Angelion Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6. No 2. Desember 2025. org/10. 38189/jan. e-ISSN : 2723-3324 Available at: e-journal. id/index. php/jan/index Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini Ariance Loru1 arianceloru02@gmail. Kalis Stevanus2 kalisstevanus91@gmail. Abstract This study aims to analyze the concept of servant leadership based on Philippians 2:6-8 and its relevance to the modern church. The method used in this study is a qualitative approach through literature review and exegetical study. The focus of the study is directed at the practical theological realm of Jesus Christ's example of humility, self-emptying, and obedience to the point of death on the cross. The exegetical results indicate that servant leadership offers an alternative, transformative solution amidst the challenges of the modern church, such as secularization, technological development, religious pluralism, and sociocultural change. The example of Jesus Christ, which teaches three main aspects of servant leadership: relinquishing personal rights, taking on the form of a servant, and living in obedience and sacrifice, will shape the character of Christian leaders who are humble, imbued with integrity, and contextual. This study confirms that servant leadership is not merely an organizational strategy, but a theological calling rooted in the example of Jesus Christ himself. Keywords: Kenosis. servant leadership. modern church. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan hamba berdasarkan Filipi 2:6-8 serta relevansinya bagi gereja modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan studi eksegesis. Fokus kajian diarahkan ke ranah teologis praktis terhadap teladan Yesus Kristus yang merendahkan hati, mengosongkan diri dan taat sampai mati di atas kayu salib. Hasil eksegesis menunjukkan bahwa kepemimpinan hamba memberikan alternatif yang solusi transformatif di tengah tantangan gereja modern, seperti sekularisasi, perkembangan teknologi, pluralisme agama, serta perubahan sosial-budaya. Teladan Yesus Kristus yang mengajarkan tiga aspek utama kepemimpinan hamba, yaitu: melepaskan hak pribadi, mengambil rupa sebagai hamba, serta hidup dalam ketaatan dan pengorbanan akan membentuk karakter pemimpin Kristen yang rendah hati, berintegritas, dan kontekstual. Penelitian ini memberikan penegasan bahwa kepemimpinan hamba bukan sekedar strategi organisasi, melainkan panggilan teologis yang berakar pada teladan Yesus Kristus sendiri. Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Ariance Loru. Kalis Stevanus: Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini Kata-kata kunci: Kenosis. kepemimpinan hamba. gereja modern. PENDAHULUAN Di era gereja modern, konsep mengenai kepemimpinan terus mengalami perubahan dan juga terus berkembang. 3 Kepemimpinan di era modern diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang kompleks dan perlu sebuah pendekatan yang transformasional. 4 Fenomena dalam penyalahgunaan kuasa seperti korupsi,5 krisis moral, serta orientasi pelayanan yang lebih menonjol citra diri ketimbang kerendahan hati. 6 Kasus pelecehan seksual tidak hanya terjadi di kalangan pendeta,7 tapi juga menimpa tokoh imam gereja Katolik. 8 Hal ini gereja memerlukan paradigma kepemimpinan yang berbeda dengan pola dunia yang mementingkan orang lain dari pada kepentingannya sendiri, ketika dalam menghadapi perubahan yang terus berkembang. Kepemimpinan pada umumnya adalah orang yang membawa pengaruh maupun yang mempengaruhi antar personal atau orang lain dalam meraih suatu tujuan. 9 Jadi, kepemimpinan itu tidak asal-asalan melainkan harus punya arah yang jelas. Kepemimpinan hamba menekankan prinsip melayani, kerendahan hati dan juga pemberdayaan kepada setiap jemaatnya. 10 Berakar pada teladan Yesus Kristus yang dijabarkan dalam Filipi 2:6-7 di mana dalam ayat ini memberikan gambaran Kristus yang Aumengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa sebagai hambaAy, yang menjadi paradigma revolusioner bagi kepemimpinan Kristen. Kepemimpinan hamba sering kali dilihat sebagai Inge Gunawan. Kalis Stevanus, and Yonatan Alex Arifianto. AuKepemimpinan Kristen Transformasional: Interpretasi 2 Timotius 3: 10 Dan Signifikansinya Bagi Pemimpin Kristen Di Era Disrupsi,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 7, no. : 567Ae78, https://scholar. org/work/4qghkvlb45bmnm2a7pzckpsofa/access/wayback/https://sttintheos. id/ejournal/index. php/dunamis/article/download/979/353. Alexander Situmorang. Hendrikus Albrech Dimpudus, and Norma Eva Joane. AuKepemimpinan Transformatif Di Era Globalisasi Dan Aplikasinya Dalam Konteks Gereja,Ay TZEDAQA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. : 39Ae52. Thomas Dwi Priyandoko. AuPendeta di