E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 PENGARUH PEMBERIAN TOPIKAL GEL EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR (Vulnus combustion) PADA KELINCI (Oryctolagus cuniculus) Effects of topical extracts (Garcinia mangostana L.) To the healing of burns (Vulnus sperm) in the rabbit (Oryctolagus cuniculus) Syarifuddin K.A1 Universitas Pancasakti Makassar email: syarieeef.ka@gmail.co m Andi Nur Ilmi Adriana2 Universitas Pancasakti Makassar email: andinurilmi.adriana@u npacti.ac.id Muhammad Aris 3 Universitas Pancasakti Makassar email: muh.aris@unpacti.ac.i d Abstrak: Ekstrak etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) memiliki potensi antiinflamasi. Flavonoid memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gel ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap penyembuhan luka bakar pada kelinci. Penelitian ini menggunakan 3 ekor kelinci yang dibuat luka bakar pada bagian punggungnya. Setiap punggung kelinci dibagi menjadi 3 area. Punggung kelinci dibuat luka bakar dengan luas 2 cm2. Pengolesan dilakukan satu kali sehari. Pengamatan dilakukan dengan parameter luka pada hari ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dan ke-7. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak Kulit Buah Manggis 20% menunjukan penyembuhan luka sebesar 22.16% berpengaruh terhadap penyembuhan luka bakar pada kelinci. efek tidak berbeda nyata dengan Bioplasenton sebagai kontrol positif. Berdasarkan uji normalitas diperoleh hasil yang signifikan P>0,05 terdistribusi normal, uji homogenitas P>0,05 data statistik dengan menggunakan analysis of varians menunjukkan adanya perbedaan pengaruh yang bermakna antar perlakuan (P>0,05), uji statistic One way ANOVA menunjukkan hasil signifikan yang artinya terdapat perbedaan pengaruh pemberian topikal antar perlakuan penyembuhan luka bakar pada kelinci. Kata Kunci: Ekstrak, Kulit Manggis, Gel, Luka Bakar, Kelinci. Abstract: Extract of ethanol (Garcinia mangostana L.) has a potential antiinflammatory. Flavonoid has activities as an antiinflammatory. This study is intended to know the effects of the extract gel on the bark of the mango (Garcinia mangostana L.) on the healing of a rabbit burn.This study aims at knowing the concentration of mango skin extract (Garcinia mangostana L.) may have a salutary effect on rabbit testing animals. Extract of mango skin with a concentration of 20% of the study using 3 rabbits that were burned on the back. Each rabbit's back is divided into three areas. The rabbit's back is burnt by extensive cm2. Zing is done twice a day. Surveillance is made with wound parameters on day 1, 2nd, 3rd, 4th, 5th, 6th, and 7th. This new research suggests that the extract of 20% shows the healing of a wound by 22.16% affects the healing of a rabbit burn. The effects are not real different with a bioplasenton as a positive control. Based on the normality tests achieved significant results by p > 0.05 normal distribution, the comparative value test p > 0.05 data statistic with analysis of varians indicates a subtle influence difference between treatment (p > 0.05), testing using the statistic one way anova test demonstrating a significant difference in the topical influence with the healing treatment of a topical wound on a rabbit. Keywords: extract, bark, gel, burns, rabbit PAPS JOURNALS E-ISSN: 2830-7070 Vol. 1, No. 1, Juni, 2022 Unit Publikasi Ilmiah Intelektual Madani Indonesia 1 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 PENDAHULUAN mangostana L.). World Health Organization Kulit merupakan salah satu organ yang sangat (WHO) memperkirakan bahwa terdapat 265.000 penting bagi manusia maupun hewan. Kulit kematian yang memiliki