Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Pengaruh Orang Tua terhadap Pengetahuan Kesehatan Reproduksi di Kalangan Remaja Fatma Dewani Harahap Program Studi Sistem Informasi Nahdlatul Ulama Sumatera Utara Email: fatmadewaniharahap@yahoo. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-14 Revised : 2025-11-25 Accepted : 2025-11-26 KEYWORDS Role of parents. Knowledge of Adolescent Reproductive Health. Medan City KATA KUNCI Peran orang tua. Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi. Kota Medan. ABSTRACT Parental involvement plays a central role in shaping adolescents' understanding of reproductive health, as the family is the primary environment where children obtain information and guidance. When parents communicate openly and actively provide guidance, adolescents tend to have more solid knowledge and are less easily influenced by misinformation. Conversely, a weak parental role can contribute to low reproductive literacy among adolescents. In Medan, adolescents' knowledge of this issue remains relatively low, as reflected in PKBI data, which recorded a 20. 2% teenage abortion rate. Furthermore. Medan has one of the highest rates of AIDS, and HIV infection ranks third among adolescents by age group. This study aims to identify factors associated with reproductive health knowledge among public high school students in Medan in This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. total of 232 adolescents served as the research sample through systematic random sampling. Data were collected using a questionnaire, while analysis was conducted descriptively, followed by chi-square tests for bivariate analysis and multiple logistic regression for multivariate analysis. The research findings showed that 150 respondents . 4%) had a low level of understanding regarding reproductive health. The factor that was shown to be significantly related was parental involvement (OR = 1. 95% CI: 1. 127Ae3. Meanwhile, peer influence, the role of teachers, health workers, and access to mass media did not show a significant relationship. Based on these results, parents are expected to expand their knowledge regarding reproductive issues, build warmer communication with their children, and choose the right time to convey the necessary information, so that adolescents obtain the correct foundation of knowledge from the start before receiving information from other parties. ABSTRAK Keterlibatan orang tua memainkan peran sentral dalam membentuk pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi, sebab keluarga merupakan lingkungan awal tempat anak memperoleh informasi dan arahan. Ketika orang tua mampu berkomunikasi secara terbuka dan aktif memberikan bimbingan, remaja cenderung memiliki pengetahuan yang lebih kokoh dan tidak mudah terpengaruh oleh sumber informasi yang keliru. Sebaliknya, lemahnya peran orang tua dapat berkontribusi terhadap rendahnya literasi reproduksi pada remaja. Di Kota Medan, tingkat pengetahuan remaja tentang isu ini masih tergolong rendah, 204 | JPI. Vol. No. November 2025 tercermin dari data PKBI yang mencatat angka aborsi remaja sebesar 20,2%. Selain itu, kasus AIDS di Medan termasuk yang tertinggi, dan infeksi HIV pada kelompok usia remaja menempati posisi ketiga berdasarkan kategori umur. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan pengetahuan kesehatan reproduksi pada siswa SMA Negeri di Kota Medan tahun Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan potong lintang . ross-sectiona. Sebanyak 232 remaja menjadi sampel penelitian melalui teknik systematic random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, sedangkan analisis dilakukan secara deskriptif, dilanjutkan dengan uji chi-square untuk analisis bivariat dan regresi logistik ganda untuk analisis Temuan penelitian menunjukkan bahwa 150 responden . ,4%) memiliki tingkat pemahaman yang rendah mengenai kesehatan reproduksi. Faktor yang terbukti berhubungan signifikan adalah keterlibatan orang tua (OR = 1,982. 