PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 Pola Komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan Konseling dalam Mengatasi Siswa Bermasalah Arif Tagor Rangkuti 1* Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Koresponden: rangkutiarif@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi antar pribadi guru dengan siswa bermasalah, mengetahui faktor penghambat komunikasi antar pribadi dengan siswa bermasalah, dan mengetahui hasil Komunikasi antar pribadi dengan siswa bermasalah di SMA Negeri 13 Medan. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun Subjek Penelitian ini adalah komunikasi orang tua dan guru dalam pembinaan siswa bermasalah, sedangkan Informan dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan. Guru Bimbingan Konseling serta orangtua siswa di SMA Negeri 13 Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bentuk komunikasi antara guru bimbingan dan konseling dengan siswa yang bermasalah di SMA Negeri 13 Medan berupa komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal, faktor-faktor yang menjadi penghambat komunikasi antarpribadi dengan guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi siswa yang bermasalah di SMA Negeri 13 Medan adalah siswa kurang terbuka dan kurangnya komunikasi dengan orang tua serta Komunikasi interpersonal antara guru BK dengan siswa yang melakukan pelanggaran kedisiplinan dilakukan melalui tatap muka secara langsung serta menggunakan media whatsapp dan sudah efektif di dalam pelaksanannya. Kata kunci: Komunikasi Antarpribadi. Siswa bermasalah. Bimbingan Abstract This study aims to determine the pattern of interpersonal communication between teachers and problem students, to determine the inhibiting factors of interpersonal communication with problem students, and to determine the results of interpersonal communication with problem students at SMA Negeri 13 Medan. This type of research uses a qualitative approach. The subject of this research is the communication of parents and teachers in coaching students with problems, while the informants in this study are the Principal. Deputy Principal of Student Affairs. Counseling Guidance Teachers and parents of students in SMA Negeri 13 Medan. The results showed that the form of communication between guidance and counseling teachers and students with problems at SMA Negeri 13 Medan was in the form of verbal communication and nonverbal communication, factors that hinder interpersonal communication with guidance and counseling teachers in overcoming problematic students at SMA Negeri 13 Medan. are students who are less open and lack of communication with parents and interpersonal communication between counseling teachers and students who commit disciplinary violations through face-to-face and using whatsapp media and has been effective in its implementation. Keywords: Interpersonal Communication. Students with Problems. Guidance Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 PENDAHULUAN Komunikasi merupakan hubungan kontak antar manusia baik individu maupun kelompok. Baik secara sadar ataupun tidak, komunikasi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia karena komunikasi dilakukan dalam pergaulan sehari-hari. (Widjaja 2002:. Komunikasi merupakan hubungan kontak antar manusia baik individu maupun kelompok. Baik secara sadar ataupun tidak, komunikasi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia karena komunikasi dilakukan dalam pergaulan sehari-hari. (Widjaja 2002:. Ditinjau dari segi komunikasi, pendidikan juga termasuk di dalamnya terdapat komunikasi yaitu komunikator . , pesan . ateri yang disampaika. dan komunikan . Karena disana terdapat proses transfer ilmu pengetahuan baik itu umum maupun agama, informasi atau lainnya. (Fathurrohman: 2014:. Sekolah merupakan lembaga pendidikan tempat untuk belajar mengajar dan tempat untuk menuntut ilmu agar tercipta generasi unggul yang mempunyai potensi segala segi ilmu Dalam hal ini tidak bisa disangkal bahwa di dalamnya terdapat unsur-unsur komunikasi, bentuk komunikasi dan pola komunikasi, baik komunikasi antarpribadi, interpersonal, intrapersonal dan kelompok. Sekolah juga merupakan suatu lembaga organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan mengenai tata krama, budi pekerti dan kedisiplinan. Peningkatan pengetahuan tidak lepas dari prestasi belajar siswa yang disertai dengan tata krama, budi pekerti yang baik, yang akhirnya dapat menumbuhkan sikap kedisiplinan. Dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, maka guru berperan besar untuk mendidik siswa dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu sangatlah penting peranan guru untuk meningkatkan kualitas siswa agar mempunyai bekal ilmu pengetahuan. Menurut para ahli Bimbingan adalah pemberian bantuan kepada individu tertentu agar bisa mengolah potensi atau bakat yang dimilikinya untuk bisa dikembangkan, sesuai dengan aturan yang berlaku (Erman Amti dan Prayitno, 2004: . Definisi Konseling adalah hubungan yang dilakukan antara dua orang secara langsung, dimana seorang konselor akan memberikan arahan dan bimbingan kepada seseorang dengan ketrampilan atau keahlian yang dimilikinya. Dalam hal ini seseorang akan dibantu dalam mengenali diri mereka sendiri, berdasarkan kondisi dan kemampuannya sekarang, untuk dipersiapkan dalam merencanakan masa depannya nanti. Hal ini untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Sehingga diharapkan bisa menemukan jalan keluar terhadap permasalahan tersebut (Prayitno, 2004: . Bimbingan Konseling merupakan proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing . kepada individu . melalui pertemuan tatap muka . ace to fac. , agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri (Tohirin, 2007:. Berdasarkan hal tersebut maka Bimbingan dan konseling adalah suatu kegiatan yang berlangsung antara konselor dan konseli yang bertujuan untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi konseli. Konselor merupakan orang yang memberikan bimbingan sedangkan klien adalah orang yang diberi bimbingan. Dengan demikian bimbingan dan konseling merupakan salah satu unsur program pendidikan yang dilakukan oleh pendidik yang bertugas di sekolah tersebut sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara optimal di lingkungan sekolah, keluarga, serta Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 Bimbingan tidak hanya diberikan kepada siswa yang bermasalah saja, akan tetapi setiap siswa mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan dari guru bimbingan dan konseling. Penyelenggaraan bimbingan dan konseling sangat memiliki peran penting dalam tercapainya tujuan pendidikan. Dengan layanan bimbingan dan konseling, diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang baik dan mewujudkan nilai-nilai edukatif yang membangun. Guru Bimbingan dan Konseling bertanggung jawab untuk membimbing siswa sehingga dapat memiliki kepribadian dan rasa percaya diri siswa secara menyeluruh. Dengan demikian siswa diharapkan mampu membuat keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri dalam memecahkan suatu permasalahan. Dengan adanya Guru Bimbingan dan Konseling dalam dunia pendidikan, maka dapat mengatasi suatu permasalahan siswa. Seseorang yang memiliki kepribadian tertutup cenderung menyendiri, pendiam atau tidak ramah serta sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, (Alwisol:2009:. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada siswa dalam menemukan kepribadian tersebut agar siswa dapat mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya lebih lanjut. Siswa adalah individu yang memiliki potensi dan wajib dikembangkan untuk mencapai kemandirian, kreatifitas dan prokdutivitas yang dilandasi dengan pengetahuan. Banyak layanan yang diberikan untuk membantu permasalahan siswa khususnya yang memiliki kepribadian Seperti yang kita ketahui biasanya didalam suatu sekolah, guru bimbingan dan konseling hanya melihat pada masalah kedisiplinan siswa dan tata tertib disekolah. Selain melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, seorang guru juga mesti melakukan kegiatan lain seperti membimbing siswa di luar kelas untuk mengetahi kesulitan yang dihadapi siswa. Persoalan yang dihadapi siswa sebenanya tidak hanya masalah di dalam kelas, melainkan juga di luar misalnya dengan teman, keluarga dan lainnya. Untuk memotivasi belajar siswa, guru dengan aktivitasnya memiliki peran agar siswa lebih bersemangat di dalam kelas dan di luar kelas. Dengan peran guru mendampingi siswa, melalui sikap bersahabat, akrab dan memahami kondisi siswa, maka siswa akan merasa memiliki teman dan sahabat . Proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi atau hubungan antara guru dengan siswa yang melibatkan pikiran, ide, gagasan ,emosi yang menjadikan proses belajar menjadi efektif. Aktivitas itu melibatkan sekaligus menghubungkan siswa dan murid. Melalui interaksi tersebut, tujuan pembelajaran justru akan bisa tercapai secara baik. Antara guru dan siswa pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dalam sebuah proses belajar. Keterkaitan erat guru dan siswa akan menentukan seberapa berhasil kegiatan bejalar. Guru dan siswa menjadi kunci proses beajar di sekolah dan kelas. tidak akan terjadi proses belajar dan mengajar apabila tidak ada interaksi guru dan siswa. Proses pembelajaran tidak akan terjadi jika tidak ada guru atau pun siswa. Dalam dunia pendidikan hendaknya guru memperlakukan siswa sebagai individu yang berbeda-beda, karena siswa mempunyai karakteristik yang unik yang memiliki kemampuan, minat dan bakat yang berbeda-beda, memerlukan kebebasan memilih yang sesuai dengan dirinya dan merupakan pribadi yang aktif. Untuk itulah kemampuan berkomunikasi guru dalam kegiatan pembelajaran sangat diperlukan. Model Komunikasi yang dilakukan oleh guru selama mengajar diharapkan tidak hanya terfokus pada pelajaran, tetapi juga harus berpengaruh pada pengembangan kemampuan Para guru harus bisa memahami siswa/siswinya, terutama usia remaja yang masih Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 labil dan mudah terpengaruh pada lingkungannya. Dengan adanya komunikasi antarpribadi guru dengan siswa diharapkan dapat membentuk konsep diri yang telah ada sebelumnya menjadi lebih Selain itu, proses komunikasi seperti ini juga dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, karena dalam komunikasi harus ada timbal balik . antara komunikator dengan Begitu juga dengan dunia pendidikan membutuhkan komunikasi yang baik, sehingga apa yang disampaikan, dalam hal ini materi pelajaran, oleh komunikator . kepada komunikan . bisa dipahami siswa, sehingga tujuan pendidikan yang ingin dicapai bisa terwujud. Pembelajaran yang berhasil dan menarik membutuhkan suatu komunikasi yang baik dan Tanpa adanya kesesuaian antara komunikasi dengan pembelajaran, maka proses pembelajaran itupun akan terhambat. Perkembangan komunikasi dalam meningkatkan pembelajaran haruslah diperhatikan dengan semakin majunya zaman. Standar sekolah yang baik dikalangan masyarakat umum menimbulkan persepsi bermacam Ada yang langsung mengacu kepada status sekolah favorit, seperti fasilitas sarana dan prasarana yang baik, ruang kelas menggunakan pendingin udara, menggunakan lift, uang sekolah mahal, aktifitas ekstra kurikuler, dan bermacam fasilitas dan aktifitas lainnya (Tjiptono, 2. Makna dari Standar sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki 8 Standar Nasional Pendidikan yang sudah ditetapkan Pemerintah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar nasional pendidikan merupakan acuan pokok tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Fungsi standar ini yaitu sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Tujuan standar ini menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). Saat ini Standar Nasional Pendidikan diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013. Tentu saja perkembangan pembangunan, kemajuan pendidikan, dan kebutuhan masyarakat akan menjadikan standar nasional pendidikan mengalami penyesuaian terus menerus. Dalam dunia pendidikan, sekolah merupakan wadah atau rumah kedua bagi peserta didik dalam menempuh pendidikan secara formal setelah sebelumnya orang tua sebagai pendidik Dalam hal ini sekolah memiliki struktur yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, staf tata usaha dan tentunya peserta didik. Guru merupakan suatu profesi yang mulia sebab, guru memiliki peran penting, besar dan strategis dalam dunia menurut Imam Wahyudi guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik dan guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak harus disekolah tetapi juga ditempat lain. (Imam Wahyudi:2012:. Dalam pendidikan umum yang dimaksud guru pendidik di lembaga pendidikan Secara istilah pendidikan adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik. Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Dalam Undang-undang No 2 Tahun 1989 ayat 8 menyebutkan tenaga pendidik adalah anggota masyarakat yang bertugas membimbing, mengajar dan melatih peserta didik. (Abu Bakar M. Luddin:2009: . Dalam rangka menghasilkan siswa yang baik dan diharapkan, proses pendidikan senantiasa dievaluasi dan diperbaiki mengingat perkembangan zaman yang terus berkembang Salah satu upaya perbaikan kualitas Pendidikan adalah munculnya gagasan mengenai pembinaan Pendidikan di Indonesia. Gagasan ini muncul karena proses yang dilakukan dinilai belum sepenuhnya berhasil dalam membangun manusia yang berkarakter. Bahkan, ada juga yang menyebut bahwa Pendidikan Indonesia telah gagal dalam membangun karakter. Penilaian ini didasarkan pada banyaknya para lulusan sekolah dan sarjana yang cerdas secara intelektual, namun tidak bermental tangguh dan berperilaku tidak sesuai tujuan mulia pendidikan. Perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan mulia pendidikan misalnya sama sekali tidak mencerminkan sebagai siswa yang terdidik. Misalnya, tawuran antar pelajar, penggunaan narkoba, atau melakukan tindak asusila. Dorongan atau motivasi kewajiban moral, sebagai konsekwensi kedudukan orang tua terhadap anaknya. Tanggung jawab moral ini meliputi nilai-nilai agama masing-masing, di samping didorong oleh kesadaran memelihara martabat dan kehormatan keluarga. Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai macam penyimpangan perilaku yang ringan sampai yang berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu melalui pendekatan disiplin dan pendekatan komunikasi yang dibangun antara orang tua dan guru. Penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin berpedoman pada aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah. Sebagai salah satu komponen di sekolah, aturan dan tata tertib siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Walaupun demikian, harus diingat sekolah bukan Aulembaga hukumAy yang harus memberi sanksi kepada siswa yang mengalami penyimpangan Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. (Namora Lumongga:2014: . Pendekatan yang lainnya perlu digunakan pendekatan antara guru dan orang tua siswa. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui dialogis antara guru dan orang tua siswa justru lebih mengutamakan pada upaya komunikasi dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui dialogis antara guru dan orang tua siswa sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara orang tua siswa yang bermasalah dengan guru, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih Seringkali guru menemukan siswa yang membuat masalah di kelas. Maka langkah pertama yang harus diambil adalah berkomunikasi dengan siswa itu. Kebanyakan guru menyadari akan pentingnya komunikasi dengan siswa tersebut, akan tetapi beberapa lagi tidak. Jika siswa melakukan sesuatu tindakan atau perkataan yang kita anggap merupakan masalah, maka tentu itu sebaiknya segera diberikan respon tindakan. Ini penting karena dengan demikian, siswa yang Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 bersangkutan akan segera tahu bahwa apa yang ia lakukan atau ia katakan adalah sebuah masalah. (Kulsum:2014:. Mungkin siswa tersebut telah membuat keributan, menganggu teman di dekatnya, atau bahkan menganggu berlangsungnya proses pembelajaran bagi semua anak di kelas Atau, siswa tersebut harus tahu bahwa ia tidak seharusnya mengucapkan perkataan demikian, yang mungkin tidak sopan dan dapat menyakiti perasaan guru atau kawan-kawan di Selain itu, tindakan yang segera diambil . alam hal ini melakukan komunikas. akan membuat guru bisa mengetahui mengapa siswa tersebut berperilaku atau berkata-kata demikian. Dengan diketahui akar permasalahannya, maka guru akan dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam bertindak dalam kaitan dengan perilaku atau perkataan siswa itu. Guru sering tidak sadar bahwa kata-kata yang diucapkannya sebagai respon terhadap perilaku atau perkataan buruk siswa ternyata kasar. Kalau sudah demikian, apa bedanya guru dengan siswa tersebut. Kemungkinan utama yang sering menyebabkan guru mengeluarkan katakata kasar tanpa ia sadari adalah karena ia telah dipengaruhi amarah. Berpikirlah secara jernih. Seorang guru yang baik harusnya selalu mengedepankan sikap sabar. Dengan hati yang dipenuhi kesabaran dalam mendidik siswa, maka pikiran akan jernih. Tentunya, ini akan membantu guru dalam menyusun kata-kata terpilih sebelum diucapkan kepada siswa, yang walaupun merupakan penyebab masalah di kelasnya. Ketika siswa mau berbicara secara terbuka, maka tugas guru adalah mendengarkan. Beberapa gelintir guru justru semakin memuncak amarahnya ketika siswa mencoba berbicara dan terbuka memberikan alasan-alasan. Guru seperti ini seringkali menganggap siswa membantah, atau berkelit. Dengan mendengarkan penjelasan atau alasan siswa, maka guru dapat memberikan pengertian kepada siswa sebagai tanggapan. (Salahudin. Anas:2010:. Memberikan pengertian kepada siswa tidak dapat dilakukan satu arah saja dengan menjejali siswa dengan kata-kata tentang perilaku yang diinginkan. Mereka perlu menangkap katakata dan nasehat guru satu per satu, yang disampaikan dengan cara yang baik, dengan diselingi mendengarkan siswa tersebut. Perkembangan adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Sedangkan pertumbuhan berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti Pertumbuhan juga dapat berarti sebuah tahapan perkembangan. Pandangan menurut ilmu psikolog tentang siswa adalah individu yang sedang berkembang baik jasmani maupun Perubahan jasmani biasa disebut pertumbuhan, yaitu terdapatnya perubahan aspek jasmani menuju kearah kematangan fungsi, misal kaki, tangan sudah mulai berfungsi secara Sedangkan perkembangan adalah perubahan aspek psikis secara lebih jelas. (Sukardi Dewa Ketut:2002:. Di dalam proses tumbuh kembang, banyak sekali masalah- masalah yang muncul pada Permasalahan bagi manusia akan semakin kompleks ketika mereka menginjak usia remaja usia dimana mereka masih berada di jenjang pendidikan usia sekolah menengah, pada masa remaja itulah mereka mulai mengenal lingkungan atau masyarakat yang lebih luas yang selalu dihadapkan pada permasalaha-permasalahan yang lebih rumit yang memerlukan penanganan yang sangat serius. Dalam aktivitas di sekolah, individu yang terlibat kegiatan belajar dalam hal ini siswa pasti memiliki banyak presoalan yang kompleks. Biasanya persoalan mereka berbeda satu sama lain guru hendaknya bisa memahami persoalan pribasi siswa yang