banyak fungsi antara lain proteksi, terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia akibat absorbsi, luka bakar (WHO, 2017). Di Indonesia, ekskresi, pembentukan persepsi, serta prevalensi luka bakar pada tahun 2013 adalah memiliki peran sintesis vitamin D. Kulit sangat sebesar 0.7% dan telah mengalami penurunan rentan terjadinya cedera salah satunya adalah sebesar 1.5% dibandingkan pada tahun 2008 terjadinya luka bakar (Adhi dan Djuanda, 2007). (2.2%). Provinsi dengan prevalensi tertinggi Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau adalah Papua (2.0%) dan Bangka Belitung kehilangan jaringan yang disebabkan adanya (1.4%), sedangkan prevalensi di Jawa Timur kontak dengan sumber panas seperti api, air sebesar 0.7% (Depkes RI, 2013). panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka Gaya bakar merupakan suatu jenis trauma dengan masyarakat saat menggunakan obat herbal morbiditas dan mortalitas yang tinggi yang sebagai alternatif pengobatan. Salah satunya memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal adalah Kulit Buah Manggis, kulit Buah Manggis (fase syok) sampai fase lanjut (Moenadjat, (Garcinia mangostana L.) memiliki kandungan 2003). flavonoid berupa xanton yang memiliki efek Luka bakar diklasifikasikan menjadi empat anti inflamasi dengan memicu pembentukan derajat sesuai dengan dalamnya trauma pada kolagen lapisan kulit yaitu luka bakar derajat I pemeliharaan struktur dan penyembuhan luka (superficial burn), luka bakar derajat II (partial (Suratman et al., 1996). thickness burn), derajat III (full thickness burn), Sediaan gel luka bakar dalam penelitian ini dan derajat IV (burn extension to deep tissue) menggunakan Na-CMC sebagai basis gel. Hal (ABA, 2009). ini Perlukaan pada kulit rentang terjadi infeksi selulosa yang cepat mengembang bila diberikan mikroba yang dapat berkembang menjadi sepsis bersama air panas mempunyai sifat netral, pada luka. Hal ini dapat terjadi karena daerah campurannya jernih, dan daya ikat terhadap zat yang terluka merupakan media yang ideal bagi aktif kuat (Aponno et al., 2014). berkembangnya organisme penyebab infeksi. Maka berdasarkan jurnal yang didapatkan Salah satu tanaman berkhasiat yang dapat sebelumnya bahwa ekstrak etanol kulit manggis dimanfaatkan untuk pengobatan luka bakar (Garcinia mangostana L.) memiliki potensi adalah antiinflamasi. Flavonoid memiliki aktivitas Kulit pigmen, termoregulasi, Buah kreatinisasi, Manggis (Garcinia hidup yang Na-CMC back to nature berperan merupakan menjadikan penting polimer dalam turunan 2 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 sebagai antiinflamasi dengan mangostana L.), aquadest, bioplasenton, etanol mekanisme flavonoid bekerja dengan cara 70%, gliserin, hewan uji kelinci, lidokain 2%, menghambat metil paraben, NaCl, Na-CMC, propil paraben, enzim dimana siklooksigenase yang berperan dalam biosintesis prostaglandin yang propilenglikol. merupakan mediator radang. 3. Hewan Uji Berdasarkan penjelasan di atas, maka penelitian Kelinci (Oryctolagus cuniculus) dengan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh gel berat badan 1,5-2 kg. ekstrak C. Teknik Pengumpulan Data Kulit Buah Manggis dalam penyembuhan luka bakar kelinci. 1. Pengambilan Bahan Uji METODE Kulit A. Jenis Penelitian eksperimen laboratorium untuk mengetahui (Garcinia Pasar Senggol Kota Makassar. 