https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . DOI: https://doi. org/10. 31599/1r0k3089 https://creativecommons. org/licenses/by/4. Peningkatan Dukungan Sosial Remaja di Panti Asuhan Melalui Intervensi Psikososial Rahimmatussalisa Rahimmatussalisa1. Astri Fatwasari2. Anwar Anwar3 Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia, rahimmatussalisa@mercubuana-yogya. Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia, astrifatwasari@mercubuana-yogya. Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia, anwar@mercubuana-yogya. Corresponding Author: rahimmatussalisa@mercubuana-yogya. Abstract: This psychosocial intervention aims to increase perceived social support for adolescents in orphanages through activities that build togetherness and mutual support. One of the main outcomes of this activity is an increase in perceived social support, which will be measured using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). MSPSS assesses support from three main dimensions: family, friends, and significant The number of participants in this activity was 34 subjects. Analysis in this activity used the Wilcoxon test. The results of this community service activity showed a significant difference between the level of perceived social support during the pre-test and post-test with a t-value of 2. 118 with a significance of 0. <0. , . <0. The level of perceived social support after participating in the activity was higher than before participating in the Thus, this community service activity can increase the level of perceived social support in adolescents. Keywords: Perceived Social Support. Social Support. Psychosocial Abstrak: Intervensi psikososial ini bertujuan untuk meningkatkan perceived social support bagi remaja di panti asuhan melalui kegiatan yang membangun kebersamaan dan rasa saling mendukung. Salah satu luaran utama dari kegiatan ini adalah peningkatan perceived social support, yang akan diukur menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). MSPSS menilai dukungan dari tiga dimensi utama yaitu keluarga, teman, dan significant others. Jumlah partisipan dalam kegiatan ini sebanyak 34 Analisis pada kegiatan ini menggunakan Wilcoxon test. Hasil kegiatan pengabdian 36 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat perceived social support saat pre-test dan post-test dengan nilai t sebesar 2,118 dengan signifikansi 0,010 . <0,. , . <0,. Tingkat perceived social support setelah mengikuti kegiatan lebih tinggi daripada sebelum mengikuti kegiatan. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini dapat meningkatkan tingkat perceived social support pada remaja. Kata Kunci: Dukungan Sosial yang Dirasakan. Dukungan Sosial. Psikososial. PENDAHULUAN Masalah yang dihadapi oleh remaja di panti asuhan sangat kompleks, dan dapat melibatkan berbagai sektor seperti layanan kesehatan, pendidikan, keamanan, dan konflik Beberapa persoalan yang sering dihadapi salah satunya mengenai kesehatan mental pada remaja. Remaja yang tumbuh di panti asuhan sering menghadapi masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, atau trauma akibat pengalaman hidup yang sulit, seperti kehilangan orang tua, kekerasan, atau pelecehan. Kurangnya dukungan psikologis atau terapi dapat memperburuk kondisi ini (UNICEF, 2021. Remaja sendiri atau adolescence berasal dari bahasa Latin yaitu adolescere yang artinya tumbuh ke arah kematangan baik fisik maupun sosial psikologisnya. Masa remaja juga merupakan periode antara pubertas dengan kedewasaan (Hurlock, 2. Definisi remaja juga diungkap oleh Piaget . alam Hurlock, 2. bahwa secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Menurut Santrock . , remaja adalah suatu periode perkembangan dari transisi antara anak-anak dan dewasa, yang diikuti oleh perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional. Banyak remaja di panti asuhan yang merasa kehilangan ikatan keluarga dan kesulitan dalam membangun identitas diri. Mereka sering kali berjuang dengan rasa tidak memiliki tempat atau keluarga yang mendukung mereka, yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional mereka. Lingkungan panti asuhan sendiri diharapkan dapat membantu individu mendefinisikan diri remaja, seperti yang diungkapkan oleh Myers . bahwa orang lain di sekitar membantu individu mendefinisikan standar dalam mendefinisikan diri. Selain