Sulut Tersangka Korupsi Rp 8,9 Miliar. Dana Keagamaan Diselewengkan untuk Keuntungan Pribadi - Kaltim Post,Ay Pendeta di Sulut Tersangka Korupsi Rp 8,9 Miliar. Dana Keagamaan Diselewengkan untuk Keuntungan Pribadi - Kaltim Post, accessed December 15, 2025, https://kaltimpost. com/nasional/2385906817/pendeta-di-sulut-tersangka-korupsi-rp-89-miliar-danakeagamaan-diselewengkan-untuk-keuntungan-pribadi. Kalis Stevanus. Kepemimpinan Kristen Di Tengah Budaya Sekuler: Cara Memimpin Sebelum Dipromosikan (Lombok Tengah: Gapura Biru, 2. ANTARA News Agency. AuPendeta Pelaku Cabul Di Surabaya Divonis 10 Tahun Penjara,Ay ANTARA News Jawa Timur, accessed December 15, 2025, https://jatim. com/berita/417505/pendeta-pelaku-cabul-di-surabaya-divonis-10-tahun-penjara. Martinus Renda et al. AuPenyalahgunaan Kuasa Imamat Dalam Kasus Sexual Abuse,Ay Studia Philosophica et Theologica 22, no. 1 (April 2. : 114Ae37, https://doi. org/10. 35312/spet. M M Lelo Sintani et al. Dasar Kepemimpinan (Cendikia Mulia Mandiri, 2. Elman Marunduri. Esti Rahayu Rahayu, and Royke J Rambing. AuKarakteristik Alkitabiah Kepemimpinan Hamba Dan Implikasinya Bagi Gereja Di Era Digital,Ay Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 11, no. A . : 43Ae59. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2. Desember 2025 sebuah pemikiran Kristen yang berakar teologi yang mendalam dalam tradisi Alkitab. Konsep kepemimpinan melayani atau hamba secara alkitabiah dijelaskan juga dalam Markus 10:42-44 di mana tindakan Yesus dalam memberikan pengajaran bahwa siapa yang ingin lebih besar di antara mereka harus menjadi pelayan bagi orang lain. Hal ini yang menjadi dasar yang kuat sebagai pemimpin untuk memiliki sikap melayani sebagai hamba yang menjunjung tinggi etika dan juga relasi yang baik dan sehat dengan anggota jemaat. Dari gambaran mengenai kepemimpinan hamba ada begitu banyak pemimpin gereja di era modern ini yang mengalami kesulitan maupun gagal dalam mengimplementasikan model kepemimpinan tersebut, karena kurang memahami secara teologis dan sikapnya lebih mementingkan dirinya sendiri, apalagi di era modern yang begitu banyak tantangan yang sedang dihadapi oleh gereja modern. Di dalam artikel yang ditulis tim Pranoto, bahwa para pemimpin bersikap ingin dilayani bukan melayani, maka dari itu banyak pemimpin yang gagal ketika menerapkan kepemimpinan hamba. 13 Hal tersebut perlu disadari oleh para pemimpin gereja mengenai perubahan dinamika sosial dan kemajuan teknologi supaya bisa beradaptasi tanpa kehilangan esensi dari pelayanan sejati. Oleh sebab itu para pemimpin harus mampu mengeksplorasikan bagaimana kepemimpinan hamba itu di implementasikan sebagai model pelayanan yang efektif dalam menghadapi dinamika gereja modern. Di sisi lain ada beberapa penelitian yang terdahulu yang sudah membahas mengenai kepemimpinan hamba. Menurut Leo Tambunan dalam kajian teologis dan juga praktis mengenai kepemimpinan hamba dalam pelayan gereja. Menyoroti bahwa karakteristik utama dari kepemimpinan hamba itu kerendahan hati dan juga pemberdayaan pada jemaat dan juga relevansinya terhadap pelayanan yang inklusif di tengah zaman sekarang ini. 14 Dalam penelitian Utomo mengenai karakteristik kepemimpinan Hamba Yesus Kristus menurut Filipi 2:5-8, menghasilkan tiga karakteristik dalam kepemimpinan hamba dari Yesus Kristus, yaitu. kerelaan untuk kehilangan hak. Leo Alexander Tambunan. Kepemimpinan Hamba Dalam Konteks Pelayanan Gereja: Sebuah Kajian Teologis Dan Praktis, 2025, 1Ae3. Misdon Silalahi et al. AuKarakteristik Kepemimpinan Kristen Melalui Keteladanan Yesus Dalam Melayani Berdasarkan Markus 10: 43-45,Ay Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kerusso 8, no. : 53Ae61. Gangsar Sugio Pranoto et al. AuKepemimpinan Kristen Berbasis Tim: Pelajaran dari Ajaran dan Praktik Kepemimpinan Yesus dalam Injil Sinoptik,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 7, no. 1 (September 2. 71Ae86, https://doi. org/10. 38189/jtbh. Leo Alexander Tambunan. Kepemimpinan Hamba Dalam Konteks Pelayanan Gereja: Sebuah Kajian Teologis Dan Praktis, n. , accessed December 15, 2025, https://w. edu/download/123149033/Kepemimpinan_Hamba_dalam_Konteks_Pelayanan_Gerej a_Sebuah_Kajian_Teologis_dan_Praktis_1_. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Ariance Loru. Kalis Stevanus: Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini kerendahan hati dan ketaatan Yesus. 