2. Pengolahan Bahan Uji pengaruh pemberian topikal gel ekstrak Kulit Manggis Manggis mangostana L.) yang telah matang diambil di Penelitian ini merupakan jenis penelitian Buah Buah (Garcinia L.) (Garcinia mangostana L.) disortasi basah atau terhadap penyembuhan luka bakar (Vulnus dicuci untuk menghilangkan kotoran yang combustion) menempel dengan mangostana Sampel berupa Kulit Buah Manggis menggunakan kelinci lalu ditimbang, kemudian (Oryctolagus cuniculus) sebagai hewan uji. diserbukkan, dikeringkan lalu ditimbang. B. Alat dan Bahan 3. Pembuatan Ekstrak Kulit Bauh Manggis 1. Alat yang digunakan Alat-alat Ekstraksi ini dilakukan secara maserasi, yang dalam disiapkan alat dan bahan, ditimbang simplisia penelitian ini adalah satu set alat maserasi, kering yang telah diserbukkan sebanyak 400 g, aluminium foil, alat pemanas air, batang simplisia dimasukkan ke dalam bejana maserasi pengaduk, beaker gelas, cawan porselin, corong dan direndam dengan cairan penyari etanol 70% gelas, erlenmeyer, gelas ukur, gunting, jangka sebanyak 2 L, dilakukan pengadukan dan bejana sorong, , kain saring, kertas perkamen, labu ditutup rapat-rapat. Didiamkan hingga terjadi ukur, lempeng besi, masker, oven, pipet tetes, keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar pipet volume, sarung tangan, spatel, spuit, sel dan di dalam sel yang ditandai dengan timbangan terjadinya perubahan warna menjadi pekat pada analitik, digunakan timbangan hewan uji (Berkel), tissue gulung. cairan penyari. Disaring simplisia yang telah 2. Bahan yang digunakan dimaserasi dengan kain saring dan kertas saring. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kulit Buah Manggis (Garcinia Diuapkan pelarutnya hingga terbentuk ekstrak kental. 3 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Sediaan gel yang diamati meliputi bentuk, warna, dan bau. 4. Formula gel ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) 2) Uji homogenitas Nama Bahan Formula dan Komposisi %b/v Pengujian homogenitas adalah pengujian yang dilakukan dengan mengamati F1 F2 ketercampuran bahan-bahan dalam sediaan gel Ekstrak Kulit Buah Manggis 0 20% apakah bahan-bahan tersebut tercampur rata Na-CMC 3% 3% Gliserin 5% 5% Propilenglikol 5% 5% warnanya Propil paraben 0,02 % 0,02 % (Aponno et al., 2014) Metil Paraben 0,18 % 0,18 % 3) Uji pH Aquadest Ad 100 Ad 100 atau tidak. Pengamatan dilakukan dengan cara visual yaitu mengoleskan gel pada lempeng kaca kemudian diamati di bawah lampu apakah tercampur seragam atau tidak Uji pH dilakukan dengan menggunakan pH meter, dengan cara. Diukur larutan gel 5. Cara membuat gel ekstrak etanol Kulit Buah Manggis basis Na-CMC dengan menggunakan pH meter. 4). Uji daya sebar Na-CMC dicampurkan dengan sebagian air yang telah dipanaskan di penangas air diaduk sampai terbentuk massa gel, ditambahkan ekstrak Kulit Buah Manggis. Ditambahkan metil paraben yang terlebih dahulu telah dilarutkan dalam air panas dengan suhu 700C sedikit demi sedikit hingga tercampur. Lalu propil paraben dilarutkan dalam gliserin hingga homogen setelah itu dicampurkan ke campuran gel aduk hingga homogen. Lalu ditambahkan propilenglikol diaduk sampai homogen dan dikemas dalam wadah gel (Hj. Aisyah, 2012). 6. Pengujian gel ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) a. Uji fisik untuk sediaan gel meliputi: Uji daya sebar merupakan pengujian untuk mengetahui kemampuan gel untuk menyebar apabila diaplikasikan ke kulit. Cara yang dilakukan yaitu dengan menimbangan 1 g gel dan diletakkan pada tengah lempeng kaca. Kaca yang satu kemudian diletakkan kaca terebut di atas massa gel kemudian didiamkan selama 1 menit, diameter yang tersebar kemudian diukur dua posisi. 5) Uji viskositas Viskositas merupakan tahanan dari cairan saat mengalir. Alat yang digunakan untuk mengukur viskositas pada sediaan gel adalah Viscometer Brookfield. Sebanyak 25 gram gel dimasukkan ke dalam cup, selanjutnya dipasang 1) Organoleptik 4 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 spindle dengan ukuran 2 dan rotor. (Hasyim et punggung kiri kelinci dan (-) gel berbasis Na- al., 2012). CMC tanpa ekstrak pada punggung tengah C.Perlakuan Hewan Percobaan kelinci. 