itu, remaja di panti asuhan sering kali kekurangan dukungan dari keluarga besar atau jaringan sosial yang dapat memberikan arahan dan nasihat dalam kehidupan mereka. Hal ini dapat menyebabkan mereka merasa kesepian dan kurang memiliki motivasi untuk menghadapi masa depan (Papalia & Feldman, 2. Panti asuhan menampung anak yang tidak memiliki ayah . , tidak memiliki ibu . , atau tidak memiliki ayah dan ibu . atim piat. Tidak hanya eksistensi orang tua yang menjadi pengaruh utama pada keadaan psikologis remaja di panti asuhan. Hasil identifikasi sebelumnya di panti asuhan menunjukkan bahwa ketidakberadaan orang tua di samping mereka membuat sebagian besar remaja panti asuhan meratapi kehidupannya. sesekali anak asuh menangis menyendiri untuk sekadar melepas rindu dengan lingkungan Faktor lain seperti sosial ekonomi pun menjadi bagian penilaian bagi diri 37 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Beberapa anak asuh yang berada di panti asuhan yatim piatu pun diasuh karena keberadaan ekonomi yang masih kurang memadai (Rahman, 2. Remaja yang tinggal di panti asuhan sering kali menghadapi tantangan dalam hal hubungan sosial dan dukungan emosional yang mungkin berbeda dengan mereka yang tinggal di rumah bersama keluarga. Padatnya kegiatan di panti asuhan dan minimnya interaksi para remaja dengan lingkungan luar membuat mereka merasa kesepian. Oleh karena itu, penting untuk merumuskan solusi yang dapat meningkatkan dukungan sosial yang dirasakan oleh remaja tersebut dengan tujuan menciptakan lingkungan yang lebih ramah, mendukung perkembangan mereka, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis Salah satu solusi bagi remaja agar merasa dirinya lebih berarti dan lebih memiliki dukungan sosial saat di panti asuhan adalah dengan melaksanakan kegiatan AuPeningkatan Dukungan Sosial Remaja di Panti Asuhan melalui Intervensi PsikososialAy. Dukungan sosial adalah salah satu faktor penting yang memengaruhi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial remaja, terutama bagi mereka yang tinggal di lingkungan panti asuhan. Dukungan sosial sendiri adalah perasaan nyaman, pengertian, penghargaan, atau bantuan yang diterima seseorang dari orang lain, di mana pihak lain ini dapat berupa individu atau kelompok (Difa, 2. Dengan menyediakan kegiatan yang dapat meningkatkan dukungan sosial remaja di panti asuhan, diharapkan meningkat pula tingkat kebersamaan dan rasa saling mendukung di antara mereka. Harapan ini sekaligus menjadi luaran dari kegiatan yang dirumuskan. Luaran lain dari kegiatan ini adalah peningkatan perceived social support. Remaja di panti asuhan sering kali merasa kesepian, terutama karena tidak memiliki dukungan keluarga yang memadai. Intervensi psikososial bertujuan untuk meningkatkan perasaan dukungan sosial yang mereka rasakan. Tingkat perceived social support ini dapat diukur dengan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang dikembangkan oleh Zimet et al. , yang menilai sejauh mana remaja merasa didukung oleh orangorang di sekitar mereka baik teman, pembimbing, maupun keluarga. Alat ukur ini telah diterjemahkan dan diuji properti psikometrinya oleh Lestiyanto . dengan tiga dimensi, yaitu family, friend, dan significant other. Beberapa tahapan intervensi terkait dukungan sosial telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya seperti yang telah dilakukan oleh Lubis, et. mengenai identifikasi tahapan intervensi sosial terhadap kesejahteraan anak di Panti Asuhan Cinta Kasih Medan. Namun, penelitian ini baru pada tahap identifikasi menggunakan studi kualitatif dengan tujuan memberikan gambaran langkah intervensi yang tepat di panti asuhan. Adapun penelitian dari Hutasoit dan Hendriani . melakukan intervensi psikososial pada anak dan remaja dengen kebutuhan khusus yang mana subjek ini yang berbeda dengan kriteria subjek pada kegiatan ini yaitu anak di panti asuhan. Melihat pentingnya intervensi yang dibutuhkan oleh anak di panti asuhan, menjadikan penulis melakukan intervensi psikososial di salah satu panti asuhan yang berada Yogyakarta. GAMBARAN LOKASI PELAKSANAAN Kegiatan ini akan dilaksanakan di Panti Asuhan sekaligus pondok pesantren Daarul AoIlmi Sembada yang beralamat di Jalan Magelang No. Km. Pisangan. Tridadi. Kec. Sleman. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta. 38 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Gambar 1. Peta Lokasi Pelaksanaan Sumber: Google. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari beberapa tahap mulai dari identifikasi sampai pada hasil intervensi. Tahap pertama yaitu persiapan kegiatan. Pada tahap awal ini, ketua tim dan anggota tim melaksanakan kegiatan identifikasi dan pemilihan mitra panti asuhan. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Panti Asuhan sekaligus pondok pesantren Daarul AoIlmi Sembada yang beralamat di Jalan Magelang No. Km. Pisangan. Tridadi. Kec. Sleman. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta. Identifikasi awal yang ada di panti asuhan ini antara lain kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal, kecemasan, kesepian, serta support system yang mereka miliki ada yang sudah bagus ada pula yang masih perlu Data awal ini tim dapatkan dari hasil kegiatan Art Therapy yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya di tempat ini. Gambar 2. Identifikasi Permasalahan melalui Kegiatan Art Theraphy Tahap kedua yaitu penyusunan rencana intervensi. Ketua tim dan anggota tim akan mengembangkan rencana intervensi psikososial yang sesuai dengan kebutuhan spesifik remaja di panti asuhan. Rencana ini 39 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . mencakup memberikan kegiatan berupa AuPeningkatan Dukungan Sosial Remaja di Panti Asuhan melalui Intervensi PsikososialAy dengan menggandeng salah satu psikolog yang ada di Yogyakarta untuk memberikan intervensi dan menfasilitasi kegiatan tersebut. Tahap ketiga yaitu sosialisasi kepada staf dan pengelola panti asuhan. Ketua tim dan anggota tim akan menyusun dan melakukan sosialisasi kepada pengelola dan staf panti asuhan mengenai tujuan dan manfaat program ini, serta peran mereka dalam mendukung pelaksanaan kegiatan. Partisipasi staf sangat penting untuk kesuksesan program karena mereka akan menjadi fasilitator dan penghubung antara remaja dan pembimbing program. Tahap keempat yaitu pelaksanaan kegiatan. Setelah tahap persiapan selesai, tahap pelaksanaan dimulai dengan pelaksanaan kegiatan yang terstruktur. Tahap ini akan melibatkan seorang psikolog dan praktisi psikologi yang ada di Yogyakarta untuk memberikan intervensi kepada mereka yang ada di panti asuhan. Harapan adanya psikolog dalam kegiatan ini yaitu dapat memberikan gambaran mengenai langkah yang tepat dalam meningkatkan dukungan sosial remaja di panti asuhan tersebut serta dapat memberikan sesi konseling kelompok yang akan dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan ruang bagi remaja untuk berbicara tentang perasaan mereka, masalah sosial yang mereka hadapi. Dalam sesi ini, remaja juga akan diajarkan keterampilan dalam mengelola stres, kecemasan, dan konflik interpersonal. Tahap Pre Test Sebelum kegiatan dimulai, peserta diminta untuk mengisi Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Tahap Pemaparan Materi Gambar 3. Peserta Mengikuti Pemaparan Materi dari Narasumber Tahap Diskusi 40 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Gambar 3. Peserta Melakukan Sesi Sharing Bersama Psikolog Tahap Pre Test Setelah kegiatan dimulai, peserta diminta untuk mengisi Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Tahap berikutnya yaitu monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi merupakan tahap penting dalam memastikan bahwa program berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak yang positif bagi remaja di panti asuhan. Pemantauan dapat dilakukan dilakukan sepanjang pelaksanaan program untuk menilai keterlibatan remaja dalam kegiatan dan respons mereka terhadap intervensi yang diberikan serta evaluasi dampat program dapat dilakukan setelah sesi kegiatan selesai. Di akhir program, akan dilakukan evaluasi yang lebih mendalam untuk menilai dampak keseluruhan program terhadap kesejahteraan emosional dan sosial remaja. Tahap terakhir adalah penyusunan laporan keberlanjutan. Ketua tim dan anggota tim akan menyusun laporan akhir program yang memuat hasil evaluasi, temuan-temuan penting, dan rekomendasi untuk keberlanjutan. Laporan ini akan menjadi referensi bagi pengelola panti asuhan untuk melanjutkan program serupa di masa depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penulis melakukan analisis deskriptif pada 34 partisipan dalam kegiatan ini. Berdasarkan tabel di bawah ini, jumlah subjek sebanyak 34 subjek dengan nilai minimum pada saat pre-test 