15 Dalam penelitian Baskoro mengenai tinjauan teologis kepemimpinan berhati hamba menurut Filipi 2:1-11 menyoroti tentang kepemimpinan yang berhati hamba yang berfokus pada keteladanan Yesus yang memiliki karakter hati hamba dalam pelayanan dunia, dengan tujuan supaya kepemimpinan berhati hamba menjadi gaya hidup setiap pemimpin Kristen. Terkait dari beberapa peneliti di atas yang juga membahas mengenai kepemimpinan hamba yang sangat dibutuhkan masa kini, bahwa kepemimpinan itu sangat berpengaruh ketika tidak mengetahui arah dan motifnya ke mana. Penelitian ini tidak hanya menjelaskan mengenai konsep kepemimpinan hamba secara Teologis, namun penelitian ini menekankan bahwa peran kenosis . engosongan dir. dalam Filipi 2:6-8 itu sebagai model transformatif bagi kepemimpinan di masa kini. Maka dari itu fokus penelitian ini adalah menggali kenosis Kristus dan mengaplikasikannya secara praktis dalam konteks kepemimpinan di gereja modern yang mengalami perubahan sosial, budaya dan teknologi. Dengan harapan dapat memberikan kontribusi terhadap pembaharuan pola kepemimpinan yang dapat membawa gereja ke arah pelayanan yang transformatif. METODE Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Adini menjelaskan bahwa penelitian pustaka atau literatur tidak melibatkan pengumpulan data lapangan secara langsung, tetapi berfokus pada analisis mendalam terhadap literatur ilmiah yang relevan, mutakhir, dan kredibel. 17 Karena itu, penulis akan fokus pada analisis dan sintesis dari berbagai sumber literatur dan informasi dari artikel ilmiah, buku-buku dan juga sumber-sumber yang relevan dengan topik penelitian artikel ini. Pendekatan ini memungkinkan penulis untuk memahami secara mendalam konsep kepemimpinan hamba berdasarkan Filipi 2:6-8 serta relevansinya bagi konteks gereja Selain itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan hermeneutika untuk menggali makna teologis yang terkandung di dalam teks Filipi 2:6-8 supaya dapat memahami konteks historis, linguistik, dan teologis dari teladan kepemimpinan Yesus Bimo Setyo Utomo. AuKarakteristik Kepemimpinan Hamba Yesus Kristus Menurut Filipi 2: 5-8,Ay DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika 3, no. : 107Ae19. Paulus Kunto Baskoro. Tinjuan Teologis Kepemimpinan Berhati Hamba Menurut Filipi 2 : 1-11 Bagi Pembentukan Karakter Jemaat, 2, no. : 143Ae57, https://doi. org/10. 47530/edulead. Miza Nina Adlini et al. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,Ay Jurnal Edumaspul 6, no. : 974Ae80, http://download. id/article. php?article=2846813&val=13953&title. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2. Desember 2025 Kristus. 18 Setelah melakukan eksegesis teks, penulis akan menganalisis tantangan gereja kontemporer, dan terakhir melakukan sintesis relevansi teologisnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi Kepemimpinan Hamba Pemimpin adalah seorang yang memberikan bimbingan dan arahan kepada orang Pemimpin juga dipanggil, dipersiapkan oleh Allah dengan memberikan kapasitas untuk menjalankan misi-Nya serta mengabdi dan melayani-Nya. 19 Mewujudkan rencana Tuhan itu merupakan dasar dari kepemimpinan. Konsep kepemimpinan dapat dipahami sebagai proses yang membawa pengaruh serta memengaruhi antar personal maupun orang lain untuk mencapai sebuah tujuan. Woffoed menegaskan bahwa kepemimpinan itu merupakan sebuah kemampuan dalam memberikan pengaruh terhadap orang lain dalam melayani dengan tujuan untuk membangun tubuh Kristus. 20 Pemimpin yang berusaha untuk melayani berarti lebih ke arah mementingkan orang lain. Konsep kepemimpinan hamba adalah model kepemimpinan yang menempatkan pelayanan kepada orang lain sebagai prioritas utama. Hal ini seorang pemimpin ada bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani sama sepeti apa yang Yesus ajarkan dan hidupi dalam pelayanan-Nya. Kepemimpinan hamba tidak mengarah pada otoritas yang hanya memberikan perintah namun lebih mengarah pada melayani seperti hamba. Hamba dalam bahasa Yunani doulos yang artinya Auhamba, orang bergantung pada raja, tersebut dalam organisasi gereja dalam melayani jemaat. Secara umum Kata doulos diartikan sebagai budak atau orang yang tunduk pada kehendak dan otoritas tuannya, yang tidak mempunyai hak atas dirinya. 21 Maka dari itu konsep ini digunakan dalam pelayanan karena tugas dari pelayan itu mengerjakan tugas. Jadi, semestinya pemimpin berangkat dari konsep ini untuk mempraktikkannya dalam kepemimpinannya. Gagasan mengenai kepemimpinan hamba secara modern pertama kali dipopulerkan oleh Robert K. Greenleaf melalui bukunya yang berjudul AuThe Servant as LeaderAy yang cukup terkenal dengan konsep pelayan hamba, dan mengutarakan bahwa seorang pemimpin Kresbinol Labobar. Dasar-Dasar Hermeneutik: Metode Penafsiran Alkitab Yang Mudah Dan Tepat (PBMR ANDI, 2. , 45. Hannas Hannas and Rinawaty Rinawaty. AuKepemimpinan Hamba Tuhan Menurut Matius 20: 2528,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat 3, no. : 208Ae24. Hannas and Rinawaty. AuKepemimpinan Hamba Tuhan Menurut Matius 20: 25-28. Ay Derek Tidball. AuLeaders as Servants: A Resolution of the Tension. ,Ay Evangelical Review of Theology 36, no. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Ariance Loru. Kalis Stevanus: Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini yang sejati itu adalah seseorang yang mementingkan pelayanan terhadap orang lain. Kepemimpinan hamba itu lebih mendahulukan kebutuhan orang lain, memberikan pengarahan, mendorong pemberdayaan terhadap anggota jemaat. Dasarnya teologis dari model ini tampak nyata dari kehidupan Yesus Kristus sebagai hamba yang melayani. Rasul Paulus memberikan penegasan untuk jemaat yang ada di Filipi memberi ajakan kepada para pemimpin jemaat untuk menerapkan kepemimpinan hamba dalam surat Filipi 2:5-11. Ia mengajak pemimpin jemaat untuk meneladani kerendahan hati dan ketaatan Kristus yang rela melepaskan hak-Nya, mengosongkan diri, serta mengambil rupa seorang hamba demi keselamatan manusia. Oleh sebab itu, kepemimpinan hamba bukan sekedar gaya kepemimpinan yang alternatif, melainkan inti dari panggilan kepemimpinan Kristen yang sejati. Konteks Surat Filipi Kitab Filipi merupakan surat yang ditulis oleh rasul Paulus, yang di tulis pada saat ia berada di penjara, sehingga surat ini termasuk dalam kategori surat-surat penjara. Para ahli kitab umumnya sepakat bahwa surat Filipi ini ditulis di Roma sekitar 60-63 Masehi. Surat ini ditujukan kepada jemaat yang ada di kota Filipi, sebuah kota penting di wilayah Makedonia. Kota inilah Paulus pertama kali memberitakan Injil dan mendirikan jemaat (Kis. 16:11-. Secara historis Filipi merupakan kota yang metropolis Romawi yang berlatar belakang sosial yang heterogen. Penduduknya terdiri dari orang-orang Romawi. Yunani, dan sejumlah orang Yahudi. Kota ini juga merupakan kolonial Romawi yang memiliki status keistimewaan sehingga kehidupan masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh budaya dan sistem politik Romawi. Hal inilah yang memberikan warna tersendiri bagi kehidupan jemaat yang ada di sana. Tujuan utama Paulus menulis surat ini adalah untuk menyampaikan ungkapan kasi serta ucapan terima kasih kepada jemaat Filipi atas dukungan mereka terhadap pelayanan Paulus. Walaupun Paulus dalam penjara. Jemaat Filipi sangat dikenal dengan komunitas mereka yang setia dan mempunyai hubungan yang erat dengan Paulus. Maka dari itu Paulus terus memberikan ingin menguatkan iman mereka supaya tetap teguh, bersat, dan bersukacita dalam Kristus meskipun dalam menghadapi tantangan. Karakteristik Alkitabiah Kepemimpinan Hamba Dan Implikasinya Bagi Gereja Di Era Digital. Wesley Brill. Tafsiran Surat Filipi (Kalam Hidup, 1. jonar T. Situmorang. Tafsiran Surat Filipi, 1st ed. (PBMR ANDI, 2. Brill. Tafsiran Surat Filipi. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2. Desember 2025 Dalam surat Filipi diawali dengan kata salam yang berasal dari Rasul Paulus. Timotius dan hamba-hamba Yesus Kristus, untuk orang-orang kudus yang ada di Filipi serta para penilik jemaat dan diaken (Flp. 26 Setelah itu Paulus menyampaikan doa ucapan syukur untuk jemaat di Filipi, di mana isi doanya mengenai harapan untuk jemaat Filipi supaya semakin melimpah pengetahuan dan juga mempunyai pengertian yang benar, supaya jemaat yang di Filipi tetap setia dalam Yesus Kristus. Paulus juga berbagi cerita dalam suratnya itu mengenai alasannya berada dalam penjara, karena menanggung penderitaan dalam pelayanan. Hal ini jemaat Filipi ikut dalam penderitaan Paulus, namun Paulus terus memberikan nasihat supaya mereka tetap menjaga kesatuan hati dan juga siap dalam menghadapi penderitaan yang mereka alami. Eksposisi Filipi 2:6-8 Dalam Filipi 2:6-8 merupakan bagian teks yang sangat penting dan sering menjadi bahan diskusi teologi yang mengandung makna kristologis yang mendalam. Secara linguistik Beberapa bagian terlihat ambigu, baik dari sisi arti kata maupun posisi kata dalam Banyak penafsir Alkitab yang mengatakan bahwa bagian ini kemungkinan besar merupakan sebuah himne kuno digunakan jemaat mula-mula supaya dapat mengekspresikan iman mereka kepada Kristus. Struktur kata dan bahasanya menunjukkan paralelisme puitis yang khas sehingga penafsirnya perlu memperhatikan konteks sastra dan teologi. Kristus dalam rupa Allah . Filipi 2:6 memberi penegasan bahwa Kristus Yesus, walaupun memiliki bentuk atau rupa Allah, namun tidak mempertahankan atau mengeksploitasi kesetaraannya dengan Allah sebagai sesuatu yang dipertahankan. Frasa Auen morphe Theou huparchonAy menunjukkan bahwa Kristus sungguh-sungguh memiliki natur ilahi yang nyata. Namun, tidak menganggap setara dengan Allah sebagai sesuatu yang dipertahankan atau dirampas, ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus tidak melakukan tindakan dengan paksaan melainkan dengan kerendahan hati-Nya. 28 Thomas R. Schreiner menjelaskan bahwa Kristus Yesus itu tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai keuntungan pribadi, melainkan memilih jalan kerendahan hati dan ketaatan pada kehendak BapaAy. 