1. Penyiapan Hewan Uji sebanyak 1 kali sehari, luka bakar dirawat Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah kelinci jantan yang sehat (tanpa Perawatan luka bakar dilakukan secara terbuka. 4. Pengukuran persentase penyembuhan luka cacat). Hewan percobaan ini sebelumnya telah Penyembuhan luka dilakukan dengan diadaptasi selama seminggu. Hewan dipelihara mengukur diameter luka bakar dari hewan uji dalam kandang diberi makan dan minum yang dimulai pada hari standar, serta dijaga kebersihannya. menggunakan jangka sorong. 2. Pembuatan Luka Bakar dilakukan setiap hari pada hewan uji, sampai Tentukan area pembuatan luka bakar luka bakar dinyatakan ke-1, dengan Pengukuran memberikan efek. yaitu pada punggung kelinci. Kemudian cukur Parameter yang digunakan adalah persentase dan bersihkan sampai jarak 2x2 cm area tempat penyembuhan luka bakar pada hari ke-7. pembuatan luka bakar, sementara itu kelinci Pengamatan dilakukan selama 1 kali sehari dianastesi dengan lidokain 2%. Kemudian selama 7 hari pada waktu pagi hari. Luka ditempel lempeng besi ke punggung kelinci dianggap sembuh bila diameter luka mencapai 0 selama 10 detik sampai bagian dermis beserta cm terdekat atau merapat dan menutup lukanya jaringan yang terikat di bawahnya sehingga (Jessica Besty Umboh, 2018). terjadi pelepuhan dan kulit terkelupas pada 5. Uji Statistik bagian tertentu, luka dianggap berbentuk Data hasil penelitian ini selanjutnya lingkaran. dianalisis 3. Pengujian hewan percobaan Statistical Product and Service and Service Disiapkan kelompok hewan uji kelinci dengan menggunakan aplikasi Solution (SPSS) dengan versi 20 dengan metode yang terdiri dari tiga kelompok, dimana masing- ANOVA satu arah. masing kelompok diberi perlakuan ekstrak kulit HASIL DAN DISKUSI buah manggis 20%, (+) Bioplasenton® dan Pengamatan organoleptis pada semua kontrol (-) gel berbasis Na- CMC tanpa ekstrak. sedian gel menunjukan pengamatan yang di Kelinci yang telah dilukai pada bagian kulit mana nampak perbedaan warna dan bau khas. punggung masing–masing dibersihkan dengan Yaitu dengan warna bening dan coklat dan bau NaCL 0,9%. Kemudian kelinci diolesi ekstrak khas ekstrak serta kenampakan yang jernih dan kulit bauh manggis 20% pada punggung kanan transparan. kelinci, (+) diolesi Bioplasenton® pada 5 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Pengamatan homogenitas pada semua sediaan dianggap stabil dalam parameter semipadat yang baik untuk penggunaan topikal berkisar pada diameter 5 - 7 cm. Hasil pada homogenitas. Ini didasari dari hasil yang pengujian didapatkan bahwa tidak adanya partikel padat penurunan daya sebar pada setiap formula. Pada yang terdapat dalam gel, serta tidak adanya Formula I gel tanpa ekstrak daya sebar pembentuk gel yang masih menggumpal atau diperoleh data yaitu 5,8 6 dan 6,1. Untuk tidak merata dalam sediaan. Formula II gel dengan ekstrak Kulit Buah Kulit memiliki mantel asam daya sebar didapatkan adanya yang Manggis konsentrasi 20% diperoleh data yaitu 5 merupakan perlindungan pertama pada kulit. 