34, nilai maksimum pada saat pretest 77, rata-rata pada saat pre-test 15, dan SD saat pre-test sebensar 11,343. Selanjutnya, nilai minimum pada saat posttest 37, nilai maksimum pada saat post-test 83, rata-rata pada saat pos-test 63,26, dan SD saat pos-test sebensar 11,527. Berikut merupakan hasil analisis deskriptif dari 34 subjek. Pre test Post test Tabel 1. Deskripsi subjek Minimal Maksimal Rata-rata 61,15 63,26 Standar Deviasi 11,343 11,527 Penulis juga mendeskripsikan subjek berdasarkan usia. Berdasarkan tabel di bawah ini, jumlah subjek dengan usia 12 tahun sebanyak 7, jumlah subjek dengan usia 13 tahun 41 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . sebanyak 8, jumlah subjek dengan usia 14 tahun sebanyak 9, jumlah subjek dengan usia 15 tahun sebanyak 5, jumlah subjek dengan usia 16 tahun sebanyak 2, jumlah subjek dengan usia 17 tahun sebanyak 2, jumlah subjek dengan usia 19 tahun sebanyak 1. Sehingga subjek paling banyak berada pada usia 14 tahun dan yang paling sedikit pada usia 19 Berikut merupakan kategorisasi subjek berdasarkan usia. Tabel 2. Deskripsi subjek berdasarkan usia Usia Jumlah Persentase 20,6 % 23,5 % 26,5 % 14,7 % 5,9 % 5,9 % 2,9 % Total Kemudian, untuk mengetahui apakah ada perbedaan tingkat perceived social support sebelum dan sesudah kegiatan, peneliti melakukan uji beda menggunakan paired sample t test. Berdasarkan tabel di atas nilai t sebesar 2,118 dengan signifikansi 0,010 . <0,. , dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara tingkat perceived social support saat pre-test dan post-test. Tingkat perceived social support setelah mengikuti kegiatan lebih tinggi daripada sebelum mengikuti kegiatan. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini dapat meningkatkan tingkat perceived social support pada remaja. Berikut merupakan hasil dari analisis menggunakan uji non parametrik yaitu wilcoxon test dengan 34 subjek. Tabel 3. Hasil uji beda pre test dan post test Paired Differences Mean Pair pre_test post_test Std. Deviation Std. Error Mean Significance 95% Confidence Interval of the Difference Lower OneSided TwoSided Uppe Selanjutnya, penulis melakukan kategorisasi subjek sebelum dilakukan kegiatan dan setelah dilakukan kegiatan. Sebelum dilakukan kegiatan, berdasarkan tabel di bawah, subjek dengan kategori rendah sebanyak 1 subjek, subjek dengan kategori sedang sebanyak 13 subjek, dan subjek dengan kategori tinggi sebanyak 20 subjek. Sehingga dapat diartikan bahwa subjek paling banyak berada pada kategori tinggi. Tabel 4. Kategorisasi subjek sebelum dilakukan kegiatan 42 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Rendah Sedang Tinggi Total Jumlah Vol. No. 2, . Persentase 2,9 % 38,2 % 58,8 % Berdasarkan tabel di bawah, subjek dengan kategori rendah tidak ada, subjek dengan kategori sedang sebanyak 12 subjek, dan subjek dengan kategori tinggi sebanyak 22 subjek. Sehingga dapat diartikan bahwa subjek paling banyak berada pada kategori Tabel 5. Kategorisasi subjek setelah dilakukan kegiatan Jumlah Persentase Sedang 35,3 % Tinggi 64,7 % Total Pembahasan Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa tingkat perceived social support pada 34 remaja panti asuhan mengalami peningkatan setelah diberikan intervensi psikososial. Nilai rata-rata . pre-test sebesar 61,15 meningkat menjadi 63,26 pada post-test, dengan standar deviasi yang relatif stabil . ,343 dan 11,. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan positif pada persepsi dukungan sosial setelah pelaksanaan kegiatan Peningkatan ini menunjukkan bahwa remaja mulai merasakan adanya peningkatan dukungan emosional, penghargaan, dan rasa diterima dari lingkungan sosialnya, baik dari teman sebaya, pengasuh, maupun pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan intervensi. Jika dilihat dari distribusi usia, mayoritas peserta berada pada rentang usia 13Ae14 tahun, yaitu masa transisi awal remaja. Menurut Hurlock . , pada fase ini individu mulai mengalami perubahan signifikan dalam aspek sosial dan emosional, serta meningkatnya kebutuhan akan dukungan dari lingkungan sosial untuk membantu mereka beradaptasi terhadap berbagai perubahan. Dengan demikian, kegiatan intervensi psikososial yang diberikan pada kelompok usia ini menjadi relevan, karena masa remaja awal merupakan periode krusial dalam pembentukan identitas diri dan hubungan sosial (Santrock, 2. Hasil uji beda dengan hasil uji non-parametrik Wilcoxon Signed Rank Test yang menunjukkan nilai t = -2. 