29 Dengan demikian. Kristus memilih jalan kerendahan, bukan mempertahankan privilace. Rasul Paulus berusaha Situmorang. Tafsiran Surat Filipi. Utomo. AuKarakteristik Kepemimpinan Hamba Yesus Kristus Menurut Filipi 2: 5-8. Ay Utomo. AuKarakteristik Kepemimpinan Hamba Yesus Kristus Menurut Filipi 2: 5-8. Ay Situmorang. Tafsiran Surat Filipi. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Ariance Loru. Kalis Stevanus: Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini memberikan penjelasan Bahwa Kristus itu Allah, tapi Dia tidak menganggap bahwa diriNya itu Allah. Di sini sangat tampak nyata kerendahan hati Yesus Kristus. Pengosongan diri . Dalam ayat ini mengungkapkan tindakan Kristus yang secara sadar mengosongkan diri-Nya. Frasa telah mengosongkan diri-Nya Auheauton ekenosenAy. Kristus tidak kehilangan keilahian-Nya, melainkan melepaskan hak dan kemuliaan-Nya demi mengambil rupa seorang hamba . orphen doulo. Kristus sungguh mengambil natur hamba. Dalam dunia Greek. Romawi, menjadi hamba atau budak adalah status yang terendah. Yesus menjelma menjadi manusia sejati dengan segala kelemahan dan keterbatasan manusiawi tanpa dosa. Dengan demikian bentuk pengosongan diri merupakan sebuah bentuk solidaritas Kristus terhadap manusia bukan kehilangan identitas Ilahi-Nya. Dalam inkarnasi-Nya AuDia sama seperti manusiaAy menunjukkan bahwa Yesus mengambil kemiripan dengan semua manusia, dengan tidak menuntut kecocokan sempurna dengan setiap manusia. Pengosongan diri ini merupakan bentuk nyata dari kasih dan kerendahan hati yang mendalam. Ketaatan Sampai Mati di Kayu Salib . Frasa Au ENAE AcaC C EAOACAy ada kata ENAE . dari kata skema yang berati penampilan luar, wujud. Kata skema ini menggambarkan keseluruhan wujud Yesus sebagai manusia. Namun skema dibedakan dengan kata morphe. Dalam Filipi 2:6 morphe menunjukkan keberadaan Yesus Kristus yang secara batiniah di dalam Allah, sedangkan skema merujuk pada penampilan luar Yesus yaitu kemanusiaan-Nya. Dapat dipahami bahwa Yesus mengambil rupa sebagai manusia dari penampilan luar. Dan AuaEAAOEA cIE . tapeinssen heaut. artinya AuDia merendahkan diri-NyaAy. Etapeinssen dari kata tapeinoy yang menggambarkan penurunan status seseorang secara Kata ini bentuknya aorist aktif berarti tindakan ini dilakukan dengan sadar oleh Yesus tanpa adanya paksaan dari siapa pun untuk menebus dosa manusia di atas kayu salib. Yesus Kristus menunjukkan ketaatan-Nya . sebagai puncak kerendahan-Nya. Pada masa itu orang yang salibkan itu sebuah kematian yang paling hina. Tetapi Yesus Kristus merendahkan diri-Nya untuk manusia. 33 Pengorbanan Yesus di kayu salib merupakan pengorbanan yang sangat radikal di mana pembuktiannya itu pada saat Yesus membuktikan Utomo. AuKarakteristik Kepemimpinan Hamba Yesus Kristus Menurut Filipi 2: 5-8. Ay Brill. Tafsiran Surat Filipi. D Hagelberg. Tafsiran Surat Filipi Dari Bahasa Yunani (PBMR ANDI, 2. Brill. Tafsiran Surat Filipi. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2. Desember 2025 ketaatan-Nya tanpa syarat, sempurna dan ideal ini yang menjadi sebuah perhatian bagi orang percaya mengenai ketaatan. Tantangan dan Dinamika Gereja Modern Gereja modern sedang menghadapi berbagai perubahan yang cepat pada pola jemaat yang lebih pluralistis, selain itu ada perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang menuntut pemimpin gereja untuk memiliki kemampuan manajerial yang baik sekaligus mempunyai kepekaan spiritual yang mendalam. Dinamika gereja modern memiliki tantangan, yaitu: Pertama. perkembangan teknologi ini merupakan tantangan yang cukup besar untuk gereja modern, di mana sangat membawa pengaruh terhadap aspek kehidupan jemaat dalam iman dan spiritual mereka. Perkembangan ini cukup membawa perubahan yang baik dan juga perubahan yang merugikan dalam pertumbuhan iman jemaat. Apalagi dalam penggunaan media sosial dan juga platform-platform digital yang ada itu semakin berkembang dan gereja harus peka dengan hal ini supaya dapat memanfaatkan digitalisasi ini untuk memberitakan Injil dan membangun komunitas-komunitas untuk orang-orang yang 35 Tetapi gereja harus memastikan pengajaran-pengajarannya mengenai prinsip-prinsip iman Kristen, supaya tidak tertabrak dengan perkembangan dunia saat ini, karena ada ajaran-ajaran yang bertentangan dengan iman Kristen. Kedua. sekularisasi merujuk pada proses di mana agama kehilangan pengaruhnya dalam kehidupan publik maupun pribadi. Banyak individu dan masyarakat zaman sekarang yang lebih mengutamakan pendekatan yang sekuler, yang dapat mengurangi keterlibatan mereka dengan gereja. Fenomena inilah yang mengharuskan gereja untuk mencari cara baru supaya dapat berkomunikasi dan tetap dapat terhubung dengan jemaat. Akibatnya agama itu dipandang sebagai urusan pribadi yang tidak lagi menjadi pedoman utama dalam kehidupan sosial, politik maupun budaya. 