5,1 5,2. Data daya sebar ini masih dalam Mantel asam ini memiliki pH berkisar 4,5- 6,5. rentang parameter yaitu 5-7 cm, sehingga semua Jika semakin alkalis atau semakin asam suatu sediaan dapat dikatakan stabil (Aquariushinta bahan yang akan mengenai kulit, maka semakin Nutrisia, 2015). sulit untuk menetralisirnya dan kulit akan Uji viskositas dilakukan untuk semakin lelah karenanya. Kulit akan dapat mengetahui besarnya suatu viskositas dari menjadi pecah-pecah, kering, sensitif dan sediaan, mudah infeksi. menyatakan besarnya tahanan suatu cairan dimana nilai viskositas tersebut Hasil pengamatan pH sediaan gel luka untuk mengalir. Makin tinggi nilai viskositas bakar ekstrak Kulit Buah Manggis (-) pada maka makin besar daya tahan untuk mengalir. Formulasi 1 gel tanpa ekstrak dilakukan 3x Pengukuran replikasi lalu data yang diperoleh 6,29 6,32 Viscometer Brookefield. Hasil 6,33. Untuk Formulasi II dengan ekstrak dengan viskositas sediaan gel luka bakar ekstrak Kulit konsentrsai 20% dan diperoleh data yaitu ph Buah Manggis menunjukkan adanya perubahan. 4,90 5,06 5,11 pH nya stabil dan memiliki pH Viskositas sediaan gel luka bakar ekstrak Kulit sesuai dengan pH fisiologis kulit yaitu 4,5-6,5 Buah Manggis dengan konsentrasi 20% dengan apabila sediaan gel terlalu asam dari Ph kulit 3x replikasi yaitu 21.000, 22.500, 34.500. Untuk dikhawatirkan akan mengiritasi kulit tetapi Formulasi gel tanpa ekstrak 38.000, 39.000, apabila terlalu basa maka kulit dikhawatirkan 44.000 viskositas ini masih masuk kedalam akan kering. range yaitu 3.000 – 50.000 cps untuk memenuhi Uji daya sebar sediaan dilakukan untuk viskositas gel memenuhi syarat. untuk 2. Pembahasan Hasil Penelitian pada kulit atau untuk pengukuran standar SNI maka bisa dikatakan gel ini mengetahui besarnya gaya yang diperlukan gel menyebar menggunakan mengetahui kemampuan menyebar sediaan gel Hasil pengamatan tingkat kesembuhan saat dioleskan pada kulit. Daya sebar sediaan luka bakar meliputi perubahan warna luka, 6 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 terbentuknya keropeng (scab) hingga terbentuk Sedangkan untuk pemberian gel berbasis Na- kulit pada CMC tanpa ekstrak sebagai kontrol negatif masing-masing kelompok uji kelompok uji sebesar 16,3% menunjukkan luas penyembuhan dimulai pada hari 1 - 7. luka yang relative kecil dibandingkan dengan baru. Dalam Terbentuknya penelitian keropeng ini dilakukan pemberian gel ekstrak Kulit Buah Manggis pengamatan menggunakan hewan uji kelinci karena konsentrasi yang digunakan dari ekstrak dengan melihat proses penyembuhan luka bakar Kulit Buah Manggis terlalu kecil sehingga efek pada kelinci sebanyak 3 ekor. Hewan uji penyembuhan luka yang diberikan juga tidak dibersihkan kemudian dicukur bulunya dengan terlalu besar. gunting, kemudian dioleskan dengan krim Veet Data hasil penelitian kemudian dianalisis selama 3-5 menit dan dicukur sampai licin menggunakan metode dengan alat pencukur bulu. Lalu area kulit yang normalitas akan dibuat luka bakar diinjeksi lidokain 2%. sig>p.Sehingga data normal dan terdistribusi Kemudian luka bakar derajat dua diinduksi secara homogen sehingga dapat dilanjutkan menggunakan lempeng besi dengan luas 2 cm2 dengan uji anova. Hasil uji anova menunjukkan pada api dan ditempelkan pada kulit punggung p>sig. 0,000. Sehingga hasil signifikan yang kelinci 10 detik dengan tekanan yang sama, artinya ada pengaruh pemberian topikal gel sehingga terjadi pelepuhan dan kulit terkelupas ekstrak pada bagian tertentu. Luka tersebut diolesi mangostana L.) terhadap penyembuhan luka dengan menggunakan gel ekstrak Kulit Buah bakar pada kelinci. dan Kulit SPSS. homogenitas Buah Hasil uji menunjukkan Manggis (Garcinia Manggis untuk pengobatan topikal pada luka Penyembuhan luka bakar dapat melalui bakar dengan kontrol negatif (Gel berbasis Na- beberapa fase yakni fase inflamasi, fase CMC tanpa ekstrak), gel ekstrak Kulit Buah proliferasi, dan fase maturasi. Pada fase Manggis konsentrasi 20% serta kontrol positif inflamasi pembuluh darah yang terputus pada (Bioplacenton) diamati selama 7 hari. luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh Hasil penelitian menunjukkan bahwa akan berusaha menghentikannya dengan pemberian gel ekstrak Kulit Buah Manggis vasoconstriction, pengerutan pembuluh darah menunjukkan terjadinya penyembuhan dimana yang putus (retraction), dan reaksi hemostatis pada konsentrasi 20% telah memberikan efek (Sjamsuhidajat. 