238 dengan signifikansi p = 0,025 . < 0,. Hasil kedua uji ini konsisten, sehingga dapat disimpulkan bahwa intervensi memberikan dampak nyata terhadap peningkatan dukungan sosial. Berdasarkan kategorisasi tingkat dukungan sosial, diketahui bahwa sebelum intervensi terdapat 58,8% remaja dalam kategori tinggi, 38,2% kategori sedang, dan 2,9% kategori rendah. Setelah intervensi, tidak ada lagi peserta yang berada dalam kategori rendah, sedangkan proporsi remaja dalam kategori tinggi meningkat menjadi 64,7%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa intervensi psikososial efektif dalam memperkuat perasaan diterima, didukung, dan dihargai oleh lingkungan sosial mereka. Hal ini sejalan dengan teori dukungan sosial menurut Zimet et al. , bahwa dukungan sosial yang 43 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . erceived social suppor. mencerminkan sejauh mana individu merasa diperhatikan, dipedulikan, dan memiliki tempat bergantung secara emosional. Secara psikologis, peningkatan dukungan sosial ini dapat berkontribusi pada kesejahteraan emosional dan resiliensi remaja panti asuhan. Temuan ini didukung oleh penelitian Lasamahu dan Murti . yang menyatakan bahwa dukungan sosial memiliki peran penting dalam meningkatkan ketahanan diri . dan kesejahteraan psikologis remaja panti asuhan. Selain itu, hasil ini juga sejalan dengan penelitian Zhang et . yang menunjukkan bahwa intervensi berbasis kelompok dan dukungan psikososial dapat meningkatkan dukungan sosial dan pertumbuhan pasca-stres pada anak yatim dan anak rentan. Dengan demikian, kegiatan AuPeningkatan Dukungan Sosial Remaja di Panti Asuhan melalui Intervensi PsikososialAy terbukti efektif secara empiris dalam membantu remaja merasa lebih didukung dan diterima oleh lingkungannya. Peningkatan ini penting karena dukungan sosial yang kuat terbukti berhubungan dengan penurunan risiko stres, kecemasan, dan depresi pada remaja yang hidup di lingkungan panti asuhan (Wardhani & Arisandy, 2. Intervensi ini dapat dijadikan dasar bagi pengembangan program lanjutan di panti asuhan dengan fokus pada penguatan relasi sosial, empati, dan komunikasi positif antar remaja dan pengasuh. Ke depan, disarankan agar kegiatan intervensi dilakukan dengan periode waktu yang lebih panjang, melibatkan lebih banyak peserta, dan menggunakan metode mixed-method untuk memahami perubahan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis deskriptif, uji paired sample t-test, dapat disimpulkan bahwa kegiatan AuPeningkatan Dukungan Sosial Remaja di Panti Asuhan melalui Intervensi PsikososialAy memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan tingkat perceived social support pada remaja panti asuhan. Rata-rata skor dukungan sosial meningkat dari 61,15 pada saat pre-test menjadi 63,26 pada post-test, dengan hasil uji menunjukkan nilai signifikansi p < 0,05, yang berarti peningkatan tersebut bersifat signifikan secara statistik. Selain itu, tidak ada lagi subjek yang berada pada kategori rendah setelah intervensi, dan proporsi remaja dengan kategori tinggi meningkat dari 58,8% menjadi 64,7%. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi psikososial efektif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung, memperkuat hubungan sosial antar remaja, serta meningkatkan persepsi mereka terhadap dukungan yang diterima dari teman sebaya, pengasuh, dan lingkungan sosial di panti asuhan. Hasil ini sejalan dengan teori Zimet et al. bahwa perceived social support merupakan persepsi subjektif individu terhadap perhatian dan dukungan emosional dari orang lain yang dapat menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan Secara umum, kegiatan ini berhasil membangun rasa kebersamaan, meningkatkan kepercayaan diri sosial, serta memperkuat koneksi interpersonal antar remaja panti asuhan. Peningkatan ini menjadi indikator positif bahwa dukungan sosial dapat ditumbuhkan melalui kegiatan intervensi berbasis kelompok dan komunikasi empatik yang terstruktur. Saran yang dapat diberikan untuk Yayasan Daarul AoIlmi adalah kegiatan ini dapat dijadikan kegiatan rutin yang dapat dilakukan setiap tahun melihat relevansi dari kegiatan ini sangat sesuai dengan kebutuhan remaja di tempat ini. 44 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . REFERENSI