37 Sekularisasi sangat berdampak terhadap kehidupan publik dan pribadi di mana nilai-nilai agama yang sebelumnya itu sebagai fondasi untuk masyarakat jadi tergeser karena adanya nilai-nilai sekuler. Agama tidak lagi menjadi acuan utama dalam Utomo. AuKarakteristik Kepemimpinan Hamba Yesus Kristus Menurut Filipi 2: 5-8. Ay Miza Nina Adlini et al. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,Ay Jurnal Edumaspul 6, no. : 974Ae80, http://download. id/article. php?article=2846813&val=13953&title. Rolinda Hutahaean. Roy Rikki Tambunan, and Olah Valentino Firdaus Aritonang. AuStrategi Pembinaan Iman Warga Gereja Dalam Menghadapi Tantangan Zaman Modern,Ay Jurnal Pendidikan Sosial Dan Humaniora 4, no. : 4725Ae41. Umi Hanik. AuSekularisasi Dan Sekularisme Agama,Ay Religious: Jurnal Agama Dan Lintas Budaya 1, no. : 91Ae102. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Ariance Loru. Kalis Stevanus: Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini pengambilan keputusan publik maupun dalam membentuk identitas sosial. 38 Sekularisasi juga dapat menimbulkan fenomena terhadap krisis identitas religius dan spiritual di mana masyarakat atau jemaat khususnya anak muda itu mengalami penurunan religiositas dan juga keterlibatannya dalam aktivitas gereja. 39 Tantangan bagi gereja diperhadapkan dengan adanya penurunan jemaat terlibat aktif dalam kegiatan gereja karena beranggapan bahwa agama hanyalah sebagai urusan pribadi dan akhirnya gereja kehilangan otoritas moral. Gereja tidak lagi menjadi otoritas utama dalam menentukan nilai dan juga norma sosial, sehingga pengaruhnya dalam membentuk perilaku jemaatnya itu berkurang. 40 Dalam hal ini sekularisme menuntut gereja supaya bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan-perubahan zaman yang terus terjadi. Sebagaimana ditegaskan Stevanus dan Yunianto, gereja harus bergumul untuk menemukan cara baru yang relevan untuk memberitakan Injil dan juga melayani masyarakat di tengah dunia yang semakin sekuler ini. Ketiga. dinamika pluralisme agama juga semakin berkembang di era modern di mana dalam masyarakat itu yang makin multireligius dan multikultur. Menurut Widyanintyas dan Plestari mengatakan bahwa pluralisme merupakan tantangan yang dihadapi gereja modern. Masyarakat itu beragam, gereja itu harus bisa untuk terus menjaga toleransi dan juga menghormati keberagaman yang ada. Dalam membangun relasi yang baik dengan agama yang lain gereja dapat menerapkan sikap inklusif supaya dapat menghargai perbedaan dengan tetap berpegang pada identitas sebagai komunitas Kristen. Keempat. perubahan sosial dan budaya juga termasuk sebagai tantangan untuk gereja modern, karena perubahannya itu sangat cepat, dan di perhadapkan dengan masalah seperti ketidakadilan, perubahan iklim dan juga krisis pada identitas. perubahan ini di pengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi, termasuk globalisasi, dan juga perkembangan teknologi. Gereja harus bisa untuk melihat dan juga dapat memberikan solusi yang tepat yang sesuai Markus Meran. AuAgama Dan Sekularisme Di Indonesia,Ay Jurnal Jumpa VII, no. : 103Ae Nesia MuAoasyara et al. AuTransformasi Identitas Religius Dan Spiritualitas Dalam Era Sekularisasi: Perspektif Sosiologi Agama,Ay Concept: Journal of Social Humanities and Education 3, no. : 254Ae65, https://doi. org/10. 55606/concept. Jeni Murni Gulo. Arismawati Halawa, and Malik Bambangan. AuPeran Gereja Dalam Pemerintahan Sejarah Tentang Agama Kristen,Ay Jurnal Pendidikan Agama Kristen Dan Katolik 2 . 145Ae58. Kalis Stevanus and Yunianto Yunianto. AuMisi Gereja Dalam Realitas Sosial Indonesia Masa Kini,Ay HARVESTER: Jurnal Teologi Dan Kepemimpinan Kristen 6, no. : 55Ae67, http://ejournal. id/index. php/harvester/article/view/61. Menghadapi Kompleksitas and Peradaban Modern. Jurnal Transformasi Humaniora, 7, no. November . : 85Ae93. Yandri Angelica Silaban et al. AuRespon Iman Kristen Terhadap Pluralitas Agama,Ay Jurnal Silih Asah 1, no. : 62Ae72. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2. Desember 2025 dengan prinsip ajaran Kristus dan juga yang relevan dengan dinamika modern. 44 Identitas Kristen tidak boleh direduksi oleh alasan menjaga sikap toleran. 