berbeda tersebut sehingga bisa Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 dikelola, diatasi dan jika memnungkinkan diselesaikan agar tifdak menganggu proses belajar di Walaupun perilaku bermasalah hanya tampak pada sebagian peserta didik, namun perhatian guru harus tertuju kepada semua peserta didik. Seringkali guru memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini seringkali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada di balik perilaku bermasalah tersebut. Dalam kehidupan anak di sekolah tidak semua dapat melihat dan merasakan bahwa di antara anak ada yang telah sedang menghadapi masalah dan ada yang masih gejala, bahkan bagi anak sendiri juga banyak yang tidak tahu bahwa dirinya sedang bermasalah. Oleh karena itu penulis perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan pengertian berperilaku bermasalah prilaku bermasalah adalah tingkah laku siswa yang menyimpang dan kebiasan-kebiasaan temannya. Lebih lanjut dikatakan apabila anak tiba-tiba tidak dapat melakukan apa-apa juga merupakan indikasi bahwa siswa mengalami masalah yang segera harus ditangani gurunya. SMA Negeri 13 Medan merupakan sekolah yang memiliki siswa sebanyak 1131 orang dan memiliki Rombongan Belajar 37 pada tahun ajaran 2019/2020. setiap kelas memiliki rata-rata 30 siswa dan memiliki tenaga kerja sebagai guru Bimbingan Konseling (BK) sebanyak 6 orang. Siswa-siswa di sekolah ini bermacam-macam latar belakang menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah yang bemutu. Keberadaan siswa yang berlatar belakang Pendidikan dan ekonomi keluarga yang berbeda. Siswa yang berlatar belakang ekonomi baik dan mapan terkadang membuat kelompok atau gang tersendiri. Hal inilah salah satu faktor terjadinya ketimpangan komunikasi yang membuat siswa menimbulkan masalah di sekolah. Setiap siswa memiliki masalah masing-masing dan memilki cara pandang terhadap masalahnya masing- masing pula. Ada siswa yang lebih terbuka terhadap orang tua dan guru dalam mencurahkan masalahnya ada pula siswa yang lebih memilih untuk memendam sendiri Dalam komunikasi awal peneliti dengan pihak sekolah tercatat bahwa masalah yang dihadapi siswa antara lain : Masalah yang berkaitan dengan Kelompok sosial siswa seperti kelompok gank siswa. Ada 5 kasus yang berkaitan dengan kelompok gank siswa di sekolah. Masalah yang berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi siswa yang berimbas pada pergaulan siswa. Ada 2 kasus bully antar siswa yang diselesaikan diruangan Bimbingan Konseling (BK). Masalah yang berkaitan dengan kemampuan ekonomi orang tua yang berimbas pada bolosnya siswa karena biaya sekolah. Dari 3 masalah diatas yang paling dominan adalah masalah kelompok sosial siswa yang berakibat pada emosional siswa sehingga terjadi perkelahian serta kelompok siswa/gang tersendiri. Hambatan yang paling utama dalam menyelesaikan masalah diatas adalah sulitnya komunikasi terbuka dengan orang tua. Kesibukan orang tua dalam aktivitasnya membuat sulit Siswa yang lebih terbuka tentang masalahnya akan memudahkan dalam proses penyelesaian masalahnya sehingga seseorang yang akan membantunya dapat lebih memahami dan mengerti apa masalahnya dan dapat membantu dalam mencari solusi penyelesaian masalahnya. Siswa yang kurang terbuka dalam mencurahkan masalahnya, akan menyulitkan dalam hal penyelesaian masalahnya sendiri, dikarenakan dia lebih memendam masalahnya sendiri dan mencari solusi peneyelesaiannya sendiri. Apabila dia mencurahkan masalahnya kepada orang lain Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 khususnya orang yang layak dimintai bantuan mungkin akan lebih memudahkan dan mempercepat dalam menyelesaikan masalah. Tabel 1. 1 Jumlah Siswa konsultasi Pada Semester I Bulan Jumlah Siswa Juli Agustus September Oktober November Desember Sumber : SMA Negeri 13 Medan Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa semester I . setiap bulannya mengalami kenaikan jumlah siswa untuk konsultasi dengan guru Bimbingan dan Konseling, oleh sebab itu guru bimbingan dan konseling memberikan pengarahan serta melakukan komunikasi personal dengan siswa tersebut agar termotivasi untuk giat belajar serta memberikan pelayanan konseling kepada siswa jika siswa tersebut baik bermasalah ataupun tidak. Sedangkan untuk semester II . , jumlah siswa yang berkonsultasi dengan guru bimbingan dan konseling mengalami penurunan perbulannya, berikut tabel perkembangan siswa berkonsultasi di semester II: Tabel 1. 2 Jumlah Siswa Berkonseling Pada Semester II Bulan Jumlah Siswa Januari Februari Maret April Mei Juni Sumber : SMA Negeri 13 Medan Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat penurunan siswa yang berkonsultasi dengan guru bimbingan dan konseling perbulannya hal ini dikarenakan minat siswa yang bermasalah berkonsultasi belum maksimal ataupun belum mencapai efektif. Berdasarkan tabel diatas dapat menimbulkan tantangan bagi keperluan layanan bimbingan dan konseling disekolah sebagai salah satu kelengkapan sistem. Layanan bimbingan diperlukan tidak hanya sebagai suatu implisit tapi diperlukan sebagai suatu yang eksplisit. Di sinilah timbul tantangan untuk memulai merintis pelaksan layanan bimbingan dan konseling yang terprogram dan terorganisasi dengan baik. Dari tabel 1. 1 dan tabel 1. 2 kita dapat melihat bahwa tingkat hubungan komunikasi interpersonal guru bimbingan dan konseling dengan siswa sangat tinggi dengan adanya berbagai macam masalah yang terjadi pada siswa SMA Negeri 13 Medan. Maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan-permasalahan yang terjadi dikarenakan kurangnya siswa mengerjakan tugas dari guru bidang studi, kebohongan siswa saat siswa berkonsultasi guru bimbingan dan konseling kesulitan untuk dapat memberikan pengarahan, serta adanya siswa yang peduli dengan guru bidang studi memberikan pelajaran, hal ini dibuktikan adanya siswa yang tidur saat kegiatan belajar dikelas, bermain ponsel dan ngobrol dengan teman sebangkunya sendiri, bolos sekolah, tawuran dan ikut gank motor serta pengaruh dari lingkungan yang mengajari siswa tersebut untuk melakukan pelanggaran sekolah. Dalam hal ini guru bimbingan dan konseling berperan sangat penting meningkatkan gairah belajar siswa dan berperan sebagai motivator Penelitian ini menarik dikaji karena isu mengenai siswa "bermasalah" atau siswa nakal semakin merebak di dunia pendidikan Indonesia, dan sampai saat ini belum ditemukan penanganan yang sesuai sehingga siswa-siswa bermasalah belum mendapatkan tempat yang layak, mereka terusir dari sekolah, masyarakat, bahkan keluarga, dan hanya bui yang mau menerima mereka. Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangualisasi . , analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna dari pada generalisasi (Sugiono, 2009:. Para ahli mendefenisikan mengenai penelitian kualitatif seperti yang terdapat dalam buku Hamid Patilima. Dalam buku tersebut Prof. Parsudi Suparlan, antropolog dari Universitas Indonesia menyatakan bahwa pendekatan kualitatif sering juga dinamakan sebagai pendekatan humanistik, karena di dalam penelitian ini cara pandang, cara hidup, selera ataupun ungkapan emosi dan kenyataan, sesuai masalah yang diteliti juga termasuk data yang dikumpulkan. Sedangkan menurut John W. Creswell mendefinisikan pendekatan kualitatif sebagai sebuah penyelidikan untuk memahami masalah social atau masalah manusia berdasarkan pada penciptaan gambar holistik yang dibentuk dengan kata-kata, me. aporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun dalam sebuah latar ilmiah (Patilima, 2007:. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menjalankan kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari suatu kendala atau hambatan. Hambatan tersebut dapat berupa hambatan internal dan eksternal. Kendala pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling menjadikan konseling di sekolah sulit berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Hal mendasar yang menjadi kendala di berbagai sekolah adalah sarana dan prasarana pendukung yang kurang. Sebagai contoh kebanyakan ruang Bimbingan dan Konseling di sekolah ditata seperti ruang guru yang terbuka. Padahal ruang yang terbuka dan tanpa sekat akan menjadikan siswa kurang nyaman berkonsultasi ataupun konseling dengan gurunya. Selain itu tidak adanya ruang khusus untuk konseling akan menyebabkan masalah yang akan dikemukakan siswa tidak secara maksimal dan transparan dikemukakan karena ada perasaan was-was masalahnya diketahui orang lain. Kendala lain yang juga menjadi salah satu faktor penghambat adalah latar belakang pendidikan Bimbingan dan Konseling atau konselor yang umumnya bukan berasal dari jurusan Bimbingan dan konseling Kebanyakan Bimbingan dan Konseling dialih tugaskan dari guru mata pelajaran, walaupun sebagian dari guru tersebut telah mengikuti pelatihan atau penataran tentang bimbingan. Hal yang tetap menjadi kendala adalah keterampilan mereka tetap masih minim. Kondisi ini menjadikan pelaksanaan konseling berjalan tidak sesuai dengan ketentuan ataupun kode etik mengingat pemahaman yang dangkal tentang seluk beluk konseling. Selain itu berbagai pemahaman yang tidak tepat tentang konseling di sekolah adalah seringnya konseling diarahkan secara langsung sebagai suatu kegiatan untuk mengatasi pelanggaran siswa. Guru Bimbingan dan Konseling sering beranggapan bahwa menyadarkan siswa dari pelanggaran adalah tugas utama mereka. Sehingga konsultasi atau konseling yang mereka lakukan kadang mengarah pada upaya paksa agar siswa berubah. Pada kenyataannya banyak guru pembimbing membuat pendekatan yang jauh menyimpang dari teknik konseling, misalnya membuat perjanjian siswa yang melanggar, memaksa siswa wajib lapor bahkan memberi Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 Kondisi ini tentu menjadikan konseling sebagai interogasi, intimidasi bahkan ibarat sidang pengadilan, padahal kesemuanya itu adalah penyimpangan. Pada hakekatnya bimbingan dan konseling di sekolah terselenggara bila siswa secara aktif mau menemui konselor untuk melaksanakan konseling. Di sekolah konseling dapat diupayakan keterlaksanaannya dalam tiga bentuk yaitu inisiatif konselor memanggil siswa, inisiatif siswa untuk mendatangi konselor atau inisiatif pihak atau guru lain sebagai perantara. Adapun ketentuan untuk memanggil siswa berdasarkan inisiatif konselor ataupun melalui perantara pihak lain menempuh cara berikut: Panggilan didahului oleh analisis. Panggilan dengan bahasa yang halus dan tidak ada unsur paksaan. Panggilan beralasan untuk kepentingan siswa. Panggilan tidak merugikan siswa dari segi kerahasiaan atau yang merugikan belajar Sedangkan inisiatif siswa untuk mendatangi konselor secara sukarela adalah hal yang ideal untuk terselanggaranya konseling yang baik. Berdasarkan seri pemandu pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah persentase kegiatan konseling baik perorangan ataupun kelompok dialokasikan sebanyak 30 persen dalam kegiatan bimbingan. Kegiatan tersebut tentu dilaksanakan melalui tatap muka secara langsung dengan konselor. Hal ini berarti bahwa kegiatan konseling merupakan sesuatu yang perlu terlaksana dan memiliki waktu atau alokasi khusus dalam kegiatan bimbingan dan konseling. Namun berbagai pihak yang belum paham bagaimana peran guru Bimbingan dan Konseling di sekolah menjadikan konseling sebagai kegiatan yang tidak penting dan disepelekan. Kekaburan tentang peran konselor di sekolah dapat timbul karena berbagai pihak mempunyai konsepsi berbeda tentang peranan tersebut. Pendekatan guru pembimbing dalam menangani masalah juga menyebabkan pelaksanaan konseling tidak terlihat. Berbagai kelemahan dari segi pemahaman dan juga belum profesionalnya guru pembimbing menyebabkan mereka kadang menyimpang dari program dan kegiatan yang seharusnya dilakukan. Penyimpangan peran yang terjadi karena Bimbingan dan Konseling kerap diposisikan sebagai polisi sekolah sehingga dijauhi siswa. Hal ini karena sering memangil, menghukum, memarahi siswa yang bermasalah atau nakal. Kondisi ini tentu tidak bisa dipisahkan dari kurang pahamnya guru pembimbing dan juga tidak adanya upaya mengubah kesalahpahaman atau penyimpangan yang terjadi selama ini. Konseling tidak berjalan di sekolah karena siswa merasa tidak senang kepada guru Bimbingan dan Konseling. Menurutnya kondisi ini disebabkan oleh pemberian tugas dari kepala sekolah yang berseberangan dengan tugas yang seharusnya dilakukan guru Bimbingan dan Konseling. Wali kelas merupakan faktor pendukung bagi pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam mengatasi siswa yang bermasalah, karena wali kelas yang lebih tahu catatan-catatan mengenai siswa-siswi yang bermasalah, dari catatan wali kelas guru Bimbingan dan Konseling bisa mengetahui absensi, daftar prestasi dan juga catatan-catatan yang lainnya yang diterima dari guru setiap mata pelajaran, sehingga mempermudah guru bimbingan dan konseling untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya. Dalam