang Tinggi Terkena potongan kayu Luka robek. Sedang Sedang Sedang Rendah Tertimpa kayu Cidera punggung/bahu Tergores permukaan kayu Luka pembengkakan dan Keterbatasan gerak, kerusakan saraf dan kelemahan otot Luka gores Berdasarkan Tabel diatas, pada stasiun kerja rip saw memiliki 8 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 17 bahaya dengan potensi bahaya yang memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) dengan kategori tinggi yaitu tersengat listrik dengan nilai RPN 504 dan gangguan pendengaran dengan nilai RPN 700 Stasiun Kerja Packing Aktivitas Memeriksa hasil akhir kayu Potensi Bahaya Jari tergores produk tajam Cidera punggung/bah Memindahkan kayu ke area Kejatuhan Tangan diantara kayu Tertabrak Loading barang ke area packing Forklift Kayu terjatuh Tangan diantara kayu Risiko Luka gores Keterbatasan gerak, kerusakan kelemahan otot Luka dan pendarahan Patah serius, kematian Operator tertimpa berat, patah tulang dan cidera otot Luka pada bagian tubuh, kerusakan Luka memar pada tulang tangan RPN Kategori Rendah Sedang Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang (Severit. (Occuranc. (Detectio. A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Aktivitas Menyusun kayu sesuai pesanan Potensi Bahaya Cidera punggung/bah Tertimpa kayu Risiko Keterbatasan gerak, kerusakan kelemahan otot Luka dan pendarahan RPN Kategori Sedang Sedang (Severit. (Occuranc. (Detectio. Berdasarkan diatas, pada stasiun kerja packing memiliki 4 aktivitas kerja dengan potensi bahaya sebanyak 11 bahaya dengan potensi bahaya yang memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) dengan kategori tinggi yaitu tertabrak forklift dengan nilai RPN 576. 4 Usulan Mitigasi Atau Pencegahan Potensi Bahaya Pada tahap mitigasi atau pencegahan bahaya pada penelitian ini, penulis memberikan rekomendasi guna meminimalisir atau menurunkan tingkat risiko. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratama et al. , . , tahap mitigasi atau pencegahan bahaya pada penelitian ini dibuat oleh penulis dengan memberikan rekomendasi atau usulan mitigasi berdasarkan 5 pion pada hierarchy of control yaitu elimination, subtitution, engineering control, administrative control, dan Personel Protective Equipment (PPE). Hal ini sesuai dengan PERMENAKER No 5 Tahun 2018 Pasal 7. Tergores Permukaan Kayu Potensi bahaya tergores permukaan kayu dapat terjadi pada aktivitas pengecekan permukaan kayu, memasukkan kayu kedalam mesin dan mengambil kayu yang keluar dari dalam mesin. Oleh karena itu usulan mitigasi yang diberikan dapat berbeda seperti pada aktivitas pengecekaan permukaan kayu dapat dikendalikan menggunakan proses eliminasi, dengan cara menghilangkan aktivitas tersebut, dikarenakan kecil kemungkinan ada benda asing didalam produk kayu. Pengendalian kedua bisa menggunakan proses subtitusi dengan melakukan pergantian aktivitas pengecekan area kayu hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi kayu. Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Pada aktivitas memasukkan dan mengambil kayu yang keluar dari mesin, mitigasi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan proses engineering control berupa penggunaan alat bantu seperti conveyor jenis Belt Conveyor single track dengan Cleat (Sirip/Penghalan. seperti pada gambar Gambar 1. Conveyor Selanjutnya dengan proses administrasi control dengan memberikan pelatihaan secara rutin terhadap pekerja dan diberikan arahan mengenai menghindari gesekan berlebih saat proses memasukkan kayu. Pengendalian yang terakhir yaitu dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai jika ingin melakukan pengecekan permukaan kayu, memasukkan dan mengeluarkan kayu. Tertusuk Permukaan Kayu Potensi bahaya tertusuk permukaan kayu dapat terjadi pada aktivitas pengecekan permukaan kayu dan pembersihan serbuk kayu sisa pemotongan. Pada aktivitas pengecekan permukaan kayu, potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses eliminasi, dengan cara menghilangkan aktivitas tersebut, dikarenakan kecil kemungkinan ada benda asing didalam produk Pengendalian kedua dapat menggunakan proses subtutusi dengan melakukan pengecekan area kayu hanya dengan melihat secara menyeluruh kondisi kayu. Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Pada aktivitas pembersihan serbuk kayu sisa pemotongan, mitigasi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan proses engineering control berupa penggunaan alat bantu seperti sikat yang terbuat dari nilon seperti pada Gambar 2. Gambar 2. Sikat Nilon Pengendalian yang terakhir yaitu dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai jika ingin melakukan pengecekan permukaan kayu dan pembersihan serbuk kayu sisa pemotongan. Jari Tergores Mata Pisau Potensi bahaya jari tergores mata pisau dapat terjadi pada aktivitas memastikan mata pisau tidak Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses eliminasi dengan menghilangkan aktivitas tersebut dan diganti dengan kegiatan yang lebih safety. Langkah selanjutnya dengan melakukan subtitusi dengan mengganti kegiatan tersebut dengan melakukan pergantian mata pisau secara terjadwal. Jika proses tersebut tetap akan dilakukan, maka gunakan pengendalian bahaya berupa administrasi control dengan pembuatan prosedur atau SOP yang berlaku dalam melakukan uji Selain itu jika akan melakukan pengecekan ketajaman mata pisau, penulis merekomendasikan pemberian logout/tagout (LOTO) ketika akan melakukan pengecekan ketajaman mata pisau guna menghindari human eror. Logout/tagout (LOTO) dapat dilakukan dan digunakan seperti pada gambar Gambar 3. logout/tagout (LOTO) Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai jika ingin melakukan pengecekan mata pisau. Cidera Punggung/Bahu Potensi bahaya cidera punggung/bahu atau biasa disebut cidera muskoloskeletal dapat terjadi akibat gerakan berulang dalam mengangkat beban seperti pada aktivitas mengangkat kayu. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses engineering control dengan menggunaan alat bantu angkat seperti manual hand stacker seperti pada Gambar 4. A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Gambar 4. Manual Hand Stacker Selanjutnya dapat dikendalikan dengan proses administrasi control dengan memberikan pelatihan mendalam mengenai cara mengangkat kayu secara ergonomis. Berikut contoh mengangkat barang dengan postur ergonomic seperti pada Gambar 4. Gambar 5. Postur Ergonomi Mengangkat Barang Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu safety gloves dan Sepatu safety. Tuas Mengenai Tubuh Potensi bahaya tuas mengenai tubuh dapat terjadi pada aktivitas menyesuaikan ukuran kedalaman pemotongan. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses subtitusi dengan menggunakan mesin dengan dengan penyesuaian otomatis tanpa tanpa melakukan manual Selanjutnya dengan proses administrasi control dengan pembuatan Standard Operating Procedure (SOP) mengenai penggunaan alat yang baik dan benar. Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu safety gloves. Jari Terjepit Potensi bahaya jari terjepit terjadi pada aktivitas menyesuaikan ukuran kedalaman pemotongan. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan subtitusi dengan menggunakan mesin dengan dengan penyesuaian otomatis tanpa tanpa melakukan manual handling. Selanjutnya administrasi control juga dapat dilakukan dengan pembuatan SOP mengenai penggunaan alat, melukan pelatihan secara berkala mengenai penggunaan mesin yang ada. Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada. Tersengat Listrik Potensi bahaya tersengat listrik dapat terjadi pada aktivitas menyalakan mesin. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses engineering control dengan melakukan inspeksi dan perawatan rutin pada mesin untuk memastikan kondisi listriknya aman dan sesuai standar. Selanjutnya dengan proses administrasi control berupa pembuatan Standard Operating Procedure (SOP) khusus untuk memastikan pekerja memahami risiko listrik saat bekerja, prosedur aman menyalakan mesin termasuk langkah-langkah inspeksi sebelum mesin dioperasikan seperti tidak ada area tombol basah dan pembuatan rambu bahaya tersengat di sekitar tombol menyalakan mesin seperti pada Gambar 6. A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Gambar 6. Rambu Bahaya Tersengat Listrik Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu safety gloves dan Sepatu safety. Tersandung Potensi bahaya tersandung dapat terjadi ketika peletakan material yang akan dan telah digunakan tidak disusun dengan rapi sesuai dengan areanya. Potensi bahaya tersebut dapat terjadi pada aktivitas mengangkat kayu ke area mesin. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses eliminasi berupa menghilangkan potensi bahaya dengan membuat area peletakan kayu di area mesin. Selanjutnya dengan proses administrasi control berupa pembuatan area khusus kayu yang akan dan telah digunakan seperti kayu sisa pemotongan. Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu safety gloves dan Sepatu safety. Tertimpa Kayu Potensi bahaya tertimpa kayu dapat terjadi pada aktivitas mengangkat kayu ke area mesin dan memasukkan kayu kedalam mesin bagian depan. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses engineering control dengan menggunaan alat bantu angkat seperti manual hand stacker seperti pada Gambar 7. Gambar 7. Manual Hand Stacker Selanjutnya dikendalikan berupa administrasi control berupa pembuatan SOP dan pemberian pelatihan secara berkala mengenai pengangkatan kayu sseperti memegang kayu dengan benar dan Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu Sepatu safety, safety gloves. Penulis merekomendasikan Sepatu safety Kings KWD 805X, hal ini sesuai dengan SNI 7079:2009 tentang standar keamanan sepatu safety. Tangan Masuk Ke Mesin Potensi bahaya tangan masuk ke mesin dapat terjadi pada aktivitas memasukkan kayu kedalam mesin bagian depan. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses proses engineering control dengan membuat sensor atau fitur interlock pada mesin sehingga mesin dapat mati secara otomatis atau alarm berbunyi ketika ada bagian tubuh yang terlalu dekat dengan area mesin, selanjutnya menggunakan alat bantu dorong juga dapat membantu mengurangi potensi bahaya dikarenakan pekerja tidak mendekatkan tangan atau area tubuh yang lain ke area mesin. A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Pengendalian berikutnya berupa administrasi control, dengan pembuatan SOP Langkah kerja penggunaan alat, memberikan pelatihan berkala pada pekerja. Selain itu pemasangan rambu dilarang memasukkan tangan juga dapat digunakan dalam pengendalian bahaya seperti pada Gambar 8. Gambar 8. Larangan Memasukkan Tangan Selanjutnya yaitu langkah terakhir dalam mengurangi potensi kecelakaan kerja yaitu dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai yaitu safety gloves dan Sepatu safety. Gangguan Pendengaran Potensi bahaya gangguan pendengaran dapat ketika tingkat kebisingan yang sangat tinggi diatas standar keamanan yang telah ditentukan. Terpapar tingkat kebisingan yang tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat memperbesar potensi kecelakaan kerja terjadi. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses subtitusi dengan mengganti mesin dengan mesin yang lebih senyap. Selanjutnya dengan melakukan administrasi control dengan mengatur dan membatasi durasi waktu terkena paparan dengan melakukan rotasi pekerja. Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) berupa earplugs atau earmuff. Earmuff cocok digunkan ketika tingat kebisingan mesin diatas angka normal. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan earplugs atau earmuff 3M Peltor X4A. Terhirup Debu Ampas Kayu Potensi bahaya terhirup debu ampas kayu dapat terjadi pada aktivitas proses produksi kayu dan membersihkan serbuk sisa pemotongan kayu. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses engineering control, dengan membuat penutup pada area pisau. Penambahan penutup tersebut dapat mengurangi debu yang keluar dari mesin sehingga pekerja minim terkena paparan dari debu tersebut. Langkah selanjutnya yaitu dengan proses administrasi control, dengan mengikuti SOP mengenai jarak antara pekerja dan mesin. Langkah terakhir yaitu dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker safety. Dengan menggunakan masker safety, pekerja terkena paparan debu secara minim sehingga potensi bahaya tersebut minim untuk terkena. Mata Terkena Debu Ampas Kayu Potensi bahaya mata terkena debu ampas kayu dapat terjadi pada aktivitas proses produksi kayu dan membersihkan serbuk sisa pemotongan kayu. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses engineering control, dengan membuat penutup pada area pisau mesin. Penambahan penutup tersebut dapat mengurangi serbuk atau debu kayu yang keluar dari mesin sehingga pekerja minim terkena paparan dari debu tersebut. Langkah selanjutnya yaitu dengan proses administrasi control, dengan mengikuti SOP mengenai jarak antara pekerja dan mesin. Langkah terakhir yaitu dengan menggunakan kacamata safety. Mesin Terbakar Potensi bahaya mesin terbakar dapat terjadi karena aktivitas menyalakan mesin. Potensi bahaya ini dapat dikendalikan dengan proses enginnering control yaitu Pembuatan fitur pendeteksi suhu mesin dan pembuatan sistem pendingin otomatis. Sistem ini berfungsi untuk memantau suhu mesin secara real-time dan mencegah overheating dengan mendinginkan mesin secara otomatis jika suhu melebihi A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 batas aman. Dengan demikian, potensi kebakaran dapat dikendalikan lebih efektif meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasional. Selanjutnya dengan melakukan proses administrasi control dengan menempatkan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di sekitar area mesin agar dapat diakses dengan cepat jika terjadi kebakaran, selanjutnya memberikan pelatihan kepada pekerja tentang cara menggunakan APAR agar peker dapat merespons situasi darurat secara efektif. Pada potensi bahaya kebakaran pada area produksi kayu, penulis merekomendasikan penggunaan APAR jenis karbon dioksida (CO. atau APAR jenis tepung kimia . ry powde. seperti pada Gambar 9. Gambar 9. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) Langkah terakhir adalah dengan menerapkan penggunakan APD seperti safety gloves dan Safety gloves melindungi tangan pekerja dari risiko cedera, seperti luka atau kontak dengan bahan berbahaya, sementara coverall melindungi tubuh pekerja secara menyeluruh dari debu dan bahan kimia. Penggunaan APD ini penting untuk menjaga keselamatan pekerja dan mengurangi risiko cedera selama bekerja. Jari Tangan Terpotong Potensi bahaya jari tangan terpotong dapat terjadi karena aktivitas proses pemotongan kayu pada mesin cross cut. Potensi ini dapat dikendalikan dengan engineering control yaitu membuat sensor atau fitur interlock pada mesin sehingga mesin dapat mati secara otomatis atau alarm berbunyi ketika ada bagian tubuh yang terlalu dekat dengan mata gergaji. Selanjutnya dapat dilakukan pengendalian dengan administrasi control yaitu dengan mematuhi SOP perusahaan mengenai batas jarak aman area tangan dan proses penggunaan alat yang baik, benar serta aman untuk pekerja. Langkah terakhir adalah dengan menggunakan APD yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu safety gloves. Jari Terjepit Antara Kayu Dan Alas Tempat Kayu Potensi bahaya terjepit antara kayu dan alat tempat kayu dapat terjadi pada aktivitas memasukkan kayu kedalam mesin bagian depan. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan dengan langkah awal yaitu Administrasi Control dengan membuat SOP mengenai peletakan kayu dengan benar dan harus memperhatikan area tangan agar tidak terlalu dekat dengan bagian alas kayu pada mesin. Pemberian rambu peringatan rawan tangan terjepit seperti pada Gambar 10. Gambar 10. Peringatan Tangan Terjepit A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Selanjutnya adalah dengan menggunakan menggunakan APD yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu safety gloves. Jari Tergores Hasil Moulding Yang Tajam Potensi bahaya jari tergores hasil moulding yang tajam dapat terjadi pada aktivitas memeriksa kayu hasil moulding. Potensi bahaya ini dapat dikendalikan dengan proses eliminasi yaitu menghilangkan aktivitas tersebut, dikarenakan aktivitas tersebut dapat diganti dengan kegiatan yang lebih aman. Selanjutnya pengendalian dapat dilakukan dengan substitusi yaitu melakukan inspeksi visual secara menyeluruh pada permukaan kayu hasil moulding, menggantikan metode pemeriksaan yang sebelumnya mungkin lebih berisiko. Pendekatan ini memungkinkan pekerja untuk mendeteksi cacat atau ketidaksesuaian pada kayu hanya dengan pengamatan tanpa perlu menyentuh atau menggunakan alat tambahan yang berpotensi menimbulkan bahaya. Langkah terakhir guna pengendalian bahaya adalah dengan menggunakan APD yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu safety gloves. Terkena Potongan Kayu Pada proses pemotongan kayu, terdapat near miss yang beberapa kali terjadi yaitu potongan kayu terlempar keluar dari mesin pada proses mesin rip saw berlangsung. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan menggunakan proses pengendalian bahaya berupa engineering control dengan memberikan penutup mesin di area gergaji untuk menghindari kayu potongan terlempar keluar. Selanjutnya dengan proses administrasi control, pembuatan SOP atau kebijakan mengenai jarak aman pekerja antara mesin dan manusia Selanjutnya langkah terakhir dalam mengurangi potensi kecelakaan kerja yaitu dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai yaitu safety gloves, coverall , helm safety dan kacamata safety. Tertabrak Forklift Potensi bahaya tertabrak forklift dapat terjadi pada aktivitas loading barang ke area packing. Pengendalian pada aktivitas ini dapat dilakukan dengan menggunakan proses engineering control dengan pembuatan jalur khusus forklift dan area pejalan kaki agar forklift ada jalur prioritas. Selain itu diberi rambu atau simbol peringatan area forklift seperti pada Gambar 11. Gambar 11. Garis Jalur Forklift Langkah selanjutnya dengan pengendalian administrasi control dengan mewajibkan operator forklift memiliki surat izin operasional (SIO) memberikan pelatihan khusus pada operator forklift. Selain itu diberi rambu atau simbol peringatan area forklift seperti pada Gambar 12. Gambar 12. Rambu Peringatan Jaga Jarak Aman A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Langkah terakhir yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada yaitu safety gloves, helm safety, dan Sepatu safety. Forklift Tergelincir Potensi bahaya forklift tergelincir dapat terjadi ketika area lantai basah sehingga menyebabkan lantai menjadi licin, selain itu berhambur nya kayu sisa potongan kayu juga dapat menjadi penyebabnya. Potensi bahaya tersebut dapat terjadi pada aktivitas loading barang ke area packing. Potensi bahaya forklift tergelincir dapat dikendalikan berupa subtitusi dengan mengganti ban khusus ketika akan digunakan jika kondisi area dalam kondisi yang licin. Selanjutnya pengendalian bahaya engineering control dengan Pembuatan jalur khusus forklift dan melakukan sterilisasi pada jalurnya seperti pada Gambar 13. Gambar 13. Garis Jalur Forklift Pengendalian selanjutnya berupa administrasi control dengan mewajibkan operator forklift memiliki surat izin operasional (SIO) penggunaan forklift. Selain itu memberikan pelatihan khusus pada operator forklift. Langkah terakhir dalam pengendalian bahaya yaitu penggunaan Alat Penlindung Diri (APD) sesuai potensi bahaya yang ada seperti sepatu safety, safety gloves, helm safety. Forklift Overhead Potensi bahaya forklift overhead dapat terjadi ketika forklift digunakan secara terus menerus tanpa melakukan pengecekan secara terjadwal. Potensi bahaya tersebut dapat terjadi pada aktivitas loading barang ke area packing. Potensi bahaya forklift overhead dapat dikendalikan dengan proses engineering control dengan melakukan maintenance terhadap unit forklift secara rutin dan terjadwal. Pengendalian bahaya berikutnya berupa administrasi control dengan menerapkan penjadwalan maintenance forklift, menentukan batasan kecepatan dan beban muatan yang diangkut. Langkah terakhir dalam pengendalian bahaya yaitu penggunaan Alat Penlindung Diri (APD) sesuai potensi bahaya yang ada seperti sepatu safety, safety gloves, helm safety. Oleh karena itu penulis merekomendasikan safety gloves Polyco Matrix F Grip, helm safety MSA V-Gard Hard Hat, dan Sepatu safety Kings KWD 805X. Pada penelitian ini, selama pemberian usulan mitigasi bahaya terutama poin kelima pada hierarchy of control yaitu Alat Pelindung Diri (APD) penulis akan memberikan rekapitulasi penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai potensi bahaya seperti pada Tabel 11. Tabel 11. Rekapitulasi Alat Pelindung Diri (APD) Alat Pelindung Diri (APD) Potensi Bahaya Tergores permukaan Tertusuk permukaan kayu Jari tergores mata pisau Cidera punggung/bahu Tuas mengenai tubuh Jari terjepit Tersengat listrik Tersandung Tertimpa kayu ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Alat Pelindung Diri (APD) Potensi Bahaya Tangan masuk ke mesin Gangguan pendengaran Terhirup debu ampas Mata terkena debu ampas Mesin terbakar Jari tangan terpotong Jari terjepit kayu dan alas Jari tergores hasil moulding tajam Terkena potongan kayu Tertabrak forklift Forklift tergelincir Forklift overhead ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue Berdasarkan Tabel 4. Alat Pelindung Diri (APD) yang direkomendasikan penulis telah disesuaikan dengan perusahaan PT. Sentosa Kayu Indah yang bergerak dibidang manufaktur pengolahan kayu. Oleh karena itu berikut adalah penjelasan mengenai tiap Alat