45 Orang Kristen dipanggil untuk menjadi pribadi yang moderat dan toleran tanpa harus mengorbankan eksklusivitas keselamatan hanya melalui Tuhan Yesus. Ketika gereja diperhadapkan dengan berbagai tantangan ini gereja harus mampu beradaptasi dengan perubahan yang sedang terjadi. Namun sangat dibutuhkan pemimpin gereja yang mempunyai kesabaran, kebijaksanaan dan juga kepekaan atas perubahan yang terus berlanjut. Kepemimpinan yang memperhatikan orang lain, yang siap dengan situasi yang sedang terjadi. Ketika pemimpin gereja terus fokus pada pribadinya sendiri berarti sedang kehilangan esensi kepemimpinannya. Relevansi Filipi 2:6-8 Sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini Kepemimpinan rohani dalam gereja masa kini menghadapi tantangan serius seperti pemusatan kuasa pada figur pendeta, penyalahgunaan otoritas rohani, skandal moral, serta korupsi keuangan menunjukkan adanya distorsi mendasar dalam pemahaman dan praktik kepemimpinan gerejawi. Kondisi ini tidak hanya merusak integritas pelayanan pastoral, tetapi juga menggerogoti kepercayaan jemaat serta melemahkan kesaksian gereja di tengah Dalam konteks inilah, gereja perlu kembali kepada fondasi teologis kepemimpinan rohani yang berpijak pada Kristologi Perjanjian Baru. Filipi 2:6Ae8 menghadirkan salah satu teks kristologis paling mendalam dalam Perjanjian Baru yang menyingkapkan paradigma kepemimpinan Yesus Kristus sebagai hamba yang merendahkan diri . Paulus menggambarkan Kristus yang, sekalipun dalam rupa Allah, tidak mempertahankan hak Ilahi-Nya, melainkan mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Narasi ini bukan sekadar doktrin tentang inkarnasi, melainkan suatu model etis-teologis kepemimpinan rohani. Secara teologis, kepemimpinan hamba dalam Filipi 2:6Ae8 menantang secara radikal pola kepemimpinan yang berorientasi pada kekuasaan, status, dan kepentingan diri. Kepemimpinan Kristus tidak dibangun di atas dominasi, kontrol, atau pencitraan, melainkan pada kerelaan untuk merendahkan diri, mengorbankan hak pribadi, dan melayani demi Iman Pasrah Zai and Malik Bambangan. AuGereja Dalam Menghadapi Tantangan Sosial. Politik. Dan Budaya Dari Abad Ke Abad,Ay Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen Dan Katolik 3, no. : 51Ae66. Kalis Stevanus et al. AuDiscussing the Church Mandate Considering Matthew 28: 19-20. ,Ay Pharos Journal of Theology 104, no. https://w. com/uploads/7/1/6/3/7163688/article_28_vol_104_2__indonesia. Stevanus. Kepemimpinan Kristen Di Tengah Budaya Sekuler: Cara Memimpin Sebelum Dipromosikan. CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Ariance Loru. Kalis Stevanus: Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini kehendak Allah serta keselamatan sesama. Dengan demikian, teks ini berfungsi sebagai kritik profetis terhadap kepemimpinan gerejawi yang terjebak dalam logika duniawi, di mana otoritas dipahami sebagai sarana untuk menguasai, bukan melayani. Lebih jauh. Filipi 2:6Ae8 menyediakan kerangka transformasi kepemimpinan rohani yang bersifat internal dan struktural. Transformasi tersebut dimulai dari pembaruan orientasi hati pemimpin Ae dari self-centered leadership menuju Christ-centered servant leadership. Ketaatan Kristus kepada kehendak Bapa menjadi dasar spiritual bagi pendeta untuk menjalankan kepemimpinan yang akuntabel, transparan, dan berintegritas. Dalam perspektif ini, kuasa tidak dihapuskan, tetapi diredefinisi sebagai tanggung jawab untuk melayani, membangun, dan memulihkan tubuh Kristus. Oleh karena itu, kajian teologis atas Filipi 2:6Ae8 menjadi sangat relevan dan mendesak dalam upaya merekonstruksi model kepemimpinan pastoral masa kini. Teks ini menyediakan visi transformasional kepemimpinan rohani agar kembali berakar pada salib Kristus Ae tempat di mana kuasa ditundukkan, ego disalibkan, dan pelayanan dimaknai sebagai panggilan untuk mengosongkan diri demi kemuliaan Allah dan kesejahteraan jemaat Pertama adalah melepaskan hak pribadi Seorang pemimpin dipanggil untuk meneladani Kristus yang merelakan diri-Nya dengan melepaskan hak dan keistimewaannya demi orang lain yang dilayaninya. Di masa modern ini pemimpin gereja tidak memanfaatkan posisinya untuk kepentingan atau keuntungan pribadi melainkan memberikan pelayanan kepada orang lain. melepaskan hak pribadi berarti siap untuk berbagi yang menjadi milik pribadi untuk orang lain. Sama seperti Yesus Kristus yang melepaskan keistimewaan-Nya untuk manusia melalui pengosongan Kedua adalah mengambil rupa sebagai hamba Setelah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba menjadi sama seperti manusia ini merupakan titik di mana Yesus tidak hanya melepaskan haknya namun mengambil identitas hamba . osisi yang paling renda. dengan kerendahan hati. Dan ini sangat menantang dengan kepemimpinan yang duniawi. Mungkin jarang orang memahami mengenai hamba yang memberikan seluru hidupnya untuk melayani tuannya. Hal ini sebagai seorang pemimpin perlu untuk mengambil rupa sebagai hamba sama seperti Kristus. Di mana kepemimpinan gereja harus diwujudkan dalam solidaritas kepada