hal ini, peneliti melakukan wawancara dengan Ibu Dewi Syahputri. Pd, selaku guru bimbingan dan konseling yang penulis wawancarai pada tanggal 7 Mei 2020, ungkapannya sebagai berikut: AuWali kelas memiliki peran, karena wali kelas yang lebih tahu catatan mengenai siswa yang bermasalah. Setelah itu baru dilihat mana anak-anak yang nilainya di bawah standar kenaikan akan kita panggil. Setelah itu kita tanya apa yang menyebabkan nilai siswa tersebut Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 menjadi rendah, biasanya dalam hal ini guru bimbingan dan konseling bekerjasama dengan wali kelasAy, terkadang masalah belajar muncul karena gurunya menjelaskan pelajaran maupun metode yang digunakan tidak dipahami siswa. Hal-hal semacam itu yang membuat siswa kurang dapat menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru, ada juga anak yang tidak suka dengan mata pelajaran tertentu, sehingga anak tersebut tidak masuk pada saat jam pelajaran. Untuk menghindari hal-hal semacam itu, maka guru bimbingan dan konseling bekerja sama dengan guru mata pelajaran agar memantau setiap perkembangan siswa di dalam kelas sampai siswa tersebut benar-benar berubah, karena tidak mungkin guru bimbingan dan konseling memantau keadaan siswa di dalam kelas, sehingga diperlukan kerjasama dengan guru mata pelajaran dan saling berkoordinasi antara keduanya. Untuk guru mata pelajaran tertentu yang sering dihindari oleh siswa, guru bimbingan dan konseling memberikan masukan untuk mengubah metode yang digunakan sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam hal ini. Ibu Dewi Syahputri. Pd, selaku guru bimbingan dan konseling yang penulis wawancarai pada tanggal 11 Mei 2020, di waktu yang sama menambahkan ungkapannya sebagai berikut: AuAdalam proses belajar mengajar misalnya, pada mata pelajaran tertentu guru memberikan tes untuk mengetahui apakah siswa sudah bisa menerima pelajaran yang akan diberikan. Post tes untuk mengetahui hasilnya apakah materi ini bisa diterima atau tidakAy. Hukuman ini adalah jalan terakhir yang ditempuh dan diperuntukkan bagi siswa yang benar-benar kronis, setelah diberikan bimbingan dan konseling yang dilakukan melalui komunikasi Adapun hukuman yang diberikan adalah sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan bapak Mukhlis. Pd, selaku Kepala Sekolah yang penulis wawancarai pada tanggal 7 Mei 2020: AuSetelah semua solusi itu dilaksanakan, kalau sudah sadar dalam arti siswa tersebut sudah tidak mengulangi lagi maka kita biarkan, akan tetapi kalau belum sadar juga maka kita buatkan surat pernyataan berjanji tidak akan mengulangi atau tidak akan meninggalkan kelas lagi dalam waktu atau jam-jam pelajaran. Jika masih terus dilakukan maka kita cari solusinya lagi, apakah sudah tidak kerasan, atau ada masalah yang sangat kronis dengan gurunya atau ada masalah dikelas, maka kita tegaskan sudah tidak mau di sekolah ini atau memperbaiki kesalahannyaAy. Akan tetapi peneliti mendapatkan bahwa di SMA Negeri 13 Medan jarang sekali siswa tersebut dikeluarkan. Biasanya setelah panggilan orang tua mereka sudah jera dan kembali menjadi baik lagi. Peranan orang tua sangat penting dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling untuk mengatasi siswa yang bermasalah, pelaksanaan bimbingan dan konseling tidak akan maksimal jika tidak ada kerjasama dengan orang tua, karena dengan orang tua ikut proaktif dalam menyelesaikan permasalahan siswa, maka guru bimbingan dan konseling tidak akan kesulitan. Sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Dewi Syahputri. Pd, selaku guru bimbingan dan konseling yang penulis wawancarai pada tanggal 11 Mei 2020, ungkapanannya sebagai berikut: AuDalam hal ini, peranan orang tua juga sangat mendukung, meskipun terkadang ada orangtua yang tidak mau peduli dan tidak mau bekerjasama, akan tetapi itu hanya sebagian kecil, karena orang tua menyadari bahwa kondisi anak mereka jauh dari orangtua, sehingga mereka peduli dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anaknya, mereka menyadari penuh dan tidak pernah menyalahkan sekolah malahan mereka menyalahkan anaknya sendiri, terkadang anak tersebut dirumah baik-baik saja, tapi tahu-tahu orang tua mendapat laporan anaknya mendapat masalah prestasinyay Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 Dalam waktu dan kesempatan yang lain bapak Yusnar. Pd. Si, wakil kepala yang penulis wawancarai pada tanggal 11 Mei 2020 juga mengatakan bahwa: AuDalam pelaksanaan bimbingan dan konseling, selain adanya kerjasama antara guru dan orang tua, fasilitas, sarana dan prasarana juga sangat mendukung Dari hasil wawancara dapat kita ketahui bahwa selain ada kerjasama dengan pihak lain, pelaksanaan bimbingan dan konseling tidak akan maksimal tanpa adanya sarana dan prasarana yang mendukung, diantaranya adalah: ruang khusus bimbingan dan konseling yang dilengkapi dengan: . alat komunikasi . surat-surat yang dibutuhkan . buku rekapan untuk mengetahui perkembangan siswa dalam proses belajar yang berupa: absensi, daftar nilai juga Dengan adanya faktor pendukung yang mempermudah pelaksanaan guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bermasalah di SMA Negeri 13 Medan. Di sisi lain ada faktor yang menghambat yaitu siswa kurang terbuka mengingat karakteristik setiap individu itu berbeda-beda antara individu yang satu dengan individu yang lain, ada yang cenderung bisa lebih terbuka dan menceritakan permasalahannya ketika guru bimbingan dan konseling bertanya, ada juga anak yang datang sendiri kepada guru bimbingan dan konseling untuk meminta pemecahan masalah-masalah yang dihadapinya, akan tetapi kebanyakan jarang siswa yang mau menceritakan permasalahannya langsung, sehingga membutuhkan proses terlebih Dalam hal ini guru bimbingan dan konseling harus benar-benar bisa memahami siswa Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan Ibu Dewi Syahputri. Pd, selaku guru bimbingan dan konseling di SMA Negeri 13 Medan yang penulis wawancarai pada tanggal 11 Mei Hasil wawancara dapat kita ketahui bahwa terkadang ada anak yang dipanggil oleh guru bimbingan dan konseling mereka tidak mau datang, karena malu dan takut ditanyain, padahal guru bimbingan dan konseling justru ingin membantu permasalahan yang dihadapi oleh siswa, sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Dari anggapan-anggapan seperti inilah yang membuat guru bimbingan dan konseling kesulitan dalam mencari tahu faktor-faktor apa yang menyebabkan permasahan siswa tersebut. Pendapat tersebut sama dengan yang telah diungkapkan oleh bapak Yusnar. Pd. Si, selaku wakil kepala SMA Negeri 13 Medan. Selain itu kurangnya komunikasi dengan orang tua. Selain kurangnya keterbukaan siswa untuk menceritakan permasalahannya kepada guru bimbingan dan konseling secara interpersonal, indikasi kurangnya komunikasi dengan orang tua / wali murid dapat juga menjadi penghambat bagi pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam mengatasi masalah siswa . Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan guru Ibu Dwi Syahputri. Pd, selaku guru bk di SMAN 13 Medan yang penulis wawancarai pada tanggal 11 Mei 2020 bahwa: AuSiswa SMA Negeri 13 Medan kurang terbuka kepada orang tua, sehingga informasi tentang permasalahan anaknya sangat minim diperoleh akibat berkomunikasi dengan orang tua sangat jarangAy. Secara umum, upaya bimbingan dan konseling di SMA 13 Medan dalam mengatasi siswa yang bermasalah tidak jauh berbeda dengan upaya yang dilakukan terhadap siswa yang mempunyai masalah lain di sekolah lain. Adapun tahap-tahap tersebut adalah mengenali siswa yang bermasalah secara intensif . Dengan adanya komunikasi antarpribadi siswa dan guru bimbingan dan konseling, dapat diketahui apa saja yang menjadi penyebab siswa tersebut mengalami permasalahan dalam belajar. Sehingga guru bimbingan dan konseling bisa menetapkan bidang kecapakan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang ini dapat dikategorikan menjadi tiga Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 macam yakni bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri, bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua dan bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani oleh guru maupun orang tua. Pada pemaparan di atas telah dijelaskan faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami masalah dalam belajar yaitu: faktor lingkungan yang meliputi, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan . faktor yang timbul dari dalam diri siswa itu sendiri. Dalam menetapkan usaha-usaha bantuan yang dilakukan guru bimbingan dan konseling menyesuaikan dengan latar belakang masalah yang dialami siswa, banyak alternatif yang dapat diambil guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi siswa yang bermasalah, akan tetapi sebelum pilihan tertentu diambil. Berdasarkan hasil riset penulis selama melakukan penelitian di SMA Negeri 13 Medan, guru bimbingan dan konseling harus melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut yakni melakukan analisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antarbagian dari data-data yang diperoleh untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai permasalahan dalam belajar yang dihadapi siswa, mengidentifikasi dan menetapkan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan dan menyusun program perbaikan. Setelah langkah-langkah di atas selesai, maka guru bimbingan dan konseling bisa menentukan apakah siswa tersebut membutuhkan bimbingan ataukah program perbaikan untuk memperbaiki prestasinya yang rendah, kemudian setelah itu guru bimbingan dan konseling melakukan tindakan selanjutnya, yaitu melakukan langkah program bantuan terhadap siswa yang bermasalah dalam Untuk bisa menyampaikan materi pembelajaran, guru dapat melakukan komunikasi baik verbal dan non verbal dengan menyamoaikan materi pembelajaran kepada siswa. Komunikasi yang dipakai dapat berlangsung melalui bentuk komunikasi verbal dalam rentang komunikasi yang informal sampai dengan yang formal. Komunikasi verbal yang dilakukan guru bk dapat dilakukan dengan cara menasehati siswa secara langsung, sebagaimana pengamatan penulis pada tanggal 8 Mei 2020 terhadap kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan Ibu Dwi Syahputri. Pd, disaat memberikan nasehat kepada Putri Indah Sari, siswa kelas X SMA 13 Medan yang sering tidak masuk sekolah, padahal orang tuanya beranggapan bahwa anaknya senantiasa mengikuti pembelajaran dengan tekun. Berikut nasehat Ibu Dwi Syahputri. Pd : AuPerlu kamu ketahui. Bayangkan bagaimana kamu berada dalam dekapan ibumu, sentuh dan rasakan olehmu dekapan ibumu dengan lembut. penuh kasih, tangan tangan itu mengusap kepalamu dan berdoa akan kesuksesan masa depanmu. Tidakkah kamu menyadari, dengan gemetar ibumu berkata AuPutri, sekarang kamu sudah besar, jadilah kamu anak yang baik, anak yang berguna, yang bisa menjadi kebanggaan ibu. Jadilah anak yang hormat kepada guru dan kedua orang tuamu ini, dan jadilah anak yang penuh kasih sayang terhadap sesamaAy. Putri, dalam hati di setiap waktu ibumu selalu memohon AuYa Allah Tuhan yang Maha Mendengar, jadikanlah anakku anak yang baik dan anak yang bisa aku banggakan ya Robb!Ay putri, mungkin engkau tidak pernah tahu. Setiap hari ibu doakan kebaikan yang selalu teruntai dari bibir ibumu. Walau ibumu sadar sikap dan kata-kata yang sering kamu lontarkan, banyak menyakiti hati ibumu. Sampai-sampai membuat kedua kelopak mata ibumu basah, dia menangis, tak kuasa menahan sedih atas sikap-sikapmu. Sesakit apapun hati ibumu, apa yang ibumu lakukan adalah untukmu. Saat engkau tertidur nyenyak, ibumu Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 terjaga dari tidurnya, dia menatapmu dengan rasa penuh kasih sayang, dia selimuti kamu. Dan tidak lupa bersujud dalam keheningan malam. Saya tau betul kalau ibumu seperti itu Putri. Ibumu selalu menghubungi saya, bagaimana perkembangan anaknya di sekolah. Betapa mulia sosok Begitu besar perhatian dan kasih sayangnya ibumu. Coba kamu bayangkan, sewaktu kamu masih dalam kandungan, rasa sakit yang tiada bandingannya, dirasakan sendiri oleh ibumu saat melahirkan kamu. Dan, sampai sekarang, tetap saja engkau membuat susah ibumu. Membuat marah ibumu, bahkan kamu buat ibumu kecewa. Coba kamu bertanya pada dirimu sendiri. Siapa yang selalu menyiapkan sarapan untukmu? Siapa yang mencuci dan menyeterika pakaianmu? Siapa yang menjaga kalian di saat sakit? Tetapi, apa yang telah engkau berikan untuk ibumu? cobalah mulai dari sekarang kamu berubah, rajin belajar dan tidak bolos sekolah agar ibumu bisa senang dan bangga, hanya itu harapan dari ibumu. Bukan yang lain-lainnya Selain komunikasi verbal yang di dapat dalam penelitian ini juga terdapat komunikasi Berdasarkan hasil riset, komunikasi nonverbal antara siswa dan guru terjadi sebagai proses pertukaran pikiran dan gagasan yang mana pesan yang disampaikan berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, gerakan