Pelindung Diri (APD) yang direkomendasikan penulis seperti pada Tabel 12. Tabel 12. Deskripsi Alat Pelindung Diri (APD) Alat Pelindung Diri (APD) Nama Deskripsi safety gloves tersebut cocok digunakan oleh perusahaan manufaktur kayu dengan jarak antar jahitan tidak terlalu jauh sehingga serbuk kayu, kecil kemungkinan akan masuk dan terdapat grip karet yang terletak bagian telapak tangan Safety Gloves Polyco Matrix F Grip Sepatu Safety Kings KWD Sepatu tersebut memiliki steel toe cap yang melindungi dari benturan dan tekanan, sehingga sepatu tersebut cocok digunakan pada perusahaan manufaktur kayu. Earplugs Earplugs cocok digunakan pada area kerja yang memiliki tingkat kebisingan diatas 85 dBA dengan bentuk yang lebih kecil dan Earmuff Earmuff cocok digunakan pada area kerja yang memiliki tingkat kebisingan diatas 85 dBA dan tingkat kebisingan yang sangat tinggi dengan bentuk yang menutupi seluruh area telinga sehingga minnim kebocoran suara yang masuk kedalam Masker N95 Masker N95 dirancang dengan jarak antar jahitan rapat guna menyaring setidaknya 95% partikel udara yang berukuran sangat kecil, termasuk debu kayu dan partikel lainnya yang dapat terhirup. 3M Virtua CCS Safety Glasses Safety MSA V-Gard Hard Hat Kacamata ini berfungsi untuk melindungi mata dari serpihan kayu dan debu yang dihasilkan selama proses pengolahan kayu. Memiliki lensa yang kuat terhadap benturan. Desain yang ringan dan ergonomis memastikan kacamata dapat digunakan dalam waktu lama tanpa menyebabkan ketidak nyamanan. Helm tersebut terbuat dari polietilen yang kuat, memberikan perlindungan maksimal terhadap benturan dari benda jatuh. Helm ini memenuhi standar ANSI/ISEA Z89. 12009 dan CSA Z94. 1-2005, menjamin kualitas dan keamanan. A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 Alat Pelindung Diri (APD) Nama Deskripsi Coverall Coverall yang terbuat dari bahan yang baik dapat membantu melindungi tubuh dari goresan, luka, dan cedera akibat benturan dengan alat atau mesin yang digunakan dalam produksi kayu. Coverall juga membantu melindungi kulit dari kontak langsung dengan debu kayu dan serpihan. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dan mengacu pada data yang telah dikumpulkan dan dianalisis, penelitian ini menyimpulkan bahwa: Pada tahap identifikasi potensi bahaya, ditemukan total 86 potensi bahaya pada area gudang produksi kayu. Hasil identifikasi dan analisis ditemukan 20 potensi bahaya pada stasiun kerja planner, 21 potensi bahaya pada stasiun kerja corss cut, 17 potensi bahaya pada stasiun kerja moulding, 17 potensi bahaya pada stasiun kerja rip saw dan 11 potensi bahaya pada stasiun kerja packing. Potensi bahaya tersebut didapat berdasarkan hasil wawancara terhadap pekerja dan analisis penelitian yang telah ada. Berdasarkan perhitungan Risk Priority Number (RPN) pada metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) di area gudang produksi PT. Sentosa Kayu Indah. Berikut adalah potensi bahaya yang memiliki potensi bahaya dengan Risk Priority Number (RPN) kategori tinggi di setiap stasiun kerja yang ada: Stasiun kerja planner: tersengat listrik dengan nilai RPN sebesar 567 dan gangguan pendengaran dengan nilai RPN sebesar 700. Stasiun kerja cross cut: tersengat listrik dengan nilai RPN 504, jari tangan terpotong dengan nilai RPN sebesar 504 dan gangguan pendengaran dengan nilai RPN 700. Stasiun kerja moulding: tersengat listrik dengan nilai RPN 504 dan gangguan pendengaran dengan nilai RPN 700. Stasiun kerja rip saw: tersengat listrik dengan nilai RPN 504 dan gangguan pendengaran dengan nilai RPN 700. Stasiun kerja packing: tertabrak forklift dengan nilai RPN 576. Pada tahap mitigasi atau pengendalian bahaya, penulis melakukan mitigasi bahaya terhadap 86 potensi bahaya seperti tergores permukaan kayu, tertusuk permukaan kayu, jari tergores mata pisau, cidera punggung/bahu, tuas mengenai tubuh, jari terjepit, tersengat listrik, tersandung, tertimpa kayu, tangan masuk ke mesin, gangguan pendengaran, terhirup debu ampas kayu, mata terkena debu ampas kayu, mesin terbakar, jari tangan terpotong, jari terjepit antara kayu dan alas tempat kayu, jari tergores hasil moulding yang tajam, terkena potongan kayu, tertabrak forklift, forklift tergelincir dan forklift overhead A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 1iCNo. 2iC51-82iC2025 DAFTAR PUSTAKA