95% CI: 1,127Ae3,. Sementara itu, pengaruh teman sebaya, peran guru, petugas kesehatan, serta akses media massa tidak menunjukkan hubungan Berdasarkan hasil tersebut, orang tua diharapkan memperluas pengetahuan terkait isu reproduksi, membangun komunikasi yang lebih hangat dengan anak, serta memilih waktu yang sesuai untuk menyampaikan informasi yang diperlukan, sehingga remaja memperoleh fondasi pengetahuan yang benar sejak awal sebelum mendapatkan informasi dari pihak lain. Pendahuluan Masa remaja menandai periode krusial dalam perjalanan hidup, ketika individu mengalami pergeseran besar pada aspek tubuh, emosi, dan lingkungan sosialnya. Pada tahap ini, mereka mulai merumuskan siapa diri mereka, termasuk cara memandang tubuh serta posisi gender yang mereka Karena itu, pemahaman yang akurat mengenai kesehatan reproduksi menjadi sangat penting agar remaja mampu melindungi diri dan mengambil keputusan yang matang. Namun, menunjukkan bahwa literasi remaja mengenai isu reproduksi masih jauh dari memadai. Studi yang dilakukan di Brasil, misalnya, menemukan bahwa dari 399 responden, 57,6% memiliki tingkat pengetahuan rendah terkait masa pubertas (Gomes, 2. Temuan serupa muncul di Bangladesh: penelitian mengenai pengetahuan remaja terkait PMS dan HIV/AIDS mengungkap bahwa 54,8% tidak mengenal AIDS, 32,9% tidak mengetahui sifilis, 27,1% belum memahami ulkus genital, 22% tidak mengenal gonore, sementara ketidaktahuan terhadap klamidia dan trikomonas masing-masing tercatat sebesar 0,6% dan 0,1% (Rahman et al. , 2. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Remaja (SDKI-R) 2007, pemahaman kelompok usia 15Ae24 tahun mengenai isu reproduksi masih tergolong minim. Dari temuan tersebut, 13,3% remaja putri tidak mengenali perubahan biologis yang dialami perempuan saat memasuki masa pubertas, dan 21% lainnya bahkan tidak mengetahui perubahan yang terjadi pada remaja laki-laki. Selain itu, hampir setengah responden perempuanAitepatnya 47,9%Ai tidak dapat menentukan periode kesuburan dalam siklus menstruasi. Aspek lain yang juga menunjukkan keterbatasan pengetahuan adalah pencegahan penularan HIV. Hanya 40,8% remaja yang memahami dasar-dasar HIV/AIDS. Pengetahuan terkait penggunaan kondom berada pada angka 29,6%, sedangkan pemahaman tentang infeksi menular seksual baru mencapai 18,4% (Puslitbang KependudukanAeBKKBN, 2. Banyak remaja masih belum memahami kesehatan reproduksi secara benar. Tingkat pengetahuan mereka dipengaruhi oleh berbagai unsur, baik yang bersumber dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Laksmiwati . mencatat bahwa faktor internal berkaitan dengan kecenderungan sikap individu, sedangkan faktor eksternal mencakup kondisi sosial tempat remaja berinteraksi, terutama pengaruh orang tua dan teman sebaya. Temuan Kurniawan . menegaskan hal serupa: sikap remaja, keterlibatan orang tua, serta peran pendidik memiliki pengaruh signifikan terhadap pemahaman mereka mengenai isu Putriani . juga menunjukkan bahwa Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 205 keluarga, kelompok pertemanan, dan media massa turut membentuk wawasan remaja dalam bidang ini. Dalam wawancara dengan salah satu pengurus PKBI Kota Medan, disampaikan bahwa pola pergaulan kekhawatiran serius, terutama terkait meningkatnya perilaku seksual berisiko. Kondisi ini terlihat dari angka aborsi pada kelompok remaja yang mencapai 20,2%. Sementara itu, data HIV/AIDS menunjukkan bahwa Pekanbaru mencatat jumlah kasus AIDS paling tinggi, dan kasus HIV pada kelompok usia remaja menempati posisi ketiga berdasarkan kategori umur (Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2. Hasil survei di beberapa SMA Negeri di Kota Medan mengungkap bahwa program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), yang seharusnya menjadi sarana pemberian edukasi tentang kesehatan reproduksi, belum menjangkau seluruh siswa. Akibatnya, sebagian besar pelajar masih kekurangan informasi yang memadai mengenai topik tersebut. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analitik observasional. Rancangan yang diterapkan adalah potong lintang . dan pelaksanaannya berlangsung pada 13Ae 15 Oktober 2025 di SMA Negeri 11 Medan. Sampel terdiri dari 232 siswa kelas X dan XI dari berbagai SMA Negeri di Kota Medan pada tahun ajaran 2025/2026. Jumlah tersebut ditetapkan melalui perhitungan Rumus Lameshow untuk uji hipotesis satu sampel satu sisi, dengan mempertimbangkan nilai sebesar 0,05, kekuatan uji 90%, dan proporsi awal 0,65. Pemilihan responden dilakukan menggunakan teknik systematic random sampling. Data yang dihimpun merupakan data primer, diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang menilai keterlibatan orang tua dalam memberikan informasi terkait kesehatan reproduksiAidiukur dari ada tidaknya peran tersebut dalam kehidupan remaja. Untuk analisis hubungan antarvariabel, digunakan uji Chi-Square, dilakukan melalui regresi logistik ganda dengan model prediksi sebagai dasar analisis. remaja atau 60,4%. Dari keseluruhan peserta, 100 remaja . ,2%) melaporkan tidak memperoleh dukungan informasi dari orang tua. Sebanyak 125 remaja . ,8%) mengaku tidak dipengaruhi oleh teman sebaya dalam hal tersebut, sementara 75 remaja . ,4%) menyatakan guru tidak berperan dalam memberikan pengetahuan terkait topik yang diteliti. Selain itu, 120 remaja . ,0%) menilai tenaga kesehatan tidak ikut berkontribusi. Di sisi lain, akses terhadap media massa tergolong tinggi, dengan 125 remaja . ,6%) menyatakan memanfaatkan media sebagai sumber informasi. Uji bivariat terhadap lima variabel menunjukkan bahwa empat di antaranya berkorelasi signifikan dengan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi. Faktor yang terbukti memiliki hubungan bermakna adalah keterlibatan orang tua . = 0,. , pengaruh teman sebaya . = 0,. , peran guru . = 0,. , serta kontribusi tenaga kesehatan . = 0,. Sebaliknya, variabel akses terhadap media massa tidak menunjukkan signifikansi statistik dalam analisis tersebut . ihat Tabel . Tabel 1. FaktorAefaktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi di SMA Negeri 11 Medan Tahun 2025 Variabel Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi Kurang Baik Total Value 0,001 Total 0,014 Peran guru Tidak Berperan Total 0,007 Peran Orang Tua Tidak Berperan Total Pengaruh Teman Sebaya Tidak Berpengaruh Hasil Analisis deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pemahaman yang kurang memadai mengenai kesehatan reproduksi, yakni 150 Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 206 | JPI. Vol. No. November 2025 Peran Petugas Kesehatan Tidak Berperan Total Akses Media Massa Tidak Mengakses Total 0,011 0,127 Analisis multivariat menunjukkan bahwa satusatunya faktor yang tetap memiliki keterkaitan signifikan dengan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi adalah keterlibatan orang tua. Nilai OR sebesar 1,982 mengindikasikan bahwa remaja yang tidak memperoleh peran dari orang tua memiliki kemungkinan hampir dua kali lebih besar untuk mengalami pemahaman yang rendah dibandingkan mereka yang mendapatkan dukungan orang tua . ihat Tabel . Selain itu, ditemukan adanya efek perancu: pengaruh teman sebaya saling memengaruhi dengan peran guru, dan demikian pula peran guru menunjukkan hubungan perancu terhadap variabel pengaruh teman sebaya . ihat Tabel . Tabel 2. Permodelan Multivariat Tahap Akhir Variabel Peran Orang Pengaruh Peran guru Value 0,014 95% CI 1,982 1,127 0,007 1,507 0,861 0,011 1,621 0,924 Pembahasan Peran Orang Tua Remaja yang tidak memperoleh dukungan atau keterlibatan dari orang tuanya memiliki kemungkinan hampir dua kali lebih besar untuk memiliki pemahaman yang rendah mengenai kesehatan reproduksi dibandingkan mereka yang mendapatkan peran orang tua, dengan rentang kepercayaan 95% sebesar 1,127Ae3,487. Keterlibatan keluarga inti, khususnya orang tua, sangat menentukan karena merekalah sumber pengetahuan pertama yang ditemui anak dalam memahami isu seksualitas hingga memasuki masa Agar dapat memberikan bimbingan yang memadai, orang tua perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai dinamika perkembangan seksual Cara pandang dan tingkat pengetahuan orang tua mengenai seksualitas serta kesehatan reproduksi berpengaruh langsung terhadap bagaimana anak atau remaja membentuk pemahaman dan sikap mereka terhadap isu tersebut (BKKBN, 2. Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil studi Cahyo . Anggrainy . Yazici dkk. serta Indarwati . , yang sama-sama menunjukkan adanya keterkaitan antara keterlibatan orang tua dan tingkat pemahaman remaja mengenai kesehatan Berdasarkan hal tersebut, orang tua disarankan untuk memperluas pengetahuan mereka sendiri tentang isu reproduksi, membangun komunikasi yang lebih hangat dengan anak, serta memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan informasi tersebut agar anak menerima pemahaman dasar langsung dari keluarga sebelum mendapatkannya dari sumber lain. Pengaruh Teman Sebaya Hasil analisis multivariat mengindikasikan bahwa pengaruh teman sebaya tidak terbukti berhubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dalam studi ini. Untuk komprehensif pada penelitian selanjutnya, disarankan agar sampel difokuskan pada remaja yang memiliki interaksi intens dengan kelompok sebaya, misalnya mereka yang tinggal di lingkungan asrama. Peran Guru Analisis multivariat dalam studi ini tidak menemukan keterkaitan yang signifikan antara peran guru dan tingkat pengetahuan remaja mengenai Penelitian disarankan melibatkan kelompok siswa yang telah menerima pembelajaran atau materi khusus tentang kesehatan reproduksi agar hubungan variabel tersebut dapat dievaluasi secara lebih tepat. Peran Petugas Kesehatan Hasil analisis multivariat mengungkap bahwa peran tenaga kesehatan tidak menunjukkan keterkaitan yang berarti dengan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi pada penelitian ini. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih akurat pada studi lanjutan, disarankan penelitian difokuskan pada tenaga kesehatan yang memang aktif menjalankan fungsi edukatif. Selain itu, perlu Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 207 dilakukan peninjauan kembali terhadap implementasi program puskesmas, khususnya pada petugas yang bertanggung jawab mengelola layanan PKPR. Akses Media Massa Dalam analisis multivariat, akses terhadap media massa tidak terbukti berkaitan secara signifikan dengan tingkat pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengidentifikasi jenis media yang paling efektif dalam menyampaikan informasi reproduksi yang bersifat edukatif, seperti majalah bertema kesehatan. Kesimpulan Berdasarkan pemodelan multivariat, hanya faktor keterlibatan orang tua yang menunjukkan hubungan signifikan dengan tingkat pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi. Nilai OR sebesar 1,982 menandakan bahwa remaja yang tidak memperoleh dukungan dari orang tuanya memiliki kemungkinan hampir dua kali lebih besar untuk memiliki pengetahuan yang rendah dibandingkan remaja yang mendapatkan peran orang tua dalam isu Saran Orang tua diharapkan dapat memperkuat pemahaman mereka mengenai isu kesehatan Untuk meningkatkan keterlibatan dalam mendampingi remaja, mereka dapat memperkaya pengetahuan melalui berbagai cara, seperti menghadiri program edukasi, membaca publikasi yang membahas topik reproduksi, atau memanfaatkan tayangan informasi melalui media elektronik. Selain hubungan dalam keluarga juga berperan penting. Kedekatan emosional antara orang tua dan anak membantu menghilangkan rasa canggung saat membahas topik kesehatan reproduksi. Orang tua perlu menentukan momen yang tepat untuk mulai mengenalkan informasi tersebut. Keterlibatan kedua orang tua juga ideal: ibu dapat membimbing anak perempuan dalam memahami isu reproduksi, sementara ayah melakukan hal serupa kepada anak laki-laki. Dengan demikian, remaja memperoleh dasar informasi yang memadai langsung dari keluarga sebelum bersentuhan dengan sumber lain. Daftar Pustaka