tubuh dan sentuhan. Komunikasi nonverbal seperti halnya guru memberikan senyuman kepada siswa ketika bertemu, ini menunjukkan bahwa adanya keharmonisan antara guru dan siswa, sehingga tercapailah komunikasi yang efektif dan baik. Untuk itu jelas bahwa komunikasi antara guru dan siswa sangat penting demi kemajuan pendidikan Beberapa hal pokok terkait perilaku nonverbal guru bimbingan dan konseling yang penulis amati di SMA Negeri 13 Medan yang harus lebih dieksplorasi adalah: . Kontak pandang. Ekspresi wajah. Gesture . erak tubu. Orientasi tubuh dan postur. Kedekatan. Paralinguistic. Humor. Kontak pandang adalah chanel penting pada sebuah komunikasi antarpribadi, karena sangat membantu mengatur arah komunikas dan sinyal-sinyalnya menarik bagi siswa. Selain itu kontak pandang antara guru dengan siswa lebih meningkatkan kredibilitas Guru bimbingan dan konseling yang melakukan kontak pandang dengan siswa telah membuka arah komunikasi dan nenunjukkan minat, perhatian, kehangatan, dan kredibilitas. Ekspresi wajah seperti senyum yang dilakukan guru Bimbingan dan Konselin . adalah isyarat yang dapat menghantarkan kebahagian, persahabatan, kehangatan, rasa suka dan afiliasi, sehingga jika seorang guru bimbingan dn konseling tersenyum lebih sering, maka siswa tidak lagi menganggap guru bimbingan dan konseling sebagai momok yang menakutkan, melainkan guru bimbingan dan konseling dianggap sebagai penyuka . udah menyuka. , bersahabat, mudah menerima, dan dapat Selain ekspresi wajah, gesture . erak tubu. juga sangat penting dalam komunikasi Bila guru tidak dapat memberikan gesture ketika berbicara, guru bimbingan dan konseling dapat saja dianggap membosankan dan kaku. Gaya nasehat yang hidup akan menangkap perhatian siswa yang bermasalah di konseling. Orientasi tubuh dan postur guru bimbingan dan juga mengkomunikasikan banyak pesan dengan cara berjalan, bicara, berdiri dan duduk. Berdiri tegak tetapi tidak kaku, dan bertumpu dengan ringan pada meja guru, menunjukkan bahwa guru dapat dipercaya, menunjukkan penerimaan, dan bersahabat serta senyum. Lebih jauh, kedekatan antarpribadi antara guru dengan siswa akan tercipta saat kita berbicara face-to-face . satu sama lain. Kegiatan bimbingan konseling di SMA Negeri 13 Medan . merupakan suatu kegiatan untuk mendorong dan mengembangkan siswa agar tidak terjadi kenakalan siswa. Kegiatan ini dilaksanakan menurut kurikulum yang berlaku pada sekolah umum Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 Menurut penulis Bila dilihat dari sarana dan prasarana sekolah, kegiatan tersebut sudah mempunyai standar kualitas untuk proses bimbingan dan konseling. Dengan demikian pada kegiatan tersebut bisa berjalan dengan efektif. Terdapat faktorfaktor sarana dan prasarana yang baik, seorang siswa dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan yang positif pula, sehingga hal-hal negatif tidak akan terjadi. Begitu pula dalam pelaksanaan bimbingan Informasi yang diberikan dalam bentuk pesan dan simbol pada kegiatan bimbingan dan konseling, disusun dalam bentuk materi yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat pada umunya. Di harapkan dari pemberian materi tersebut muncul respon positif dari siswa agar tidak melakukan tindak kenakalan. Dalam tatanan komunikasi terdapat komunikasi antarpribadi yaitu proses pengiriman serta penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang, tentunya dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. Oleh karena itu semua hal-hal terkecil pun yang bisa menunjang pelaksanaan bimbingan dan konseling akan dilaksanakan, demi terlaksananya bimbingan yang efektif dan sempurna. Untuk itu diperlukan komunikasi yang cukup intensif dari pendidik di dalam mendidik agar nantinya terbentuk manusia yang dewasa yang mampu membaca lingkungan dan dapat menghadapi permasalahan-permasalahan yang timbul di sekitarnya. Di dalam mendidik dan mengasuh anak remaja, pendidik diharapkan lebih berperan melalui komunikasi secara pribadi dengan anak remaja yang bersangkutan. Karena dengan memahami sifat dan karakter remaja yang bersangkutan akan lebih mempermudah dan memperlancar komunikasi dengan mereka. Komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh guru merupakan suatu pembicaraan secara pribadi yang dilakukan oleh guru terhadap salah satu siswa yang memerlukan perhatian penuh dan nasehat-nasehat, untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut. Misalnya masalah pribadi, masalah dengan temannya, maupun masalah akademis. Hal tersebut dilakukan guru Bimbingan dan Konseling sebagai arahan dan langkah-langkah dalam mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi, agar siswa mampu dalam menyelesaikan masalah dan berkomunikasi seperti biasa dengan teman-teman yang lain dan juga mampu menerima materi-materi pelajaran yang disampaikan oleh guru-guru lainnya. Dikatakan komunikasi tersebut berjalan dengan efektif, karena dilihat dari proses penyampaian bimbingan yang terjadi ketika seorang guru menyampaikan materi bimbingannya. Selain itu peneliti juga menemukan beberapa point-point penting dalam penelitian tersebut. Adapun dari hasil penelitian yang penulis lakukan dengan cara wawancara dengan siswa, kebanyakan siswa menyatakan komunikasi antarpribadi yang terjadi di sekolah tersebut adalah sangat penting dan efektif. Sebelum melaksanakan bimbingan, guru terlebih dahulu melihat latar belakang kehidupan sosial keluarganya. Sehingga pesan-pesan tersebut akan menimbulkan suatu komunikasi yang baik dan mudah dimengerti oleh siswa-siswinya. SIMPULAN Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa bentuk komunikasi antara guru bimbingan dan konseling dan siswa yang bermasalah di SMA Negeri 13 Medan, berupa komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal yang dilakukan guru bimbingan dan konseling yaitu dengan cara mengkomunikasikan pesannya secara verbal atau dengan lisan melalui program pembelajaran yang telah ditetapkan, sedangkan komunikasi nonverbal antara siswa dan guru terjadi sebagai proses pertukaran pikiran dan gagasan dimana pesan yang disampaikan berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, gerakan tubuh dan sentuhan Copyright A 2021 Persepsi : Communication Journal. This is an open acces article under the CC-BY-SA lisence . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PERSEPSI: Communication Journal Vol . 4 No. 1, 2021, 43-59 DOI: 10. 30596/persepsi. v%vi%i. e-ISSN 2623-2669 DAFTAR PUSTAKA