2005). Fase Proliferasi disebut dengan rata-rata luas penyembuhan luka bakar juga fase fibroplasia karena yang menonjol sebesar 22.16 dan control positif dengan adalah proliferasi fibroblast. Pada fase ini, serat bioplasenton memberikan efek dengan rata-rata dibentuk luas penyembuhan luka bakar sebesar 59,66%, penyesuain diri dengan tegangan pada luka yang dan dihancurkan kembali untuk 7 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 cenderung mengerut. Proses ini akan berhenti pendarahan. Maka zat aktif yang berperan setelah epitel saling menyentuh dan menutup sebagai seluruh peradangan pada luka bakar adalah senyawa permukaan luka (Gurtner, 2007). Sedangkan Fase Penyudahan (Maturation) ini anti inflamasi untuk mengurangi Flavanoid. terjadi proses pematangan dari penyerapan Senyawa Tanin dan senyawa Saponin kembali jaringan yang berlebih, pengerutan merupakan salah satu senyawa yang mampu sesuai gaya gravitasi dan pembentukan kembali memacu pembentukan kolagen dan jaringan yang baru terbentuk (Tiwari. 2012). Saponin berfungsi sebagai antiseptik, Pemilihan gel ekstrak Kulit juga Buah merangsang pembentukan sel-sel baru, dapat Manggis dalam penelitian ini sebagai zat aktif. memacu pertumbuhan kolagen, yakni protein Esktrak Kulit Buah Manggis mengandung yang senyawa Flavanoid yang bersifat bakterisidal penyembuhan luka sehingga kesembuhan luka antiinflamasi dan sebagai antioksidan. Saponin dapat terjadi (Praja, 2016). dan tannin berfungsi merangsang terjadinya KESIMPULAN berperan penting dalam proses angiogenesis dan berfungsi sebagai antiseptik Berdasarkan hasil penelitian yang telah dan merangsang pembentukan sel-sel baru. dilakukan dapat disimpulkan bahwa Gel ekstrak Sedangkan pada Bioplasenton® mengandung Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) ekstrak plasenta 10% dan neomisin sulfat 0,5%. memiliki pengaruh terhadap penyembuhan luka Ektrak plasenta yang dipercaya dapat membantu bakar pada kelinci (Oryctolagus cuniculus) proses penyembuhan luka bakar dengan cara dengan konsentrasi 20% sebesar 22,16%. Hasil memicu pembentukan jaringan baru pada luka analisis Anova menunjukkan perbedaan yang dan neomisin sulfat bekerja sebagai antibiotik bermakna pada seluruh perlakuan dimana p>sig. untuk mencegah infeksi bakteri pada area luka. REFERENSI Proses penyembuhan luka bakar ABA, 2009. Surgical management of the burn inflamasi, fase wound and the use of skin subsitutes. Aktivitas American Burn Association White Paper penyembuhan luka bakar dengan ekstrak Kulit [Online Journal] [Diunduh tanggal 24 Buah September mencakup beberapa poliferasi dan Manggis. fase fase maturasi. berkaitan dengan adanya senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak yang membantu dalam penyembuhan luka bakar, diawali dengan fase inflamasi dimana terjadi permeabilitas membran sel sehingga fase ini akan terjadi peradangan, kemerahan dan 2017]. Teersedia dari: www.ameriburn.or Agoes. G. 2007. Teknologi Bahan Alam, ITB Press Bandung. Adhi, Djuanda. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. FKUI. Jakarta. 8 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Ansel, H.C. 2007. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, ed. 4, UI-Press, Jakarta. Fatmawati, Hj. Aisyah. 