orang yang lemah, tertindas dan yang miskin seperti yang dicontohkan Kristus dalam pelayanan47 Utomo. AuKarakteristik Kepemimpinan Hamba Yesus Kristus Menurut Filipi 2: 5-8. Ay CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2. Desember 2025 Nya terhadap orang yang berdosa, tertindas dan orang sakit (Lukas 4:18-. Greenleaf dalam bukunya servant Leadership menyebutkan bahwa inti dari seorang hamba adalah Ketiga adalah ketaatan dan pengorbanan Mungkin banyak pemimpin yang tidak merelakan dirinya untuk orang lain, maka dari itu seorang pemimpin yang di butuhkan itu berkorban sama seperti Kristus yang taat sampai mati di atas kayu salib yang merelakan diri-Nya untuk dosa manusia. Di tengah budaya yang menekankan kekuasaan dan prestise, di sini kepemimpinan hamba mengajarkan bahwa otoritas yang sejati itu lahir dari pengorbanan, bukan dominasi. Dan seorang pemimpin yang sesungguhnya itu mereka yang merelakan waktu, harta kenyamanan dan pikiran mereka untuk orang lain. Gereja masa kini yang menghadapi berbagai tantangan-tantangan dan juga krisis integritas pemimpin maka dari itu perlu model pemimpin seperti yang sudah dijelaskan dalam Filipi 2:6-8. Gereja menghadirkan pemimpin yang rendah hati dan juga yang Di masa kini banyak pemimpin yang mengalami Krisis integritas, di mana seorang pemimpin tampaknya rohani di luar, namun lemah dalam karakter dan juga Bukan hanya itu namun ada pemimpin yang juga menyalahgunakan jabatan dan juga korupsi. Filipi 2:6-8 menunjukkan bahwa Yesus Kristus yang Walaupun dalam rupa Allah, tidak mempertahankan Hak-Nya itu, justru merendahkan diri. Sebagai pemimpin tidak lagi berbicara mengenai status, tapi karakter dan juga kesetiaan dalam melayani. Pemimpin yang berintegritas akan memberikan teladan yang baik kepada jemaat yang dipimpinnya dan tidak melakukan tindakan kepemimpinan yang Sering kali gereja terjebak dalam pola kepemimpinan yang otoriter dan hierarkis, di mana pemimpin merasa bahwa dirinya paling penting dan tidak ada yang boleh mengganggu atau mengkritiknya. Dengan demikian, gereja masa kini membutuhkan figur kepemimpinan yang berpartisipasi, terbuka serta memberi ruang untuk dapat berkolaborasi di dalam Seorang pemimpin yang melayani bukan untuk memerintah. Seperti Yesus dalam Filipi 2. Dia rela mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa sebagai seorang hamba untuk Marunduri. Rahayu, and Rambing. AuKarakteristik Alkitabiah Kepemimpinan Hamba Dan Implikasinya Bagi Gereja Di Era Digital. Ay Marunduri. Rahayu, and Rambing. AuKarakteristik Alkitabiah Kepemimpinan Hamba Dan Implikasinya Bagi Gereja Di Era Digital. Ay CopyrightA 2025. Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, e-ISSN 2723-3324 . Ariance Loru. Kalis Stevanus: Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini KESIMPULAN Kepemimpinan hamba sebagaimana diajarkan dalam Filipi 2:6Ae8 memberikan landasan teologis yang mendalam bagi gereja masa kini dalam menghadapi berbagai tantangan modern, seperti kemajuan teknologi, arus sekularisasi, pluralisme agama, serta dinamika perubahan sosial. Teladan Yesus Kristus menjadi fondasi dari model kepemimpinan yang bersifat transformatif melalui tiga dimensi utama: pertama, kesediaanNya untuk melepaskan hak dan keistimewaan ilahi. kedua, kerendahan hati-Nya dalam mengambil rupa seorang hamba. dan ketiga, ketaatan-Nya yang total hingga kematian di kayu salib. Model kepemimpinan hamba ini menegaskan bahwa pelayanan sejati berakar pada kasih, kerendahan hati, dan solidaritas terhadap sesama. Dalam konteks gereja modern, dibutuhkan sosok pemimpin yang berintegritas, rendah hati, serta terbuka terhadap pembaruan tanpa kehilangan arah rohani. Dengan menerapkan prinsip kepemimpinan hamba, gereja dapat mentransformasi paradigma kepemimpinan tradisional yang kerap berorientasi pada hierarki dan otoritas menjadi pola yang lebih partisipatif, inklusif, serta kontekstual dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, kepemimpinan hamba tidak dapat dipandang sekadar sebagai strategi manajerial atau pendekatan organisasi, melainkan sebagai panggilan rohani yang bersumber dari teladan Yesus sendiri. Rekomendasi Penelitian Lanjutan Penelitian berikutnya dapat difokuskan pada analisis intertekstual terhadap himne Kristus dalam Filipi 2:6Ae8 dengan membandingkannya dengan berbagai teks tulisan-tulisan Paulus lainnya. Tujuannya ialah untuk menelusuri kesinambungan tema mengenai kerendahan hati dan ketaatan Kristus dalam keseluruhan narasi Alkitab. Selain itu, kajian semantik atas istilah morphe, ekenssen, dan tapeinos perlu dilakukan secara mendalam guna memperkaya pemahaman linguistik sekaligus teologis tentang makna kenosis, khususnya dalam penerapannya terhadap model kepemimpinan gereja masa kini. REFERENSI