2012. Teknologi sediaan Farmasi. Makassar Aponno, J. V, Yamlean, P.V.Y. & Supriati, Hartanto, B.S. (2011). Mengobati Kanker H.S., 2014. Uji Efektivitas Sediaan Gel Dengan Manggis. Yogyakarta: Penerbit Ekstrak Etanol daun (Psidium guajava Jambu Linn) Biji Harbie, T. (2015). Kitab Tanaman Berkhasiat Terhadap obat. Cetakan I. Penerbit Penyembuhan Luka yang Terinfeksi Publishing House: Yogyakarta Bakteri Staphylococcus aureus pada Hasyim, N., Pare, K. L., Junaid, I., Kurniati, A., Kelinci (Orytolagus cuniculus)., Jurnal 2012. Formulasi dan Uji Efektivitas Gel Ilmiah Farmasi, 3(3), pp.279–286. Luka Bakar Ekstrak Daun Cocor Bebek Aquariushinta, Nutrisia. 2015. Formulasi dan uji Kalanchoe pinnata L.) pada Kelinci Stabilitas Fisik Sediaan Gel Ekstrak (Oryctolagus Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.). Farmasi dan Farmakologi, 16(2), pp.89– Hal 79. Surakarta 94. Dealey Carol. 1996. Epithelization –the care of wounds. Oxford : Blackwell Science; Depkes RI, 1979. Farmakope Indonesia (Edisi III), Jakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Ditjen POM, (1986), Departemen Sediaan Kesehatan dkk. Antibakteri Majalah Jessica Besty Umboh (2018). Uji aktivitas penyembuhan luka bakar salep ekstrak etanol daun pacar air (Impatiens balsamina. L) Pada punggung kelinci Karakarta, S dan Bachsinar, B. 2012. Bedah Minor. Hipokrates : Jakarta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Gelenik, 2010. Farmakope Herbal Indonesia. Republik (Edisi Indonesia, Jakarta. Ratih. cuniculus). New Zealand.hal: 27-28Surakarta. Depkes RI, 2013, Farmakope Herbal Indonesia, Dyah, Octopus 1). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Uji Formulasi Aktivitas Gel Untuk Lachman, L., Lieberman, H.A., dan Kanig, J.L. 2007. Teori Dan Praktek Farmasi Sariawan Dari Ekstrak Daun Saga Industri. Terjemahan Siti Suyatmi. Edisi (Abrus Precatorius Linn.) Terhadap ketiga. Jakarta: Penerbit Universitas Bakteri Staphylococcus aureus. Hal 244 Indonesia. Elisabeth J. Corwin. 2000. Patofisiologi.EGC: Jakarta. Buku Saku Lieberman, Hebert. A. Pharmaceutical Dosage From: Disperse Systems, Vol. 1. New York: Marcell Dekker Inc. 1997. 9 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Moenadjat, Y. 2003. Luka Bakar Pengetahuan Klinik Praktis. Edisi II. FKUI. Jakarta. terhadap Penyembuhan Luka Bakar, Malole,M.B.M., dan Pramoneo, S.S.U., 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan Laboratorium, Pendidikan Direktorat Tinggi TJitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan. Universitas Gajah Mada; Antara Yogyakarta. Pusat Voight, R. 1995. Qosim, WA. 2013. ’Pengembangan komoditas sebagai CDK, 108: 31-38 Jenderal Universitas Bioteknologi, IPB, Bogor. manggis Bentuk Sediaan Salep, Krim, Jelly komoditas eskpor Indonesia’, J. Kultivasi, vol. 12, no. 1, pp. 40-5. Farmasi, Buku Pelajaran Tehnologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. WHO. 2017. Burns. World Health Organization. [Diunduh tanggal 25 Juli 2017]. Rahmat Rukmana, Ir. 1995. Budidaya Manggis. Tersediadari:http://www.who.int/violenc Penerbit Kanisius. Yogyakarta. e_injury_prevention/other_injury/burns Rowe, Raymond Pharmaceutical C. Handbook Excipients of e-book Wim D J. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Luka, Luka Bakar :. Edisi 2.EGC. Jakarta. Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association. 2006. Sabiston, 1995. editor.Buku ajar bedah.Jakarta : EGC. Savitri, A. (2016). Tanaman Ajaib! Basmi Penyakit dengan TOGA (Tanaman Obat Keluarga) . Penerbit Bibit Publisher: Depok, Jawa Barat. Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Graha Ilmu; Yogyakarta Smeltzer, Suzzanne, 2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth.Edisi 8.EGC.Jakarta Stotts N.A, Whitney J.D., Wound healing : critical care nursing. Philadelphia : W.B. Saunders Company; 1993. Suratman, Sumiwi, S.A., dan Gozali, A.D., 1996, Pengaruh Ekstrak Antanan dalam 10